Showing posts with label Kasih. Show all posts
Showing posts with label Kasih. Show all posts

Friday, June 12, 2015

KASIH SEMPURNA (HOSEA 3)



Suatu ketika seorang teman saya bercerita pengalamannya.  Pada waktu itu ia belum menikah dan akan melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya.  Mereka merencanakan segala sesuatu, dan hari pernikahan itu pun tiba.  Tapi di hari pernikahan itu sang calon suami agak gelisah.  Dan kemudian dia memanggil teman saya ini ketempat pribadi sebelum pemberkatan nikahnya.  Dan betapa terkejutnya teman saya, di sana ia mengakui semua kesalahannya, bahwa ia sudah main perempuan, ia sudah selingkuh tanpa sepengetahuan teman saya.   Teman saya begitu shock.  Sebentar lagi pernikahan dijalankan, dan undangan sudah pada hadir di gereja.  Dan dia mendengar berita itu bagaikan petir di siang bolong.  Akhirnya ia tetap menjalankan pernikahannya, tapi setelah itu ia sempat hampir jatuh pingsan karena tidak kuat menanggung beban.  

Tidak mudah memang menerima seseorang yang berkhianat, yang menciderai kepercayaan yang diberikan, dan yang menodai kesetiaan yang kita berikan.   Pengkhianatan acapkali menyebabkan perasaan sakit hati, kekecewaan, kepahitan, kemarahan, dan perasaan-perasaan negatif lainnya.   Kalau tau dari awal orang tersebut akan berkhianat pasti kita tidak mau menerima dia.

Tapi menarik sekali kitab Hosea yang kita baca.  Siapa Hosea?  Hosea merupakan seorang nabi yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada umat Israel.  Seorang nabi itu dapat menyampaikan pesan Tuhan dengan berbagai cara.  Bisa secara verbal, yaitu melalui ucapan.  Bisa juga secara actional, tindakan nyata sebagai analogi.   Nah, nabi Hosea kali ini diperintahkan Tuhan secara aksional dengan cara menikahi seorang pelacur.  Ini tentu bukan perintah yang mudah.  Hosea disuruh menikahi seorang pelacur yang tidak pernah menyatakan bertobat dari tindakan melacurnya.   Siapa yang mau menikah dengan perempuan demikian.  Kalau konteks sekarang, kita disuruh menikahi pelacur, amit-amit.  Pertama resiko akan kena penyakit.  Kedua, kita sudah tau pelacur itu pasti akan berkhianat suatu saat.  Karena dia belum sungguh-sungguh bertobat dari tindakan melacurnya.   Ini perintah yang tidak gampang untuk dilaksanakan.  Tapi demi ketaatan kepada perintah Allah, hosea memilih taat.

Akhirnya mereka menikah, memiliki anak, dan seperti yang diperkirakan, akhirnya istrinya kembali melacur, dia pergi selingkuh dengan pria lain. Tentu ini menyedihkan dan menyakiti hati Hosea selaku suaminya.  Kalau saya jadi Hosea saya mungkin akan berkata kepada Tuhan:  “Tuhan, benar kan.  Ini akibatnya menikahi seorang pelacur.  Dia kembali melacur.  Harga diri saya hancur.  Nama baik saya rusak. Dsb.”   Tapi menarik sekali,  tidak cukup sampai disana, memasuki pasal 3, datanglah kembali perintah Tuhan kepada Hosea.  Dan kali ini Tuhan memberi perintah yang sekali lagi sangat mengejutkan.   Tuhan mengatakan: Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah itu.   Ya.. Tuhan memerintahkan Hosea untuk mencintai lagi istrinya yang sudah mengkhianati, menyakiti dan mempermalukan dia.   Tuhan menyuruh Hosea membeli perempuan itu dari tangan orang yang membeli pelacur itu.  Sungguh bukan sebuah perintah yang mudah untuk dilakukan.  Sudah dikhianati, dipermalukan, kini harus mengeluarkan sejumlah uang (15 syikal perak dan 1,5 homer jelai) untuk kembali mengambil perempuan yang berkhianat itu.  Dan Tuhan meminta Hosea untuk menerima kembali.

