Monday, November 09, 2009

Not Me, Nor You, But We (Mrk 6:30-44) #1



Ss, beberapa minggu yang lalu koran Jawa Pos memberitakan kabar yang cukup mengejutkan. Seorang ibu bersama putrinya yang cacat mengalami tekanan hidup di London. Mereka telah ditinggal oleh suami dan ayah tercinta. Kawasan rumah yang mereka tinggali sangat tidak nyaman. Mereka seringkali mendapat intimidasi dari geng pemuda (rata-rata berusia belasan tahun) di dekat tempat tinggalnya selama kurang lebih 10 tahun. Rumah mereka dikencingi setiap hari. Kebunnya dihancurkan. Putrinya yang cacat diejek. Kadang-kadang Fransesca, putri Fiona ini disuruh untuk membuka pakaiannya secara paksa. Seringkali ia dipukul dan dikurung dalam ruang tertutup. Selama 10 tahun itu juga Fiona sang ibu melaporkan hal tersebut kepada polisi untuk melaporkan perlakuan buruk terhadap keluarganya. Beberapa kali dia juga mengirimkan surat kepada wakil rakyat di DPRD setempat. Namun upaya itu sia-sia. Tidak ada respons. Tidak ada yang peduli.


Akhirnya 30 oktober 2007, mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan membakar diri dalam sebuah mobil. Mengejutkan? Sangat mengejutkan! Kasus ini kemudian diangkat dalam sidang bulan September lalu. Polisi cuma mengucapkan kata penyesalan dan permintaan maaf sedalam-dalamnya karena ketidakpeduliannya kepada keluarga yang ditinggalkan. Penyesalan yang terlambat. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan kepada orang yang sudah mati.


Ss, membaca hal ini mencelikkan mata saya. Manusia butuh untuk dipedulikan. Dan karena itu, manusia butuh untuk mempedulikan. Apalagi sebagai seorang Kristen yang mengaku sebagai murid Kristus, kepedulian harus mendarah daging dalam nadi kita. Sebab jika Yesus yang kita katakan sebagai guru begitu peduli terhadap manusia, bahkan musuh-musuhnya sekalipun, maka kita pun harus peduli pada sesama kita yang juga Tuhan pedulikan.


Namun tentu saja ini bukan hal yang mudah bukan? Jangankan peduli dengan orang yang kita kenal, peduli sama temen yang kita kenal aja susah. Kita berkata: “ah kalau aku mempedulikan, lantas siapa yang akan mempedulikan aku?” atau kita berkata “ah aku terlalu sibuk untuk mempedulikan dia, masalahku juga banyak.” Akhirnya tanpa sadar, kepedulian dalam diri kita semakin pudar. Hidup semakin egois dan berfokus hanya kepada aku dan aku serta aku sendiri.


Ss, itulah yang terjadi dalam perikop yang sudah kita baca. Ayat 30 memberitahukan bahwa murid-murid itu baru saja kembali dari pelayanan keliling desa (ayat 6b-13), dengan mengajar, menyembuhkan dan mengusir banyak roh jahat. Dan sudah pasti itu menjadi hal yang sangat melelahkan. Yesus paham dan peduli akan keadaan mereka, sehingga Ia mengajak murid-murid-Nya untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat.


Kemudian mereka mengambil jalan Laut agar tidak dilihat orang. Sebab jika mereka melewati jalan darat, tentunya akan banyak orang yang mengikuti mereka. Tapi sayang sekali. Rencana menyendiri itu batal. Banyak orang yang melihat mereka dan mengetahui arah tujuannya mengikuti dengan memutari jalan darat. Bahkan dikatakan seluruh kota mengikuti Yesus dan murid-muridnya. Karena memang kehadiran Yesus sangat menghebohkan kawasan Palestina dengan mujizat-mujizat dan ajaran-ajaran-Nya yang sangat menabjubkan. Rencana awal menyediri berubah menjadi kegaduhan. 5000 orang lebih mengikuti-Nya. Mengapa mereka mengikuti Yesus? Alkitab tidak menjelaskan. Mungkin ada di antara mereka yang meminta untuk disembuhkan. Yang pasti ada di antara mereka yang haus akan pengajaran-pengajaran Yesus. Mereka haus akan kebenaran, sehingga Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka.


