<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638</id><updated>2012-02-01T15:28:48.947-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Discipleship'/><category term='Khotbah'/><category term='Sukacita'/><category term='Sharing'/><category term='Lingkungan'/><category term='Kasih'/><category term='Anugerah'/><category term='Prioritas'/><category term='Lagu'/><category term='Isu Aktual'/><category term='Roh Kudus'/><category term='Pengampunan'/><category term='Tokoh'/><category term='Penderitaan'/><category term='Doa'/><category term='Etika Kristen'/><category term='Gereja'/><category term='Salib'/><category term='Harapan Dan Iman'/><category term='Bible Study'/><category term='Natal'/><category term='Humble'/><category term='Kesaksian'/><category term='Dosa'/><category term='Waktu'/><category term='Relation with God'/><category term='Renungan Singkat'/><category term='Paskah'/><category term='Alkitab'/><title type='text'>DEVOTION FOR GOD</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>293</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-555783245110759442</id><published>2012-01-28T06:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T06:10:07.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>BERLARI KEPADA TUJUAN (Filipi 3:10-14)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CkJLBKWCAL0/TyQBpb0b4NI/AAAAAAAABEU/uWytWSmWb3M/s1600/bigstockphoto_running_5360616.s600x600.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-CkJLBKWCAL0/TyQBpb0b4NI/AAAAAAAABEU/uWytWSmWb3M/s400/bigstockphoto_running_5360616.s600x600.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702684839511843026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah analogi pernah menggambarkan kehidupan itu bagai sebuah mobil.  Analogi itu menanyakan ‘mengapa kaca spion dalam sebuah mobil jauh lebih kecil daripada kaca mobil yang di bagian depan?  Jawabnya supaya kita lebih sering mengarahkan pandangan mata kita kedepan, dan tidak terus menerus menengok kebelakang.’  Analogi ini cukup membekas dibenak saya, walaupun sudah sangat lama saya membaca analogi ini.  Sadar atau tidak, manusia acapkali tergoda untuk terus menoleh kebelakang.  Apalagi kalau usia semakin hari semakin bertambah.  Kalau masih kecil kita suka penasaran akan apa yang terjadi di hari esok;  Nanti SMP bagaimana;  Nanti SMU bagaimana; Nanti kuliah bagaimana.  Namun ketika kita masuk usia kepala 3 mulailah sesekali kita berkata “Dulu saya begini....Dulu saya tidak begini....”  Dan semakin kepala usia bertambah maka semakin banyak pula perkataan “Dulu....” itu diungkapkan.  Saya pernah mengunjungi seorang oma yang berusia 80 tahun lebih.   Oma ini ingatannya masi kuat dan dia suka sekali bercerita.  Tapi sepanjang ceritanya tidak pernah sekalipun mengungkapkan apa yang mau dia lakukan dikemudian hari.  Ceritanya hanya dulu waktu di pacaran di jaman penjajahan belanda, dulu waktu masa pacaran bagaimana, dulu bangsa kita gak seperti sekarang, dulu kami hidup susah, dulu tidak seenak sekarang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tidak hanya berbicara pengalaman hidup, ternyata ada juga banyak orang Kristen yang bersikap demikian terhadap kehidupan rohani atau pelayanannya.  Mereka suka sekali untuk menoleh kebelakang.  Selalu melihat apa yang telah diperbuatnya dahulu, dan membanggakan masa lalunya.  Bahkan ada beberapa orang Kristen yang merasa sudah terlalu lama melayani dan memutuskan untuk berhenti melayani, dengan dalih untuk memberi kesempatan yang lebih muda, dan sekarang waktunya untuk beristirahat.  Beberapa bulan yang lalu saya tergelitik dengan perkataan seorang anak remaja saya yang masi duduk di bangku 3 SMP.  Dia berkata begini “ko, saya berhenti dulu pelayanan, sudah lelah pelayanan, biar kasi yang lebih muda dulu.”  Saya tertawa karena diusianya yang dini dia sudah berpikir untuk berhenti pelayanan.  Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang melakukan hal yang serupa.  Memilih berhenti dalam perjalanan imannya, atau dalam perjalanan pelayanannya dengan banyak dalih yang dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita adalah orang-orang yang pernah berkata atau berpikir demikian, mari kita belajar dari teladan Paulus.  Kitab Filipi ini adalah kitab yang ditulis dimasa-masa akhir hidup Paulus.  Masa-masa ini merupakan masa-masa dimana Paulus sudah banyak sekali memiliki pengalaman iman, pengalaman rohani, serta pengalaman dalam pelayanan.  Saya kira ketika Paulus menoleh kebelakang, iapun dapat tersenyum bangga akan apa yang sudah ia raih.  Dalam pengalaman iman atau pengalaman rohani, ia pernah berjumpa dengan Tuhan secara langsung dalam cahaya yang membutakan dirinya.  Berkali-kali ia mendapat pimpinan Tuhan melalui mimpi-mimpi yang menentukan arah pelayanannya.  Ketika bergumul dengan duri dalam daging ia merasakan kasih Tuhan yang begitu besar dalam kelemahannya.  Bahkan Paulus pernah diangkat ke Sorga sampai ke tingkat tiga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pelayanan kita juga tau betapa kayanya pengalamannya.  Kita tahu lewat Pauluslah gereja-gereja mula-mula berkembang dan berdiri di berbagai tempat.  Paulus juga adalah rasul pertama yang memberitakan injil kepada orang-orang non israel.  Jika saudara dan saya yang ada di sini bisa percaya kepada Tuhan saya kira kalau ditarik-tarik sebabnya itu juga hasil buah pemberitaan Paulus.  Kita tahu betapa giatnya dia memberitakan injil kepada orang-orang yang belum percaya sampai-sampai berkali-kali nyawanya terancm.  Bukan hanya itu, pelayanan yang dilakukannya pun sangat berkuasa.  Berkali-kali ia membuat mujizat yang menabjubkan banyak orang.  Pernah ketika ia digigit ular beracun tetapi ia tidak mati.  Ia pernah menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Tuhan, dan banyak lagi pelayanan yang dilakukannya yang begitu berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya katakan, seandainya Paulus menoleh kebelakang dan melihat semua pengalamannya itu, memungkinkan sekali untuk dia bisa berpuas diri dan berbangga atas apa yang sudah di raihnya.  Namun Paulus tidak melakukan hal itu.  Sebaliknya di ayat 12 ia berkata “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku juga dapat menangkapnya...”  Apa yang hendak dikejarnya, dan apa sih yang ingin terus ditangkapnya?  Jawabannya ada di ayat 10.  Disana dituliskan “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,...”  Hal-hal inilah yang ingin dikejar dan ditangkap oleh Paulus.   Kerinduannya yang paling mendalam adalah untuk dapat semakin mengenal Kristus dan hidup serupa dengan Kristus.  Ditengah usianya yang sudah tidak muda lagi, di tengah begitu kayanya pengalaman-pengalaman iman dan pelayanannya, Paulus masih merindukan untuk semakin hari semakin mengenal Tuhan dan semakin hari semakin serupa dengan Dia.  Baginya pengenalannya akan Tuhan masih terlalu kecil, dan ia sadar bahwa ia belum menangkap hal itu secara utuh.  Kerinduannnya inilah yang terus membuatnya giat melayani Tuhan sampai akhir hidupnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus tidak sedikitpun mau terus mengagung-agungkan masa lalunya, kemudian berpuas diri.  Ia pun tidak sedikitpun berpikir untuk berhenti dalam pelayanannya.  Karena itu di ayat 13dan 14 ia berkata “tetapi ini yang aku lakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,  dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  Paulus terus berlari, tanpa sedikitpun merasa bahwa ia sudah mencapai garis finish.  Baginya hanya kematianlah yang dapat membuatnya berhenti berlari dan berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang berbicara tentang pengenalan akan Kristus tidak boleh ada seorang pun yang merasa bahwa ia sudah mengenal Kristus begitu rupa.  Pengenalan akan Kristus adalah proses seumur hidup.  Demikian juga dengan pelayanan kita.  Selagi ada sesuatu yang bisa kita perbuat untuk melayani Tuhan, mari kita layani Tuhan dengan segenap hati.&lt;br /&gt;Saya kadang mendengar orang berkata “Tuhan, saya sudah puluhan tahun melayani Engkau.  Berbagai bidang dan berbagai pelayanan telah saya ambil.  Bahkan saya sudah banyak terlibat kedalam kepanitiaan.  Cukup Tuhan.  Sekarang saya ingin beristirahat, biarkan mereka yang muda-muda yang mengambil bagian.”  Tetapi Tuhan menjawab “Tidak!  Berapa banyakpun yang telah kau lakukan dan hasilkan, juga berapa lamapun kamu telah melayani, lupakanlah itu! Semua itu telah ada di belakang.  Arahkan hidupmu kepada ada yang ada didepanmu.”&lt;br /&gt;Ada juga orang yang berkata “Tuhan, saya berhenti di sini saja! Saya sudah tidak kuat lagi.  Hidup saya terlalu berat.  Saya sudah terlalu penat.”  Tuhan pun ingin berkata: “Tidak, betapa gelapnya jalanmu, betapa lelahnya kamu berlari, terus lah berlari sampai garis finish.  Arahkan pandanganmu ke depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kitapun yang disini demikian.  Seberapa lama kita melayani, dan seberapa lelah kita menjalani kehidupan kerohanian kita, bahkan mungkin kita sudah jenuh menjalani proses pertumbuhan iman, yaitu pengenalan akan Tuhan setiap hari.  Kita merasa ingin berhenti.  Kita merasa ingin beristirahat.  Atau kita ingin mengatakan kepada Tuhan “Sudah cukup Tuhan”.  Tetapi mari kita belajar seperti Paulus dengan berkata “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,  dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”  Mari kita terus berlari-dan berlari.  Kejar terus akan pengenalan akan Tuhan.  Terus giat melayani Tuhan.  Sampai kita beroleh mahkota kemenangan dari Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-555783245110759442?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/555783245110759442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=555783245110759442&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/555783245110759442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/555783245110759442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/berlari-kepada-tujuan-filipi-310-14.html' title='BERLARI KEPADA TUJUAN (Filipi 3:10-14)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CkJLBKWCAL0/TyQBpb0b4NI/AAAAAAAABEU/uWytWSmWb3M/s72-c/bigstockphoto_running_5360616.s600x600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7841862488607536980</id><published>2012-01-22T18:07:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T18:12:14.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isu Aktual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 3</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kOWMSZ8X4so/TxzBrBduc1I/AAAAAAAABEI/GWqxfzlkRG0/s1600/chinese-new-year-gong-xi-fa-cai.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kOWMSZ8X4so/TxzBrBduc1I/AAAAAAAABEI/GWqxfzlkRG0/s400/chinese-new-year-gong-xi-fa-cai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700644173215855442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian kita tidak boleh membatasi berkat Tuhan itu hanya yang bersifat materi saja.  Memang menjadi kaya dan hidup penuh harta tidak salah.  Itu juga adalah berkat Tuhan.  Namun kita harus ingat bahwa Tuhan bukanlah pusat di mana orang-orang mencari kekayaan atau harta.  Jadi jangan samakan keberadaaan Tuhan dengan kuburan, gunung kawi, tempat keramat, atau dukun di mana orang-orang datang meminta kesembuhan atau kekayaan secara instan.  Jika motivasi kita melakukan Firman Tuhan hanya unyuk mencari kekayaan, kita akan kecewa.  Tuhan memberkati kita bukan supaya kita berlimpah harta untuk bisa memuaskan hawa nafsu kita; tetapi Ia memberikan berkat kepada kita supaya kita dapat hidup dalam kecukupan; dan terlebih, ia memberkati kita supaya kitapun dapat memberkati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada berkat yang lebih penting bagi kita dari pada berkat materi.  Berkat apa itu?  Yaitu berkat Rohani.  Mungkin kita berkata: loh, kan berkat yang diucapkan Tuhan di pasal 28 ini semuanya berisi berkat-berkat yang bersifat materi (kedudukan, kekayaan, keamanan, dsb)?  Memang benar bahwa ulangan 28 itu banyak berbicara tentang berkat materi.  Tapi kita harus memahami konteks waktu itu.  Waktu itu yang disebut umat Tuhan adalah umat Israel secara fisik.  Tuhan memilih mereka menjadi bangsa pilihan, dan Tuhan menjanjikan kepada mereka akan memasuki tanah kanaan secara fisik.  Karena itu berkat-berkat yang dijanjikanpun berlaku secara fisik.  Namun kita umat pilihan Tuhan yang sekarang berbeda.  Saat ini setiap kita dapat dikatakan sebagai umat Israel secara Rohani.  Dan tujuan kita bukan lagi tanah perjanjian secara Fisik, tetapi tanah perjanjian secara rohani, yaitu tanah Surgawi.  Karena itu berkat-berkat yang disediakan kepada kita pun tidak sebatas berkat jasmani, tetapi lebih kepada berkat Rohani.  Berkat Rohani itu bisa jadi iman yang kuat ditengah pergumulan;  Berkat rohani juga bisa pengenalan akan Tuhan yang didapatkan ditengah-tengah penderitaan hidup; Berkat rohani dapat  juga berbentuk perasaan syukur ditengah kehidupan yang sulit dan penuh kekurangan; berkat rohani bisa merupakan pengharapan ditengah jalan buntu yang kita hadapi; dan berkat rohani bisa juga merupakan perasaan damai ditengah keadaan kacau; dan sebagainya.  Keluarga yang harmonis dan cinta kasih dari orang-orang dekat juga dapat terhitung berkat dari Tuhan yang bukan bersifat materi.  Dan ketika kita dapat memiliki kesemuanya itu, maka kita bisa menjadi orang yang paling beruntung didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1JG_un6eHwY/TxzBQus4TQI/AAAAAAAABD8/UunZPcaticw/s1600/fanny3.png"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1JG_un6eHwY/TxzBQus4TQI/AAAAAAAABD8/UunZPcaticw/s320/fanny3.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700643721502543106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya suka sekali dengan seorang pengarang lagu yang bernama Fanny Crosby.  Selain lagu hymne yang diciptakan merupakan lagu-lagu yang indah yang masih terus dinyanyikan sampai saat ini, Crosby pun memiliki kisah hidup yang indah.  Sejak ia kecil ia menderita sakit keras dan karena malapraktek yang dialami membuat matanya menjadi buta sejak kecil.  Sejak kecil juga ia kehilangan ayah yang sangat dikasihi. Iapun hidup dalam keadaan yang sangat miskin. Tetapi bersyukur ada mama dan neneknya yang begitu cinta Tuhan.  Setiap hari mereka memberitahu kepada Fanny tentang Firman Tuhan.  Perlahan-lahan imannya bertumbuh.  Ia semakin mendalami Firman Tuhan, dan iapun semakin terharu akan kasih Tuhan.  Ketika ia berusia 8 tahun ia pernah menulis sebuah puisi yang berkata “O, betapa bahagia jiwaku, walau aku tidak dapat melihat, Aku katakan kepada dunia, betapa nyaman dan bahagianya aku, betapa banyak berkat yang ku nikmati, sementara yang lain tidak, untuk menangis dan berkeluh karena aku buta...Aku tak dapat, aku tidak akan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan keadaan yang demikian ia berhasil menggubah lebih dari 8.000 lagu hymne, dan dikatakan sebagai penulis lagu rohani paling produktif disepanjang sejarah.  Salah satu pujian yang kita mungkin sering nyanyikan adalah “Jaminan mulia kuditebus, karena Yesus miliku abadi.”  Selain itu ada juga “Yesus-yesus, dengar doaku, janganlah engkau lalui, brilah berkatmu”   Dan pada masa-masa akhir hidupnya ia pernah berkata “Saya adalah orang yang paling beruntung didunia ini, karena ketika dalam keadaan buta, saya dapat melihat Tuhan dengan jelas, dan ketika saya ke Surga kelak, wajah pertama yang saya lihat adalah wajah juruselamatku.”  Ditengah keadaannya yang buta, miskin, dan tanpa seorang ayah, Ia dapat merasakan berkat rohani yang besar dari Tuhan.  Karena itu ia mengatakan “saya adalah orang yang paling beruntung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan saudara?  Maukah saudara menjadi orang yang diberkati baik secara jasmani maupun rohani?  Maukah hidup anda dipenuhi dengan kecukupan, dan pekerjaan yang diberkati?  Maukah saudara memiliki perasaan damai, hidup yang penuh sukacita, perasaan syukur ditengah-tengah pergumulan-pergumulan hidup?  Dan maukah saudara memiliki dan mengenal Tuhan yang adalah sumber berkat itu?  Jika mau, syaratnya Cuma 1Mari kita terus memperhatikan firman Tuhan, mendengarkannya, serta melakukannya dengan setia.  Percaya atau tidak, hidup kita akan limpah dengan berkat Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7841862488607536980?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7841862488607536980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7841862488607536980&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7841862488607536980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7841862488607536980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/rahasia-meraih-keberuntungan-ulangan-28_4277.html' title='RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kOWMSZ8X4so/TxzBrBduc1I/AAAAAAAABEI/GWqxfzlkRG0/s72-c/chinese-new-year-gong-xi-fa-cai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8230985731889976151</id><published>2012-01-22T18:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T18:07:48.822-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isu Aktual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vVCtkE0038Y/TxzAlACfwbI/AAAAAAAABDw/8_pr-n4WRog/s1600/jesus%2Bimlek.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 301px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-vVCtkE0038Y/TxzAlACfwbI/AAAAAAAABDw/8_pr-n4WRog/s400/jesus%2Bimlek.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700642970242367922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena itu jika kita mau menjadi manusia yang paling beruntung, maka kita harus berusaha menjadi manusia yang paling erat, paling kenal, paling dekat dengan Tuhan yang adalah sang sumber berkat itu.  Bagaimana caranya?  Tidak ada jalan lain selain melirik kembali dari Alkitab kita.  Alkitab kita memang bukan buku fengsui.  Alkitab juga bukan buku hoki, yang bisa memberikan aneka keberuntungan jika kita memiliknya.  Tetapi Alkitab adalah buku kehidupan, dimana kita dapat belajar semakin mengenal Tuhan dan  belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya didalamnya.  Dan jika kita menemukan Tuhan dan kehidupan yang sesungguhnya itu, maka kita dapat disebut sebagai orang yang sangat beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita cukup merenungkan 1 rahasia saja untuk mencapai keberuntungan yang dapat kita pelajari dari Ulangan 28.  Kitab Ulangan ini merupakan kitab yang berisikan kumpulan khotbah-khotbah Musa selama umat Israel mengitari pada gurun.  Khotbah-khotbah Musa ini berisi peraturan-peraturan, janji-janji, kesaksian, pelajaran dari pengalaman hidup, kekuatan, penghiburan, tapi tidak lupa juga ada teguran-teguran didalamnya.  Setelah banyak menyampaikan nasihat-nasihat kepada umat Israel, hampir diakhir khotbahnya Musa menyampaikan perkataan-perkataan yang berkat dan kutuk.  Dalam perikop inilah Musa memberikan satu rahasia penting kepada umat Israel jika mereka ingin menjadi beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Rahasianya?  Mari kita kembali melihat struktur dari penulisan ulangan 28:1-14.  Perikop ini memiliki kata kunci di awal dan akhir paragraf, yang merupakan syarat untuk meraih keberuntungan.  Sedangkan ditengah-tengah merupakan berkat-berkat yang akan diterima oleh umat Israel.  Dan menariknya kalau kita perhatikan, berkat-berkatnya itu melingkupi banyak hal.  Baik berkat atas status mereka sebagai umat pilihan.  Dikatakan Allah akan mengangkat engkau diatas segala bangsa di bumi.  Tidak akan menjadi ekor, melainkan jadi kepala.  Berkat atas usaha mereka.  Dikatakan hasil ladang, ternak, dan segala pekerjaan akan diberkati.  Kandungan dari ibu-ibu atau Keturunan mereka juga akan diberkati.  Perjalanan hidup diberkati.  Dikatakan ‘diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar’.  Dalam peperangan juga Tuhan memberikan berkat kemenangan. Dan banyak lagi berkat-berkat yang dijanjikan oleh Tuhan kepada umat Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi harus kita ingat dan perhatikan, bahwa setiap berkat Tuhan itu diawali dan  diakhiri dengan sebuah syarat penting untuk diperhatikan.  Berkat itu merupakan konsekuensi dari syarat yang dituliskan.  Apa syaratnya?  Mari kita lihat di ayat pertama kedua dengan ayat yang terakhir.  Di ayat pertama dikatakan “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka ....”.   Selanjutnya ayat 2 dituliskan “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan Allahmu.”  Lalu ayat13b dan 14, setelah dibacakan segala berkat-berkat yang akan diberikan dikatakan “....Apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang kekanan atau kekiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini,....”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah syaratnya sangat sederhana, yaitu: “Mendengarkan dan melakukan  Firman Tuhan dengan setia.”  Saya kira mendengarkan bukan hanya mendengarkan sambil lalu, seperti kalau kita sedang memasak atau baca koran sambil mendengar suara ditelevisi yang menyala sambil lalu.   Tapi mendengarkan ini lebih kearah memperhatikan dengan seksama setiap Firman Tuhan yang kita baca atau dengarkan, bahkan kalau bisa sampai pada tahap merenungkan Firman itu siang dan malam.  Pemazmur pernah berkata: “Berbahagialah orang yang kesukaannya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.  Ia seperti pohon di tanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukan hanya diminta untuk merenungkan, syarat meraih keberhasilan juga didapat jika kita melakukan Firman itu dengan setia.  Saya yakin ada banyak sekali orang Kristen yang sering mendengar Firman Tuhan tiap minggunya, bahkan seminggu bisa 3 kali kalau orang itu mengikuti komisi dan persekutuan doa.  Tapi dari sekian banyak orang yang mendengarkan Firman Tuhan itu tidak banyak orang yang sudah melakukan Firman itu.  Banyak orang yang mendengar tentang pengampunan, tetapi ia tetap tidak mau mengampuni.  Banyak orang mendengar tentang kesetiaan, tetapi ia tidak setia.  Banyak orang mendengar Firman tentang kekudusan hidup, keadilan, belaskasihan, dan banyak lagi, tetapi sedikit orang yang mau melakukan itu semua.  Tuhan menginginkan kita melakukan Firman Tuhan dengan setia; dengan Konsisten;  yang dalam keadaan apapun, dalam keadaan senang, atau dalam keadaan susah, bahkan kondisi terjepit sekalipun, kita tetap setia melakukan akan Firman Tuhan.  Tuhan Yesus pernah berkata: orang yang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ia seperti orang bodoh yang mendirikan rumah diatas pasir.  Dimana ketika angin melanda, robohlah rumah itu.  Saliknya orang yang bijak adalah orang yang mendengar dan melakukan Firman Tuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kunci atau rahasia keberuntungan bagi kita orang percaya: Mendengarkan, merenungkan, serta melakukan Firman Tuhan dengan setia.  Menarik kalau kita perhatikan Alkitab kita.  Kalau kita mencari semua ayat yang berbicara tentang keberuntungan, kita akan menemukan ada kurang lebih 8 ayat yang memiliki bunyi yang sama: “Jika kamu mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan, maka kamu akan beruntung.”  Alkitab secara sistematis menyampaikan satu rahasia yang sama untuk mendapatkan keberuntungan, yaitu “mendengar dan melakukan Firman Tuhan.”  &lt;br /&gt;Memang terkadang kita merasa bahwa tidak ada kait mengait antara mendengar dan melakukan Firman Tuhan dengan berkat yang kita dapat dalam hidup ini.  Tapi pada kenyataannya banyak sekali orang yang betul-betul mendapatkan berkat dari kebergantungannya akan Firman Tuhan.  Desember yang lalu saya melayani di GKKA Balikpapan selama satu bulan.  Kebetulan karena masa tenggang KTP saya habis, maka saya berniat untuk pulang kampung (di Samarinda), yang tidak jauh dari Balikpapan untuk mengurus KTP saya.  Kurang lebih selama 4 hari saya berada diSamarinda.  Tapi saya bersyukur, karena dalam 4 hari itu saya mendengar seorang kawan saya menyaksikan cara kerja Tuhan yang luar biasa.  Ia bercerita ketika kami pergi keluar bersama.  Saya tau ia bukan orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan.  Ia tidak terlalu suka ke gereja.  Tetapi karena dorongan istrinya maka iapun pergi kegereja.  Pertama istrinya meminta dia untuk memberikan perpuluhan.  Dia mengatakan: awalnya saya jengkel sekali.  Orang usaha masi susah, mesin cetak sering rusak, ngapain sih kasi perpuluhan.  Itu yang ada dalam benaknya.  Karena itu setiap memberi perpuluhan ia merasa berat dan tidak iklas.  Namun sampai suatu titik ketika ia mengalami masalah dalam pekerjaannya, ia tersadar bahwa berkat dalam hidupnya itu berasal dari Tuhan.  Ia mulai pasrah kepada Tuhan, dan kejadian itu membuat dia tidak lagi bersungut-sungut dalam memberikan perpuluhan.  Tapi setelah itu ia saya ingat sekali perkataannya.  Ia berkata “Tapi tau gak, ketika saya memiliki hati yang berserah dan pasrah kepada Tuhan, ada aja berkat Tuhan yang tidak disangka-sangka.  Pekerjaan jadi semakin maju.  Saya sendiri bingung kok bisa demikian.”  Saya kira inilah cara kerja Tuhan.  Ia memberikan berkat lebih kepada orang yang merenungkan Firman-Nya dan melakukannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8230985731889976151?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8230985731889976151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8230985731889976151&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8230985731889976151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8230985731889976151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/rahasia-meraih-keberuntungan-ulangan-28_22.html' title='RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vVCtkE0038Y/TxzAlACfwbI/AAAAAAAABDw/8_pr-n4WRog/s72-c/jesus%2Bimlek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4539548238231568015</id><published>2012-01-22T17:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T18:04:29.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isu Aktual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 1</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AnHfd8ys8E0/TxzAJcovFxI/AAAAAAAABDk/apbqO27ROo8/s1600/gong_xi_fa_cai_fat_choi.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 276px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AnHfd8ys8E0/TxzAJcovFxI/AAAAAAAABDk/apbqO27ROo8/s400/gong_xi_fa_cai_fat_choi.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700642496882611986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan kali ini ijinkan saya mengucapkan Gong Xi Fat Choi, Shangdi Zhufu, Wang Shi Ru Yi, Shenti Jiankang, , dan tidak lupa “Hong Bau la lai”.  (Saya teringat dari kecil kami 5 bersaudara selalu diajarkan untuk mengucapkan kata-kata ini kalau ketemu orang yang lebih tua, kecuali kalimat yang terakhir ‘hong bau la lai’ nya ga usah diucapkan.  Namun walau dibilang jangan diucapkan seringkali kami tetap mengucapkannya untuk menggoda orang yang lebih tua).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita bersama-sama merayakan imlek.  Kalau ditanyakan: apa sih yang biasa diharapkan orang Tionghoa pada saat Imlek?  Apa sih yang banyak diharapkan seorang dalam memasuki tahun yang baru? Saya kira jawabannya hanya satu: Rejeki, berkat, atau keberuntungan.  Mengapa saya berani mengatakan demikian?  Hal itu terlihat jelas dari latar belakang atau filosofi yang terkandung dalam setiap tindakan atau budaya yang dilakukan kebanyakan orang pada saat imlek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal saja kita tau bahwa pada saat Imlek, warna yang paling mendominasi adalah warna merah.  Di beberapa tempat memasang bunyi petasan yang begitu ribut sepanjang hari.  Ternyata ada kisah dibalik kebiasaan-kebiasaan tersebut.  Orang China itu percaya pada sebuah mitos.  Menurut cerita, dahulu ada seekor binatang ganas yang bernama ‘nien’.  Binatang ini takut hawa panas dan sangat malas; kalau satukali tidur, tidurnya sampai satu tahun dan bangunnya pada waktu tengah malam menjelang tahun baru imlek.  Begitu bangun, karena lapar, maka ia berjalan kesana-kemari untuk mencari makanan.  Semua hal akan dimakannya, baik hasil ladang, hasil panen, ternak, dan terutama makanan kesukaaannya adalah manusia.  Karena itu menjelang tahun baru masyarakat selalu berada dalam keadaan takut.  Mereka takut menjadi santapan binatang itu.  Sampai ada seorang pintar yang menemukan carai mengusir hewan ini yaitu dengan menggunakan petasan.  Katanya ia pernah mencoba mengusir nien dengan petasan dan ternyata berhasil.  Bukan hanya itu, seorang warga pernah melihat nien lari ketakutan melihat anak kecil yang berbaju merah.  Mereka baru sadar bahwa hewan nien tersebut takut dengan warna merah.  Lantas setiap menjelang tahun baru semua rumah di cat dan pernak-pernik di hiasi dan didominasi dengan warna merah.  Semua ini dilakukan agar mereka tidak mengalami kerugian.  Melainkan berkat yang mengalir atas rumah mereka..&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_MeM8zwBvyU/Txy_DiwaT5I/AAAAAAAABDA/Rz7Fzk4APUo/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 123px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_MeM8zwBvyU/Txy_DiwaT5I/AAAAAAAABDA/Rz7Fzk4APUo/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700641295934574482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, bagi beberapa orang Chinese lainnya melakukan ritual yaitu dengan sembahyang kepada dewa dapur.  Menurut kepercayaan orang Tionghoa, 1 minggu sebelum Imlek biasanya dewa dapur naik ke langit untuk menghadap kepada Tuhan Allah.  Untuk menghindari laporan yang buruk oleh dewa dapur kepada Tuhan Allah, maka sebelum naik ke langit, diadakan upacara sembahyang dengan menyajikan sesajen yang sifatnya manis-mansi dan kue keranjang yang mengandung pelekat.  Maksudnya sesajen yang manis-manis adalah agar laporan dewa dapur tentang tentang mereka hanya yang manis-manis saja.  Yang buruk tidak usah dilaporkan.  Sedangkan sesajen yang mengandung pelekat seperti kue keranjang dan sebagainya diberikan dengan tujuan agar dewa dapur sukar menyampaikan laporan yang jelek, karena mulutnya lengket.  Semua ini mereka lakukan agar sepanjang tahun yang baru, hidup mereka penuh dengan berkat yang manis-manis.  &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-TUo1wB95d-A/Txy_LhEJ11I/AAAAAAAABDM/LJdRjjFAofs/s1600/chauw%2Bkun%2Bkong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TUo1wB95d-A/Txy_LhEJ11I/AAAAAAAABDM/LJdRjjFAofs/s200/chauw%2Bkun%2Bkong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700641432919463762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya lainnya lagi yang masih terus dilakukan, bahkan oleh orang Kristen adalah kegiatan membersihkan rumah.  Pada umummnya menjelang imlek, seluruh keluarga akan kerja bakti membersihkan rumah.  Debu-debu dibuang keluar sebagai petanda buang sial di tahun yang lalu.  Semua yang kotor-kotor di tahun lalu dibuang.  Namun setelah memasuki tahun baru, mereka tidak boleh menyapu rumah lagi saat bertepatan dengan imlek.  Mereka percaya bahwa kalau menyapu rumah di hari itu maka berkat atau rejekinya juga akan disapu keluar.  Kalau terpaksa harus menyapupun kalo bisa kotoran di rumah disapu ke sudut-sudut rumah saja, agar rejekinya tidak kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebiasaan atau budaya imlek ini sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa yang paling diharapkan pada saat imlek adalah rejeki, berkat atau keberuntungan.  Memang tidak ada satu orangpun yang ingin mengalami kerugian dalam hidupnya.  Saya kira bukan hanya orang-orang Tionghoa, namun semua manusia diseluruh dunia ini ingin mendapatkan keuntungan.  Oleh sebab itulah banyak orang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk mendapatkan keberuntungan.  Seperti memasang boneka kucing untuk melariskan dagangan.  Beberapa lagi sangat percaya dengan fengsui dalam membangun rumah.  Pintu harus menghadap ketimur, wc tidak boleh ditengah ruangan, tempat tidur tidak boleh berhadapan dengan jendela dan sebagainya.  Ada juga ritual kecil para pedagang pasar, dimana setiap kali dagangannya laku, ia akan melibaskan uang dari pembeli itu ke barang dagangannya sambil berkata “laris,laris,laris”, dengan harapan dagangannya semakin laku.  Masih banyak lagi cara-cara orang untuk mendapatkan keberuntungan.  Bahkan ada orang yang rela melakukan banyak kecurangan untuk meraup keuntungan.  Lihat saja para koruptor.  Dengan cara yang begitu licik mereka berupaya untuk mendapatkan keuntungan.&lt;br /&gt;Namun benarkah semua itu dapat membuat kita beruntung?  Benarkah semua ritual-ritual yang diciptakan oleh manusia dapat membawa kita kepada keberuntungan?  TIDAK!  Amsal 10:22 menuliskan “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”  Alkitab mengatakan bahwa berkat itu jelas datangnya dari Tuhan.  Orang China mengatakan berkan itu datangnya dari Tien / langit.  Tapi apakah yang dapat diberikan langit?  Tidak ada selain hujan dan petir.  Berkat itu jelas datang dari Tuhan.  Bukan sembarang Tuhan;  tetapi berkat itu dari Tuhan yang menciptakan langit, yang berdaulat dalam sejarah, yang hadir kedunia dalam rupa manusia yang bernama Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan sebuah buku yang berjudul: Menemukan Tuhan dalam aksara Tionghoa.  Buku ini memaparkan banyak aksara Tionghoa dimana kalau kita telusuri sumbernya maka kita akan ketemukan bahwa banyak konsep yang ada dalam aksara China yang serupa dengan apa yang tertulis dalam Firman Tuhan.  Misalnya kata ‘Fu’ = Kebahagiaan.  Ternyata kata ini tersusun dari kata ,Tuhan + Satu+ Mulut (orang) + Taman, yang mengingatkan kita kisah di taman eden, dimana kebahagiaan sejati ditemukan pada saat manusia berada di taman eden, hubungan dengan Tuhan belum terpisah.  Menariknya ada satu kata lagi yaitu ‘Xiang’ = Keberuntungan, yang kalau diperhatikan kata ini berasal dari kata Tuhan + anak domba.  Dari dulu mereka sadar bahwa keberuntungan itu berasal dari Tuhan pencipta langit dan bumi.  Bukan hanya Tuhan pencipta langit dan bumi, tetapi Tuhan yang mau menjadi manusia, yang menjadi anak domba untuk disembelih untuk pengampunan dosa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-uatqpSEGzdU/Txy-naWdJFI/AAAAAAAABC0/T7NxjwN4d1A/s1600/DSC00814.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-uatqpSEGzdU/Txy-naWdJFI/AAAAAAAABC0/T7NxjwN4d1A/s200/DSC00814.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700640812641887314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4539548238231568015?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4539548238231568015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4539548238231568015&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4539548238231568015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4539548238231568015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/rahasia-meraih-keberuntungan-ulangan-28.html' title='RAHASIA MERAIH KEBERUNTUNGAN (Ulangan 28) # 1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AnHfd8ys8E0/TxzAJcovFxI/AAAAAAAABDk/apbqO27ROo8/s72-c/gong_xi_fa_cai_fat_choi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8242028857293194593</id><published>2012-01-15T00:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T00:11:54.336-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><title type='text'>TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #3</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KKCehueWbMI/TxKJznaVCII/AAAAAAAABCo/iXM84XWtFi0/s1600/Psalm-3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-KKCehueWbMI/TxKJznaVCII/AAAAAAAABCo/iXM84XWtFi0/s400/Psalm-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697767998422845570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibait terakhir, yaitu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bait ke-3&lt;/span&gt;, setelah Daud berseru kepada Tuhan, ia tidak berhenti sampai disana.  Tetapi Daud menyatakan imannya ditengah-tengah pergumulannya.  Banyak orang yang berseru kepada Tuhan, tetapi kemudian ia tidak yakin pada pertolongan Tuhan.  Karena itu ia tetap merasa cemas dan khawatir.  Tetapi Daud berbeda.  Setelah ia berseru ia memilih untuk beriman kepada Tuhan.  Menarik sekali di ayat 6 Daud berkata “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!”  Saya suka sekali ungkapan ini.  Pada umumnya orang yang sedang berada dalam teror itu akan menjadi sukar tidur.  Ketakutan, kecemasan, persoalan-persoalan acapkali memaksa dia untuk berpikir lebih keras dan membuatnya susah untuk tidur.  Sebuah artikel yang pernah saya baca mengatakan setelah kejadian krisis moneter yang menimpa negara Amerika beberapa tahun lalu, dikatakan penjualan obat pil tidur semakin meningkat.  Banyak orang yang susah untuk tidur sehingga harus menelan pil untuk membantunya tidur.  Itu respon orang yang terteror permasalahan pelik pada umumnya.  Tetapi Daud mengatakan “Aku membaringkan diri, lalu tidur, aku bangun.”  Saya membayangkan seperti tukang becak dalam foto ini.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wYMkRsIW2ws/TxKJWGHCnXI/AAAAAAAABCQ/RO-T5kc_-aw/s1600/BECAK%2BTIDUR.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wYMkRsIW2ws/TxKJWGHCnXI/AAAAAAAABCQ/RO-T5kc_-aw/s200/BECAK%2BTIDUR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697767491267370354" /&gt;&lt;/a&gt;  Dia dapat tidur nyenyak dan tentram walaupun suasana dipinggir jalan yang ribut suara motor.  Saya kira keadaan Daud jauh lebih dari itu.  Seakan tidak merasa khawatir, dia menyatakan bahwa ia mampu tidur dengan tenang dan nyenyak walaupun ada banyak masalah menghinggapi dia.  Mengapa bisa?  Kalimat selanjutnya mengatakan “.... sebab Tuhan menopang aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan iman itu lebih dipertegas lagi di ayat 7 dimana Daud berkata “aku tidak takut pada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.”  Sekali lagi ini kalimat yang menarik.  Ia membandingkan dirinya yang hanya satu orang melawan musuh-musuhnya yang puluhan ribu orang.  Secara logika jelas Daud kalah jauh.  Kalau semisal kita sedang berperang, saya yang berdiri dimimbar ini melawan saudara yang berada di bawah mimbar (sekitar ratusan orang), sudah jelas saya pasti kalah.  Apalagi Daud seorang diri menghadapi puluhan ribu orang.  Jelas ia akan kalah.  Tapi Daud berkata “Aku tidak takut”.  Mengapa ia tidak takut?  Di ayat 8 memberi alasannya.  Karena dia yakin bahwa Tuhanlah yang akan menolong dirinya, dan Tuhanlah yang akan berperang bagi dia.  Daud meresponi seruan doanya dengan beriman kepada Tuhan.  Dalam hatinya ia yakin bahwa Tuhan pasti mendengarkan seruanya.  Ia tau bahwa Tuhan suka terhadap anak-anak yang berseru kepada-Nya.  Karena itu ia dapat merasakan tenang dan damai sejahtera, tanpa merasa takut.  Karena ia sudah menyerahkan semuanya kedalam tangan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hal yang paling kita butuhkan untuk menghadapi segala teror dalam hidup kita adalah ‘iman’.  Iman bukannya menghilangkan segala permasalahan itu, tapi iman memampukan kita untuk kuat menghadapi teror-teror tersebut.  Iman tidak membuat suasana sekitar kita menjadi tenang, tapi imanlah yang mententramkan hati kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang gadis buta yang hanya memiliki seorang ayah, sementara ibunya sudah meninggal.  Gadis buta ini tidak memiliki siapa-siapa selain daripada ayahnya.  Mereka berdua tinggal disebuah apartemen berlantai 10 di tengah-tengah kota.  Suatu malam ketika sang ayah sedang keluar untuk membeli makanan, sementara anaknya seorang diri diapartemen itu, tiba-tiba kebakaran besar terjadi.  Perlahan namun pasti, api itu terus menjalar melalap apartemen itu.  Gadis buta ini sadar bahwa sedang terjadi kebakaran di apartemen itu.  Ia mulai susah bernafas karena asap yang menebal.  Karena itu cepat-cepat ia meraba-raba mencari jendela terbuka untuk dapat bernafas.  Walaupun ia tidak dapat melihat tapi ia dapat merasakan  panas api yang semakin besar.  Dalam hatinya, celakalah saya.  Bagaimana mungkin saya dapat lolos dari kebakaran ini.  Tiba-tiba ada suara dari bawah, yaitu suara pemadam kebakaran yang berteriak “Nak, lompat nak...lompat....”.  Tenyara para pemadam kebakaran itu telah membentangkan kain yang tebal dan lebar untuk menolong orang yang akan melompat dari gedung.  Tetapi gadis itu berteriak “saya takut melompat.... Saya buta... saya tidak dapat melihat...”  Petugas kebakaran itu berteriak lagi “Kalau kamu tidak melompat maka kamu akan mati.... Ambil resiko... lompatlah”... Saya kira bukan hal yang mudah untuk melompat dari apartemen lantai 10.  Apalagi melompat dengan mata yang tidak dapat melihat.  Itu seperti sebuah teror yang menakutkan.  Tapi ditengah kekacauan dan kepanikannya, tiba-tiba ada suara lain yang berteriak “Sayang... lompatlah... Saya akan menangkapmu...”  Gadis itu lantas tersenyum dan berkata “Baiklah papa, saya akan lompat.”  Segala ketakutan si gadis buta ini mendadak sirna ketika mengetahui ada papanya yang menjaganya, yang tidak akan membiarkannya terjatuh dan terluka.  Karena itu ia dapat tersenyum walau ia harus melompat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, kitapun memiliki bapa diSurga yang mengasihi kita bukan?  Dan Firman Tuhan juga pernah berkata bahwa : Ia tidak akan membiarkan kita jatuh tergeletak, sebab tanganya menopang kita bukan?  Karena itu mari kita belajar untuk lebih beriman dan percaya akan pertolongan Tuhan terhadap apapun juga yang menjadi teror kita di tahun 2012 ini.  Teror apapun yang menghantui saudara, baik itu teror ekonomi, keluarga, sakit penyakit, dsb, mari kita belajar untuk mengandalkan kekuatan Tuhan, berseru kepada-Nya, dan jangan lupa untuk beriman bahwa Tuhan pasti menolong.  Ingat, Tuhan adalah perisai kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8242028857293194593?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8242028857293194593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8242028857293194593&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8242028857293194593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8242028857293194593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/tuhan-perisai-hidupku-mazmur-3-3.html' title='TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KKCehueWbMI/TxKJznaVCII/AAAAAAAABCo/iXM84XWtFi0/s72-c/Psalm-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8855815270099524172</id><published>2012-01-15T00:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T00:06:21.235-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><title type='text'>TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #2</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uv0aEy9V2K4/TxKItwiih3I/AAAAAAAABCE/Hy6j6k7DcBM/s1600/Psalm-3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uv0aEy9V2K4/TxKItwiih3I/AAAAAAAABCE/Hy6j6k7DcBM/s400/Psalm-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697766798282360690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZAvBf2L2NBM/TxKIms9aqOI/AAAAAAAABB4/-MFxtGdTQpE/s1600/ODB_030111.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZAvBf2L2NBM/TxKIms9aqOI/AAAAAAAABB4/-MFxtGdTQpE/s400/ODB_030111.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697766677062265058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melanjutkan Mazmurnya dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bait yang kedua&lt;/span&gt;.  Jika Bait pertama merupakan pernyataan akan pergumulan kehidupannya, di bait kedua ini berisi akan respon terhadap pergumulan itu.  Respon apa yang dilakukan oleh Daud?  Ayat 5 jelas menuliskan bahwa “Dengan Nyaring aku berseru kepada Tuhan.”  Ditengah teror yang menakutkan itu, bukannya ia mengandalkan kekuatannya, dan bukannya mencari pertolongan manusia, tetapi Daud berseru kepada Tuhan dengan nyaring.  Kenapa harus dengan suara nyaring?  Saya kira bukan karena ia menganggap Tuhan itu tuli, tapi lebih karena pergumulan yang terlalu beratlah yang membuat ia berteriak dan berseru kepada Tuhan.  Ya... Daud memilih berseru kepada Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan peristiwa yang pernah terjadi dengan anak sekolah minggu saya sewaktu di Malang.  Suatu hari sore-sore saya ditelpon oleh orangtuanya minta tolong didoakan, karena anaknya mengalami patah tulang.  Saya segera menghampiri kerumahsakit tempat anak itu berbaring.  Disana mamanya bercerita demikian: sewaktu mereka sedang piknik ke taman bermain.  Tiba-tiba ia mendengarkan suara orang jatuh dengan keras.  Ternyata anaknya main di tiang gantung dan terjatuh dengan siku yang membentur tanah.  Menariknya respon pertama ketika anaknya terjatuh anak itu berteriak: mama, mama....doakan ma..doakan ma”.  Tuhan menjadi orang pertama yang dicari anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga yang dilakukan oleh Daud.  Dalam pergumulan yang begitu berat ia memilih untuk bergantung dan berseru kepada Tuhan.  Mengapa?  Diayat 4 dengan jelas menyatakan karena bagi Daud, Tuhan itu adalah perisai.  Ya.... Daud menggambarkan Tuhan itu seperti perisai yang mampu melindungi hidupnya dari segala serangan musuh.  Memang Daud berkali-kali menyatakan Tuhan sebagai tempat berlindung.  Ia pernah menggambarkan Tuhan seperti gunung batu, tempat pelarian terbaik pada waktu itu.  Ia pernah menggambarkan Tuhan sebagai kota benteng, kota perlindungan.  Selain itu Daud juga pernah menggambarkan Tuhan seperti gembala yang baik, yang selalu melindungi domba-dombanya.  Kali ini ia mengatakan bahwa Tuhan itu adalah perisai.  Semuanya itu gambaran bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan.  Bagi Daud tidak ada tempat perlindungan yang lebih aman dan nyaman daripada berlindung kepada Tuhan.  Karena itu di ayat 9 yang merupakan kesimpulan, Daud berkata “Dari Tuhan datang pertolongan, berkat-Mu atas umat-Mu”  Ya hanya dari Tuhan saja datangnya pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan saudara di tempat ini?  Bagi saudara siapakah Tuhan itu?  Atm, yang kalau diminta pasti dapat?  Ban serep, yang hanya kalau dibutuhkan baru digunakan, tapi kalau tidak disimpan lagi?  Atau Apakah Saudara juga menganggap Tuhan juga sebagai perisai tempat perlindungan sama seperti Daud? Apakah saudara mengandalkan Tuhan dalam menghadapi tahun 2012 ini?  Apakah Tuhan menjadi tempat perlindungan bagi saudara setiap hari?  Atau jangan-jangan saudara lebih mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapi persoalan hidup saudara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Daud mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah perisai, tempat perlindungan kita.  Sudah banyak orang Kristen yang mengalami betapa Tuhan itu tempat perlindungan.  Dari zaman pemazmur, rasul-rasul, bapak-bapak gereja, sampai saat inipun banyak yang merasakan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan.  Martin Luther, seorang tokoh reformator yang berkali-kali nyawanya terancam karena membela kebenaran pernah mengarang lagu yang mengatakan “Allah bentengku yang teguh, pasti ku tak akan goyah.”  Ia menemukan bahwa Tuhanlah tempat perlindungannya.    Saya suka sekali sebuah lagu lama yang mengatakan “Tuhanlah perlindunganku, Dialah kekuatanku, penolong diwaktu susah, amat terbukti.  Haleluya-haleluya...ku mau puji Dia... Haleluya-haleluya, ku mau sembah dia”...  Lagu ini terus mengingatkan kepada kita bahwa hanya Tuhanlah tempat perlindungan kita. Ya.... Tuhan memang dapat kita andalkan.  Tuhan dapat selalu menjadi tempat perlindungan kita.  Karena itu mari dalam segala pergumulan yang meneror kita, mari kita responi dengan berseru kepada Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8855815270099524172?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8855815270099524172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8855815270099524172&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8855815270099524172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8855815270099524172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/tuhan-perisai-hidupku-mazmur-3-2.html' title='TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uv0aEy9V2K4/TxKItwiih3I/AAAAAAAABCE/Hy6j6k7DcBM/s72-c/Psalm-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2111084576262677136</id><published>2012-01-14T23:53:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T00:02:22.554-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><title type='text'>TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #1</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YQZASDaQk3U/TxKHH4BHBnI/AAAAAAAABBg/6NzDArFObvU/s1600/Psalm-3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-YQZASDaQk3U/TxKHH4BHBnI/AAAAAAAABBg/6NzDArFObvU/s400/Psalm-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697765047942973042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya membaca artikel tentang kehidupan anak kecil.  Disana dikatakan bahwa seorang anak kecil acapkali sering mendapatkan ‘teror-teror’ dari sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang dewasa.  Ada anak kecil yang takut patung.  Padahal ia sudah tau patung itu tidak dapat bergerak.  Tetapi dalam bayangannya patung itu bisa sewaktu-waktu bergerak dan mengganggu dia.  Ada anak kecil yang merasa terteror ketika bertemu seorang dokter.   Saudara saya waktu kecil punya ketakutan ini.  Ketika dibawa kedokter gigi oleh papa saya, mendadak dia melompat dari vespa yang dikendarai papa saya dan berlari kencang pergi masuk ke jalan-jalan kecil.  Akhirnya terjadilah peristiwa kejar-kejaran di antara papa dan koko saya.  Ada juga yang takut jarum suntik, yang tiap kali disuntik langsung pingsa. Ada juga anak kecil yang takut dengan sinterklaus seperti gambar ini; dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YYBgSLekceg/TxKHb422eII/AAAAAAAABBs/jWhYXsgyHbE/s1600/sinterklaus.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YYBgSLekceg/TxKHb422eII/AAAAAAAABBs/jWhYXsgyHbE/s320/sinterklaus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697765391765764226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin tertawa melihat gelagat anak kecil dengan ketakutan-ketakutannya dengan hal yang masuk akal.  Namun sadar atau tidak sadar, ternyata perasaan di teror itu juga dialami oleh orang-orang dewasa.  Walaupun teror-teror itu tidak seperti yang dialami seorang anak kecil, tetapi kita tidak dapat memungkiri bahwa ada banyak teror yang acapkali membuat kita takut dan cemas.  Dan teror yang dihadapi seorang dewasa jauh lebih real/nyata dari apa yang dialami oleh anak kecil. Masalah ekonomi yang begitu menakutkan.  Kita diteror akan harga barang yang terus melambung, mata uang rupiah yang terus melemah, dan masalah-masalah pekerjaan yang memberatkan kita.  Atau mungkin ada sakit penyakit yang sedang meneror hidup kita.  Kita sudah bergumul sekian lama, tapi sakit penyakit itu tidak kunjung pergi.  Atau mungkin kita tidak sedang sakit.  Namun karena usia yang terus bertambah, kita merasa takut kalau-kalau kita juga terserang sakit penyakit yang mematikan.  Dan akhirnya kita terteror olehnya. Ataukah juga masalah keluarga.  Kita terteror dengan pergaulan buruk anak-anak atau sikap pasangan kita.  Kita terteror dengan perlakuan buruk di masa lalu.  Kita terteror oleh ancaman perpecahan keluarga.  Mungkin kita diteror oleh orang luar yang hendak merusak bahtera rumah tangga kita.  Salah seorang jemaat yang pernah saya temui (bukan di Makassar) pernah bercerita.  Dulu dia itu seorang muslim.  Kemudian karena suaminya dia menjadi mengenal Tuhan, dan dia bersyukur bisa percaya Tuhan.  Tapi beberapa tahun ia menikah, akhirnya datanglah orang ke-3 yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.  Akhirnya suaminya berselingkuh.  Kacaunya, ternyata selingkuhannya itu beragama muslim.  Dan suaminya menjadi muslim untuk menikahi selingkuhannya.  Terus dia menyaksikan akan betapa sakitnya hatinya.  Setiap hari rasa marah, bingung, benci, sedih, semua bercampur aduk meneror hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kitapun yang ada di tempat ini juga sering merasakan teror-teror itu.  Masalah-masalah pribadi yang menghinggapi kita memberikan kita rasa takut, cemas, kesepian, ketakutan, kemarahan, kekhawatiran, dsb.  Dan perasaan-perasaan negatif ini terus meneror kita setiap saat.  Mungkin bertahun-tahun kita terteror dengan pergumulan-pergumulan itu.  Dan teror itu terus menghantui kita, bahkan sampai di tahun 2012 ini.  Mungkin di tahun 2012 ini rentetan teror lainnya sedang menanti kita.  Kita tidak tau apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dalam renungan kali ini saya ingin mengajak saudara belajar dari Daud, secara khusus dalam Mazmur 3 yang sudah kita baca.  Mengapa?  Karena dalam Mazmur ini Daudpun sedang merasakan terteror yang hebat menghantui dia.  Tetapi kabar baiknya ia berhasil keluar dari perasaan terteror itu.  Karena itu mari kita pelajari bersama mazmur 3 ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazmur 3 ini merupakan sebuah pujian atau lagu yang diciptakan oleh Daud waktu itu.  Ini merupakan jenis mazmur ratapan, yaitu sebuah mazmur yang menyatakan pergumulan atau keluhkesah dari pada si pemazmur.  Pujian ini terdiri dari tiga bait yang di tandai dengan 3 kali kata sela (seperti kidung pujian yang berbait-bait).  Menarik kalau kita perhatikan, Pemazmur membuat pujian atau mazmurnya ini secara progresif.  Mari kita liat satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bait pertama&lt;/span&gt; menyatakan akan pergumulannya yang berat yang dihadapi Daud.  Di awal pujiannya ia berseru: “Ya Tuhan, Betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku.”  Apa yang terjadi?  Di ayat pertama menjelaskan akan latar belakangnya yaitu ketika Daud lari dari kejaran Absalom anaknya.  Kalau kita membaca dari 2 Samuel pasal 15-18 kita akan tau apa yang terjadi.  Pada waktu itu Absalom telah membuat kesepakatan yang curang.  