Tuesday, March 27, 2012

Hanya Dekat Allah Aku Tenang -- Mazmur 62 #1




Alkisah ada seorang pemuda yang banyak mengalami pergumulan hidup. Keluarganya seringkali bertengkar dalam kesehariannya. Entah masalah ekonomi, masalah pergaulan anak, masalah suami istri yang ribet, dan banyak lagi hal-hal yang selalu dipertengkarkan. Dia merasa tidak tentram dalam rumahnya sendiri. Pergumulan itu semakin komplit karena pemuda ini baru saja diputus oleh sang kekasih yang sudah bertahun-tahun dijalinnya. Akhirnya dalam kegalauan itu, terbesit dvbibenaknya untuk pergi keluar dari rumahnya untuk mencari tempat yang tenang. Lalu ia mengumpulkan semua uang tabungan hasil kerjanya, dan iapun mengambil waktu ‘cuti’ dari segala kehidupan rutin beberapa bulan lamanya untuk mencari apa yang namanya kedamaian tersebut.

Pertama pergilah ia ke kota metropolitan di Jakarta. Ia berpikir jika ia bisa setiap hari berbelanja barang-barang mewah disana, dan hidup elit, pasti dia akan merasakan damai. Lalu masuklah ia ke megamal-megamal yang ada di Jakarta. Dia mulai membeli pakaian bermerek, barang elektronik terkini, dan segala produk baru yang memuaskan keinginannya. Akhirnya iapun pulang dengan taksi ke tempat penginapan dengan perasaan puas. Ditengah-tengah perjalannya, tiba-tiba jalanan menjadi macet karena demo yang sedang terjadi disana. Dari kejauhan masa terlihat marah. Mereka mulai memukul mobil-mobil yang ada didekat mereka. Pemuda ini menjadi takut, karena barang belanjaannya banyak di taksi itu. Tapi syukurlah, ternyata para pendemo tidak sampai ke taksi yang ditumpanginya. Iapun pulang dan menikmati semua barang barunya. Tetapi ketika ia tidur, dan terbangun keesok harinya, ia merasakan kekosongan dan bertanya-tanya ‘untuk apa ia membeli semua barang itu, sepertinya semua sia-sia’.

Ia sadar bahwa kedamaian tidak ditemukan dalam harta benda yang dibelinya. Lantas dia merencanakan untuk pergi ke Bali, yang kata orang adalah pulau dewata. Dalam pikirnya, berada dikota ini pasti akan merasa damai, sebab namanya saja pulau dewata. Tetapi baru saja sesampai di Bali, sewaktu dia mau ke pantai kuta, supir taksinya berkata demikian “Pak, disini loh titik terjadinya bom Bali yang dasyat beberapa tahun silam, waktu itu banyak orang mati seketika.... tidak ada yang pernah menyangka... Sekarang di Bali tidak aman... banyak teroris berkeliaran.” Lalu pemuda ini tersadar bahwa di pulau dewatapun bukanlah sebuah tempat yang damai dan tenang.

Lalu dia pergi kesebuah pulau kecil terpencil yang memiliki pantai yang bersih dengan air laut yang jernih. Ia menginap di sebuah penginapan di pinggir laut. Iapun mulai merasa nyaman dan tenang. Air laut yang jernih, angin yang bertiup sepoi-sepoi, cuaca yang cerah, wah rasanya bahagia sekali tinggal disana. Diapun mulai berpikir kalau kedamaian ada di tempat itu. Tapi menjelang sore tiba. Tiba-tiba hujan deras turun di pulau itu. Air laut jadi bergelora, ombak-ombak mulai ganas menghantam ke pantai. Teras tempat dia tinggal sudah mulai banjir. Pemuda ini pun menjadi takut. Dan ia sadar bahwa di tempat itupun tidak ada ketenangan.

Banyak lagi perjalanan yang dilakukannya, entah itu kegunung, ketempat hiburan, berpesta dengan kawan-kawannya, dan banyak lagi, tetapi ia tidak menemukan ketenangan dari semuanya itu. Akhirnya iapun kembali kerumahnya setelah melewati perjalanan panjang. Ia pulang tanpa membawa perasaan tenang itu. Hanya satu hal yang ia bawa, yaitu sebuah kesimpulan: bahwa tidak ada satupun tempat dan hal didunia ini yang dapat memberikan ketenangan dan kedamaian.

