Monday, August 30, 2010

Behind The Negative Word (Yeremia 38:1-6)




“Kamu pasti bisa! Yakin Hidup Sukses! Kamu pasti menang!” merupakan beberapa ungkapan favorit yang sangat digemari akhir-akhir ini. Dalam teori kepemimpinan tampaknya kata-kata seperti ini sering tergema. Optimisme mutlak dan percaya diri berarus positif menjadi syarat utama bagi seorang pemimpin. Sebaliknya sikap pesimistis merupakan sebuah batu sandungan yang harus dienyahkan dari harddisc otak kita.

Salah satu buku karya Rhonda Byrne “The Secret” yang didukung oleh Jack Canfield (penulis Chicken Soup) dan Oprah Winfrey (seorang ratu talkshow) juga mengatakan bahwa sebuah kesuksesan dapat diraih melalui pikiran kita. Pikiran merupakan sebuah magnet yang dapat menarik apa saja yang kita inginkan. Tentunya semua itu didapat dengan pikiran yang positif. Melalui pikiran positif kita dapat mendapatkan dan mengubah segala sesuatu. Sebaliknya pikiran negatif adalah sebuah ancaman bagi sebuah kesuksesan. Keberhasilan buku ini menjadi the fastest selling book memberi konfirmasi kepada kita akan general agreement terhadap pandangan di dalamnya.

Dalam dunia kedokteranpun kata-kata positif sangat bermanfaat untuk kesembuhan. Tersebar isu dimana pasien yang bermentalkan “saya pasti sembuh” akan lebih mudah ‘direparasi’ dari pada pasien yang bermentalkan “Saya pasti mati.” Tak heran beberapa dokter menyarankan kepada pasiennya agar tidak berpikir yang buruk mengenai masa depannya. Hidup harus punya harapan, karena itu hidup harus diisi dengan pikiran-pikiran positif.

Saya kira kita semua sepakat dengan hal ini. Perbendaharaan kata-kata positif harus lebih ditingkatkan dan sebisa mungkin kata-kata negatif dimasukan dalam recycle bin guna membentuk dunia yang lebih baik. Saya pun setuju dengan pandangan ini, yang sudah umum dikumandangkan dalam percakapan sehari-hari, pelatihan-pelatihan kepemimpinan, dan status-status motivasi via facebook dan sms.

Namun saya menemukan sebuah pemaknaan yang sedikit berbeda ketika membaca kitab Yeremia 38:1-6. Yeremia yang merupakan nabi Allah memiliki tugas untuk menyampaikan apa yang menjadi pesan Allah kepada umat. Tentu saja seorang nabi yang baik harus mengungkapkan apa yang Allah ungkapkan tanpa memperhalus bahasa, mengurangi, apalagi menambahkan apa yang Allah katakan, sehingga suara nabi itu sama dengan suara Tuhan.

Nah, dalam perikop ini nabi Yeremia sedang menyuarakan suara Tuhan kepada Israel. Waktu itu Israel sedang dalam keadaan terdesak oleh gempuran Babel. Babel yang mulai berkembang menjadi negara adikuasa, berusaha mengeskpansi diri dengan menjajah bangsa-bangsa disekitarnya termasuk Israel. Israel menjadi seperti anak ayam dihadapan serigala buas yang hendak menyantapnya. Ditengah kondisi yang terpojok seperti ini tentunya umat Israel membutuhkan kata-kata motivasi dan dukungan semangat yang ekstra untuk dapat bertahan dan berjuang dalam mempertahankan diri. Mereka mengharapkan para pemimpin, termasuk para nabi untuk menyuarakan kata-kata yang berbau positif.

Tapi apa yang dikatakan oleh Yeremia? Apakah perkataan positif yang dilontarkan? Tidak! Di ayat 2 Yeremia menubuatkan demikian “Beginilah Firman Tuhan: Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini mendapatkan orang Kasdim (orang Babel), ia akan tetap hidup. Nyawanya akan menjadi jarahan baginya dan ia tetap hidup.” Dengan kata lain Yeremia menyuarakan kepada Israel untuk menyerah kepada Babel. Kehidupan didapatkan malah ketika mereka mengangkat bendera putih dan membiarkan diri diperbudak oleh negeri Babel. Sama sekali tidak ada kata-kata motivasi yang bisa menyegarkan sendi-sendi bangsanya yang sedang terpojok. Dorongan untuk menyerah tentu saja akan semakin memperlemah moral umat Israel.

Tampaknya perkataan Yeremia bukanlah sebuah usul yang baik. Kebanyakan pihak menganggap bahwa tindakan memperlemah moral merupakan sebuah pengkhianatan. Yeremia dianggap bersekutu dengan Babel karena menyuarakan pengangkatan bendera putih. Tak heran dia mengalami pemenjaraan yang ketiga (dalam perikop ini) karena ucapan-ucapan negatifnya. Nubuatnya kalah dengan nubuat tandingan dari nabi-nabi lain yang mengumandangkan kata-kata positif “Kamu pasti menang, jangan khawatir, Allah besertamu.”