Apa tujuan Tuhan memerintahkan nabi Hosea untuk melakukan semuanya itu?  Tuhan ingin bernubuat melalui tindakan Hosea nabi-Nya.  Tuhan ingin menyatakan bahwa betapa Tuhan mengasihi umat-Nya.  Meskipun Israel berkali-kali berselingkuh dengan menyembah ilah lain.  Meski Israel berkali kali melukai hatinya.  Meski Israel berkali-kali mengkhianati Dia.  Dan meski umatnya telah mempermalukan diri-Nya.  Ia tetap mengasihi mereka dan menerima mereka kembali.  Tuhan tetap mengharapkan umatnya untuk kembali dan bertobat.   

Ketika merenungkan bagian ini saya merinding.  Saya tersadar, bahwa kasih Tuhan itu memang terlalu besar dan tak pernah terpikirkan oleh kita manusia.  Seringkali kita meremehkan kasih Tuhan.  Kita sering merasa kita terlalu buruk untuk dikasihi.  Perbuatan dosa yang berulang-ulang membuat kita berpikir bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita.  Seorang anak muda pernah berkata:  “Ko, saya kira Tuhan sudah tidak akan mengampuni saya lagi.  Saya selalu berbuat dosa yang berulang-ulang.  Saya bertobat dan saya melakukan lagi.”   Dan ternyata tidak sedikit orang yang berpikiran seperti demikian.  Kita menyamakan kasih Tuhan dengan kasih manusia.  Padahal kasih Tuhan itu terlalu luas.  Pengampunan-Nya, kemurahan-Nya, kasih-Nya, tidak masuk dalam akal manusia.   Ia selalu menerima diri kita apa adanya.  Itu sebabnya saya merinding.  Saya merinding kita saya menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita sedemikian rupa. 

Ya, Tuhan mengasihi saudara.  Bahkan dia sangat mengasihi saudara.  Meski berkali-kali kita mungkin melukai hati-Nya.  Meski kita berkali-kali mendukakan dia.  Meski kita berulangkali melakukan kesalahan yang sama, kasih-Nya tetap melimpah bagi kita.  IA tetap menerima kita, asal kita mau kembali kepada-Nya.   Ya, kasih Tuhan teramat besar.  Meskipun ini bukanlah menjadi dasar untuk kita bisa berbuat dosa sesuka hati.  Seharusnya kasih Tuhan ini menjadi dasar bagi kita untuk bersyukur, dan kembali mendekat kepada Tuhan melakukan yang Ia mau, dan berusaha kembali untuk lebih mengasihi Dia.  Karena tidak ada yang mengasihi kita melebihi Tuhan kita.

Namun dalam kasih itu pasti ada pengajaran dan didikan.  Sama seperti pengamsal pernah mengatakan “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”   Adakalanya cara Tuhan mengasihi dengan memukul kita.  Tapi ada kalanya juga ia mengasihi kita dengan cara mendiamkan kita.  Di ayat3-4 dikatakan “Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal, dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau.””Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala, tiada efod, dan terafim.”  Ya, adakalannya Tuhan ingin mendidik anak-anak-Nya dengan cara berdiam diri.  Dengan berdiam diri, umat Tuhan akan merasakan kehampaan tanpa Tuhan.  Dengan berdiam diri, umat Tuhan akan menyadari bahwa ia membutuhkan kasih Tuhan.  Dengan berdiam diri, umat Tuhan akan mengintropeksi dirinya.   Ya, ada kalanya Tuhan berdiam terhadap kita.  Ada kalanya Tuhan tidak mengulurkan tangannya menolong kita agar kita disadarkan bahwa kita tidak bisa jauh daripada Tuhan.