Saudara, kisah pemuda ini merupakan gambaran dari kehidupan manusia. Bukankah banyak manusia yang ingin mencari kedamaian? Dan bukankah banyak di antara kita yang mencari ketenangan dalam jiwa? Sama seperti pemuda tadi, kehidupan manusiapun adalah sebuah petualangan mencari kedamaian dan ketenangan hidup. Namun cobalah mencari tempat itu. Cobalah meneliti dengan seksama, dimanakah kita bisa merasakan ketenangan jiwa. Kita tidak akan pernah dapat menemukannya. Selama masih ada dosa dalam dunia ini, kekacauan akan tetap ada, masalah akan tetap hadir, kekhawatiran akan terus menghantui, dan pergumulan akan terus menghimpit.

Namun ada kabar baik hari bagi kita hari ini. Ternyata dalam kehidupan ini, kita tetap bisa menemukan ketenangan itu. Kurang lebih 3000 tahun yang lalu, seorang Pemazmur yang kita kenal sebagai raja Daud, pernah menemukan tempat itu. Dan ia telah membagikannya untuk setiap kita melalui Mazmur 62 yang ditulisnya. Dimanakah tempat itu? Dengan yakin pemazmur menjawabnya di ayat ke-2 dan ke-6 “Hanya Dekat Allah saja aku tenang.....” Bahkan kalau melihat bahasa aslinya, sebenarnya ada kata ‘Truly/ Sesungguhnya’ di depan ungkapan tersebut. Jadi Daud itu hendak berkata “Sesungguhnya!! Hanya Dekat Allah saja aku tenang.” Daud mengungkapkannya sebanyak 2 kali, sebagai penekanan yang pasti, bahwa ketenangan hanya didapatkan ketika berada didekat Allah. Tak heran kalau Mazmur 62 ini diberi judul ‘Perasaan tenang dekat Allah’. Ya... tempat yang damai sejahtera itu didapat ketika kita berada didekat Allah.

Tentu saja pemazmur tidak asal cuap-cuap, atau omong kosong ketika menyatakan hal itu. Ia bukanlah seorang yang fanatik yang asal bicara tanpa alasan yang jelas dan tanpa sebab yang jelas. Tetapi ada dasar yang jelas ketika ia menyatakan bahwa hanya dekat Allah aku tenang.

Monday, March 12, 2012

Kaulah Penulis Hidupku #2



2. Jika Tuhan adalah penulis hidup kita, berarti hidup ini memiliki tujuan yang pasti.

Mari kita membaca dari 2 Korintus 3:3 “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Disini Paulus sedang memberikan nasihat kepada jemaat Korintus melalui suratnya yang kedua. Surat Korintus yang kedua ini merupakan surat Paulus yang sangat pribadi. Norman Hillyer mengatakan bahwa di surat inilah Paulus mencurahkan seluruh pergumulan dan perasaan yang ada di dalam hatinya kepada jemaat di Korintus. Di surat ini Paulus menyatakan sakit hatinya ketika kerasulannya diragukan. Disinilah Paulus menyatakan keputuasaannya terhadap fitnahan-fitnahan orang-orang. Disini juga Ia menyatakan akan pergumulannya yang terberat, yaitu duri dalam daging yang begitu menggocoh dia. Begitu pribadi sifat surat ini.

Namun bukan hanya itu saja yang ingin diungkapkannya. Di ayat yang kita baca, Pauluspun dari hatinya yang terdalam ingin memberitahukan kepada jemaat Korintus dan tentunya kepada setiap kita sebagai anak-anak Tuhan, bahwa setiap kita anak-anak Tuhan itu telah ternyata adalah surat Kristus, yang bukan ditulis dengan tinta, namun oleh roh Allah yang hidup. Ya, kita adalah surat-surat Kristus. Apa maksudnya? Ketika saya merenung bagian ini, saya menemukan bahwa menjadi surat Kristus itu berarti hidup kita memiliki tujuan. Tidak ada sebuah suratpun yang ditulis dan dikirim tanpa tujuan. Setiap surat memiliki maksud dan tujuannya.