Dalam hatinya ia berniat untuk menggeser posisi ayahnya.   Dengan cerdik setiap hari ia berdiri didepan pintu gerbang kerajaan.  Sehingga setiap siapapun juga yang ingin menghadap raja, ia akan berkata: percuma kamu menghadap raja, dari pihak raja tidak ada seorangpun yang mendengarkan engkau.  Lalu semua rakyat israel yang hendak menyelesaikan masalahnya, semuanya diselesaikan oleh Absalom.  Dengan demikian ia berhasil merebut hati banyak orang Israel.  Sehingga semakin lama semakin banyak rakyat yang condong kepada dia dan mulai membenci kerajaan Daud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terkumpul banyak pengikutnya maka iapun memulai untuk melakukan sabotasi.  Dia merencanakan pengangkatan dirinya menjadi raja dan penurunan jabatan raja milik ayahnya.  Daud yang mendengar hal ini terpaksa melarikan diri.  Disatu sisi ia tau bahwa kekuatan yang dihimpun Absalom sudah besar.  Bisa saja suatu saat pasukan anaknya membunuh dia.  Disisi lain kalau Daud dan pasukannya menyerang, mungkin saja bisa.  Tapi resikonya ia akan melukai anaknya, bahkan mungkin membunuhnya.  Seandainya musuh itu orang lain mungkin dia bisa melakukan strategi perlawanan.  Tapi ini yang menjadi musuh dihadapannya tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan perasaan Daud.  Saya kira perasaan takut, cemas, bingung, dan terutama sedih meneror dirinya.  Karena itu dalam 2 Samuel 15:30 mengatakan “Daud mendakit bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut.”  Yang menyatakan betapa sedihnya ia.  Apalagi diayat 3 musuh-musuhnya mencibir dia dengan berkata “Baginya tidak ada pertolongan daripada Allah.”  Musuhnya seakan berkata “Tuhan sudah meninggalkan Daud dan mengurapi absalom.  Tuhan sudah tak peduli terhadap Daud... tidak ada pertolongan dari Tuhan...”  Hal ini saya kira tambah menekan Daud.  Daud sadar bahwa ia adalah manusia berdosa.  Ia tau bahwa Tuhan pernah marah kepada Daud karena perbuatannya meniduri Batsyeba dan membunuh Uria.  Karena perbuatannya itu Tuhan marah menghukum keluarganya.  Saya kira Daud merasa semua masalah yang dia alami itu dikarenakan hukuman dari apa yang pernah ia perbuat dulu.  Karena itu ia takut.  Ia takut kalau Tuhan telah meninggalkan dirinya.  Ia tau bahwa tanpa Tuhan ia tidak mungkin bisa berbuat apa-apa.  Karena itu Daud begitu tertekan.  Daud hidup dalam teror-teror yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam keadaan demikian ia tidak mau berdiam diri.  Ia tidak mau bersikap pasif terhadap tekanan-tekanan hidupnya.  Ia juga tidak mau bersikap sembrono untuk menyelesaikan masalahnya. Ia menyadari bahwa hidup memang tidak pernah luput dari masalah dan persoalan yang selalu meneror hidupnya.  Karena itu ia tidak berhenti di bait yang pertama saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2111084576262677136?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2111084576262677136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2111084576262677136&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2111084576262677136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2111084576262677136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/tuhan-perisai-hidupku-mazmur-3-1.html' title='TUHAN PERISAI HIDUPKU (Mazmur 3) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YQZASDaQk3U/TxKHH4BHBnI/AAAAAAAABBg/6NzDArFObvU/s72-c/Psalm-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7581418492924992386</id><published>2012-01-05T16:28:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T17:03:34.251-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isu Aktual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Skandal Sandal Di Mata Buku Kekal</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-E0gbUeTzK5o/TwZIW0ZtgDI/AAAAAAAABBI/V6jpsRe9tqI/s1600/swallow1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-E0gbUeTzK5o/TwZIW0ZtgDI/AAAAAAAABBI/V6jpsRe9tqI/s400/swallow1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694318335717376050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imamat 19:15  Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada keadilan, dimana keadilan?"  Demikianlah sorak dari para pendemo kasus skandal sandal yang tidak masuk akal.  Bermula dari seorang anak remaja (inisial AAL)yang mungkin karena iseng pergi mencuri sandal milik oknum anggota polisi,  akibatnya tak main-main, selain diinterogasi, bahkan dipukuli dengan tangan dan benda tumpul, ia juga terancam lima tahun bui. &lt;br /&gt;Publikpun angkat suara, bahkan suara-suara itu sudah bergaung di berbagai belahan bumi.  Masyarakat segera mengumpulkan banyak sandal jepit yang murahan itu untuk diberikan kepada oknum polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya memang AAL harus diakui bahwa ia bersalah.  Namun yang membuat hal ini tidak masuk akal ialah, bagaimana mungkin pencuri sandaljepit (seharga 30rban) harus dituntut 5 tahun penjara.  Padalah pelakunya hanyalah seorang anak kemarin sore, anak baru gede, yang mungkin cukup untuk dinasihati oleh orang yang dewasa.  Tetapi malah diperlakukan keras seperti seorang dewasa.  Karena itu pemerhati anak, Seto Muyadi mengatakan, pemidanaan AAL adalah salah satu contoh tindakan yang kejam terhadap anak.  Baginya penjara bukanlah tempat yang baik untuk mendidik anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu para koruptor yang memanipulasi uang negara, yang dengan uangnya mungkin dapat membeli 5 pabrik sandal sekaligus,  menerima vonis yang lebih kecil dari pencuri sandal.  Hal ini semakin menunjukkan bahwa hukum hanya keras terhadap orang lemah, tapi tak berdaya terhadap orang yang berkuasa.  Hukum itu tajam kebawah, tapi tumpul ke atas.  Tidak ada keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini jelas tidak berkenan di hadapan Allah.  Alkitab yang adalah Firman Allah pernah memberitahukan kepada kita untuk tidak berbuat curang dalam pengadilan.  Ayat ini melanjutkan "janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran."  Allah memerintahkan Musa untuk menuliskan hal ini dalam konteks kekudusan hidup.  Bagi Allah, orang yang menjaga kekudusan salah satu sikap yang harus dimiliki adalah sikap adil, menjunjung kebenaran.  Tidak memiliki keadilan, maka hidupnya tidka kudus.  Allah membenci sikap ketidakadilan yang hanya mendukung orang berkuasa, tapi tidak untuk rakyat kecil.  Setiap ketidakkudusan itu merupakan suatu kejijikan dimata-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini menjadi peringatan juga untuk para petinggi negeri yang sudah sadar bahwa dirinya keliru, tapi masih terus bernikmat dalam kecurangan-kecurangan, dan peringatan juga untuk para hakim yang mudah tergiur oleh uang.... peringatan apa?  Peringatan bahwa suatu saat Allah sendiri yang akan bertindak, karena Ia membenci ketidak adilan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7581418492924992386?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7581418492924992386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7581418492924992386&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7581418492924992386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7581418492924992386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/skandal-sandal-di-mata-buku-kekal.html' title='Skandal Sandal Di Mata Buku Kekal'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-E0gbUeTzK5o/TwZIW0ZtgDI/AAAAAAAABBI/V6jpsRe9tqI/s72-c/swallow1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-6609423505855849070</id><published>2012-01-04T16:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T16:51:41.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penderitaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Ujian Di ‘Padang Gurun’</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lgN_sX0VFy4/TwT0FQEo7vI/AAAAAAAABA8/lYADwEc4ujk/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lgN_sX0VFy4/TwT0FQEo7vI/AAAAAAAABA8/lYADwEc4ujk/s400/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693944199954099954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ulangan 8:2a “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kau lakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama 40 tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan ini tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan melewati banyak “padang gurun” yang begitu menyesakkan kita.  ‘Padang gurun’ kehidupan ini bisa menjelma dalam masalah keluarga, krisis ekonomi, pekerjaan, dsb.  Yang pasti ‘padang gurun’ ini dapat membuat kita putus asa dan kehilangan pengharapan.  Namun harus kita sadari bahwa seringkali Tuhan menggunakan situasi ‘padang gurun’ itu justru untuk mendidik dan mendisiplin anak-anak-Nya.  Umat Israel sengaja ditempatkan di padang gurun selama kurang lebih 40 tahun karena Tuhan sendirilah yang ingin membentuk dan merendahkan hati mereka.  Kesenangan acapkali mengajarkan seseorang untuk menjadi angkuh dan egois. Sedangkan pergumulan acapkali membentuk hati seseorang untuk lebih rendah hati.  Karena itu jika engkau berada dalam ‘padang gurun’ saat ini, ingatlah, mungkin ada didikan Tuhan  yang ingin disampaikan kepadamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-6609423505855849070?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/6609423505855849070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=6609423505855849070&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6609423505855849070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6609423505855849070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/ujian-di-padang-gurun.html' title='Ujian Di ‘Padang Gurun’'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lgN_sX0VFy4/TwT0FQEo7vI/AAAAAAAABA8/lYADwEc4ujk/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4292321478930077937</id><published>2012-01-02T03:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T03:31:26.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Pengenalan Akan Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aBQPqEWD4jw/TwGU-N8cuKI/AAAAAAAABAw/004dIIOHQls/s1600/knowing-God-retreat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-aBQPqEWD4jw/TwGU-N8cuKI/AAAAAAAABAw/004dIIOHQls/s400/knowing-God-retreat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692995200589019298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Filipi 3:10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia ....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang menjadi harapan anda di tahun 2012 ini?  Apa yang menjadi kerinduan utama anda sebagai orang Kristen?  Rindu akan berkat Tuhan? Rindu segala permasalahan anda dibereskan? Rindu akan persekutuan yang intim dengan sesama orang Kristen?  Rindu melihat gereja kita menjadi megachurch? Atau apa?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik kalau kita melihat apa yang pernah menjadi kerinduan dari Paulus, dimana ia berkata “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia”.  Siapakah Paulus?  Bukankah dia seorang yang sudah sangat mengenal Tuhan?  Ia pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara langsung yang membuatnya menerima pertobatan.  Dia pengajar kitab suci yang mana ajaran-ajarannya terus diperbincangkan sampai hari ini.  Dia seorang yang berkuasa: bisa menyembuhkan, tidak mati ketika digigit ular, mampu melakukan mujizat.  Hidup Paulus dipenuhi oleh Roh Kudus.  Apalagi ketika ia menuliskan surat Filipi ini ditulis di akhir hidupnya, dimana ia banyak mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan Tuhan dan banyak pencerahan untuk menuliskan surat-surat yang berisikan doktrin dan teologi yang kental.  Tetapi walau demikian ia tetap berkata "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia..." Ia merindukan untuk lebih mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Baginya pengenalan akan Tuhan adalah proses yang harus terus dikejar seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya itu jugalah yang harus menjadi kerinduan utama kita sebagai anak-anak Tuhan:  Semakin hari semakin mengenal Tuhan. Semakin dalam kita mengenal Dia, semakin kita tahu bahwa kita masih belum mengenal Dia. Dan semakin kita belum tahu bahwa kita belum mengenal Dia, semestinya itu juga yang mendorong kita untuk terus berupaya untuk semakin mengenal Tuhan.  Biarlah ini juga yang menjadi kerinduan kita di tahun 2012.  Mengenal Tuhan yang hidup, yang berdaulat atas sejarah, termasuk atas tahun 2012 ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4292321478930077937?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4292321478930077937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4292321478930077937&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4292321478930077937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4292321478930077937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2012/01/pengenalan-akan-tuhan.html' title='Pengenalan Akan Tuhan'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-aBQPqEWD4jw/TwGU-N8cuKI/AAAAAAAABAw/004dIIOHQls/s72-c/knowing-God-retreat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3450897858397660815</id><published>2011-12-24T08:27:00.000-08:00</published><updated>2011-12-24T08:33:26.862-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kasih'/><title type='text'>Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #2</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XLoQzu1D1MM/TvX-xc9AmiI/AAAAAAAABAk/K90Jv8qQ7Ow/s1600/15199_2127d1227791417-christmas-wallpapers-christmas_download.hr.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-XLoQzu1D1MM/TvX-xc9AmiI/AAAAAAAABAk/K90Jv8qQ7Ow/s400/15199_2127d1227791417-christmas-wallpapers-christmas_download.hr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689733829791619618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Ia melakukan itu semua?  Mengapa ia rela turun kedunia mencari kita?  Bahkan demi menemukan kita, Ia rela mati tergantung di kayu Salib.  Mengapa?    Pernahkah saudara berpikir: mengapa sih gembala  itu rela mencari satu dombanya yang hilang itu?  Bukankah masih ada 99 ekor domba lain yang ia miliki.  Apa sih berharganya seekor domba?  Bukankah domba-domba yang lain bisa memberikan keturunan yang lain.  Apalagi domba bukan hewan yang terlalu mahal.  Ngapain sih repot-repot mencari domba yang hilang.  Syukur-syukur kalau ketemu?  Kalau tidak kan sia-sia?  Atau kalau karena mencari kita diserang binatang buas, kan repot.  Terlebih lagi, jangan-jangan kalau kita pergi mencari domba yang hilang, terus ada perampok datang mencuri 99 domba yang kita tinggalkan, kan malah bahaya.  Sekali lagi mungkin kita perlu bertanya: Mengapa ia rela mencari 1 domba yang sesat itu?  Bukankah domba itu sesat karena kenakalannya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya jelas:  karena setiap kita, saudara dan saya, begitu berharga di mata Tuhan.  Karena 1 domba itu begitu berharga di mata gembalanya.  Kalau tidak berharga tidak mungkin gembala itu mau mencari.  Analoginya seperti ini.  Seandainya suatu saat di malam hari ada seorang ibu dengan seorang anaknya perempuan yang sedang mengamat-ngamati sebuah kalung berlian yang baru dibeli oleh ibunya untuk pernikahan putrinya.  Ketika mereka melihat-lihat, tiba-tiba salah satu berlian itu terlepas dari kalungnya yang belum tersimpul dan jatuh kedalam kolong ranjang.  Ranjangnya bukan ranjang kayak sekarang yang besar-besar, kolongnya kecil.  Tapi ranjang jaman dulu dimana orang dewasapun dapat sembunyi di bahwa kolong itu.  Di dalam kolong ranjang itu kotor karena jarang dibersihkan.  Bukan hanya kotor tapi banyak koper, kardus, kertas-kertas, tai cicak, sarang laba-laba, dan barang-barang yang tidak dipakai seperti gudang mini di dalam kamar.  Kira-kira apakah mereka akan mencari berlian itu?  Atau mereka akan berkata “Yah, tidak apalah...Cuma 1 kan...”  Saya kira mereka akan mencari sampai ketemu.  Walaupun mereka harus merayap dikolong yang berdebu itu, melewati sarang laba-laba, berkotor-kotor ria, saya yakin mereka akan tetap mencari berlian itu sampai ketemu.  Mengapa?  Karena mereka sedang mencari sesuatu yang berharga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kira demikian juga yang dilakukan oleh gembala itu.  Bagi sang gembala 1 domba itu sangat berharga, sehingga ia harus menemukannya sampai dapat.  1 domba itu begitu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja.  Dan saya kira demikian inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan kepada kita manusia.  Bagi Tuhan, satu jiwa, termasuk setiap kita, begitu berharga.  Karena itu Ia mau datang kedunia, Ia rela mencari kita.  Bahkan demi mencari kita, Ia rela mati di atas kayu Salib.  Karena itulah Yesaya 43:4 mengatakan kepada kita “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.”  Yah, karena engkau dan saya berharga dimata-Nya, untuk itulah Ia datang mencari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang bapak... seorang papi," ujar guru tersebut. Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada. &lt;br /&gt;- "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" &lt;br /&gt;- "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." &lt;br /&gt;- "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." &lt;br /&gt;- "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. &lt;br /&gt;- "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!!! Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. &lt;br /&gt;Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat.  Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut.   Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.  Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, "Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung."   Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai tertawa mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung.  Eddy mulai ketakutan.   "Eddy," ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang... bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.  Ia rela masuk dunia yang kotor dan hina ini untuk mencari dan menemukan kita yang kotor untuk diangkatnya menjadi manusia baru.  Sekali lagi itu semua karena Ia mau menganggap kita sebagai seorang yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu betapa kita bersyukur karena hari ini engkau dan saya sebagai orang yang berharga dimata-Nya dapat berkumpul bersama-sama merayakan natal, merayakan hari dimana Tuhan datang ke dunia mencari kita.  Engkau dan saya begitu berharga.  Karena itu jangan ada seorangpun di tempat ini yang berkata bahwa dirinya tidak berharga.  Jangan pernah seorangpun yang menganggap bahwa hidupnya tidak berarti.  Tuhan sudah datang mencari kita, itu sudah menandakan bahwa kita adalah seorang yang berharga kepada-Nya.  Mari kita pun meresponi kasih Tuhan juga dengan senantiasa mencari Dia.  Cari Dia lewat firman-Nya.  Cari Dia dengan menaikan doa-doa kita.  Andalkan dan bergantung penuh kepada-Nya.  Percayalah, Tuhan yang sudah mencari kita dan menganggap kita begitu berharga.  Tuhan itu juga yang akan menolong kita.  Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3450897858397660815?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3450897858397660815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3450897858397660815&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3450897858397660815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3450897858397660815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/allah-mencari-manusia-lukas-151-7-2.html' title='Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XLoQzu1D1MM/TvX-xc9AmiI/AAAAAAAABAk/K90Jv8qQ7Ow/s72-c/15199_2127d1227791417-christmas-wallpapers-christmas_download.hr.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2973746238016097238</id><published>2011-12-24T08:17:00.000-08:00</published><updated>2011-12-24T08:27:07.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kasih'/><title type='text'>Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #1</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IGcs5FZUb8Y/TvX9Rw4VtsI/AAAAAAAABAY/vmr5VTYtU60/s1600/christmas-candles.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 315px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IGcs5FZUb8Y/TvX9Rw4VtsI/AAAAAAAABAY/vmr5VTYtU60/s400/christmas-candles.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689732185873299138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup manusia adalah sebuah pencarian.  Mengapa saya katakan demikian?  Oleh karena hidup ini tidak pernah lepas dari proses mencari dan mencari.  Dari sejak kita lahir kita sudah mencari makanan, susu, dan kasih sayang dari orang tua kita.  Beranjak menjadi anak-anak kitapun mencari teman-teman, hal-hal yang seru, hal-hal baru, permainan-permainan yang menarik dan sebagainya.  Memasukin fase-fase remaja kita mulai mencari seseorang sahabat yang  bisa menjadi tempat curhat kita.  Kita juga mencari sekolah dan tempat kuliah yang cocok dengan bakat kita.  Dan kitapun mulai mencari prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan.  Memasuki fase pemuda, jiwa petualangan kita lebih terasah lagi.  Kita mulai mencari pekerjaan yang cocok untuk mencukupi masa depan.  Mencari rekan kerja yang bisa bekerja sama.  Mencari hikmat dan pelajaran-pelajaran kehidupan yang berharga. Mencari popularitas.  Dan kita mulai mencari pasangan hidup yang sepadan, yang bisa menjadi pendamping sampai masa tua kita.  Banyak tenaga yang kita buang difase-fase ini untuk mencari yang kita inginkan.  Memasuki fase menjadi orang tua pencarian itu semakin meningkat.  Kita mulai mencari kedudukan di masyarakat.  Kita mulai memikirkan masa depan anak-anak kita.  Kita mencari pekerjaan yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Kita mencari susu dan makanan yang bergizi untuk anak-anak.  Mencari sekolah yang terbaik.  Mencari pakaian dan mencari kebahagiaan untuk anak kita.  Dan banyak lagi pencarian-pencarian di fase ini.  Dan memasuki fase lansia, ketika anak-anak kita sudah menghasilkan anak (cucu kita).  Ketika tubuh sudah mulai lemah.  Apakah kita berhenti mencari?  Tidak!  Masih ada pencarian-pencarian berikutnya.  Kita mencari tempat untuk pensiun.  Kita mencari dokter yang tepat untuk sakit penyakit kita.  Mencari vitamin dan obat-obatan yang paling efektif. Dsb.  Karena itu sekali lagi saya katakan bahwa hidup ini adalah sebuah pencarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pencarian tersebut, manusia sadar dimana suatu saat kita akan berhenti mencari.  Kapankah itu?  Yaitu pada saat kita tidak lagi hidup di dunia ini.  Pada saat ajal menjemput kita, pada saat tubuh kita terbujur kaku, pada saat itulah kita akan berhenti mencari.  Hal ini membuat orang merenung dan bertanya-tanya: apakah kita sungguh akan berhenti mencari? Apakah yang akan terjadi setelah kehidupan ini?  Akankah ada kehidupan yang kekal dan tidak sementara seperti didunia ini?  Dan pertanyaan yang paling penting:  Bagaimanakah saya bisa memperoleh kehidupan yang kekal itu?  Pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa hidup tidak hanya masalah fisik, melainkan juga masalah roh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena kesadaran seperti inilah maka manusia mulai mencari dan mencari hal-hal yang berbau spiritual dan gaib.  Manusia sadar bahwa keberadaan manusia sangat terbatas.  Kita disadarkan bahwa ada dunia lain, yaitu dunia roh,  yang jauh lebih berkuasa dari dunia yang bersifat materi ini.  Sebab itu manusia mulai tidakh hanya mencari segala sesuatu yang ada didunia, tetapi juga mencari hal-hal yang spiritual, yang  mistik dan gaib, yang berbicara kehidupan di masa yang akan datang.  Ada orang yang rela bertapa berbulan-bulan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup, dan mendapatkan hidup kekal.  Pernah ketika ada seorang bocah asal Jombang yang kita kenal bernama Ponari dikabarkan memiliki batu gaib yang bisa menyembuhkan apapun juga, berbondong-bondong ribuan orang datang mengantri di rumah Ponari.  Bahkan mereka rela antri didepan rumah itu sampai berhari-hari tidur di pinggir jalan.  Dan parahnya ada yang menanti di tempat pembuangan air di rumah Ponari, dengan harapan siapa tau air hasil pembuangan itu kalau di minum sakitnya bisa sembuh.   Ada juga orang yang mengikuti ilmu-ilmu gaib, yang meminta dia memakan hati manusia untuk mendapatkan hidup kekal.  Sehingga diam-diam, tiap malam ia mencari mangsa, membunuh sesama manusia dan memakan hati manusia itu mentah-mentah.  Agama-agama baru bermunculan.  Menawarkan program untuk mencapai kekekalan.  Ada yang menawarkan perbuatan baik, harus mengikuti ritual-ritual tertentu, ada yang menawarkan kebebasan melalui penyangkalan diri dsb.  Celakanya lagi ada orang yang menyembah semua dewa dan agama, supaya semua berkat-berkat dari dewa-dewa itu melimpah kepadanya.  Banyak orang mulai mencari jalan untuk menemukan kehidupan yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah mereka menemukannya?  Dapatkah mereka berjumpa dengan Tuhan?  Dapatkah mereka memperoleh hidup kekal itu?  Tidak!  Firman Tuhan mengatakan “.... Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6b).”   Paulus juga pernah berkata bahwa dengan usaha sendiri manusia tidak dapat memperoleh keselamatan.  Ini berarti tidak ada seorangpun yang dapat sampai kepada Allah dan mendapatkan hidup yang kekal bersama-sama dengan Allah.  Manusia terlalu terbatas dan terlalu hina untuk bisa mencapai tempat bersama-sama dengan Tuhan.  Usaha apakah yang dapat diperbuat manusia untuk dapat menemukan Tuhan?  Tidak ada!  Kisah tentang Babel dalam Kejadian 11 sudah menyatakannya kepada kita.  Ketika manusia berusaha mendirikan menara pencakar langit dengan tujuan mungkin agar bisa menggapai Tuhan yang ada di langit.  Tapi apa yang terjadi?  Alkitab mengatakan Tuhan sampai harus turun untuk melihat apa yang dibuat oleh manusia, karena terlalu kecil tak terlihat olah mata Tuhan.  Manusia berusaha mencapai langit, tapi bagi Tuhan usaha manusia terlalu kecil.  Manusia tidak bisa mencapai kekekalan dengan sendirinya.  Pencarian manusia akan kekekalan sia-sia jika ia mengandalkan kekuatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana caranya kita dapat menemukan jalan keselamatan itu?  Perikop kita hari ini memberitahukan sebuah kabar baik bagi kita semua.  Mengapa kabar baik?  Karena ketika kita tidak dapat mencari Tuhan dan kehidupan kekal itu, Tuhanlah yang mencari kita manusia berdosa.  Mencari untuk apa?  Untuk menghukumkah?  Tidak!  Ia mencari kita untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan domba yang hilang ini memberitahukannya kepada kita.   Orang berdosa diumpamakan seperti domba yang hilang tersebut.  Domba adalah seekor hewan yang penakut dan bodoh.  Ia tidak dapat hidup sendiri.  Harus bersama kumpulan domba lainnya.  Dikatakan hewan yang bodoh karena ketika ia tersesat ia tidak dapat pulang dengan sendirinya.  Biasanya domba kalau sudah tersesat dia akan duduk diam dengan kaki yang gemetar mengharapkan gembalanya bisa segera datang menemukan dia.  Tidak ada seekor dombapun yang dapat pulang kekandangnya dengan sendirinya.  Kalau begitu bagaimana caranya seekor domba dapat pulang kembali kekandangnya?  Satu-satunya cara agar domba itu dapat pulang ialah: sang gembala itu yang harus mencari si domba sesat.  Dan setelah menemukan biasanya sang gembala akan menggendongnya, sebab umumnya domba yang sesat masih ketakutan dan tidak dapat berjalan sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusiapun demikian.  Ketika kita terjatuh dalam dosa, kita menjadi orang yang terhilang.  Kita tidak dapat kembali menikmati persekutuan dengan Allah di Surga dengan sendirinya.  Dengan segala upaya dan usaha kita, kita tetap tidak dapat menemukan Surga.  Mengapa?  Karena manusia berdosa itu sama seperti domba yang bodoh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Tuhan datang mencari kita.  Ia meninggalkan semua takhtanya di Surga, rela menjadi manusia dan turun ke dunia untuk mencari kita, manusia-manusia yang tersesat.  Bahkan demi mencari manusia, Ia rela lahir di palungan yang hina, dan Ia rela untuk mati di Salib yang hina, mengorbankan nyawa-Nya sendiri untuk kita.  Itulah Tuhan kita.  Ia yang mengakhiri pencarian manusia tentang hidup kekal dengan mencari manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah video yang menarik. (man in hole: 3 menit)  Suatu saat ada seorang yang terjatuh dalam lubang yang dalam.  Ia bingung bagaimana caranya untuk keluar dari lubang yang dalam itu.  Lantas ada beberapa orang menawarkan jalan untuk keluar dari lubang itu.  Orang pertama mengatakan: bahwa ia harus menyucikan pikirannya dengan jalan bermeditasi.  Jika mencapai kesempurnaannya maka ia akan terbebas dari penderitaan.  Pemuda ini melakukannya, tapi kenyataanya, ia masih berada dalam lubang itu.  Kemudian datanglah orang yang kedua.  Orang kedua ini mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia harus dapat mengosongkan pikirannya.  Ketika pikiran kosong makan akan terlihat bahwa semua kesusahan itu hanya ilusi.  Namun itu bukan jalan keluar.  Pemuda itu masih berada dalam lubang yang gelap.  Kemudian datanglah orang ke-3 yang menjelaskan segala sesuatu tentang karma.  Dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan berinkarnasi setelah kematiannya.  Tentu saja itu tidak membebaskan pemuda itu dari lubang yang sama.  Lalu datanglah orang yang ke-4 yang menyuruhnya untuk berbuat baik dan berdoa 5 kali sehari.  Iapun menuruti semua perkataan itu, namun semuanya tidak membuat ia keluar dari lubang tersebut.  Sampai datanglah orang yang ke-5.  Orang ini berbeda dari yang lain.  Ia bertanya kepada pemuda itu: maukah engkau bebas?  Pemuda itu mengatakan ia mau.  Lalu apa yang dilakukan, ia turun kedalam lubang itu, ia menggendong dan memikul pemuda itu, dan kemudian pemuda itu selamat.  Itulah yang Yesus lakukan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak agama mengajarkan keselamatan dengan usaha manusia.  Dengan kekuatan sendiri.  Tapi mereka lupa bahwa manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya.  Kita sudah terpelosok dalam lubang dosa yang begitu dalam.  Manusia tidak bisa selamat dengan sendirinya.  Beberapa dewa lainnya lagi menuntut untuk senantiasa disembah dan dicari terus menerus.  Tetapi Tuhan kita berbeda! Dan hanya satu Tuhan, yaitu Tuhan yang benar, yang begitu mengasihi kita, Dialah satu-satunya yang mau turun ke dunia untuk menyelamatkan kita.  Karena itu kita patut bersyukur.  Kita memiliki Tuhan yang aktif dan berinisiatif mencari kita, sama seperti gembala yang mencari domba sesat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2973746238016097238?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2973746238016097238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2973746238016097238&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2973746238016097238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2973746238016097238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/allah-mencari-manusia-lukas-151-7-1.html' title='Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IGcs5FZUb8Y/TvX9Rw4VtsI/AAAAAAAABAY/vmr5VTYtU60/s72-c/christmas-candles.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-518377620803737550</id><published>2011-12-15T17:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T17:51:25.633-08:00</updated><title type='text'>TUHAN ITU SETIA (Ulangan 4:30-31)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8fJDEt3JXms/TuqkCOMrNII/AAAAAAAABAM/T61Rz2etK4Y/s1600/setia-nugraha-street-art-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8fJDEt3JXms/TuqkCOMrNII/AAAAAAAABAM/T61Rz2etK4Y/s400/setia-nugraha-street-art-1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686537837586625666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; line-height: 24px; "&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Tahun lalu negara kita, secara khusus di daerah Jawa mengalami bencana alam yang cukup mengerikan, yaitu bencana meletusnya gunung merapi.  Debu-debu beterbangan kemana-mana.  Banyak orang-orang mengungsi keluar desa.  Serta banyak kampung-kampung rusak hingga tidak lagi dapat ditinggali.  Banyak juga makhluk hidup yang mati karena debu vulkanik yang mematikan.  Surat kabar mengatakan “Indonesia Menangis”.  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Namun di tengah duka itu ada sebuah kisah yang indah.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Ada seorang yang terkenal sebagai penjaga atau pemegang kunci gunung merapi yang bernama “Mbah Marijan”.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Seorang penjaga gunung merapi ini merupakan jabatan yang tinggi, dimana hanya satu orang saja yang dipercayakan untuk menjabatnya oleh Sultan (semacam raja) dari kerajaan di Jogja.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Mereka percaya bahwa dalam gunung itu ada roh penjaga yang harus diberi sesajen atau disembahyangi.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Karena itu penjaga merapi yaitu mbah marijan inilah yang kemudian diutus dan dipercayakan untuk menyembah arwah digunung tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Suatu saat ketika gunung merapi sudah mulai berhenti mengeluarkan abu vulkaniknya, tim evakuasi mencari beberapa daerah gunung merapi untuk mencari korban yang masih bisa ditemukan.  Pada saat mereka mencari ditemukanlah sesosok mayat dalam posisi menyembah.  Dan ternyata mayat itu tidak lain adalah mayat dari mbah Marijan sendiri.  Semua orang terkejut dan bertanya-tanya “Mengapa mbah Marijan tidak mengungsi bersama penduduk lainnya?”  Ternyata selidik punya selidik, sudah banyak orang yang mengajaknya mengungsi; tapi ia sendiri yang tidak mau pergi oleh karena ia punya prinsip begini “Menjaga Merapi Sampai Ajal Menjemput”.  Ia sudah berjanji bahwa ia akan setia menjaga gunung merapi, karena itu ia tidak pergi kemana-mana.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Zaman sekarang jarang ditemukan seorang yang setia seperti mbah Marijan.  Kesetiaan itu mulai langka. Terbukti kalau kita melihat statistik perceraian di negeri kita, kita akan menemukan semakin lama angka perceraian semakin meningkat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;  November barusan saya diceritain tentang kisah nyata mengenai pasangan suami istri yang bahagia.  Suaminya merasa hidupnya paling bahagia didunia ini karena punya istri yang baik dan cantik.  Istrinyapun selalu tersenyum dan tampak bahagia.  Beberapa tahun mereka menikah mereka tidak pernah bertengkar sedikitpun.   Namun suatu ketika, saat suaminya pulang bekerja tiba-tiba ia tidak menemukan istrinya ada di rumah.  Awalnya ia mengira istrinya sedang keluar sebentar.  Tapi ternyata beberapa hari istrinya tidak kembali-kembali.  Sampai suatu saat setelah beberapa tahun sang istri menghilang, ternyata ketika ia menemukannya, istrinya sudah menikah dengan orang lain.  Sekali lagi dimanakah kesetiaan?  Kesetiaan sudah semakin langka.  Karena itu banyak orang memplesetkan kata SETIA sebagai singkatan dari SELINGKUH TIADA AKHIR.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Sekali lagi itulah keadaan saat ini.  Mencari pekerja yang setia....susah, mencari teman yang setia....jarang, mencari atasan yang setia....langka;  Kesetiaan tidak mudah untuk ditemui.  Manusia bisa sewaktu-waktu lupa diri dan menjadi tidak setia.  Namun kita patut bersyukur karena hari ini ada sebuah kebenaran yang ingin saya sampaikan, bahwa &lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;Kita Memiliki Tuhan Yang Setia&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Itu terlihat dari bacaan kita.  Di sini diceritakan bahwa Musa yang adalah pemimpin umat Israel waktu itu sedang memberikan ceramah dan khotbah kepada umat Israel.  Disini Musa sedang menegur keras umat Israel.  Mengapa?  Karena umat Israel seringkali tidak setia kepada Tuhan.  Hal ini terlihat ketika mereka berkali-kali menyembah dewa-dewa asing seperti patung lembu emas, dewa baal, dewi kesuburan, dsb.  Bagi Tuhan, menyembah berhala itu sama dengan berselingkuh dan tidak setia.  Karena itu Musa menegur keras umat Israel.  Musa meminta umat Israel untuk tetap setia dan tidak lagi menyakiti hati Tuhan.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Dengan menyakiti hati Tuhan sama saja umat Israel ingin berjalan tanpa bimbingan Tuhan.  Dan Musa tau bahwa umat Israel tidak bisa berjalan sendiri tanpa Tuhan.  Pernah ketika mereka menyembah berhala, berakibat kepada kekalahan dalam berperang.  Pernah juga ketika mereka melupakan Tuhan dan bersungut-sungut, akibatnya mereka mendapatkan bencana dan celaka.  Tapi sebaliknya, ketika mereka hidup bergantung dan dekat dengan Tuhan dan setia kepada Tuhan, mereka mendapatkan berkat yang luar biasa.  Pernah ketika mereka lapar Tuhan mengirimkan banyak burung puyuh untuk dimakan dengan percuma.  Berkali-kali Tuhan memberkati mereka ketika berperang dengan memberikan kemenangan.  Ini hanya beberapa contoh.  Ada banyak kisah lain yang menunjukkan bahwa berbeda sekali kehidupan Israel kalau mereka setia kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Karena itu Musa mengingatkan kepada umat Israel “Jangan pernah kalian tidak setia kepada Tuhan....Jangan kalian menyembah dewa-dewa yang lain.”  Tapi menariknya, tidak berhenti sampai disana, Musapun memberitahu sebuah kabar baik kepada umat Israel.  Ia mengatakan, “Apabila kamu ditimpa semua bencana itu dan kamu ada dalam kesukaran, maka kamu akan kembali kepada TUHAN Allahmu dan taat kepada-Nya. TUHAN Allahmu adalah Allah yang sangat berbelaskasihan. Ia tak akan meninggalkan atau membinasakan kamu, atau melupakan perjanjian yang dibuat-Nya sendiri dengan leluhurmu.”  Musa seakan ingin berkata “tapi jika sampai kalian terjatuh dan  menyesal karena dosa-dosa kalian, dan kalian mengalami masalah karena ketidak setiaan kalian, datanglah kepada Tuhan.  Tuhan tetap mengasihimu, dia tidak pernah meninggalkanmu, dan Tuhan tidak pernah melupakanmu.  Tuhan itu setia.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Memang Tuhan yang kita miliki adalah Tuhan yang setia.  Berkali-kali anak-anak Tuhan menyakiti hatinya, tapi ia tidak pernah meninggalkan.  Ia tetap mengasihi anak-anaknya.  Dalam perjanjian baru pernah terjadi ketika Yesus di salibkan, salah satu murid yang dikasihi-Nya yang bernama Petrus pernah menyangkal Yesus sampai tiga kali.  Sebagai seorang dekat tentu saja Yesus sedih dan sakit hati ketika disangkal murid-Nya sekaligus sahabat-Nya sendiri.  Siapa yang mau punya kawan seperti itu: saat senang dia nempel, saat susah dia menyangkal.  Saya kira Yesus sedih waktu itu.  Tapi apakah habis itu Yesus tidak lagi mau pedulikan Petrus?  Apakah Yesus membenci petrus?  Tidak!!  Sebaliknya setelah Ia di salib, dan ia bangkit dari kematian,  Yesus menghampiri Petrus yang sedang menangkap ikan, kemudian Yesus memberikan pengampunan kepada Petrus, dan menerima kembali Petrus untuk menjadi sahabatnya.  &lt;span class="Apple-style-span" &gt;Manusia boleh tidak setia, tapi Tuhan tidak akan pernah tidak setia.&lt;/span&gt;  Sekalipun kita anak-anaknya berkali-kali menyakiti hati Tuhan dengan berbuat dosa, tapi Tuhan tetap menerima kita.  Sekalipun anak-anak Tuhan berkali-kali melupakan Tuhan, Tuhan tidak pernah melupakan kita.  Tuhan kita setia terhadap kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Kalian tentu mengenal pak Habibie, mantan presiden Indonesia tahun 90-an.  Tahun lalu dia baru mengalami kedukaan karena istri yang dicintainya harus dipanggil Tuhan.  Tapi sbelum istrinya meninggal, ada banyak kisah manis dan indah yang ditorehkan oleh pak Habibie.  Ditengah dunia yang sudah kehilangan kesetiaan, beliau malah menunjukkan kesetiaannya.  Diceritakan waktu itu istrinya mengalami sakit yang cukup parah sampai-sampai dia harus terbaring dirumah sakit selama kurang lebih dua bulan.  Pak Habibie setiap hari selama dua bulan itu terus menemani istrinya.  Padahal rumah sakitnya dekat sekali dengan rumah kediaman pak habibie.  Namun tidak pernah sekalipun selama kurang lebih dua bulan  itu pak habibie pulang kerumah meninggalkan istrinya seorang diri.  Dia setia sekali menjaga istrinya.  Terlebih lagi parahnya istrinya ini mengalami sakit yang parah yang membuatnya lupa ingatan.  Sama sekali ia tidak lagi mengenal siapapun juga.  Bahkan setiap kali pah Habibie suaminya menghampirinya, ibu ainun seringkali bingung siapa dia.  Namun demikian pak habibie tetap setiap menjaganya setiap hari tanpa henti.  Sampai suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada dia “ Pak.... bapak setiap hari mengunjungi istri bapak ya...padahal istri bapak sudah tidak lagi mengenal siapa bapak...Bagaimana perasaan bapak ketika ibu ainun tidak lagi mengingat siapa bapak?”  Dengan tenang dan lembut pak habibie menjawab “Ya....memang istri saya tidak lagi mengenali saya....tapii..... saya masih mengenalinya kan?  Karena itu saya akan terus menjaganya sampai akhir hidupnya.”   Perkataan dan kisah dari pak habibie ini akhirnya menjadi berkat bagi banyak orang.  Semua surat kabar menuliskan hal ini di suratnya, dan semuanya mengangkat akan kesetiaan dari pak habibie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt; Saat ini saya ingin menyampaikan kepada bapak ibu sekalian bahwa Tuhan yang kita miliki jauh lebih setia daripada pak habibie terhadap istrinya.  Walaupun mungkin kita seringkali melupakan Tuhan, menyakiti hati Tuhan, menyimpang dari jalan-jalan kebenaran-Nya;  Walaupun kita seringkali menyakiti hati Tuhan dengan sering berbuat dosa, entah dalam pekerjaan, kebiasaan sehari-hari, dsb....Ingatlah....Tuhan masih ada bersama dengan kita... Dia tidak akan meninggalkan kita.   Dia setia menantikan kita terus kembali kepada-Nya.  Tangan-Nya selalu terbuka untuk kita.  Ia seperti seorang ayah dalam kisah yang hilang.  Walaupun berkali-kali anaknya menyakiti dan meninggalkan sang ayah, tapi sang ayah dengan hati yang penuh kasih terus menerima keadaan anaknya, bahkan dalam keadaan paling buruk sekalipun.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Kesetiaan itu jugalah yang kita rayakan saat ini.  Natal bukan hanya mengingatkan kita akan kelahiran Yesus.  Namun Natal mengingatkan kita bahwa kita punya Tuhan yang setia.  Tuhan yang dari sejak semula berjanji akan mengirimkan seorang pembebas bagi manusia dari perbudakan dosa.  Tuhan itu juga yang menepati janjinya dengan mengirimkan Yesus ke dalam dunia.  Karena itu ketika merayakan natal, mau tidak mau kita kembali diingatkan akan kesetiaan Tuhan terhadap kita manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Karena itu mari kita mensyukuri bahwa kita memiliki Tuhan yang setia.  Mensyukuri bukan hanya dengan ucapan, melainkan dengan menyatakan kesetiaan kita di hadapan Tuhan.  Kesetiaan dalam melayani, kesetiaan dalam kehidupan yang kudus dan menyenangkan Tuhan, serta kesetiaan d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;alam mengasihi Tuhan.&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-518377620803737550?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/518377620803737550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=518377620803737550&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/518377620803737550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/518377620803737550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/tuhan-itu-setia-ulangan-430-31.html' title='TUHAN ITU SETIA (Ulangan 4:30-31)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8fJDEt3JXms/TuqkCOMrNII/AAAAAAAABAM/T61Rz2etK4Y/s72-c/setia-nugraha-street-art-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3345157589362931713</id><published>2011-12-11T17:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T17:06:16.532-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penderitaan'/><title type='text'>Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #3</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0eysnUUxBMo/TuVTflxWswI/AAAAAAAABAA/nDdxUr9pxAg/s1600/hope.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0eysnUUxBMo/TuVTflxWswI/AAAAAAAABAA/nDdxUr9pxAg/s400/hope.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685041906805289730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt; Alhasil setelah ia meratap dan menangisi setiap beban pergumulannya di hadapan Tuhan, Daudpun dapat bangkit dari keterpurukannya.  Di tiga ayat terakhir (9-11) ia berkata “Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.  Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.”  Dengan yakin ia memerintahkan musuh-musuhnya untuk mundur.  Musuh-musuhnya akan mundur dan mendapat malu.  Saya kira setelah ia berdoa dan menangis di hadapan Tuhan, semua pergumulannya tidak serta merta lenyap.  Pergumulan itu masih ada.  Hanya saja keyakinannya berbisik, bahwa semua musuh-musuhnya akan mundur dari hadapannya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Mengapa ia begitu yakin?  Karena ia tahu bahwa Tuhan telah mendengar setiap tangisnya.  Tuhan memperhitungkan setiap air mata yang tertumpah.    Tuhan sudah menerima doanya.  Itulah hal yang sangat menguatkan batinnya.  Tangisan Daud telah di ubah menjadi kekuatan.  Air mata yang dikatakan orang sebagai tanda kelemahan, ternyata ditangan Tuhan dapat diolah menjadi kekuatan yang besar.  Air mata dukacita itu di hadapan Tuhan berubah menjadi mata air sukacita yang tidak pernah habis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Ada seorang pemuda yang pernah mengalami hal yang serupa dengan Daud, walau tidak sama persis.  Pemuda ini mengalami pergumulan yang berat dalam waktu yang berdekatan.  Dari persoalan keluarganya yang mendadak harus menghadapi berbagai penyakit yang tidak jelas, yang mengeluarkan banyak biaya.  Ditambah masalah pekerjaan yang mendadak membebani keluarganya.  Ditipu, utang tidak dibayar, kesalahan perhitungan, dsb.  Semakin diberati juga dengan relasinya yang retak dengan orang terdekat.  Orang yang selama ini menjadi partner hidupnya dan yang menjadi sumber inspirasinya, ternyata harus pergi meninggalkan dirinya.  Hal itu sangat memukul dan melukai batinnya.  Seakan belum cukup, iapun harus menghadapi pergumulan-pergumulan dalam dirinya sendiri yang dianggapnya sebagai duri dalam daging yang begitu menusuk dan melukai dirinya.  Sudah bertahun-tahun ia bergumul mengenai duri dalam dagingnya, namun duri itu terus menancap dan berakar dalam dirinya.   Dan tidak tahu kenapa, duri itu begitu kuat menusuknya waktu itu.  Semua ini sangat mengganggu jiwanya.  Karena tubi-tubi pergumulan itu, pemuda ini sering diteror oleh ketakutan yang tidak jelas, yang menyebabkan setiap malamnya terjaga.  Sebuah ketakutan yang irasional yang tidak dapat dipahami.  Dan ketika ia mau menghampiri Tuhan, ia merasa malu.  Ia merasa dirinya tidak layak untuk memohon pertolongan kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Namun suatu malam, karena beban yang dipikulnya terlalu berat, akhirnya ia menangis kencang.  Dalam tangisnya ia memberanikan diri berseru dan berteriak memanggil nama Tuhan.  Tidak banyak kata-kata yang diungkapkannya.   Dengan nada sayup dan bibir yang gemetar ia berseru “Tuhan.....Tuhan....Tuhan....tolong saya...tolong saya.....tolong saya” .  Sepanjang malam yang hening itu, berulangkali ia mengucapkan hal yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Tahukah saudara, Tuhan tidak tinggal diam.  Pada malam yang sepi dimana hanya ada Tuhan dan dirinya, Tuhan mendengar tangisan dan seruannya.  Tuhan memperhatikan air matanya.  Dan Tuhan mengubah malam yang penuh kekhawatiran itu menjadi malam yang penuh keyakinan.  Sehingga pada malam itu terciptalah syair lagu dari pemuda tersebut.  Lagu itu yang senantiasa memberikan kekuatan setiap kali ia menghadapi pergumulan.  Lagu itu berkata demikian:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;b&gt;HIDUPKU PADAMU&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Adakah ku layak hampiri dirimu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Hina dan dosa melingkupiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Namun anugerah-Mu layakan diriku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Menghampiri takhta-Mu yang kudus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Kini kusrahkan semua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Hidupku Pada-Mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Segala rencanaku, masa depanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Dalam daulat-Mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Dan Kuharapkan semua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Kekuatan dari-Mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Tuk jalani liku kehidupanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Ya Yesusku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Jika saudara menghadapi berbagai pergumulan saat ini yang begitu mencekam, menakutkan dan menghempas relung hati saudara, jangan pernah ragu untuk menghampiri Tuhan.  Hampiri Dia.  Berserulah memanggil namanya.  Menangislah jika engkau merasa bebanmu sudah terlalu berat.  Jangan pernah menjadi malu untuk menangis.  Kita tidak menangis dihadapan manusia, melainkan di hadapan Tuhan.  Tidak perlu banyak berkata-kata.  Biarkan air matamu yang berbicara banyak.  Tuhan mendengar seru doamu.  Tuhan yang mengasihimu, Tuhan juga yang akan mengubah air mata kesedihan itu menjadi mata air sukacita.  Mata air itulah yang akan memberikan kelegaan dan kekuatan kepada saudara.  Menangislah.....Ya.....Menangislah di hadapan Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3345157589362931713?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3345157589362931713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3345157589362931713&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3345157589362931713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3345157589362931713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/tangisan-yang-diubahkan-mazmur-6-3.html' title='Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0eysnUUxBMo/TuVTflxWswI/AAAAAAAABAA/nDdxUr9pxAg/s72-c/hope.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3703845316057318077</id><published>2011-12-11T17:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T17:03:15.051-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penderitaan'/><title type='text'>Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #2</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sONa9NbhoNA/TuVSyMciUsI/AAAAAAAAA_0/2x9cVz8bmrE/s1600/water-tears-puddles-cyber-highway-freelance-writer.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-sONa9NbhoNA/TuVSyMciUsI/AAAAAAAAA_0/2x9cVz8bmrE/s400/water-tears-puddles-cyber-highway-freelance-writer.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685041126912971458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Mari kita melihat kembali kepada tokoh kita Daud.  Ditengah pergumulan yang begitu mencekam bertubi-tubi menyergap hidupnya, ternyata Daud menangis.  Ya... Daud yang spektakuler dan Daud yang perkasa itu menangis.  Di ayat 7 ia mengatakan “Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.”  Perhatikan ungkapan ‘menggenangi tempat tidur’... ‘air mata membanjiri ranjang’, bagaimana mungkin itu terjadi?  Jelas saja air mata manusia tidak cukup untuk menggenangi dan membanjiri tempat tidurnya.  Di sini Daud memakai majas hiperbola, yaitu sebuah gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan.  Daud ingin menggambarkan akan betapa galau dan tertekan jiwanya saat itu.  Begitu mencekam hingga tangisan biasa sekalipun tidak dapat mewakili perasaan hatinya.   Oleh sebab itu ia memakai majas hiperbola untuk mengungkapkan betapa berat beban yang dipikulnya.  Ya... Daud sang pahlawan itu menangis.  Setiap hari ia menggenangi tempat tidurnya.  Ia membiarkan air matanya mengalir deras untuk mengeluarkan penderitaan dalam sukmanya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Namun Daud tidak menangis sendirian tanpa arah.  Ia memilih untuk menangis dihadapan Tuhan sang pejunan hidupnya.  Ia mengandalkan Tuhan untuk meluputkan sesak jiwanya.  Sejak awal ratapan ini ditujukan kepada Tuhan.  Ia memanggil nama ‘Tuhan’ (Yahwe) yang memegang perjanjian terhadap setiap umat Israel dan yang berkuasa.  Dalam 4 ayat pertama berturut-turut Daud berseru memanggil nama Tuhan:  ‘ya Tuhan’, ‘Kasihanilah aku Tuhan’,  ‘Tuhan, berapa lama lagi’, ‘Tuhan luputkanlah jiwaku’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Daud sadar bahwa ia punya Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya keluar dari segala permasalah itu.   Tuhan yang adalah pencipta dunia ini beserta seluruh isi alam semesta;  Tuhan juga yang ia yakini sebagai pencipta hidupnya, yang membentuk buah pinggangnya sejak ia berada dalam kandungan; Tuhan juga yang sudah melakukan banyak perkara-perkara besar bagi para pendahulunya; Tuhan itu juga yang ia yakini berkuasa untuk menolongnya dari setiap kesusahan.   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Bukan hanya menyadari bahwa Tuhan itu berkuasa, iapun sadar bahwa ia memiliki Tuhan yang senantiasa menyatakan kasih setia-Nya terhadap setiap anak-anak yang bergantung kepada-nya.  Dalam pemahamannya Tuhan itu dekat dengan orang yang remuk hati.  Ia tahu setiap isi hati umat-Nya.  Bukan hanya tahu, tapi Tuhan itu peduli terhadap kesesakan ‘kawanan-kawanan domba-Nya’.  Tuhan itu seperti Bapa yang penuh kasih terhadap anak-anak-Nya, yang disatu sisi membiarkan anak-anak-Nya menghadapi pergumulan-pergumulan hidup untuk mendewasakannya; tapi disisi lain Ia tidak akan membiarkan pergumulan itu membuat anak-anak-Nya terjatuh sampai tergeletak.  