Saya teringat dengan bagaimana cece saya pernah menghukum anaknya yang masih kecil.   Salah satu cara ia menghukum anaknya yang tidak mau mendengarkan perintahnya ialah, anak itu di taruh di pojok ruangan, dan anak itu harus berdiam diri selama beberapa waktu lamanya tidak boleh kemana-mana.  Kalau anaknya keluar dari pojok itu, ia akan ditaruh lagi disana dan waktu hukuman akan ditambah.  Selama anak itu mendapat hukuman, cece saya tidak akan menggubris dia.  Walaupun anak itu menangis tidak karuan.  Walaupun anak itu bilang mau ke wc.  Biar anak itu muntah-muntah.  Cece saya tidak akan perdulikan dia sampai anak itu sampai waktu yang sudah ditetapkan.  Tujuan hukuman ini adalah, agar anak itu sadar, bahwa ia sudah membuat mamanya sedih dengan kenakalannya.  Selain itu agar anak ini sadar bahwa ia tidak bisa hidup tanpa kasih orangtuanya.  Anak iini sadar bahwa ia harus bergantung sama orangtua mereka.

Adakalanya Tuhanpun melakukan hal yang serupa dengan kita.  Adakalanya dia memilih berdiam terhadap semua persoalan kita.  Bukan dia tidak baik.  Bukan Dia tidak perduli.  Tapi adakalanya Tuhan memilih jalan diam, karena ia mau kita lebih bergantung kepada-Nya, lebih bersandar, dan lebih menyadari bahwa kita tidak bisa hidup jauh daripada Tuhan.  Adakalanya Tuhan membiarkan kita berjuang sendiri agar kita sadar untuk tidak lagi melupakan Dia dan tidak lagi berbuat dosa yang menyakiti hatinya.
Tapi tidak selamanya Tuhan akan berdiam.  Sama seperti cece saya yang kemudian setelah selesai masa penghukuman itu, ia akan menghampiri anak itu, menanyakan sudah tau dimana salahnya, dan kemudian memeluk anaknya erat menyatakan bahwa ia tetap mengasihi anaknya.  Demikian juga Tuhan tidak akan terus berdiam.  Sampai di batas waktu yang ia sudah tetapkan,  IA akan menghampiri kita, menyatakan kuasanya, menyatakan kasih-Nya kepada kita, dan membuat kita kembali takjub akan semua karya Tuhan yang hebat dalam hidup kita.

Tuesday, April 14, 2015

MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH





Ada seorang anak kecil yang buta yang sedang mengemis ngemis di tengah-tengah keramaian sebuah stasiun.  Anak ini buta sehingga ia hanya melangkah dengan imannya berusaha mendapatkan uang dari kemurahan hati orang.  Sedikit-demi sedikit uang receh demi receh pun terkumpul.  Tapi ketika menjelang sore, sebelum ia pulang, anak ini berpikir untuk menunggu rombongan penumpang yang akan turun sore itu.  Karena penumpang sore biasanya paling banyak karena itu pas jam pulang kerja.  Akhirnya kereta itu tiba dan penumpang pada turun.   Tapi karena terlalu banyak orang, anak kecil yang meminta-minta ini tersenggol dan seluruh uang yang dia kumpul dari pagi bercecer dijalan.   Anak ini begitu panik.  Karena jika ia pulang tidak membawa uang, pasti orangtuanya akan sangat marah dan akan memukul dia.  Anak ini mulai panik dan takut.  Dia berteriak:  Tolong jangan ambil uang saya, tapi tolong untuk mengumpulkannya.  Ia pun mulai meraba-raba lantai itu dengan tangannya.  Mencoba mengumpulkan kembali satu persatu uang yang tercecer.   Tapi gerombolan orang itu bukannya membantu, mereka sibuk melanjutkan perjalanan bahkan banyak terdengar suara koin yang ditendang oleh orang yang sedang berjalan.  Sesekali anak ini terinjak tangannya selagi sedang meraba.  Dan beberapa orang malah memaki anak ini karena dianggap mengganggu jalan.  Anak ini sedih sekali dan tentu saja ia merasa sangat takut.  Namun tiba-tiba ada seorang pria yang tidak dikenal menundukkan diri dan mulai membantu pengemis buta ini untuk mengumpulkan koin-koin yang tercecer.  Setelah terkumpul semua, pria ini kemudian menambah lagi beberapa lembar uang kertas kemangkuk anak itu.  Anak ini begitu terharu, dan kemudian ia memanggil pria tadi: pak, terimakasih banyak.  Saya tidak dapat melihat, tapi apakah bapak Tuhan?  Pria yang membantu ini terdiam dan kemudian ia pergi.