Namun sejarah menunjukkan bahwa nubuat Yeremialah yang merupakan suara Tuhan. Mereka yang tidak mau menyerah kepada Babel nyatanya harus menyerahkan nyawanya dengan menggenaskan. Justru mereka yang ditawan kenegri Babel tetap di biarkan hidup. Setidaknya keadaan mereka jauh lebih baik daripada mereka yang menuruti suara-suara nabi palsu itu.

Disini kita menemukan bahwa ternyata dibalik kata-kata negatif dapat mengandung sebuah kebenaran yang signifikan. Kata-kata berbau negatif terkadang bisa merupakan suara Tuhan yang harus ditaati. Tentu saja suara negatif dari Tuhan memiliki tujuan yang positif. Dalam konteks ini, perintah untuk menyerah ke negeri Babel bertujuan untuk pembentukan umat Israel sendiri yang sudah hidup jauh dari Tuhan. Menyerah kepada Babel malah berarti berserah kepada kehendak Tuhan.

Aplikasi praktisnya ialah jangan pernah kita menjadi antipati dengan kata-kata negatif dengan menutup telinga erat-erat. Walau acapkali kata-kata negatif mengundang kejatuhan mental, namun bukan berarti tujuannya akan selalu buruk. Ada kalanya mental kita harus dihancurkan terlebih dahulu untuk mengikis kesombongan yang ada dalam diri yang dapat menghambat pertumbuhan kerohanian kita. Ada kalanya juga mental kita perlu dijatuhkan agar kita dapat lebih bersandar dan berpaut kepada Tuhan. Sometimes behind the negative word bring a goodness for us.

So....bagaimana bila kata-kata itu bersoar-soar di telinga kita? Pertama mari kita menyambutnya dengan hati yang lapang. Kedua, minta hikmat Tuhan untuk menimbang apakah perkataan-perkataan negatif itu seiring dengan apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita. Ketiga, jika tidak sesuai belajarlah untuk mengabaikan kata-kata itu. Tapi jika itu benar mari kita belajar rendah hati menerima kenyataan dan minta pertolongan Tuhan untuk menguatkan kita keluar dari kenyataan yang berat tersebut. Terakhir, buatlah kata-kata tandingan yang positif agar tidak berlarut dalam keadaan down. Misalkan ada kata-kata yang kita dengarkan ialah “Kamu pasti akan gagal,” bisa ditandingkan dengan kata-kata “Walau aku gagal kali ini, namun kegagalan-kegagalan itu akan mengantar kepada kemenangan kelak.” Ingat, kata-kata positif itu bukan sebagai pengganti, namun sebagai tandingan. Dengan demikian kita dapat mengolah kata-kata negatif itu dalam diri kita dengan bijak, dan kita dapat bertumbuh semakin serupa Kristus. Sekali lagi, dibelakang kata-kata negatif bisa tersimpan sebuah kebenaran, mari dengan hikmat kita mengolah kata-kata negatif itu, bukan menolaknya.

Monday, August 23, 2010

Bentuk Aku (Yeremia 18:1-6)


Masa kanak-kanak merupakan masa dimana seseorang berada dalam fase pembentukan yang intensif. Bagaikan sebuah bahan mentah yang masih harus terus dibentuk dan diolah sedemikian rupa, begitulah masa kanak-kanak. Saya ingat sewaktu kecil banyak sekali pelajaran-pelajaran dan pembentukan yang diberikan orangtua saya. Saya diajar menyapa orang yang lebih tua, sehingga setiap kali lupa pasti saya diingatkan dan ditegur. Bagaimana mengambil makanan harus memakai tangan kanan, kalau memakai tangan kiri akan dicubit. Saya diikutkan kursus ini itu dan diwajibkan belajar setiap malam. Dan banyak lagi pembentukan-pembentukan yang diberikan oleh mereka ketika saya masih kanak-kanak.

Dalam proses pembentukan tersebut terkadang ada pembentukan-pembentukan yang tidak dimengerti dan dipahami oleh seorang anak. Saya ingat pada suatu hari karena merasa bosan dan jenuh, saya merencanakan bolos sekolah. Saya tidur-tiduran dirumah dan bermalas-malasan. Ketika papa pulang dari toko dan melihat saya tidak sekolah beliau langsung bertanya dengan nada tegas "mengapa kamu tidak sekolah?" Sayapun menjawab "malas pa. Bosen sekolah terus." Seketika itu juga papa langsung mengambil rotan memukul saya dan dengan kemarahannya berkata "Mau jadi apa kamu kelak?" Sudah tentu saya menangis kencang waktu itu. Tetapi walaupun saya menangis papa saya tetap tidak berhenti memukul saya dengan rotannya. Sepertinya tangisan saya tidak cukup meluluhkan hatinya. Bukan hanya sakit di fisik, tapi hatiku juga sakit. Tahukah saudara bahwa dalam benak saya waktu itu berkata bahwa papa jahat. Papa tega mukulin saya. Papa gak sayang sama saya.