Paulus sendiri merupakan seorang penulis surat. Ketika ia tidak lagi bisa menginjili karena ditahan di tahanan rumah, ia cuma bisa menuliskan surat untuk menggembalakan dan mengajar. Dalam setiap surat-surat itu tentu saja memiliki tujuan masing-masing. Tidak mungkin setiap surat memiliki isi yang sama. Setiap surat pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda tergantung dengan latar belakang atau kebutuhan penerimanya. Ada surat untuk menghibur, ada surat yang menguatkan, ada surat yang berisi teguran, ada surat yang banyak tujuannya dsb.

Nah, ketika Paulus mengatakan bahwa kita ada surat Kristus, dimana Kristus adalah sang Penulis kehidupan ini, itu berarti Tuhan memiliki tujuan dalam hidup kita masing-masing. Setiap kita di sini adalah surat Kristus. Tuhan sudah menetapkan masing-masing tujuan dalam masing-masing pribadi. Kita hidup karena memang Tuhan ingin menciptakan kita. Bahkan kalau Rick Warren berkata “Allah yang merancang setiap bagian tubuh anda. Dia dengan terencana memilih ras Anda, warna kulit Anda, rambut Anda, dan setiap karakteristik lainnya. Dia merancang dan membuat tubuh anda seperti yang Dia inginkan. Dia juga menentukan talenta-talenta alami yang akan anda miliki dan keunikan dari kepribadian anda.” Tuhan memiliki tujuan dalam hidup kita.

Saya suka dengan lagu yang mengatakan ‘Kaulah penulis hidupku, Kau membuat sgalanya baru....” Setelah di bait pertama ia menyatakan bahwa Tuhan yang menulis hidupnya, di bait kedua ia mengatakan “Ku dicipta untukmu, tuk membawa harum nama-Mu,...” Penulis lagu ini menyadari bahwa Tuhan yang menulis kehidupan kita, Tuhan juga yang menetapkan tujuannya dalam hidup kita: yaitu memuliakan nama Tuhan.

Hidup saudara dan saya pun memiliki tujuan. Tuhan sudah menuliskannya dengan tujuan-Nya yang sempurna. Dan jika Dia yang sudah menetapkannya, maka sudah pasti pimpinan-Nya sempurna. Saya ingat sekali seorang dosen saya di seminari suka mengatakan ‘Bagi anak-anak Tuhan, tidak ada sesuatu yang kebetulan didunia ini....’ Jika anda ditempatkan bekerja di tempat tertentu, jika anda study di tempat saudara study saat ini, jika saudara ditempatkan di gereja tertentu, jika saudara ditempatkan di keluarga anda saat ini (entah keluarga yang baik-baik, entah keluarga berantakan, entah keluarga kaya atau miskin), semua ada maksud dan tujuan Tuhan di dalamnya. Ingat! Kita adalah surat-surat Kristus. Kristus tidak menulis kehidupan kita tanpa tujuan. Setiap hidup kita pasti memiliki tujuan.
Sekarang tergantung dari masing-masing kita. Seberapa jauh kita mau dipimpin oleh Tuhan. Tuhan memang menulis hidup kita. Tetapi Ia juga memberikan kepada kita kehendak bebas, apakah kita mau dipimpin oleh-Nya atau tidak. Karena itu jika hidup kita ingin maksimal dan memiliki tujuan yang pasti , hiduplah dalam pimpinan-Nya. Terus bergumul mencari kehendak Tuhan dalam doa dan melalui firman-Nya. Biarkan hidup kita sejalan dengan apa yang menjadi maksud Tuhan dalam hidup ini.

3. Jika Tuhan adalah penulis hidup kita, berarti hidup kita berharga dimata-Nya

Yesaya 49:16 menuliskan ‘Lihat, Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.’ Bukan hanya menulis hidup kita, di bagian lain dalam Alkitab dikatakan bahwa Tuhan melukiskan hidup kita ditelapak tangan-Nya. Kalau kita melihat orang yang biasa membuat tato di tubuhnya, kita akan menemukan bahwa seseorang akan menggambarkan sesuatu atau seseorang yang berharga ditubuhnya. Ada orang yang menggambar tato kekasihnya di lengan untuk menunjukkan cintanya pada sang kekasih. Karena cintanya Mandela kepada orang-orang Afrika maka ia melukiskan benua Afrika di telapak tangannya. Tidak ada orang yang melukiskan foto musuhnya atau negara yang pernah menjajah dia (misal: orang indo zaman dulu memasang tato negara belanda yang pernah menjajah dia). Semua yang dilukiskan di tubuhnya pasti sesuatu yang berharga.