Karena itu dalam seruannya di ayat 5, ia berkata “Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.”  Daud menyatakan kebergantungannya kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Atas dasar pemahaman akan Allah yang berkuasa dan penuh kasih inilah Daud memberanikan diri menangis di hadapan Tuhan.  Daud rela menelanjangi dirinya di hadapan Bapanya.  Ia menyatakan betapa lemah dan tidak berdayanya ia.  Dia membiarkan dirinya menangis seperti seorang anak kecil untuk memperoleh belas kasihan sang Kahlik.  Ia tidak mau berpura-pura tegar menghadapi setiap pergumulannya.  Ia juga tidak mau melarikan diri dari realita permasalahan yang ada.  Sebaliknya ia lebih memilih untuk mengekspresikan jerit hatinya dengan menunjukkan tetesan air mata dihadapan Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;color:#0070C0"&gt;Manusia memang perlu menangis.  Menangis dapat melepaskan segala kepenatan dan beban yang kita pikul.  Namun tangisan yang tidak terarah akan berbahaya.  Ada orang yang setelah menangis malah melakukan tindakan-tindakan yang irasional.  Ada orang yang setelah lama menangis akhirnya menjadi depresi dan mengalami gangguan mental.  Bahkan ada orang yang setelah menangis akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di dunia.  Tangisan-tangisan demikian bukannya meringankan beban, namun setiap tetesan air mata itu kembali ‘terminum’ atau ‘terhisap’ dalam mulutnya dan kembali membebani jiwanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;color:#0070C0"&gt;Namun air mata yang ditujukan kepada Tuhan akan berbeda.  Menangis di hadapan Tuhan melambangkan bahwa kita adalah manusia lemah, dan kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan yang kuat.  Menangis di hadapan Tuhan merupakan sebuah sikap kerendahan hati yang menyatakan kebergantungan total akan pemeliharaan dan pimpinan Tuhan.  Dan Tuhan kita adalah Tuhan yang berkenan terhadap kerendahan hati.  Ia menyukai hati yang bersandar dan mengandalkan Dia.  Karena itu setiap tetes air mata yang tumpah di tangan sang Pejunan itu akan diubahkan–Nya menjadi kekuatan yang limpah.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Itulah sebabnya Daud suka meratap dan menangis di hadapan Tuhan.  Karena itulah sumber kekuatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3703845316057318077?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3703845316057318077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3703845316057318077&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3703845316057318077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3703845316057318077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/tangisan-yang-diubahkan-mazmur-6-2.html' title='Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-sONa9NbhoNA/TuVSyMciUsI/AAAAAAAAA_0/2x9cVz8bmrE/s72-c/water-tears-puddles-cyber-highway-freelance-writer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-6582656728889236769</id><published>2011-12-11T16:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T17:00:18.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penderitaan'/><title type='text'>Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #1</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-C10hx3g3wYg/TuVSFMztnpI/AAAAAAAAA_o/re5ZzC7kwNc/s1600/180901tears1.jpeg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 294px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-C10hx3g3wYg/TuVSFMztnpI/AAAAAAAAA_o/re5ZzC7kwNc/s400/180901tears1.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685040353916067474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;Air Mata&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Air mata telah jatuh membasahi bumi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Takka sanggup menghapus gelisah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyesalan yang kini ada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jadi tak berarti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Karena waktu yang bengis terus pergi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menangislah jika harus menangis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Karena kita semua manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dan manusia pun bisa mengambil hikmah&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Inilah sepenggal lyric  yang tercipta dari tangan seorang pujangga di Indonesia. ‘Menangislah jika harus menangis’ demikianlah katanya.  Mengapa harus berpura-pura tegar dan kuat, sementara jiwamu rapuh dan retak?  Mengapa kita harus terus tersenyum sementara sukmamu merana?  Mengapa kita harus tertawa jika sebenarnya kita harus menangis?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Awal Januari 2011 yang lalu, saya kehilangan seorang teman sekaligus rekan pelayanan.  Dia yang usianya masih tergolong muda, 24 tahun, harus menderita kanker ganas dalam tubuhnya.   Kanker itu menyerang buas sejak diketahui keberadaannya pertama kali di bulan Oktober 2010.  Dalam kurun waktu kurang lebih tiga bulan, akhirnya iapun berpangku di sisi Bapa.  Semua orang menangis. Sahabat-sahabat, rekan-rekan pelayanan, kerabat-kerabat, dan terutama keluarganya.  Orangtuanya tampak begitu terpukul, karena anak yang meninggal ini merupakan anak laki-laki satu-satunya yang mereka miliki.  Karena itu derai tangis, dan raung riakpun bergema ketika melepaskan kepergiannya.  Namun di tengah kepedihan dan suasana duka itu, datanglah salah satu kakak dari orang tuanya dan memarahi mereka.  “Sudah gak usah menangis, ngapain kamu menangis; Kamu cuma bikin anakmu tambah susah hati saja di Surga!”  Berkali-kali ia mengucapkan hal itu dan membentak keluarga yang sedang menangis.  Tapi percuma saja.  Kesedihan itu terlalu berat untuk dipikul.  Sehingga tangisan tetap bergaung sepanjang malam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Mengapa tidak menangis jika harus menangis?  Bukankah ada banyak orang yang berpikir seperti kakak dari orang tua teman saya tersebut?  Memang apa yang dilakukannya cukup ekstrim karena melarang orang menangisi kepergian anak sendiri.  Namun jujur saja, dalam kehidupan ini ada begitu banyak orang yang tidak menghargai arti sebuah air mata.  Air mata melambangkan kelemahan, katanya.  Air mata hanya untuk pecundang, ungkapnya.  Laki-laki tidak boleh menangis, titahnya.  Air mata sama dengan kekalahnya, pendapatnya.  Namun benarkah demikian?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Jika Daud, yang dikatakan sebagai ‘seorang yang berkenan’ di hadapan Tuhan, mendengar pengertian itu, ia tidak akan setuju.  Sebab Daud pernah merasakan hal yang sebaliknya: Bahwa di dalam setiap tangisan yang dilontarkannya, ia justru menemukan kekuatan dari Tuhan.  Tak heran dalam seluruh Kitab Mazmur kita akan menemukan ada begitu banyak mazmur yang berisikan ratapan,  di mana pemazmur berseru dan menangis di hadapan Tuhan.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Salah satu Mazmur ratapan yang dilontarkan oleh Daud terdapat di pasal 6 ini.  Dalam Mazmur ini sepertinya Daud sedang mengalami banyak pergumulan.  Tidak jelas apa yang menjadi permasalahan Daud pada waktu itu.  Para penafsir tidak ada yang sepakat mengenai latar belakang permasalahannya.  Namun yang jelas ia sedang mengalami pergumulan yang berat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Di ayat pertama Daud merasa seperti seorang hukuman.  Ia takut dihukum dan merasakan panas amarah Tuhan.  Tampaknya Daud sedang bergumul tentang dosa-dosanya.  Kalau kita melihat kehidupan Daud, memang di tengah keperkasaannya acapkali ia terjatuh.  Di satu sisi ia pernah mengalahkan Goliat dengan mata yang memandang kepada Tuhan.  Namun di sisi lain dengan mata yang sama ia memandang Batsyeba dengan penuh nafsu.  Di satu sisi ia begitu mencintai keadilan, tapi disisi lain ia pernah berlaku tidak adil terhadap Uria suami Batsyeba.  Di satu sisi ia dapat menjadi sosok yang rendah hati, namun di sisi lain ia dapat terjebak dengan keangkuhan diri.  Itulah Daud.  Manusia yang kuat, sekaligus lemah.  Dan dalam Mazmur ini ia sedang bergumul tentang dosa yang diperbuatnya.  Entah dosa apa yang diperbuatnya, yang pasti ia takut menerima murka dari Tuhan.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Di ayat kedua Daud mengungkapkan pergumulan berikutnya.  Ia mengatakan “Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,...”  Di sini Daud melanjutkan pergumulannya seakan ia sedang bergumul dengan sakit penyakit.   Begitu beratnya rasa sakit itu sehingga ia memohon belas kasihan Tuhan dengan sangat untuk menyembuhkannya.  Secara fisik ia berkata bahwa ‘tulang-tulangnya gemetar’.  Tulang yang menjadi penopang seluruh tubuhnya sudah berada diambang batas kekuatannya.  Daud merasa tubuhnya lemah tak berdaya.  Orang Timur Tengah waktu itu sering menghubungkan sakit penyakit sebagai hukuman Tuhan akibat dari dosa.  Karena itu Daud sangat terpukul.  Barangkali ia menganggap sakit penyakitnya ini berkaitan erat dengan dosa yang dilakukannya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Bukan hanya bergumul dengan dosa dan sakit penyakit, dari ayat 8 dan10 kita dapat melihat pergumulannya yang lain, di mana ia tertekan oleh musuh-musuhnya.  Tiga kali Daud mengatakan hal yang serupa: lawanku, pembuat kejahatan, musuhku, yang menunjukkan ia sedang menghadapi musuh di luar dirinya.  Dalam perjalanan kehidupan Daud waktu itu memang ada banyak musuh yang ingin membunuh dirinya. Dari pemimpinnya sendiri, rekan kerja, sahabat, bahkan Absalom anak kandungnya sendiri turut andil dalam bilangan orang yang ingin membunuhnya.  Berkali-kali Daud hidup sebagai pelarian menghindari teror yang dilemparkan musuh-musuhnya.  Rasa teror yang terus menerus terjadi sangat memungkinkan menekan jiwa seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Karena itulah Daud meratap dengan sangat.  Ia mengalami pergumulan yang begitu kompleks.  Pergumulan-pergumulan itu begitu buas merongrong dirinya baik secara fisikal maupun spiritual, baik internal maupun eksternal, baik kelihatan maupun yang tidak kelihatan.  Jiwanya tercabik-cabik oleh tubi-tubi persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu ia berseru kepada Tuhan: “Berapa lama lagi Tuhan?”    Sebuah seruan yang menyaratkan akan kekuatan yang sudah hampir habis, tumpuan kaki yang hampir terjatuh, dan asa yang hampir sirna.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;color:#0070C0"&gt;Pernahkah saudara mengalami pergumulan yang demikian?  Sebuah pergumulan,. . . . tidak!  Bukan sebuah, melainkan bertubi-tubi pergumulan yang melanda hidup saudara tanpa ampun?  Mungkin sakit penyakit sedang menyerang kehidupan kita dan orang yang kita kasihi tanpa permisi; dan penyakit itu menguras banyak biaya dan tenaga padahal kemungkinan untuk bertahan hidup hanya setipis kertas; Atau terlebih lagi mungkin kita baru kehilangan orang yang kita kasihi; Sementara itu entah tanpa sebab, pesaing bisnis  atau rekan kerja kita sendiri ternyata berusaha menjerat dan menjatuhkan usaha yang kita rintis dengan cara-cara  yang licik dan picik. Bahkan orang yang paling kita percaya sekalipun turut berupaya menjatuhkan kita;  Di lain pihak kita harus bergumul dengan masalah relasi dengan orang-orang di sekitar kita.  Suami yang tidak pernah mau mengerti perasaan kita.  Istri yang selalu membebani.  Anak-anak yang tidak pernah mendengar dan suka melawan.  Orang tua yang selalu menuntut.  Sahabat-sahabat yang tidak memahami kita,dsb;  Ditambah lagi ada pergumulan-pergumulan pribadi yang begitu membebani bagai duri dalam daging yang terus menggocoh hidup kita.  Bertahun-tahun lamanya kita bergumul dan berjuang untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu.  Namun bukannya semakin membaik, semakin kita berjuang duri itu nyata-nyata malah menancap lebih dalam lagi merobek dan melukai kehidupan kita; Dan ketika kita mau menghampiri Tuhan, kita merasa malu karena dosa-dosa yang sudah menjadi kebiasaan hidup kita sejak kita kecil, yang sudah menjerat dan begitu sukar untuk dilepaskan.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;color:#0070C0"&gt;Pernahkah saudara mengalami hal yang demikian?  Kumpulan pergumulan yang kompleks dan begitu menyesakkan kita.  Hati kita tersayat-sayat sepanjang hari.  Ia meneror malam kita dengan perasaan cemas.  Dan ia menyambut pagi kita dengan perasaan khawatir.  Perlahan tapi pasti ketakutan melingkupi seluruh jiwa dan perasaan kita.  Dan semua itu membuat kita lemah tak berdaya.  Jalan di hadapan kita tampak buntu, dan kegelapan begitu dekat dengan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:1.0cm;line-height:150%"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;color:#0070C0"&gt;Ditengah pergumulan yang bertubi-tubi seperti ini apa yang akan saudara lakukan?  Berusaha menghadapinya dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis itu?  Menyalahkan situasi dan orang-orang yang menyebabkan semua pergumulan itu?  Atau menarik diri dari kenyataan dan berusaha lari sejauh-jauhnya menghindari realita yang ada?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-6582656728889236769?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/6582656728889236769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=6582656728889236769&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6582656728889236769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6582656728889236769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/tangisan-yang-diubahkan-mazmur-6-1.html' title='Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-C10hx3g3wYg/TuVSFMztnpI/AAAAAAAAA_o/re5ZzC7kwNc/s72-c/180901tears1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-5478801153400862875</id><published>2011-12-05T06:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T17:12:34.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><title type='text'>The Best Gift (Matius 2) #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WS-yv_dzM5E/TtzceoLdj-I/AAAAAAAAA-s/-r5Ut381aVE/s1600/matthew-fang-2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WS-yv_dzM5E/TtzceoLdj-I/AAAAAAAAA-s/-r5Ut381aVE/s400/matthew-fang-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682659248574402530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua, Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang berasal dari hati.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Saya pernah membaca sebuah buku yang membandingkan antara raja Herodes dan orang-orang majus.  Buku itu menanyakan: Apakah persamaan dan perbedaan antara Herodes dan orang-orang Majus?  Persamaannya ialah mereka sama-sama hendak mencari Tuhan.  Ketika orang-orang Majus melihat bintang timur itu, ia pergi mencari raja yang baru lahir itu.  Tapi ternyata bukan cuma orang majus yang mencari Tuhan, Herodespun juga mencari Tuhan.  Ia menyuruh ahli-ahli Taurat itu untuk menyelidiki kitab suci, dan ia bekerja sama dengan orang majus untuk bersama-sama mencari Tuhan.  Sekali lagi, mereka sama-sama mencari Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi bedanya ialah:  Herodes mencari Tuhan karena dia ingin membunuhnya.  Ketika ia mendengar dari orang-orang Majus ini bahwa akan ada seorang raja yang akan lahir yang berkuasa, hatinya terganggu.  Ia sadar bahwa ia tidak memiliki anak saat itu yang baru lahir, dan pikirannya langsung mengatakan bahwa ada orang lain yang akan merebut kekuasaannya.  Karena itu ia mencari Yesus.  Namun ia mencari dengan motivasi yang salah, yaitu untuk membunuhnya. Sementara itu orang majus itu juga mencari Tuhan. Tapi untuk apa ia mencari Tuhan?  Di ayat 2 dituliskan orang-orang majus itu bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?  Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”  Ya, orang Majus itu datang dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk menyembah Tuhan yang akan datang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menceritakan cerita orang Majus ini sedang memberi sesuatu yang terbaik karena ia telah membawakan barang-barang yang terbaik yaitu emas, kemenyan, dan mur.  Memang harus diakui barang-barang ini bukan barang-barang murah, dan merupakan barang-barang pemberian terbaik pada waktu itu, yang biasa diberikan untuk seorang raja.  Tapi saya kira bukan hal itu yang dipandang Tuhan sebagai pemberian terbaik.  Pemberian terbaik dari orang majus itu ialah ketika ia mencari tuhan untuk menyembah Dia.  Itulah pemberian yang terbaik di mata Tuhan, yaitu pemberian dengan hati yang menyembah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang menyembah itu bukan sekedar seperti seorang bawahan yang wajib menyembah karena takut dihukum oleh atasannya.  Tapi hati yang menyembah disini lebih kepada sikap kagum, hormat, segan, takut, sekaligus sikap tunduk.  Bukan hanya itu, sikap menyembah di sini juga melambangkan betapa seseorang itu percaya, berserah dan taat kepada orang yang di sembah.  Kata menyembah (proskuneo) waktu itu adalah sikap menyembah di mana badan membungkuk, dahi sampai menyentuh tanah tepat di depan kaki orang yang disembahnya.  Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat lemah di mana orang yang menyembah tidak bisa melihat apa-apa, dan seakan ia berkata “silahkan kamu perlakukan saya seperti yang kamu mau.”  Jadi ketika ia menyembah seseorang, itu berarti ia berserah, ia pasrah, dan ia mempercayakan hidupnya untuk diatur oleh orang yang disembahnya.  Inilah yang dilakukan oleh orang majus itu, yaitu ketika ia mempersembahkan hatinya kepada Tuhan.  Dan inilah pemberian yang terbaik, yaitu pemberian dengan hati.  Tidak ada pemberian yang lebih baik daripada pemberian dari hati yang terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugerahi seorang anak, mereka begitu bahagia sekali.  Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit.  Lalu si dengan berat hati si dokter mengatakan bahwa ternyata anaknya mengalami kecacatan seumur hidup, yaitu cacat mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pasangan ini sangat sedih mendengar hal itu, tapi hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi rasa cintanya terhadap anaknya, walaupun anak itu cacat.  Terlihat dari sikap ayahnya tiap pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan dan memuji anaknya, karena baginya anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.  Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan.  Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi sekali lagi, meskipun demikian, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30 am. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang spesial buat papa.'  Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur.  Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong.  Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'.  Setelah itu, ia teringat bahwa biasanya mamanya membuat roti dengan telur.  Lalu ia berlari ke kulkas mengambil sebutir telur.  Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menaruhnya di atas roti bakar yang gosong itu.  Lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, 'Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati ia membawa semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, 'Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.' Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. 'Wah pasti enak nih.'&lt;br /&gt;Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, 'Enak kan pa?' 'Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….' Si ayah berkata, 'Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.' Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.'   Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata 'Ray, kamu tau nggak…'  'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, 'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' Lalu si ayah berkata lagi, 'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' Si anak sambil menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' 'Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.'  Mengapa masakan itu bisa spesial bagi papanya?  Itu jelas karena anaknya memberikan dengan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira bagi Tuhan juga demikian.  Ia menginginkan pemberian yang terbaik dari setiap kita anaknya, yaitu pemberian dari hati terdalam.  Kita bisa memberikan waktu kita untuk Tuhan, kita bisa memberikan tenaga kita dengan melayani berbagai banyak bidang, kita bisa memberikan harta kita melalui persembahan-persembahan syukur kita, tapi jika dalam setiap pemberian itu tidak diselipkan hati yang sungguh menyembah dan mengasihi Tuhan, maka semua pemberian itu sia-sia.  Tuhan menginginkan pemberian dari hati yang menyembah, yang didasari oleh rasa cinta yang tulus; yang diikuti dengan sikap berserah dan pasrah kepada kehendaknya.  Orang yang memberi segalanya belum tentu memberikannya dengan hati, tapi orang yang memberi dengan hati, ia akan melakukan segalanya.    Karena itu mari kita memberikan hati kita kepada Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-5478801153400862875?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/5478801153400862875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=5478801153400862875&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/5478801153400862875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/5478801153400862875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/best-gift-matius-2-2.html' title='The Best Gift (Matius 2) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WS-yv_dzM5E/TtzceoLdj-I/AAAAAAAAA-s/-r5Ut381aVE/s72-c/matthew-fang-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4631153950070197563</id><published>2011-12-05T06:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T06:29:10.947-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><title type='text'>The Best Gift (Matius 2) #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5EkQp2B0rqA/TtzVKbFDzII/AAAAAAAAA-g/mbGheeKoZXY/s1600/camels3wisemen.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5EkQp2B0rqA/TtzVKbFDzII/AAAAAAAAA-g/mbGheeKoZXY/s400/camels3wisemen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682651204879109250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi ada seorang gadis kecil yang menghampiri ayahnya yang sudah siap-siap pergi kekantor.  Gadis ini membawa sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada ayahnya.  Lalu gadis ini berkata “Pa, hadiah ini untuk papa.  Nanti bukanya dikantor saja ya.”  Papanya segera mencium anaknya dan pergi kekantor dengan bahagia.  Sesampai di kantor papanya langsung saja membuka kemasan kecil pemberian anaknya.  Tapi apa yang ia lihat, ternyata kado itu kosong tidak berisi.  Keesokan harinya gadis kecil ini kembali memberikan kado kecil dan memerintahkan hal yang sama dengan apa yang dibilang kemarin.  Tetapi sekali lagi ketika papanya membuka kado itu, ternyata kado itu kosong.  Demikian juga selanjutnya demikian berhari-hari sampai suatu saat, ketika gadis ini memberikan kado kecil itu kepada papanya, papanya berkata “Nak, sudah, tidak usah kasih kado lagi.  Buat apa kamu memberikan kado yang kosong kepada papa.  Papa tidak mau lagi menerima kado yang kosong.”  Tapi kemudian gadis ini menjawab “Kado itu tidak kosong pa, tapi tiap pagi saya mengisi kado itu dengan banyak ciuman.  Sehingga kalau papa merindukan saya, papa bisa membuka kado itu dan mengambil ciuman itu satu persatu.”  Papanya yang mendengar hal itu terharu, dan langsung memeluk anaknya dan berkata “Terimakasih ya nak”.  Dan setiap hari papanya membawa kotak kosong itu dengan sukacita.  Karena baginya itu adalah hadiah terbaik dari anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan pemberian yang baik dari anaknya.  Ayah mana yang tidak tersenyum mendapatkan pemberian yang tulus dari anaknya.  Memang seorang ayah yang normal akan selalu memberikan yang terbaik tanpa harap imbalan apa-apa dari anaknya.  Tetapi walau ia tidak mengharapkan imbalan, saya kira ia akan sangat bahagia jika ia menerima pemberian dari anak-anaknya. &lt;br /&gt;Saya kira demikian juga dengan Tuhan yang adalah Bapa kita.  Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu dirinya sendiri.  Ia rela mengorbankan nyawanya untuk kita, supaya kita mendapatkan yang terbaik.  Apakah Tuhan pernah menuntut imbalan dari itu semua?  Tidak!  Tetapi Tuhan akan sangat bahagia jika kita anak-anaknyapun mau memberi sesuatu yang terbaik untuk Tuhan.  Karena itu marilah kita sebagai anak-anak Tuhan belajar untuk memberikan sebuah persembahan yang terbaik untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya?  Hari ini bersama kita akan belajar dari kisah orang-orang majus yang begitu sering dikhotbahkan karena mereka  telah memberikan sesuatu yang baik bagi Tuhan.  Ada dua hal yang dapat kita pelajari tentang pemberian yang terbaik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama, pemberian yang terbaik adalah pemberian yang menuntut kerelaan untuk mengorbankan diri.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Saya kira setiap kita setuju bahwa sebuah pemberian dari seseorang akan semakin manis dan indah jika kita mengetahui beberapa jauh pengorbanan yang diberikan untuk sebuah pemberian itu.  Semakin banyak seorang berkorban untuk memberikan sesuatu, semakin kita tau pemberian itu sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Majus dalam perikop ini pun juga sudah memberikan sesuatu yang berharga karena pengorbanannya.  Kita tidak perlu menduga-duga ada berapa orang majus disana.  Ada yang mengatakan bahwa ada 3 orang majus berdasarkan persembahannya mas, kemenyan, dan mur.  Tapi saya kira tidak demikian.  Orang majus ini merupakan sebuah kelompok orang-orang bijak, yang bisa membaca tanda-tanda lewat bintang dan sebagainya.  Mereka adalah kumpulan orang-orang berhikmat yang saya kira pasti lebih dari tiga orang.   Kemungkinan mereka tinggal di sebuah istana di sebuah kerajaan di Persia, sebuah kerajaan di daerah timur tengah yang mungkin sekarang diduduki oleh iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika mereka mendapatkan penglihatan dalam sebuah bintang suatu tanda yang unik, yaitu sebuah bintang timur.  Jangan kira bintang timur ini hanya sekedar dongeng anak-anak yang membuat sebuah cerita menjadi lebih manis.  Tapi secara ilmiah terbukti bahwa bintang timur ini ternyata benar-benar pernah ada.  Peneliti menemukan bahwa bintang itu memang pernah ada pada bada ke4-5 M.  Bintang ini sebenarnya merupakan sebuah planet yang besar, dan bintang ini bergerak perlahan menuju tepat di atas yudea.   Bintang ini agak menyerupai komet yang muncul ribuan tahun sekali.  Dikatakan bahwa bintang timur ini merupakan sebuah kojungsi perjumpaan antara planet jupiter dan saturnus serta lambang pisces.    Bagi peramal zaman Yesus dulu semua ini memiliki arti.  Jupiter merupakan lambang kekuasaan terbesar dan penguasa dunia, mengingat planet jupiter merupakan planet terbesar.  Kemudian pisces yang dilambangkan dengan tanda ikan ini bagi mereka melambangkan akan sebuah kedudukan.  Dan Saturnus itu merupakan planet yang melambangkan palestina.  Karena itu ketika kojungsi jupiter bertemu dengan pisces dan saturnus itu berarti akan ada seorang penguasa yang besar dari palestina yang akan mengukir sebuah sejarah dan melakukan perubahan besar.  Inilah logika berpikir ahli perbintangan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira hal inilah yang mendorong para orang majus itu untuk mencari Yesus.  Mereka adalah orang persia.  Mereka tidak pernah mendengar sebelumnya bahwa ada seorang Mesias yang akan lahir di palestina.  Mereka tidak pernah mendapatkan nubuat-nubuat dari para nabi.  Orang-orang Majus ini hanya tau bahwa ada seorang raja yang akan lahir kedunia, yang akan berkuasa dan membawa perubahan melalui tanda sebuah bintang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi walaupun orang Majus ini tidak pernah mendengar nubuatan, mereka rela untuk pergi meninggalkan istana mereka untuk mencari Yesus yang mereka anggap sebagai raja.  Untuk mencari seorang yang mereka anggap raja ini tentu memerlukan pengorbanan.  Mereka harus meninggalkan daerah mereka Persia dan pergi ke Palestina.  Jarak dari negri persia ke Yerusalem kira-kira ratusan bahkan mungkin ribuan km.  Dan medan yang ditempuh cukup berat dengan melewati padang gurun dsb.  Saya kira membutuhkan perjalanan yang jauh, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan.  Saya kira selama berbulan-bulan itu juga mereka meninggalkan keluarga mereka.  Bukan hanya mengorbankan waktu, saya kira mereka harus mengorbankan banyak uang dan dana untuk perjalanan yang jauh itu.  Tapi mereka rela pergi mencari sang raja damai itu.  Mereka rela meninggalkan dan mengorbankan segala sesuatu agar mereka dapat berjumpa raja atas segala raja tersebut.  Karena mereka tau persis kepada siapa mereka harus bekorban, yaitu kepada raja segala raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kalau kita tahu betapa berharganya Tuhan yang kita sembah, kita akan rela bekorban banyak hal untuk mencarinya.  Memang kalau sesuatu itu berharga kita akan dengan mudah berkorban untuk mencari sesuatu itu bukan.  Saya teringat suatu malam mama saya masuk ke kamar saya membawa sebuah perhiasan yang begitu indah dari mutiara yang akan diberikan kepada calon istri koko saya waktu itu.  Mama saya menunjukkan kepada saya sambil menanyakan apakah perhiasan itu bagus untuk dikenakan.  Tapi ketika ia sedang  menunjukkannya, tiba-tiba ada satu mutiara yang kecil itu terjatuh dan masuk ke dalam kolong ranjang yang tersimpan banyak koper dan dus-dus.  Namun karena mengetahui bahwa mutiara itu berharga, saya dan mama saya rela mencari mutiara itu sampai masuk kekolong ranjang yang cukup kotor dan berantakan, merayap di tengah sesaknya kolong itu, membongkar barang-barang yang sudah berdebu, dan itu kami lakukan di malam hari.  Setelah bermenit-menit kami mencari, akhirnya kami menemukan mutiara itu, dan kami senang sekali walaupun kami harus menjadi kotor.  Karena untuk menemukan sesuatu yang berharga, memang dibutuhkan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang dilakukan oleh orang-orang  Majus itu.  Ketika mereka melihat ada seorang raja yang akan lahir, mereka rela meninggalkan segala sesuatu untuk mencari dan menemukan Yesus.   Karena mereka tau siapa yang mereka cari, Tuhan raja segala raja, yang begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saat ini banyak orang Kristen yang tidak memiliki kerelaan bekorban untuk mencari Tuhan.  Padahal Tuhan sudah menyatakan dirinya kepada kita melalui Kristus dan melalui Firman Tuhan.  Betapa mudahnya bagi kita untuk dapat mengenal dan mencari Tuhan.  Tetapi sekali lagi, banyak orang tidak mau bekorban untuk mencari Tuhan.  Ada orang yang kegereja tiap minggu saja tidak mau.  Kalau capek sedikit sudah malas pergi persekutuan. Kalau hujan sedikit sudah memutuskan untuk tidak ke gereja.  Ironinya, banyak orang rela lembur dikantor untuk mendapatkan penghasilan lebih,  tapi ketika meluangkan waktu bersekutu untuk mendapatkan berkat rohani malah tidak mau.  Mengantuk sedikit sudah tidak mau bersaat teduh.  Sedikitpun tidak ada kerelaan dan pengorbanan untuk mencari Tuhan. Orang Kristen seperti ini sebenarnya adalah orang Kristen yang tidak mengenal siapa Tuhan yang mereka sembah.  Mereka tidak tau betapa berharganya Tuhan yang kita layani dan percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengingat kembali bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu datang ke dunia untuk mencari kita.  Ia rela meninggalkan takhta kemuliaannya untuk mencari orang-orang berdosa yang begitu hina.  Bahkan untuk menemukan kita ia rela mengorbankan nyawanya sendiri di kayu salib.  Untuk mencari Tuhan, orang majus itu rela mengorbankan banyak hal, baik waktu, tenaga, dan harta.  Tapi untuk mencari manusia termasuk orang majus itu, Tuhan Yesus rela mengorbankan harga diri dan nyawanya sendiri di kayu salib.  Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan harga dirinya?   Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan nyawanya sendiri? Karena itu mari kita renungkan.  Seberapa gigih kita mencari dia?  Seberapa besar kerinduan kita untuk mengenal Dia?  Seberapa jauh hasrat kita untuk mencari  dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya?   Inilah hal pertama, sebuah pemberian yang terbaik yang dapat kita berikan kepada Tuhan, yaitu dengan mencari Dia walaupun itu menuntut kerelaan akan banyak hal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4631153950070197563?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4631153950070197563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4631153950070197563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4631153950070197563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4631153950070197563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/12/best-gift-matius-2-1.html' title='The Best Gift (Matius 2) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5EkQp2B0rqA/TtzVKbFDzII/AAAAAAAAA-g/mbGheeKoZXY/s72-c/camels3wisemen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7609534633709128561</id><published>2011-11-29T02:39:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T02:41:38.860-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-te0QA6MiNs4/TtS2z-c_seI/AAAAAAAAA-U/2YFNleHk0A0/s1600/11456196-david-versus-goliath-foreclosure-battle.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 315px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-te0QA6MiNs4/TtS2z-c_seI/AAAAAAAAA-U/2YFNleHk0A0/s400/11456196-david-versus-goliath-foreclosure-battle.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680366034075234786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun walau ‘raksasa’ itu tidak bisa kita hindari, respon untuk menghadapinya ada di tangan kita.  Kalau kita melihat dari kisah ini kembali kita melihat bahwa walaupun raksasa yang dihadapi oleh umat Israel sama dengan raksasa yang dihadapi oleh Daud, tapi respon mereka berbeda.  Pasukan Israel termasuk raja Saul memilih untuk menghadapi raksasa itu dengan berdiam diri.  Mereka membiarkan ketakutan menguasai hati dan pikiran mereka.  Bayangkan saja, kurang lebih selama 40 hari Goliat menentang umat Israel dan mengintimidasi mereka dengan perkataan-perkataan yang merendahkan.  Tetapi selama 40 hari itu juga umat Israel tidak bergeming, dan selama 40 hari itu juga umat Israel mengalami ketakutan.  Dimana pasukan Israel yang terkenal gagah perkasa, yang pernah mengalahkan bangsa-bangsa, dan yang ditakuti oleh bangsa-bangsa lain?  Dimana Saul yang merupakan raja Israel, yang ketika dipilih menjadi raja dikatakan bahwa dari bahu sampai kepala ia lebih tinggi daripada semua orang Israel; yang katanya sudah membunuh beribu-ribu orang?   Dimana kakak-kakak Daud yang terkenal gagah dan bertalenta itu?  Tidak ada!  Semuanya tidak bergerak.  Nyali mereka seakan lenyap.  Dan mereka membiarkan Goliat mengintimidasi mereka setiap hari, setiap malam, dan ketakutan itu mungkin sudah merasuki mimpi mereka setiap hari.  Mereka lupa bahwa mereka memiliki Tuhan yang jauh lebih perkasa dari pada Goliat.  Mata mereka hanya tertuju kepada masalah tersebut.  Mereka melihat masalah itu lalu mereka memandang pada diri sendiri.  Karena itu mereka tidak berani.  Karena mereka merasa bahwa diri mereka terlalu kecil untuk Goliat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi respon dari Daud berbeda.  Melihat ada tantangan dan raksasa yang mengintimidasi umat Israel, Daud tidak mau tinggal diam dan terus dibayang-bayangi oleh Goliat yang menakutkan itu.  Saya kira mata Daud memandang juga kepada raksasa itu, dan ia melihat juga ada masalah yang besar.  Dan saya kira iapun memandang pada dirinya, dan menemukan bahwa dirinya bukan siapa-siapa bagi Goliat.  Dari postur tubuh jelas-jelas bagai bumi dan langit.  Daud masih terlalu muda, sampai-sampai ketika dimasukin baju perang, baju perang itu menutupi seluruh tubuhnya.; dari perlengkapan perang jelas-jelas ia mendapati bahwa perlengkapannya kalah sakti dibanding senjata dan baju perang goliat,  dan dari pengalaman saya kira Daud masih terlalu hijau, sementara Goliat sudah sangat matang.  Ditambah lagi orang-orang sekitar yang meremehkan dia.  Kakaknya seakan berkata kepada dia “Buat apa kamu kemari, Aku tau kamu pasti punya niat busuk, gak usah sok jago deh”.  Bukan hanya kakaknya Eliab, tetapi Saul rajanyapun meremehkan dia dengan berkata “Kamu masih hijau dan muda, sedangkan dia waktu masih muda sudah berlatih keras.”  Daud pun diremehkan oleh rajanya sendiri.  Dan ketika ia berhapapan dengan Goliat, goliat pun mentertawakannya karena tubuhnya yang masih kecil dan usiannya yang masih muda.  Saya kira semua ini dapat menciutkan nyali Daud.  Mungkin ketika ia memandang Goliat, dan kemudian ia memandang dirinya sendiri, ia merasa seperti anjing chiwawa yang berhadapan dengan anjing rodweller.  Tidak ada apa-apa, dan dia bukan siapa-siapa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Daud tidak mau berhenti sampai disana.  Setelah ia memandang kepada raksasa itu dan memandang kepada dirinya sendiri, selanjutnya ia mengarahkan pandangannya kepada Tuhan yang perkasa.  Dan ketika ia memandang Tuhan yang perkasa, ia tahu bahwa jika ia BERSAMA DENGAN TUHAN IA PASTI BISA MENGHADAPI GOLIAT.  Karena itu dengan berani Daud berkata kepada Goliat “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu” (1 Sam 17:45).  Di akhir cerita kita tahu, sesuatu keajaiban terjadi.  Dengan sebuah batu yang diumban ia dapat merubuhkan Goliat yang perkasa itu.  Batu itu melesak kencang pas membenam di dahinya dan menewaskannya.  Bagi beberapa orang mungkin kemenangan itu cuma kebetulan, tapi tidak bagi Daud...bagi Daud itu karena jelas ada Tuhan yang ada bersama dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jika Tuhan ada bersama kita, adakah masalah yang terlalu besar untuk dihadapi?  Karena itu dalam perjanjian baru PauluS pernah mengatakan  “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)”.  Bersama Tuhan kita bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya saat ini banyak orang Kristen yang menghadapi permasalahan kehidupannya seperti Saul dan pasukan Israel.  Mereka melihat masalah yang besar itu, dan mereka memandang pada diri sendiri yang terbatas, tetapi mereka lupa memandang kepada Tuhan.  Akibatnya banyak orang yang ketakutan, khawatir, dan terlalu cemas menghadapi masalahnya.  Ada juga orang yang akhirnya terlalu berjerih lelah seorang diri mengandalkan kekuatan sendiri untuk mengalahkan masalah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman saya yang dulunya adalah seorang yang aktif dalam pelayanannya, namun kini jarang sekali datang beribadah.  Ketika saya ada kesempatan sharing-sharing sama dia, dia berkata demikian “Gak bisa Fong, saya baru berkeluarga, anak saya masih kecil; belum lagi saya baru merintis usaha saya; dan usaha yang baru saya rintis ini ada banyak sekali masalah; sekarang saya terjerat utang ini dan itu; saya harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan menyelesaikan utang-utang itu.  Mana mungkin saya sempat ke gereja lagi.”  Terus saya berkata kepada dia “Fren, bukannya kalau semakin kamu memiliki masalah dalam kehidupanmu semakin kamu harus mencari dan mengandalkan Tuhan?”  Tetapi dia menjawab “Ia sih, tapi saat ini setiap waktu begitu berharga untuk saya lewatkan.  Jika saya salah memakai waktu sebentar saja ke gereja, maka kehilangan 2 jam untuk pekerjaan saya. Karena itu saya ga bisa lagi sering-sering kegereja, apalagi melayani.  Fiuhh,....andaikan Tuhan menciptakan waktu lebih dari 24 jam.”  Sebagai teman yang baik saya berusaha untuk mengerti isi hatinya.  Tapi apa yang terjadi setelah percakapan itu? Kurang lebih satu tahun kemudian, usahanya bukan semakin membaik,  tetapi semakin berantakan, utang-utang semakin melilit, masalah keluarga juga semakin rumit.  Sampai benar-benar ia kehilangan daya untuk menyelesaikan masalahnya.  Tapi justru karena itu ia jadi mengingat akan Tuhan.  Ia mulai membaca Alkitab setiap hari, mulai rutin beribadah, bahkan ia sering bertanya kepada saya makna dari sebuah ayat.  Ia mulai menjalin relasi yang erat dengan Tuhan.   Kini ia sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak bisa menghadapinya.  Mengatasi masalah tanpa Tuhan hanya mendatangkan kekhawatiran, ketakutan, dan masalah yang lebih besar.  Tetapi bersama Tuhan ia merasakan bahwa perlahan demi perlahan, masalah-masalahnya mulai teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, kita memang membutuhkan Tuhan.  Kita membutuhkan Tuhan untuk menhadapi semua masalah kehidupan ini.  Mengandalkan kekuatan sendiri akan sangat terbatas.  Kaki kita terlalu lemah untuk menghadinya.  Dan tangan kita terlalu kecil untuk mengatasinya.  Kita membutuhkan kehadiran Bapa kita yang di Surga. Karena itu mari, jangan pernah berjalan seorang diri. Kita boleh punya masalah yang besar, tapi ingat kita punya Allah yang jauh lebih besar dari masalah kita, dan yang begitu mengasihi kita.  Berjalan sendiri kita tidak akan pernah mencapai garis finish.  Namun berjalanlah bersama dengan Tuhan, karena bersama Tuhan kita bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7609534633709128561?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7609534633709128561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7609534633709128561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7609534633709128561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7609534633709128561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/bersama-tuhan-pasti-bisa-1-samuel-17-3.html' title='Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-te0QA6MiNs4/TtS2z-c_seI/AAAAAAAAA-U/2YFNleHk0A0/s72-c/11456196-david-versus-goliath-foreclosure-battle.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8943756869605943113</id><published>2011-11-29T02:37:00.001-08:00</published><updated>2011-11-29T02:39:27.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZBjV2wgU0w0/TtS2RH7GsRI/AAAAAAAAA-I/pGLJYNr_INA/s1600/veikkaus-david-goliath-small-88744.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 281px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZBjV2wgU0w0/TtS2RH7GsRI/AAAAAAAAA-I/pGLJYNr_INA/s400/veikkaus-david-goliath-small-88744.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680365435322020114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang harus kita sadari ialah:  Menjadi anak-anak Tuhan bukan berarti kita terlepas dari segala persoalan kehidupan.  Banyak orang yang mau menjadi Kristen dan pergi ke gereja oleh karena mereka berpikir, jika ia menjadi anak Tuhan, maka hidupnya akan aman, sukses, kaya raya, dan tidak akan mendapatkan permasalahan dalam hidupnya.  Saya kira itu salah besar.  Kenyataannya, menjadi anak Tuhan juga tetap akan diperhadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terefleksi dari kehidupan umat Israel.  Dari awal umat Israel yang adalah umat pilihan Allah harus menghadapi banyak persoalan-persoalan.  Berawal dari perbudakan di Mesir yang begitu menyiksa.  Kemudian setelah mereka berhasil keluar dari perbudakan, mereka masih harus menghadapi tantangan berikutnya, yaitu menjalani kehidupan di padang gurun.  Menjalani hidup di padang gurun itu sangat sukar.  Bayangkan saja kebosanan, kekeringan, kekurangan pangan, cuaca terik, tidak ada kehidupan dsb.  Kalau bisa memilih dapat dipastikan bahwa tidak ada orang yang mau hidup di padang gurun.  Namun Tuhan menjanjikan bahwa suatu saat mereka akan memasuki tanah perjanjian, yaitu sebuah tempat yang istimewa, kaya akan susu dan madu.  Di tempat itu mereka tidak akan mengalami kegersangan, dan mereka tidak akan kehausan seperti waktu mereka di padang gurun.  Tetapi setelah 40 tahun mereka mengitari padang gurun, dan kemudian memasuki tanah perjanjian yang penuh dengan susu dan madu tersebut, apa yang terjadi?  Apakah ketika mereka sudah ditanah perjanjian hidup mereka lepas dari masalah?  Tidak!  Di tanah perjanjian pun mereka harus menghadapi banyak tantangan dan persoalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu musuh itu ada dalam perikop ini, yang begitu sering kita dengarkan sejak kecil.  Pada waktu itu, pada zaman raja Saul memimpin, salah satu musuh besar bangsa Israel adalah orang-orang Filistin.  Bertahun-tahun lamanya bangsa Filistin melakukan teror terhadap umat Israel.  Tapi dari sekian banyak pertempuran yang mereka lakukan, tidak pernah mereka menghadapi ketakutan yang besar seperti dalam perikop ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab mengatakan bahwa ada seorang raksasa, seorang pendekar, yang kita kenal bernama Goliat maju menantang duel pasukan Israel.  Sudah kebiasaan dalam peperangan di Timur Tengah waktu itu dimana peperangan bisa diwakilkan oleh jagoan terhebat masing-masing bangsa. Jagoan yang menang maka akan menjadi kemenangan bangsa.  Dari pihak Filistin majulah seorang pendekar menakutkan dan jago berperang yang bernama Goliat.  Alkitab menjelaskan bahwa ia seorang yang sangat besar.  Tingginya 6 hasta sejengkal.  Itu kurang lebih 3 meter (2 kali tinggi saya).  Bukan hanya besar, dikatakan sejak muda ia sudah berlatih militer.  Dapat dibayangkan betapa kuatnya dia dan betapa besarnya otot-otonya.  Terlebih lagi, ia memiliki perlengkapan senjata yang kuat dan tebal.  Baju jirahnya saja hampir mencapai 5000 syikal atau 90kg.  Senjatanya kurang lebih 50 kg.  Semua badannya tertutup dengan baju perang yang kokoh.  Coba bayangkan jika kita berhadapan dengan orang seperti ini.  Siapa berani menghadapi raksasa seperti demikian?  Menghadapinya sama saja cari mati.  Israel sedang menghadapi seorang perkasa yang besar.  Lebih tepatnya Israel sedang menghadapi masalah besar.  Alkitab mengatakan selama 40 hari Goliat maju untuk menantang mereka dengan perkataan-perkaataan yang menghina dan merendahkan.  Ia menghina barisan Israel, ia menghina bangsa Israel, terlebih ia menghina Allahnya Israel.  Selama 40 hari itu jugalah umat Israel sangat terintimidasi dan hidup dalam ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini sekali lagi mengingatkan kita, bahwa hidup sebagai anak-anak Tuhan tidak berarti kita dapat lepas dari segala persoalan-persoalan kehidupan.  Bukankah ada banyak “raksasa-raksasa” yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini?  Raksasa ini tidak tampak kasat mata dan tidak menggunakan pedang.  Raksasa itu bisa jadi orang-orang yang ada disekitar kita.  Orang ini begitu mengitimidasi kita dan membuat hidup kita menjadi tertekan.  Atau mungkin orang-orang itu adalah orang dekat kita, yang begitu kita khawatirkan.  Mungkin keadaan anak atau anggota keluarga yang membuat kita cemas. Raksasa itu bisa jadi berbicara tentang kegagalan-kegagalan dalam karir kita.  Atau dapat juga hadir dalam bentuk kesusahan-kesusahan ekonomi.  Iapun dapat menjelma lewat sakit-penyakit yang harus kita hadapi.  Dan raksasa itu bisa hadir lewat masalah-masalah pribadi dimana hanya kita yang tau. Ada banyak raksasa-raksasa dalam hidup kita.  Dan yang pasti semua raksasa tersebut begitu mengintimidasi kita.  Ia terus berteriak di tengah lembah kehidupan dan mencibir kita.  Ia memberi rasa takut ketika kita bangun dipagi hari.  Ia memberikan rasa cemas sebelum kita mengakhiri hari kita.  Dan sepanjang hari kita hidup dalam kekhawatiran.  Sekali lagi, raksasa itu akan ada terus berdampingan dalam hidup kita.  Dan kita tidak dapat menghindarinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8943756869605943113?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8943756869605943113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8943756869605943113&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8943756869605943113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8943756869605943113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/bersama-tuhan-pasti-bisa-1-samuel-17-2.html' title='Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZBjV2wgU0w0/TtS2RH7GsRI/AAAAAAAAA-I/pGLJYNr_INA/s72-c/veikkaus-david-goliath-small-88744.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2037827097215534862</id><published>2011-11-29T02:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T02:37:25.408-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-6WL_W0_hQ-g/TtS1o_BfPGI/AAAAAAAAA98/l-KR717liFA/s1600/7966-father-and-son.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6WL_W0_hQ-g/TtS1o_BfPGI/AAAAAAAAA98/l-KR717liFA/s400/7966-father-and-son.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680364745738108002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya masih kecil saya paling takut jika terjadi mati lampu di malam hari.  Karena mendadak suasana jadi panas dan saya tidak dapat melihat apa-apa karena itu saya menjadi ketakutan.  Saya kira rata-rata anak-anak takut akan hal yang sama.  Acapkali setiap  mati lampu saya meresponinya dengan berteriak dan menangis ketakutan.  Papa saya yang kamarnya persis di sebelah kamar biasanya selalu terbangun karena tangisan saya.  Dan saya ingat betul, biasanya dia dari sebelah sudah teriak “Dek....sudah jangan nangis...”  dan segera ia akan menghampiri kamar saya dan berkata “Sudah tenang ada papa”.  Kemudian biasanya papa saya akan membawa saya kekamarnya dan saya ditidurkan disampingnya, di antara papa dan mama saya.  Anehnya setiap kali saya tidur di dekatnya, perasaan takut itu lenyap.  Walau lampu di rumah belum juga menyala, saya tetap dapat tidur dengan nyenyak dalam ketenangan dan kedamaian.  Dari hal itu saya melihat ketenangan itu didapat bukan ketika semua berjalan dengan baik.  Namun ketenangan dan keamanan itu didapat ketika ada seorang yang sungguh-sungguh dapat dipercaya, yang jauh lebih kuat dari kita, dan yang mengasihi kita, ada bersama dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak, kitapun membutuhkan Tuhan yang adalah Bapa di Surga untuk menolong hidup kita.  Dunia ini adalah dunia yang dikuasai oleh kegelapan oleh karena dosa.  Sejak manusia jatuh dalam dosa, Firman Tuhan mengatakan bahwa Tanah menjadi terkutuk.  Dan manusia dikatakan akan mengalami kesakitan dan akan berjerih lelah.   Ditambah iblis yang adalah bapa dari segala kegelapan itu akan terus mencobai kita.  Oleh sebab itu hidup kita jadi penuh dengan persoalan dan permasalahan yang tidak pernah habis-habis.  Bencana-bencana yang menimpa;  krisis moneter yang mencekik dan merampas waktu kita; masalah keluarga yang semakin hari semakin kompleks; masalah ekonomi; masalah pendidikan dan karakter anak-anak atau cucu kita; belum lagi sakit penyakit yang tidak pernah berhenti berkembang dan menyerang seluruh manusia tanpa ampun; bahkan mungkin banyak juga masalah-masalah dalam diri kita yang begitu menusuk seperti duri dalam daging.  Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang menggerogoti dunia kita saat ini.  Tak heran kita sering menjadi takut, khawatir, cemas, tak berdaya menghadapi persoalan-persoalan.  &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, dalam kehidupan di dunia ini kitapun memerlukan seorang Bapa yang sungguh dapat dipercaya, yang jauh lebih kuat dan berkuasa dari kita, yang mengasihi kita, dan yang ada bersama dengan kita.  Keberadaan ayah didunia ini terbatas.  Mereka bisa menjadi lemah dan tua.  Dan mereka tidak selalu bisa ada bersama dengan kita.  Namun ada kabar baik untuk kita.  Bagi kita umat yang percaya, kita memiliki Tuhan yang kepadanya kita dapat memanggil Abba Bapa.  Kita punya Tuhan yang mengasihi kita.  Dan ketika kita berjalan bersama Tuhan, kita akan bisa menghadapi setiap permasalahan dan persoalan tersebut. Itulah tema yang ingin kita renungkan hari ini: “Bersama Tuhan Pasti Bisa”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2037827097215534862?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2037827097215534862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2037827097215534862&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2037827097215534862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2037827097215534862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/bersama-tuhan-pasti-bisa-1-samuel-17-1.html' title='Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6WL_W0_hQ-g/TtS1o_BfPGI/AAAAAAAAA98/l-KR717liFA/s72-c/7966-father-and-son.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7733670425511552178</id><published>2011-11-13T19:26:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T19:32:04.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>PENDENGAR FIRMAN SEMESTINYA (1 Raja 22)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CAqK8rt7Zd0/TsCLbbUKmUI/AAAAAAAAA9w/qb1WscNOlXk/s1600/hearing_difficulties.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 229px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CAqK8rt7Zd0/TsCLbbUKmUI/AAAAAAAAA9w/qb1WscNOlXk/s400/hearing_difficulties.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674688833791891778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan pernah mendatangi saya setelah selesai kebaktian minggu dan berkata demikian kepada saya: “Wah, khotbah hari ini bagus ya, lucu....kita jadi tidak mengantuk.  Semestinya hamba Tuhan kita harus berkhotbah seperti itu, sehingga kita semangat datang ke kebaktian.  Kalau khotbah itu jangan yang berisi teguran dan perintah-perintah saja.  Kita sudah banyak pergumulan, jangan lagi dituntut ini itu, ditegur ini itu, dsb.  Kita ingin disegarkan.”  Awalnya sebagai seorang yang berusaha menyelami pemikiran kawan saya ini, saya merasa perkataan ini ada benarnya.  Janganlah Firman Tuhan yang disampaikan malah menekan jemaat yang butuh penghiburan.  Tetapi setelah lama-lama direnungkan, saya kira tidak juga sepenuhnya tepat.  Mengapa demikian?  