Namun seiring berjalannya waktu yang menghantar diri menuju kedewasaan, kusadari bahwa pukulan-pukulan itu sangatlah berharga. Saya mulai paham bahwa pukulan-pukulan yang diberikan itu bertujuan kebaikan diri saya sendiri. Pukulan itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan belajar untuk tidak selalu mengikuti kata hati. Pukulan itu juga membuat saya menjadi orang yang lebih dewasa. Lalu tersimpulah pemikiran bahwa terkadang cara yang tegas dan keras itulah yang dapat membentuk hidup saya.

Ini hanyalah sebuah kisah kecil yang mewakili realita kehidupan yang lebih luas lagi. Dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan tentunya ada banyak pembentukan-pembentukan yang diberikan Tuhan kepada kita. Dan terkadang pembentukan itu tidak kita mengerti. Bisa jadi melalui penyakit. Bisa jadi melalui kesusahan ekonomi dan kejatuhan karier. Bisa jadi melalui masalah-masalah yang hadir dalam keluarga. Dapat juga melalui meninggalnya orang yang sangat kita kasihi.

Beberapa cara-cara pembentukan Tuhan ini mungkin tidak kita pahami, sehingga bisa saja terlontar perkataan dari benak dan mulut kita "Tuhan jahat; Tuhan tidak peduli; Tuhan tidak sayang kita; Tuhan tidak mengerti perasaan kita."

Umat Israel pernah mengalami pembentukan yang keras ini dari Tuhan. Sebagai anak dan umat Tuhan mereka pernah dibuang ke negeri Babel selama 70 tahun. Tentunya pembuangan ini sangat menyiksa batin umat Israel. Beberapa dari mereka kehilangan keluarga yang mereka kasihi. Mereka kehilangan rumah dan harta benda. Mereka diangkut dari Tanah Kanaan yang merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan, di mana mereka mempunyai keyakinan bahwa di tanah itulah Tuhan akan menyertai mereka. Israel kehilangan tanah yang subur. Status sebagai orang merdeka berubah menjadi orang-orang yang diperbudak. Dan bait Allah yang merupakan pusat kehidupan spiritual dan politik dihancur luluhkan oleh tentara-tentara Babel. Jika berada dalam pembuangan hanya dalam 1 sampe 2 tahun tentu saja itu hukuman ringan. Namun Tuhan menghukum mereka selama 70 tahun lamanya. Tentu saja ini hukuman yang sangat keras bagi umat Israel.

Mengapa Tuhan harus menghukum Israel? Jawabannya tidak lain ialah karena banyak noda yang terdapat dalam diri Israel sendiri. Mereka hidup tidak sesuai dengan hukum dan perintah Tuhan. Secara spiritual mereka menyembah dan 'berselingkuh' dengan ilah-ilah lain. Secara moral mereka sudah menyimpang. Para imam dan para nabi banyak yang melakukan manipulasi. Mereka melakukan persundalan bakti dan berjinah dengan gampangnya. Tidak ada keadilan, kejujuran, serta tidak ada rasa hormat dan takut pada Tuhan lagi dalam umat Israel. Mungkin mereka merasa bahwa mereka tidak memerlukan Tuhan. Berkali-kali Tuhan mengirim nabi-nabi-Nya untuk mengingatkan dengan lembut kepada Israel, namun Israel tidak mau mendengar. Lantas Tuhan mengingatkan dengan lebih keras; alhasil Israel tetap mengabaikan peringatan itu. Karena itulah Tuhan mendidik mereka dengan lebih keras dengan membuang mereka ke negeri Babel.

Bagi beberapa umat Israel pembuangan ini merupakan hukuman yang kejam dari Tuhan. Mereka bertanya "mengapa Tuhan meninggalkan mereka. Mengapa Tuhan tega melakukan hal ini kepada Israel." Namun bagi Tuhan tentunya ini bukan sekedar hukuman. Ini juga merupakan suatu pembentukan kepada umat yang dikasihi-Nya. Tuhan menggambarkannya seperti sebuah bejana ditangan tukang periuk. Tuhan yang adalah tukang periuk itu dengan telaten dan sabar membentuk tanah liat itu untuk menjadi sebuah alat yang berguna dan berharga. Terkadang bejana tanah liat itu harus dihancurkan kembali karena dalam diri periuk masih ada kotoran-kotoran yang harus dibersihkan. Memang sang tukang periuk bisa saja tetap melanjutkan pekerjaan itu. Namun bejana dengan kualitas bahan yang seperti itu akan mudah rusak dan hancur dengan sendirinya. Karena itu tukang periuk akan dengan sabar dan telaten akan terus membentuk bejana itu sampai mencapai kesempurnaan. Inilah pembentukan Tuhan.