Hari semakin malam, tapi Yesus tidak berhenti mengajar. Murid-murid yang sudah kelelahan itu kemudian berkata kepada Yesus “Tuhan, Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar.” Ss, sungguh merupakan alasan yang reasonable. Dengan alasan makanan, dan langit yang sudah gelap, mereka berharap Yesus menghentikan ajaran-Nya dan membubarkan masa. Sebenarnya alasan utamanya ialah karena mereka sudah lelah melayani, namun mereka menutupi alasan utama itu dengan alasan yang lebih masuk akal. Pada waktu itu murid-murid tidak peduli akan domba-domba yang haus akan kebenaran itu, mereka hanya mempedulikan diri mereka yang sudah sangat lelah. Disitulah keegoisan muncul. Perhatian mereka terfokus kepada diri sendiri, dan tidak lagi mempedulikan orang banyak itu.



Ss, bukankah ini juga yang sering kita lakukan. Ketika banyak tugas yang harus kita kerjakan; ketika tanggung jawab pelayanan banyak dibebankan pada kita; ketika kita harus mengejar target-target pribadi; dan sebagainya; lalu kita menjadi lelah, kita capek dengan urusan sendiri. Kemudian kita mulai mencari alasan yang masuk akal untuk tidak lagi mempedulikan sesama kita. Ketika ada orang yang membutuhkan kita, kita berdalih “ah aku lagi banyak kerjaan, nanti aku doakan saja deh”. Atau mungkin kita mengatakannya dengan lembut “Ah, sory, aku lagi ada tugas neh, lain waktu deh kita ngobrol,” tapi kenyataannya lain waktu itu tidak pernah terlaksana. Ss, bukankah ini yang sering terjadi. Ketika kesibukan diri dan kepentingan diri meningkat, disitulah kepedulian berkurang. Fokus terhadap diri memang selalu menjadi musuh besar dari kepedulian.



Ss, bagaimana respon Yesus terhadap pertanyaan murid-murid-Nya? Apakah ia mengatakan “oh ya benar” lalu Ia membubarkan masa? Tidak. Di ayat 37, dengan tegas Ia berkata kepada murid-murid-Nya “Kamu harus memberi mereka makan”. Atau dengan bahasa lain “kamulah yang harus memberikan mereka makan”. Ss, Yesus tidak mengatakan “tenang ada Saya” atau setidaknya memberi tahu rencana-Nya akan melakukan mujizat. Tapi Ia mengatakan “Kamulah yang harus memberikan mereka makan.” Yesus tidak memberikan pilihan lain, tapi Yesus menjadikan itu keharusan. Dengan kata lain, Yesus mengharuskan murid-murid-Nya untuk mempedulikan orang banyak itu. Yesus bukannya tidak peduli akan kelelahan para murid. Namun ia jauh lebih peduli akan banyak orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Seorang murid kristus harus peduli dengan keadaan orang lain, tanpa alasan apapun. Ss, ajaran ini senada dengan ajaran Yesus tentang seorang Samaria yang baik hati. Di mana kita di minta untuk menjadi seperti orang Samaria, yang walaupun harus menolong orang yang menjadi musuhnya sekalipun, bahkan dengan harus mengorbankan kepentigannya, ia mau mempedulikannya. Ajaran ini juga sejajar dengan ajarannya dalam hukum terutama yaitu dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Ajaran ini juga cocok dengan kehidupan Yesus yang selalu mempedulikan orang sakit, orang miskin, bahkan orang yang terbuang. Jika Yesus mau mempedulikan orang lain, maka murid-murid-Nyapun harus belajar peduli kepada orang lain.



