Wednesday, March 06, 2013

MENGHAKIMI SESAMA (AYUB 22)





Barusan saya terkejut dengan sebuah berita yang bertajuk demikian:  Kejutan Ultah berujung maut.  Kisahnya begini, suatu ketika ada seorang siswi kelas 3 SMP sedang berulang tahun.  Teman-temannya   yang mau memberikan surprise merencanakan rencana usil.  Yang ultah diajak salah satu teman kekantin, sementara yang lain memasukan handphone dan uang sebesar 300rb kedalam tasnya di kelas.  Setelah kembali kekelas salah seorang temannya melapor ke guru kalau dia kehilangan handphone dan uangnya.  Gurunya yang sudah mengetahui rencana itu langsung menyuruh beberapa pengurus kelas untuk menggeledah tas masing-masing.  Kemudian didapatilah di salah satu tas siswi yang berulang tahun tadi.  Langsung satu kelas menyoraki dia: “Maling, maling, maling…”  Karena shock dan terkejut, siswi ini kemudian pingsan tak sadarkan diri.   Gurunya langsung membawa dia keklinik terdekat untuk dirawat.  Akhirnya beberapa jam kemudian siswi ini sadarkan diri.  Tapi apa yang terjadi.  Karena terlalu shock anak ini seperti kehilangan gairah hidup.  Tatapan matanya menjadi kosong,  Ia jadi tidak bisa belajar.  Dan di rumah selalu menangis.  Ia jadi sering melamun.  Hanya dua hari setelah ia sadarkan diri, hari ketiga, karena tidak lagi kuat menanggung tekanan batin itu (walaupun ia sudah tau kalau teman-temannya hanya ingin mengerjai dia) akhirnya anak ini kembali tidak sadarkan diri.  Segera dibawa kerumah sakit terdekat, namun apa daya, ia harus mengakhiri hidupnya di usia 15 tahun. 
Sungguh kisah yang tragis.   Ketika seseorang merasa dihakimi akan terus ada tekanan batin dalam dirinya.  Walaupun mungkin seorang yang menghakimi itu sudah menarik kata-katanya, acapkali luka itu masi membekas dihati orang yang dihakimi tersebut…  Saya kira memang tidak ada orang yang suka dihakimi.  Kita tidak suka dituduh, dikata-katai yang tidak benar, apa lagi kata-kata itu sudah menjurus menjadi sebuah fitnahan.  Namun seringkali kitapun suka menghakimi sesama kita bukan?  Bahkan tanpa kita sadari, perkataan kita sudah menyayat dan melukai sesama kita.  Bahkan taukah bahwa penghakiman kita dapat membunuh orang lain? 
Tentu Tuhan tidak suka sikap menghakimi.   Itu sebabnya Yesus pernah dengan tegas memberikan perintah dalam Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.”   Selanjutnya Ia berkata di ayat 2 dan 3 “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?   Dari sini Yesus ingin memberitahukan kepada kita bahwa jika kita menghakimi maka kita juga akan dihakimi.  Itu sebabnya di kitab Lukas 6:37 Yesus mengatakan  Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”   Penghakiman adalah milik Allah.  Betapa angkuhnya dan betapa jahatnya kita dihadapan Tuhan jika kita suka menghakimi sesama kita.
Itu sebabnya pagi ini saya ingin memberi tau beberapa tips kecil saja untuk kita renungkan tentang bagaimana caranya supaya kita tidak jatuh dalam dosa penghakiman ini.  Saya tidak akan banyak lagi mengupas kisah Ayub ayat per ayat yang begitu sering kita dengarkan.  Tapi mari kita belajar apa yang menjadi kesalahan teman-teman Ayub, secara khususu Elifas, sehingga mereka terjatuh dalam dosa penghakiman.  Hal-hal praktis apa saja itu:

1.       Hati-hati ketika kita ingin memberi masukan walaupun bagi kita itu niat kita baik
Banyak orang mengira ketika memberi masukan atau nasehat hanya dengan alasan niat atau maksud baik itu sudah cukup.  Saya kira hal itu tidaklah cukup.  Maksud baik harus diiringi dengan penyampaian yang baik dan pikiran analisa yang baik sehingga orang yang menerima masukan itu dapat memahami dan menerima masukan itu tanpa merasa dihakimi.