Memang pembentukan Tuhan seringkali tidak kita mengerti. Tuhan bisa membentuk dengan cara lembut, tapi terkadang bisa dengan cara yang agak keras. Namun semua pembentukan itu sudah pasti memiliki tujuan kebaikan bagi setiap anak-anak-Nya. Penulis kitab Ibrani mengatakan jika kita tidak dididik dan bebas dari ganjaran maka kita akan menjadi anak-anak gampang. Justru karena kita ini anak yang dikasihinya makanya Ia mau terus membentuk kita menjadi orang-orang yang semakin serupa dengan diri-Nya.


Terkadang Tuhan ingin membentuk kita dengan cara-Nya yang tidak terpikirkan oleh kita. Terkadang Tuhan memakai masalah-masalah atau mungkin penderitaan-penderitaan untuk memoles dan mengasah kita menjadi bejananya yang lebih sempurna. Mungkin cara itu tampak begitu keras bagi kita. Di mata kita mungkin Tuhan seakan-akan begitu kejam karena tega melakukan ini semua kepada kita. Namun di mata Tuhan berbeda. Bagi Tuhan terkadang cara keraslah yang merupakan cara terbaik untuk mengeluarkan kotoran dari bejana hidup ini. Memang Tuhan menerima kita apa adanya tapi Ia tidak mau kita menjadi apa adanya. Karena itu Ia akan terus membentuk dan membentuk kita untuk semakin hari semakin sempurna. Sama seperti sebuah mutiara yang terbentuk dari sebutir pasir yang melukai dirinya. Dalam kesusahan justru ada keindahan yang begitu berharga.

Karena itu mari kita menjalani hidup kita dengan tegar. Segala permasalahan dan pergumulan yang kita alami saat ini memang tidak enak untuk kita jalani. Tapi saya yakin dalam setiap masalah dan pergumulan yang dihadapi anak-anak Tuhan, ada suatu maksud Tuhan yang tersembunyi; yang begitu indah bagi setiap kita. Yaitu Ia ingin membentuk kita menjadi semakin serupa dengan gambaran-Nya yang sempurna. Karena itu ketika permasalah dan ujian datang menimpa kita, mari kita jangan bersungut-sungut dan mengasihani diri. Justru inilah saatnya kita belajar merendahkan hati dan berkata kepada Tuhan "Tuhan, bentuk aku. Bentuk aku menjadi bejana seperti yang Kau inginkan."

Wednesday, August 11, 2010

Jika Yang Tertinggal Hanyalah Sebuah Komitmen. . . .



Setiap tahun angka perceraian di Indonesia semakin bertambah. Orang semakin mudah menceraikan pasangannya tanpa perasaan bersalah. Sepertinya pernikahan bukanlah suatu hal yang sakral lagi. Ikatan perjanjian yang dilantunkan pada mulanya hanya seperti sebatang lidi yang begitu mudah untuk dipatahkan. Pasangan dianggap seperti sebuah pakaian yang bisa di ganti-ganti sewaktu-waktu sesuai dengan selera. Jika ditanya alasan mengapa menceraikan pasangannya, beberapa dari mereka menjawab dengan sangat simpel “Aku sudah gak ada rasa” atau “Aku sudah tidak cinta dia lagi, jika tidak cinta bagaimana bisa meneruskan hubungan.” Dengan kata lain, kasih dalam rumah tangga mereka sudah menjadi luntur, tidak seperti dulu ketika pertama kali mereka pacaran. Inilah yang menyebabkan mereka memutuskan untuk bercerai.


Namun demikian ada juga beberapa orang yang memilih untuk tetap mempertahankan hubungan dan kesakralan pernikahan mereka. Padahal kasih di tengah keluarga itu juga sudah luntur. Yang tertinggal hanyalah sebuah komitmen. Ya....Hanya sebuah komitmen. Sementara kasih itu sendiri sudah pudar. Bagi mereka lebih baik begitu daripada memutuskan untuk bercerai. Komitmen menjadi alasan satu-satunya untuk melanjutkan hubungan mereka. Yang tertinggal hanyalah sebuah komitmen.


Namun apakah hubungan seperti ini baik dalam sebuah keluarga? Dapatkah sebuah keluarga bertumbuh dengan baik tanpa ada kasih yang hangat seperti sedia kala? Saya tidak bisa membayangkan jika sebuah keluarga tidak lagi memiliki kasih semula yang berapi-api di dalamnya. Dingin, kaku, dan suasana hambar akan tercipta ditengah-tengah keluarga itu. Mungkin mereka masih melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti dahulu; mungkin mereka masih sering pergi makan bersama; mungkin mereka masih tidur bersama dan segala sesuatu mereka lakukan bersama. Tapi hubungan itu sendiri sudah menjadi hambar. Saya kira sebuah hubungan yang tidak lagi memiliki kasih bukanlah sebuah hubungan yang sehat.