Karena Firman Tuhan yang kita meliki bukan hanya bersifat dan berisi sesuatu yang menghibur dan menguatkan saja, tetapi di dalam Firman Tuhan ini juga terdapat teguran-teguran, peringatan-peringatan, untuk mengoreksi dan mengintropeksi diri kita akan kesalahan yang kita perbuat.  Karena itulah Yakobus mengatakan bahwa Firman itu seperti cermin yang akan memberitahukan kepada kita akan kesalahan kita.  Itu juga sebabnya Paulus berkata kepada Timotius bahwa “Firman yang diilhamkan Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik seseorang dalam kebenaran”.   Dan untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, serta mendidik seseorang itu tentu saja tidak hanya dengan Firman yang lembut, tetapi diperlukan Firman yang keras untuk mendisiplin seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tertarik serta tertegur ketika merenungkan kejadian dalam 1Raja-raja 22 mengenai nabi Tuhan yang melawan nabi-nabi palsu.  Dikisahkan raja Yehuda Yosafat mendatangi Raja Israel yaitu Ahab untuk berdiplomasi urusan negara mereka.  Dan timbullah sebuah perencanaan untuk memerangi Ramot-Gilead, daerah yang berada didekat mereka.  Tetapi Yosafat (raja Yehuda) adalah seorang yang takut akan Tuhan (ay.43).  Berbeda dengan raja Ahab yang begitu jahat sampai-sampai Alkitab mengatakan tidak ada raja yang lebih jahat daripada Ahab.  Karena itu Yosafat meminta Ahab untuk menanyakan Firman Tuhan lewat nabi-nabi sebelum mereka bertindak.  Sudah kebiasaan dan cara Tuhan pada jaman itu bahwa Tuhan seringkali berfirman lewat para nabi, dan memang ada kelompok dan kumpulan para nabi pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas Ahab mengumpulkan 400 nabi-nabinya untuk menanyakan apakah mereka boleh pergi berperang melawan Ramot Gilead apa tidak.  400 nabi ini serempak dan sepakat berkata bahwa Tuhan berfirman kepada mereka bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Israel. Sungguh sebuah firman yang enak didengarkan. Kemenangan....Kesuksesan...Kejayaan... bukankah itu berita yang menyenangkan? &lt;br /&gt;Tapi 400 nabi-nabi itu sepertinya merupakan nabi-nabi yang dipilih oleh raja Ahab sendiri, yaitu nabi-nabi yang disukai karena suka menubuatkan yang baik-baik, yang sedap didengar, yang manis di hati.  Dan para nabi-nabi ini juga adalah nabi-nabi yang ingin mendapat jabatan yang baik di mata raja, karena itu mereka selalu mengatakan hal yang baik di hadapan raja, yang manis di dengar, dan yang menyukakan telinga raja....mungkin agar mereka mendapat posisi yang cukup baik di dalam istana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terlihat ketika raja Yosafat menanyakan kepada raja Ahab “Adakah nabi yang lain dari 400 orang ini”  Ahab dengan jujur mengatakan “Masih ada 1 lagi.... tapi saya membenci dia karena dia tidak pernah menubuatkan yang baik....Nama orang itu adalah Mikha.”   Jadi nabi Mikha tidak terhitung sebagai nabi pilihan raja, karena nubuatannya dianggap selalu tidak enak didengar.  Setelah Ahab mengatakan demikian, raja Yosafat tetap meminta untuk memanggil nabi Mikha.   Ketika utusan Ahab menjemput nabi Mikha, utusan itu mengatakan kepada Mikha demikian di ayat 13 “Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang terjadi setelah nabi Mikha datang ke dalam istana, ia menyampaikan suara Tuhan yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh 400 nabi tersebut.  Ia memberitakan berita hukuman atas semua kejahatan yang dilakukan oleh Ahab.  Dan oleh karena berita itu ia ditampar oleh nabi yang lain, dan iapun dikucilkan oleh raja Ahab.  Dari sini kita melihat jelas bahwa raja Ahab tidak suka mendengar Firman Tuhan yang tidak menyenangkan hatinya.  Dari sini kita juga dapat melihat bahwa mayoritas para nabi juga terjebak untuk menyampaikan berita Firman yang menyenangkan saja.  Mereka lupa bahwa firman Tuhan juga bersifat mengkoreksi hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironinya bukan hanya pada zaman itu, kalau kita perhatikan jaman sekarangpun masih banyak jemaat yang seperti Ahab seperti kawan saya tadi.  Mereka tidak menyukai Firman yang keras yang menegur mereka.  Mereka tidak suka Firman yang mengkoreksi mereka.  Tetapi mereka lebih suka Firman Tuhan yang menyukakan telinga, yang memberikan kabar suka selalu seperti berkat-berkat Tuhan, kesuksesan, kekayaan dsb.  Ironinya banyak juga pembawa Firman yang ingin menyenangkan telinga pendengarnya sehingga yang disampaikan selalu berupa firman-firman yang enak didengar, yang lembut, yang menghibur, tanpa teguran dan menuntut sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali melihat apa yang terjadi dengan Ahab.  Karena ia tidak mau mendengar suara firman Tuhan yang sudah memperingatkan dia berkali-kali.  Akibatnya ketika ia maju berperang, ia harus tewas terbunuh dalam peperangan itu.  Tuhan sudah mengingatkannya melalui nabi Mikha.  Sebenarnya Ahab punya kesempatan untuk bertobat akan kesalahan-kesalahannya ketika di tegur oleh nabi Mikha.  Tapi karena keengganannya mendengarkan Firman yang menegur itulah yang akhirnya membinasakan dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sesuatu yang nyaman itu menyenangkan.  Namun pada umumnya yang nyaman itu tidak baik untuk diri.  Makanan yang paling enak acapkali menjadi makanan yang paling berbahaya untuk tubuh kita bukan.  Demikian juga kisah raja Ahab ini harusnya menjadi peringatan bagi kita; agar tidak menuntut firman yang nyaman didengar, yang menyukakan telinga kita, yang membuat kita ketawa saja.  Namun kejarlah Firman yang sejati, yang dapat membentuk hidup kita, mengoreksi kekeliruan yang kita perbuat,  yang mengarahkan kita untuk serupa dengan  Kristus.   Jadilah orang Kristen yang memiliki mental tidak hanya menuntut dan mau menerima Firman Tuhan yang mudah dimengerti, tapi menuntut diri untuk mengerti firman yang susah dimengerti.  Karena mental seperti inilah yang akan membawa kita memiliki kehidupan yang lebih baik di mata Tuhan.  Memang dibutuhkan kerendahan hati untuk memiliki sikap ini.  Berdoalah setiap kali kita hendak mendengarkan Firman dan katakan kepada-Nya, sumber inspirasi, untuk menolong kita mengerti setiap Firman yang dibaca atau diberitakan.  Itulah bagaimana seorang Kristen sebagai pendengar Firman semestinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7733670425511552178?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7733670425511552178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7733670425511552178&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7733670425511552178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7733670425511552178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/pendengar-firman-semestinya-1-raja-22.html' title='PENDENGAR FIRMAN SEMESTINYA (1 Raja 22)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CAqK8rt7Zd0/TsCLbbUKmUI/AAAAAAAAA9w/qb1WscNOlXk/s72-c/hearing_difficulties.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4820966951117600839</id><published>2011-11-02T18:09:00.000-07:00</published><updated>2011-11-02T18:11:57.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ojgeKLXyEDk/TrHqF5fLx7I/AAAAAAAAA9k/kb6FIT9leFI/s1600/busy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 314px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ojgeKLXyEDk/TrHqF5fLx7I/AAAAAAAAA9k/kb6FIT9leFI/s400/busy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670570792888027058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perikop yang kita baca, Marta juga merupakan seorang yang terjebak dalam sebuah budaya yang begitu menyibukkan dirinya.  Pada waktu itu merupakan zaman patrialis dimana wanita dianggap sebagai masyarakat kelas dua.  Sudah merupakan tugas dan kewajiban wanita untuk melakukan pekerjaan rumah, bersih-bersih, menghidangkan makanan, melayani tamu yang datang, dsb.  Dalam perikop ini diceritakan Yesus sendiri yang datang mengunjungi rumah Marta dan Maria.  Ini bukan tamu biasa, melainkan Yesus sendiri.  Apalagi dalam perikop ini Yesus namanya sudah tersiar dimana-mana sebagai seorang nabi, seorang imam, seorang raja, dsb.  Yesus sudah terkenal karena begitu banyak mujizat dan penyembuhan yang dilakukannya.  Dan bagi orang Israel, seorang nabi yang berkuasa itu jauh lebih berharga daripada seorang raja.  Nah sekarang bayangkan bahwa Yesus yang begitu popular itu kemudian datang ke sebuah kampung kecil dimana Marta dan Maria tinggal.  Saya kira pasti seluruh kampung menjadi heboh, bahkan sampai kampung-kampung tetanggapun ikut menjadi heboh.  Dan ketika Yesus mampir kerumah marta, saya kira seluruh kampung juga datang kesekitar rumah itu untuk melihat sosok Yesus.  Beberapa petinggi kampung itu mungkin ikut masuk ke dalam rumah Marta.  &lt;br /&gt;Hal inilah yang kemudian membuat Marta kalang kibut dan sibuk mempersiapkan pelayanan yang terbaik untuk tamu-tamu agung.  Dia harus menyiapkan baki untuk mencuci kaki Yesus dan murid-murid-Nya; Ia harus menghidangkan makanan dan minuman untuk semua tamu yang hadir; ia harus membersihkan segala sesuatu; mencuci piring yang kotor untuk tamu-tamu berikutnya; dsb.  Ia terjebak dalam kesibukkan yang memang sudah semestinya pada budaya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang dilakukan Marta ini seharusnya mendapatkan respek dari banyak orang.  Ia sudah melakukan tugasnya dengan baik.  Dan saya membayangkan orang-orang yang hadir dirumahnya waktu itu juga memberikan respek itu akan kerja kerasnya.  Tapi berbeda dengan Yesus.  Yesus malah mengritisi kesibukan Marta.  Ini terlihat ketika Marta menjadi jengkel melihat adiknya Maria yang enak-enakkan duduk bersama para tamu mendengarkan perkataan Yesus.  Karena jengkel ia melaporkan kepada Yesus akan sikap Maria yang tidak mau bersibuk-sibuk membantunya.  Tapi bukannya menegur Maria, Yesus malah menegur Marta dengan mengatakan “Marta...marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,....tetapi hanya satu saja yang perlu....”  Dengan kata lain Yesus ingin berkata “Marta-marta...engkau terlalu banyak kuatir dan karena itu kamu menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan....tetapi bukan itu yang penting...hanya satu yang diperlukan....”  &lt;br /&gt;Seberapa banyak anak-anak Tuhan yang mengalami kekeliruan seperti yang dilakukan oleh Marta?  Mereka kuatir akan tuntutan zaman yang semakin hari semakin menggila.  Mereka kuatir jika mereka tidak lagi dapat bertahan hidup dalam dunia yang menjalankan hukum rimba dimana-dimana.  Dan karena itu banyak orang Kristen yang menyibukkan diri kedalam banyak hal untuk melenyapkan semua kekhawatiran tersebut.  Tapi pertanyaanya apakah kesibukkan itu sesuatu yang penting?  Atau jangan-jangan kesibukan yang kita anggap penting malah mengorbankan sesuatu yang jauh lebih penting dari itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menegur marta, karena kesibukan yang Marta lakukan itu ternyata harus mengorbankan sesuatu yang lebih penting, yaitu hubungan atau relasi dengan Yesus sendiri.  Marta sibuk melayani orang banyak, bahkan melalui itu mungkin ia mendapatkan decak kagum dari banyak orang.  Tapi ia melupakan sesuatu yang penting dimana Yesus datang ke rumah mereka untuk menjalin relasi dengan mereka.  Karena itu Yesus menegur Marta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Yesus malah memberikan pujian yang besar kepada Maria.  Mengapa?  Karena Maria berani mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang berharga.  Seperti yang saya katakan tadi, perempuan pada waktu itu adalah orang-orang kelas dua dalam pandangan masyarakat.   Ketika ada tamu yang datang mereka harus bekerja dibelakang / didapur, mempersiapkan makanan, membasuh kaki tamu-tamunya, membersihkan rumah, merapikan sandal dsb.  Bagi mereka tidak sopan jika ada perempuan yang ikut duduk bersama kumpulan laki-laki di ruang tamu.  Karena itu ketika Maria duduk mendengarkan perkataan-perkataan Tuhan, saya kira orang-orang disekelilingnya, bahkan mungkin termasuk murid-murid Yesus mencibir dia, karena dianggap tidak sopan, tidak bertanggung jawab,dsb.  Tetapi bagi Yesus berbeda.  Bagi Yesus Maria telah memilih bagian yang terbaik dan yang lebih penting dan lebih terutama daripada segala kesibukan Marta.  Memang untuk itulah tujuan awal kita diciptakan, yaitu agar kita memiliki relasi yang intim dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukkan memang dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan.  Karena acapkali jika kesibukkan kita berlebihan maka kita cenderung akan mengorbankan segala sesuatu termasuk hubungan pribadi dengan Tuhan.  Dan karena kesibukan itu juga api rohani kita dapat menjadi padam.  Saya ada seorang teman yang dulunya adalah seorang yang aktif dalam pelayanannya, namun kini jarang sekali menunjukkan batang hidungnya di gereja.  Paling seminggu sekali itupun kalau ia bisa.  Ketika saya ada kesempatan sharing-sharing sama dia, dia berkata demikian “Gak bisa Fong, saya baru berkeluarga, anak saya masih kecil....belum lagi saya baru merintis usaha saya.... dan usaha yang baru saya rintis ini ada banyak sekali masalah...sekarang saya terjerat utang ini dan itu...saya harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan menyelesaikan utang-utang itu.  Mana saya sempat ke gereja lagi.”  Terus saya berkata kepada dia “Fren, bukannya kalau semakin kamu memiliki masalah dalam kehidupanmu semakin kamu harus mencari dan mengandalkan Tuhan?”  Tetapi dia menjawab “Ia sih, tapi saat ini setiap waktu begitu berharga untuk saya lewatkan.  Jika saya salah memakai waktu sebentar saja, maka saya akan gagal memenuhi tanggung jawab saya. Karena itu saya ga bisa lagi sering-sering kegereja, apalagi melayani.  Fiuhh,....andaikan Tuhan menciptakan waktu lebih dari 24 jam.”  Tapi apa yang terjadi setelah itu? Setelah ia mengatakan itu, kurang lebih satu tahun kemudian, usahanya bukan semakin membaik,  tetapi semakin berantakan....masalah keluarga juga semakin banyak dan semakin berat.  Tapi justru karena itu kini semakin bergantung kepada Tuhan.  Ia mulai membaca Alkitab setiap hari, bahkan mulai kembali rajin mengikuti persekutuan dan kebaktian.  Iapun mulai menjalin relasi yang erat dengan Tuhan.   Ia sadar, bahwa kesibukkan bukannya memberi sukacita dalam kehidupannya, melainkan keberserahan dan kebergantungan kepada Tuhanlah yang membuat hidupnya damai sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak sadar ada banyak orang Kristen yang terjebak dengan permasalahan yang sama.  Mungkin bapak ibu saudara yang ada ditempat ini adalah salah satunya.  Kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan kita.  Kita terlalu sibuk meniti karir kita.  Dan kita terlalu sibuk dengan target-target kita.  Namun jika karena kesibukkan itu kita harus mengorbankan banyak hal yang berharga: entah itu relasi kita dengan keluarga, entah itu relasi dengan anak-anak kita, bahkan terlebih relasi kita dengan Tuhan.    Tanpa sadar kita mulai meng’allah’kan kesibukan tersebut.  Rasanya kalau satu hari tidak sibuk perasaan langsung menjadi resah dan galau.  Bahkan dalam dunia pelayananpun demikian.  Bisa saja seseorang terjebak dalam kesibukkan melayani, dan dimata orang ia tampak rohani, bahkan ia mendapatkan decak kagum banyak orang.  Namun ketika pelayanan itu harus mengorbankan relasi dengan Tuhan, sebenarnya pelayanan itu bukan lagi pelayanan yang berkenan dihadapan Tuhan.  Sekali lagi saya katakan bahwa kesibukan itu sendiri tidak salah sama sekali.  Namun jika kesibukkan itu harus mengorbankan sesuatu yang berharga, yang penting, dan yang lebih utama, maka kesibukkan itu dapat dianggap sebagai masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendengar kisah seorang istri yang menuntut cerai sang suami karena kesibukkan suami yang terlalu padat.  Sang suaminya marah, karena suami merasa dia melakukan kesibukkan itu semua juga untuk keluarga.  Tapi sang istri mengatakan “kalau karena kesibukkan itu kamu harus mengorbankan relasi dengan keluargamu, lebih baik kita cerai saja.  Saya tidak menginginkan semua uang dan barang-barang itu, saya cuma ingin hubungan keluarga yang sehat.”  Saya kira demikian pula Tuhan.  Ia merindukan akan adanya sebuah relasi yang intim.  Bukan sekedar kesibukan kita, bukan sekedar pelayanan kita, bukan sekedar uang kita; melainkan sebuah relasi.  Itulah yang berharga di mata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka dengan kisah seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. 'Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?' Tanya si tukang kayu.  'Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi 'to-tak, tok-tak'. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada.' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira demikian juga ketika kita ingin mendapatkan kehidupan yang berharga, kita harus belajar hening sejenak dari kesibukkan kita, meluangkan waktu bersama dengan Tuhan, menikmati relasi bersama dengan Tuhan, serta berserah kepada Tuhan untuk menolong hidup kita.  Sama seperti sebuah kalimat yang indah dalam sebuah sastra tetap membutuhkan beberapa tanda titik untuk mengakhiri setiap kalimat-demi kalimat; demikian juga kehidupan yang indah, yang seimbang, yang berharga, adalah kehidupan yang disertai waktu teduh dan intim bersama dengan Tuhan.  &lt;br /&gt;Karena itu mari kita mengalahkan kesibukkan itu dan bukan meng’allah’kannya.  Mari kita mengambil waktu hening sejenak bersama Tuhan setiap hari.  Karena melalui relasi kita tiap hari bersama Tuhan, maka kesibukkan-kesibukkan itu akan diarahkan kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Kesibukkan itu akan menjadi sungguh lebih bermakna.  Kalahkan kesibukan dengan mengisi kesibukan itu dengan sesuatu yang berharga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4820966951117600839?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4820966951117600839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4820966951117600839&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4820966951117600839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4820966951117600839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/mengalahkan-kesibukan-luk-1038-42-2.html' title='Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ojgeKLXyEDk/TrHqF5fLx7I/AAAAAAAAA9k/kb6FIT9leFI/s72-c/busy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4461187224386086906</id><published>2011-11-02T18:05:00.000-07:00</published><updated>2011-11-02T18:08:25.218-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-mvCUhyKGmfw/TrHpeF6c6_I/AAAAAAAAA9Y/PWlyzH17jcw/s1600/time-warp.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 392px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mvCUhyKGmfw/TrHpeF6c6_I/AAAAAAAAA9Y/PWlyzH17jcw/s400/time-warp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670570109028854770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia semakin hari dapat dikatakan semakin sibuk.  Apalagi jika kita adalah orang-orang yang tinggal di kota besar yang membutuhkan mobilitas yang tinggi maka kesibukkan itu akan lebih terasa.  Ada seorang pengusaha muda yang tinggal di kota metropolitan di Jakarta.  Ia masih berusia 30 tahun lebih dan baru saja berkeluarga.  Saat ini karir atau usahanya yang dirintis kurang lebih 4 tahun yang lalu mulai menanjak.  Istrinyapun baru saja melahirkan seorang buah hati yang sudah mereka nantikan.  Tentu saja semua ini membuatnya bahagia.  Sekilas berita ini tampak menggembirakan, tapi semua kabar gembira ini tentu saja menuntut waktu lebih untuk disita.  Dari pagi ia sudah harus bangun jam 5 pagi untuk sarapan dan bersih-bersih.  Pergi kekantor harus berangkat dari jam 6 karena perjalanan kota Jakarta yang begitu macet.  Sesampai dikantor ia harus mengerjakan semua dokumen-dokumen, data-data, pesanan pelanggan, serta mempersiapkan strategi-strategi , dsb.  Tidak ada waktu bersantai sedikitpun selama ia bekerja.  Bahkan waktu makan siang pun dipakai bersamaan dengan meeting untuk memanfaatkan waktu.  Ketika karyawannya pulang jam 5 sore, ia masih terus sibuk dengan pekerjaannya, sehingga hampir setiap hari ia dikantor sampai jam 6.  Sepulangnya dari kantor terkadang ia harus mengikuti seminar-seminar, dan menghadiri pertemuan-pertemuan dengan kolega bisnisnya.  Akhirnya ia pun biasa tiba di rumah pada pukul 10-11 malam.  Sampai di rumah bukannya langsung tidur, tetapi ia harus menyelesaikan pr-pr kantor yang harus diselesaikan.  Dan iapun mulai tidur pada pukul 12.30.  Keesokan harinya begitu lagi, bangun jam 5, dan semua kesibukan yang sama dilakukan sama seperti hari sebelumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya orang dewasa, anak-anak remaja pun juga semakin hari semakin sibuk.  Kebetulan saya memegang komisi remaja (anak-anak SMP) jadi saya sedikit banyak tau kondisi mereka.  Jika zaman saya remaja dulu kami pulang sekolah biasanya langsung pergi main sama temen-temen sampai sore, paling-paling les/khursus kami hanya 1 kali sampai 2 kali dalam satu minggu.  Tapi anak-anak remaja sekarang  sangat berbeda.  Hampir 50% anak-anak remaja setiap hari mengikuti khursus dari senin sampe sabtu.  Bahkan ada yang sampai hari minggu juga masih dipakai untuk khursus.  Itupun malamnya masih harus mengerjakan pr sekolah dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh diatas menunjukkan akan betapa sibuknya jaman yang kita hidupi sekarang ini.  Mengapa ini bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena semakin bertambah modernnya zaman yang kita tinggali ini, semakin besar juga tuntutan yang diberikan.  Karena itu karyawan-karyawan yang dicari saat ini adalah karyawan yang harus bisa menguasai segala bidang.  Bisa menggunakan komputer, bisa membuat laporan keuangan, bisa berbicara dengan fasih, punya penampilan yang menarik, bisa berbahasa inggris, ber-iq cukup baik, dsb.  Karena itu banyak orang-orang yang tidak cukup hanya mendapatkan gelar sarjana tetapi mereka juga harus mengikuti berbagai pelatihan untuk pengembangan skill mereka.  Anak-anak remajapun demikian.  Jika dulu cuma mempelajari 10 mata pelajaran, sekarang anak sd saja bisa mempelajari 14 mata pelajaran.  Dari kecil anak-anak sudah dicegokkin bahasa mandarin, bahasa inggris, aritmatika, komputer, teknologi ini, keahlian ini-itu, dsb.  Sekali lagi karena zaman semakin moderenlah yang menuntut kita harus serba bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, kitapun saat ini terperangkap dengan situasi yang serba instan.  Sekarang orang tidak hanya mencari sesuatu yang berkualitas, tapi juga lebih menekankan sesuatu yang cepat.  Karena itu rumah makan yang kita kenal sebagai fast food seperti mcd, kfc, a&amp;w dsb laris manis.  Apalagi di kota-kota besar.  Orang tidak suka sesuatu yang lama.  Kita dituntut untuk melakukan sesuatu dengan cepat.  Bahkan di Surabaya ada sebuah gereja yang memberi promosi dispanduknya besar-besar demikian: “Tuhan hadir disini, Gereja 1 jam saja”.  Dan gereja-gereja dengan promosi seperti ini laris manis.  Semua ini menunjukkan bahwa manusia suka sesuatu yang instan dan cepat.  Dan tuntutan-tuntutan untuk bergerak cepat ini jugalah yang membuat kita semakin sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya dari ini semua membuat kita terperangkap dalam sebuah kebudayaan yang membuat diri kita makin sibuk.  Dan karena kesibukan ini jugalah kita harus mengorbankan banyak hal, baik waktu, tenaga, relasi, dsb.  Sebenarnya menjadi sibuk itu tidak salah dan tidak menjadi masalah, bahkan itu jauh lebih baik daripada orang yang bermalas-malasan.  Namun ketika kesibukan itu harus mengorbankan sesuatu yang berharga maka itu menjadi masalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4461187224386086906?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4461187224386086906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4461187224386086906&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4461187224386086906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4461187224386086906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/11/mengalahkan-kesibukan-luk-1038-42-1.html' title='Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mvCUhyKGmfw/TrHpeF6c6_I/AAAAAAAAA9Y/PWlyzH17jcw/s72-c/time-warp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3090114451478542145</id><published>2011-10-25T16:46:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T17:10:41.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Bahagia Di Dekat-Nya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-F-LLkiXxrBQ/TqdP7X2WPUI/AAAAAAAAA9M/b7qpa7ukTt8/s1600/7966-father-and-son.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-F-LLkiXxrBQ/TqdP7X2WPUI/AAAAAAAAA9M/b7qpa7ukTt8/s400/7966-father-and-son.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667586537501900098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazmur 84:5 “Berbahagialah orang-orang yang diam dirumah-Mu, yang terus menerus memuji Engkau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling saya takuti ketika masih kecil adalah saat terjadi mati lampu di malam hari.  Acapkali saya meresponinya dengan tangisan ketakutan.  Ayah saya yang selalu terbangun karena keras tangisan itu biasanya akan segera menghampiri dan berkata “Tenang, ada papa”, lalu  saya akan digiringnya untuk tidur di sampingnya.  Anehnya setiap kali saya tidur di dekatnya, perasaan takut itu lenyap.  Walau lampu di rumah belum juga menyala, saya tetap dapat tidur dengan nyenyak dalam ketenangan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira dalam menjalani kehidupan ini kita juga memerlukan kehadiran Tuhan yang adalah Bapa kita.  Itulah yang diungkapkan oleh pemazmur.  Mazmur ini merupakan ungkapan yang dinaikkan pemazmur saat melakukan jiarah.  Dalam perjalannya ada suatu kerinduan yang sangat besar untuk berada dalam rumah Allah dan menikmati kehadiran-Nya (ay. 2, 3).  Dalam Perjanjian Lama, rumah Tuhan (bait Allah) merupakan tempat yang dipilih di mana Tuhan berkenan hadir.  Berada dalam hadirat Tuhan itulah yang menguatkannya dalam melakukan perjalanan jiarahnya (ay.6, 8).  Dan itulah memberikan kebahagiaan dalam dirinya (ay.5).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita?  Adakah kerinduan akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita?  Dalam ‘jiarah kehidupan’ di dunia ini, kita memerlukan kehadiran Tuhan.  Dengan tekun mencari hadirat Tuhan dalam saat teduh, ibadah, persekutuan, dan doa-doa pribadi, kita akan mendapatkan kekuatan dalam menapakkan setiap langkah kaki kita.  Kehadiran Tuhan itu jugalah yang akan berbuahkan kebahagiaan sama seperti yang di alami oleh pemazmur.  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebahagiaan dalam hidup didapatkan pada saat kita berada dalam hadirat Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3090114451478542145?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3090114451478542145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3090114451478542145&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3090114451478542145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3090114451478542145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/10/bahagia-di-dekat-nya.html' title='Bahagia Di Dekat-Nya'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-F-LLkiXxrBQ/TqdP7X2WPUI/AAAAAAAAA9M/b7qpa7ukTt8/s72-c/7966-father-and-son.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-6100489900553161473</id><published>2011-10-13T16:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T16:30:50.745-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Doa Yang Berkuasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-3k-WK3fjgto/Tpd0lY0ROSI/AAAAAAAAA9E/Ac1o1UCvq5g/s1600/the-power-of-prayer.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-3k-WK3fjgto/Tpd0lY0ROSI/AAAAAAAAA9E/Ac1o1UCvq5g/s400/the-power-of-prayer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663123242107353378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang doa, saya pernah mengalami pengalaman yang unik.  Sewaktu saya masih SMP saya bukan orang yang suka berada di gereja, dan tidak suka hal-hal berbau rohani seperti berdoa dan bersaat teduh.  Suatu malam pada saat saya sedang asyik telpon dengan teman saya di lantai dua (di ruko), tiba-tiba salah satu pegawai saya berlari ke atas sambil teriak-teriak “nyonya-nyonya, ada kerusuhan.”  Waktu itu papa saya sedang keluar, dan itu sekitar pukul 8 malam.  Ternyata kerusuhan berasal dari stadion sepakbola yang persis berada di belakang rumah saya.  Kerusuhan itu cukup parah sampai polisi harus menembakkan senapannya ke beberapa orang.  Saya sama mama saya segera turun kebawah dan bergegas menutup toko kamu.  Suara-suara pecahan kaca sudah mulai terdengar.  Keadaan semakin parah.  Tiba-tiba mama saya berkata “Celaka mobil kita masih di luar”.  Waktu itu mobil panther kami baru saja kami beli beberapa minggu.  Mama saya tampak panik dan kemudian berkata demikian “de, nanti kamu buka pintu kecil-kecil, mama keluar, trus kamu tutup lagi.  Ntar kalo kamu dengar bunyi mobil di stater, cepat buka pintu lebar-lebar kasih mama masuk.”  Saya sudah katakan “jangan ma, itu bahaya”.  Tapi mama saya bersikeras melakukan rencananya.  Akhirnya kami melakukan seperti apa yang mama saya mau.  Dia keluar, kami tutup lagi pintunya.  Dan ketika mendengar suara mesin mobil dijalankan saya dan pegawai saya langsung bergegas membuka pintu toko kami besar-besar.  Taukah apa yang terjadi ketika pintu kami buka lebar-lebar?  Para perusuh yang lagi ribut dijalan tiba-tiba semua melihat ke arah toko kami dan berteriak “woooii, ada toko buka woiii..serbuuu...”  dan merekapun mulai melemparkan batu-batu kedalam toko kami.  Serentak saja saya sama pegawai saya yang ketakutan langsung menutup toko kami.  Setelah kami tutup saya tersadar bahwa mama saya masih di luar di dalam mobil.  Hari itu kepanikan yang luar biasa melanda saya.  Sebagai seorang remaja saya sangat bingung akan apa yang harus saya lakukan.  Mau buka tokonya percuma, sama saja kita sekeluarga akan hancur, tapi kalau tidak dibuka bagaimana dengan mama saya.  Akhirnya saya benar-benar terpojok.  Badan bisa gemetar waktu itu.  Gak tau apa yang diperbuat, saya berlari ke atas loteng lantai dua untuk melihat bagaimana keadaan mama saya.  Ketika berlari itu tiba-tiba saya berinisiatif berteriak “Tuhan tolong...Tuhan tolong...” berkali-kali.  Sampai di atas saya terkejut karena mobil saya di luar sudah tidak ada.  Sayapun semakin lemas gak karuan, gak tau apa yang bisa kuperbuat, saya berlari lagi ke bawah sambil berteriak lagi “Tuhan tolong...Tuhan tolongg...”.  Sampai bawah saya terkejut ternyata mobil saya sudah masuk dalam rumah.  Mama saya keluar mobil marah-marah “anak macam apa kamu?  Mau mama mati ya?”  Saya yang masih tegang bertanya kepada mama: “ma, bagaimana mama bisa masuk?”  Terus mama saya yang masih emosi menjawab “Untung ada tetangga sebelah.  Ketika mereka mulai mendatangi mobil mama tiba-tiba orang-orang bugis dari gang sebelah pada keluar dan mereka menghalang-halangi masa dan berkata ‘ini teman saya, jangan kalian ganggu”  Setelah itu mobil bisa masuk toko dengan selamat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak pernah terbayangkan bagaimana mungkin Tuhan mau mendengarkan doa seorang anak remaja yang sebenarnya tidak suka berdoa.  Bagaimana jika seseorang yang dekat dengan Tuhan, yang menikmati doa, yang suka beribadah, dan ia berdoa?  Saya kira doanya akan jauh lebih berkuasa daripada doa saya waktu itu.  Itulah pengalaman saya mengenai doa.   Seiring berjalannya waktu, banyaknya pengalaman-pengalaman tentang doa dalam hidup ini semakin meyakinkan saya bahwa doa itu memang sangat berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa doa itu berkuasa.  Bukan hanya saya yang pernah mengalaminya, tapi ada jutaan orang Kristen di seluruh dunia ini yang pernah menyaksikan dan mengalami akan kuasa sebuah doa.  Bahkan saya yakin setiap kita yang ada di tempat ini pernah mengalami kuasa doa.  Karena itu Yakobus mengatakan “Doa orang benar, jika dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”  Sebenarnya kalau kita lihat dari bahasa aslinya, kalimat ini lebih cocok diterjemahkan demikian: “Doa orang benar itu sangat efektif dan berkuasa.”  Jadi perkataan bila dengan yakin didoakkan itu sebenarnya tidak ada.  Mari kita pelajari ayat ini baik-baik.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Acapkali banyak orang memenggal ayat ini menjadi demikian “Doa itu besar kuasanya”.  Memang benar doa itu besar kuasanya, tapi doa yang bagaimana?  Jangan lupa kalimat-kalimat yang ada diantaranya.  Diantara kalimat doa itu efektif dan yang berkuasa itu dituliskan “doa orang yang benar”.  Doa yang berkuasa itu bukan doa sembarang orang tapi doa orang yang benar.  Apa itu orang yang benar?  Kalau dilihat dari statusnya maka orang benar itu adalah orang-orang yang sudah dibenarkan Allah.  Orang benar adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi umatnya.  Dan orang benar itu adalah orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan sebagai juruselamat pribadinya, dan ia terhitung sebagai anak-anak Allah.  Jadi secara status kita semua yang ada ditempat ini terhitung sebagai orang-orang benar.  Itu kalau dilihat dari status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat dari kehidupannya, orang yang benar itu adalah orang yang hidup berjalan sesuai dengan kehendak Allah.  Logikanya begini: adakah sesuatu yang benar didunia ini?  Kita tidak tau.  Ada hal dimana bagi si A itu benar, tapi bagi si B itu salah.  Misalkan saja kejadian pemboman oleh teroris dari golongan-golongan tertentu.  Bagi mereka membunuh orang-orang di luar agama mereka itu sesuatu kebenaran, karena dengan itu mereka akan mendapat pahala.  Namun bagi kita jelas saja itu dosa besar.  Setiap kita memiliki prinsip-prinsip kebenaran tersendiri.  Karena itu jika ingin mengetahui yang benar secara pasti kita harus kembali melihat kepada apa sih yang Tuhan mau?  Sebab ia adalah sumber kebenaran itu sendiri.  Kitab Ibrani mengatakan, bahwa Tidak ada yang lebih benar dari pada Allah.  Dan oleh sebab itu itu orang yang benar adalah orang yang terus menerus mencari kehendak Tuhan dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.  Karena dengan mencari kehendak Tuhan, kita akan mengerti kebenaran yang sejati dari Tuhan, dan kita dapat menjadi orang benar.  Orang yang benar dalam hidupnya adalah orang yang hidup sejalan dengan kehendak Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa orang-orang seperti inilah yang memiliki kuasa yang besar, dan doa-doa orang seperti inilah yang akan sangat efektif.  Apa itu doa yang efektif? Yaitu doa yang tepat, yang memberikan hasil, yang sukses, yang sesuai dengan kebutuhan kita.  Kalau kita melihat orang-orang Kristen yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang berdoa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin Luther adalah seorang tokoh yang memulai berdirinya agama kristen protestan.  Awalnya perjuangannya untuk membela yang benar  waktunya sangat banyak terkuras.  Ia harus mengajar setiap hari dari pagi sampai siang.  Kemudian dia juga yang mengurusi administrasi gereja.  Ia juga masih harus menulis buku.  Belum lagi segala urusan yang bersangkut paut dengan pemerintah dan pemuka-pemuka gereja waktu itu.  Ditengah kesibukannya yang begitu padat, ia masih meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari selama 3 jam.  Ia berkata demikian: “Jikalau saya gagal untuk mengasingkan waktu selama dua jam di dalam doa setiap pagi hari, maka iblis mendapat kemenangan sepanjang hari itu.  Sekalipun saya mempunyai banyak sekali pekerjaan, namun  saya tidak memulainya tanpa mengasingkan waktu tiga jam setiap hari di dalam doa.”  Hasilnya dia menjadi orang yang berhasil membawa kebenaran dan mengenyahkan kesesatan dalam gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Livingstone seorang dr misi yang menginjili pertamakali ke benua Afrika juga meluangkan banyak waktu untuk berdoa, bahkan pada matinya ia ditemukan sedangn berlutut di ranjangnya.  Alhasil sampai saat ini banyak orang Afrika yang percaya kepada Tuhan.    Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh besar, seperti bapak Agustinus, Billy Graham, presiden Theodore Rosevelt, dsb....  Mereka adalah orang-orang yang suka mencari kehendak Tuhan, dan doa-doa mereka sangat berkuasa, hingga mereka menjadi orang yang berpengaruh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu jika saudara ingin memiliki doa yang berkuasa dan yang efektif, mari kita lihat hidup kita....sudahkah hidup kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan?  Sudahkah kita mengenal Tuhan dengan baik?  Dan sudahkah kita mengerti akan rencana Tuhan dalam hidup kita?  Kalau kita sungguh berada dalam kehendaknya, maka segala apa yang kita minta tentu adalah permintaan yang sesuai dengan kehendaknya.  Dan betapa berkuasanya permintaan itu jika itu sejalan dengan kehendak Tuhan.  Mari terus jadikan ini sebagai pergumulan kita, yaitu pergumulan untuk terus mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita, setiap hari, setiap jam, setiap saat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-6100489900553161473?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/6100489900553161473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=6100489900553161473&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6100489900553161473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6100489900553161473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/10/doa-yang-berkuasa.html' title='Doa Yang Berkuasa'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-3k-WK3fjgto/Tpd0lY0ROSI/AAAAAAAAA9E/Ac1o1UCvq5g/s72-c/the-power-of-prayer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7165697381949783983</id><published>2011-10-05T02:21:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T02:29:42.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Aku Kehilangan.... Hidupku berubah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-iZLjy6glCMI/TowjNJlfK0I/AAAAAAAAA84/4gHW9jSOBNY/s1600/images%2B%25285%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-iZLjy6glCMI/TowjNJlfK0I/AAAAAAAAA84/4gHW9jSOBNY/s400/images%2B%25285%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659937540516293442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(renungan untuk kedukaan)&lt;br /&gt;Kepergian seseorang yang dekat dengan diri kita biasanya akan membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan kita.  Entah itu perubahan perasaan, perubahan situasi, perubahan pekerjaan, perubahan pikiran, dan sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat sekali ketika saya masih kelas 6 SD, dan koko saya yang ke-4 masih 3 smp (sementara saudara saya yang lain sudah berada di luar kota).  Dan ketika saya masuk 1 smp, giliran koko saya yang ke-4 ia akan pergi ke surabaya untuk mendapatkan studi yang lebih baik.   Ditinggal pergi koko saya mengalami perubahan drastis.  Saya merasa kesepian; dulu saya lebih sering di rumah, tapi sekarang lebih sering bepergian mencari teman; tanggung jawab di rumah juga berbeda; tampaknya segala sesuatu menjadi berbeda.  Dan untuk itu diperlukan adaptasi-adaptasi yang baru.  Sekali lagi ini menunjukan bahwa setiap kepergian seseorang yang dekat dengan kita membawa banyak perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kira kepergian orang yang kita kasihi sedikit banyak juga memberikan perubahan bagi keluarga yang ditinggalkan.   Dan setiap perubahan itu membutuhkan adaptasi-adaptasi yang tidak mudah untuk dilakukan.  Dan mungkin saja dalam perubahan-perubahan itu terbawa juga kecemasan dan kekhawatiran-kekhawatiran tersendiri  tersendiri bagi pihak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mari kita melihat dari tokoh Yosua.  Dalam perikop yang baru kita baca ia juga mengalami hal yang sama dengan apa yang pernah kita alami.  Sejak keluar dari Mesir bangsa Israel terus berputar selama kurang lebih 40 tahun dipadang gurun.  Dan selama itu juga bangsa Israel dipimpin oleh seorang Musa, yaitu seorang pemimpin yang dipilih oleh Tuhan. Dampak kepemimpinan Musa sangat mempengaruhi kehidupan Israel.  Melalui Musalah mereka yang dulunya budak kini terhitung sebagai orang bebas.  Dan melalui Musa juga, bangsa Israel melihat banyak mujizat-mujizat Tuhan dan penyertaan Tuhan.  Melalui Musa juga bangsa Israel mengenal akan apa yang namanya hukum-hukum Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam perikop ini semua sudah berbeda.  Musa  yang spektakuler itu sudah dipanggil Tuhan.  Dan Israel kehilangan pimpinan terbesar mereka.  Tetapi walau Musa meninggal, kehidupan Israel harus terus berjalan.  Mereka harus ada pemimpin yang menggantikannya.  Karena itu Yosua diminta untuk menggantikannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muda dan sebagai pemimpin yang baru tentu semua orang meragukannya.  Mungkin mereka bertanya: “apakah sungguh seorang Yosua dapat memimpin umat Israel yang begitu besar?”  Apakah sungguh seorang Yosua bisa menyamai kepemimpinan Musa?” dsb.  Oleh sebab itulah Yosua menjadi takut.  Bagi Yosua kematian   Musa membawa banyak perubahan dalam kehidupannya.  Selain kematian itu masih menyisakan duka bagi umat Israel, kematian Musa membawa situasi yang berbeda.  Apalagi mereka tidak lagi hidup di padang gurun, sebentar lagi mereka akan memasuki tanah kanaan, yaitu tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan.  Tempat yang sama sekali baru.  Orang-orang yang dulu diandalkan pun kini sudah tua dan harus diregenerasi.  Segala sesuatu berubah.  Dan Yosua sebagai pemimpin baru paling merasakan segala perubahan tersebut.  Saya kira Yosua khawatir dengan apakah ia bisa melanjutkan kehidupannya?  Mungkin ia bertanya-tanya bagaimana dengan masa depannya?  Apakah ia bisa menghadapi musuh-musuhnya?  Dan mungkin dia takut apakah ia dapat menghadapi semua perubahan yang ada?.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ditengah kekhawatirannya akan semua perubahan yang terjadi, Tuhan datang berfirman kepada Yosua.  Pertama Tuhan memberikan janji bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Yosua.  Musuh-musuh yang dihadapi dalam kehidupan dalam kehidupan Yosua tidak perlu ditakutkan karena Tuhan akan memberikan kemenangan.  Walaupun musuh dan masalah itu tampak besar dihadapan mereka, tetapi mereka punya Tuhan yang lebih besar.  Dan Tuhan yang jauh lebih besar itu sudah berjanji akan memberikan kemenangan kepada Yosua.  Tentu janji ini sangat menghibur Yosua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya memberikan kemenangan, di ayat 5 Tuhan juga berjanji bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai.  Tuhan tidak akan membiarkan dan meninggalkan Yosua.  Tuhan ada bersama dengan Yosua.  Bahkan hal ini di ulang berkali-kali sebagai penegasan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Yosua.  Tuhan akan senantiasa menyertai Yosua.  Jika ada Tuhan yang beserta siapa lagi yang harus kita takutkan?  Atas dasar inilah Tuhan berkali-kali berkata kepada Yosua: Yosua, jangan kamu gentar, jangan kamu takut.  Kuatkan dan teguhkah hatimu, karena Aku ada bersama-sama dengan engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira Firman ini bukan hanya ditujukan kepada Yosua pada saat itu.  Tapi juga ditunjukan kepada setiap kita yang mengalami kehilangan.  Ditengah segala perubahan yang terjadi sejak ditinggalkan kita orang yang kasihi tentunya terjadi beberapa perubahan dalam kehidupan kita.  Tapi sebagaimana Tuhan pernah berkata kepada Yosua: Jangan takut, aku akan menyertai engkau, dan aku tidak akan membiarkan engkau.  Demikian juga Tuhan yang sama mau berkata kepada setiap kita yang ada disini: Jangan takut, aku akan menyertai engkau, dan aku tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang lebih berharga dibandingkan dengan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita?  Saya suka sekali sebuah pepatah demikian:  Lebih baik berjalan di tempat yagn gelap gulita namun bersama-sama dengan Tuhan, daripada berjalan dalam terang gemilang namun tanpa Tuhan.  Sungguh benar.  Apa gunanya hidup dalam kelimpahan, tapi tidak ada Tuhan disisi kita.   Sebaliknya walaupun jalan hidup kita tampak gelap, tetapi jika Tuhan ada bersama dengan kita, makan sesungguhnya kita hidup dalam terang itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kebiasaan unik yang dilakukan oleh suku di Indian untuk mendewasakan anak laki-laki mereka yang masih remaja.  Anak remaja itu, harus di bawa ke dalam sebuah hutan rimba yang liar semalaman.  Ia di bawa oleh orang lain yang bukan keluarganya, dan matanya ditutup kain, sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa.  Dan ketika hari menjelang malam, barulah kain matanya di lepas, dan orang yang membawanya pergi meninggalkannya.  Anak tersebut tidak boleh menangis / berteriak.  Jika ia menangis / berteriak maka ia gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ada seorang anak yang sedang dalam proses pendewasaan itu.  ia dituntun sampai di hutan, dan tutup matanya di buka menjelang malam.  Hari semakin gelap, udara semakin dingin, nyamuk semakin ganas menggigit.  Bukan hanya itu, auman serigala mulai terdengar, dan banyak hewan-hewan buas mulai mencari mangsanya.  Anak inipun begitu ketakutan, tapi ia tahu, jika ia menangis /  menjerit maka ia gagal.  Akhirnya ia hanya merem menantikan hari esok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari esok pun tiba.  Matahari mulai terbit, dan ia merasa senang sekali karena ia bisa melewati ujian tersebut.  Namun ketika hari semakin terang, ia sangat terkejut karena melihat banyak bercak-bercak darah di sekitarnya.  Dan lebih terkejut lagi, banyak hewan-hewan buas disekitarnya yang sudah mati.  Ketika ia melihat ke belakang, barulah ia sadari, bahwa sang ayah yang tegap perkasa sedang berdiri di belakangnya dengan membawa panahnya.  Ternyata sang ayah hadir bersama-sama dengan anaknya semalaman tanpa terlelap untuk menjaga dan melindungi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara demikian juga dengan Tuhan kita.  Ia sudah berjanji akan menyertai kehidupan setiap anak-anaknya.  Mari kita belajar untuk senantiasa percaya dan taat akan apa yang dijanjikannya.  Dan mari kita semakin hari semakin bersandar serta menyertakan dia dalam hidup kita.  Jangan pernah takut dan jangan pernah khawatir, sebab Tuhan menyertai kita dan ia tidak akan meninggalkan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7165697381949783983?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7165697381949783983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7165697381949783983&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7165697381949783983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7165697381949783983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/10/aku-kehilangan-hidupku-berubah.html' title='Aku Kehilangan.... Hidupku berubah...'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-iZLjy6glCMI/TowjNJlfK0I/AAAAAAAAA84/4gHW9jSOBNY/s72-c/images%2B%25285%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4419361247823603161</id><published>2011-09-29T20:47:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T20:49:11.726-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etika Kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Tanggung Jawab Sosial #3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-mNWQmdKCGbA/ToU8LgQwAzI/AAAAAAAAA8w/zeDUXbWPy18/s1600/jejaring-sosial.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 294px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-mNWQmdKCGbA/ToU8LgQwAzI/AAAAAAAAA8w/zeDUXbWPy18/s400/jejaring-sosial.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657994675197313842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu prinsip yang perlu kita perhatikan untuk pelayanan ini  adalah prinsip “menjadi miskin”.    Apa itu prinsip menjadi miskin?  Saya yakin tidak ada seorangpun ingin jadi miskin.  Tapi inilah prinsip pelayanan kasih, yaitu sebuah pelayanan yang memiskinkan diri untuk memperkaya orang lain.  Mungkin gambaranya dapat dilihat jelas dari seorang ibu yang mengandung.  Ketika seorang ibu mengandung, anaknya masihlah sangat lemah.  Untuk itu sang ibu akan memberikan semua gizi, kalsium, zat-zat, yang ada pada dirinya untuk semua kebutuhan si anak.  Tak heran para ibu lebih cepat mengalami tulang keropos daripada kaum bapak.   Si ibu menjadi miskin, sedang si anak menjadi kaya.  Itulah kira-kira prinsip menjadi miskin.  Memperkaya orang lain dengan mengorbankan apa yang ada pada diri kita.  Hal ini yang disaksikan oleh Paulus.  Ketika ia menulis surat kepada jemaat di Korintus, Paulus meminta agar jemaat Korintus belajar dari teladan jemaat Makedonia.  Teladan apa? Dalam ayat 2 dituliskan “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan”.  Jemaat Makedonia sedang mengalami pergumulan yang berat.  Mereka bukan hanya banyak pergumulan, tetapi mereka adalah jemaat-jemaat yang kurang mampu, sehingga Paulus mengatakan bahwa mereka sangat miskin.  Namun dalam keadaan itu mereka kaya akan kemurahan.  Bahkan Paulus mengatakan bahwa jemaat Makedonia memberikan lebih dari apa yang mereka miliki. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa mereka dapat melakukan hal yang demikian?  Di ayat 9 dijelaskan karena Yesus yang telah menyelamatkan mereka, telah lebih dahulu menjadi miskin untuk setiap kita, padahal Ia kaya, pemilik alam zagat raya dan semua ciptaan.  Tapi Yesus rela kedunia, lahir dikandang binatang, hidup dalam penghinaan, bahkan mati secara tidak layak.  Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya, kaya akan anugerah keselamatan.  Inilah dasar bagi jemaat Makedonia rela menjadi miskin untuk sesamanya.  Karena Yesuspun sudah rela menjadi miskin untuk diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan sebuah tayangan “Kick Andy” pada tanggal 16 September 2011. Pada hari itu narasumber yang dipanggil adalah orang-orang yang dianggap luar biasa, mengapa?  Karena orang-orang itu adalah orang yang sangat-sangat terbatas baik secara dana ataupun kemampuan fisik, namun mereka tertangkap kamera dalam acara “Tolong” juga  “Minta Tolong” baik di SCTV maupun di RCTI.  Nah Kick Andy mengumpulkan narasumber yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinto Kanafi misalnya. Pria berusia 43 tahun yang kehilangan kaki karena kecelakaan itu tiba-tiba dihadapkan kepada seseorang yang minta tolong kepadanya. Seorang ‘talent’ yang sudah dipersiapkan sebelumnya berpura-pura minta tolong kepadanya untuk mengantarkan kiriman roti kepada salah seorang pemesan yang sedang berulang tahun. Sang talent sudah berupaya mencari “korban”untuk menolong dirinya namun tidak berhasil, sehingga tibalah akhirnya bertemu dengan Rinto Kanafi yang kala itu sedang ada di depan kios rotan dan warung es kelapa muda. Setelah sang talent merengek, diluar dugaan, Rinto Kanafi yang hanya berkaki satu itu mengantarkan roti pesanan orang itu dengan biaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lainya adalah seorang sopir angkot yang sedang pusing memikirkan biaya pengobatan anaknya. Suprihatin, demikian nama sopir angkot itu didatangi seorang nenek yang mencoba menjual ikan asin sisa untuk membeli beras. Suprihatin ragu-ragu ketika akan menolong nenek itu karena ia sendiri juga dalam keadaan susah. Sang Nenek ternyata pantang menyerah dan  terus ‘mencoba mengganggu’ Suprihatin untuk membeli ikan asinya. Ternyata hati Sang Sopir angkot akhirnya luluh dan menolong nenek itu membelikan beras sebanyak 10 kilogram. “Saya tidak tega melihat nenek  yang katanya cucunya sudah dua hari tidak makan. Saya jadi teringat nenek saya dulu,” ujar Suprihatin memberi alasan kenapa akhirnya dia mau menolong Sang Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara apa yang dilakukan Karsimah benar-benar tidak masuk akal. Karsimah yang baru kehilangan suaminya akibat meninggal dunia itu kini berprofesi sebagai penambal ban di daerah Semarang, Jawa Tengah. Ia berprofesi sebagai penambal ban karena terpaksa menggantikan suaminya untuk mencari nafkah. Ketika sedang menunggu pelanggan, tiba-tiba datang seorang nenek yang pura-pura tersesat dan minta tolong dirinya untuk mengantar ke Salatiga. Karsimah tertegun sejenak melihat Sang Nenek yang katanya mengaku sudah  dua hari berusaha minta tolong kepada beberapa orang tapi tak satu pun yang bersedia menolong. Walau agak ragu-ragu, Karsimah kemudian menutup kios tambal ban nya dan segera menggandeng nenek dan menumpang bus  ke jurusan Salatiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga ini tidak pernah tau sebelumnya bahwa mereka akan di shooting dalam salah satu acara di televisi. Yang pasti mereka adalah orang-orang yang mau bekorban untuk menolong sesamanya.  Dan menariknya, di akhir tayangan ini Andy Soraya menyimpulkan:  Ternyata berdasarkan pengalaman para kru di lapangan, justru orang dari kalangan bawahlah yang ringan tangan membantu kepada orang yang membutuhkan. Mereka tanpa banyak pertimbangan langsung memberi bantuan. &lt;br /&gt;Saya kira kondisi ini mirip seperti jemaat Makedonia.  Dan saya kira bukan hanya jemaat Korintus yang harus belajar dari jemaat di Makedonia, tetapi kita sebagai jemaat GKKA pun harus belajar dari mereka.  Mari kita mengambil pelayanan ini, pelayanan menjadi miskin untuk memperkaya orang lain.  Tidak ada satu orangpun yang dapat berkata bahwa saya terlalu banyak masalah untuk menolong orang lain.  Tidak ada satu orangpun juga yang dapat berkata bahwa ia tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan.  Jemaat Makedonia sudah memberikan contoh kepada kita.  Ingat, berbagi kasih kepada orang yang membutuhkan adalah perintah Tuhan.  Selain itu, hal tersebut juga bukti bahwa kita mengasihi Tuhan.  Biarlah perenungan ini boleh memotivasi kita untuk lebih giat mengasihi dan melayani sesama kita. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4419361247823603161?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4419361247823603161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4419361247823603161&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4419361247823603161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4419361247823603161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/tanggung-jawab-sosial-3.html' title='Tanggung Jawab Sosial #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mNWQmdKCGbA/ToU8LgQwAzI/AAAAAAAAA8w/zeDUXbWPy18/s72-c/jejaring-sosial.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-915467630920006477</id><published>2011-09-29T20:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T20:47:33.922-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etika Kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Tanggung Jawab Sosial #2</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,  setiap tindakan kasih kita terhadap sesama menunjukkan bahwa kita sungguh mengasihi Tuhan&lt;/span&gt;.   Dalam salah satu ajaran Tuhan mengenai penghakiman terakhir Tuhan Yesus pernah mengajarkan bahwa semua bangsa akan dikumpulkan dihadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka menjadi orang yang dilayakan untuk masuk dalam kerajaan Surga sama orang yang patut dimurkai.  Apa dasar pemisahnya?  Tuhan mengatakan demikian “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara kamu melawat Aku.”  Lalu orang-orang itu bertanya?  Bagaimana mungkin kami melakukan itu semua pada saat Engkau lapar, haus, orang asing, telanjang, dan sakit?  Ini pertanyaan yang wajar karena semua orang tidak bisa membayangkan bahwa Tuhan dapat lapar, haus, telanjang dan sakit.  Tapi kemudian Tuhan menjawab demikian: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”  Sebaliknya untuk mereka yang dihukum Tuhan mengatakan sebaliknya “Karena segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik sekali kalau kita perhatikan, Tuhan mengindentifikasi/menyamakan tindakan sosial kita kepada orang-orang terbuang, orang-orang kecil, orang-orang tersisihkan, sebagai tindakan untuk Tuhan.  Karena itu setiap tindakan kasih kita terhadap sesama adalah sama dengan tindakan kasih kita kepada Tuhan.  Dan jika kita ingin membalas cinta kasih Tuhan yang begitu besar terhadap hidup kita salah satunya adalah dengan berbuat kebajikan, dengan berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan inilah yang ditangkap oleh orang seperti bunda Theresa.  Dengan kerelaan ia terpanggil untuk melayani orang-orang miskin di India.  Disana ia mendidik anak-anak kecil.  Mengobati orang yang terkena lepra.  Merangkul anak-anak jalanan.  Mengayomi para jompo dsb.  Semua ini dilakukannya bukan sekedar karena ia mengasihi orang India.  Tapi justru karena ia ingin mengasihi Tuhan, maka ia menaruh kasih kepada orang-orang kecil di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mari kita peduli dengan permasalahan sosial yang ada disekitar kita.  Kehidupan sosial sejati harus sejalan dengan kehidupan sosial kita. Bukankah ada begitu banyak orang yang miskin disekitar kita.  Ada begitu banyak orang-orang yang membutuhkan perhatian dari kita.  Ada banyak rintihan-rintihan yang membutuhkan telinga kita.  Mari kita berbuat sesuatu untuk Tuhan dengan melayani orang-orang yang membutuhkan tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat kita lakukan.  Dengan uang yang kita punya kita bisa berbagi kepada orang-orang kecil yang berkekurangan.  Atau mungkin dana kita bisa kita sumbangkan ke bagian sosial untuk pekerjaan-pekerjaan sosial di gereja kita.  Atau mungkin kita bisa menyumbangkan baju-baju yang masih layak pakai kepada panti asuhan atau lembaga semacamnya.  Selain dengan uang kita juga bisa menunjukkan tanggung jawab sosial itu dengan perhatian dan pelayanan kita.  Menghadiri keluarga yang sedang berduka karena kehilangan orang yang dikasihi atau karena bencana yang menimpa rumahnya juga merupakan aksi sosial.  Mendengarkan keluh kesah orang-orang yang sedang mengalami tekanan.  Dengan menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang berkeluh kesah saja kita sudah melakukan tindakan sosial.  Bahkan mengikuti undangan makanpun juga salah satu tindakan sosial.  Ingat, salah satu pelayanan yang Yesus berikanpun yaitu dengan makan bersama dengan orang-orang berdosa.  Mari kita lakukan pekerjaan sosial untuk membalas cinta kasih Tuhan yang besar dalam hidup kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-915467630920006477?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/915467630920006477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=915467630920006477&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/915467630920006477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/915467630920006477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/tanggung-jawab-sosial-2.html' title='Tanggung Jawab Sosial #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8901511576517776633</id><published>2011-09-29T20:40:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T20:46:28.274-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etika Kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Tanggung Jawab Sosial #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-7qAhm8yvqhE/ToU6oL_dQCI/AAAAAAAAA8o/LDylWkb9jMw/s1600/social-media-marketing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-7qAhm8yvqhE/ToU6oL_dQCI/AAAAAAAAA8o/LDylWkb9jMw/s400/social-media-marketing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657992968949022754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2010 yang lalu negeri kita dilanda bencana dimana salah satu gunung api teraktif di dunia, yaitu gunung merapi, mengeluarkan larva panas dan mengirimkan abu kemana-mana.  Akibat hal tersebut beberapa desa yang berdekatan dengan kawasan gunung harus mengungsi dari rumah kediamannya pergi ketempat yang di luar daerah bahaya.  Akibatnya pemerintah membuka beberapa tempat umum sebagai tempat pengungsian para korban bencana tersebut.  Salah satu majalah Kristen inspirasi sempat mewawancarai salah satu sukarelawan Kristen yang menyediakan rumahnya yang tidak terlalu besar sebagai tempat penampungan korban letusan.  Orang ini bersaksi demikian “Awalnya saya kira tidak masalah menyediakan rumah sebagai tempat pengungsian.  Kami hanya cukup memberikan space yang cukup dan membantu menyediakan minuman dan makanan untuk beberapa orang.  Tapi di luar dugaan ternyata tidak semudah itu.  Karena kebanyakan mereka berasal dari desa yang sederhana maka ada beberapa barang kami yang rusak.  Mereka duduk duduk-duduk di meja sampai rusak.  Dispenser saya dipakai sembarangan sampai pegangannya patah; anak-anak main-main di dalam rumah dan beberapa barang saya pecah; dan banyak lagi barang-barang saya yang rusak.”  Lalu reporter inspirasi melanjutkan “lantas mengapa anda masih bersedia menerima mereka sampai saat ini?”  Dan orang Kristen itu menjawab “Awalnya saya marah, dan hampir menutup rumah saya sebagai tempat penampungan.  Tapi suara hati saya berbisik: ‘bahwa mereka membutuhkan saya.... ya...Mereka membutuhkan pertolongan saya.  Kesusahan mereka jauh lebih besar dari kesusahan saya.  Saya hanya kehilangan beberapa barang saya, tetapi mereka kehilangan rumah mereka.’”  Dan majalah inspirasi menganggap kisah orang Kristen ini sebagai contoh teladan yang harus ditiru oleh orang-orang Kristen lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebagai manusia kita merupakan makhluk sosial.  Kita adalah mahluk yang membutuhkan orang lain, dan orang lainpun membutuhkan kita.  Kita adalah ciptaan yang saling membutuhkan.  Contoh sederhana kalau kita pergi potong rambut.  Mungkin ada pemangkas rambut yang begitu ahli memangkas.  Tapi sehebat apapun dia, dia harus meminta tolong orang lain untuk memangkas rambutnya sendiri.  Begitu juga dengan dokter bedah.  Selihai apapun dia membedah seseorang, ketika ia yang terkena sakit penyakit itu, ia membutuhkan orang lain untuk mengoperasi dirinya.  Ponari si dukun cilik yang terkenal mampu menyembuhkan orang banyak lewat batu ajaibnya itu saja pernah kelelahan dan jatuh sakit dan harus di bawa kerumah sakit.  Itulah manusia.  Sejak kecil kita diciptakan sebagai mahkluk sosial yang saling membutuhkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu betapa egoisnya jika kita hanya berdiam diri melihat kebutuhan-kebutuhan orang yang ada di sekitar kita.  Betapa egonya kita, ketika kita menjauhkan diri dari kehidupan sosial.  Sebenarnya setiap orang Kristen memiliki kewajiban dan bertanggung jawab untuk segala permasalahan sosial yang ada disekitar kita.  Ada 2 alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama, Itu merupakan perintah Tuhan dalam kehidupan umat-Nya.&lt;/span&gt;  Sejak awal Tuhan sudah meminta umatnya untuk memperhatikan masalah sosial.  Dalam Perjanjian Lama, ketika umat Israel baru terbentuk dalam sebuah komunitas, Tuhan memberi hukum-hukumnya lewat Musa.  Menariknya kalau kita perhatikan, hukum-hukum yang diberikan Tuhan bukan hanya hukum yang bersifat vertikal (yaitu hubungan manusia dengan Tuhan), tapi juga bersifat horisontal (hubungan sesama manusia, atau hubungan sosial).  Tuhan pernah mengatur bagi mereka yang punya ladang, agar ketika menuai buah dari ladang atau kebunnya, setiap buah yang jatuh jangan diambil supaya jika ada orang miskin datang mereka bisa mengambil buah-buah yang jatuh itu.  Tuhan juga memperhatikan para budak.  Ada hukum yang mengatur jika ada seorang budak bekerja selama 6 tahun, di tahun yang ke-7 tuan dari budak itu wajib melepaskannya.    Tuhan juga menyuruh Musa untuk membuat kota perlindungan, guna kalau ada orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya (misal lagi menebang kayu, kapaknya jatuh dan membunuh temannya) mereka bisa berlindung disana.  Ada banyak lagi hukum-hukum yang mengatur dan berbicara tentang kepedulian sosial terhadap sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perjanjian baru tentu kita mengingat beberapa ajaran Tuhan Yesus juga menekankan kepada kita untuk menyatakan jiwa sosial kita kepada orang banyak.  Pernah ketika ada seorang kaya hendak mengikut Yesus, Yesus meminta dia untuk menjual seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang-orang miskin.  Yesus juga pernah memberikan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang berjiwa sosial mau menolong orang yang mengalami kesusahan karena dirampok diperjalanan.  Sementara para ahli taurat dan orang lewi lewat begitu saja membiarkannya.  Yesus meminta kita untuk meneladani orang Samaria tersebut yang peduli terhadap orang kesusahan walau tidak dikenalnya.  Yesus sendiri berkali-kali menunjukkan jiwa sosialnya dengan menyembuhkan orang-orang miskin, merangkul anak-anak yang tersisihkan, makan bersama orang berdosa, dan menolong perempuan sundal yang hendak di lempari batu.  Karena itulah Yesus memerintah kita untuk mengasihi sesamamu manusia seperti kamu mengasihi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas secara keseluruhan Tuhan mengkehendaki setiap umatnya untuk peduli akan sesamanya.  Itu adalah perintah Tuhan.  Satu minggu yang lalu ketika saya menelepon mama saya di Samarinda, beliau bercerita tentang pelayanan seorang hamba Tuhan yang cukup unik.  Awalnya ia melayani dalam sebuah gereja sebagai mana kebanyakan hamba-hamba Tuhan lainnya.  Namun suatu saat ia bermimpi bahwa ia harus melayani orang-orang yang susah dan tertekan.  Setelah mendapat mimpi itu keesokan harinya ia menemukan ada begitu banyak orang-orang gila yang berkeliaran di kota itu.  Ia tau bahwa Tuhan menyuruhnya untuk melayani orang-orang gila tersebut.  Mulailah dia membawa beberapa orang-orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut.  Beberapa orang gereja yang memiliki keluarga yang demikian, orang-orang yang terganggu karena stress, juga dititipkan untuk dilayani disana.  Disana pendeta itu dan istri memandikan orang-orang gila yang lama tidak pernah mandi, merawat mereka, mengkonseling mereka, bahkan setiap hari ia mengadakan persekutuan bersama dan tiap hari juga ia berkhotbah kepada mereka.  Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya khotbah di depan orang-orang gila.  Tapi pendeta ini dan istri mau melakukan itu semua.  Itu jelas, karena Tuhan sendiri yang memberikan perintah kepada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kitapun wajib peduli terhadap masalah sosial karena ini adalah perintah Tuhan.  Walaupun kita tidak pernah mendapatkan mimpi seperti pendeta yang saya ceritakan barusan, tapi kita tahu persis bahwa sikap sosial itu merupakan perintah Tuhan yang jelas tertera dalam Firman Tuhan.  Karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melakukan tindakan sosial.  Ini bukan sekedar menjadi tanggung jawab para pengurus gereja, para hamba Tuhan, atau tim diakonia saja.  Tapi ini perintah Tuhan untuk kita semua.  Sebab itu marilah kita berbagi kasih kepada sesama yang membutuhkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8901511576517776633?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8901511576517776633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8901511576517776633&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8901511576517776633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8901511576517776633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/tanggung-jawab-sosial.html' title='Tanggung Jawab Sosial #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-7qAhm8yvqhE/ToU6oL_dQCI/AAAAAAAAA8o/LDylWkb9jMw/s72-c/social-media-marketing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1580065238284792855</id><published>2011-09-17T08:56:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T09:14:40.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>SEPADAN DENGAN PANGGILAN (Efesus 4:1-2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-hjIl2YJhPug/TnTHYwfcn2I/AAAAAAAAA8g/AHyhirUvBlE/s1600/the-great-kingdom-china-house-sky-cloud-poster-full.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-hjIl2YJhPug/TnTHYwfcn2I/AAAAAAAAA8g/AHyhirUvBlE/s400/the-great-kingdom-china-house-sky-cloud-poster-full.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653362660404404066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka sekali melihat film-film yang berbau kerajaan.  Karena bagi saya elegansi, etika, problema serta budaya kerajaan memiliki nilai estetika tersendiri.  Kalau saya mengamat-ngamati kebiasaan orang-orang yang tinggal di lingkungan istana, umumnya mereka memiliki pola hidup dan etika yang berbeda jika dibanding dengan orang-orang yang tinggal di luar lingkungan istana.  Caranya berjalan, caranya bercanda, cara berbicara, cara berpakaian, bahkan cara makanpun tidak sama dengan orang-orang yang tinggal di luar komunitas mereka.  Hal itu disebabkan karena mereka memiliki pola didik yang berbeda dari pada yang lain.  Biasanya dalam kerajaan ada pendidikan-pendidikan khusus yang diberikan kepada anak-anak di dalamnya yang tidak bisa ditemukan di lingkungan di luar istana.  Mengapa demikian?  Karena mereka harus memiliki kehidupan yang sepadan dengan status yang disandangnya, yaitu sebagai orang kerajaan.  Oleh sebab itu sikap dan pola hidup mereka haruslah menunjukkan sikap dan pola hidup kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya belajar di seminaripun tidak jarang rektor kami, juga bapak / ibu asrama mengumpulkan kami untuk memberi ceramah tentang etika-etika yang harus kami miliki sebagai seorang hamba Tuhan.  Kalau masuk kamar orang harus ketuk pintu, seupaya mungkin tidak berhutang, menghormati orang yang lebih tua, bersabar walau dikritik, hati-hati berbicara tentang uang atau fasilitas, makan tidak boleh mengecap, dsb.   Ada banyak ajaran yang disarankan untuk kami lakukan agar hidup kami sepadan dengan status hamba Tuhan yang kami sandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dalam kehidupan setiap anak-anak Tuhanpun demikian.  Selain disebut sebagai anak-anak Tuhan setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh percayapun terbilang sebagai anggota kerajaan Surga atau kerajaan Allah.  Ada banyak ayat Alkitab yang menekankan hal ini, bahwa kita adalah anggota-anggota kerajaan Allah.  Tentu saja sebagai anggota kerajaan kitapun harus hidup sesuai dengan etika dan aturan atau juga pola hidup yang ditetapkan oleh pemimpin kerajaan tersebut.  Karena itulah Paulus berkata “aku menasihatkan....supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil itu berpadanan dengan panggilan itu.”  Setiap orang yang sudah percaya, yang sudah dipanggil keluar daripada kegelapan harus memiliki kehidupan yang sepadan dengan panggilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup seperti apa itu?  Ayat berikutnya Paulus memaparkan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar.”  Yang pertama yang diminta adalah kita memiliki karakter-karakter Kristus antara lain: kerendahan hati, kelemah lembutan, dan kesabaran.  Sikap-sikap ini adalah sikap yang susah-susah gampang.  Sikap yang sangat mudah dimengerti dan dipahami namun sangat sukar untuk dilakukan.  Kita semua tau dan mengerti apa itu rendah hati, tau juga bagaimana bersikap lembut, juga mengerti apa arti kesabaran, tapi untuk bisa memiliki sikap-sikap itu secara sempurna sangatlah susah.  Sikap-sikap seperti inilah yang dituntut dalam kerajaan.  Yesus sendiri pernah berkata demikian “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”  Tuhan menuntut sikap-sikap seorang pelayan dan seorang hamba.  Dan itu semua memerlukan kesabaran, kelemahlembutan, juga kerendahhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan sebagai anggota kerajaan Allah sudahkah kita memiliki sikap yang demikian?  Ketika mungkin kita menjabat posisi yang tinggi dalam bidang kita adakah kita tetap rendah hati menyadari bahwa itu semua hanya anugerah Tuhan?  Atau jangan-jangan kita diam-diam menyombongkan diri dan merasa diri lebih baik dari orang lain?  Adakah kita dikenal sebagai seorang yang berhati lembut?  Atau kita terkenal angkuh dan kasar?  Ketika kita menghadapi banyak tantangan, dan mungkin ada orang yang bertindak tidak adil terhadap diri kita, apakah kita tetap sabar?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kedua yang diminta oleh Paulus adalah agar setiap kita “menunjukkan kasih dalam saling membantu”.  Kasih merupakan hal yang wajib dilakukan bagi orang-orang yang berada dalam kerajaan Allah.  Mengapa? Karena setiap tindakan kasih kita akan dapat menyatakan kasih Kristus kepada dunia yang haus akan kasih itu.  Kasih itu harus ditunjukkan secara aktif dan berinisiatif, dan tidak pasif. Kasih juga membutuhkan pengorbanan.  Semakin banyak pengorbanan itu maka kasih itu akan bernilai sangat kuat.  Kristus sendiri menunjukan kasihnya kepada kita secara aktif, dan Ia sendiri yang berinisiatif untuk datang ke dunia menyelamatkan hidup kita.  Kasih-Nyapun penuh dengan pengorbanan, dimana Ia memberikan dirinya sendiri untuk mati dikayu salib menebus dosa kita.  Karena itu jika pemimpin kita melakukan kasih yang aktif dan berinisiatif dan penuh pengorbanan, maka kitapun sebagai bawahan wajib melakukan kasih yang seperti demikian.  Saya suka sekali pernyataan yang mengatakan demikian “Penyakit yang terbesar saat ini bukanlah penyakit kanker dsb, tapi kehilangan kasih sayang.”  Ya... banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, dan kasih kita.  Karena itu mari kita menunjukkan kasih itu dengan hidup saling membantu dan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang paling berkenan dalam sebuah kerajaan adalah jika orang-orang yang mau mengikuti kehidupan yang diajarkan dan diharapkan oleh pemimpinnya.   Karena itu mari kita menjadikan hidup kita sepadan dengan panggilan yang Tuhan berikan kepada kita sebagai anggota kerajaan Allah.  Miliki kerendahan hati, kelemahlebutan, dan kesabaran dalam menjalani segala sesuatu.  Dan aktif lah mengasihi sesama manusia walaupun harus dijalani dengan penuh pengorbanan.  Biarlah kita menjadi orang-orang yang berkenan dihadapan Tuhan dengan kesepadanan hidup yang kita tunjukkan.  Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1580065238284792855?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1580065238284792855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1580065238284792855&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1580065238284792855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1580065238284792855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/sepadan-dengan-panggilan-efesus-41-2.html' title='SEPADAN DENGAN PANGGILAN (Efesus 4:1-2)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hjIl2YJhPug/TnTHYwfcn2I/AAAAAAAAA8g/AHyhirUvBlE/s72-c/the-great-kingdom-china-house-sky-cloud-poster-full.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8140847435095740278</id><published>2011-09-10T16:43:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T16:46:06.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>KEEP THE FIRE BURNING #3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-bKl07NBmVz0/Tmv2t5pGTzI/AAAAAAAAA8Y/1v_Wa6NgEvo/s1600/the-fire-burning_422_1218.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bKl07NBmVz0/Tmv2t5pGTzI/AAAAAAAAA8Y/1v_Wa6NgEvo/s400/the-fire-burning_422_1218.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650881425894166322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua, mari kita menjauhkan diri dari segala dosa&lt;/span&gt;.  Dosa itu bagaikan air yang hendak memadamkan api rohani kita.  Kebanyakan kasus yang terjadi mengapa orang Kristen kehilangan semangat atau api dalam dirinya ialah karena ia hidup berdampingan atau terikat dengan dosanya sendiri, entah itu dosa yang disadari atau tidak.  Tapi kebanyakan orang kristen tidak menyadari hal ini, lantas mereka mulai menyalahkan lingkungan, situasi, keadaan, dsb yang dapat dijadikan kambing hitam.  Padahal dosa mereka sendirilah yang membuat mereka undur daripada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam Alkitab yang paling jelas mengenai hal ini adalah kisah tentang Raja Saul.  Kita tau sejak awal dia adalah raja yang diurapi Tuhan.  Ketika umat Israel memberontak kepada Tuhan, tidak mau lagi dipimpin oleh Tuhan, dan mereka meminta raja, Tuhan mengabulkannya dengan mengurapi seorang raja yang bernama Saul.  Awalnya ia begitu berkuasa, sampai ia kemasukan roh seperti para nabi dan dapat bernubuat.  Begitu berkuasanya sehingga tidak ada musuh yang dapat mengalahkannya berperang.  Itu semua jelas karena Tuhan yang memberinya kuasa untuk menjalani kehidupannya.  Namun seiring berjalannya waktu, dimana ia semakin hari semakin sukses, ia pun mulai sombong.  Ia mulai merasa diri benar, dan tidak lagi mengindahkan perintah Tuhan.  Pernah ketika Tuhan meminta ia menumpas seluruh musuhnya termasuk hewan ternaknya, ee dia malah mengambil ternak-ternak yang terbaik.  Ketika ditegur oleh Samuel dia malah berkelit menyalahkan rakyatnya.  Pernah juga ketika orang Filistin hendak menyerang Israel, dan ia disuruh Samuel sebagai nabi Allah untuk sabar menunggu sampai ia datang mengambil keputusan; tapi karena panik, ia langsung pergi mempersembahkan korban di mezbah.  Padahal hanya seorang imam yang boleh mempersembahkan korban bakaran waktu itu.  Dengan demikian Saul berdosa kepada Tuhan dengan tidak mentaati perintah Tuhan.  Karena dosa-dosa dan kesombongan yang diperbuatnya itulah maka roh yang ada padanya semakin hari semakin memudar dan memudar.  Bahkan kita tahu karena api yang semakin hari semakin kecil itulah maka Saul seringkali diganggu oleh roh jahat.  Dan pada akhirnya ia harus mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri.  Dosanya sendirilah yang memadamkan roh dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu jangan pernah bermain-main dengan dosa.  Ketika melihat kisah raja Saul, terkadang saya menjadi takut.  Bisa saja baik disadari atau tidak saya akan mengalami apa yang dialami raja Saul, jika saya tidak serius terhadap dosa.  Dosa itu kerjanya mengerikan.  Ia selalu menawarkan yang menggiurkan sehingga kita akan menikmatinya.  Dosa itu tidak tampak menakutkan, tapi tampak nikmat.  Tapi dibalik kenikmatan itu ada jerat yang siap membunuh kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diumpamakan dosa itu seperti umpan pancing, dan kita adalah ikan-ikannya.  Untung mendapatkan ikan, kita cuma butuh umpan.   Tidak ada umpan ikan yang berbentuk ikan hiu, yang bisa bergerak-gerak sendiri mengejar ikan-ikan.  Umpan seperti itu hanya membuat ikan-ikan menjauh.  Tapi cukup dengan umpan yang disukai para ikan.  Ditaruh dalam pancingan dan dibiarkan tenang didalam air.   Ikan-ikan akan tergoda dengan sendirinya.  Keinginan untuk makan akan muncul, dan ketika ia makan, mungkin sentuhan pertama begitu menggoda, namun setelah ia melahap umpan itu, ia akan tertangkap kail, dan pada saat itulah pancing akan menyeretnya kedarat dan binasalah ikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dosa.  Ia tampak menyenangkan sehingga kita betah untuk melakukannya. Namun ketika kita menikmati dosa-dosa itu, perlahan-lahan ia akan memadamkan api rohani kita. Sampai akhirnya api dalam diri kita benar-benar mati seperti Saul yang rohnya perlahan-lahan padam akibat dosanya sendiri.  Karena itu saudara, mari kita menjauhkan diri dari dosa.  Mungkin dosa itu sudah menjadi kebiasaan saudara.  Mungkin dosa itu tampak kecil di mata saudara.  Mungkin dosa itu tidak diketahui oleh satu orangpun juga.  Ingatlah, dosa-dosa itu juga yang akan membunuh dan memadamkan api saudara.  Karena itu mari kita berjuang keras untuk mengatasi pikiran-pikiran kotor kita, hasrat-hasrat yang tidak baik, kebencian, kesombongan, dendam, dan segala dosa yang hanya saudara yang tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga, cara untuk menjaga agar api iman kita untuk tetap padam ialah dengan terus menerus mengingat akan kebaikan Tuhan dalam hidup ini&lt;/span&gt;.  Saya suka sekali lyric dalam sebuah lagu di KPPK yang mengatakan “..... Hitung berkat satu-persatu...dan lihatlah karya Tuhanmu...Hitung berkat satu persatu...hitung berkat yang melimpah padamu”  Sungguh benar apa yang dikatakan pujian ini.  Kalau kita mau mengingat satu-persatu kebaikan Tuhan dalam hidup ini, maka kita akan menemukan betapa besar kebaikan Tuhan untuk kita.  Bukan hanya telah menyelamatkan hidup kita, Tuhanpun memberikan berkatnya setiap hari kepada kita bukan?  Kesempatan untuk hidup; makanan setiap hari; udara; kita masih memiliki keluarga yang mengasihi;  kalaupun tidak mungkin kita punya teman-teman atau sahabat yang memperhatikan kita; Bahkan kalau kalian bisa kuliah atau bekerja bukankah itu juga pertolongan Tuhan?  Saya kira kalian lebih tau apa saja yang Tuhan perbuat dalam hidup kalian.  Dan inilah langkah untuk kita bisa kembali mengobarkan api yang ada dalam diri kita, yaitu dengan mengingat selalu akan kebaikan Tuhan.  Kebaikan Tuhan seharusnya mampu membakar iman percaya dan semangat kita untuk kembali melayani dengan hati bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya mengingat apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saya, saya menemukan betapa saya harus bersyukur akan kebaikan Tuhan.  Kalau bukan karena kebaikan Tuhan mungkin saya tidak akan berdiri melayani sebagai seorang pengkhotbah saat ini.  Memasuki semester 4 di SAAT, saya mendapatkan pergumulan yang berat.  Saya menemukan bahwa saya adalah seorang yang sangat banyak kekurangan, yang sangat terbatas, dan saya merasa sangat tidak layak untuk menjadi seorang hamba Tuhan.  Ditambah waktu itu teman saya yang saya anggap seorang yang sangat rendah hati harus meninggalkan seminari karena ada masalah keluarga.  Saya berkata kepada Tuhan: “Tuhan... sebenarnya saya yang seharusnya keluar....orang itu jauh lebih layak daripada saya.”  Malam itu saya bergumul dan bergumul.  Dan dari pergumulan itu saya memutuskan untuk berhenti melanjutkan studi saya di seminari, dan saya memutuskan untuk keluar dalam waktu dekat.  Tapi di waktu yang sama, tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari mama saya.  “dek, kamu dapet praktek di mana?” “Di pedalaman Kal-Tim ma” saya menjawab.  “hah kok gak di gereja kota besar sih?” mama saya agak kecewa.  Lalu saya menjawab “gak pa pa lah ma, justru ini kesempatan istimewa, tidak semua orang dapat kesempatan ini, gereja toh kapan-kapan juga bisa”.  Tiba-tiba mama saya berkata “kamu memang dipilih Tuhan.  Dek, kamu tau gak, waktu mengandung kamu, mama mau menggugurkan kamu.  Mama lagi stress waktu itu, jadi mama suruh orang pijet kandungan mama, makan nanas muda, kerja keras, dan minum obat-obatan.  Namun suster bilang kalau bayimu terlalu kuat, gak bisa di gugurkan.  Tiba-tiba ada teman mama nyeletuk: kalau sampai bayi ini lahir, bayi ini pasti cacat.”  Mama saya tertegur dan berdoa “Tuhan, ampuni kelakuan saya, jika Engkau mau titipkan bayi ini kepada saya, saya terima, tapi tolong jangan sampai bayi ini cacat”.   Setiap malam mama saya berdoa dan Tuhan mengabulkan doa mama.  Lalu mama saya berkata kepada saya “kamu memang dipilih Tuhan”.  Hari itu saya menangis, karena jelas bahwa Tuhan masih mau memakai saya.  Meski saya tidak layak, Tuhan masih memandang saya Tuhan masih terlalu baik sama saya.  Saat ini jika setiap kali saya merasa lelah untuk melayani, saya akan mengingat kembali apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup saya.  Bagaimana Tuhan menyelamatkan nyawa saya, dan bagaimana Tuhan masih berkenan memakai saya untuk melayani Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara saya percaya saudara di tempat ini juga punya kisah masing-masing akan kebaikan dan pertolongan Tuhan, yang saya percaya masing-masing punya keunikannya sendiri.  Karena itu setiap kali saudara mulai merasa jenuh atau lesu untuk melayani Tuhan, mari kita ingat kembali akan semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita; Baik itu bagaimana ia telah menyelamatkan kita; atau bagaimana Tuhan sudah campur tangan dalam setiap permasalahan kita pribadi.  Mari kita terus mengingat akan kebaikan Tuhan.  Biarlah kebaikan Tuhan itu sendiri yang akan memompa dan menyalakan kembali api yang ada pada diri kita untuk melayani Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8140847435095740278?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8140847435095740278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8140847435095740278&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8140847435095740278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8140847435095740278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/keep-fire-burning-3.html' title='KEEP THE FIRE BURNING #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bKl07NBmVz0/Tmv2t5pGTzI/AAAAAAAAA8Y/1v_Wa6NgEvo/s72-c/the-fire-burning_422_1218.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8102775757871777542</id><published>2011-09-10T16:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T16:43:16.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>KEEP THE FIRE BURNING #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Hzp82gG_dv4/Tmv2Ah1qMoI/AAAAAAAAA8Q/fkXCNDqD__Q/s1600/api-unggun2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 355px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Hzp82gG_dv4/Tmv2Ah1qMoI/AAAAAAAAA8Q/fkXCNDqD__Q/s400/api-unggun2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650880646410285698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah saya akan memberikan beberapa tips-tips untuk dapat tetap mempertahankan kobaran api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama, Dengan konsisten menjaga kehidupan spiritual kita yaitu dengan bersaat teduh dan doa&lt;/span&gt;.  Ketika mengikut camp di alam terbuka, biasanya kita membutuhkan api unggun.  Api unggun itu diperlukan untuk membantu menghangatkan tubuh kita menghadapi malam yang dingin.  Namun tentunya jika ingin api tersebut terus menyala maka kita harus terus menambahkan kayu bakarnya agar api itu tidak padam.  Saya kira ketika Paulus mengatakan “Jangan padamkan roh”, itu dengan kata lain kita harus terus menerus mengisi amunisi kita setiap hari untuk menjaga agar api itu tidak padam, melainkan terus menyala dengan berkobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Tesalonika adalah salah satu orang Kristen mula-mula yang ada melalui pelayan Paulus.  Pada awal pelayanan ini ada begitu banyak orang-orang Yahudi dan non Yahudi yang salah paham akan gerakan keKristenan.  Maklum saja, sesuatu yang baru pastinya akan dikritisi sekritis-kritisnya.  Karena itu kondisi ini tidak mudah bagi anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh mau percaya dan melayani Tuhan.  Mereka mendapat tekanan, kecaman, bahkan mungkin siksaan-siksaan.  Persoalan ini tidak diragukan lagi akhirnya membuat banyak orang Kristen mundur dari pelayanan.  Mereka mundur dari ibadah dan persekutuan mereka.  Karena itu Paulus menasihati mereka untuk “Jangan padamkan Roh”.  Ketika masalah kita harus menyikapinya bukan dengan memadamkan roh itu, tapi justru kita harus mempertahankannya dengan menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan.  Karena relasi dengan Tuhan itulah yang akan menjadi kekuatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali orang menyangka ketika ia mulai merasa jenuh melayani atau ketika ia sedang menghadapi begitu banyak persoalan dan tekanan hidup, maka ia harus berhenti melakukan aktifitas-aktifitas rohani.  Seorang teman pernah mengatakan “Saya mau berhenti pelayanan dulu, karena pekerjaan saya sangat sibuk dan butuh konsentrasi tinggi”  Terus saya bertanya:  “terus bagaimana kehidupan saat teduh dan doamu?”  Ia menjawab:  Sudah ga ada waktu, dari pagi sampai malam saya harus memikirkan pekerjaan dan hidupku, ga sempat untuk melakukan itu.  Yang penting tiap minggu saya masih ke gereja.”  Saya kira ini sikap yang keliru.  Justru pada saat kita mulai merasa kering, justru pada saat kita mendapatkan tekanan-tekanan hidup, kita membutuhkan asupan-asupan firman Tuhan dan doa.  Mengapa orang Kristen bisa mundur dari imannya?  Mengapa orang Kristen bisa pudar semangat pelayanannya?  Karena pada saat mereka lemah, mereka malah menjauh dari hal-hal yang berbau rohani.  Padahal ketika mereka menjauh itulah yang kemudian akan benar-benar memadamkan api dalam diri mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saudara, jangan pernah mundur dari kebiasaan-kebiasaan rohani kita seperti saat teduh dan berdoa.  Ketika kita mulai merasa jenuh, justru kita harus memaksakan diri untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan.  Mungkin berhenti sejenak untuk melayani di gereja itu tidak masalah.  Tapi jangan pernah berhenti untuk bersaat teduh dan berdoa.  Itu yang biasa saya lakukan.  Setiap kali mulai merasa jenuh, rasanya malas sekali untuk membuka Alkitab untuk hari itu.  Yang terjadi jika saya mengikuti kata hati untuk tidak saat teduh, maka keesokan harinya kita akan semakin malas.  Tapi jika saya memaksakan diri untuk bersaat teduh, pada saat itulah perlahan-lahan kekeringan rohani itu diisi.  Karena itu mari kita asup api iman kita dengan terus bersaat teduh dan berdoa secara konsisten, supaya api kita tetap menyala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8102775757871777542?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8102775757871777542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8102775757871777542&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8102775757871777542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8102775757871777542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/keep-fire-burning-2.html' title='KEEP THE FIRE BURNING #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Hzp82gG_dv4/Tmv2Ah1qMoI/AAAAAAAAA8Q/fkXCNDqD__Q/s72-c/api-unggun2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-945517960706626998</id><published>2011-09-10T16:36:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T16:40:04.934-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>KEEP THE FIRE BURNING #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-DDD71aMBx7k/Tmv1RU9GshI/AAAAAAAAA8I/E_XiPtg842o/s1600/the-fire-burning_422_1218.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-DDD71aMBx7k/Tmv1RU9GshI/AAAAAAAAA8I/E_XiPtg842o/s400/the-fire-burning_422_1218.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650879835498000914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1 Tesalonika 5:19 “Janganlah padamkan Roh”&lt;br /&gt;Rm 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acapkali dalam kehidupan ini kita menemukan kenyataan bahwa: membangun atau meraih sesuatu itu lebih mudah daripada mempertahankannya.  Dalam pertandingan sepakbola misalnya.  Musim lalu ketika klub Arsenal melawan Newcastle di liga Inggris, di atas angin Arsenal sudah tampak menguasai lapangan, dan begitu mudahnya mereka melesatkan 4 gol di gawang lawan.  Secara logika tim Arsenal hampir dipastikan bahwa tim Newcastle mampu membalas ketinggalan dari 4-0 menjadi 4-4. Mempertahankan lebih sukar dari pada meraih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam relasipun demikian.  Dalam pengalaman saya menjalin persahabatan dengan seseorang, akan begitu mudahnya kami menemukan kecocokan-kecocokan yang membuat kami bisa bersahabat. Namun untuk mempertahankannya itu yang sangat susah.  Entah karena ia berpindah tempat, entah karena perselisihan, rasa bosan dsb.  Akhirnya terjadilah seperti yang kebanyakan orang katakan bahwa sahabat dalam hidup ini datang dan pergi.   Semua ini karena memulai persahabatan itu tidak sesukar mempertahankannya.  Kalau kita bertanya kepada orang-orang yang menikah: apakah lebih susah mendapatkan pasangannya (entah suami / istri) ataukah mempertahankannya?  Saya yakin mereka akan menjawab, jauh lebih berat mempertahankan hubungan itu, karena untuk mendapatkannya mungkin hanya membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun, tapi untuk mempertahankannya membutuhkan waktu seumur hidup.  Hampir dalam setiap aspek kita akan menemukan bahwa mempertahankan jauh lebih sukar daripada memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah saudara bahwa dalam kehidupan kerohanian kitapun demikian.  Betapa susahnya kita mempertahankan hati yang mengasihi Tuhan seperti pertama kali kita mengenal Tuhan.  Betapa susahnya kita mempertahankan semangat pelayanan seperti semangat awal yang pernah kita alami saat perjumpaan dengan Tuhan.  Betapa susahnya mempertahankan iman kita di hadapan Tuhan. Betapa sukarnya kita menjaga api itu untuk tetap menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang pelayan Tuhan yang dulunya aktif melayani.  Dari remaja ia sudah terlibat dalam kepengurusan, dan pernah menjadi ketua dalam sebuah organisasi gereja.  Semua orang tidak meragukan akan cintanya akan Tuhan.  Karena itu banyak orang mencari dia untuk terlibat dalam panitia ini dan itu.  Namun beberapa tahun kemudian tanpa angin tanpa hujan ia tidak lagi terlihat di gereja.  Ia mulai sibuk bekerja dan tidak lagi pernah terlibat dalam pelayanan.  Ketika ditanyakan hal itu iapun menjawab: Saya sudah jenuh dan bosan melayani.  Sekarang saya mau fokus bekerja saja.  Dan iapun mundur dari pelayanan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seorang hamba Tuhan yang awalnya berkobar-kobar melayani.  Dengan semangat 45 ia masuk ke sekolah teologi dan belajar Alkitab sebaik-baiknya.  Selesai mendapat gelar dari sekolah teologi, dengan semangat juga ia masuk ke ladang pelayanan untuk membagikan apa yang sudah dipelajarinya selama kurang lebih 4 tahun.  Tapi beberapa tahun kemudian tersiarlah berita bahwa hamba Tuhan tersebut sekarang sudah tidak lagi melayani sebagai hamba Tuhan di gereja.  Ia berhenti dari pelayanan di gereja dan mulai buka usaha kecil-kecilan.  Semangatnya yang dulu berapi-api mulai pudar, dan imannya mulai goyah, ia pun tidak dapat mempertahankan semangat yang ia miliki semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira hal demikian juga bisa menimpa saudara dan saya.  Ada banyak hal yang bisa memudarkan semangat tersebut.  Bisa jadi karena masalah-masalah dan tekan hidup yang terlalu berat terjadi dalam hidup kita membuat kita kehilangan semangat itu.  Mungkin kita mendapat sakit penyakit, masalah keuangan, masalah relasi, dsb, yang membuat kita mau-tidak mau harus lebih banyak meluangkan waktu memikirkan masalah itu, dan  kitapun mulai mundur dan kecewa sama Tuhan karena masalah itu tidak kunjung selesai;  Bisa jadi juga karena  dosa-dosa yang kita perbuat sendiri.  Kita terus melakukan dosa-dosa yang tidak pernah kita bereskan, yang akhirnya memberikan perasaan tidak layak untuk melayani Tuhan;  Atau bisa jadi juga hanya karena pelayanan-pelayanan itu sudah menjadi rutinitas dalam keseharian kita yang membuat kita bosan untuk melayani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat menjadi faktor penghambat iman dan semangat kita dalam melayani Tuhan.  Tapi dari kesemuanya itu penyebab utamanya adalah karena iblis tidak suka kalau anak-anak Tuhan memiliki iman yang berkobar-kobar kepada Tuhan.  Iblis tidak suka jika anak-anak Tuhan melakukan pelayanan yang penuh kuasa yang memberkati banyak orang.  Karena itu ia akan terus menghambat, bahkan berusaha memudarkan api yang ada dalam diri anak-anak Tuhan dengan memberikan permasalahan-permasalahan dan cobaan-cobaan yang dapat membuat kita jatuh dalam dosa, hingga pada akhirnya kita mundur dan berhenti untuk melayani Tuhan, bahkan mungkin berhenti untuk percaya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara....mungkin anda yang ada disini (atau yang sedang membaca tulisan ini) berada dalam posisi itu saat ini.  Mungkin kita belum sampai memutuskan untuk berhenti percaya kepada Tuhan.  Namun iman dan semangat kita sudah memudar tidak seperti pertama kali kita mengenal Tuhan.  Mungkin tiap minggu kita rutin datang ke persekutuan namun itu hanya karena rutinitas belaka.  Sesungguhnya hati kita jauh daripada Tuhan.  Bahkan mungkin kita melayani Tuhan, namun itu hanya karena terpaksa.  Pelayanan menjadi beban dalam diri kita.  Kobaran itu sudah hampir padam, sama seperti sumbu api yang hampir pudar tertimpa oleh angin.&lt;br /&gt;Jika saudara berada dalam posisi itu saat ini, ingat Firman Tuhan mengatakan: 1Tesalonika 5:19 “Janganlah padamkan Roh”  Rm 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.  Tuhan menginginkan kita untuk tetap memiliki api itu.  Jangan sampai iman kita, jangan sampai semangat kita, jangan sampai kobaran api dalam diri kita itu menjadi pudar.  Untuk itulah saya akan memberikan beberapa tips-tips untuk dapat tetap mempertahankan kobaran api.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-945517960706626998?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/945517960706626998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=945517960706626998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/945517960706626998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/945517960706626998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/keep-fire-burning-1.html' title='KEEP THE FIRE BURNING #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-DDD71aMBx7k/Tmv1RU9GshI/AAAAAAAAA8I/E_XiPtg842o/s72-c/the-fire-burning_422_1218.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2961136835353612330</id><published>2011-09-03T16:40:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T16:43:16.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-dABnvsGiUVc/TmK7ZNP9KSI/AAAAAAAAA8A/F_sYNvAJh5A/s1600/images%2B%25282%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dABnvsGiUVc/TmK7ZNP9KSI/AAAAAAAAA8A/F_sYNvAJh5A/s400/images%2B%25282%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648282924403730722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya yang kedua, bukan saja memiliki iman yang meyakini bahwa Tuhan dapat menolong kehidupan kita, iman yang harus kita miliki juga adalah iman yang percaya bahwa Tuhan berdaulat meskipun apa yang terjadi tampak buruk di mata kita.  Perhatikan kata-kata mereka berikutnya: Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.  Sungguh ini pernyataan iman yang luar biasa indah.  Mereka sadar penuh bahwa Tuhan dapat menolong mereka.  Tapi jika Tuhan tidak menolong mereka, mereka akan tetap setia kepada Tuhan.  Itulah iman yang kuat dari anak-anak Tuhan.  Mereka punya harapan tersendiri, namun ketika harapan itu tidak terjadi mereka tidak akan bersungut-sungut dan kecewa.  Mereka tidak berkata “Tuhan kalau engkau tidak lepaskan kami dari perapian ini, kami tidak lagi mau menyembah engkau.”  Sebaliknya justru karena mereka sudah mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan yang berdaulat dalam hidup mereka.  Dengan iman seperti inilah mereka ingin menyatakan: “Bahkan walau kami harus mengalami hal yang buruk, bahkan walau kami harus menderita, dan bahkan walaupun kami harus mati,  kami akan tetap setia kepada Tuhan yang berdaulat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali saat ini ada orang-orang Kristen yang tidak memiliki iman seperti ini.  Mereka berharap ini dan itu kepada Tuhan, tapi ketika Tuhan tidak mengabulkan permintaannya, mereka menjadi kecewa, marah, putus asa, dan bersungut-sungut kepada Tuhan.  Dalam sebuah drama di Amerika dikisahkan ada seorang gadis berkulit hitam yang hidup dalam keluarga miskin akibat depresi ekonomi yang melanda.  Namanya Beneatha.  Dia gadis yang cukup pandai, dan memiliki cita-cita menjadi seorang dokter.  Tapi karena mereka sangat miskin maka impian itu sepertinya sukar untuk terealisasi.  Sang ibu yang walaupun tau bahwa impian anaknya itu sukar untuk digapai, namun ia tidak mau menciutkan harapan anaknya dan ia berkata “Beneatha, tentu saja, bila Tuhan mengkehendaki kamu akan menjadi seorang dokter suatu saat kelak”.  Dikatakan seperti itu oleh ibunya lantas mata Beneatha tiba-tiba berubah menjadi galak.  Dan iapun berkata “Mama, Tuhan tidak ada sangkut pahutnya dengan urusan ini!  Bila Tuhan tidak mampu mengangkat kita dari kemiskinan, Ia pasti juga tidak mampu menjadikan aku seorang dokter.”  Ternyata ia telah kecewa sama Tuhan karena tidak bisa membawa keluarganya keluar dari masalah ekonomi.  Dan hal itu meruntuhkan imannya untuk lagi percaya kepada Tuhan.  Iman seperti ini juga sama dengan iman yang kerdil.  Yaitu iman yang dibatasi oleh kemauan dan harapan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman yang besar tidak seperti demikian.  Iman yang besar adalah iman seperti Sadrak, Mesak, Abednego, yang mengatakan bahkan jika Tuhan tidak menolong, kami akan tetap setia kepada Tuhan.  Jika Tuhan tidak menolong, kami akan tetap cinta Tuhan, kami akan tetap melayani dan menyembah Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, iman seperti apa yang saudara miliki saat ini?  Iman yang kerdilkah, atau iman yang besar?  Adakah kita tetap beriman dan setia kepada Tuhan walaupun masalah-masalah dalam kehidupan kita tidak mendapat jalan keluar?  Adakah kita dapat tetap memuji dan menyembah Tuhan meskipun jalan hidup kita tampak rumit dan penuh liku?  Sudahkah kita memiliki iman yang percaya bahwa Tuhan berdaulat atas seluruh hidup kita?  Adakah kita memiliki iman yang dapat berkata “Tuhan itu baik” justru ditengah-tengah penderitaan yang kita alami?&lt;br /&gt;Saudara milikilah iman seperi Sadrak, Mesak, dan Abednego.  Yaitu iman yang percaya penuh bahwa Tuhan kita berkuasa menolong kita dari segala persoalan hidup.  Juga iman yang percaya kepada akan kedaulatan Tuhan atas seluruh aspek kehidupan kita.  Ketika kita memiliki iman seperti ini, saya yakin sama seperti raja Nebudkanezar yang pada akhirnya menyembah Tuhan, pasti akan banyak orang-orang di sekitar kita yang juga akan menjadi percaya karena kesaksian iman kita, dan hidup kitapun menjadi berkat bagi banyak orang.  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2961136835353612330?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2961136835353612330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2961136835353612330&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2961136835353612330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2961136835353612330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/selanjutnya-yang-kedua-bukan-saja.html' title='Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dABnvsGiUVc/TmK7ZNP9KSI/AAAAAAAAA8A/F_sYNvAJh5A/s72-c/images%2B%25282%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7557595585040151686</id><published>2011-09-03T16:36:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T16:40:09.558-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-KW3Cl7CW6M8/TmK6n7Jm3mI/AAAAAAAAA74/5JwoNvVRHDQ/s1600/images%2B%25281%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 281px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-KW3Cl7CW6M8/TmK6n7Jm3mI/AAAAAAAAA74/5JwoNvVRHDQ/s400/images%2B%25281%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648282077731675746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita akan melihat dan belajar tentang kisah iman yang luar biasa dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ketika mereka menghadapi ujian dan pencobaan dalam hidupnya.  Dikisahkan waktu itu raja Nebudkanezar yang terkenal sangat sombong (yang acapkali menganggap dirinya adalah Allah) sedang membuat patung yang besar, yang terbuat dari emas, yang kemudian dianggapnya sebagai dewa.  Lalu dia mengumpulkan semua petinggi-petinggi baik kelas nasional, maupun kelas daerah, semua dipanggil untuk datang ke pentahbisan patung itu.  Diumumkanlah bahwa semua pejabat dan para petinggi itu harus menyembah kepada patung itu ketika bunyi sangkakala, kecapi, gambus, dsb dibunyikan.  Mungkin tujuan Nebudkanezar adalah supaya di tengah negara yang begitu besar dan beragam, ada satu hal yang menjadi pengikat dan pemersatu mereka yaitu patung yang besar itu.  Karena itulah semua pemimpin negara dan pejabat daerah sampai kebendahara-bendahara daerah wajib menyembah patung yang sama.  Jika pemimpin sudah diatur demikian rupa, dapat diperkirakan sudah pasti rakyatnya akan lebih mudah ditangani dan disatukan.  Oleh sebab itu hukuman bagi mereka yang tidak menyembah patung itu adalah mereka akan dibakar dalam perapian yang menyala-nyala.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita dilaporkanlah kepada raja bahwa ada tiga orang Yahudi yang tidak tunduk terhadap perintah raja.  Dan sudah pasti respon Nebudkanezar waktu itu menjadi marah besar, dipanggilnyalah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk menghadap.  Di depan sidang pengadilan, raja menitahkan mereka bertiga untuk membuktikan bahwa perkataan orang yang melapor itu salah.  Mereka diminta untuk segera menyembah patung itu di depan orang banyak.  Tentu saja keadaan ini sangat memojokkan Sadrak, Mesak, dan Abednego.  Ketidak taatan untuk tidak menyembah patung dengan jelas hukumannya adalah mati.  Tapi dengan menyembah patung itu, jelas juga bahwa mereka melanggar hukum kedua dari 10 hukum yang berkata “janganlah kamu menyembah patung yang menyerupai apapun juga”.  Disinilah iman mereka diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, di tengah mengalami dilema yang sukar itu, mereka memilih untuk tetap beriman kepada Tuhan.  Iman seperti apa? Mari kita fokus pada kalimat di ayat 16-18 “Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.  Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang pertama, yang dapat kita pelajari adalah mereka punya keyakinan dan kepercayaan yang kuat bahwa Tuhan berkuasa untuk menolong mereka dari segala persoalan  yang mereka alami&lt;/span&gt;.  Dalam perkataannya mereka berkata bahwa: Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala.  Secara logika memang seakan akan mereka sudah tidak ada jalan keluar.  Kepastian yang terjadi hanya satu: yaitu mati terpanggang dalam perapian itu.  Hukuman mati sudah jelas-jelas ada dihadapan mereka.  Tapi iman mereka mengatakan bahwa Tuhan pasti sanggup melepaskan kami dari segala permasalahan kami.  Mereka tidak mengatakan “Mati mi sudah.... inilah akhir hidup kami....”  Tidak!  Dalam pikiran mereka Allah yang mereka sembah adalah Allah yang mahakuasa, yang sanggup melakukan segala perkara.  Bagi mereka tidak ada sesuatu apapun yang mustahil bagi Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya keyakinan ini bukan iman yang buta, yang asal percaya tanpa ada dasar.  Saya yakin mereka sudah mendengar begitu banyak karya Tuhan di masa lampau bagi umat Israel.  Mereka tahu bagaimana Tuhan pernah dengan kuasanya  memberikan seorang anak kepada Abraham ketika ia sudah berusia 100 tahun.  Mereka tentu tahu bagaimana Tuhan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dengan tulah-tulah yang mengerikan.  Mereka tahu bahwa umat Israel pernah berjalan di tengah-tengah laut terberau yang terbelah dua.  Mereka tahu bagaimana Tuhan memimpin Israel melewati padang gurun dengan tiang api dan tiang awan.  Mereka tahu bagaimana dengan kekuatan Tuhan tembok Yerikho yang begitu kokoh dapat dihancurkan.  Dan banyak lagi kejadian masa lalu yang menunjukkan kuasa Tuhan.  Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Karena itu ketika mereka mendapatkan tekanan dan cobaan, iman mereka jelas mengatakan bahwa Tuhan pasti mampu membawa mereka keluar dari kesulitan ini.  Mereka yakin bahwa Tuhanpun sanggup melepaskan mereka dari kesusahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah iman yang harus kita pelajari, yaitu iman yang meyakini bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan yang mahakuasa dan sanggup menolong kita dengan cara-caranya yang ajaib.  