Sepertinya amanat ini ditangkap oleh seorang gadis di suatu daerah. Suatu gadis berusia 8 th ini sedang diberikan makanan yang tidak ia senangi oleh ibunya. Anak itu menangis dan menolak, akhirnya ibunya pun menyuruh si ayah untuk membujuknya. Lalu ayahnya mulai membujuk anak itu. Ayahnya berkata : “nak kenapa kamu tidak makan, kamu bikin mama marah loh”. Anaknya hanya diam, lalu ayahnya berkata lagi “nak kalo kamu gak makan nanti kamu sakit, kalo kamu sakit nanti papa mama sedih lho, kamu mau liat papa mama sedih ?” Lalu anak itu mulai berkata “ok pa, saya mau makan tapi papa harus memenuhi permintaanku dulu”. “ok, apa permintaanmu” kata si papa. “Janji dulu pa?” “ok papa janji akan memenuhi permintaanmu, ehmmm, tapi.. jangan minta barang yang mahal-mahal ya” kata ayahnya. Lalu anaknya menjawab “tenang aja pa, gak mahal dan gak susah kok”. Lalu anak itu mulai membisikan permintaan pada papanya. Tiba-tiba papanya terkejut “apa kamu pingin digundulin? Gak mungkin, kamu kan anak perempuan masak mau digundulin?”. Lalu mamanya dan neneknya pun ikut-ikutan marah, mereka berkata “ah gak usah aneh-aneh, mana ada perempuan yang digundulin”. Papanya sekali lagi menegaskan “Tidak bisa!”. Lalu anaknya berkata “pa....papa kan sudah janji.... aku sudah habisin makanannya, masak papa melanggar janji papa?” Lalu papanya berpikir bahwa ia sudah berjanji dan harus menepatinya. Singkat cerita dikabulkanlah permintaan anaknya.


Keesokan harinya disekolah, dengan begitu malu papanya mengantar anaknya yang sudah gundul itu kesekolah. Namun ia terkejut, tiba-tiba ada seorang gadis lain yang kepalanya juga gundul menggandeng tangan anaknya dan masuk ke gedung sekolah. Papanya berpikir dengan terheran-heran “jangan-jangan musim gundul kali ya”. Tiba-tiba ada seorang ibu yang sedang menangis mendatangi sang ayah dan berkata “anakmu sungguh hebat dan mulia, sebenarnya anak saya terkena penyakit kanker leukemia sehingga kepalanya harus digunduli. Lalu dia tidak mau kesekolah karena kepalanya gundul. Tapi karena anak bapak berjanji mau menemaninya dengan kepala gundul, maka anak saya sekarang mau sekolah”. Mendengar hal itu, sang ayah menangis, dan berkata “terima kasih nak, kamu mengajari papa apa itu kasih.” Gadis itu tidak lagi mempedulikan dirinya demi memperdulikan temannya.



Ss, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar kita? Tahukkah ss, bahwa disekitar tempat saudara duduk sekarang banyak sekali orang yang butuh untuk diperhatikan? Mungkin ss melihat mereka datang dengan tertawa lebar dan senyuman yang manis. Tapi siapa yang tahu jika hati mereka sedang menangis. Ss saya juga pernah muda. Dan saya tahu persis, bahwa rasa sepi, kosong, khawatir, dan cemas seringkali menghinggapi banyak orang muda. Entah masalah-masalah pribadi yang pelik, masalah keluarga, masalah study, keuangan, atau mungkin penyakit-penyakit yang sedang digumulkan. Banyak sekali masalah yang terjadi, yang sebenarnya ingin membuat hati menangis. Disaat itulah, kita sebagai murid Kristus harus saling memperhatikan dan saling mempedulikan. Bukan sekedar dengan kata-kata. Bukan sekedar dengan doa dan rasa simpati. Tapi dengan tindakan kita. Ss, hal mempedulikan ini bukan tugas orang lain, bukan juga tugas pengurus, bukan juga tugas para hamba Tuhan, tapi ini merupakan tugas kita bersama. “Kamulah yang harus memperdulikan mereka... ya... kamu yang harus...”