Dari kisah ini kita dapat melihatnya.  Ini merupakan percakapan Elifas yang ketiga yang diberikan kepada Ayub.  Elifas merupakan orang pertama dari ketiga teman Ayub yang berbicara mengomentari masalah Ayub.  Niat awalnya memang baik.  Ia ingin memberitahu caranya kepada Ayub supaya ia bisa keluar dari permasalahan itu.  Namun mungkin cara penyampaiannya kurang tepat.  Sehingga niat baik itu bukan lagi disebut niat baik, tetapi di mata Tuhan niat baik itu sudah menjadi bentuk sikap menghakimi sesama.

2.      Mari perhatikan latar belakang masalah dan analisalah dengan tepat.
Saya kira tidak cukup hanya dengan penyampaian yang baik, tetapi sebelum kita memberikan penyampaian kita tentang sesama kita, mari kita melihat latar belakang seseorang dengan baik.  Kalau kita melihat percakapan Elifas di pasal 4 dan 5 sebenarnya ada beberapa kalimat yang baik.  Dia mengawali nasehatnya dengan pujian, dan dengan kata-kata yang bagus.  Tetapi mengapa semua itu masih terasa sangat menghakimi di hati Ayub?  Saya kira jelas karena Elifas memberikan pernyataan-pernyataan yang keliru, yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.  Elifas salah dalam memperhatikan latar belakang Ayub.  Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Elifas langsung mengatakan bahwa Ayub harus bertobat, sebab penderitaan ini semua dikarenakan oleh dosa-dosa Ayub yang membuat Ayub ditegur oleh Tuhan.  Perhatikan…Walaupun penyampaian sudah baik, namun jika tidak disertai alasan yang tepat, hal itu bisa menjadi penghakiman bagi orang lain.  Seandainya kita baru-baru mengalami kecelakaan motor.  Di lampu merah kita diam-diam, tiba-tiba ada supir mabuk yang menabrak kita sehingga kita terjatuh dan terluka.  Sesampainya dirumah, orang yang dekat dengan kita bilang begini (dengan nada yang lembut):  Makanya, kalau naik motor hati-hati.  Ga usah ngebut.  Harus perhatikan jalan baik-baik.”  Walaupun disampaikan dengan baik tapi perkataan ini tentu tidak enak didengar.  Karena kita tau kejadiannya tidak seperti itu.  Bkan karena kita yang tidak hati-hati, namun karena ada supir mabuk yang sembarangann.  Itu sebabnya sebelum kita memberi nasihat, penting bagi kita untuk menganalisa masalah dengan baik.  Tidak langsung ngomong begitu saja.

3.      Senantiasa mengontrol emosi dan menahan perkataan.
Menghakimi kadang bisa bermula dari masukan-masukan kecil, kemudian karena ada pembelaan, masukan itu makin tajam, dan kemudian kalau kita tidak hati-hati menjaga emosi kita, kita akan jatuh ke dalam penghakiman
Itu yang terjadi dengan Elifas.  Dalam teguran pertama ia memuji Ayub dimana Ayub telah mengajar banyak orang, tangan yang lemah telah Ayub kuatkan.  Orang yang jatuh telah dibangunkan.  Pada awalnya Elifas hanya mengatakan: sesungguhnya, berbahgialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan….  Di pasal 15 Elifas mulai menyalah-nyalahkan Ayub.  Ia mengatakan bahwa Ayub licik, dan mulutmu yang mempersalahkan.  Ia mulai mengkritiki Ayub dan menganggap Ayub orang yang sombong.  Ayub dianggap sombong karena dianggap menentang Allah dengan keluhan-2annya.  Selain itu di pasal 15 ini juga Ayub mulai disebut dan dikatakan sebagai orang Fasik.  Dan kritikan itu terus berkembang.  Pasal 22 ini merupakan percakapan ketiga Elifas kepada Ayub.  Dan perkataan yang ketiga disini adalah perkataan yang paling kasar.  Di ayat 5 Elifas mengatakan: bahwa kejahatan Ayub besar, kesalahanmu tidak berkesudahan.  Dia mengatakan dengan sewenang-wenang kamu menerima gadai dari saudara-saudaramu, dan merampas pakaian orang-orang yang melarat (ay.6).  Perkataan ini sudah bertentangan dengan pujian awalnya bahwa Ayub telah menguatkan banyak orang lemah.  Penghakimannya semakin tajam dan semakin mengerikan.  Mengapa itu bisa terjadi?  Saya kira hal ini bisa terjadi karena setelah terjadi perdebatan sekian lama dengan Ayub akhirnya Elifa menjadi emosi.  Mereka menganggap Ayub tidak menghargai masukan mereka, mereka emosi, sehingga mereka melontarkan perkataan-perkataan yang lebih tajam dan lebih menghakimi,