Demikian juga ketika Tuhan berkata “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku”, Tuhan ingin menyatakan akan betapa berharganya setiap umat Tuhan di mata-Nya. Hidup kita sungguh berharga dihadapan Tuhan, sehingga ia melukiskan hidup kita di telapak tangan-Nya. Kalau kita melihat konteks percakapan ini dikatakan, perkataan ini diungkapkan Tuhan kepada umat Israel ketika umat Israel sedang berada dalam pembuangan. Dalam pergumulan yang berat yang mereka rasakan selama di pembuangan itu mereka merasa Tuhan sudah meninggalkan mereka. Di ayat 14 mereka berkata “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” Kemudian ayat 15 Tuhan merespon “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” Menarik sekali ungkapan ini. Tidak ada kasih yang lebih besar kepada seorang anak daripada kasih seorang ibu. Karena itu hampir tidak mungkin jika seorang ibu bisa melupakan anaknya. Tetapi Tuhan berkata: Sekalipun ada ibu yang melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Dan setelah ia mengungkapkan hal itu, di ayat 16 Tuhan berkata “Aku melukiskan engkau di tangan ku....” Hal ini menggambarkan betapa kita berharga dimata-Nya, bahkan lebih daripada mama kita menghargai kita. Karena itu betapa kita bersyukur bahwa hidup kita berharga di mata-Nya. Dia melukiskan setiap kita satu persatu di telapak tangan-Nya. Dia begitu mencintai setiap kita. Tak peduli apa latar belakang kita, tak peduli apa status kita, tak peduli siapa kita, setiap kita adalah pribadi yang berharga dimata-Nya.

Karena itu mari kita terus mendekat kepada Dia. Bagi Dia, kita begitu berharga. Dan Dia adalah Tuhan yang maha kuasa. Saat kita bergantung, bersandar, dan melekat kepada Dia, kita akan mendapatkan kekuatan dari Dia yang mengasihi kita.
Tuhan sudah melukiskan diri kalian di tangan-Nya. Kalian begitu berharga. Bersyukurlah akan hal itu. Hiduplah semakin bergantung kepada Tuhan. Rasakan kasih-Nya. Rasakan kebaikan-Nya. Nikmati penyertaan-Nya. Biarlah hidup kalian berada dalam pimpinannya.
Ingat, Tuhan penulis hidup kita. Itu berarti ia mengenal kita. Bukan hanya mengenal, Dia pun sudah merencankana tujuan-Nya yang indah bagi setiap kita yang mau dipimpin oleh-Nya. Dan hidup kita sudah dilukiskan di telapak tangan-Nya. Sungguh bahagianya jika kita menjadi anak-anak Tuhan. Hiduplah terus berada didekat-Nya.

Kaulah Penulis Hidupku #1

Hidup manusia itu dapat digambarkan seperti sebuah buku.
Memiliki pendahuluan atau pengantar, memiliki bab-bab yang terus berprogesif, memiliki subbab-subbab yang membangun bab tersebut, memiliki kerangka, dan yang pasti memiliki ending atau penutup. Demikian juga dengan kehidupan manusia, setiap kita memiliki awal kelahiran, memiliki bab-bab kehidupan tersendiri (masa anak-anak, masa sekolah, masa remaja, masa smu, masa kuliah, dst), memiliki sub bagian dalam setiap masa itu (misal: peristiwa terbesar dimasa kanak-kanak, papa membawa saya keliling dunia, dsb), dan yang pasti akan ada penutup diwaktu kematian menjemput kita.

Yang pasti buku satu dengan buku lainnya tidak ada yang sama. Ada buku yang cerita hidupnya menarik (misalkan kisah bunda Theresa yang mungkin akan terus didengungkan sampai beratus-ratus tahun kedepan), ada buku yang ceritanya biasa-biasa saja, bahkan ada buku yang menyebalkan kalau di baca (misal: melihat sejarah nazi, pembantaian hitler, sikap koruptor, dsb). Menarik tidaknya suatu bukupun begitu relatif, tergantung siapa pembacanya dan peminatnya. Ada buku yang tebal, ada juga buku yang tipis, yang menandakan akan waktu kehidupan manusia yang berbeda.