Demikian juga hal nya dengan relasi kita dengan Tuhan. Ketika relasi anak-anak Tuhan dengan Tuhan yang tertinggal hanya sebuah komitmen maka hubungan itu sudah menjadi hubungan yang tidak sehat. Jemaat Efesus pernah ditegur Tuhan karena hal ini. Padahal mereka melakukan pelayanan mereka dengan giat. Dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tekun, dan berjerih payah. Mereka mengerjakan tugas-tugas mereka tanpa mengenal lelah. Tidak ada tugas dan pelayanan yang terbengkalai. Mereka membenci kejahatan. Secara doktrin pun mereka sangat kuat. Mereka bisa menguji apakah ajaran yang diberikan seseorang itu benar atau salah. Hal itu tidak mengherankan karena di sana ada sekolah teologi yang cukup terkenal yang bernama Tiranus. Pemahaman teologi jemaat Efesus sudah sangat mendalam. Saya kira betapa membanggakannya jika mempunyai jemaat seperti ini (dibanding gereja saat ini jika diadakan program PA pasti peminatnya sedikit). Ditambah lagi di ayat 3 dikatakan bahwa jemaat Efesus rela menderita demi nama Tuhan. Dengan kata lain mereka rela menanggung salib yang harus mereka pikul seperti yang diperintahkan Tuhan. Wow.... Betapa mengagumkannya memiliki jemaat yang seperti ini. Karena hal inilah jemaat Efesus yang dipuji oleh Tuhan.


Walau demikian Tuhan menegur keras mereka. Apa penyebabnya? Dengan jelas di ayat 4 dikatakan karena mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Bahasa Inggris menterjemahkannya sebagai first love. Memang mereka giat melayani, memang mereka tekun bekerja tanpa mengenal lelah, memang mereka membenci tindakan-tindakan kejahatan, memang mereka memiliki pemahaman yang tinggi akan FT, dan memang mereka tabah dan sabar untuk memikul salib menderita bagi Kristus; namun semuanya itu tidak lagi dilandaskan oleh kasih seperti pertama kali yang mereka lakukan untuk Tuhan. Kasih itu tidak lagi berapi-api dan terasa mulai hambar dalam jemaat Efesus. Yang tersisa hanyalah sebuah komitmen. Komitmen yang tidak diiringi dengan kasih yang semula.


Karena itu Tuhan menegur mereka. Bukan dengan teguran yang biasa, namun dengan teguran yang sangat keras. Di ayat 5 Tuhan berkata “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukan lagi apa yang semula engkau lakukan.” Tuhan tidak mengatakan “ayolah, upayakan lagi agar kamu memiliki kasih mula-mula,” kata-kata teguran yang diungkapkan begitu tegas “Bertobatlah....Betapa dalamnya kamu telah jatuh.” Kehilangan kasih dalam pelayanan bukanlah suatu kesalahan ringan, sehingga Tuhan meminta mereka sebuah pertobatan dan kembali ke jalan yang semestinya. Memang setiap pelayanan dan relasi dengan Tuhan yang tidak lagi didasari kasih maka pelayanan itu tidak lagi berkualitas. Paulus berkata dalam 1 Kor 13:1 “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” Kasih harus menjadi dasar yang tidak boleh kita tinggalkan dalam pelayanan dan relasi kita dengan Tuhan. Tanpa kasih sebenarnya kita sama juga dengan sebuah apel yang tampak segar dan harum, namun setelah di makan dalamnya ternyata busuk penuh dengan ulat.


Setiap kali merenung hal ini seringkali seringkali saya menjadi sedih dan mengangis. Jujur dalam kehidupan pelayanan dan relasi dengan Tuhan, saya sadari bahwa seringkali saya telah kehilangan kasih itu. Kesibukan, rutinitas, masalah-masalah, dan banyak faktor lain yang membuat saya kehilangan kasih semula itu. Bahkan terkadang terlalu banyak membaca buku tentang dunia Alkitab bukannya membuat hati ini semakin mengasihi Tuhan melainkan malah membuat hati menjadi kering. Sehingga yang tertinggal hanyalah sebuah komitmen, tanpa ada rasa kasih. Saya tetap bisa melayani, bahkan bisa menyibukkan diri dalam pelayanan; tetapi tidak lagi dengan kasih yang berapi-api. Namun saya bersyukur kepada Tuhan. Berkali-kali kebenaran FT dan kejadian-kejadian dalam hidup ini membuatku tersadar dan menggerakkan hati yang beku ini untuk boleh mengasihi seperti kasih semula yang pernah kurasakan.