Itu sebabnya penting bagi kita sebelum mengeluarkan perkataan-perkataan, mari kita belajar untuk menguasai emosi kita.  Jangan sampai karena terpancing emosi lantas kita mengeluarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan sesama kita dan menghakimi.  Tahukah saudara bahwa banyak orang yang terluka hanya oleh perkataan-perkataan tajam yang keluar dari hati yang terlanjur emosi, walaupun maksud hati tidak demikian?  Dan tahukah saudara ada banyak orang yang menyesali apa yang pernah dikatakannya karena terlalu emosi?  Mereka menyesal karena perkataan itu telah menancap tajam di hati orang lain yang mereka kasihi.  Seorang ayah pernah menyesal seumur hidup karena pernah suatu kali dia emosi kepada anaknya yang masih kecil, papanya melontarkan kata demikian “bodoh kamu, memang kamu tidak berguna, bisanya Cuma bikin malu papa.”  Hal itu membuat hati anaknya kepahitan.  Ia merasa sudah sebaik mungkin berbuat yang papanya mau.  Tapi ia tidak terima dikatakan demikian sama papanya sendiri.  Akhirnya anak itu tumbuh besar menjadi orang yang kepahitan.  Ia selalu berusaha menentang papanya, dan sengaja hidup rusak agar papanya bener-bener malu.  
Sebab itu hati-hati dengan emosi kita.  Jangan sampai kalau emosi kita mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak seharusnya kita ucapkan.  Selain itu akan menjadi penghakiman yang sangat jahat, hal itu juga akan melukai sesama kita.  Dan semua sikap itu tidak berkenan dihadapan Tuhan. Mari kita coba untuk melakukan tiga langkah praktis ini.  Kiranya kita semakin terhindar dari dosa menghakimi sesama.  GBus

Sunday, January 20, 2013

BRIDGING THE GAP (PELAKU FIRMAN) #2





Alasan kedua mengapa penting bagi kita untuk melakukan Firman Tuhan adalah:  Karena jika kita tidak melakukan Firman Tuhan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.   Jangan mengharapkan perubahan dalam hidup kita jika kita tidak mau menjadi pelaku-pelaku Firman.
Mengenai ini Yakobus menggambarkan kita seperti orang yang sedang bercermin melihat rupa aslinya.  Namun setelah melihat bagaimana mukanya,  ia segera pergi dan tidak melakukan apa-apa di Cermin.  Tidak ada sesuatu yang diubah dalam dirinya walaupun ia tau ada banyak kekurangan dalam dirinya dalam cermin itu.  Saya tau setiap kita pernah becermin.  Bahkan tiap hari pasti kita becermin.   Apalagi kaum hawa.  Saya yakin tidak ada diantaara kita yang bangun pagi-pagi, melihat cermin, lihat rambut acak-acakan, terus kita biarin saja, lalu pergi kampus tanpa merapikan rambut kita.  Tidak mungkin bukan?  Kita pasti pergi didepan cermin, dan kita akan pergi dari cermin itu sampai ada sesuatu yang kita ubah. Hanya seorang anak kecil saja yang pagi-pagi bangun liat cermin, terus pergi kesekolah tanpa merapikan diri.  Harus dirapikan sama ortunya.  Demikian pula jika kita hanya mendengar dan mengerti Firman, namun jika kita tidak melakukannya kita seperti seperti anak kecil, yang bodoh (kata Yakobus) karena tidak melakukan perubahan apa-apa dalam dirinya.