Kebaikan bapak ini ternyata mampu membuat anak ini seakan mengalami Tuhan dalam hidupnya.   Memang kasih yang kita nyatakan ketika itu mengena kepada hidup seseorang di saat yang tepat (entah seseorang dalam pergumulan berat, atau itu adalah harapan terbesarnya), hal itu dapat membuat seseorang merasakan kasih Allah.  Kasih itu dapat menghibur, menguatkan bahkan mengubahkan kehidupan seseorang.

Itu yang dialami oleh Mefiboset dalam perikop yang kita baca.  Siapa Mefiboset?  Dia adalah cucu dari Saul dan anak Yonatan sahabat Daud.  Dari awal tokoh ini diperkenalkan Ia disebut sebagai seorang anak yang cacat.  Sewaktu ia berusia 5 tahun inangnya menggendong dia ketika sedang berlari, sang inang terjatuh dan kemudian Mefiboset menjadi cacat.  Tentu menjadi anak yang cacat bukan hal yang menyenangkan.  Kalau ia cacat dari lahir mungkin ia akan terbiasa karena ia tidak pernah merasakan memiliki sebuah kaki.  Tapi kalau ia cacat di tengah-tengah usianya, itu hal yang sangat menyesakkan hati. Belum lagi  zaman itu orang yang cacat sangat tidak dihargai dan dipandang sebelah mata.  Orang cacat itu dianggap sebagai orang yang dikutuk oleh Tuhan akibat dosa dan sebagai seorang yang tidak berguna.  Coba bayangkan perasaan Mefiboset ketika dianggap sebagai seorang yang terkutuk, bukan karena kesalahannya, tapi karena kesalahan inangnya yang tidak hati-hati sewaktu menggendong dia.

Kini dalam perikop ini Mefiboset diperkenalkan sebagai anak yatim yang tidak punya keluarga sama sekali.  Ayahnya, kakeknya, dan semua keluarganya tidak ada yang tersisa karena gugur dalam perang.    Kini Mefiboset hidup sebatang kara sebagai orang yang cacat.   Saya membayangkan dirinya seperti seorang gadis remaja yang sekolah di Singapur.  Dalam tragedy air asia kemarin, karena keluarganya ingin berlibur dan menjenguk dia untuk merayakan tahun baru di Singapur, tapi sekeluarga harus berakhir menjadi korba.  Akibatnya ia harus menerima keadaan bahwa ia menjadi yatim piatu.  Sungguh menyedihkan mendengar hal itu.  Saya kira begitu juga keadaan Mefiboset.  Sungguh keadaan Mefiboset sangat tidak menyenangkan, sudah cacat dan dianggap remeh sama orang sekitar, dan kini satu-satunya tameng yang dapat menerima dia, yaitu keluarganya kita harus mati dalam perang.