Bagaimana dengan saudara? Sekian tahun mengikut dan melayani Tuhan, apakah kasih yang semula itu masih ada dalam diri kita. Masih adakah perasaan yang berkobar-kobar, semangat untuk memuji Tuhan, dan kerinduan untuk bersaksi, sama seperti pertama kali kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan? Atau mungkin kasih itu sudah menjadi hambar? Jangan-jangan kesibukan, masalah, dan rutinitas mencuri perasaan kasih itu sehingga yang tertinggal hanyalah sebuah komitmen. Sehingga semua pelayanan, ibadah, kebiasaan doa dan saat teduh itu hanya menjadi program dan kewajiban yang tidak dilandasi oleh kasih. Jika kita berada dalam posisi itu, berarti betapa dalamnya kita sudah jatuh. Tuhan mengkehendaki kita bertobat dan kembali memiliki kasih yang semula. Mari kita kembali menemukan kasih yang hilang itu. Hangatkan kembali hati yang beku. Jadikan kasih yang murni kepada Tuhan itu sebagai dasar setiap pelayanan kita.

Monday, August 09, 2010

Save The Earth # 3



Tentu saja dengan suhu bumi yang meningkat akan banyak dampak yang terjadi. Bukan hanya akan banyak dampak, namun dampak itu sudah jelas-jelas nyata terjadi ditengah-tengah kita. Inilah dampak-dampak yang mungkin terjadi:


Akibat pertama yang mungkin terjadi adalah banjir di mana-mana. Logikanya jelas. Kalau suhu bumi meningkat tentu es-es yang ada dikutub-kutub utara dan kutub selatan akan mencair. Akibatnya volume air meningkat. Waktu 100 tahun lalu ketika suhu bumi meningkat 0,5 derajat celcius saja, permukain air laut naik sebanyak 10 cm. Saat ini sudah ada dua pulau yang tenggelam karena naiknya permukaan air laut. Ada satu negara yang bernama Tuvalu mengalami perpindahan penduduk yang sangat besar. Negara mereka terlalu dekat dengan permukaan air. Waktu air meluap banjir terjadi di mana-mana. Khawatir negara kepulauan mereka tenggelam maka mereka memutuskan untuk mengungsi. Naiknya air laut ini paling mengancam negara-negara kepulauan seperti Indonesia. Ditambah lagi, kalau volume air semakin banyak dan suhu semakin meningkat maka jelas curah hujan akan semakin banyak dan menyebabkan banjir dimana-mana bukan? Tak heran banyak daerah yang sering kebanjiran saat ini. Terutama kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Iklim menjadi tidak menentu dan tidak teratur. Diperkirakan tahun 2022 air laut akan naik sebanyak 1 meter dan akan meneggelamkan 2000 pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia.


Akibat kedua, tanah menjadi kering dan tumbuh-tumbuhan menjadi cepet mati. Bakteri yang merusak tanaman sangat bertumbuh subur di cuaca yang panas. Akibatnya banyak tumbuh-tumbuhan yang mati terserang bakteri-bakteri itu. Kekeringan yang melanda ini akhirnya berdampak juga kepada kebakaran hutan. Tak heran di daerah-daerah yang banyak hutan seperti Kalimantan sering sekali terjadi kebakaran di mana-mana. Kekeringan dan matinya beberapa tumbuhan ini akhirnya berdampak kepada gangguan ekosistem. Keseimbangan alam menjadi goyah dan tentu saja hal itu mengancam kelangsungan kehidupan manusia. Mungkin puluhan tahun kedepan kita tidak lagi bisa menyantap ikan-ikan segar yang ada di perairan Indonesia ini, karena banyak makhluk hidup yang akan punah.


Akibat ketiga, penyakit menular semakin berkembang biak. Mungkin saudara sadari akhir-akhir ini banyak sekali teman-teman atau sanak family kita yang terkena penyakit demam berdarah, malaria, disentri, dan sejenisnya. Bahkan demam berdarah semakin hari semakin mengerikan. Jika dulu ciri-cirinya jelas di mana selalu ada bintik-bintik merah ditubuhnya, sekarang ciri-ciri itu sudah tidak jelas. Ada yang Cuma sakit di lambungnya dan Cuma mengalami panas ringan, namun setelah diteliti ternyata itu demam berdarah. Ada juga yang Cuma flu dan sedikit demam, ternyata setelah di cek ke dokter trombositnya sudah turun drastis. Semua ini termasuk efek dari Global warming. Semakin tinggi suhu bumi, kecepatan berkembang biak nyamuk semakin tinggi juga. Nyamuk yang tadinya ngak bisa hidup ditempat yang dingin, sekarang di tempat yang sama masih mampu bertahan hidup. Dan sudah jutaan orang yang menjadi korban akibat keganasan nyamuk-nyamuk ini.

Dan masih banyak lagi akibat-akibat lain dari global warming ini. Akibatnya hidup manusia menjadi lebih menderita. Bukan hanya manusia, tapi semua mahkluk hidup juga turut merasakan penderitaan itu.