Seorang yang pernah saya kenal pernah mengalami hal ini: teman saya berasal dari keluarga sederhana.  Ketika ia dipanggil Tuhan ia memutuskan untuk masuk seminari dengan bantuan beasiswa dari orang lain.  Karena ia sudah berkeluarga maka ia diwajibkan tinggal di luar.  Maka uang yang ia miliki habislah terpakai untuk mengontrak rumah kecil yang berlokasi di tempat terpencil.  Ia punya dua anak yang masih kecil.  Yang satu sudah mau masuk sekolah, sedangkan yang satu lagi baru saja lahir.  Uangnya sudah habis untuk biaya sekolah anaknya dan biaya melahirkan.  Ia tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli susu anaknya.  Dia bingung, tak berdaya.  Lantas ia berdoa, menangis dihadapan Tuhan.  Teman saya tidak pernah mau menceritakan masalahnya kepada kami.  Ia sungkan untuk menceritakannya karena taku terkesan meminta-minta uang.  Tapi apa yang terjadi, keesokan harinya setelah ia berdoa, di box (locker) nya tiba-tiba ada sebuah amplop yang tidak tau siapa pengirimnya, tapi di dalamnya ada uang dengan tulisan: ini uang untuk susu.  Bayangin saudara, ia tidak cerita siapa-siapa, tiba-tiba saja ada orang yang memberikan amplop yang sesuai dengan kebutuhannya.  Kalau bukan keajaiban Tuhan apa lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai yang mahakuasa.  Ia berkuasa menolong kita dengan cara-caranya yang tak terpikirkan.  Bahkan kadang dengan cara yang tidak masuk di logika kita.  Ingat: Apa yang tampak tidak mungkin bagi kita itu mungkin bagi Tuhan.  Acapkali kita memiliki iman yang terlalu ‘kerdil’.  Ketika kita menghadapi masalah, kita tau Tuhan berkuasa, tapi kita tidak sungguh yakin bahwa Tuhan dapat menolong kita.  Mungkin kita berdoa, tapi sesungguhnya hati kita lebih mengandalkan pertolongan dari manusia atau kemampuan kita.  Kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan dapat mengatasi segala persoalan kita.  Itulah iman yang ‘kerdil’.  Iman yang dibatasi oleh keraguan dan ketidak percayaan.  Ingatlah saudara, Tuhan kita mahakuasa, Ia sanggup menolong kita dari pergumulan yang paling rumit sekalipun.  Saat ini saya tidak tahu apa yang menjadi pergumulan saudara-saudara yang ada di tempat ini.  Mungkin saudara sedang mengalami pergumulan yang sangat rumit, yang seakan-akan tidak ada jalan keluar.  Sudah bertahun-tahun saudara menggumulkan persoalan tersebut, tapi seakan-akan Tuhan tidak menjawabnya.   Jika saudara sedang berada di posisi itu saat ini, tetaplah beriman kepada Tuhan dengan kepercayaan yang total, tanpa meragukan sedikitpun akan kuasanya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7557595585040151686?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7557595585040151686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7557595585040151686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7557595585040151686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7557595585040151686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/iman-ditengah-api-pencobaan-daniel-3-2.html' title='Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-KW3Cl7CW6M8/TmK6n7Jm3mI/AAAAAAAAA74/5JwoNvVRHDQ/s72-c/images%2B%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1492718954704950586</id><published>2011-09-03T16:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T16:35:39.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harapan Dan Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-MslSqiubh0c/TmK5oN19qtI/AAAAAAAAA7w/K04VcatuXIc/s1600/Faith_bigger.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-MslSqiubh0c/TmK5oN19qtI/AAAAAAAAA7w/K04VcatuXIc/s400/Faith_bigger.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648280983237929682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita orang Kristiani selain dikenal sebagai anak-anak Tuhan, kita juga dikenal sebagai orang-orang percaya / orang-orang beriman.  Mengapa demikian?  Karena sikap beriman merupakan salah satu ciri khas orang Kristen yang&lt;br /&gt; harus di miliki oleh semua orang Kristen.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun iman seperti apa?  Kata ‘iman’ saat ini terlalu mudah diucapkan tanpa kita memahami artinya dengan baik dan tepat.  Bahkan menjadi kata yang teramat mudah dan murah diucap-ucapkan hingga terkadang menimbulkan kesan diobral.  Padahal iman tidaklah sesederhana dan semudah seperti yang diucapkan.  Ada seorang ibu yang mendatangi seorang pendeta untuk berkonsultasi dan ia berkata “pak, mengapa anak saya suka sekali bertanya tentang Tuhan, dosa, keselamatan, dsb?”  Kemudian pendeta itu jelaskan mengapa itu terjadi, dan ibu itupun menutup percakapan dengan perkataan demikian “Memang anakku satu itu tidak beriman seperti kakaknya yang rajin ke gereja tanpa pernah mempertanyakan ini dan itu.”   Bagi ibu ini anak yang banyak tanya itu tidak beriman.  Sebaliknya anak yang banyak diam dan rajin mengikuti kegiatan agama itulah orang beriman.  Apakah benar demikian?  Saya juga pernah mendengar seorang pengusaha kristen yang mendapat kesempatan berbicara didepan mimbar berkata demikian: “mengapa saya bisa berhasil?  Karena saya beriman.  Kalau kalian sampai saat ini belum mencapai keberhasilan dan kesuksesan, coba cek, apakah kalian sudah sungguh beriman kepada Tuhan?”  Dengan demikian pengusaha menganggap orang yang beriman itu pasti kaya raya.  Pernah juga ketika kami sedang mengunjungi seorang remaja yang sedang terbaring sakit.  Tiba-tiba datang seorang ibu masuk dan bertanya: apakah yang sakit ini orang Kristen?  Kami menjawab iya.  Kemudian dia melihat-lihat anak remaja itu dan berkata, “kamu terlalu banyak dosa.  Karena itulah kamu sakit.  Kamu suka melawan orangtua, kamu tidak sungguh-sungguh menyembah Tuhan, dan kamu tidak beriman kepada Tuhan.  Sini saya doakan”  Dengan kata lain ibu ini mau mengatakan orang yang beriman itu tidak boleh sakit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya benarkah semua itu dapat kita sebuh sebagai iman?  Benarkan orang yang beriman harus sehat dan tidak pernah sakit?  Benarkah orang yang beriman itu tidak boleh meragukan dan mempertanyakan apa yang ia percaya?  Kalau kita mau melihat pendapat orang banyak, kita akan menemukan bahwa ada begitu banyak konsep tentang iman yang berbeda, bahkan ada yang saling bertentangan.  &lt;br /&gt;Jadi sebenarnya apa itu iman?  Asal kata iman ini berakar dari kata ‘pistis’ yang berarti percaya.  Saya kira definisi iman menurut R.C. Sproul cukup baik.  Ia mengatakan bahwa iman itu dalam istilah sederhana berarti “Sikap percaya kepada Allah untuk sesuatu hal di masa yang akan datang berdasarkan iman kita pada apa yang telah dicapai oleh Allah pada masa lampau”.  Iman adalah sikap percaya kepada Allah untuk sesuatu hal yang akan terjadi di masa depan yang sama sekali tidak kita ketahui.  Tapi percayanya tentu bukan percaya buta, yang asal percaya tanpa tahu apa yang dipercaya.  Sebaliknya percaya yang didasarkan janji-janji dan bukti karya-karya Allah disepanjang sejarah kehidupan manusia.  Sama seperti waktu saya pertama kali dibawa papa saya naik sepeda motor.  Awalnya saya takut sekali.  Saya khawatir, bagaimana kalau saya jatuh dsb.  Tapi saya percaya sama papa saya.  Tidak asal percaya, tapi ada dasar yang kuat.  Pertama karena papa saya sudah janji bahwa saya akan baik-baik saja.  Kedua saya sendiri sudah sering melihat bukti bahwa papa saya sering mengendarai sepeda motor, bahkan ia sering membonceng koko saya kemana-mana.  Janji dan bukti-bukti inilah yang kemudian membuat saya berani untuk naik motor bersama papa saya, walaupun untuk pertama kali naik motor saya tutup mata di sepanjang jalan hanya memeluk badan papa saya.  Tapi itulah iman, iman adalah sikap percaya terhadap sesuatu yang lebih berkuasa dari pada kita, berdasarkan janji dan bukti yang pernah ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya percaya ini bukan hanya to believe melainkan to trust.  Bukan hanya percaya kepada Tuhan tetapi mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan.  Percaya itu gampang, misal: Anda percaya kalau saya orang jujur? Percaya.  Gampang kan.  Sekarang bagaimana kalau anda menitipkan semua harta uang tabungan saudara kepada saya? Tidak segampang perkataan pastinya.  Ketika kita berkata beriman kepada Tuhan itu berarti kita belajar untuk mempercayakanan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan bukan sekedar percaya di mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan, iman kita akan sangat teruji ketika kita harus menghadapi masa-masa sukar.  Karena pada umumnya seseorang dapat sungguh-sungguh percaya ketika ujian dan pencobaan sedang menghadang dirinya. Yakobus sendiri berkata “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”  Yakobus menyamakan pencobaan dengan ujian terhadap iman.  Dan ketika iman kita di uji melalui pencobaan, dari situlah akan menghasilkan kesempurnaan dalam iman kita.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1492718954704950586?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1492718954704950586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1492718954704950586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1492718954704950586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1492718954704950586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/09/iman-ditengah-api-pencobaan-daniel-3-1.html' title='Iman Ditengah Api Pencobaan (Daniel 3) # 1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-MslSqiubh0c/TmK5oN19qtI/AAAAAAAAA7w/K04VcatuXIc/s72-c/Faith_bigger.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1800045362181815978</id><published>2011-08-24T17:57:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T18:01:45.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-WCbGmbJzHbk/TlWe86dgJnI/AAAAAAAAA7o/VZBElefLFXo/s1600/danielbiblestory.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 333px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WCbGmbJzHbk/TlWe86dgJnI/AAAAAAAAA7o/VZBElefLFXo/s400/danielbiblestory.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644592477301122674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya di tengah-tengah usianya yang masih sangat hijau, ternyata dikatakan bahwa Daniel beketetapan hati untuk tidak menyantap makanan raja.  Kata berketetapan ini sama dengan bertekad dari hati yang paling.  Dengan kata lain, ia lebih memilih untuk taat kepada Tuhan dari pada manusia.  Ia memilih untuk menyukakan Tuhan daripada menyukakan hatinya.  Dan ia memilih untuk keluar dari zona aman demi melakukan sesuatu yang benar.  Singkat cerita akhirnya Daniel dkk memilih untuk memakan sayur-sayuran dan tidak menyentuh makanan raja.  Awalnya penjenangnya tidak mengijinkan karena jika perihal itu ketahuan oleh Raja Nebudkanezar, maka kemungkinan hukuman mati bukan hanya di alami oleh Daniel dkk, tapi tentunya penjenang itu juga akan dihukum berat karena melawan titah raja.  Setelah sepakat bersama akhirnya mereka memutuskan untuk melakuakn pencobaan selama 10 hari.  Daniel dkk memakan sayur mayur, sementara teman-teman yang lain memakan daging-dagingan makanan milik raja.  Secara logika jelas para pemakan daging akan lebih gemuk, lebih sehat, dan berenergi kan?  Tapi Alkitab dengan jelas menggambarkan sebaliknya, Daniel dkk jauh lebih subur dan diberkati Tuhan.  Mengapa bisa?  Jelas karena Tuhan berkenan terhadap hambanya yang setia, yang hidup takut akan Tuhan, yang senantiasa memegang komitmennya untuk tetap berada di jalur yang benar.  Bagi Tuhan sebuah komitmen dan kesetiaan itu jauh lebih baik daripada daripada semua pelayanan kita.  Ketaatan kepada perintah Tuhan jauh lebih penting daripada semua talenta kita.  Tuhan berkenan terhadap orang-orang yang setia yang penuh dengan komitmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang CEO hendak mewariskan perusahaan besar kepada karyawan terbaiknya. Untuk itu ia memanggil seluruh karyawannya, memberikan masing² sebutir BENIH di tangannya dan berkata, "Sirami dengan teratur, rawat, dan kembalilah setahun dari sekarang dengan membawa tanaman yang tumbuh dari benih ini. Yang TERBAIK, pemiliknya akan menjadi penggantiku sebagai CEO perusahaan ini. Seorang karyawan, Rahmat, pulang ke rumah. Setiap hari disiraminya dengan air dan pupuk. Setelah 6 bln, di kantor, eksekutif lainnya saling membicarakan tanaman mereka, sedangkan Rahmat melihat TIDAK ADA PERUBAHAN yang terjadi pada benih miliknya. IA MERASA GAGAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setahun, seluruh eksekutif menghadap CEO, memperlihatkan hasil benih tersebut. Rahmat berkata pada istrinya bahwa ia tdk akan membawa pot yang kosong... ia tergoda untuk mengganti benihnya itu dengan benih yang lain.  Namun istrinya mendorongnya untuk menyatakan yang sebenarnya.   Rahmat menyadari bahwa istrinya menyarankan HAL YANG BENAR.  Tuhan tidak suka jika ia berbuat curang dan tidak jujur.  Memasuki ruangan meeting, Rahmat membawa sebuah pot kosong. Seluruh mata memandangnya kasihan.  Ketika Sang CEO memasuki ruangan, ia memandang keindahan seluruh tanaman itu, hingga akhirnya berhenti didepan Rahmat yang tertunduk malu. Sang CEO memintanya ke depan dan menceritakan TRAGEDI yang menimpanya.  Ketika ia selesai bercerita, Sang CEO berkata, "berikan tepuk tangan yang meriah untuk Rahmat, CEO yang baru". Ia berkata, “Aku memberikan kepada kalian sebutir benih yang sebelumnya TELAH KUREBUS DI AIR PANAS hingga mati dan tidak mungkin untuk tumbuh. Melihat bahwa benih itu tidak tumbuh, kalian menukarnya dan berbohong kepadaku. Lain halnya dengan Rahmat, dia mau berkata yg sebenarnya terjadi.  Akhirnya perusahaan besar itu diwariskan kepada Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah kitapun tetap menjaga komitmen kita sebagai anak-anak Tuhan ketika menjalani kehidupan di dunia ini.  Berkat Tuhan diberikan kepada barangsiapa ia berkenan.  Mungkin berkat-berkat itu tidak terlihat saat ini, dan bahkan mungkin kita merasa orang-orang yang hidup tidak setia jauh lebih diberkati Tuhan.  Namun ingat, pada akhirnya nanti, barangsiapa yang senantiasa menjaga komitmennya di hadapan Tuhan untuk setia, merekalah yang diangkat Tuhan jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak lagi setia.  Karena itu dalam dilema apapun yang kita hadapi saat ini, mari kita belajar untuk memilih apa yang menjadi kesukaan Tuhan.  Entah itu disekolah, di gereja, di tempat usaha kita, di lingkungan sekitar, juga di keluarga kita, mari kita belajar untuk hidup menjaga komitmen kita sehari-hari, yaitu komitmen untuk hidup bagi Tuhan, menyenangkan Tuhan, bahkan walaupun harus mengorbankan diri kita, mari kita tetap setia dan memegang komitmen kita dihadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1800045362181815978?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1800045362181815978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1800045362181815978&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1800045362181815978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1800045362181815978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/08/menghadapi-dilema-dalam-kehidupan_4886.html' title='Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-WCbGmbJzHbk/TlWe86dgJnI/AAAAAAAAA7o/VZBElefLFXo/s72-c/danielbiblestory.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2227676722273910423</id><published>2011-08-24T17:52:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T17:55:56.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9vt5fXXDaxQ/TlWdiqCZN9I/AAAAAAAAA7g/98QzKIb451w/s1600/scan0029.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 330px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9vt5fXXDaxQ/TlWdiqCZN9I/AAAAAAAAA7g/98QzKIb451w/s400/scan0029.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644590926704228306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh Alkitab yang baru kita baca juga pernah menghadapi dilema yang berat dalam hidupnya.  Dilema apa itu?  Mari kita bayangkan bersama.  Waktu itu negara Israel baru saja kalah perang oleh negeri Babel dan semua rakyat, baik petinggi, baik rakyat kecil semuanya diangkut ke negeri Babel.  Semua orang yang melawan langsung dibunuh, sedangkan orang yang mau ikut aturan akan diangkut ke negeri Babel.  Tentunya mereka di ajak kenegeri Babel bukan sebagai orang bebas, tapi sebagai tawanan yang harus bekerja bagi orang-orang Babel.   Dan tentunya juga mereka tidak memiliki hak yang sama dengan warga Babel.  Mereka hidup tidak merdeka.  Mungkin sama seperti sewaktu bangsa kita dijajah oleh negeri Belanda.  Kita yang punya kekayaan, kita yang disuruh kerja keras, tapi mereka yang menikmati hasilnya.  Orang-orang Indonesia tidak memiliki hak senyaman orang-orang Belanda yang menjajah kita.  Mereka bisa berbuat apa saja sesuka hati mereka.  Mungkin ini sedikit gambaran keadaan Israel waktu itu.  Betapa mereka hidup di zaman yang susah dan berat.  Mungkin itu masa terberat sepanjang perjalanan kehidupan bangsa Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Daniel hidup di zaman seperti ini.  Dia adalah salah satu masyarakat tawanan yang tidak memiliki hak apapun juga.  Singkat cerita, dari negeri Babel hendak mencari orang-orang dari berbagai macam daerah untuk dapat dipakai dalam pemerintahan.  Alkitab menuliskan “ Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,  yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kira ini taktik yang cerdas dari orang-orang Babel.  Mereka mencari anak-anak muda (kalau menurut penafsir masih berusia dibawah 15 tahun), mengapa?  Karena orang-orang ini mudah dibentuk dan diajar, dan mereka jarang melawan. Tahun lalu saya melayani di komisi pemuda, dan tahun 2011 ini saya melayani di komisi remaja.  Kalau di Pemuda untuk memutuskan sesuatu kita harus bahas bersama dulu, berdiskusi, banyak perdebatan, baru mencapai suatu keputusan.  Kita tidak bisa langsung mempengaruhi orang karena mereka sudah punya prinsip-prinsip tersendiri.  Namun ketika memegang remaja caranya berbeda.  Hampir 90 % mereka mengikuti apa yang pembinanya katakan tanpa memperdebatkan ini dan itu.  Anak remaja masih mudah dibentuk dan diatur.  Karena itulah raja Babel mencari anak-anak yang demikian untuk dibentuk.  Terus mereka mencari anak-anak keturunan raja dan bangsawan, yang memiliki banyak talenta agar dapat dipakai untuk mengembangkan Babel.  Dan saya kira mereka berharap ketika para tawanan ini sudah dibentuk sedemikian rupa, dan ketika dewasa mereka mulai menganggap bangsa Babel adalah bangsanya sendiri, mereka-mereka ini yang akan diperalat untuk menguasai rakyat bangsa mereka masing-masing.  Dengan demikian pemerintah akan lebih mudah mengatur para tawanan yang bukan berasal dari daerahnya.  Raja Babel sangat pintar dalam mempersiapkan strategi yang jitu seperti ini.  Karena itulah diadakan Babel Got Talent, untuk merebut talent-talent muda dari berbagai negara, salah satunya Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel adalah salah satu dari para remaja yang terpilih.  Ia bersama Sadrakh, Mesakh, Abednego, merupakan orang-orang yang dipersiapkan untuk masuk dalam pemerintahan.  Semuanya tampak baik-baik saja.  Tentunya sebagai anak remaja mereka bangga bisa masuk dalam pemerintahan, walaupun status mereka masih sebagai tawanan.  Namun sampai suatu ketika ada peraturan yang mengejutkan dimana raja meminta agar semua anak-anak remaja itu diwajibkan untuk menyantap makanan dan minuman yang biasa disantap raja.  Saya membayangkan banyak anak remaja yang bergirang karena membayangkan makanan raja yang tentunya lezat-lezat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi Daniel dan Sadrakh, Mesakh, Abednego ini merupakan sebuah dilema yang sukar.  Mengapa?  Karena bagi mereka memakan makanan dan minuman raja itu berarti ketidaktaatan kepada Allah.  Bagaimana mungkin?  Pertama, dalam makanan orang Babel biasa terdiri dari daging babi dan kuda.  Dan daging-daging itu merupakan daging-daging yang dilarang oleh hukum Taurat untuk dimakan.  Kedua, orang Yahudi dilarang memakan darah (Im. 3:17;17: 10-14).  Namun hal itu tidak dilarang di Babel.  Ada kemungkinan mereka juga memakan darah binatang.  Dan point ketiga yang sangat penting juga karena biasanya makanan tersebut merupakan makanan yang dipersembahkan kepada dewa orang Babel.  Jika ada orang yang memakannya, itu menunjukkan bahwa ia tunduk dan menyembah kepada dewa tersebut.  Tentu saja hal itu tidak menyukakan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disisi lain kalau mereka tidak memakannya maka beberapa resiko yang akan dihadapi antara lain:  pertama, mereka tidak tau apa yang harus mereka makanan.  Dan tentunya mereka harus memakan makanan yang berkualitas lebih rendah dari makanan raja.  Kedua, saya kira mereka akan kehilangan jabatan mereka di pemerintahan dan kembali hidup sebagai budak karena tidak memenuhi syarat.  Dan lebih berat lagi karena (ketiga) harus diingat bahwa ini adalah perintah raja Nebudkanezar.  Menolak perintah raja akan mendatangkan hukuman mati atas diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Daniel dkk mengalami dilema yang sangat.  Apalagi usia mereka masih remaja, yaitu usia dimana seseorang masih begitu mudah terombang-ambing.  Mereka bingung haruskah mereka mengikuti kenikmatan dunia, atau mentaati Tuhan.  Apakah mereka harus setia kepada raja atau setia kepada Tuhan.  Apakah mereka harus mengambil zona aman untuk menyelamatkan nyawa mereka dengan memakannya, atau memilih untuk menaruh hormat kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kalian diperhadapkan dengan dilema seperti ini kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Tentunya zaman sekarang sudah tidak berbicara soal makanan minuman.  Tapi tetap dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan di dunia ini kita tidak akan lepas dari dilema-dilema semacam ini.  Misalkan atasan menawarkan kenaikan gaji asalkan kalian melakukan tindakan-tindakan yang kalian tahu persis bahwa itu tidak benar.  Atau lebih parahnya, anda dipaksa melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip Alkitab, karena jika tidak melakukannya anda akan dipecar dari perusahaan.  Apa yang anda lakukan?  Atau misalkan sahabat atau teman kita meminta kita untuk berbohong terhadap sesuatu hal, yang membuat kita bingung karena jika tidak melakukannya bisa jadi hubungan kita dengan sahabat kita menjadi retak.  Apa yang akan kita pilih?  Menyukakan sahabat kitakah?  Atau mungkin keluarga kita atau orang terdekat (entah itu sahabat atau pacar kita) sendiri yang meminta kita melakukan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, yang jelas-jelas hal itu tidak menyukakan hati Tuhan.  Dan semua itu menghasilkan dilema-dilema yang membingungkan.  Apa yang menjadi keputusan kita?  Menyukakan hati manusia atau menyukakan hati Tuhan?  Mengikuti kata hati kita, perasaan aman kita, atau berani mengambil resiko yang besar dengan menjalani ketaatan terhadap Firman Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2227676722273910423?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2227676722273910423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2227676722273910423&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2227676722273910423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2227676722273910423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/08/menghadapi-dilema-dalam-kehidupan_24.html' title='Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9vt5fXXDaxQ/TlWdiqCZN9I/AAAAAAAAA7g/98QzKIb451w/s72-c/scan0029.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1707081822293713790</id><published>2011-08-24T17:46:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T17:50:24.391-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-onF6QBkuuBw/TlWb0BRySKI/AAAAAAAAA7Y/aALTfGq3EJQ/s1600/2007060151gestion_dos_caminos_dilema.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-onF6QBkuuBw/TlWb0BRySKI/AAAAAAAAA7Y/aALTfGq3EJQ/s400/2007060151gestion_dos_caminos_dilema.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644589025977321634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat,  ada seorang anak kecil yang masih berusia 3 tahun.  Seperti biasanya yang namanya anak kecil mereka suka sekali menyantap makan-makanan yang manis-manis, goreng-goreng, serta segala macam jenis kerupuk.  Dan makanan-makanan seperti itu tidak jarang membuat anak-anak menjadi batuk dan sakit tenggorokan.   Dan karena itulah kita sering mendengar para orang tua berkata demikian “Ga boleh minum es / makan krupuk / makan coklat dulu ya, nanti batuknya ga sembuh-sembuh”.   Anak 3 tahun tersebut juga dilarang demikian oleh mamanya karena ia sedang batuk.  Namun suatu ketika, saat ia sedang asyik main, ia melihat di atas meja makan terpajang sebuah krupuk udang favoritnya.  Anak ini terus melihat kearah kerupuk itu.  Ia mulai menorehkan pandangannya ke kiri, ke kanan, dan dilihatnya bahwa mamanya tidak ada di sekitar, ia pun mulai mendekati meja makan.  Sampai meja makan ia teringat akan perkataan mamanya “Ingat ya ko, kamu batuk, ga boleh makan kerupuk dulu.”  Tapi dia bingung karena didepan mata sudah ada krupuk favoritnya.   Ia mengalami dilema antara apakah harus mentaati perintah orangtuanya, ataukah mengikuti keinginan hatinya.  Sekali lagi ia melirik kekiri dan ke kanan, dan sekali lagi ia tidak menemukan mamanya ada di sekitarnya.  Dan kemudian dia membuka toples itu perlahan-lahan dan iapun memilih untuk memakan kerupuk itu.   Sembari memakannya, iapun mulai menutup toples itu perlahan, dan perlahan meninggalkan meja makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu dia mau pergi tiba-tiba mamanya keluar dari dalam kamar, dan terheran melihat anaknya sedang mengunyah sesuatu.  Mamanya langsung melihat meja makan dan menemukan toplesnya sudah longgar terbuka.  Dan bukti paling kuat ada pada remah-remah krupuk yang hinggap bercemotan dipipinya.  Tapi mamanya cukup bijak, ia tidak mau langsung menuding anaknya, dan iapun bertanya “koko makan apa itu”.  Ditanyai seperti itu langsung anak 3 tahun ini kebingungan untuk menjawabnya.  Ia tau mamanya akan marah jika tau kalau ia makan kerupuk yang ada di atas meja.  Tapi sekolah minggu mengajarkan dia untuk tidak boleh berbohong.  Jadi anak ini mengalami dilema yang kedua.  Dia berpikir-dan berpikir, dan kemudian ia menjawab “saya makan Cuma dikit kok ma”.  Ditanya makan apa, jawabnya cuman dikit; tidak nyambung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dilema-dilema yang sering dihadapi oleh seorang anak kecil.  Dilema antara mengikuti kata mamanya ataukah mengikuti keinginan hatinya.  Dilema antara mengikuti kata guru sekolah minggunya, atau mengikuti perasaan takutnya.  Mungkin kita sering melihat kejadian seperti ini dan kita tersenyum melihat tingkah anak-anak seperti demikian.  Tapi sadarkah bahwa dalam hidup kitapun ada banyak dilema-dilema yang acapkali membingungkan kita?   Entah itu dalam keluarga, pekerjaan, kehidupan pribadi, dan bagian-bagian lain dalam kehidupan ini, ada banyak dilema yang harus kita hadapi setiap hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sebagai seorang anak Tuhan maka goncangan akibat dilema itu akan semakin besar kita rasakan.  Mengapa?  Karena dunia membenci anak-anak Tuhan.  Alkitab dengan jelas mengatakan hal ini.  Yoh 15:19 “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.”  Yoh 17:14 “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.”  1Yoh 3:13 “Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.”  Dunia ini adalah dunia yang dikuasai dosa, dan ia tidak suka dengan sesuatu yang tidak sejalan dengannya.  Karena itulah dunia membenci Tuhan, dan jelaslah juga bahwa duniapun membenci kita yang adalah anak-anak Tuhan.  Sama seperti si A memusuhi si B.  Si A benci sekali sama si B.  Maka istrinya, anak-anaknya, semua yang berhubungan dengan dia akan ikut dibenci sama si A.  Atau sama seperti kita benci sama tikus.  Gak peduli itu anak tikus, istrinya tikus, atau baby tikus, tetap kita akan ga suka.  Begitu juga dengan dunia.  Karena dunia membenci Tuhan, maka dunia juga membenci kita anak-anak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah si jahat yang berasal dari dunia ini akan terus menggoda, mencobai, dan terus berusaha menggocoh kita untuk jatuh dalam dosa dan perlahan meninggalkan kesetiaan kepada Tuhan.  Kita akan diperhadapkan dengan dilema-dilema dalam setiap aspek kehidupan kita, antara ketaatan kepada Tuhan ataukah ketaatan kepada dunia.  Dilema antara mengikuti keinginan hati atau mengikuti keinginan Tuhan.  Dilema antara mengikuti sesuatu yang benar, atau berjalan berdasarkan perasaan kita.  Dilema antara menyenangkan hati Tuhan atau menyenangkan hati manusia.  Tentunya kita semua tau jelas bahwa kita harus mengikuti kehendak Tuhan, tapi jujur saja bukankah seringkali dalam menghadapi kenyataannya kita lebih sering mengikuti maunya dunia?  Magnet dunia tampak begitu kuat mempengaruhi kita.  Bagaimana tidak?  Karena kita tinggal di dunia ini.  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1707081822293713790?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1707081822293713790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1707081822293713790&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1707081822293713790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1707081822293713790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/08/menghadapi-dilema-dalam-kehidupan.html' title='Menghadapi Dilema Dalam Kehidupan Kristiani (Daniel 1) # 1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-onF6QBkuuBw/TlWb0BRySKI/AAAAAAAAA7Y/aALTfGq3EJQ/s72-c/2007060151gestion_dos_caminos_dilema.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-6783236941854486767</id><published>2011-08-14T09:55:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T10:03:56.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Just Give Thanks (Filipi 4:4)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qiHAnzXDagk/Tkf_BPeYTuI/AAAAAAAAA7I/26CRQlqkxU0/s1600/give%2Bthanks.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qiHAnzXDagk/Tkf_BPeYTuI/AAAAAAAAA7I/26CRQlqkxU0/s400/give%2Bthanks.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640757455103741666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ada seorang guru memberi tugas kepada anak-anak yang diajarnya, “Anak-anak sekarang tugas kalian adalah menuliskan 7 Keajaiban Dunia yang kalian ketahui saat ini. Tuliskan itu diselembar kertas!” Sesaat sebelum bel pulang berbunyi, semua siswa bergegas mengumpulkan tugas mereka kemeja guru. Semuanya mengumpulkan dengan penuh semangat, kecuali seorang gadis kecil yang pendiam; kelihatannya dia ragu-ragu untuk mengumpulkan tugasnya.  Malam hari, si guru memeriksa tugas para murid untuk memberi nilai. Meskipun berbeda urutannya, tetapi pada umumnya siswa mendaftarkan 7 keajaiban dunia ini: (1) Piramid; (2) Tajmahal; (3) Tembok Besar Cina; (4) Menara Pisa; (5) Kuil Angkor; (6) Menara Eifel; dan (7) Kuil Parthenon.  Sudah hampir semua kertas diperiksa dan jawaban yang didapatkannya tidak jauh berbeda, hanya urutannya saja yang berbeda. Namun ia tertegun ketika sampai lembar yang terakhir, yang adalah milik gadis kecil yang dikenalnya sebagai remaja yang pendiam itu. Anak itu memberikan daftar 7 Keajaiban Dunia yang sangat berbeda dengan teman-temannya: (1) Bisa melihat; (2) Bisa mendengar; (3) Bisa menyentuh; (4) Bisa disayangi; (5) Bisa mengecap; (6) Bisa tertawa; (7) Bisa mencintai. Tujuh keajaiban Dunia versi gadis kecil itu membuat sang guru terdiam. Ia menyimpan semua lembaran kerja para muridnya, kemudian menundukkan kepala dan berdoa. Ia mengucap syukur atas seorang gadis kecil pendiam dikelasnya yang telah mengajarkan akan arti bersyukur kepadanya.  Gadis itu dapat mensyukuri segala sesuatu yang ada padanya shingga ia menyebutkannya sebagai sebuah keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ini banyak orang yang susah untuk mensyukuri kehidupannya.  Apalagi ketika masalah-masalah yang harus dihadapi semakin hari semakin kompleks maka semakin banyak orang yang tidak dapat mensyukuri kehidupannya.  Saya pernah mendengar seseorang berkata demikian “Bagaimana saya dapat bersyukur jika harga barang semua melambung tinggi, usaha makin sepi, anak-anak ga jelas kerja apa, belum lagi banyak sakit penyakit yang menimpa keluarga saya, bagaimana mungkin saya dapat bersyukur?”    Selagi hidup penuh dengan berkat maka akan mudah bagi kita untuk berysukur, namun ketika hidup penuh dengan “sial” maka betapa mudahnya seseorang menggantikan sikap bersyukur itu dengan sikap bersungut-sungut.  Jadi orang miskin ngomongnya “aduh enak ya si acong itu kaya raya, kemana-mana naik mobil, coba saya jadi orang kaya.”  Tapi ada juga orang yang kaya yang tidak bisa bersyukur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itulah ciri manusia, susah sekali untuk mengucap syukur.  Mungkin saudara yang ada disini juga merupakan salah satu orang demikian.  Kalau saudara melihat kehidupan anda belakangan ini, secara jujur apakah kita lebih banyak mengucap syukur atau jangan-jangan kita lebih memilih untuk memelihara perasaan khawatir itu dalam diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak-anak Tuhan semestinya kita harus dapat selalu bersyukur dalam setiap keadaan.  Karena mengucap syukur itu merupakan ciri khas dari pada orang Kristen.  Ketika rasul Paulus berkata dalam ayat yang singkat barusan “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah”  sebenarnya itu berbicara juga tentang mengucap syukur.   Ucapan ini dikatakan kepada jemaat Filipi yang mungkin sedang dalam tekanan pemerintah Romawi pada waktu itu.  Ditengah tekanan-tekanan yang berat itu Paulus meminta orang-orang Filippi untuk bersukacita senantiasa.  Tapi tentunya orang yang tidak dapat bersukacita jika ia tidak dapat bersyukur akan hidupnya bukan?  Sukacita itu berkaitan erat dengan bersyukur.   Orang tidak mungkin dapat bersukacita jika tidak ada rasa syukur dalam hatinya.  Dengan kata lain Paulus ingin berkata kepada jemaat Filipi “walaupun kalian sedang dalam tekanan sekalipun, ayo tetap belajar untuk bersyukur”  Ini adalah sesuatu yang penting sampai-sampai Paulus mengulangi kalimat ini sebanyak dua kali “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah”.  Dengan kata lain, sudah semestinya dalam keadaan apapun juga kita harus tetap dapat mengucap syukur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saudara pernah mendengar lelucon tentang lagu orang Kristen yang dapat gajian.  Diceritakan ada orang Kristen yang suka memuji Tuhan.  Ketika tnggal 1 baru dapat gaji masih nyanyi “Nanananana,...bersyukurlah kepada Tuhan, sebab ia baik-2”....  Tanggal 5 lagunya juga masih girang “Sungai sukacitamu, melimpah dalamku...oh yes...yes.yes.yes”  Masuk tanggal 15 lagunya sedikit lebih pelan “ooh Tuhan pimpinlah langkahku, ku tak brani jalan sendiri.”  Lalu masuk tanggal 20 lagunya makin pelan “Ku tahu Tuhan pasti buka jalan, kutahu Tuhan pasti buka jalan...”  Terakhir waktu masuk akhir bulan lagunya demikian:  “Ketika aku berbeban berat... kudatang kepada Yesus”  Nah apakah orang Kristen seperti demikian?  Kalau dapat gaji, kalau uang banyak berysukurlah?  Tapi kalau dompet lagi kurus kering tidak dapat bersyukur?  Tidak!  Paulus mengingatkan kepada kita untuk bersyukur senantiasa dalam keadaan apapun juga.  Baik itu dalam keadaan penuh berkat, maupun ketika keadaan susah bahkan sekarat sekalipun kita harus tetap belajar untuk senantiasa bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan saudara di tempat ini?  Ketika pekerjaan lagi banyak masalah; ketika sakit penyakit menghampiri keluarga kita; ketika ada musibah yang menimpa usaha atau kelurga kita; apakah kita masih tetap dapat bersyukur?  Atau kita memilih untuk bersungut-sungut?  Atau jangan-jangan kita marah dan kecewa dengan Tuhan?  Ingatlah Firman Tuhan yang mengatakan bahwa dalam keadaan apapun juga kita harus dapat tetap mengucap syukur.  Bukan hanya pada saat-saat tertentu saja.  Ada sebuah pernyataan indah yang mengatakan:  Bukan karena kita bahagia maka kita dapat bersyukur, justru ketika kita dapat bersyukurlah maka hidup kita akan bahagia.  Kebahagiaan kita bukan tergantung dari apa yang ada di luar kita, tetapi kebahagiaan kita tergantung dari apa yang ada dalam diri kita, yaitu seberapa jauh kita dapat bersyukur dengan keadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Paulus mengatakan kalimat ini, sebenarnya rasul Paulus juga sedang menghadapi masa-masa yang tidak mudah.  Ia tidak sedang melakukan city tour di kota Roma yang begitu eksotik dan indah.  Dia juga tidak sedang mendapatkan sesuatu berkat materi yang berlimpah, sebaliknya Paulus sedang berada di dalam Penjara.  Salah satu tempat dimana seseorang tidak memiliki pengharapan ialah penjara.  Ia sedang dipenjara ketika menuliskan surat Filipi.  Memang penjara zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang.  Namun dari abad- keabad, yang namanya penjara itu merupakan tempat penghukuman.  Karena itu tidak pernah ada penjara yang dapat dikatakan nyaman.  Namun demikian dia tetap dapat bersukacita dalam menghadapi situasi yang dialaminya?  Mengapa demikian, karena saya yakin hidup Paulus limpah akan ucapan syukur, karena itulah dia dapat bersukacita senantiasa walaupun ia dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun harus belajar bersyukur dalam setiap keadaan.  Sebenarnya kalau mau belajar bersyukur janganlah melihat keadaan orang yang ada di atas, tapi selalu lihatlah keadaan orang-orang yang ada di bawah kita.  Jika kita selalu melihat keadaan diatas tidak akan habis-habis.   Karena keinginan kita tidak akan pernah terpuaskan, dan kita tak akan pernah dapat bersyukur.  Namun kalau kita melihat kebawah kita akan menemukan betapa kita adalah orang-orang yang sangat beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah website yang meniliti tentang data-data kekayaan didunia berdasarkan pendapatannya (www.globalrichlist.com), pernah saya mencoba memasukan dengan seandainya gaji yang diterima seseorang adalah Rp.1.000.000, (anggap saja sebagai UMR),  maka orang yang memiliki gaji sedemikian merupakan orang yang ke-1,488,503,335 terkaya didunia.  Dengan kata lain, jika penduduk di dunia saja yang kurang lebih ada 6 milyar manusia, maka orang yang berpenghasilan Rp.1.000.000 perbulannya jauh lebih kaya daripada 4,5 milyar orang didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat dari data-data tersebut maka kita akan menemukan bahwa ada begitu banyak orang yang tidak seberuntung kita.  Karena itu jika saudara mengeluh akan susahnya jalankan usaha anda, ingatlah ada orang-orang yang tidak dapat memiliki usaha sama sekali.  Ketika saudara mengeluh tentang keluarga saudara, ingatlah ada banyak orang yang tidak punya keluarga.  Ketika saudara mengeluh tentang kesehatan saudara, ingatlah bahwa masih banyak yang memiliki tubuh yang cacat dan tidak seberuntung kita.   Kalau kita mengeluh tentang pakaian, ingatlah ada orang yang masih bergantung dengan pemberian orang lain.  Karena itu belajarlah menghargai apa yang kita miliki sekarang.   Bersyukurlah!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-6783236941854486767?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/6783236941854486767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=6783236941854486767&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6783236941854486767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/6783236941854486767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/08/just-give-thanks-filipi-44-1.html' title='Just Give Thanks (Filipi 4:4)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qiHAnzXDagk/Tkf_BPeYTuI/AAAAAAAAA7I/26CRQlqkxU0/s72-c/give%2Bthanks.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3930899492938942291</id><published>2011-08-03T01:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T01:35:05.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Penyesalan Yang Terlambat (Luk 16:19-31) #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YuTH6-uSm-U/TjkICPsalgI/AAAAAAAAA7A/-MHsHPVkILQ/s1600/do-good-deeds.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YuTH6-uSm-U/TjkICPsalgI/AAAAAAAAA7A/-MHsHPVkILQ/s400/do-good-deeds.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636545243296470530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jika kita berbicara tentang penginjilan (sesuai dengan tema gereja kita), maka setiap tindakan kasih kita akan sangat mendukung jalannya penginjilan.   Bahkan seorang pengkhotbah besar pernah berkata bahwa khotbah yang terbaik bukanlah khotbah yang diutarakan di atas mimbar.  Tapi khotbah terbaik adalah khotbah yang berasal dari hidup kita sendiri.  Yaitu hidup yang memancarkan kasih Kristus.  Setiap tindakan kecil kita dapat membawa jiwa-jiwa untuk percaya kepada Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca kesaksian dari seorang yang dulunya pembenci Kristus namun kini bertobat.  Ia terlahir dari sebuah agama yang mengajarkan untuk membenci kekristenan.  Bagi mereka orang Kristen itu adalah orang kafir yang jahat dan harus dibasmi.  Pikiran itu tertanam  dalam dirinya, sehingga ia sangat membenci orang-orang Kristen.  Sampai waktu ia mulai memasuki masa remaja ia mulai beraksi.  Ketika melewati depan rumah seorang pendeta, yang pada waktu itu lagi bersih-bersih halaman rumahnya, dengan sengaja ia menyerempetkan motornya hingga pendeta itu terjatuh.  Tapi diapun juga terjatuh karena kehilangan keseimbangan.  Dan tanpa diduga, pendeta yang terjatuh itu duluan berdiri dan menepuk pundaknya.  Ia tersenyum sambil berkata “Saya tidak apa-apa, bagaimana dengan kamu? Baik-baik saja?”  Anak remaja ini terkejut dan dari sana ia mulai bepikir bahwa orang Kristen itu tidak seperti yang diduga.  Waktu kuliah ia berjumpa lagi dengan temannya seorang Kristen yang sangat baik terhadap dirinya.  Merekapun bersahabat.  Sampai suatu waktu temannya ini mengajak dia mengikuti sebuah kkr yang diadakan dikampus itu.  Ia pun memutuskan untuk mengikutinya sesekali.  Ketika ia menghadiri kkr itu ia mulai tertarik dengan ajaran Kristen yang baginya berbeda dari apa yang ia pelajari selama ini.  Setelah itu temannya yang lain lagi memberikan Alkitab kepada dia.  Pada kesempatan itulah dia seringkali diam-diam membaca Alkitab dirumahnya.  Perlahan-lahan ia mulai mengenal Tuhan.  Dan sampai ketika diadakan lagi kkr oleh seorang hamba Tuhan, akhirnya ia memutuskan untuk percaya dan mengaku Tuhan sebagai juruslamat.  Ketika ia bersaksi dalam buku yang saya baca: ia mengatakan bahwa ia bertobat bukan hanya karena pendeta yang memberi kkr terakhir dan membuat ia bertobat.  Tapi ia bertobat karena ada pendeta yang tersenyum ketika ia berusaha menyakitinya, karena ada juga sahabat Kristennya yang begitu baik dan menyatakan kasih kepadanya, karena ada juga orang yang bermurah hati yang mau memberikannya sebuah Alkitab.  Dan tentunya oleh pendeta yang telah membuatnya bertobat.   Ia mengakui bahwa kehidupan orang-orang Kristen yang ia temuilah yang membawanya untuk mengenal Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa setiap perbuatan baik kita berperan penting dalam pemberitaan injil.  Karena itu mari kita isi hidup ini dengan perbuatan kasih kepada orang-orang yang membutuhkannya.  Dengan perbuatan itu kita sudah menyatakan kasih Kristus, dan secara tidak langsung kita sudah memberitakan injil.  Memang perbuatan kasih terhadap orang yang tidak dekat dengan kita itu tidak mudah (Apalagi jika kita tidak mengenalnya).  Dibutuhkan pengorbanan tenaga, waktu, dana, pikiran, dsb.  Dibutuhkan juga penyangkalan diri untuk tidak hanya memikirkan kesenangan diri sendiri saja.  Tapi ingatlah, bahwa itulah perintah Tuhan, yaitu menjadi saksi bagi banyak orang.  Setiap orang yang sudah diselamatkan harus menyatakan anugerah itu kepada orang lain.  Jangan sampai kita seperti orang kaya itu yang menyesal kemudian, karena terlalu banyak memikirkan diri sendiri, tapi tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar kita, sampai akhirnya kita harus dihakimi oleh Tuhan karena ketidakpedulian kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3930899492938942291?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3930899492938942291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3930899492938942291&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3930899492938942291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3930899492938942291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/08/penyesalan-yang-terlambat-luk-1619-31-2.html' title='Penyesalan Yang Terlambat (Luk 16:19-31) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YuTH6-uSm-U/TjkICPsalgI/AAAAAAAAA7A/-MHsHPVkILQ/s72-c/do-good-deeds.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1672711429649485881</id><published>2011-07-31T17:34:00.002-07:00</published><updated>2011-07-31T17:39:17.859-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Penyesalan Yang Terlambat (Luk 16:19-31) #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-YucaQBmaPHo/TjX1TGZ0AxI/AAAAAAAAA64/yiFxklhIR3Y/s1600/maaf-1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-YucaQBmaPHo/TjX1TGZ0AxI/AAAAAAAAA64/yiFxklhIR3Y/s400/maaf-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635680217209242386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah saudara mengalami sebuah penyesalan yang terlambat?  Dalam pekerjaan misalnya;  Kita sedang bernegoisasi dengan seseorang yang begitu kita percayai.  Istri dan beberapa kerabat sudah mengingatkan kita untuk tidak melakukan negoisasi dengan orang tersebut.  Tapi karena kita terlalu yakin akan diri sendiri, dan tidak menghiraukan peringatan sekitar kita, akhirnya bisnis  mengalami kerugian besar.  Kita ditipu dan dikhianati...dan kita menyesal; Atau Dalam hal relasi, mungkin kita pernah melontarkan perkataan yang begitu menyakiti orang terdekat kita.  Perkataan itu seperti paku yang tertancap dalam dalam hatinya, sehingga sampai saat ini hubungan kita dengan orang itu tidak lagi bisa sedekat dulu.  Dan akhirnya kita menyesal, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia sudah pergi...hubungan sudah terlanjur rusak;  Mungkin juga kita pernah melakukan kesalahan-kesalahan lainnya.  Kita sudah diingatkan, tapi kita tidak menghiraukannya.  Sampai menuai akibatnya baru kita merasa menyesal.  Ada seorang gadis remaja yang begitu menyesali hidupnya.  Gadis ini berpacaran dengan seorang pria nakal, yang tidak jelas asalnya.  Orangtuanya sudah memperingati dia untuk tidak berhubungan dengan pria tersebut.  Tapi dengan angkuh ia berkata bahwa “mama, saya sudah besar, saya bisa menjaga diri saya sendiri”.  Namun apa yang terjadi?  Beberapa bulan mereka menjalin hubungan, dan akhirnya gadis ini hamil di luar nikah.  Setelah hamil kekasihnya langsung meninggalkan dia, tanpa mau bertanggung jawab.  Ia menangis dan menyesal.  Tapi penyesalan itu sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita mengalami penyesalan yang demikian?  Sebuah penyesalan yang terlambat.  Ketika itu terjadi perasaan kita tentunya sangat tidak enak bukan?  Kita ingin memutar kembali waktu yang lalu, namun waktu begitu kejam meninggalkan kita.  Kita berupaya memperbaiki semuanya, namun semuanya sudah terlanjur.  Tidak ada yang dapat diperbaiki, kecuali memperbaiki rasa sesal itu sendiri.  Saya yakin setiap kita pernah mengalami situasi yang demikian.  Dan kita berharap situasi itu tidak akan pernah terjadi lagi dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah / perikop yang baru kita baca juga berbicara tentang sebuah penyesalan yang terlambat.   Saya yakin kisah ini dituliskan juga untuk mengingatkan kita agar kita tidak menyesal sama seperti orang yang berada dalam kisah ini.  &lt;br /&gt;Dikisahkan ada dua orang yang begitu berbeda.  Yang pertama adalah seorang kaya.  Dikatakan ia memakai jubah ungu sama seperti pakaian yang dikenakan oleh orang-orang bangsawan.  Kemudian dia memakai kain halus, mungkin semacam sutra, yang tentunya hanya dimiliki oleh orang-orang kaya.  Mungkin ia memiliki rumah yang besar.  Dikatakan setiap hari dia bersukaria dalam kemewahan.  Mungkin hartanya terlalu banyak sehingga dia bisa berpesta setiap hari dalam kemewahan.   Tapi walau demikian namanya tidaklah ditulis dalam Alkitab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu orang yang kedua adalah seorang yang sangat miskin.  Dikatakan setiap hari ia duduk dipintu gerbang rumah orang kaya itu untuk mencari makan.  Biasanya dia hanya menerima remah-remah roti yang jatuh dari meja orang kaya tersebut.  Budaya bangsawan pada waktu itu begini:  roti akan disediakan untuk menghilangkan lemak yang melengket ditangan mereka.  Mungkin mereka baru makan daging bakar yang penuh dengan lemak dan minyak.  Jadi untuk membersihkannya, mereka akan melapkan roti itu sebagai penyerap kotoran ditangan mereka.  Roti yang hancur menjadi remah-remah itulah yang kemudian dibuang dari meja dan jatuh kelantai.  Itulah yang dimakan oleh orang miskin itu.  Bukan hanya miskin, tapi ia juga penyakitan.   Badannya penuh dengan borok sehingga tiap hari anjing-anjing jalanan menjilat boroknya.   Sungguh keadaan yang sangat kontras dengan orang kaya tersebut.  Tapi walau demikian orang miskin itu disebutkan namanya.  Yaitu Lazarus, yang berarti ‘Allah menolong’.  Yang pasti mereka berdua sama-sama orang Yahudi.  Orang kaya itu jelas orang Yahudi karena ia mengenal siapa Bapak Abraham.  Sedang Lazarus adalah orang Yahudi karena dari namanya jelas adalah nama Yahudi.&lt;br /&gt;Singkat cerita dua orang yang begitu berbeda ini sama-sama meninggal.  Baik orang kaya maupun orang miskin itu harus menghadapi realita yang sama, yaitu kematian.  Namun perubahan 180 derajat terjadi di alam kematian itu.  Lazarus yang dulunya menderita kini bahagia berada dalam pangkuan Abraham.  Ia dihitung sebagai orang beriman sehingga ia bisa menikmati Surga bersama dengan Abraham, bapak orang beriman.  Sebaliknya orang kaya yang selalu bersukaria dahulu itu sekarang dikatakan menderita sengsara di alam maut.  Kini keadaan berbalik.  Ternyata kekayaan tidak dapat menjamin sebuah kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita pikir baik-baik, hal apa yang diperbuat oleh orang kaya sampai ia harus mendekap di neraka tempat penderitaan kekal?  Dia tidak membunuh, dia bukan seorang pemeras, dia juga bukan seorang penjahat, dsb.  Setidaknya Alkitab tidak menuliskan ada kejahatan yang dilakukannya.  Satu-satunya kesalahan dari orang kaya ini yang tercatat adalah ketika ia tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan uluran tangannya.  Ia seorang Yahudi.  Sejak kecil orang Yahudi sudah dididik dalam Firman Tuhan untuk mempedulikan orang yang susah.  Mereka adalah orang yang beragama.  Mereka dididik dimana orang yang diberkati banyak harus memiliki rasa belas kasihan kepada sesama yang membutuhkan.   Yesus sendiri pernah mengajarkan bahwa salah satu hukum terutama ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Tapi orang kaya ini mengabaikannya.  Ia mengabaikan Lazarus yang setiap hari duduk didepan pintu rumahnya.  Ia mengabaikan untuk memberikan belas kasihan.  Dan terlebih, dia telah mengabaikan firman Tuhan untuk mengasihi sesamanya manusia.  Memang ada pepatah bahwa diam itu emas.  Tapi ketika kita berdiam diri melihat kesusahan orang lain maka itu adalah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca sebuah cerita, dimana ada  seorang Bapak yang sedang duduk-duduk santai di sore hari di teras rumahnya, kebetulan di depan rumah ada seorang anak kecil berusia  7 tahun yang sedang main bola sendirian di jalan. Dari jauh ada sebuah kendaraan truk yang melaju agak cepat.  Bapak yang sedang santai ini berpikir jika anak ini tidak cepat kembali kerumah atau minggir pasti akan tertubruk oleh truk tersebut.  Dan benar...truk yang berjalan dengan cepat itu akhhirnya menubruk anak tersebut.  Karena suara tubrukan yang kencak dan teriakan orang sekitar, maka keluarlah ibu anak tersebut dari dalam rumah, sang ibu yang melihat anaknya menggelepar tanpa daya itu lantas teriak dan menangis tidak karuan.   Bapak yang duduk itu berkata pada salah seorang tetangga yang keluar untuk melihat:  “Tadi saya sudah menduga, kalau anak itu tidak menyingkir pasti akan celaka. Dan benar dugaan saya itu.”  Saya kira sikap bapak ini keterlaluan bukan?  Sebenarnya bapak ini masih sempat menolong anak itu atau paling tidak berteriak suruh menyingkir.  Tapi bapak ini diam saja dan hanya bermain-main dengan prediksinya.  Ketika ia diam melihat orang lain yang butuh pertolongan, pada saat itulah dia sudah berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira itulah yang dilakukan orang kaya tersebut.  Ia sama sekali tidak bergeming melihat penderitaan Lazarus.  Padahal setiap hari Lazarus duduk dipintu gerbang rumahnya.  Karena itulah ia menyesal atas perbuatannya selama ini.  Kini ia hidup jauh lebih sengsara daripada Lazarus.  Jika dulu Lazarus memakan remah-remah roti yang jatuh dari mejanya, kini orang kaya itu meminta setetes air dari jari yang dicelupkan air.  Sungguh ironi.  Tapi sayang penyesalan itu sudah terlambat.  Ia harus mengalami penyesalan seumur hidup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ini juga merupakan peringatan bagi kita.  Sebuah peringatan dimana kita diminta untuk tidak berdiam diri ketika melihat orang lain membutuhkan uluran tangan kita.  Sebuah peringatan agar kita boleh menyatakan kasih yang bukan hanya dimulut, tapi dengan tindakan yang nyata kepada orang lain.  Yakobus sendiri pernah berkata bahwa setiap kita akan dihakimi sesuai dengan perbuatan kita.  Memang ketika berbicara tentang keselamatan tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan.  Itu anugerah Allah.  Tetapi berbicara tentang penghakiman, maka perbuatan kitalah yang akan dihakimi.  