Jangan harap untuk mendapatkan sesuatu yang baik dalam hidup kita belum melakukan Firman Tuhan.  Tidak ada berkat yang diberikan bagi mereka yang hanya menjadi pendengar Firman.   Di zaman PL juga menggemakan hal ini.  Ketika Musa membawa umat Israel keluar dari perbudakan Mesir.  Dan mereka akhirnya mengelilingi padang gurun selama 40 tahun lamanya, jumlah semakin banyak, dan terbentuklah bagsa Israel.  Disana Tuhan memberikan banyak hukum-hukum-Nya kepada umat Israel untuk dilaksanakan.  Setelah memberikan sekiatbanyak hukum itu, di ulangan pasal 7:12 -14  Musa memberikan janji Tuhan yang berbunyi demikian "Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 13  Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.  14  Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu.”  Perhatikan: bagi kalangan umat Tuhan, berkat Tuhan dicurahkan kepada mereka yang mau melakukan Firman Tuhan, bukan hanya mendengar.  
Sebaliknya jika saudara tidak mau melakukan Firman Tuhan, jangan mengharapkan akan berkat Tuhan datang dalam hidup saudara, keluarga anda, dan apa yang anda harapkan.  Jangan mengharapkan ada sesuatu perubahan yang berarti dalam hidup saudara .  Jangan mengharapkan kehidupan yang lebih baik jika kita tidak mau menjadi pelaku Firman Tuhan.  Analoginya sama seperti orang berlatih.  Suatu saat saya pernah bertemu dengan seorang bapak dirumahnya.  Dirumahnya lengkap alat fitnesnya.  Ada treatmill, banpress, alat untuk bentuk otot kaki, alat bantu situp dsb.  Lengkap.   Saya lihat alat fitnes yang lengkap itu, kemudian saya memandangi bapak itu:  gendut, besar, berlemak-lemak, bukan gendut otot.  Terus bapak itu berkata:  “Iyaa ini awalnya saja saya beli semangat.  Dulu pengen bentuk body biar bagus.  Tapi lama-lama malas latihan.  Lebih banyak makannya.”  Lalu kami tertawa bersama karena pernyataan bapak itu.   Demikian juga dengan hidup kita.  Jangan mengharapkan perubahan yang lebih baik dalam hidup kita jika kita tidak pernah melakukan Firman Tuhan.
Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan Practice make perfect (dengan berlatih membuat sesuatu menjadi semakin sempurna)....tapi saya mau menambahkan istilah ini.  Practice make perfet, no practice there’s no effect.  Jika kita tidak mau melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, jangan harap ada perubahan dalam hidupmu.  Jangan harap berkat Tuhan akan melimpah atas hidupmu.  Jangan mengharapkan kehidupan yang lebih sempurna. 
Kita mau keluarga kita dipulihkan?  Namun jika kita tidak mau memulai dengan pengampunan, maka sia-sia.  Kita rindu terjalin kasih diantara orang-orang dekat kita, namun jika kita tidak mau memulai untuk mengasihi terlebih dahulu, maka jangan berharap anda akan mendapat kasih itu.  Tidak akan ada yang berubah jika kita tidak mau menjadi pelaku-pelaku Firman.
Jangan kira hanya dengan kegereja tiap minggu, menyanyi, dan duduk diam kita akan beroleh berkat Tuhan.  Tidak!  Berkat Tuhan tidak diberikan kepada mereka yang demikian.  Ingat!  Tuhan pernah berkata:  Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan!’ yang akan masuk ke dalam kerajaan Surga, melakinkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga.  Ya….Berkat Tuhan diberikan kepada mereka yang rajin kegereja, sungguh-sungguh menyembah Tuhan, menghayati firman Tuhan itu, namun yang paling penting…. Ia mau melakukan kebenaran Firman itu.  Sebab itu saudara, mari menjadi pelaku-pelaku Firman.  Siapa disini yang hidupnya mau diberkati?   Saya yakin semua kita disini mau hidupnya diberkati.  Kita ingin usaha kita diberkati, keluarga kita diberkati, study kita diberkati, relasi kita diberkati,…. Ya… kita ingin diberkati dalam berbagai hal….  Namun jangan pernah lupa untuk melakukan Firman Tuhan yang kita dengarkan.  Karena tanpa melakukan Firman Tuhan jangan harap hidup kita akan diberkati.