Namun walaupun ada banyak ketidaksamaan dalam masing-masing buku tersebut, satu hal yang pasti setiap buku itu tidak pernah tericipta dengan sendirinya. Dengan kata lain, dibalik sebuah karya tulis, pasti ada seorang creator, atau seorang penulis, yang merencanakannya. Hanya saja kalau buku-buku yang ada didunia ini ditulis oleh ribuan bahkan jutaan penulis, tetapi dalam buku kehidupan ini hanya ditulis oleh Seorang Penulis Agung, Sang penguasa kehidupan ini, yaitu Tuhan kita. Alkitab sendiri berkali-kali meyatakan bahwa Tuhanlah yang merancang kehidupan kita. Bukan hanya merancang, tetapi Ia juga yang membentuk, melukiskan, dan tentu saja Ia menulis setiap lembaran kehidupan manusia. Apa maksud: Tuhan sebagai penulis hidup kita? Ketika saya merenung-dan merenung, saya menemukan ada 3 hal yang dapat diaplikasi dalam hidup kita.

1. Jika Tuhan penulis hidup kita, berarti IA sangat mengenal kita

Mari kita membaca dari Mazmur 139:13 “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Dengan jelas Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan yang membentuk kita sejak dari kandungan. Dia yang menenun kita, dan Dia yang mengetahui hidup kita.

Hal ini sekaligus ingin memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan sangat mengenal kita, bahkan lebih daripada orang terdekat sekalipun. Kita sepakat jika ditanyakan: siapakah orang yang paling mengenal diri kita? Kebanyakan kita akan menjawab: ibu kita bukan? Tidak ada orang yang mengenal diri kita selain ibu kita. Tanpa bicara dia bisa tau kita lagi sedih atau lagi senang. Hanya melihat mata kita, ia mengerti apa yang kita rasakan. Tetapi pengenalan seorang ibu itu terbatas. Ketika ia mengandung kita ia tidak tahu apakah kita laki-laki atau perempuan sebelum memasuki kehamilan 6 bulan. Ia tidak tau bagaimana bentuk muka kita nantinya. Ia tidak tau bagaimanakah sifat kita. Yang ia tahu hanya ada orang yang sangat ia sayangi sedang menendang-nendang perutnya.

Tetapi ketika Firman Tuhan mengatakan “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku”, itu berarti Ia mengenal siapa diri kita bahkan sebelum ibu kita mengenal siapa kita. Sebab Ia sudah tau siapa kita sejak hidup kita berada dalam kandungan, karena itu tidak ada seorangpun yang lebih mengenal hidup kita lebih daripada Tuhan.

Jika kita melihat Mazmur 139 dari awal, kita akan semakin diyakinkan bahwa memang Tuhan itu maha tahu dan mengenal kita. Di ayat pertama yang merupakan ide utama dikatakan “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku”. Selanjutnya di ayat 2-6 dijelaskan bahwa Tuhan tau waktu kita duduk atau berdiri; Ia tau semua apa yang kita pikirkan dan apa yang akan kita katakan; Ia tau jalan hidup kita; dsb. Setelah menyatakan kemahatahuan Tuhan, di ayat 7-12, pemazmur mengungkapkan akan kemustahilan pemazmur untuk terpisah dari Tuhan. Di ayat 7-10 dituliskan ‘Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau....dst’ Tidak ada satu tempatpun yang tersembunyi dimana Tuhan tidak dapat melihat dan mengetahui kita.

Sesudah menyatakan kemahatahuan Tuhan, dan kemustahilan manusia menjauh dari Tuhan, selanjutnya di ayat 13 pemazmur memberikan sebuah alasan utama ‘sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku’. Dengan kata lain, Tuhan jauh lebih mengenal kita daripada seorang ibu/mama yang merupakan orang terdekat kita. Tuhan tahu diri kita sejak dalam kandungan. Tuhan tahu semua sifat-sifat kita. Ia tau karakter kita, kelebihan-kelebihan kita, kelemahan-kelemahan kita. Bahkan isi hati kita yang terdalampun Tuhan tau.