Karena itu selagi kita masih hidup mari kita nyatakan kasih Kristus melalui hidup kita.  Tunjukkan hidup yang menghasilkan buah.  Ketika kita hanya mau menerima anugerah, tapi tidak mau membagikan anugerah itu maka kita telah terjebak dalam sebuah tindakan dosa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1672711429649485881?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1672711429649485881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1672711429649485881&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1672711429649485881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1672711429649485881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/07/penyesalan-yang-terlambat-luk-1619-31-1.html' title='Penyesalan Yang Terlambat (Luk 16:19-31) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-YucaQBmaPHo/TjX1TGZ0AxI/AAAAAAAAA64/yiFxklhIR3Y/s72-c/maaf-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8479376504372319874</id><published>2011-07-22T21:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T21:29:39.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>ORANG KRISTEN YANG ‘SUKSES’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lMPEBezbsgI/TipOIX_IUiI/AAAAAAAAA6w/_9uK7ZEDO3s/s1600/succes.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 264px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lMPEBezbsgI/TipOIX_IUiI/AAAAAAAAA6w/_9uK7ZEDO3s/s400/succes.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632400189764948514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang di dunia ini yang ingin mengalami kegagalan.  Semua orang mengejar dan berjuang untuk mencapai kesuksesan.  Itulah mengapa seminar-seminar motivasi tentang kesuksesan laris manis dan orang berbondong-bondong mengikutinya.  Saya yakin setiap kita yang ditempat inipun juga sedang mengejar apa yang namanya kesuksesan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang kesuksesan, sebenarnya apa sih kesuksesan itu?  Ada yang mengatakan bahwa orang sukses adalah orang yang kaya.  Tapi ada banyak orang kaya yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.  Ada juga yang mengatakan orang sukses itu adalah orang yang terkenal.  Tapi tidak juga selalu demikian.  Almarhum Michael Jackson, raja pop yang belum tersaingi sampai saat ini, tidak diragukan kepopularannya.  Tapi dia pernah mengatakan bahwa ia merasa kesepian dan membutuhkan kasih sayang.  Hidupnya tidak bahagia. Ada juga yang mengatakan bahwa orang sukses itu adalah orang yang berkedudukan.  Namun banyak orang-orang yang berkedudukan dan yang memiliki banyak gelar tersebut menjadi korban teror dari penjahat-penjahat, dan akhirnya mereka stress, bahkan ada yang menjadi gila karena hal itu.  Dapatkah orang-orang demikian disebut sebagai orang sukses?  Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya apa itu sukses?  Bagaimana seseorang dapat dikatakan sukses?  Dalam sebuah kamus encarta yang saya baca, sukses itu memiliki arti “dapat mencapai sesuatu seperti yang direncanakan atau ditargetkan.”  Kalau demikian pengertian sukses berarti sukses itu tergantung dari masing-masing orang.  &lt;br /&gt;Tergantung apa target orang tersebut, dan tergantung tingkat kepuasan dari seseorang dalam mencapai targetnya.  Saya pernah mengunjungi seorang rekan saya.  Dia teman seangkatan saya, dan usahanya cukup berhasil, sehingga saat ini dengan usahanya dia sudah bisa beli mobil dan rumah sendiri.  Terus saya berkata sama dia “Wow.... kamu sekaran sudah sukses ya...”  segera saja ia menyela “Ahhh...tidak la.... sukses apanya....ga ada apa-apanya ini...jauh dari sukses....”  Mengapa bisa terjadi demikian...karena standar kita berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena itu jika kita ingin menilai kesuksesan yang sesungguhnya, yang paling objektif, kita harus kembali pada Firman Tuhan.  Kita harus kembali kepada apa sih target atau tujuan dari pencipta kita menciptakan kita.  Sama seperti sebuah piring.  Tentunya kita tahu bahwa piring diciptakan sebagai alas untuk menaruh makanan.  Tapi saya pernah melihat sepasang suami istri bertengkar dan mereka lempar-lemparan piring sampai pecahannya di mana-mana.  Tentunya piring itu ‘gagal’, karena tidak sesuai dengan target pencipta piring menciptakannya.  Demikian juga dengan kita.  Jika kita ingin tahu seberapa sukses kita, maka kita harus tahu, apakah kita sudah mencapai target yang diinginkan oleh pencipta kita atau belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu untuk apa sih sebenarnya kita diciptakan?  Paulus dalam surat Kolose 1:16 mengatakan “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”    Setiap manusia diciptakan untuk mencapai tujuan Allah.  Yaitu “untuk dia”.  Ini bukan mengenai kita manusia, namun mengenai Tuhan.  Ini bukan berbicara tentang target-target kita, tapi tentang target Tuhan dalam hidup kita.  Rick Warren pernah mengatakan “Anda dijadikan oleh Allah dan untuk Allah – dan sebelum anda memahaminya, kehidupan tidak akan pernah bisa dipahami.”  Jadi jika kita ingin menjadi orang yang sukses, bukan dengan memasang target dan sasaran sesuai dengan keinginan kita, tapi bertanyalah, apa sih tujuan Tuhan menciptakan saudara dan saya.  Dan capai target itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum mungkin kita semua sudah tahu bahwa kita diciptakan untuk kemuliaan Allah dan menyenangkan hati Tuhan.  Tapi saya yakin bahwa Tuhan memiliki tujuan / target khusus dalam hidup kita masing-masing.  Mungkin diantara kalian ada yang diciptakan untuk menjadi seorang pengusaha kristen yang memberkati banyak orang.  Mungkin di antara kalian ada yang diciptakan menjadi seorang guru, yang walaupun gajinya kecil tapi pekerjaannya sangat mulia.  Mungkin ada yang diciptakan untuk menjadi ibu rumah tangga yang memuliakan Tuhan lewat keluarganya.  Mungkin ada juga yang kelak akan dipanggil menjadi hamba Tuhan seperti saya.  Saya percaya setiap kita sudah ditetapkan dengan tujuan dan target khusus dalam hidup ini.  Bahkan ketika hidup kita tampak ada banyak kegagalan, Tuhan bisa saja punya maksud dari itu semua untuk melakukan pekerjaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Alkitab ada seorang nabi bernama Yeremia.  Dia seorang nabi yang menyuarakan suara Tuhan untuk bertobat.  Tapi tidak ada satu orang Israelpun yang bertobat karena perkataannya.  Secara kasat mata Yeremia tampak gagal.  Namun dimata Tuhan ia adalah seorang yang sukses, karena telah menjalankan tugasnya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sederhana pun dapat dipakai Tuhan menjadi seorang yang sukses.  Saya sangat menyukai film Simon Birch.  Walaupun ini bukan kisah nyata, tapi ini mewakili banyak kisah nyata yang ada didunia ini.  Dikisahkan ada seorang anak kecil yang bernama Simon.  Dia seorang yang sederhana bahkan dapat tergolong miskin.  Bukan hanya itu, iapun adalah seorang anak yang cacat dimana tubuhnya agak cebol dan tidak lagi bertumbuh.  Ia tidak disuka oleh semua teman-temannya.  Bahkan gurunya juga tidak suka kalau Simon ada di kelasnya. Orangtuanyapun tidak memperhatikan dia.  Bagi banyak orang, keberadaan Simon hanya akan membawa sial.  Terkadang Simon putus asa dengan dirinya.  Tapi ia sering berkata pada dirinya “Tuhan tidak menciptakan saya secara kebetulan, Tuhan pasti punya maksud dalam hidup saya.”  Berulang kali ia mengungkapkan hal itu pada dirinya dan temen-temennya.   Sampai suatu waktu, ketika ia dihukum sama gurunya untuk menjadi pendamping retret anak-anak kecil.  Ditengah perjalanan tiba-tiba Bus yang ditumpangi anak-anak mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam danau.  Perlahan demi perlahan bus yang ditumpangi itu kemasukkan air.  Anak-anak ketakutan.  Disaat itulah ia teringat bahwa Tuhan punya maksud dalam hidupnya.  Ia berdiri dan berteriak “tenang jangan takut, ikuti perintah saya.”  Kemudian ia menyelamatkan satu persatu anak-2 ke tepi danau, dan sampai anak terakhir ia selamatkan, tapi ia tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri.  Orang lain ia selamatkan, tapi ia sendiri mati untuk orang lain.  Usianya masih sangat kecil waktu itu.  Tapi orang-orang mengenang dia sebagai seorang yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah orang-orang yang sukses.  Yaitu  seorang yang berhasil menjalankan rencana dan tujuan sang pencipta dalam hidupnya.  Jadi jika ingin menjadi orang sukses, ayo tanyakan kepada Tuhan akan apasih maksud Tuhan secara khusus menciptakan saya.  Apakah itu menjadi pengusaha kristen,  manajer, programmer, ibu rumah tangga, hamba Tuhan, dsb.  Entahkah akan menjadi orang kaya, sederhana, orang berjabatan tinggi, orang berjabatan biasa, yang punya banyak kekuasaan, atau sedikit kekuasan, dsb.  Milikilah kepekaan akan maksud Tuhan menciptakan dirimu.  Tuhan sudah mempersiapkan tujuannya dalam setiap hidup anak-anak Tuhan.  Miliki hubungan yang intim dengan Tuhan dalam saat teduh dan doa-doamu, miliki juga hati yang mau dibentuk yang mengotoritaskan Tuhan di atas segala kehendak-kehendak kita.  Dan ketika kita tahu akan apa maksud Tuhan atas hidup kita, dan ketika kita melakukannya sesuai kehendak Tuhan, pada saat itulah saudara dan saya dapat dikatakan sebagai seorang yang sukses.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-8479376504372319874?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/8479376504372319874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=8479376504372319874&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8479376504372319874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/8479376504372319874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/07/orang-kristen-yang-sukses.html' title='ORANG KRISTEN YANG ‘SUKSES’'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lMPEBezbsgI/TipOIX_IUiI/AAAAAAAAA6w/_9uK7ZEDO3s/s72-c/succes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4720759612409842895</id><published>2011-07-09T09:15:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T09:22:24.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><title type='text'>Eyes Upon God</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-5zIJpjE1-nI/ThiAEMJxuqI/AAAAAAAAA6o/77wFE4_O3aQ/s1600/looking_for_forgiveness_from_god.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-5zIJpjE1-nI/ThiAEMJxuqI/AAAAAAAAA6o/77wFE4_O3aQ/s400/looking_for_forgiveness_from_god.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627388543869500066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus terhadap sesuatu hal adalah salah satu syarat dalam sebuah keberhasilan.  Seorang Einstein dapat berhasil menemukan teori Relativitas bukan karena ia murid terpandai waktu itu.  Bahkan dikatakan bahwa Ia murid terbodoh.  Sampai-sampai dikatakan anjing bodoh oleh gurunya.  Namun kini ia mampu menjadi seorang ilmuwan yang terkemuka, dimana banyak ilmunya yang dipakai oleh dunia pendidikan saat ini.  Ia dapat berhasil karena ia memfokuskan dirinya hanya kepada riset-riset penelitian.  Seorang Bill Gates dapat sukses dalam Microsoft-nya karena ia memfokuskan dirinya pada DOS pada awal karirnya tahun 75-an sampai sekarang.  Kini tidak ada yang dapat menyaingi microsoft dalam dunia komputer.  Kenapa BMW sukses dalam otomotif? Karena sejak awal ia memfokuskan dirinya pada kendaraan otomotif yang nyaman untuk dikendarai.  Karena itu ia dapat sukses sampai saat ini.  Sebuah sinar laser yang terfokus, dapat memotong sebuah baja setebal apapun.  Namun sinar laser yang tersebar, tidak akan berguna sama sekali.  Dalam pertandingan-pertandingan olahragapun demikian.  Ketika kita fokus melakukan perlombaan-perlombaan itu maka kemungkinan untuk menang akan lebih besar daripada mereka yang tidak fokus.  Itulah mengapa pernah ada pelatih sepak bola tidak memperbolehkan para pemainnya bertemu dengan kekasih mereka beberapa hari sebelum pertandingan.  Karena takut pemainnya tidak lagi dapat fokus dalam pertandingan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua contoh yang sudah disebutkan tadi maka jelaslah bahwa pikiran dan hati yang terfokus memiliki kekuatan yang luar biasa.  Sebenarnya hal ini juga berlaku kepada setiap anak-anak Tuhan.  Seorang anak Tuhan dapat menjadi kuat dan menjadi pemenang jika ia memusatkan pikiran, hati, dan pandangannya kepada sang kepala, yaitu Kristus.  Tanpa Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, sama seperti tubuh yang tanpa kepala tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira inilah yang disuarakan oleh Salomo dalam perikop ini.  Salomo sebagai raja dari Israel mengajak orang-orang Israel untuk terus memfokuskan pandangannya kepada Tuhan.  Menariknya ajakan ini diungkapkan Salomo pada saat umat Israel mengalami masa-masa jaya.  Selama kerajaan Israel berdiri sejak kurang lebih tahun 1300SM sampai saat ini belum pernah Israel mengalami kejayaan seperti zaman salomo, sampai-sampai bangsa-bangsa lain mengakuinya dan belajar kepada raja Salomo yang terkenal begitu termasyur dan penuh hikmat.  Salomo menyadari bahwa manusia sering melupakan Tuhan ketika menjalani masa-masa jaya.  Pernah ada seorang raja Israel yang cukup berjaya juga yang bernama Yerobeam.  Dia adalah raja yang hampir menyamai masa-masa keemasan dari raja Salomo (dalam hal pembangunan dan politik).  Apa yang terjadi pada waktu itu?  Yang terjadi adalah mereka melupakan Tuhan.  Mereka lupa bahwa berkat-berkat itu datangnya dari Tuhan.  Bahkan parahnya mereka menyembah dewa-dewa lain yang lebih memuaskan hati mereka.  Keluarga saya juga pernah mengalami demikian.  Ketika karir pekerjaan mulai menanjak, usaha berjalan dengan baik, dan semua tampak lancar-lancar, beberapa saudara saya mulai melupakan Tuhan.  Mereka tidak lagi ke gereja, ada juga yang kegereja karena rutinitas, dan ada juga yang berkata “Buat apa bersaat teduh, saya merasa ga dapat sesuatu yang berarti di dalamnya.”  Namun perlahan demi perlahan masalah-masalah mulai berdatangan.  Usaha ditipu orang, bisnis mengalami kegagalan, pertengkaran rumah tangga, perceraian, kena sakit penyakit dsb.  Semua itu terjadi dalam waktu yang berdekatan.  Namun menariknya justru pada saat-saat seperti itulah mereka merasakan bahwa mereka memerlukan Tuhan.  Itulah kecenderungan manusia, pada saat jaya akan mudah untuk melupakan Tuhan yang memberikan kejayaan itu.  Salomo menyadari hal ini karena itu dia menuliskan sebuah mazmur yang mengajak umat untuk mengarahkan dan memfokuskan mata dan hatinya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mengapa kita harus memfokuskan mata dan hati kita kepada Tuhan cuma satu, yaitu: “Tanpa Tuhan segala sesuatu akan sia-sia.”  Dalam perikop yang sudah kita baca ada 3 kali Salomo mengatakan mengenai kesia-siaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, berbicara mengenai masalah pembangunan.  Dikatakan “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”   Waktu itu umat Israel sedang giat-giatnya melakukan pembangunan.  Mereka bekerja keras untuk membangun-dan membangun.  Tapi bagi Salomo sia-sialah orang membangun jika bukan Tuhan yang membangun.  Mungkin Salomo teringat kejadian yang dialami ayahnya Daud.  Ketika Daud hendak membangun rumah Tuhan untuk Tuhan, namun Tuhan berkata bahwa bukan dia yang akan membangunnya, melainkan anaknya.  Sebenarnya kalau Daud mau bisa saja dia tetap membangun rumah Tuhan, tapi Daud sadar jika tanpa perkenanan Tuhan buat apa dia membangun, semua akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Salomo melanjutkan “jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”  Bukan hanya masalah pembangunan, namun keamanan pun sia-sia jika bukan Tuhan yang menjaga.  Tidak ada pertahanan yang dapat terlalu ketat di dunia ini yang tidak bisa dibobol.  Kejatuhan gedung WTC kurang lebih 10 tahun yang lalu menyatakan hal ini.  Dalam sejarah yunani kuno terdapat cerita tentang kuda troya.  Dikisahkan waktu itu negeri Yunani berperang dengan orang-orang dari Troya.  Sudah hampir 10 tahun mereka berperang tetapi bangsa Yunani tidak bisa menembus benteng Troya karena pertahanannya terlalu ketat.  Orang-orang Yunani menjadi putus asa.  Sampai suatu saat, orang-orang Yunani membuat sedikit tipu muslihat.  Mereka menyatakan untuk  mundur berperang.  Pasukan-pasukannya ditarik dan kapal-kapal mereka disembunyikan dibalik teluk.  Kemudian mereka memberikan sebuah patung kuda dari kayu yang mahal yang besar sekali.  Kuda itu gagah dan megah.  Akhirnya setelah dicek oleh petinggi-petinggi dari Troya, kuda itu dianggap aman.   Dan akhirnya masuklah kuda raksasa itu ke kota Troya.  Namun betapa terkejutnya dia karena ternyata itu hanyalah taktik.  Para prajurit Yunani pada besembunyi di balik kuda raksasa itu.  Dan pada malam hari mereka keluar dan akhirnya mereka merebut kota Troya yang terkenal kuat itu.  Tidak ada satu pertahanan yang dibuat manusia yang terlalu kuat untuk dipertahankan.  Karena itu benarlah yang dikatakan Salomo “Jika bukan Tuhan yang mengawal kota, maka sia-sialah semuanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Salomo mengatakan “sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah.”  Kehidupan kita semakin hari tambah sibuk.  Tuntutan semakin bertambah.  Kebutuhanpun semakin lama semakin meningkat.  Sementara harga-harga barang semakin melangit, dan pendapatan kita tetap-tetap saja.  Hal itu membuat kita mau tidak mau harus bekerja keras.  Kita sibuk meluangkan waktu kita seharian dikantor atau dikuliah kita.  Kita berusaha belajar sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.  Kita berusaha untuk bekerja segiat-giatnya, kalau perlu sampai lembur untuk menghasilkan uang untuk masa depan kita.  Akhirnya separuh lebih waktu kita kita pusatkan untuk mencari nafkah dan untuk menata masa depan.  Akan tetapi Salomo mengatakan bahwa sia-sialah semua itu....sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-2 sampai jauh malam, hanya untuk sesuap nasi yang diperoleh dengan susah payah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salomo sama sekali tidak mengajarkan kita untuk tidak usah bekerja keras / kerja keras itu tidak penting.  Tidak!  Tapi ia mengajarkan bahwa kerja keras tanpa menyertakan Tuhan dalam setiap pekerjaannya maka itulah yang sia-sia.   Tuhan menginginkan kita untuk bekerja dan berupaya.  Ia tidak mau kita asal bergantung  kepada Tuhan tanpa ada upaya sama sekali.  Sama seperti seorang yang saya kenal; setelah lulus dari kuliahnya ia tidak pusing mencari pekerja.  Kerjanya cuma bersantai di rumah.  Dan ketika ditegur orang tuanya ia berkata demikian “ma, FT berkata bahwa burung-burung saja dipelihara, apalagi kita.”  Terus mamanya berkata “Burung-burung saja berusaha membentuk sarangnya, mengapa kamu bermalas-malasan.”  Bukan sikap seperti itu yang diinginkan Tuhan.  Bukan sikap ini yang disampaikan Salomo.  Tapi yang ingin disampaikan ialah mari bekerja keras dan sertakan Tuhan dalam setiap tindakanmu.  Tanpa Tuhan, segala jerih payahmu akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;Kalau kita baca ayat 3-5 sebenarnya Salomo juga ingin berkata bahwa memiliki keturunan pun sebenarnya adalah anugerah dan pemberian dari Tuhan.  Manusia mungkin dapat berusaha semaksimalnya untuk menghasilkan keturunan.  Ada orang kaya yang ingin memiliki anak sampai pergi kedokter dari berbagai negara untuk minum berbagai macam obat hanya supaya mendapatkan seorang anak.  Tapi jika bukan Tuhan yang memberi maka sia-sialah usaha kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu merupakan pemberian dari Tuhan.  Karena itu Salomo mengajak seluruh umat Israel untuk mengarahkan mata dan hatinya kepada Kristus.  Fokuslah kepada Tuhan yang adalah sang pemberi berkat itu.  Karena tanpa Tuhan segala sesuatu hanya akan menjadi sia-sia dan tak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya inti dari mazmur 127 ini terdapat pada ayat 2b yang mengatakan “Sebab ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”  Apa maksudnya?  Ungkapan ini seakan-akan ingin mengatakan bahwa kita tidak usah berbuat apa-apa.  Tidur saja.  Nanti Tuhan yang akan mengerjakan semua untuk kita.  Akan tetapi tentunya bukan hal itu yang dimaksudkan.  Setelah saya mempelajarinya saya menemukan bahwa Tidur itu merupakan tanda bahwa kita tidak  khawatir melainkan percaya akan rencana Tuhan sehingga kita bisa dengan tenang beristirahat.  Orang yang penuh dengan kekhwatiran adalah orang yang kurang percaya dan berserah kepada Tuhan.  Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang susah tidur.  Sebaliknya orang yang mudah tidur adalah orang yang dapat mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.  Ia tidak khawatir dan tenang, karena ia tau hidupnya aman dalam tangan Tuhan.  Karena itu ketika salomo mengatakan “Tuhan memberikan kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”, dengan kata lain Salomo hendak berkata “segala berkat Tuhan justru kita dapatkan ketika kita berserah dan mempercayakan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan.”  Karena itu mari fokuskan hati dan pikiran kita kepada Tuhan, dan belajarlah untuk berserah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin waktu mempersiapkan retret remaja saya sekali diingatkan akan sebuah pelajaran yang berharga.  Pertama saya kira mengurusi retret ini tidak terlalu sukar.  Ternyata saya keliru.  Karena ternyata mengurus retret remaja yunior (anak-anak SMP) seperti ini pembinanya harus terjun disetiap bidang.  Dari buat poster, urus hadiah, urus pembayaran, publikasi, atur jadwal, atur kamar, atur transport, semuanya saya harus turun tangan.  Kalau dipemuda ada rekan-rekan panitia yang bisa menjalankan tugasnya masing-masing, dan kalau sekolah minggu ada banyak guru-guru yang bisa jadi panitia, tapi di remaja saya harus banyak terjun sendiri.  Untungnya ada beberapa pendamping dan beberapa rekan-rekan kelas 3 smu yang naik ke pemuda mau meluangkan waktunya untuk membantu.  Kesibukan itu tambah hebat ketika satu minggu sebelum retret remaja dimulai setiap majelis dan Ht harus mengikuti sidang raya dan retret HT yang juga sangat sibuk, karena sebagai tuan rumah kita harus melayani mereka.  Sampai-sampai 2 minggu sebelum retret remaja dilangsungkan tidur saya jadi tidak tenang.  Setiap kali bangun tidur yang pertama dipikirkan “apa yang kurang...apa yang belum saya siapkan...apa yang belum saya kerjakan...”  Hampir selama 2 minggu demikian.  Namun bukan kesibukan saya yang ingin saya ceritakan.  Saya ingin menceritakan justru pada saat-saat sibuk seperti itulah saya lupa menenangkan diri dan dengan hati yang berserah berdoa kepada Tuhan untuk menyerahkan retret tersebut.  Setiap hari bekerja dan bekerja tapi lupa berserah.  Senin pagi waktu kami mau berangkat, kami sibuk mengatur transportasi mereka.  Setelah atur anak-anak ke dalam mobil tiba-tiba salah satu rekan mengingatkan saya “ko Fong, kita belum berdoa lo...”   Saya cukup terhentak, dan saya mengatakan dalam hati, nanti malam saya dan rekan-rekan pendamping harus berdoa bersama menyerahkan retret ini.  Tapi apa yang terjadi, malam harinya kita briefing trus karena satu dan lain sebab, akhirnya sekali lagi kita lupa berdoa karena mengurusi urusan yang belum selesai.  Besok siangnya ketika seharusnya acara game yang saya harapkan bisa membuat anak-anak semakin akrab dan kompak, serta semakin bersukacita, ternyata gagal karena hari itu turun hujan.  Beberapa anak-anak menjadi kecewa, dan kami tidak bisa melanjutkan permainan itu karena takut mereka akan menjadi sakit.  Pada saat itulah ada suara dalam batin saya “Fong....kamu kurang berserah....kamu terlalu mengandalkan kekuatan sendiri..kamu kurang berserah..”  Memang saya berdoa, tapi tidak dengan hati yang sungguh berserah kepada Tuhan.  Sore itu saya masuk kamar saya berdoa dan berserah kepada Tuhan, dan malamnya saya mengajak rekan-rekan pendamping untuk berdoa bersama-sama menyerahkan sisa retret kami.  Malam itu saya yakin sekali bahwa besok Tuhan akan menyiapkan yang terbaik.   Tidak ada keraguan sama sekali dalam hati saya, bahkan sekalipun hujan akan turun, saya percaya Tuhan punya rencana yang lebih indah dari apa yang saya pikirkan.   Keesokan harinya dari pagi sampai siang cerah sekali.  Tapi jam 2 pada saat kita sedang bermain tiba-tiba awan mendung.  Beberapa tetes air mulai turun.  Ada beberapa panitia yang bertanya kepada saya: Bagaimana, kita mau lanjut ga, kayaknya hujan bakal deras.  Saya cuma menjawab:  tenang aja, gak akan hujan.  Dengan tenang saya menjawab itu karena hati ini sudah berserah dan yakin bahwa Tuhan akan memberi yang paling tepat untuk kita.  Akhirnya puji Tuhan, dari jam 12 sampai jam 5 selama anak-anak bermain games outbond diluar hujan tidak turun.  Pas jam 5 ketika acara sudah selesai dan sayapun sudah masuk kamar dan bersih-2, saya mendengar beberapa anak-anak remaja di luar berteriak “oiii hujan...hujan....”   Hari itu saya bersyukur sekali.  Saya diingatkan sekali lagi bahwa tanpa mata dan hati yang tertuju sepenuhnya kepada Tuhan, segala sesuatu yang kita buat akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan saudara sekalian.  Adakah dalam hidupmu engkau sudah mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan?  Sudahkah engkau melibatkan Tuhan dalam pekerjaanmu?  Pernahkah engkau bertanya apakah yang engkau lakukan saat ini sudah benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan?  Dan sudahkah kita belajar menyerahkan seluruh aspek hidup kita baik study,  keluarga, pekerjaan, masa depan kita ke dalam tangan Tuhan?  Atau jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan rencana dan cara-cara kita sehingga kita akhirnya melupakan Tuhan?  Ingatlah bahwa di luar Tuhan semuanya akan sia-sia.  Jika memakai bahasa Salomo “Jikalau bukan Tuhan yang mengerjakannya, sia-sialah studimu, usahamu, pekerjaanmu, jerih lelahmu, dan apapun juga yang kau lakukan.”  Karena itu mari arahkan hati dan pandangan kita kepada Tuhan.  Carilah kehendak-Nya setiap hari.  Dan jangan pernah hidup jauh dari kebenaran Firman Tuhan.  Kiranya hidup kita semua tidak akan menjadi sia-sia, karena kita sudah mengandalkan Tuhan dalam setiap upaya kita.  Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4720759612409842895?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4720759612409842895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4720759612409842895&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4720759612409842895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4720759612409842895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/07/eyes-upon-god.html' title='Eyes Upon God'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-5zIJpjE1-nI/ThiAEMJxuqI/AAAAAAAAA6o/77wFE4_O3aQ/s72-c/looking_for_forgiveness_from_god.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3902336966368073935</id><published>2011-07-01T01:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T07:08:35.804-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Be Influential</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nFgxUiut-fs/Tg2JDXDgNhI/AAAAAAAAA6Y/LEr2CVBfAac/s1600/dreamstime_4364296.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 356px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nFgxUiut-fs/Tg2JDXDgNhI/AAAAAAAAA6Y/LEr2CVBfAac/s400/dreamstime_4364296.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624302200476939794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu setelah pulang dari gereja saya hendak menonton televisi yang  telah disarangi laba-laba (lebay dikit ) karena jarang di buka.  Ada info apa?  Perkembangan apa?  Berita skandal apa lagi?  Bencana apa lagi?  Dan kabar kriminal apa lagi yang sedang terjadi di permukaan bumi akhir-akhir ini?  Hal-hal itulah yang ingin saya ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada remote controlnya, lantas saya duduk didepan televisi, mengacungkan jari telunjuk dan menekan tombol on.  Perlahan-lahan kotak informasi tersebut mulai memancarkan cahayanya, dan..... “waaaaawwwwww” tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris yang sangat mengejutkan dendang telingaku.  Rasa penasaran membuat saya menunggu gambar semakin jelas untuk mengetahui apa yang terjadi.  “Ohh.. Ternyata acara Operah Winfrey, tapi apa yang mereka teriakan ya?”  pikirku.  Setelah ditampilkan tokoh yang sedang diwawancarai barulah saya sadar mengapa mereka semua berteriak.  Bagaimana tidak, yang menjadi bintang dalam acara talk show itu adalah 3 aktor yang sedang naik daun.  Beberapa tahun belakangan ini mereka banyak membintangi film layar lebar mengenai kisah cinta antara vampire dan manusia, yang ternyatajab ketenarannya lewat film yang berjudulkan Twilight.  Tiga aktor itu tak lain bernama Edward Cullen, Jack, dan Bella; begitulah sang sutradara menamainya.  Ternyata ratusan penonton yang hadir pada hari itu adalah para penggemar film dan tokoh-tokoh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tertarik saya terus menyaksikan wawancara yang dilontarkan kepada mereka.  Ditanya dari a-z oleh pembawa acara agar penggemarnya dapat terpuaskan.  Penggemarnya pun tak henti berteriak histeris.  Sampai suatu saat, sebelum acara itu berakhir, terlontarlah sebuah statement yang mengejutkan saya.  Ibu Winfrey mengambil kertas yang berisi data-data dan lantas mengungkapkan bahwa Edward Cullent yang merupakan aktor utama dalam film drama romantik tersebut ternyata masuk dalam 100 orang berpengaruh di dunia menurut versi sebuah majalah terkenal di sana.  Lebih mengejutkan lagi, pengaruhnya dikatakan lebih besar daripada orang nomor 1 di Amerika Barack Obama.  “Hah....Bagaimana mungkin?”  pikir saya.  &lt;br /&gt;“Pengaruh macam apa yang diberikan olehnya?  Keputusan apa yang pernah di buatnya?  Sebuah keputusan Obama bisa mengatur perputaran roda dunia.  Tapi kalau dia?  Ckckckckc.....Saya kira majalah itu berlebihan.  Jangan-jangan penerbit majalah tersebut merupakan salah satu fans berat vampire ganteng itu” pikirku sinis.   &lt;br /&gt;Karena tertarik maka saya memutuskan untuk mengikuti sampai acara itu berakhir.  Berharap akan ada penjelasan dari mereka tentang hal ini.  Menunggu dan menunggu, akhirnya saya menemukan sebuah jawaban.  Jawaban itu tertangkap ketika beberapa penggemar  yang hadir di sana diijinkan untuk menyampaikan kesaksian tentang film itu.  Kalau bahasa Kristennya ‘berkat apa yang didapat setelah menonton film tersebut.’  Ternyata pengaruhnya tersimpul dalam kesaksian seperti demikian “Setelah menonton film tersebut, hidup saya berubah.  Saya belajar bagaimana untuk menjadi seorang pria yang berkarakter kuat, tenang, dan cool.  Dan sayapun belajar untuk dapat setia mengasihi kekasih saya walau apa yang terjadi. dsb” Kira-kira begitulah kesaksian mereka.  Hidup mereka berubah setelah melihat sosok yang diperankan oleh aktor dan artis dalam film tersebut.  Padahal sesungguhnya mereka tau bahwa sifat asli para pemain tersebut tidaklah demikian.  Merekapun tau itu hanya film.  Tapi ide yang disampaikan melalui film tersebut dapat menginspirasi mereka untuk mengambil sikap dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kekuatan dari sebuah keteladanan.  Keteladanan hidup adalah perihal paling efektif untuk mengubah orang disekitar kita.  Walau tanpa kata-kata yang indah dan persuasif, namun jika keteladanan hidup kita baik bagi sekitar kita, makan sangat mungkin orang lain bisa meniru teladan dari kita.  &lt;br /&gt;Saya kira penginjilan yang paling efektif adalah melalui keteladanan hidup.    Khotbah yang paling kuatpun adalah khotbah yang diikuti teladan hidup sang pengkhotbah.  Karena itu kepada Timotius, Timotius berkata “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1Tim 4:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya sedang memikirkan bagaimana keteladanan hidup itu dapat memberkati orang lain secara khusus anak-anak remaja (smp) yang sedang saya bina.  Dalam blueprint saya, saya ingin membuat berbagai komunitas seperti kelompok futsal, pembaca novel, games, penulis, bbm, multi media, dsb.  Komunitas ini dibuat dengan tujuan agar saya dapat masuk dalam dunia mereka dan dapat menjadi sahabat bagi mereka.  Tentu saja kita harus melatih skill dalam tiap-tiap komunitas itu agar anak-anak mau belajar dari kita; sembari kita menunjukkan bagaimana semestinya seorang Kristen dalam bermain sepakbola, bagaimana orang Kristen menanggapi sebuah novel, dan bagaimana seorang Kristen semestinya berkata-kata dan bersikap dalam bermain games dsb.  Selain skill dan perilaku Kristen,  tentu saja kita harus menunjukkan teladan kasih kepada orang-orang yang ada dalam komunitas tersebut.  Buat apa ada komunitas namun tidak ada pernyataan kasih Kristus didalamnya.   Ketika hal itu terjadi saya kira akan mudah jika kita memberitakan Kristus kepada orang-orang yang belum percaya.  Kita akan mendapatkan respek, mereka akan menjadi lebih terbuka, dan telinga mereka akan mendengarkan setiap apa yang kita sampaikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru mencoba langkah ini dalam 6 bulan dan hasilnya mulai tampak.  Karena itu saya ingin membagikan metode sederhana ini kepada teman-teman seiman.  Mari kita ikut serta dalam berbagai komunitas.  Dan jadilah teladan ditengah-tengah komunitas itu, sehingga kasih Kristus dapat dengan efektif diberitakan kepada banyak orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3902336966368073935?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3902336966368073935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3902336966368073935&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3902336966368073935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3902336966368073935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/07/be-influence.html' title='Be Influential'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nFgxUiut-fs/Tg2JDXDgNhI/AAAAAAAAA6Y/LEr2CVBfAac/s72-c/dreamstime_4364296.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1338589998432250408</id><published>2011-06-18T06:00:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T06:03:04.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>TUHAN ITU BAIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-4iJ3dRGWpF8/Tfyh89NzZ4I/AAAAAAAAA6Q/4S19dM_iAUE/s1600/45090_1477619098635_1178482664_31295082_1373957_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-4iJ3dRGWpF8/Tfyh89NzZ4I/AAAAAAAAA6Q/4S19dM_iAUE/s400/45090_1477619098635_1178482664_31295082_1373957_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619544503648216962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di SAAT tempat saya belajar teologi, saya memiliki beberapa kawan yang cukup dekat.  Salah satunya bernama Paul.  Sejak awal bertemu dia kesan pertama yang didapatkan ialah HUMBLE.  Ia seorang yang begitu rendah hati.  Orangnya sabar, jarang marah, ringan tangan, dan suka mendengarkan keluhan teman-temannya yang penuh dengan masalah.  Biasanya saya sering menggoda apa yang menjadi kekurangannya.  Paul memiliki rambut yang beti (bener-bener tipis).  Acapkali setiap kali lewat didepannya saya sering berteriak “argghh,, help silau-silau”.  Atau kadang saya bercanda demikian ketika malam hari “Paul, gelap neh, temenin dong, gua butuh cahaya kepalamu”.  Kadang juga saya katakan “Paul, pinjem bentar dong, gua mau becermin neh”.   Setiapkali saya menggodanya, ia hanya tersenyum dan tertawa menikmati candaan itu.  Ia tidak berdaya untuk membalasnya.  Entah  terlalu baik atau terlalu polos,  sehingga ia tidak bisa memikirkan kata-kata balasan untuk menggoda saya.  Sampai saya kasian sama dia dan memberitahukan kekurangan saya yang terletak pada gigi yang artistik (berantakan) dan kadang mulut saya agak monyong.  Dia senang sekali dan besoknya ia pun mulai menggoda saya, dan kami akhirnya selalu balas-balasan menggoda acapkali bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari goda menggoda itu ternyata membawa kami kepada tingkat pershabatan yang lebih dalam.  Saya sempat ke Jakarta dan menginap dirumahnya.  Ia menjemput saya dari rumahnya dengan sepeda motor pinjaman, dan saya duduk dibelakang membawa koper selama kurang lebih 1,5 jam.  Semenjak itu kami mulai membicarakan rencana pelayanan kami di kemudian hari.  Membagikan outline kehidupan.  Saya merencanakan kapan sekolah lagi, 10 tahun depan rencana mau bagaimana, ia juga merencanakan kapan akan menikah, dsb.  Kami berbagi visi misi pelayanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang,  visi yang direncanakannya ternyata tidak terealisasi.  November lalu dia sering mengalami demam yang tinggi.  Dan setelah di cek ternyata Paul divonis terkena kanker darah yang mematikan.  Saya cukup terkejut ketika mendengar berita itu di Makassar.  Tapi apa daya, yang bisa saya lakukan hanya berdoa untuk dirinya.    Saya bertanya “Tuhan, kenapa ya, Paul orang yang baik, dia punya hati untuk melayani Tuhan.  Khotbahnya pun pernah memberkati banyak orang.  Mengapa ia harus tidak berdaya karena kanker ini?”  Sesekali mengirimkan pesan untuk menguatkan, sekali-kali menelepon untuk memberi penghiburan.  Keadaannya pun makin hari makin memburuk.  Ketika balas-membalas mengirim pesan saya pernah bertanya kepada dia “Paul, bagaimana perasaanmu saat ini, tidakkah kamu bertanya kepada Tuhan mengapa ini terjadi terhadap dirimu?” “Apakah kamu kecewa sama Tuhan?”  Dan tidak kusangka-sangka jawabannya dia sederhana “Fong, Tuhan itu baik.... Dia terlalu baik buat saya.”  Dan saya pun tidak dapat berkata-kata lagi.  Beberapa minggu setelah kami bercakap-cakap, akhirnya pada akhir bulan Mei, sahabat saya dipanggil oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terenung dalam benak saya perkataan Paul “Tuhan itu baik Fong”.  Dia mengatakan bukan dikala ia mau menikah.  Ia mengatakan itu bukan saat pelayanannya dipakai secara luar biasa.  Ia mengatakan itu juga bukan ketika berkat-berkat materi menghampiri dia.  Tapi ia mengatakan hal itu justru ketika ia hampir selesai mengerjakan skripsi, dan dengan semangat membara hendak melayani Tuhan, namun harus berdiam karena terserang kanker.  Apa yang dipikirkannya tentang Tuhan?  Setelah saya berpikir-dan berpikir, saya baru sadar bahwa Paul telah mengenal Tuhannya dengan baik.  Dia kenal jelas siapa Tuhan, dan ia tahu Bapa yang ia miliki tidak pernah salah bekarya dalam kehidupannya.  Karena itu ia katakan “Tuhan itu baik Fong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira iman ini juga yang dimiliki oleh Ayub.  Kita tahu bahwa Ayub adalah salah seorang manusia berdosa yang mengalami penderitaan paling parah, baik dalam Alkitab, bahkan mungkin di sepanjang zaman.  Dalam waktu sekejap ia kehilangan kekayaan, kesehatan, bahkan semua keluarganya.  Kesepuluh anaknya mati, dan istrinyapun meninggalkannya.  Adakah penderitaan yang begitu hebat yang dialami oleh manusia berdosa?  Hampir-hampir tidak ada.  Saya kira Ayubpun bertanya-tanya kepada Tuhan.  Mengingat bagi orang timur tengah pada waktu itu, bahwa kehilangan harta, tertimpa bencana, dan mati muda itu merupakan kutukan Tuhan atas dosa seseorang.  Ironinya Ayub tertimpa ketiga-tiganya.  Ia kehilangan harta, ia tertimpa bencana, bahkan anak-anaknya mati muda.  Saya kira Ayub segera mengintropeksi dirinya waktu itu apakah ada dosa yang ia sedang lakukan?  Atau jangan-jangan ada dosa yang tidak ia sadari ia sudah lakukan?  Tapi jika ada,  ia sudah sering memberikan korban bagi Tuhan untuk dosa-dosa yang mungkin tidak ia ketahui.  Dan setelah merenung lebih lanjut, akhirnya Ayub menemukan bahwa dirinya tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakitkan hati Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat seperti itu bukankah semestinya Ayub dapat bertanya kepada Tuhan?  Ya jelas.  Sama seperti seorang anak yang bingung dapat bertanya kepada ayahnya apa yang terjadi.  Bahkan semestinya wajar jika Ayubpun menjadi kecewa sama Tuhan.  Tapi sangat menarik, bahwa ucapan yang diberikannya di ayat 21 “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.”  Ayub seakan berkata “apapun yang terjadi Tuhan tetap baik, karena itu aku memuji-Nya.”  Sementara itu respon istrinya berbeda.  Ia marah sama Tuhan dan kecewa lantas menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan.  Istri Ayub hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tapi tidak mau menerima jika ia harus menghadapi kesusahan dan penderitaan.  Karena itu ia mengutuki Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Ayub untuk tetap memuji Tuhan dalam penderitaan yang dialaminya tidak lain karena ia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.  Ia dengan jelas mengenal siapa Tuhan yang ia sembah.  Di ayat pertama narator menjelaskan “Bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur, ia hidup takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”  Pengenalan akan Tuhanlah yang memampukannya untuk memuji Tuhan bahkan di saat keadaan tersulit sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acapkali beberapa orang Kristen memilih untuk merespon kesusahan, pengujian dan penderitaan yang ia alami seperti istri Ayub.  Mereka kecewa sama Tuhan, marah, bahkan mundur untuk menjadi orang kristen.  Mungkin ada juga yang tidak seekstrim itu.  Mereka tidak sampai mengutuki Tuhan, mereka masih pergi ke gereja, tapi sudah tidak ada lagi hati untuk Tuhan, tidak mau pelayanan, juga tidak mau bersaat teduh dan melakukan doa pribadi sebagai bukti kekecewaan mereka.  Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang belum mengenal siapa Tuhan seutuhnya.  Karena itu mereka kecewa, mereka mundur dari pelayanan, dan perlahan mulai meninggalkan Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun orang yang sungguh mengenal Tuhan, ia akan tetap melihat kebaikan Tuhan walaupun ia harus melewati lembah yang kelam, dan walau ada perkara berat (entah kesusahan, penderitaan,dsb) yang menimpa dirinya.  Ia tetap dapat berkata seperti Ayub “Terpujilah nama Tuhan.”  Dan ia akan tetap dapat berkata seperti kawan saya Paul “Tuhan itu baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe yang manakah diri anda ketika meresponi penderitaan?  Tipe istri Ayub...atau tipe Ayub?  Yang mudah kecewa dan ngambek sama Tuhan, atau yang tetap dapat melihat kebaikan Tuhan di dalam semua kesusahan yang engkau hadapi.  Milikilah pengenalan akan Tuhan yang lebih intim lagi, supaya kita tetap dapat tersenyum menghadapi masa yang paling susah sekalipun, karena kita tau bahwa ada Tuhan yang begitu baik ada bersama dengan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1338589998432250408?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1338589998432250408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1338589998432250408&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1338589998432250408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1338589998432250408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/06/tuhan-itu-baik.html' title='TUHAN ITU BAIK'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-4iJ3dRGWpF8/Tfyh89NzZ4I/AAAAAAAAA6Q/4S19dM_iAUE/s72-c/45090_1477619098635_1178482664_31295082_1373957_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1426679803696099215</id><published>2011-06-11T15:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-11T16:17:49.608-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bible Study'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Turunnya Roh Kudus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rZAZ97cDaug/TfP3g7gYhxI/AAAAAAAAA6I/zFLNLVem4kE/s1600/pentecost.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rZAZ97cDaug/TfP3g7gYhxI/AAAAAAAAA6I/zFLNLVem4kE/s400/pentecost.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617105305362532114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KIS 2:1-2&lt;br /&gt;1 ¶  Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.&lt;br /&gt;2  Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita bersama memperingati akan hari turunnya Roh Kudus. Sebuah 'era' baru setelah zaman Allah Bapa, Allah Anak, namun semua terangkum dalam satu era, era milik Tuhan, yang tidak pernah berhenti memperhatikan manusia sejak mulanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada waktu itu?  Di ayat 2 di katakan tiba-tiba "turunlah dari langit...."  Roh Kudus datang dari atas.  Yaitu dari Bapa yang di Surga yang mencurahkan Rohnya kepada kita.  Roh Kudus tidak didapat dari dunia, bukan karena manusia melakukan kebaikan ini itu, apalagi 'training' ini dan itu untuk mendapatkannya.  Jelas itu konsep yang keliru.  RK turun dari langit sebagai anugerah yang hanya Tuhan yang dapat memberikan dan membagikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa?  Yaitu kepada "orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat."  Mengapa RK tidak turun di atas bait Allah yang begitu kultus, dimana Tuhan mengatakan di sanalah Ia hadir?  Atau mengapa RK tidak turun di sinagog-2 tertentu?  Tapi Alkitab hanya mengatakan di suatu tempat.  Dengan kata lain RK tidak selalu hadir di tempat-tempat religi.  Karena itu jelas keliru jika kita mengatakan bahwa RK ada di gereja ini, gerja itu, dsb.  RK tidak terikat oleh lembaga dan tidak dapat diteritorikan.  &lt;br /&gt;Namun RK turun ke atas setiap orang yang percaya yang senantiasa bersekutu dalam iman dan doa, serta perenungan akan Firmann Tuhan.  Itulah awal mula Roh Kudus turun.  Yaitu ketika mereka berkumpul dan bersekutu bersama.  Mereka bukanlah orang-orang yang hadir hanya sekedar rutinitas.  Tapi mereka adalah orang-orang yang sungguh percaya akan janji Tuhan, percaya akan keselamatan dan karya Tuhan yang ajaib atas dunia ini.  Kepada orang-orang percaya seperti inilah RK hadir menghampiri kita.  &lt;br /&gt;Krena itu orang yang memiliki RK bukan ditentukan oleh seberapa jauh ia bisa berbahasa roh, seberapa jauh ia bisa merasa merinding, namun seberapa jauh ia percaya dan menghasilkan buah-buah dari iman kepercayaannya itu.&lt;br /&gt;TUHAN MEMBERKATI..... SELAMAT HARI PENTAKOSTA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1426679803696099215?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1426679803696099215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1426679803696099215&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1426679803696099215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1426679803696099215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/06/turunnya-roh-kudus.html' title='Turunnya Roh Kudus'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rZAZ97cDaug/TfP3g7gYhxI/AAAAAAAAA6I/zFLNLVem4kE/s72-c/pentecost.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-3715130832215726079</id><published>2011-06-01T00:38:00.000-07:00</published><updated>2011-06-01T00:48:03.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>KENAIKAN KRISTUS (Kisah rasul 1:9-14)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-IkKRZBy299w/TeXupFhwuBI/AAAAAAAAA5c/RbxsR16hg-4/s1600/naik.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 281px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IkKRZBy299w/TeXupFhwuBI/AAAAAAAAA5c/RbxsR16hg-4/s400/naik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613154900213020690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kis 1:14  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kenaikan Kristus merupakan salah satu hari raya orang Kristen yang paling sering ‘terabaikan’.  Ketika merayakan paskah biasanya gereja-gereja mengadakan KKR, kantata paskah, kebaktian subuh, yang didahului oleh doa puasa; bahkan di beberapa negara perayaan paskah dihiasi oleh banyak telur-telur paskah, coklat, dsb.  Sedangkan perayaan natal dirayakan lebih meriah dan lebih marak lagi dari perayaan paskah.  Pohon natal ditegakkan, lampu-lampu menyala berwarna-warni, lilin-lilin dinyalakan, aneka drama, kantata, paduan suara, dsb, menghiasi suasana natal.  Tak heran banyak orang menanti-nantikan momen natal.  Namun apa yang terjadi pada saat hari kenaikan?  Tidak ada apa-apa.  Hanya ibadah sesekali yang dihadiri oleh lebih sedikit jemaat dari kebaktian pada umumnya.  Paling hanya diselingin paduan suara-paduan suara.  Seakan-akan tidak ada yang penting di hari tersebut.  Karena itu banyak orang yang tidak memaknai hari kenaikan Kristus, dan tidak mengambil sikap apa-apa ketika merayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kenaikan Kristus adalah sesuatu yang sangat penting.  Kenaikan Kristus menandakan kemahakuasaan Kristus.  Kenaikan Kristus menunjukkan akan keilahian-Nya.  Serta kenaikan Kristus itu memberikan pengharapan kepada umat-Nya, dimana Ia akan datang kembali dengan kuasa-Nya dan menyelamatkan umat pilihan-Nya.  Hal inilah yang membuat murid-murid terkagum-kagum dan tidak dapat melepaskan pandangannya kelangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semestinya kita mengambil sikap tertentu ketika mengingat akan kenaikan Tuhan.  Karena itu mari kita melihat teladan murid-murid Yesus waktu itu.  Setelah Yesus terangkat ke Surga, mereka segera kembali ke Yerusalem dari bukit zaitun dan masuk ke rumah yang mereka tumpangi.  Apa yang mereka lakukan? Di rumah itu dikatakan mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama.  Mereka bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan.  Dalam masa penantian itu mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tidak berguna.  Tapi mereka mengisi waktu dengan hidup dalam Firman Tuhan, merenungkannya, serta membagikannya kepada orang lain.  Dikatakan juga dengan sehati, yang menggambarkan bahwa ada kerendahan hati antara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikiran dan kehendak.  Yang satu tidak merasa lebih baik dari yang lain....dan tidak ada kesombongan di dalam komunitas itu.  Saya membayangkan mereka saling mendengarkan, saling berhati-hati agar tidak berbicara secara semborono, dan saling menjaga perasaan guna mencapai satu tujuan yaitu menjalankan kehendak Tuhan.  Dan terakhir mereka juga dikatakan berdoa bersama-sama.  Mereka berdoa bersama untuk mencari kehendak Tuhan, sekaligus menyatakan bahwa mereka sangat bergantung kepada Tuhan untuk menjalani kehidupan mereka sehari-hari.  Saya kira berdoa bersama merupakan ciri khas jemaat mula-mula pada waktu itu.  Dalam kesemuanya ini murid-murid mempersembahkan diri mereka untuk menyembah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap-sikap inilah yang mereka (para murid) lakukan ketika mengenang akan kenaikan Kristus.  Saya kira kitapun mestinya menghargai hari kenaikan Kristus dengan cara demikian.  Hari kenaikan Kristus mengingatkan kita akan kuasa Allah yang berdaulat, sekaligus memberikan pengharapan dimana Ia akan datang kembali dengan cara yang demikian.  Karena itu selama masa penantian dalam dunia ini, mari kitapun bertekun dalam mempelajari, merenungkan serta membagi-bagikan firman itu kepada orang sekitar kita.  Usahakanlah kesehatian diantara anak-anak Tuhan.  Jauhkanlah prasangka-prasangka negatif, sikap angkuh, menganggap remeh orang lain, dan karakter-karakter negatif lainnya.  Milikilah hati yang mau diintropeksi dan rendah hati untuk berubah guna mencapai kesehatian dengan sesama kita.  Dan berdoalah untuk mencari kehendak-Nya.  Dan biarkan Tuhan yang berdaulat itu yang akan memimpin kehidupanmu.  Biarlah dengan sikap-sikap yang demikian kita dapat semakin memuliakan Tuhan kita yang naik ke Surga itu di dunia ini.  Selamat merayakan hari kenaikan Kristus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-3715130832215726079?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/3715130832215726079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=3715130832215726079&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3715130832215726079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/3715130832215726079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/06/kenaikan-kristus-kisah-rasul-19-14.html' title='KENAIKAN KRISTUS (Kisah rasul 1:9-14)'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IkKRZBy299w/TeXupFhwuBI/AAAAAAAAA5c/RbxsR16hg-4/s72-c/naik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1368555799546152180</id><published>2011-05-29T18:39:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T19:06:42.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Be a Leader</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-WovGbWi6N1c/TeL6QqdNJ4I/AAAAAAAAA5E/5Ky4-8EkchA/s1600/leader.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-WovGbWi6N1c/TeL6QqdNJ4I/AAAAAAAAA5E/5Ky4-8EkchA/s400/leader.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612323249838696322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nehemia 5:14 “Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda,....aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini berita surat kabar banyak memuat kekecewaan rakyat terhadap pemimpin negeri ini.  Para pemimpin itu dianggap tidak memikirkan kepentingan dan kesusahan rakyatnya.  Misalkan saja masalah pembangunan gedung DPR yang diperkirakan meraup triliyunan rupiah.  Seakan-akan lupa ada ribuan rakyatnya yang masih menjerit kelaparan dan memohon pertolongan.  Dengan gaji yang begitu tinggi masih meminta fasilitas ini dan itu.  Pakai acara study banding yang hampir tidak menghasilkan apa-apa selain kritikan dan cacian.  Padahal kerjanya kalau di rapat hanya tidur, berkelahi, melihat gambar-gambar porno (how come!!!! ckckckckck), dsb.  Masih untung kalau datang rapat dan mau memikirkan masalah bangsa ini.  Kadang sparuh peserta rapat bisa tidak hadir.  Ahhh...wajar kalau rakyat kecewa... saya pun sebagai masyarakat yang terlahir di Indonesia kecewa dengan pimpinan negeri ini.  Bahkan terkadang iri dengan para pimpinan negara lain yang benar-benar berupaya memikirkan kepentingan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-lgTtukULcHk/TeL7XBOm5II/AAAAAAAAA5U/-nLpxskL0cU/s1600/DPR%2Bkalera.