Namun ditengah keterpurukan itu, hadirlah Daud yang membagikan kasih kepadanya.  Berawal dari ikatan perjanjian antar Daud dan Yonatan, bahwa Daud akan menjaga keturunan Yonatan, maka Daud pun menyatakan kasihnya kepada Mefiboset.  Kasih yang diberikan itu bukan kasih biasa.  Di ayat 3 Daud berkata “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul?  Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.”  Ya… daud menyatakan kasih Allah kepada Mefiboset.  Apa itu kasih kasih yang dari Allah?  Kasih yang dari Allah adalah kasih yang menerima apa adanya.  Kasih Allah adalah kasih yang besar yang diberikan secara Cuma-Cuma tanpa menuntut balas.   Kasih itulah yang dilakukan Daud kepada Mefiboset.  IA memberikan ladang dan harta yang besar kepada Mefiboset, bahkan Raja Daud mengijinkan Mefiboset untuk duduk makan sehidangan dengan dia.   Sehidangan dengan raja menunjukkan akan betapa Spesialnya Mefiboset.  Tidak sembarang orang boleh duduk sehidang dengan Raja.  Tapi Siapakah Mefiboset?  Ia seorang yatim, ia seorang cacat, tapi dapat duduk semeja dengan raja.  Kasih Daud inilah yang mengangkat hidup Mefiboset, sampai kemudian hari ada ungkapan yang dinyatakan Mefiboset demikian “Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik.”  Ya.. Mefiboset melihat Daud sebagai malaikat Allah, IA melihat kasih Allah dalam hidup Daud.

Kisah Daud dan Mefiboset ini sedikit banyak menggambarkan hubungan Tuhan dengan kita manusia berdosa.  Kita ini bagaikan Mefiboset yang penuh dengan keterbatasan.  Karena dosa kita menjadi cacat dan tidak berdaya.  Kita menjadi orang yang kotor, yang menjijikan, yang nista.  Kita terpisah dari Allah yang adalah Bapa kita.  Betapa bobroknya hidup kita.  Tapi Tuhan mau menyatakan kasihnya kepada kita.  Bukan hanya sekedar sehidang makan dengan kita, Tapi ia rela mati menyerahkan nyawanya kepada kita.  Kasihnya mengangkat kita.  Kasihnya membuat kita berharga.  Kasihnya memulihkan kita.  

Kini yang Tuhan mau sama seperti yang Daud lakukan kepada Mefiboset.  Mari kita membagi kasih yang daripada Allah kepada sesama kita.  Mari kita nyatakan kasih Allah itu kepada mereka yang membutuhkan. Buat orang lain dapat melihat Tuhan dalam hidup kita.  Biarlah kasih kita dapat mengangkat sesama kita, biarlah kasih kita dapat menghibur dan menguatkan sesama kita.  Biarlah kasih kita dapat bermakna bagi orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.  

Tahukah saudara bahwa ada kebahagiaan yang tak terucapkan ketika orang dapat melihat Allah dalam hidup kita?   Saya pernah mengalami hal ini.  Peristiwa itu terjadi di akhir-akhir semester, sementara mengerjakan skripsi bagian akhir, dan  tinggal beberapa waktu lagi saya akan keluar dari  SAAT.  Suatu saat salah seorang adik tingkat saya.  Tanpa bicara, tanpa banyak ekspresi, dia Cuma memberikan 1 lembar kartu selipan Alkitab.  Dalam kartu itu ternyata kartu yang ia gambar dan design sendiri dengan tanganya.  Dan dalam kartu itu  tertulis demikian:  Thank you for all, I see Jesus in You.  Mungkin ia berikan itu karena pernah ketika ia kena virus yang aneh,  yang membuat dia harus ditaruh dikamar terendiri, saya terus yang meyiapkan makanan dan menanyakan kabarnya. Ketika saya membaca kartu itu, ada sukacita yang tidak terkatakan.    Saya terharu, dan saya bertekad, utnuk terus bertindak seperti Kristus.  Agar smua orang bisa mendapatkan berkat lewat kehadiran saya. 
Mari kitapun miliki komitmen demikian.  Jadilah malaikat-malaikat Allah yang memanncarkan kasih dan kemurahannya. Amin.