Rick Warren mengatakan “Jauh sebelum anda ada dalam benak orang tua Anda, Anda sudah ada di dalam pikiran Allah. Dia memikirkan anda terlebih dahulu.” Tuhan mengenal setiap kita. Ya....Tuhan mengenal hati kita. Bukan cuma mengenal, Ia pun mengerti hati kita.
Saya sendiri pernah tersentuh dan dikuatkan melalui sebuah lagu. Sewaktu masih kuliah di universitas Surabaya, saya pernah mengalami pergumulan yang cukup berat. Tidak perlu saya ceritakan di sini, yang pasti pergumulan itu cukup membuat saya merasa bahwa hidup saya tidak berarti didunia ini. Bahkan sampai pada tahap pertanyaan: Buat apa hidup kalau begini. Di saat pergumulan itu berat menyerang kehidupan saya, pada saat itu juga semua sahabat, keluarga, dan orang-orang terdekat menjauh dari saya. Entah salah paham, entah konflik, entah memang jarak yang terlalu jauh untuk berkomunikasi. Akhirnya di suatu sore, dan kebetulan hujan sedang deras pada waktu itu. Saya buka komputer saya, dan mengaktifkan winamp saya yang diputar secara suffle. Ketika saya sedang termenung melihat pohon cemara di depan rumah dan menikmati dinginnya hujan, dari winamp itu terdengar sebuah lagu yang mengatakan ‘Sedalamnya hatiku Kaupun tahu, dan kasihmu tak jauh dalam jiwaku, di dalam kesesakkan, di dalam kemenangan, ku tau Engkau slalu bersama-ku.” Saya pun mulai menangis, dan lalu saya memutar lagu itu berulang-ulang sambil menikmati hujan di sore itu. Saya tersentuh dengan perkataan ‘Sedalamnya hatiku Kau (Tuhan) tau.’ Kala semua orang tidak mengerti apa yang kita rasakan, Tuhan tau sedalam-dalam-Nya hati kita.

Ya. Tuhan mengenal kita. Karena itu mari kita bersandar kepada Tuhan. Dalam setiap pergumulan hidup ini, mari kita mengandalkan Dia. Hanya Tuhan satu-satunya yang mampu menopang kita, dan hanya Dialah yang mengerti isi hati kita yang terdalam. Ia yang merajut setiap hidupmu, dan Ia yabng menuliskan masa depan hidupmu, Ia juga yang mengerti setiap pribadi kita masing-masing.

Sunday, March 04, 2012

Mengapa Engkau Datang Lagi




Ahhhh.... Mengapa engkau datang lagi
Engkau yang sering melukaiku
Menghujam relung hati yang dalam berulang kali
Dengan ketajaman melebihi sbilah belati
Belati yang terasah berjuata-juta kali

Kini engkau datang untuk menusukku kembali
Tidak....engkau tidak menusukku dari belakang
Dengan jelas engkau melakukannya didepanku
Tanpa peduli tatapan mata yang sudah meneteskan bertitik-titik air

Tetapi aku tersenyum....
Aku tidak mengelak, tak menghindar.
Karena engkau sendiri yang menusukku
Ya.... engkau yang terlanjur kucintai

Namu aku tidak akan membiarkan kau membunuhku
Aku tidak mau mati karenamu
Karena ada BAPA-ku....
Yang memeluk hangat diriku

Ahhhh, rasa sepi... mengapa engkau datang lagi

Thursday, March 01, 2012

Jangan Berhenti Berharap



(2Raja-raja 18-19)
Berbicara tentang pengharapan, secara khusus tentang berharap kepada Tuhan, ada kalanya kita akan merasa begitu mudah berharap kepada Tuhan, namun ada pula kalanya kita merasa begitu susah untuk berharap kepada-Nya. Hal itu sangat tergantung dari seberapa besar harapan yang dinaikkan. Jika harapan itu memiliki kemungkinan besar untuk terjadi maka akan terasa mudah untuk berharap kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya jika harapan yang dimiliki itu rasanya sangat tidak mungkin bahkan mustahil terjadi, maka tingkat kesulitan untuk menaruh pengharapan itu juga semakin besar. Mis: Kalau tiba-tiba dokter memvonis kita bahkan kita sakit demam berdarah, mungkin masih gampang untuk kita tetap berharap kepada Tuhan. Kita tahu banyak orang yang sembuh dari penyakit ini. Penyakit ini belum tergolong terlalu berbahaya. Karena itu akan mudah bagi kita untuk mengharapkan kesembuhan dari Tuhan. Namun seandainya dokter memvonis kita terkena penyakit kanker stadium akhir. Pengobatan sudah dilakukan selama 2 bulan. Sudah ke singapur dan malaysia untuk berobat, dan memakan biaya ratusan juta. Tetapi kanker itu bukannya membaik melainkan semakin ganas. Sampai akhirnya dokter angkat tangan, dan berkata “Waktu hidupnya tidak lama lagi”. Pada saat itu terjadi, maka kita akan susah berharap kepada Tuhan. Kebanyakan orang akan pasrah dan berhenti berharap. Hal ini menunjukkan bahwa berharap pada kondisi yang tampak mustahil itu tidaklah mudah.