Menjadi pendengar dan pelaku Firman itu seumpama dua pulau yang berbeda.  Pulau yang bernama ‘pendengar’ itu tempatnya gersang, tidak ada apa-apa.  Hanya banyak berisi petunjuk-petunjuk dan tulisan-tulisan serta peta bergambar yang berisi tentang sebuah pulau yang kaya harta karun.  Pulau yang penuh dengan harta karun itu bernama pulau ‘Pelaku Firman’…Hanya diantara kedua pulau itu terbentang lautan yang memisahkan.  Untuk mencapai kepulau harta karun yang bernama pulau ‘pelaku Firman’ itu harus dibangun sebuah jembatan untuk menghubungkannya.  Itu penting bagi kita untuk membangun jembatan antara apa yang kita dengar dengan apa yang mesti kita lakukan.
Bagaimana caranya?  Tentu menjadi pelaku Firman Tuhan itu tidak mudah.  Seringkali terjadi peperangan dalam roh dan daging kita.  Satu sisi seringkali kita tahu bahwa kita harus melakukan Firman Tuhan.  Roh kita sudah mendorong kita untuk melakukan Firman itu.  Ada keinginan untuk taat.  Namun disatu sisi kedagingan kita membuat kita merasa malas, buat apa capek-capek, mending melakukan hal yang kusenangi, mending melakukan yang nikmat untuk dagingku.  Dan peperangan antara roh dan daging ini terus ada dalam kehidupan kita anak-anak Tuhan.
Pertama, mari kita belajar untuk mengalahkan keinginan daging kita.  Jangan memanjakan keinginan daging dengan terus ‘memberi makan’ apa yang diinginkan daging.  Sangkal diri, dan lakukan yang Tuhan mau:  Mengasihi sesama lebih dari diri sendiri, mengampuni walau orang itu sudah melukai hati kita, memberi pipi kanan kepada orang yang menampar pipi kirimu, kasihilah musuhmu, jangan menghakimi sesamamu, dan banyak lagi kerinduan Tuhan untuk kita lakukan sesuai dengan Firmannya.  Mari kita berusaha untuk menekan keinginan daging kita, dan lebih menuruti keinginan roh yang ada dalam diri kita.
  Selain itu,  penting bagi kita untuk mencari spiritual partner, baik dalam persekutuan, maupun dalam kelompok-kelompok kecil yang telah dibentuk.  Kehadiran partner spiritual ini sangat penting sebagai pengingat akan apakah kita sudah melakukan Firman atau belum.  Berbahaya sekali jika tidak ada orang yang mengingatkan kita.  Kita bisa khilaf sewaktu-waktu. Dulu sewaktu kuliah saya memiliki beberapa spiritual partner.  Kami semua dekat, dan kami tidak malu untuk mengingatkan teman-teman kami kalau ada sikap kami yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan: mungkin ada kesombongan, kemarahan, kebencian, pikiran kotor dsb yang menguasai diri kami..  Dan itu sangat membangun kami.  Sahabat-sahabat itu menjadi pagar untuk kami supaya bisa berada dalam track yang benar.  Sebab itu mulailah mencari partner-partner demikian.  Bukan hanya mencari partner demikian, namun jadilah partner yang demikian.  Yang berani, dan tidak malu untuk mengingatkan rekan-rekan kita kalau tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Langkah terakhir yang bisa membangun jembatan untuk dapat melakukan Firman Tuhan ialah berdoalah dengan segala kerendahan hati.   Berdoalah kepada Tuhan agar Tuhan memampukan kita untuk dapat melakukan Firman-Nya setiap hari.  Renungkan firman setiap ahri dalam saat teduh, dan berdolah agar Tuhan boleh menolong kita untuk dapat melakukannya.  Memang langkah ini tampak sederhana.  Seakan-akan tidak cukup bagi kita hanya dengan berdoa.  Namun saya sering mengalami justru dengan berdoa saya akan mengingat tekad saya sepanjang hari itu untuk melakukan Firman Tuhan.  Doa membuat diri kita semakin rendah hati, dan semakin peka untuk melakukan apa yang Tuhan mau.  Sebab itu berdoalah kepada Tuhan untuk hal ini.