Sunday, January 04, 2015

kASIH YANG MENYELAMATKAN



KASIH YANG MENYELAMATKAN

Natal bukanlah Natal jika kita merayakannya hanya dengan berpesta
Natal bukanlah Natal jika kita merayakannya hanya untuk berpora
Bahkan natal bukanlah natal, jika merayakannya hanya dengan melakukan berbagai kegiatan gereja

Jadi apakah natal itu?
Mengapa seakan-akan hanya begitu
Apakah memang ada sesuatu
Atau jangan-jangan hati kita yang  sudah membatu

Tahukah kawan bahwa Natal itu bukan sekedar kisah
Tapi Natal itu Adalah sebongkah Kasih
Kasih yang menepis semua rasa gelisah
Ditengah dosa yang membuat kita risih

Ya…
Kasih itu ternyata lewat kehadiran seorang bayi
Ia bukan bangsawan apalagi priyayi
Tapi ia adalah Bayi Almasih
Yang diserahkan karena cinta kasih

Itulah kasih bapa
Yang Rela menyerahkan putra tersayang untuk manusia
Manusia yang penuh dusta nestapa
Yang hidup dalam gelap nan sia-sia

Bapa mana yang tidak menyayangkan anaknya?
Adakah pengorban yang lebih besar dari-Nya?
Lihat dan bukalah mata lebar-lebar
Sungguh kasih-Nya adalah kasih terbesar


Kasih itu kini menghampiri kita
Kasih itu membebaskan kita
Kasih itu menyertai kita
Kasih itu menyelamatkan Kita

Saat ini Masih gelapkah duniamu ?
Hampakah relung jiwamu?
Gemetarkah langkah langkahmu?
Atau mungkin tanpa arahkah jalanmu?

Mari hampiri Dia Sang sumber kasih
Nyatakan tekad untuk percaya
Nikmati kuasa kasih yang menyelamatkan
Niscaya gelap jalanmu akan menjadi bercahaya

Kasih itu Menyelamatkan
Kasih itu memberi pengharapan
Kasih itu memberi kekuatan
Kasih itu sempurna tak tertandingkan

Mari.
Rayakanlah natal, bukan dengan uangmu
Rayakanlah natal, bukan dengan baju baru
Rayakanlah natal, bukan dengan pelayananmu
Tetapi rayakanlah natal, dengan hatimu.

Monday, March 12, 2012

Kaulah Penulis Hidupku #2



2. Jika Tuhan adalah penulis hidup kita, berarti hidup ini memiliki tujuan yang pasti.

Mari kita membaca dari 2 Korintus 3:3 “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Disini Paulus sedang memberikan nasihat kepada jemaat Korintus melalui suratnya yang kedua. Surat Korintus yang kedua ini merupakan surat Paulus yang sangat pribadi. Norman Hillyer mengatakan bahwa di surat inilah Paulus mencurahkan seluruh pergumulan dan perasaan yang ada di dalam hatinya kepada jemaat di Korintus. Di surat ini Paulus menyatakan sakit hatinya ketika kerasulannya diragukan. Disinilah Paulus menyatakan keputuasaannya terhadap fitnahan-fitnahan orang-orang. Disini juga Ia menyatakan akan pergumulannya yang terberat, yaitu duri dalam daging yang begitu menggocoh dia. Begitu pribadi sifat surat ini.