Hizkia pernah menghadapi pergumulan ini. Yehuda pada waktu itu sedang berada dalam keadaan terdesak. Negri Asyur begitu berkuasa dan merupakan negara adidaya yang tak tertandingi. Banyak daerah yang dijajah dan daerah kekuasaannya semakin besar. Bahkan Israel Utara juga yang beribukota di Samaria juga sudah direbutnya. Orang-orang Israel Utara sudah ditawan dan dibuang ke negeri lain. Dan saat itu yang tersisa tinggal Israel Selatan dengan daerah geografis yang sangat kecil. Orang-orang Asyur sudah mengepung mereka dari segala lini. Beberapa kota di Yehuda juga sudah direbut. Yang tersisa hanya Yerusalem dan sedikit daerah sekitarnya. Secara pasukan jelas orang Yehuda kalah banyak. Walaupun orang Yehuda memiliki benteng yang kuat, namun benteng itu tidak dapat bertahan lama. Bahan persediaan makanan di Yerusalem tidak banyak. Mereka hanya dapat mengandalkan hasil tanah mereka yang sempit. Dan orang Asyur tau jika mereka terus mengepung, suatu saat orang Yehuda akan kehabisan bahan panganan dan secara otomatis mereka akan menyerah. Hizkia dan rakyatnya sangat terdesak waktu itu, dan rasanya mustahil untuk melewati permasalah itu. Seakan-akan tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan selain mengangkat bendera putih.

Pada saat itu jugalah salah seorang utusan raja Asyur datang dan berteriak kepada orang-orang Yehuda ‘Hai orang Yehuda, Dengarkanlah.... Jangan biarkan Hizkia, raja kalian, memperdayakan kalian...Sebab ia tidak akan sanggup melepaskan engkau dari tanganku... Janganlah Hizkia mengajak kamu berharap kepada TUHAN dengan mengatakan: Tentulah TUHAN akan melepaskan kita; dan kota ini tidak akan diserahkan ke dalam tangan raja Asyur. Janganlah dengarkan Hizkia,....: (sebaliknya) Adakanlah perjanjian penyerahan dengan aku dan datanglah ke luar kepadaku, maka kamu akan hidup makmur, aman, nyaman, dengan demikian kamu akan hidup dan tidak mati. (Sekali lagi) janganlah dengarkan Hizkia, sebab ia membujuk kamu dengan mengatakan: TUHAN akan melepaskan kita! (Alasan) Apakah pernah para allah bangsa-bangsa melepaskan negerinya masing-masing dari tangan raja Asyur? Di manakah para allah negeri Hamat dan Arpad? Di manakah para allah negeri Sefarwaim, Hena dan Iwa? Apakah mereka telah melepaskan Samaria dari tanganku? Siapakah di antara semua allah negeri-negeri yang telah melepaskan negeri mereka dari tanganku, sehingga TUHAN sanggup melepaskan Yerusalem dari tanganku?”

Ini bukan kondisi yang mudah. Ditengah keadaan yang terhimpit dan terdesak ada bisikan-bisikan yang mengatakan untuk berhenti berharap kepada Tuhan. Kalau dalam keadaan terhimpit mungkin kita masih dapat berharap kepada Tuhan. Namun kalau kondisi itu seakan-akan mustahil bagi kita untuk keluar dari permasalahan itu, maka saya kira ini hal yang sukar untuk tetap berharap kepada Tuhan. Dan mungkin kita akan beralih untuk berharap kepada manusia yang tampak lebih nyata. Saya kira penduduk Yehuda dapat tergoda untuk berharap kepada Asyur. Bisa saja mereka berpikir ‘bener juga, buat apa kita berharap kepada Tuhan, toh Tuhan tidak pernah kita lihat, dan keberadaannya tidak terasa. Didepan jelas-jelas ada tawaran pertolongan yang lebih bisa diharapkan, yang lebih nyata. Sepertinya berharap kepada Asyur lebih masuk akal bukan?’