BRIDGING THE GAP (PELAKU FIRMAN) #1




Suatu waktu saya berjumpa dengan beberapa kawan saya untuk hanging out.  Kami kumpul di rumah salah seorang teman yang sudah ditentukan.   Sampai dirumah itu, setelah semua orang sudah berkumpul, tiba-tiba teman saya yang mempunyai rumah itu menyodorkan kunci mobil kepada saya meminta saya untuk menyetirkan mobilnya.  Akhirnya saya pun menyetir mobilnya kita hanging out bersama ke sebuah mall.   Sesampainya di mall itu kami mencari tempat makan karena sudah kelaparan.  Waktu kami semua sudah memesan makanan, tidak sengaja saya memperhatikan dompet teman saya yang punya mobil itu, saya melihat ada dua sim yang ia punyai antara lain sim A dan sim C.  Lantas sayapun bertanya kepada dia:  “Kamu punya sim kok suruh saya nyetir?”  Dia menjawab “Iya Fong, itu sim sudah lama saya buat, tapi saya sekarang ga bisa nyetir mi.”   Saya melanjutkan “Kok bisa kamu belum bisa nyetri tapi sudah dapat sim?”   Lalu ia mengatakan demikian “Iya, dulu saya pernah khursus mengemudi, setelah itu bisa dan saya buat sim.  Namun beberapa tahun lamanya saya tidak pernah menyetir lagi.  Kadang malas, kadang mobil dipakai, kadang takut, yah akhirnya karena lama tidak nyetir mobil, jadinya sekarang saya kagok / kaku, dan tidak bisa bawa mobil”.   “Yah… sia-sia dong kamu buang uang kursus dan buat sim tapi tidak pernah kamu pakai.”  Saya bilang begitu.   Mengapa ia tidak bisa menyetir mobil?  Karena ia jarang mempraktikan atau melakukan untuk mengemudi.  Ia menyia-nyiakan waktunya untuk berlatih dan ia menyia-nyiakan uangnya untuk membayar khursus dan membuat sim.

Saudara, sadarkah bahwa ada berapa banyak orang Kristen yang demikian, yang suka menyia-nyiakan waktu hidupnya?  Yang setiap waktu kegereja, dan sering mendengarkan Firman Tuhan.   Mungkin mereka bersaat teduh setiap hari; mungkin mereka setiap minggu kegereja mendengarkan Firman, bahkan mungkin ada yang 2-3 kali seminggu ke gereja;  mungkin mereka sering mengikuti seminar-seminar tentang pendalaman Alkitab; dsb;….. Tetapi ia tidak melakukan Firman itu.  Tahukah saudara, jika saudara tidak pernah melakukan setiap Firman yang sudah saudara dengarkan, maka saudara sama seperti teman saya tadi, saudara telah menyia-nyiakan hidupmu, saudara telah menyia-nyiakan waktu-waktu saudara, dan saudara telah menyia-nyiakan sesuatu yang berharga.  Itu sebabnya penting bagi kita untuk tidak hanya duduk diam ditempat ini dan mendengar Firman, tapi jauh lebih dari itu, yaitu bagaimana kita duduk, mendengar, merenungkan, menghayati, dan yang paling penting melakukan Firman itu.  Harus ada jembatan yang menghubungkan antara Firman yang kita dengar dan apa yang harus kita lakukan.  Mari bersama kita melihat terlebih dahulu alasan-alasan mengapa penting bagi kita untuk melakukan Firman Tuhan.
****
Pertama, jika kita tidak melakukan kebenaran Firman Tuhan maka hidup kita rentan dan rapuh.  Mari kita membaca dari Matius 7:24-27  24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  25  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  26  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  27  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Perumpamaan ini di katakan oleh Yesus ketika Yesus mau mengakhiri khotbah di bukit yang di mulai dari pasal 5.  Setelah berkhotbah panjang lebar dan mengajarkan banyak hal, kemudian Yesus menutup khotbah-Nya dengan perumpamaan dua macam dasar.  Di Israel cuaca sangat tidak menentu.  Seringkali hujan lebat mendadak datang dan menyebabkan dasar sungai yang kering berubah menjadi aliran sungai yang sangat deras.  Orang Israel sudah umum melihat pemandangan demikian.  Nah, orang-orang yang di pedesaan umumnya suka membangun rumah diatas lumpur yang mengeras ini.   Sementara orang-orang yang bijaksana biasa memilih membangun rumah jauh dari aliran sungai dan mencari batu karang sebagai pondasi rumahnya.  Akibatnya sudah umum di Israel waktu itu, ketika cuaca mendadak berubah, hujan lebat melanda, dan aliran sungai tiba-tiba meninggi dan deras, rumah-rumah yang dibangun diatas lumpur ini  hancur berantakan terseret arus air.  Sebab dasarnya tidak kuat.  Sementara orang yang membangun rumah diatas batu tidak perlu khawatir, sebab rumahnya akan kokoh berdiri karena pondasi yang kuat.