Monday, November 02, 2009

Cermin Para Martir (Kis 7:54-60) #2




2. Iman yang berkemenangan tidak pernah sia-sia.


Ss, setelah Stefanus melihat penglihatan itu, orang-orang Sanredin langsung menyeret Paulus keluar kota. Dan sebagaimana para penghujat Allah harus di lempari batu di pintu gerbang, demikianlah Stefanus di anggap sebagai penghujat Allah yang harus dibunuh. Sebelum ia meninggal ia berkata “Tuhan terimalah rohku”, dan kemudian sambil berlutut ia berseru sama seperti Yesus sewaktu tergantung di kayu salib “Tuhan, jangan tanggungkan dosa itu kepada mereka”. Setelah mengucapkan kata-kata itu maka Stefanuspun meninggal.


The end! . . . .Mungkin itulah yang mereka pikirkan. Orang-orang Sanredin mengira dengan kematian Stefanus, maka kekristenan akan semakin hancur dan kelak akan berhenti. Namun pemikiran itu salah besar. Kematian Stefanus malah berdampak besar bagi perkembangan keKristenan.


Ss, jika kita perhatikan ayat sesudahnya (8:1-4), terjadi penganiayaan yang hebat pada waktu itu. Semua orang kecuali rasul tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Menariknya jika kita membaca di pasal 1:8, dituliskan “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Ss, selama ini mereka hanya melayani dan bersaksi di sekitar Yerusalem. Namun melalui kematian Stefanus, maka mereka tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria, menggenapi nubuat Kristus itu. Terus yang keujung bumi bagaimana? Kalau kita melihat kisah selanjutnya, kita menemukan bagaimana Filipus mempertobatkan sida-sida dari Etiopia, yang letaknnya diluar daerah-daerah yang sudah disebutkan itu. Disanalah Etiopia mewakili ujung bumi. Ss, darah Stefanus memberitakan injil Kristus. Mereka boleh membunuh raga Stefanus. Namun jiwa dan spirit yang dipunyainya tidak dapat dibunuh.


Bukan hanya itu, jika kita memperhatikan teks ini. Kita menemukan bahwa nama Saulus disebutkan di sana. Tentu saja ini bukanlah suatu hal yang kebetulan. Lukas sengaja menyebut nama Saulus untuk pertama kalinya di perikop ini. Karena kematian Stefanus inilah yang menjadi titik balik perubahannya. Sehingga tak heran, Saulus yang kelak diubah namanya menjadi Paulus itu seringkali mengungkapkan akan kematian Stefanus dalam ceramah-ceramahnya. Ss, inilah hasil doa dari Stefanus. Ketika Stefanus mengungkapkan doa pengampunan bagi mereka yang menganiayanya (termasuk Paulus), Tuhan mengampuni Paulus, dan mau memakai nya untuk memberitakan injil lebih luas lagi.


Ss, intinya kematian Stefanus tidak pernah sia-sia. Seperti ada pepatah bahwa darah kaum martir merupakan benih gereja, demikian juga kematian Stefanus malah mengharumkan kekristenan. Iman yang berkemenangan tidak akan pernah sia-sia, walaupun sekilas semuanya tampak sia-sia.