Kalau saudara berada dalam posisi demikian kira-kira apa yang akan saudara lakukan? Ketika saudara berada dalam pergumulan yang berat, dan kondisi seakan-akan mustahil untuk keluar dari pergumulan itu.... apakah saudara tetap akan berharap kepada Tuhan? Misalkan anda terkena sakit penyakit yang begitu parah sehingga dokter memvonis tidak ada harapan lagi, dan tinggal menunggu waktu saja. Apakah kita masih bisa berharap kepada Tuhan? Atau misalkan kita berdoa untuk orang-orang terdekat kita agar mereka bisa berubah sikapnya dan terlebih bisa percaya Tuhan, tetapi sekian tahun kita berdoa, mereka tidak kunjung-kunjung berubah. Malah sikap mereka malah semakin tidak baik. Kitapun merasa mustahil bahwa mereka akan berubah. Pada saat itu terjadi, apakah kita akan tetap berharap kepada Tuhan? Atau pergumulan apapun juga yang saudara hadapi, dimana saudara merasa mustahil bisa melewati pergumulan itu. Apakah sdr masih berharap kepada Tuhan? Atau saudara memilih untuk mendengar bisikan-bisikan yang meminta kita berhenti berharap kepada Tuhan? ‘Sudah, jangan lagi berharap kepada Tuhan.... Berharap saja pada dukun ini, banyak yang sembuh oleh dia.... atau berharap saja pada si a atau si b, dia punya uang, orangnya baik, dia bisa diandalkan.... jangan lagi berharap kepada Tuhan’ Apakah saudara akan mengubah arah pengharapan anda?

Mari kita belajar dari apa yang raja Hizkia lakukan. Raja Hizkia merupakan raja yang benar dihadapan Tuhan. Dikatakan sebagai raja yang benar ialah karena ia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Ketika ia menghadapi situasi yang begitu sulit dan terdesak, bahkan seakan mustahil untuk mengatasi pasukan Asyur yang sudah mengepung mereka, di pasal 19:14b-15a dikatakan “kemudian pergilah ia ke rumah Tuhan dan membentangkan surat itu dihadapan Tuhan, Hizkia berdoa dihadapan Tuhan....” Ya... Hizkia tetap berharap kepada Tuhan. Bahkan ia membentangkan surat yang menjadi permasalahannya itu di hadapan Tuhan, seakan ia mau berkata ‘Tuhan ini semua permasalahanku, saya menyerahkan semuanya dihadapanmu.’ Apa yang menyebabkan Hizkia berani terus berharap? Dalam doanya ia berkata “Ya Tuhan, Allah Israel, yang bertakhta di atas Kerubim, Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.” Hizkia sangat menyadari dan menghayati akan kemahakuassaan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Ia tahu bahwa Tuhan dapat dijadikan pegangan untuk berharap. Tentu ia belajar dari pengalaman raja-raja sebelumnya. Ketika banyak raja Israel yang berhenti berharap kepada Tuhan dan mulai menyembah dewa-dewa lain, atau berharap kepada mesir atau bangsa lain, bukannya keadaan makin baik tetapi tambah runyam. Sebaliknya ketika ia melihat ada raja-raja yang berharap kepada Tuhan walau dalam keadaan terdesak, ia malah mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Karena itu Hizkia memutuskan untuk berharap pada Tuhan. Hizkia tahu bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Dan memang Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya. Di akhir cerita, ratusan ribu pasukan Asyur mati begitu saja, dan Alkitab mencatat bahwa malaikat Tuhanlah yang berperang untuk Israel.

Hal ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berharap kepada Tuhan. Dalam keadaan apapun itu, entah kita terdesak dengan segala permasalahan kita, entah kita merasa sedang menghadapi kemustahilan-kemustahilan, mari kita tetap berharap kepada Tuhan. Jangan pernah sedikitpun kita berpikir untuk berhenti berharap. Jangan dengarkan bisikan-bisikan nurani yang hendak menyuruh kita untuk berharap kepada manusia atau hal lain di luar Tuhan. Berharap kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Dalam pengharapan pasti kita akan mendapatkan sesuatu. Sekalipun apa yang tidak harapkan tidak terjadi, setidaknya dalam proses berharap itu kita akan belajar banyak. Karena itu terus bersandar dan berharap kepada Tuhan.