Namun bukan hanya itu saja yang ingin diungkapkannya. Di ayat yang kita baca, Pauluspun dari hatinya yang terdalam ingin memberitahukan kepada jemaat Korintus dan tentunya kepada setiap kita sebagai anak-anak Tuhan, bahwa setiap kita anak-anak Tuhan itu telah ternyata adalah surat Kristus, yang bukan ditulis dengan tinta, namun oleh roh Allah yang hidup. Ya, kita adalah surat-surat Kristus. Apa maksudnya? Ketika saya merenung bagian ini, saya menemukan bahwa menjadi surat Kristus itu berarti hidup kita memiliki tujuan. Tidak ada sebuah suratpun yang ditulis dan dikirim tanpa tujuan. Setiap surat memiliki maksud dan tujuannya.

Paulus sendiri merupakan seorang penulis surat. Ketika ia tidak lagi bisa menginjili karena ditahan di tahanan rumah, ia cuma bisa menuliskan surat untuk menggembalakan dan mengajar. Dalam setiap surat-surat itu tentu saja memiliki tujuan masing-masing. Tidak mungkin setiap surat memiliki isi yang sama. Setiap surat pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda tergantung dengan latar belakang atau kebutuhan penerimanya. Ada surat untuk menghibur, ada surat yang menguatkan, ada surat yang berisi teguran, ada surat yang banyak tujuannya dsb.

Nah, ketika Paulus mengatakan bahwa kita ada surat Kristus, dimana Kristus adalah sang Penulis kehidupan ini, itu berarti Tuhan memiliki tujuan dalam hidup kita masing-masing. Setiap kita di sini adalah surat Kristus. Tuhan sudah menetapkan masing-masing tujuan dalam masing-masing pribadi. Kita hidup karena memang Tuhan ingin menciptakan kita. Bahkan kalau Rick Warren berkata “Allah yang merancang setiap bagian tubuh anda. Dia dengan terencana memilih ras Anda, warna kulit Anda, rambut Anda, dan setiap karakteristik lainnya. Dia merancang dan membuat tubuh anda seperti yang Dia inginkan. Dia juga menentukan talenta-talenta alami yang akan anda miliki dan keunikan dari kepribadian anda.” Tuhan memiliki tujuan dalam hidup kita.

Saya suka dengan lagu yang mengatakan ‘Kaulah penulis hidupku, Kau membuat sgalanya baru....” Setelah di bait pertama ia menyatakan bahwa Tuhan yang menulis hidupnya, di bait kedua ia mengatakan “Ku dicipta untukmu, tuk membawa harum nama-Mu,...” Penulis lagu ini menyadari bahwa Tuhan yang menulis kehidupan kita, Tuhan juga yang menetapkan tujuannya dalam hidup kita: yaitu memuliakan nama Tuhan.

Hidup saudara dan saya pun memiliki tujuan. Tuhan sudah menuliskannya dengan tujuan-Nya yang sempurna. Dan jika Dia yang sudah menetapkannya, maka sudah pasti pimpinan-Nya sempurna. Saya ingat sekali seorang dosen saya di seminari suka mengatakan ‘Bagi anak-anak Tuhan, tidak ada sesuatu yang kebetulan didunia ini....’ Jika anda ditempatkan bekerja di tempat tertentu, jika anda study di tempat saudara study saat ini, jika saudara ditempatkan di gereja tertentu, jika saudara ditempatkan di keluarga anda saat ini (entah keluarga yang baik-baik, entah keluarga berantakan, entah keluarga kaya atau miskin), semua ada maksud dan tujuan Tuhan di dalamnya. Ingat! Kita adalah surat-surat Kristus. Kristus tidak menulis kehidupan kita tanpa tujuan. Setiap hidup kita pasti memiliki tujuan.
Sekarang tergantung dari masing-masing kita. Seberapa jauh kita mau dipimpin oleh Tuhan. Tuhan memang menulis hidup kita. Tetapi Ia juga memberikan kepada kita kehendak bebas, apakah kita mau dipimpin oleh-Nya atau tidak. Karena itu jika hidup kita ingin maksimal dan memiliki tujuan yang pasti , hiduplah dalam pimpinan-Nya. Terus bergumul mencari kehendak Tuhan dalam doa dan melalui firman-Nya. Biarkan hidup kita sejalan dengan apa yang menjadi maksud Tuhan dalam hidup ini.