Karena itu mari kita bersama-sama mengambil bagian dalam menghentikan global warming ini. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menghentikan global warming tersebut. Penelitian mengatakan bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan sangat bermanfaat, karena memang penyebab global warming terbesar bukan karena pabrik-pabrik yang besar saja melainkan karena masing-masing pribadi dalam sebuah rumah tangga.


Mungkin ada hal-hal yang susah kita lakukan seperti menanam pohon, membersihkan sungai, dan kegiatan-kegiatan besar lainnya. Namun ada begitu banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mencegah global warming.


- Kita bisa menghemat pemakaian listrik dirumah kita. Pilih bohlam yang wattnya gak terlalu besar. Kalo ada lampu yang bisa dimatikan sebaiknya dimatikan. Jangan sering-sering buka kulkas. Sekali kita buka kulkas energi yang dibutuhkan semakin besar. Maknya kalau buka kulkas seperlunya saja. Kalau misal cuaca tidak terlalu panas, usahakan pake kipas angin atau buka jendela saja. Kalau memang kita kepanasan baru pasang ac. Mengapa? Pmbangkit listrik membutuhkan batu bara untuk menjalankan tugasnya. Semakin banyak penggunaan listrik maka makin banyak juga batu bara yang dibakar. Dan batu bara yang dibakar ini menimbulkan zat karbondioksida yang menyebabkan efek rumah kaca tadi. Kalau saja tiap rumah mematikan satu lampu saja itu sudah sangat mengurangi pencemaran udara.


- Selain itu mari kita juga menghemat pemakaian air. Usahakan air dipakai secukupnya. Misal: Waktu sikat gigi, selama kita menggosok jangan biarkan keran menyala. Demikian juga waktu cuci piring, sewaktu menyabun biarkan air mati dulu.


- Dalam perjalanan, kalau jarak yang kita tempuh dekat usahakan tidak menggunakan kendaraan. Jalan kaki atau naik sepeda lebih baik. Hemat-hemat dalam memakai kendaraan bermotor, karena asap motor itu menyebabkan gas rumah kaca. Kalau misal knalpot mobil motor kita mengeluarkan asap yang banyak, cepet-cepet diperbaiki.


- Jangan membuang sampah sembarangan. Sampah yang tercecer dan jika jatuh di tanah akan menghambat pertumbuhan tanaman-tanaman hijau. Dan itu membuat pohon menjadi kering dan mati. Padahal pohon-pohonan itu sangat penting untuk menyerap karbondioksida dan menukarnya dengan oksigen, sehingga dapat mencegah terjadinya pemanasan global tersebut. Kalau bisa yah mari kita tanam pohon-pohonan di lingkungan kita.


Saudara bumi kita juga punya usia, suatu saat saya kira bumi ini akan hancur. Tapi kita mempercepat kehancuran itu dengan sikap kita. Saat ini dunia sudah menyadari akan bahaya lingkungan ini. Noble-noble penghargaan banyak diberikan kepada mereka yang sangat berperan dalam menjaga lingkungan alam kita. Banyak gerakan-gerakan dari para pecinta lingkungan yang berusaha untuk menyelamatkan dunia ini. Sungguh ironi jika kita anak-anak Tuhan atau umat Kristen yang seharusnya memiliki kewajiban dalam mengelola dan memelihara bumi ini malah tidak sadar akan tanggung jawab kita, terlebih parah jika kita malah menjadi orang-orang Kristen yang suka mencemari lingkungan dengan sikap-sikap kita. Biarlah renungan kita hari ini ‘Save The World” bisa menjadi mendorong kita untuk bisa berperan aktif dalam menjaga lingkungan sekitar. Beraksilah untuk menyelamatkan lingkungan, sekecil apapun aksi itu. Karena meskipun kecil, tetapi bila dilakukan bersama dan kontinu maka dampaknya tetap luar biasa. Kiranya nama Tuhan dipermuliakan melalui siakp dan tindakan setiap kita.

Save The Earth # 2



Namun jika kita melihat bagaimana kondisi bumi sekarang, apakah keadaan bumi kita semakin baik? Tidak! Sebaliknya bumi kita memasuki masa-masa krisis saat ini. Hal ini dapat di lihat daripada fenomena-fenomena yang nyata-nyata ada disekitar kita akhir-akhir ini:


Fenomena pertama, dulu waktu kecil saya ingat betul kalau masuk bulan 4 sampai bulan 10 selalu kita akan menghadapi musim kemarau. Dan dari bulan 11 sampai bulan 3 Indonesia akan memasuki musim hujan. Namun saat ini cuaca sangat tidak menentu. Menjelang memasuki bulan Juli, dimana seharusnya di wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau,ternyata banyak daerah yang diterjang banjir,bahkan di Jakarta, akibat hujan sehari semalam sebagian wilayah di Jabodetabek terendam air. Gelombang air laut besar terjadi dihampir semua perairan Nusantara,yang mengakibatkan para nelayan takut untuk melaut. Musim yang tidak menentu,cuaca yang berubah-ubah membuat para petani semakin terpuruk. Banyak panen gagal. Bukan hanya di Indonesia, kekacauan musim terjadi hampir diseluruh daratan yang ada di bumi kita. Ada tempat yang curah hujannya makin tinggi, ada juga daerah yang suhunyaa mengamuk sampai mencapai 45 derajat celcius. Tentu saja perubahan musim ini sedikit banyak sudah memakan banyak sekali korban jiwa.