Saudara, Tuhan mengumpamakan orang yang mendengar Firman namun tidak melakukannya ini seperti orang pedesaan yang membangun di atas pasir tersebut.  IA rapuh, ia lemah, tampaknya saja bagus, namun ketika ada cobaan datang, maka hancurlah semua pendiriannya;  Runtuhlah imannya; dan hilanglah harapannya.  Habis terhempas bersama arus dunia yang begitu kencang.  Sebaliknya jika saudara mendengar Firman Tuhan dan melakukannya, saudara akan menjadi kuat dan tidak tergoyahkan, sebab kita sudah menjadi pelaku-pelaku Firman.
Ya saudara, Sekalipun kamu mendengar Firman dan memikirkannya; sekalipun kamu mendengar Firman dan merenungkannya; bahkan sekalipun kamu mendengar firman dan kamu tersentuh karena Firman itu (bahkan mungkin sambil menangis tersedu-sedu sambil berkata: Tuhan…Tuhan); tetapi kalau saudara tidak melakukannya,….  Saudara seperti orang yang bodoh, yang membangun rumahnya di atas pasir.  Dimana ketika ada cobaan datang menerpa, maka segala iman keyakinan, kekuatannya, akan sirna karena rumah itu tidak dibangun dengan melakukan Firman Tuhan.
Suatu ketika ada seorang ayah yang mengajarkan kedua putranya mengendarai mobil.  “Nak, cara mengendarai mobil begini ya…kamu harus masuk gigi perlahan, injak kopling baru koplingnya dibuka sedikit sambil injak gas, bla...bla...bla….bla…”  Setelah menjelaskan panjang lebar, sang ayah berkata: “Kalian sudah mengerti kan, silahkan kalian pakai mobil butut ini untuk latihan disekitar perumahan kita ya.  Jangan pakai mobil baru ya”  Anak pertama merasa sudah mengerti caranya, ia meremehkan dan tidak pernah berlatih, karena merasa sudah tau.  Sementara anak kedua dengan bersemangat segera memakai kesempatan itu untuk berlatih dan berlatih supaya dia bisa jalan-jalan dengan teman-temanya.  Beberapa waktu kemudian bapak ini mengajak kedua anaknya keluar kota.  Anggap saja ke Malino.  Papanya menyetir anak pertamanya duduk didepan, anak keduanya duduk dibelakang.  Ditengah jalan tiba-tiba dada papanya merasa sesak, ia langsung  memarkir mobil dipinggir jalan, dan papannya memegang dada mereka sambil berusaha menahan sakit.   Segera saja anak kedua ini berkata kepada kokonya: ko, cepet gantikan papa nyetir.  Kita harus membawa papa ke rumah sakit.  Kokonya langsung pindah ketempat supir papanya ditidurkan dibelakang.  Tapi ketika memegang setir, kokonya bingung, setelah starter, lantas dia bingung bagaimana masukkan gigi, setelah berhasil masuk, bagaimana lepas kopling pelan-pelan, dan gas nya harus bagaimana.  Akhirnya mobilnya sering termati-mati, terkejut-kejut karena sering salah injak.  Adiknya yang melihat hal itu langsung mengambil alih tugas kokonya.  Ia menyuruh kokonya kebelakang dan adiknya yang menyetir.  Akhirnya mereka bisa.
Saudara demikian juga orang yang mendengar Firman tapi tidak melakukannya, ia seperti anak sulung yang hanya mendengar dan mengerti, namun ketika ada masalah datang, ia tidak bisa apa-apa, rapuh, dan tidak berdaya.  Itu sebabnya penting bagi kita untuk bukan hanya mendengar Firman dan menghayatinya setiap hari.  Tapi jauh lebih itu, mari kita bersama-sama melakukan Firman itu, agar ketika persoalan-persoalan kehidupan datang, ujian, pencobaan, dan pergumulan hidup menerpa hidup kita.  Kita tau apa yang harus kita lakukan, karena kita adalah pelaku-pelaku Firman itu.