3. Jika Tuhan adalah penulis hidup kita, berarti hidup kita berharga dimata-Nya

Yesaya 49:16 menuliskan ‘Lihat, Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.’ Bukan hanya menulis hidup kita, di bagian lain dalam Alkitab dikatakan bahwa Tuhan melukiskan hidup kita ditelapak tangan-Nya. Kalau kita melihat orang yang biasa membuat tato di tubuhnya, kita akan menemukan bahwa seseorang akan menggambarkan sesuatu atau seseorang yang berharga ditubuhnya. Ada orang yang menggambar tato kekasihnya di lengan untuk menunjukkan cintanya pada sang kekasih. Karena cintanya Mandela kepada orang-orang Afrika maka ia melukiskan benua Afrika di telapak tangannya. Tidak ada orang yang melukiskan foto musuhnya atau negara yang pernah menjajah dia (misal: orang indo zaman dulu memasang tato negara belanda yang pernah menjajah dia). Semua yang dilukiskan di tubuhnya pasti sesuatu yang berharga.

Demikian juga ketika Tuhan berkata “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku”, Tuhan ingin menyatakan akan betapa berharganya setiap umat Tuhan di mata-Nya. Hidup kita sungguh berharga dihadapan Tuhan, sehingga ia melukiskan hidup kita di telapak tangan-Nya. Kalau kita melihat konteks percakapan ini dikatakan, perkataan ini diungkapkan Tuhan kepada umat Israel ketika umat Israel sedang berada dalam pembuangan. Dalam pergumulan yang berat yang mereka rasakan selama di pembuangan itu mereka merasa Tuhan sudah meninggalkan mereka. Di ayat 14 mereka berkata “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” Kemudian ayat 15 Tuhan merespon “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” Menarik sekali ungkapan ini. Tidak ada kasih yang lebih besar kepada seorang anak daripada kasih seorang ibu. Karena itu hampir tidak mungkin jika seorang ibu bisa melupakan anaknya. Tetapi Tuhan berkata: Sekalipun ada ibu yang melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Dan setelah ia mengungkapkan hal itu, di ayat 16 Tuhan berkata “Aku melukiskan engkau di tangan ku....” Hal ini menggambarkan betapa kita berharga dimata-Nya, bahkan lebih daripada mama kita menghargai kita. Karena itu betapa kita bersyukur bahwa hidup kita berharga di mata-Nya. Dia melukiskan setiap kita satu persatu di telapak tangan-Nya. Dia begitu mencintai setiap kita. Tak peduli apa latar belakang kita, tak peduli apa status kita, tak peduli siapa kita, setiap kita adalah pribadi yang berharga dimata-Nya.

Karena itu mari kita terus mendekat kepada Dia. Bagi Dia, kita begitu berharga. Dan Dia adalah Tuhan yang maha kuasa. Saat kita bergantung, bersandar, dan melekat kepada Dia, kita akan mendapatkan kekuatan dari Dia yang mengasihi kita.
Tuhan sudah melukiskan diri kalian di tangan-Nya. Kalian begitu berharga. Bersyukurlah akan hal itu. Hiduplah semakin bergantung kepada Tuhan. Rasakan kasih-Nya. Rasakan kebaikan-Nya. Nikmati penyertaan-Nya. Biarlah hidup kalian berada dalam pimpinannya.
Ingat, Tuhan penulis hidup kita. Itu berarti ia mengenal kita. Bukan hanya mengenal, Dia pun sudah merencankana tujuan-Nya yang indah bagi setiap kita yang mau dipimpin oleh-Nya. Dan hidup kita sudah dilukiskan di telapak tangan-Nya. Sungguh bahagianya jika kita menjadi anak-anak Tuhan. Hiduplah terus berada didekat-Nya.