Fenomena kedua, kalau kita perhatikan bencana alam semakin sering terjadi bukan? Banjir melanda di mana-mana. Longsor semakin sering terjadi. Gempa bumi semakin sering marak menimpa beberapa daerah. Pernah ada penelitian yang pernah menghitung berapa kejadian gempa terjadisetiap abadnya. Dan hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Pada abad 15 terjadi 150 kali gempa. Abad 16 terjadi 153 kali. Abad 17 terjadi 378 kali. Abad 18 terjadi 340 kali. Abda 19 terjadi 2119 kali. Sedangkan abad 20 terjadi lebih dari 30.000 kali gempa di berbagai tempat didunia ini, termasuk gempa-gempa ringan. Bencana-bencana ini jelasa menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dalam bumi kita.


Fenomena ketiga, yang begitu nyata kita rasakan saat ini. Mungkin saudara merasakan bahwa akhir-akhir ini suhu udara semakin panas. Di sini saya sering mendengar: Sekarang Malino tidak sedingin dulu. Dulu kalau ke Malino harus pakai pakaian tebal, sekarang celana pendek sama kaosan aja juga bisa. Bukan hanya di Sulawesi, sewaktu saya di Bandung orang juga mengeluh hal yang sama “Dulu Bandung dingin, enak, gak sepanas sekarang.” Begitu juga sewaktu di Malang. Biasanya orang-orang Malang biasanya suka pergi ke batu, terawas atau teretes karena cuacanya yang sejuk dan dingin. Tapi sekarang orang mengeluh bahwa tempat-tempat itu sudah tidak sedingin yang dulu; sudah kurang nyaman untuk di jadikan tempat rekreasi. Dari sini kita bisa melihat bahwa hampir semua tempat di Indonesia, bahkan saya katakan di dunia, mengalami apa yang namanya peningkatan suhu. Orang tidak bisa lagi hidup tanpa ac / pendingin. Bukan karena orang zaman sekarang semakin manja, namun lebih karena memang kondisi bumi kita yang semakin memanas dan menggila.


Apa sih yang menjadi penyebab dari fenomena-fenomena ini? Hari ini kita akan melihat salah satu penyebab utama kerusakan bumi kita ialah karena adanya pemanasan global atau biasa disebut sebagai global warming. Bumi kita memiliki lapisan atmosfer yang melindunginya dari dampak radiasi sinar matahari. Setiap hari, panas matahari masuk ke bumi menembus lapisan atmosfir berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap bumi, sisanya dipantulkan lagi ke angkasa. Pada lapisan atmosfer Bumi tersebut, terdapat selimut gas yang biasa disebut Gas Rumah Kaca. Gas ini berfungsi menahan panas Matahari agar tidak dilepas kembali seluruhnya ke angkasa, sehingga bumi tetap hangat. Selama bumi masih dalam temperatur 16 C, pemanasan atau penghangatan bumi adalah hal yang baik. Tetapi ketika terjadi peningkatan konsentrasi Efek atau Gas Rumah Kaca yang melebihi batas normal, panas bumi akan terperangkap dan tidak bisa dipantulkan lagi ke angkasa. Panas matahari akan terus terjebak untuk berada dalam bumi. Bumi akan semakin panas dan akhirnya timbullah pemanasan global / global warming.


Efek rumah kaca ini disebabkan kebanyakan dari asap-asap karbondioksida hasil dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak / batu bara), asap kendaraan bermotor, limbah yang ada di laut, minimnya tumbuh-tumbuhan hijau yang bertugas mengganti karbondioksida menjadi oksigen, dan karena penggunaan bahan-bahan kimia dimana-mana. Penyebabnya bukan hanya berasal dari limbah-libah pabrik dan perusahaan-perusahaan kimia; namun juga banyak disebabkan oleh sikap-sikap manusia itu sendiri dalam kesehariannya. Hal-hal inilah yang kemudian mempertebal gas rumah kaca yang menyebabkan cahaya matahari tidak dapat terpantul kembali, dan bumi makin memanas. Penelitian menunjukkan bahwa suhu bumi kita tiap abad terus meningkat. Dari tahun 1900 sampai 2000 suhu bumi sudah meningkat 2 derajat celcius. 10 tahun lagi bumi diperkirakan suhunya akan meningkat menjadi 3,5 derajat celcius; dan 1 abad lagi diperkirakan suhu bumi bisa meningkat sebanyak 5,5 derajat celcius.