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lgTtukULcHk/TeL7XBOm5II/AAAAAAAAA5U/-nLpxskL0cU/s320/DPR%2Bkalera.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612324458542326914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para pemimpin kita harus belajar dari seorang bapak yang bernama Nehemia.  Nehemia sudah menunjukkan bagaimana kualitas seorang pemimpin bersikap. Karena anugerah Tuhan Nehemia  ditunjuk sebagai bupati di deaerahnya.  Sebagai wakil rakyat ia sangat memikirkan kebutuhan rakyatnya.  Karena itu dalam perikop di ayat ini dikatakan bahwa Nehemia tidak mau menuntut hak (gaji, fasilitas,jatah study banding, dsb) yang selayaknya diberikan kepada seorang bupati, padahal ia berhak untuk mendapatkannya.  Mengapa? karena ia tidak mau semakin membebani rakyatnya yang sedang mengalami banyak kesusahan.  Jika di negeri kita para pemimpin suka melebarkan teritori hak yang mereka miliki dan memakan hak-hak rakyatnya, Nehemia malah mengurangi hak miliknya untuk rakyatnya. Itulah sikap pemimpin yang semestinya. Saya kira pemimpin demikianlah yang layak disebut sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Jika anda seorang pemimpin, pikirkanlah kebutuhan orang yang engkau pimpin”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1368555799546152180?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1368555799546152180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1368555799546152180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1368555799546152180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1368555799546152180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/05/lintas-pikir.html' title='Be a Leader'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WovGbWi6N1c/TeL6QqdNJ4I/AAAAAAAAA5E/5Ky4-8EkchA/s72-c/leader.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-7915065385206895928</id><published>2011-05-22T08:02:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T08:06:12.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zVHr2ufD7_Q/Tdkl586oLnI/AAAAAAAAA48/irBjVhCJ_y4/s1600/Crown.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 306px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zVHr2ufD7_Q/Tdkl586oLnI/AAAAAAAAA48/irBjVhCJ_y4/s400/Crown.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609556488401464946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sikap terhadap pencobaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kita menghadapi cobaan?  Di ayat 12 Yakobus berkata “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan....”.  Inilah sikap yang tepat ketika menghadapi pencobaan: Bertahan.  Yakobus meminta kita untuk bertahan ketika kita dicobai.  Kita tidak diminta untuk berperang melawan pencobaan itu, seakan-akan kita mau memusnahkan pencobaan tersebut.  Percuma saja, itu tidak akan mungkin terjadi.  Selama kita hidup didunia yang jahat ini, kita akan terus dicobai.   Satu-satunya sikap yang diperlukan untuk menghadapinya yaitu bertahan dan bersabar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiamana caranya bertahan?  Paulus mengajarkan kita, ketika menghadapi pencobaan kita harus menggunakan perisai iman.  Iblis slalu berupaya untuk menjauhkan kita dari Tuhan.  Segala macam cara akan dilakukan agar kita semakin hari semakin jauh dari Tuhan, dan kemudian meragukannya, bahkan meninggalkan iman kita kepada Tuhan.  Disitulah kita tetap harus belajar beriman kepada Tuhan.  Iman membuat kita bertahan.  Percaya dan bergantung sama Tuhan, membuat kita mampu menepis semua serangan iblis.  Iman akan membuat kita kembali kepada Tuhan.  Selain itu kita butuh teman atau partner rohani yang bisa mengingatkan kita untuk tidak jatuh dalam dosa.  Ingatlah selalu bahwa dibalik dosa-dosa itu ada akibat yang tidak baik untuk kita.  Intinya bertahanlah bertahanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada setiap kita yang dapat bertahan, Yakobus berkata Berbahagialah..... atau Bergembiralah....Atau bersukacitalah..... Mengapa?  Karena orang yang bertahan, lama-lama akan menjadi kuat dalam menghadapi pencobaan berikutnya.  Dan orang tersebut akan menjadi tahhan uji.  Dan setelah itu kita akan menerima mahkota kehidupan yang telah dijanjikan Allah kepada setiap kita.   Mahkota itu merupakan simbol kemenangan yang biasa diberikan kepada pemenang dalam pertandingan olahraga.  Bukan hanya sebagai simbol kemenangan, namun mahkota juga dapat dianggap sebagai simbol kehormatan.  Apa mahkota bagi kita yang bertahan dalam menghadapi pencobaan?  Yaitu kehidupan kekal.  Tidak ada mahkota yang lebih indah dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang CEO hendak mewariskan perusahaan besar kepada karyawan terbaiknya. Untuk itu ia memanggil seluruh karyawannya, memberikan masing² sebutir BENIH di tangannya dan berkata, "Sirami dengan teratur, rawat, dan kembalilah setahun dari sekarang dengan membawa tanaman yang tumbuh dari benih ini. Yang TERBAIK, pemiliknya akan menjadi penggantiku sebagai CEO perusahaan ini. Seorang karyawan, Rahmat, pulang ke rumah. Setiap hari disiraminya dengan air dan pupuk. Setelah 6 bln, di kantor, eksekutif lainnya saling membicarakan tanaman mereka, sedangkan Rahmat melihat TIDAK ADA PERUBAHAN yang terjadi pada benih miliknya. IA MERASA GAGAL.&lt;br /&gt;Setelah setahun, seluruh eksekutif menghadap CEO, memperlihatkan hasil benih tersebut. Rahmat berkata pada istrinya bahwa ia tdk akan membawa pot yang kosong... ia tergoda untuk mengganti benihnya itu dengan benih yang lain.  Namun istrinya mendorongnya untuk menyatakan yang sebenarnya.   Rahmat menyadari bahwa istrinya menyarankan HAL YANG BENAR.  Tuhan tidak suka jika ia berbuat curang dan tidak jujur.  Memasuki ruangan meeting, Rahmat membawa sebuah pot kosong. Seluruh mata memandangnya kasihan.  Ketika Sang CEO memasuki ruangan, ia memandang keindahan seluruh tanaman itu, hingga akhirnya berhenti didepan Rahmat yang tertunduk malu. Sang CEO memintanya ke depan dan menceritakan TRAGEDI yang menimpanya.  Ketika ia selesai bercerita, Sang CEO berkata, "berikan tepuk tangan yang meriah untuk Rahmat, CEO yang baru". Ia berkata, “Aku memberikan kepada kalian sebutir benih yang sebelumnya TELAH KUREBUS DI AIR PANAS hingga mati dan tidak mungkin untuk tumbuh. Melihat bahwa benih itu tidak tumbuh, kalian menukarnya dan berbohong kepadaku. Lain halnya dengan Rahmat, dia mau berkata yg sebenarnya terjadi.  Akhirnya perusahaan besar itu diwariskan kepada Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga halnya dengan anak-anak Tuhan.  Mari tetap berada dalam jalur yang benar.  Jangan biarkan diri kita termakan pencobaan untuk berbuat dosa dan ketidak benaran.  Bagi setiap kita yang bertahan, berbahagialah..... karena mahkota kehidupan sudah tersedia didepan kita.  Kita layak menjadi ahli waris kerajaan Allah.   Tapi mungkin ada diantara kita yang berkata “Saya sudah tidak layak dihadapan Tuhan.  Saya sudah melakukan banyak dosa, bahkan sampai saat ini saya tetap masih bergumul dengan dosa.    Sudah tidak tidak ada kesempatan bagi saya.”  Kepada kita yang berkata demikian, saya Cuma mau mengatakan bahwa itu bisikan iblis.  Selagi kita hidup...itulah kesempatan itu.  Karena itu mari berjuang kembali.  Jangan mau menyerah terhadap dosa.  Bangkit dan ambil tekad yang baru bahwa kita tidak mau lagi diikat oleh dosa.  Dan kemabaliah pada jalur yang benar, untuk mengejar mahkota kehidupan yang tersedia didepan kita.&lt;br /&gt;Karena itu: Pencobaan apakah yang sedang saudara hadapi saat ini?    Jangan menyerah.  Jangan membiarkan kita dikuasai oleh cobaan-cobaan itu.  Tapi bertahanlah.  Bersabarlah.  Mahkota kehidupan sedang menanti kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri khotbah ini mari kita baca bersama Yakobus 1:12 “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-7915065385206895928?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/7915065385206895928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=7915065385206895928&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7915065385206895928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/7915065385206895928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/05/bertahan-dalam-pencobaan-yakobus-112-18_2489.html' title='Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #3'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zVHr2ufD7_Q/Tdkl586oLnI/AAAAAAAAA48/irBjVhCJ_y4/s72-c/Crown.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-2582304315460426726</id><published>2011-05-22T08:00:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T08:02:45.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-QOgL5cIm3MQ/TdklZA0gKUI/AAAAAAAAA40/vpkpu0MVs04/s1600/Fish-Bait-Love-713100.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 255px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QOgL5cIm3MQ/TdklZA0gKUI/AAAAAAAAA40/vpkpu0MVs04/s400/Fish-Bait-Love-713100.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609555922513832258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara kerja pencobaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pencobaan pun ada cara kerjanya.  Memang pencobaan dapat dikemas dalam bentuk apapun.  Namun cara kerjanya umumnya sama.  Pertama, pencobaan biasanya memikat hati dan tidak tanpak menakutkan.  Yakobus menggambarkan pencobaan itu seperti dalam dunia pancing-memancing.  Ketika ia berkata “Setiap-tiap orang dicobai oleh keinginan sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” sebenarnya ini merupakan bahasa yang digunakan untung menangkap ikan pada waktu itu.  Cobaan itu hampir sama seperti umpan dalam memancing.  Untung mendapatkan ikan, kita cuma butuh umpan.   Tidak ada umpan ikan yang berbentuk ikan hiu, yang bisa bergerak-gerak sendiri mengejar ikan-ikan.  Umpan seperti itu hanya membuat ikan-ikan menjauh.  Tapi cukup dengan umpan yang digemarin para ikan.  Ditaruh dalam pancingan dan dibiarkan tenang didalam air.   Ikan-ikan akan tergoda dengan sendirinya.  Keinginan untuk makan akan muncul, dan ketika ia makan, mungkin sentuhan pertama begitu menggoda, namun setelah ia melahap umpan itu, ia akan tertangkap kail, dan binasalah ikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencobaan pun demikian.  Ia tidak tampak menakutkan dan mengancam.  Kalo menakutkan tidak akan ada orang yang mau mendekati umpan si jahat.  Ia tampak seperti makanan favorit kita.  Menyenangkan, menggoda, dan menawan hati.  Itulah pencobaan yang ditawarkan iblis.  Kalau dipikir-pikir memang melakukan dosa itu tampak enak.  Bahkan enak sekali!  Mana ada dosa yang tidak enak untuk dilakukan.  Kalau tidak enak, kita tidak akan tergoda untuk melakukannya.  Tapi ingat, ada kail dibelakang tawaran yang enak itu.  Sekali kita terperangkap dalam dosa yang ditawarkan, kail si jahat akan melukai kita, dan celaka akan menimpa kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu mari kita jaga keinginan hati kita.  Ingat, iblis hanya mencobai dengan memberi umpan; kitalah yang memutuskan memakan umpan itu atau tidak.  Seperti pepatah mengatakan “Kita tidak bisa mencegah burung terbang di atas kita, namun kita bisa mencegah burung-burung itu bersarang di kepala kita.”  Demikian juga dengan pencobaan.  Kita tidak bisa menghindari pencobaan-pencobaan yang ada disekitar kita, tapi kita bisa menghindari cobaan itu sehingga kita tidak jatuh dalam dosa.  Karena itu mari kita memanage keinginan kita dengan baik.  Tidak semua keinginan baik untuk kita penuhi.  Jika kita mengingini sesuatu, mari lihat baik-baik, apakah keinginan itu akan membawa kita jatuh dalam pencobaan atau tidak.  Apakah ada kail dibalik makanan yang terhidang didepan ktia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pencobaan itu dapat berkembang.  Sama seperti perusahaan multilevel yang terus menggandakan cabang-cabang pekerjanya, demikian juga pencobaan bekerja.  Jika yang pertama Yakobus memakai gambaran orang yang sedang memancing, kalimat berikutnya ia memakai gambaran dari tanaman.   Yakobus berkata jika keinginan kita dibuahi, maka keinginan itu akan melahirkan dosa.  Dan jika dosa itu sudah matang, maka dosa itu akan menghasilkan maut.  Itulah cara kerja pencobaan iblis.  Awalnya dia mulai menawarkan umpan yang menarik.  Jika kita berminat dan tertarik, dan jika kita memakannya, maka akan melahirkan dosa.  Awalnya mungkin dosa-dosa itu tampak kecil, yang seakan-akan tidak masalah jika kita melakukannya.  Namun perlahan-lahan dosa itu akan terus berkembang dan menjadi jerat bagi kita, yang begitu mengikat.  Yakobus mengatakan kalau dosa itu sudah matang maka dosa tersebut akan melahirkan maut.  Itulah pencobaan.  Sekali kita menyantapnya, ia akan terus mendorong kita untuk melakukan tingkatan yang lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang pria berprofesi sebagai pemain sirkus mencari anak ular untuk dilatih. Setelah memasuki sebuah hutan, ia berhasil menemukan dua ekor anak ular yang masih kecil. Ia membawa pulang kedua anak ular tersebut kerumahnya dan mulai melatih mereka. Awalnya ia mulai melatih mereka membelit tangan sipemain sirkus, lalu juga kakinya. Setelah ular-ular tersebut semakin besar, sipemain sirkus semakin berani melakukan latihan yang berbahaya. Ular-ular yang kini sudah besar dibiarkan membelit seluruh tubuhnya. Tetapi ketika ia menyuruh ular-ular tersebut untuk melepaskan lilitannya, merekapun akan melepaskan lilitannya. Si pemain sirkus merasa bahwa ular-ular tersebut sudah cukup terlatih dan sudah saatnya ia mengajak mereka bermain sirkus. Selama beberapa kali ia melakukan atraksi bersama-sama ular kesayangannya, semua berjalan lancar dan ia mendapat banyak uang dari penonton. Tepuk tangan dan sorak- sorai penonton terdengar riuh-rendah ketika sang pemain sirkus keluar bersama salah satu ular kesayangannya. Ia pun memerintahkan ular tersebut membelit seluruh tubuhnya. Lama-kelamaan belitan ular tersebut semakin kuat, dan ketika sipemain sirkus memerintahkan untuk melepaskan belitannya, ular itu tidak menurut. Sebaliknya ia membelit semakin kuat, sehingga pemain sirkus itu terjatuh dan mati lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cara kerja dosa.  Awalnya berawal dari hal kecil dan tampaknya tidak masalah jika kita bermain dengannya.  Semua dosa, entah dosa perselingkuhan, berjudi, korupsi, pembunuhan, dan sebagai, selalu, tidak pernah tidak,pasti dimulai dari hal-hal kecil.  Awalnya sangat memikat, dan tampak tidak masalah jika kita melakukannya sekali saja.  Namun perlahan-lahan ia akan menggerek kita untuk melakukan yang lebih parah lagi, sampai kita sungguh-sungguh terjerat dan terlilit dan celaka olehnya.  Karena itu janganlah kita bermain-main dengan dosa.  Seringkali kita suka bermain-main dengan dosa.  Berbohong sedikit ga apa-apa lah.  Mencuri sedikit ga apa-apa.  Gosip sama teman sendiri tidak apa-apa.  Lihat gambar-gambar yang tidak benar sekali-kali juga ga pa pa.  Dsb.  Namun ingat: Orang yang terkena HIV awalnya juga berkata demikian.  Orang yang meninggal karena kanker paru-paru awalnya juga demikian.  Pembunuhan juga terjadi dimulai dari pertikaian kecil.  Dan para koruptor besar itu juga berawal dari kebiasaan bohong sedikit-sedikit.  Dosa yang tampak kecil perlahan-lahan akan memperbesar teritorinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-2582304315460426726?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/2582304315460426726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=2582304315460426726&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2582304315460426726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/2582304315460426726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/05/bertahan-dalam-pencobaan-yakobus-112-18_22.html' title='Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #2'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QOgL5cIm3MQ/TdklZA0gKUI/AAAAAAAAA40/vpkpu0MVs04/s72-c/Fish-Bait-Love-713100.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4052951499397895501</id><published>2011-05-22T07:57:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T08:00:29.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Discipleship'/><title type='text'>Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uP_r2N2hHWg/Tdkk64AMOUI/AAAAAAAAA4s/RFlUkISHFVQ/s1600/048_Temptation.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 354px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uP_r2N2hHWg/Tdkk64AMOUI/AAAAAAAAA4s/RFlUkISHFVQ/s400/048_Temptation.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609555404750862658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal seorang pria yang merupakan majelis jemaat di salah satu gereja di Indonesia.  Dia seorang yang cinta Tuhan.  Sejak kecil anak-anaknya sudah diajar untuk hidup takut akan Tuhan.   Pelayanannya dapat dikatakan baik.  Gesit, sigap, dan tanggap dalam menjalankan tugas-tugasnya.  Ditengah kesibukan pelayanannya, pekerjaan dan keluarga tetap diperhatikannya.  Ketika salah seorang pendeta mengunjungi gerejanya, pendeta itu menyaksikan bahwa majelis itu adalah seorang pelayan yang baik.  Sikapnyapun sangat rendah hati.  Terlihat dari ia sering memikirkan dan mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun seperti petir di siang bolong.  Tiba-tiba terdengarlah kabar bahwa majelis ini berselingkuh dengan seorang PSK.  Bahkan ternyata hubungan itu sudah lama berlangsung, hanya tidak ada yang tau.  Akan tetapi seperti pepatah mengatakan: Kebusukan yang ditutupi serapat apapun pasti akan tercium juga.  Demikianlah kini semua orang di gereja itu mengetahui dosa-dosa dari majelis yang terkenal baik tersebut.  Semua bertanya-tanya: Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?  Bukankah dia seorang yang baik? Bahkan ia merupakan seorang yang cinta Tuhan.  Namun bagaimana dia bisa terjatuh sedalam itu?  Istrinya sempat menjadi stress dan mengalami gangguan mental.  Anak-anaknya menjadi kecewa dengan ayahnya.  Dan iapun mundur dari pelayanan di gereja.  Majelis ini telah jatuh dalam pencobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya dalam hidup ini orang-orang Kristen tidak bisa lepas dari apa yang namanya pencobaan.  Iblis akan terus berupaya untuk mencobai setiap anak-anak Tuhan supaya kemudian kita jatuh dalam kubangan dosa.  Saya percaya setiap kita yang ada ditempat ini (atau yang sedang membaca tulisan ini) juga mengalami pencobaan setiap harinya.  Iblis berada di sekitar kita dengan begitu liciknya sedang berupaya untuk menjatuhkan kita setiap hari, bahkan dimanapun kita berada.  Karena itu mari kita merenungkan makna pencobaan yang diajarkan Yakobus kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hakikat Pencobaan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Banyak orang bertanya-tanya darimanakah datangnya pencobaan?  Beberapa orang menganggap pencobaaan itu datangnya dari Allah.  Mereka menganggap Allahlah penyebab kejatuhan manusia, sebab Allah yang mencobai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Yakobus berkata dalam ayat 13 bahwa jika kita jatuh dalam pencobaan janganlah kita berkata bahwa pencobaan ini datangnya dari Allah, sebab Allah tidak dapat mencobai siapapun juga.  Logikanya sederhana.  Allah kita adalah Allah yang maha kasih.  IA pun adalah Allah yang maha baik.  Ia tidak mungkin melakukan yang jahat terhadap anak-anak yang dikasihi-Nya.  Sama seperti orangtua yang jelas-jelas tau kalau pisau itu berbahaya bagi anak berusia 3 tahun.  Ia tidak akan dengan sengaja menaruh pisau itu ditempat bermain anaknya.  Karena orangtua yang baik tidak mungkin berbuat begitu jahat terhadap anaknya sendiri.  Demikian juga Allah tidak akan pernah mencobai manusia dengan maksud menjatuhkan manusia ke dalam dosa.  Karena itu Yakobus berkata bahwa Tuhan tidak mungkin mencobai kita, sebab Tuhan sendiri tidak bisa dicobai oleh si jahat, dan ia tidak dapat mencobai siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus dapat membedakan antara pencobaan dan pengujian.  Dalam bahasa inggris hal ini dapat di artikan menjadi trial dan temptation.  Memang dalam bahasa Yunani (bahasa asli alkitab PB), pencobaan dan ujian itu hanya terekspresi dalam satu kata peirasmos.  Namun dalam penggunaannya Yakobus membedakannya menjadi dua makna.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa beda ujian dan pencobaan (trial and temptation) ?  Dari sumbernya ujian itu berasal dari Allah, sedangkan pencobaan itu berasal dari si jahat / iblis.   Ujian bertujuan untuk memperkuat iman kita.  Abraham pernah diuji untuk mempersembahkan anak satu-satunya.  Ayub pernah diuji dengan penderitaan yang begitu berat.  Semuanya itu jelas bertujuan untuk memperdalam iman mereka.  Tuhan menguji anak-anaknya dengan tujuan baik, yaitu untuk mempertumbuhkan iman kita.  Sedangkan pencobaan itu berasal dari Iblis dengan tujuan untuk menjatuhkan setiap anak-anak Tuhan.  Iblis sangat senang jika setiap anak-anak Tuhan jatuh dalam dosa dan kemudian semakin jauh daripada Tuhan.  Karena itu ia akan terus mencobai anak-anak Tuhan agar setiap anak Tuhan semakin hari semakin jauh daripada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat ada seorang kawan yang baru saja jatuh dalam dosa.  Masalahnya sepele, tapi karena emosi meluap-luap maka kawan saya memukul orang lain hingga terluka.  Kemudian kawan saya ditegur karena emosi yang berlebihan itu.   Teguran itu ternyata berhasil membuat ia menyesal. Di tengah rasa sesalnya itu ia berkata “Yahhh.....proseslah...Tuhan sedang menguji saya.”  Sungguh ini merupakan konsep yang sangat keliru.  Tuhan tidak pernah sengaja menjatuhkan kita ke dalam pencobaan.  Iblislah yang terus mendorong kita untuk melakukan tindakan jahat.  Itulah hakikat dari pencobaan.  Yaitu berasal dari si jahat guna menjatuhkan anak-anak Tuhan.  Selanjutnya mari kita lihat bagaimana cara iblis mencobai kita:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4052951499397895501?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4052951499397895501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4052951499397895501&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4052951499397895501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4052951499397895501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/05/bertahan-dalam-pencobaan-yakobus-112-18.html' title='Bertahan Dalam Pencobaan (Yakobus 1:12-18) #1'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uP_r2N2hHWg/Tdkk64AMOUI/AAAAAAAAA4s/RFlUkISHFVQ/s72-c/048_Temptation.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-1340497761370119857</id><published>2011-05-15T16:09:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T16:12:15.953-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Corner Punishment</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FRUiQfu2yz8/TdBdkcMaOdI/AAAAAAAAA4k/pfcWspp-Ae8/s1600/8862480-little-child-boy-wall-corner-punishment-standing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FRUiQfu2yz8/TdBdkcMaOdI/AAAAAAAAA4k/pfcWspp-Ae8/s400/8862480-little-child-boy-wall-corner-punishment-standing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607084416701184466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mzm 38:22 Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu habit unik yang dilakukan orang barat, yang agak berbeda dengan orang timur, adalah tentang bagaimana cara orang tua memberi hukuman kepada anaknya yang masih kecil.  Kebiasaan ini dapat saya saksikan pada saudara dan keluarga saya yang sudah lama tinggal di luar negeri, yang lantas mengadaptasi budaya barat dalam mendidik anaknya.  Ketika anaknya melakukan suatu kesalahan (entah karena nakal, tidak mau dengan kata orang tua, atau melakukan sesuatu yang dilarang) maka ia akan dihukum.  Hukumannya tampak sederhana, namun bagi anak kecil, itulah hukuman terberat dalam hidupnya.  Corner Punishment !!  Itulah jenis hukuman itu.  Jangan membayangkan anak itu diikat terus dipukul dengan rotan dsb.  Sederhana saja, anak yang nakal itu hanya ditaruh di sudut ruangan dan disuruh diam disana tanpa boleh bergerak sedikitpun selama waktu yang ditetapkan (untuk anak kecil yang berusia 3-4 tahun biasanya 2-5 menit).  Jika anak itu berpindah tempat, maka orangtuanya akan menaruh di pojok penghukuman kembali dengan waktu yang lebih lama lagi.  Itulah hukuman yang sangat berat bagi anak kecil disana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menyaksikan keponakan saya dihukum demikian oleh mamanya, ia tampak menangis tersedu-sedu.  Tidak ada hukuman yang membuatnya menangis seperti hukuman itu.  Hukuman itu tidak melukai fisiknya sama sekali, namun menyerang psikologi anak itu.  Ia sedih ketika ia tidak bisa menghampiri kedua orangtuanya serta bermain bersama mereka.  Percuma saja ia memanggil-manggil kedua orangtuanya, sebab orangtuanya tidak akan menanggapi dia dalam masa penghukuman tersebut.  Karena itu ia sedih karena dalam waktu singkat itu, ia tidak dapat menikmati hubungan bersama orangtuanya, hubungan itu putus sementara waktu.  Dan ia sedih karena kenakalannya membuat ia terpisah dari orangtuanya.  Karena itu setelah hukuman dijalankan, biasanya anak itu langsung memeluk orangtuanya dan meminta sory atas kesalahan yang diperbuat, serta janji untuk tidak melakukannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira hukuman terberat bagi kita manusia juga ialah ketika kita terpisah dari Tuhan yang adalah pencipta kita.  Terpisah dari Tuhan membuat kita tidak lagi dapat menikmati kasihnya secara sempurna.  Terpisah dari Tuhan juga menguak eksistensi kita yang merupakan manusia yang lemah tak berdaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemazmur pernah merasakan keterpisahan dari Tuhan.  Keterpisahan itu membuatnya berseru “Jangan tinggalkan aku, ya Tuhan....”.  Mungkin ungkapan ini terucap disertai dengan air mata dari hati yang terdalam.  Apa sebabnya?  Di pasal ini pemazmur mengakui dosa-dosanyalah yang membuatnya terpisah dari Tuhan.  Dosa itu begitu menekan dia (ay.5).  Ia menjadi luka karena kebodohannya sendiri (ay.6); dan dosa itu membuatnya sangat berdukacita (ay.7); dsb.  Ia seakan seperti anak yang terkena corner punishment.  Dosa telah menghalanginya untuk mendekat dan menghampiri Allah.  Ia berseru namun seakan Tuhan tidak menjawab&lt;br /&gt;Memang dosa merupakan satu-satunya musuh yang dapat menghalangi relasi intim kita dengan Tuhan.  Kejatuhan manusia kedalam dosa membuat hubungan manusia terputus dari Allah.  Manusia menjadi budak dosa dan dibelenggu oleh perbuatan-perbuatannya.  Karena itulah manusia menjadi menderita.  Menderita oleh perbudakan.  Terlebih....menderita karena hubungan dengan Allah menjadi retak.  Dosa menghalangi manusia untuk memandang wajah Tuhan.  Dosa menyumbat telinga manusia sehingga suara Tuhan seperti sayub-sayub suara dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bersyukur pada sang Khalik.  Kehadiran anak-Nya Yesus Kristus kedunia telah membawa kedamaian.  Ia datang mengakhiri ’hukuman’ yang begitu menekan manusia.  Ia menghampiri kita yang sedang berdiri dipojok ruangan.  Dengan tangan lembutnya Ia mengusap air mata kesedihan.  Dan dengan tangannya yang berlubang paku itu juga Ia memeluk kita.  Darah-Nya membelah tirai bait suci, memberikan keleluasaan kepada kita untuk menghampiri Dia.  Dan bersekutu dengan Dia kapanpun dan dimanapun kita mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semestinya bagi kita orang yang percaya saat ini mengatakan sory untuk apa yang sudah kita perbuat.  Tidak hanya pernyataan maaf; namun alangkah indahnya jika disertai dengan komitmen untuk tidak  bersentuhan lagi dengan dosa.  Walaupun sudah percaya kepada Tuhan, dan tinggal dalam lingkungan keluarga Allah; selama kita hidup di dunia kita akan terus berurusan dengan dosa.  Dosa akan terus menggoda kita dengan satu tujian:  agar kita jauh dari Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelayan Tuhan yang digodai iblis, dan kemudian ia terjatuh dalam dosa.  Dosa-dosa itu menghantui dirinya.  Kehidupan rohani menjadi kering; perasaan tidak layak saat melayani; segala kegiatan gereja hanya menjadi rutinitas belaka atau teman-teman menyebutnya formalitas spiritual.  Pada saat itulah ia akan merasa jauh dari Tuhan, seakan Tuhan meninggalkannya.  Dan perasaan keterpisahan dari Tuhan itu akhirnya menjadi hukuman yang sangat mengerikan, dimana para pelayan Tuhan seakan telah ditinggalkan oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita tidak mau hidup jauh dari Tuhan.  Apa daya kita hidup jauh dari-Nya.  Karena itu selagi ada waktu, bertobatlah dari dosa-dosamu.  Kembalilah kepadanya; katakan “sorry, saya berjanji saya tidak akan mengulangi lagi, dan saya berjanji akan hidup lebih baik”;  Kemudian nikmatilah keindahan hubungan bersama dengan Tuhan yang telah menyelamatkan dan menciptakan kita.  Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-1340497761370119857?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/1340497761370119857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=1340497761370119857&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1340497761370119857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/1340497761370119857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/05/corner-punishment.html' title='Corner Punishment'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FRUiQfu2yz8/TdBdkcMaOdI/AAAAAAAAA4k/pfcWspp-Ae8/s72-c/8862480-little-child-boy-wall-corner-punishment-standing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-4849232859078173356</id><published>2011-04-27T22:15:00.000-07:00</published><updated>2011-04-27T22:18:02.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Relation with God'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>A Better Place</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WDUcXpJDodo/Tbj4aNYv2TI/AAAAAAAAA4c/pFZliKvFYNU/s1600/BN14687_26.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WDUcXpJDodo/Tbj4aNYv2TI/AAAAAAAAA4c/pFZliKvFYNU/s400/BN14687_26.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600499265788959026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dari minggu lalu saya hendak menuangkan buah pikir ini dalam sebuah artikel.  Berhubung banyaknya vacation journey yang dilakukan akhirnya saya dapat menggenapinya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga di Melbourne.  Setelah sekian lama menanti untuk berjejak di negeri kangguru, akhirnya saya dapat menginjak negeri ini untuk kedua kalinya.  Beberapa minggu sebelum pesawat lepas landas, jujur ada perasaan senang, tidak sabar, serta exciting, yang membara dalam dada ini (lebay mode on).  Kata orang....Melbourne merupakan salah satu the most liveable city in the world.  Penataan kota yang rapi, lingkungan yang bersih, keadaan yang aman, cuaca yang cukup nyaman, masyarakat yang multi-cultural, serta suasana yang tenang itulah yang mungkin membuat kota ini menyandang julukan tersebut.  Sebenarnya kali ini merupakan kepergian saya yang kedua kalinya.  Kepergian pertama memberi kesan baik, karena itu betapa semangatnya diri ini mengunjungi tempat yang sama kali kedua.  Satu alasan yang saya sukai ketika berlibur di negeri ini adalah: negeri ini memiliki tempat yang lebih baik dari tempat dimana aku dilahirkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersihannya, keamanannya, kedisiplinannya, penataan kota, keindahan, etika, dan suasananya, semuanya mendapat nilai plus jika ditimbang dengan negara saya.  Memang disini tidak ada famili kerabat dekat (selain cece saya) yang bisa saling berbagi kasih.  Namun saya membayangkan seandainya semua orang yang saya kasihi tinggal dinegeri ini, mungkin saya akan sangat bahagia tinggal ditempat yang lebih baik dengan orang yang saya kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah naluri manusia.  Kita semua menyukai tempat yang lebih baik.  Entah karena estetika kota tersebut, tatanan, peraturan, atau karena kehadiran orang-orang yang kita kasihi di tempat tersebut, yang pasti.....kita semua menyukai tinggal di tempat yang lebih baik, indah, yang bisa mememberikan kedamaian dan ketentraman dalam jiwa.  Tidak ada orang yang ingin berlibur ketempat yang lebih kumuh, kacau, banyak peperangan, apalagi jauh dari orang-orang yang kita kasihi dan sayangi.&lt;br /&gt;Namun jika kita berefleksi lebih jauh, adakah tempat yang indah dan sempurna di dunia ini?  Semenjak dosa merambat dalam kehidupan manusia, saat itu juga tanah dikutuk dan setiap manusia harus mengalami banyak masalah dan kesusahan.  Di kota yang paling indah sekalipun tidak akan terhindar dari problema kehidupan.  Di negeri kangguru yang tampak indah dan damai inipun ternyata banyak kasus bunuh diri karena aneka ragam tekanan hidup yang menimpa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu tempat yang indah dan yang sempurna, yang disediakan bagi setiap kita orang percaya.  Surga!  Ya....surga.  Tempat penuh kebahagiaan tiada air mata, katanya.  Mulut kita penuh dengan tawa, dan tiap hari kita bersukacita.  Tidak akan pernah kita menemukan tempat yang lebih indah daripada Surga. Namun apa itu Surga?  Dimana letaknya?  Ada apa disana?  Mengapa kita bisa bahagia disana?&lt;br /&gt; Sebenarnya Surga bukanlah berbicara mengenai lokasi atau materi yang terdapat di dalamnya.  Tidak ada materi yang dapat memuaskan ruang bahagia dalam diri kita.  Namun surga itu lebih berbicara mengenai kehadiran Tuhan yang dekat dan lekat dengan kita.  Mengasihi dan dikasihi secara sempurna, yang dapat mendorong hormon-hormon kebahagiaan dalam darah dan jiwa.  Menjalin hubungan yang intim dengan Dia yang setia dan menerima kita apa adanya.  Saya kira itulah Surga.  Sebuah tempat penuh dengan kebahagiaan, karena ada Allah yang adalah Kasih, dan yang mengasihi kita secara sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, jangan pernah berpikir untuk cepat-cepat mati saja supaya bisa mendapatkan tiket ke Surga.  Keliru!  Kehadiran Tuhan bisa kita nikmati selagi kita di dunia ini.  Kehadiran Tuhan bisa kita rasakan dan jelas nyata dalam hidup kita.  Untuk itulah Yesus mati di kayu Salib.  Untuk membelah tirai bait suci, dan membiarkan kita dapat menghampiri-Nya lebih intim serta merasakan kehadiran-Nya setiap waktu.  Kini kita bisa menghampiri Dia secara leluasa dimanapun kita berada.  Lewat doa, perenungan FT, serta pengalaman hidup tiap hari yang berbeda-beda dalam masing-masing individu.  Contohnya saja Paulus.  Dia tetap dapat bernyanyi dan memuji walau berada dalam penjara.  Alasannya sederhana: karena ia tahu persis bahwa Tuhan yang ia sembah hadir bersama dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu hampiri Tuhan dan berelasilah bersamanya.  Hadirkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupanmu.  Teruslah berada dalam hubungan yang intim bersama-Nya lebih dekat dan lebih dekat lagi.  Niscaya engkau dan saya akan menikmati kebahagiaan itu, walau ditempat yang penuh dengan gejolak kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengen berlibur ke tempat yang lebih indah dari tempat tinggal kehidupanmu sekarang?  Carilah Tuhan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-4849232859078173356?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/4849232859078173356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=4849232859078173356&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4849232859078173356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/4849232859078173356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/04/better-place.html' title='A Better Place'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WDUcXpJDodo/Tbj4aNYv2TI/AAAAAAAAA4c/pFZliKvFYNU/s72-c/BN14687_26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-456811314001193687</id><published>2011-04-13T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T19:06:33.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>Mini Story Of “The Terminal”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-2cG2nHNivyA/TaZWlCOLv-I/AAAAAAAAA4U/HIFRlukYLgQ/s1600/CIMG1423.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-2cG2nHNivyA/TaZWlCOLv-I/AAAAAAAAA4U/HIFRlukYLgQ/s400/CIMG1423.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595254781305929698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari kita tentu pernah melihat film ‘The Terminal’ yang diperankan oleh aktor ternama Tom Hank.  Disana dikisahkan Tom yang diberi nama Victor Navorski terjebak dalam lapangan terbang yang membuatnya harus hidup berbulan-bulan di lapangan terbang itu.  Tidak hanya dalam sebuah film, di Jepang pun pernah terjadi demikian.  Ada seorang pria yang mendadak terkenal karena ia hidup di bandara kurang lebih selama 3 bulan.   Entah terjebak atau kesengajaan, yang pasti pria itu sudah menjadi sorotan media masa karena kebiasaannya yang tidak umum tersebut.&lt;br /&gt;Nah, kemarin sayapun mengalami mini story dari kisah-kisah di atas.  Sesuai dengan tiket yang saya beli, semestinya pesawat Sriwijaya dengan nomor SJ-567 harus berangkat meninggalkan bandara Hasanudin (Makassar) menuju bandara Juanda (Surabaya) pukul 15.40 wita.   Karena itu saya datang kebandara pukul 14.45, 1 jam lebih cepat untuk melakukan proses check in dan sebagainya.  Namun menjelang waktu yang ditetapkan, saya terheran mengapa tidak ada panggilan penerbangan.  Kemudian saya bertanya kepada petugas, dan ia meminta maaf karena ada sedikit kendala maka pesawat akan berangkat pukul 16.30.  “Yah, Cuma 50 menit.  Tidak apalah tunggu sebentar” pikirku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 menitpun berjalan begitu saja....namun panggilan itu juga tidak kunjung tiba.  Saya kembali bertanya kepada petugas dan petugas itu sekali lagi meminta maaf karena kemungkinan pukul 17.20 baru bisa diberangkatkan.  Dengan alasan bahwa ada kerusakan pada bagian tabung oksigen dalam pesawat yang masih susah untuk diperbaiki.  Kerusakan tersebut menyebabkan tekanan udara turun dan dapat membahayakan penerbangan.  “Baiklah saya akan menunggu 50 menit lagi.  Tidak masalah” pikirku lagi.  Saya memutuskan untuk membaca beberapa buku yang saya bawa dan melahapnya selama diruang tunggu.  Begitu nikmatnya dengan bacaan saya, tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 17.30.   Sayapun tersadar dan kembali bertanya “mengapa pesawat saya tidak jalan-jalan.”  Sementara saya berjalan ke arah petugas, saya melihat beberapa penumpang sudah melemparkan suara protes dan mata bermusuhan.  Mereka bertanya mengapa tidak jalan-jalan, padahal sudah dari tadi kami menunggu.  Demo kecil-kecilanpun terjadi di ruang tunggu.  Untungnya petugas cukup bijak menjelaskan, dan megatakan bahwa pesawatan akan berangkat pukul 19.00.  “Pasti!” itulah cara petugas untuk menenangkan para penumpangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun baru berselang 30 menit dari kata kepastian itu, terdengarlah pengumuman yang mengatakan bahwa pesawat akan ditunda sampai pukul 21.00.  “Apa, jam 9 malam?” pikirku jengkel.  Mengapa lama sekali penundaannya.  Serentak seluruh penumpang langsung mendatangi petugas bandara.  Hampir semua datang dengan emosi yang memuncak.  Hanya saja beberapa bisa menahannya, dan beberapa tidak.  Ada yang berteriak-teriak sampai satu ruang tunggu kedengaran.  Ada yang memaki-maki.  Ada yang memukul meja.  Beberapa lagi meminta pihak Sriwijawa bertanggung jawab, setidaknya menukarkan tiket ke pesawat lain.  Namun pihak Sriwijaya tidak bersedia karena memang tidak ada penerbangan lain yang ke Surabaya malam itu.  Akhirnya penumpangpun semakin emosi, pembicaraan semakin panas, dan beberapa petugas berkumpul mencoba menenangkan masa.  Beberapa penumpang marah karena sejak tadi pagi mereka berangkat dari ambon sudah delay selam 3 jam.  Dan sekarang delay 7 jam.  Mereka tidak bisa terima jika sepanjang hari hidup mereka berada di bandara.  Beberapa lagi emosi karena sedang membawa jenazah yang mau dikuburkan di Surabaya.&lt;br /&gt;Sayapun sebenarnya marah, namun saya berpikir jika saya berada dalam posisi petugas itu pasti saya juga tidak bisa berbuat apa-apa.  Keterlambatan pesawat bukan karena disengaja, namun karena ada kerusakan pada badan pesawat.  Jelas jika saya menjadi pihak Sriwijaya saya juga akan menyuruh para penumpang bersabar.  Jadi sayapun cuman pasif mendengar perdebatan seru mereka.  Kurang lebih 30 menit berlalu, beberapa penumpang pergi dengan kecewa.  Beberapa lagi termasuk saya, mencoba tenang dan berusaha menunggu dengan sabar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun memutuskan untuk kembali membaca buku.  Sekali-kali saya membuka laptop dan mengakses internet.  Untung saja saya membawa laptop, ada hiburan sedikit jadinya.  Pihak Sriwijaya menyediakan sedikit nasi kotak untuk kita makan malam.  Disertai teh dan kopi secara cuma-cuma.  Dalam waktu-waktu itu ruang tunggu sudah menjadi sepi.  Yang tersisa hanya orang-orang yang tampak lelah menunggu.  Yang berangkat dari Makassar seperti saya ‘hanya’ menunggu 7 jam.  Tapi mereka yang melakukan transit dari Ambon sudah menunggu hampir seharian dari pagi hari.  Karena itu wajar kami tampak lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya justru dalam keadaan seperti itulah penumpang yang satu dengan yang lainnya menjadi semakin dekat.  Saya jadi berkenalan dengan hampir 10 penumpang lain yang mengalami nasib yang sama.  Padahal sebelum-sebelumnya kalau mau berangkat langsung berangkat saja, tanpa peduli siapa yang ada di ruang tunggu tersebut.  Kemarin, Kita mentertawakan nasib kita bersama.  Kita menceritakan kekonyolan-kekonyolan yang ada.  Beberapa penumpang yang tadinya emosi, sekarang tertawa pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi.  Mungkin pikiran kami sama, dari pada capek marah-marah, mending kita tertawa saja.  Ya.... mentertawakan malangnya nasib bersama-sama.  Bahkan kami mengajak beberapa petugas untuk tertawa dan bercanda bersama.  Yang tadinya marah-marah seakan hendak memukul petugas, kini tertawa sambil mengejek-ngejek penuh canda.  Suasana kekeluargaan mulai tercipta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami lepas landas bukan pukul 21.00.  Melainkan 22.30 wita.  Jadi total waktu yang saya luangkan untuk menunggu kurang lebih selama 8 jam.  Tidak ada lagi penumpang yang marah karena keterlambatan itu.  Sudah pasrah, dan berserah sama pihak penerbangan.  Tapi jujur saya bersyukur mendapat pengalaman seperti ini (namun tetap tidak ingin sering-sering terjadi ).  Baru kali ini suasana yang akrab di antar penumpang tercipta.  Biasanya suasana dingin menghiasi ruang tunggu.  Walau sesama rakyat Indonesia, namun penumpang satu dengan yang lain tampak seperti makhluk asing.  Justru masalah-masalah yang terjadi kemarin semakin mempersatukan kita.  Suasana kekeluargaan yang penuh tawa tercipta.  Seandainya setiap kali penerbangan nuansa keakraban seperti ini pasti asyik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.....saya cuman kepingin sharing.... Tidak semua ketidaknyamanan berakhir pada hasil yang tidak baik.... bener juga memang pepatah yang mengatakan dalam setiap perkara pasti ada hikmahnya.  GBu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/415991464775413638-456811314001193687?l=ddfong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ddfong.blogspot.com/feeds/456811314001193687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=415991464775413638&amp;postID=456811314001193687&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/456811314001193687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/415991464775413638/posts/default/456811314001193687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ddfong.blogspot.com/2011/04/mini-story-of-terminal.html' title='Mini Story Of “The Terminal”'/><author><name>Hendra Fongaja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05303329550412839767</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-evIEYsQLSJ0/TemM6c-t_6I/AAAAAAAAA5o/TvXEajpvGig/s220/DSC01436.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2cG2nHNivyA/TaZWlCOLv-I/AAAAAAAAA4U/HIFRlukYLgQ/s72-c/CIMG1423.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-415991464775413638.post-8590072523327442134</id><published>2011-04-09T17:36:00.000-07:00</published><updated>2011-04-09T17:39:12.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etika Kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan Singkat'/><title type='text'>Memandang Muka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mI2dsKtOOuU/TaD8IaO_anI/AAAAAAAAA4M/dN-MdsYhn_s/s1600/face_comp.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 323px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mI2dsKtOOuU/TaD8IaO_anI/AAAAAAAAA4M/dN-MdsYhn_s/s400/face_comp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593747958605507186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003 saya memutuskan untuk ke Jogja bersama dengan beberapa temen deket.  Itu merupakan kepergian saya yang pertama kali ke kota seni tersebut.  Karena itu dalam waktu yang singkat itu saya berusaha untuk bisa mencicipi semua kekhasan yang ada disana.  Di hari pertama kami langsung memutuskan untuk menaiki dokar khas Jogja yang cukup ramai menghiasi jalan-jalan disana.  Bukannya tidak ada kendaraan, namun lebih kepada kerinduan menikmati budaya di kota itu.  Dengan dokar yang ditarik seekor kuda yang gagah, kami berkeliling kota membeli oleh-oleh, ke malioboro, dan kebebapa tempat tertentu yang cukup populer dikalangan nasional.  Sampai hari menjelang siang akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di ayam goreng Sri yang sudah ternama.  Karena tidak ada parkir khusus dokar maka kamipun harus berjalan cukup jauh untuk makan ditempat yang ramai itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika kami sudah puas menikmati ayam goreng yang gurih tersebut lantas kamipun bergegas untuk pulang.  Tetapi hujan deras mendadak mengguyur kota itu.  Kamipun terpaksa menunggu sejenak, karena tidak ada satupun dari kami yang membawa payung.  Namun tatkala kami menunggu, muncullah seorang bapak yang cukup ramah dengan senyum khas jogja membawakan payung besar dan menghampiri kami.  Melihat ada peluit tergantung di dadanya, tahulah saya bahwa ia adalah seorang tukang parkir.  Dengan ramah ia berakat "Mari saya antarkan ke kendaraan bapak."  Tanpa sungkan-sungkan kamipun menerima tawarannya sambil berkata trima kasih.  Ia kembali bertanya "Naik apa pak?".  Saya menjawab "Naik kuda pak."  Iapun terus mengantar kami.  Namun lama-kelamaan kami terus berjalan jauh dari tempat parkiran itu.  Ia pun semakin penasaran dan bertanya lagi "Pak dimana kendaraannya?"  Kami menunjuk kearah dokar kami dan berkata "Itu pak, kami naik dokar."  Segera saja mukanya berubah jadi tidak ramah dan berkata "owalah, saya kira naik mobil jenis kuda"  Sesegera itu juga ia meninggalkan kami ditengah jalan sehingga kami kehujanan.  Teman saya menjadi emosi dan berkata "Asem....perlu tak keluarin mobilku a?"  &lt;br /&gt;Saya kira inilah gambaran tentang sifat manusia pada umumnya.  Sepertinya mata yang kita miliki ini lebih suka memandang seseorang dari penampilan dan apa yang tampak luar.  Mungkin kita pernah mengalami atau mendengarkan teman kita berkata "kenapa ya, pertama kali lihat orang itu aku sudah ga suka.  Lihat modelnya aja sudah muak?" dsb.  Atau ketika kita ingin membeli sebuah buku, kita cenderung akan menilai buku tersebut bagus atau tidak berdasarkan sampul bukunya.  Jika saudara pernah mengalami hal-hal itu atau yang serupa dengan ini maka jelaslah bahwa kita manusia lebih suka menilai apa yang tampak luar.  Itu perkara yang manusiawi.&lt;br /&gt;Pertanyaannya apakah sikap memandang muka itu cocok diterapkan bagi orang Kristen?  Bagaimana sikap kita semestinya terhadap naluri-naluri yang membawa kita menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya?  Mari kita lihat kembali kepada kebenaran Firman Tuhan yang baru kita baca dalam surat Yakobus barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Yakobus ini dituliskan kepada orang-orang kristen Yahudi yang sedang merantau di luar palestina.  Entah bekas tawanan, entah karena kemauan sendiri, yang pasti mereka sekarang sudah tidak lagi di kampung halaman mereka.  Orang-orang Kristen perantauan ini biasa dikenal oleh orang-orang nonkristen sebagai orang-orang yang beriman.  Dengan alasan inilah Yakobus menuliskan surat ini.  Yakobus ingin mengingatkan setiap umat  Kristen bahwa orang beriman itu bukan sekedar status saja, namun harus ditunjukkan dalam perbuatan dan sikap hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sikap yang bertentangan dengan iman itu ialah sikap memandang muka.  Ayat 1 dengan jelas dikatakan "Saudara....sebagai seorang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka."  Sikap memandang muka jelas tidak sesuai dengan iman Kristen.  Yakobus memberi contoh, dimana ada seorang yang masuk ke dalam kumpulannya dengan memakai cincin emas dan pakaian indah.  Lalu si tuan rumah langsung memberikan tempat yang terhormat dan dengan ramah menghargai orang itu.  Namun ketika ada orang yang datang dengan pakaian yang buruk, tuan rumah itu langsung tanpa sungkan-sungkan menegur "Berdiri disana! Atau duduk di lantai ini dekat dengan tumpuan kakiku (posisi seorang budak)"  Yakobus menganggap sikap tuan rumah itu tidak pantas, karena dengan demikian ia sudah menghakimi sesamanya sendiri.  &lt;br /&gt;Sikap memandang muka adalah sikap yang menghakimi.  Karena itu di ayat 9 Yakobus mengatakan "Jikalau kamu memandang muka maka kamu berbuat dosa."  Sikap memandang muka dipandang sebagai dosa oleh Yakobus.  Karena menghakimi itu merupakan perbuatan dosa, maka sikap memandang muka tentunya jugalah merupakan sebuah dosa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun sebenarnya yang menjadi alasan utama ialah: dengan memandang muka kita tidak lagi meneladani Kristus.  Tuhan kita bukanlah Tuhan yang memandang rupa.  Di kitab Samuel, Allah befirman "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."   Bahkan di Yakobus 2:6 ini Yakobus menegaskan bahwa Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia untuk menjadi kaya dalam iman, bahkan menjadi ahli waris kerajaan Allah.   Bukankah hal itu yang Tuhan lakukan kepada kita.  Ia mati dan menyelamatkan setiap manusia tanpa memadang siapa kita, apa jabatan dan status kita.  Jika Tuhan hanya mau menyelamatkan orang yang baik dan kaya serta berstatus, ada berapa banyak orang yang Kristen yang tidak dapat masuk dalam kerajaan Surga.  Namun tentunya Tuhan tidak melakukan hal tersebut.  Salib yang selalu kita lihat di gereja adalah bukti bahwa Yesus mengasihi kita tanpa batas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan hanya dalam hal penyelamatan, dalam memanggil umat-Nya dalam pelayanan pun Yesus tidak mencari orang yang high quality (yang punya banyak kemampuan, kaya, berjabatan, dsb)  Tidak!  Di Alkitab Tuhan memakai para pelayan yang miskin seperti Petrus dkk.  Ia juga memanggil seorang pemungut cukai yang hina seperti Matius.  Iapun memanggil orang yang licik seperti Yudas.  Bahkan Ia masih mau memakai pembunuh orang Kristen seperti Paulus.  Jika Tuhan memandang muka, semua orang itu termasuk kita tidak akan pernah layak untuk melayani.  Namun sekali lagi bersyukur kepada Tuhan karena Ia tidak pernah memandang muka.  Karena itu jika Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak memandang muka, maka kita sebagai anak-anaknya pun sudah semestinya menjauhi sikap memandang muka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang memandang muka ini saya suka dengan sebuah cerita demikian.  Suatu ketika seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada disana.  "Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard" kata sang pria lembut.  "Beliau hari ini sibuk" sahut sang Sekretaris cepat.   "Kami akan menunggu", jawab sang Wanita. Selama empat jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak.  Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya. "Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi", katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.  Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya mulai muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.  Sang wanita berkata kepadanya, "kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu,dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, disuatu tempat di kampus ini. Bolehkah?" Tanya nya, dengan mata yang menjeritkan harap.   Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya", katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan".  "Oh, bukan", Sang wanita menjelaskan dengan cepat,"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard".  Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard".  Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?"  Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California. Di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard.  Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kitapun tidak melakukan sikap demikian.  Selain penilaian dari luar kebanyakan menipu, Alkitab pun mengatakan bahwa sikap memandang muka tidak sesuai dengan sikap seorang Kristen, bahkan hal tersebut merupakan perbuatan dosa.  Tapi bagaimana caranya?  Bukankah penilaian itu secara alami timbul dalam pemikiran kita?  Saya kira sejauh penilaian itu muncul pertama kali dalam diri kita, itu belum masuk dalam dosa.  Namun jika penilaian itu sudah berbuah menjadi perbuatan yang tidak adil dan membeda-bedakan, itulah dosa.  Karena itu mari kita belajar untuk mengikuti kata hati kita.  Mungkin hati secara otomatis membuat penilaian terhadap sesama kita.  Namun mari kita belajar untuk menyangkal diri, dan mencoba tidak mengikuti penilaian hati, sampai kita sungguh-sungguh mengenal orang tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4159914647