Suatu ketika ada seorang gadis jalanan yang masih kecil dengan berpenampilan kumuh dan berpakaian kotor, sedang memandangi sebuah gereja di hadapannya. Ia ingin sekali masuk, tapi ia tidak diijinkan karena gereja itu sudah penuh. Lalu menangis sedihlah ia di depan gereja itu. Tiba-tiba seorang pastur lewat di depan gerbang itu dan melihat anak kecil itu, lalu bertanya “nak, mengapa kamu menangis?” Gadis itu menjawab “Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu”. Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti bahwa bukan karena gereja penu, namun orang-orang gereja itu menolak anak itu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja. Gadis itu sangat tergugah, dan semenjak itu ia mulai berkawan dengan pastur yang baik hati itu. Namun sangat disayangkan, perkawanan itu tidak lama. 2 tahun setelah kejadian itu, gadis kecil ini meninggal di rumahnya yang sangat kumuh. Orangtua gadis itu meminta pastur tersebut untuk melakukan prosesi pemakaman yang sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis dirapihkan, Pastur itu menemukan sebuah dompet usang dan kumal. Didalamnya ditemukan uang sejumlah 57 cents dan secarik kertas yang isinya: "Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak-anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu" Rupanya selama 2 tahun, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uang nya untuk maksud yang sangat mulia. Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, ia menangis. IA berpikir bahwa tindakan ini tidak boleh berhenti sampai disini. Kemudian ia memotivasi setiap jemaatnya untuk melanjutkan pekerjaan anak ini untuk membangun gereja. Kisah gadis ini pun sangat cepat tersebar. Maka dalam waktu singkat terkumpulah uang sebesar 250.000 dollar. Jumlah fantastis pada saat itu. Saat ini, di Philadelphia, ada Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang. Dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus pengajarnya, dan tidak ada lagi perkataan bahwa gereja penuh. Inilah benih pelayanan dari gadis kecil. Didalam salah satu ruangan bangunan ini,tampak terlihat foto si gadis kecil. Ss, iman yang ditabur gadis itu tidak pernah sia-sia. 57 cent yang dittabur dapat menghasilkan.


Ss, iman yang sejati tidak pernah sia-sia. Tidak ada iman yang tidak membuahkan hasil. Semua perbuatan iman pasti berdampak dan berpengaruh. Kesetiaan, ketekunan, dan kejujuran kita dalam mempertahankan kebenaran, akan menuai buah-buah yang manis bagi orang lain. Karena itu biss, jangan pernah berhenti dan menyesal karena iman kebenaran yang kita pegang. Jangan juga kita menyerah dan kecewa, sebab iman yang sedang kita jalani, tidak akan pernah sia-sia.

Ss, mari kita bercermin dari para martir. Bercermin akan iman mereka yang berkemenangan. Iman yang menyadari akan pembelaan Allah dan kehadiran Allah bersama dengan kita. Dan iman yang tidak pernah sia-sia. Mari kita terus berjuang untuk menyatakan kebenaran-kebenaran. Janganlah kita menjual kebenaran itu hanya karena kekhawatiran kita akan masa depan hidup kita. Khawatirlah akan penghakiman Tuhan dan bukan pengakiman manusia. Biarlah Allah sang hakim itu akan menyertaimu, dan membuat segala yang engkau kerjakan berbuah. Amin

Cermin Para Martir (Kis 7:54-60) #1



Ss, ijinkan saya menceritakan kembali secuplik kisah martir di China, yang mungkin sudah sering kita dengarkan. Suatu ketika ada beberapa tentara China yang memasuki rumah keluarga-keluarga orang Kristen. Dengan senapan mereka memukuli orang Kristen, lalu mencabuti gambar Tuhan Yesus yang terpampang di tembok, dan menyuruh orang-orang tak berdaya itu satu persatu untuk menginjak dan meludahi foto itu sambil menyangkal Yesus. Beberapa orang yang ketakutan segera melakukan aksi penyangkalan iman tersebut. Namun ada seorang gadis, yang tetap mempertahankan imannya. Ia tidak mau meludah dan menginjak gambar itu, apalagi menyangkalinya. Kemudian anak itu menundukkan diri, menyeka ludah-ludah itu dengan rambutnya yang terurai panjang dan mengatakan “Tuhan mengasihiku”. Dan segera itu juga, sebuah timah panas menembus kepalanya yang mungil itu. Ss, inilah secuplik kisah yang sudah usang, namun selalu mampu membakar iman kita untuk dapat mencontohi iman gadis itu.


Ss, tema kita hari ini ialah cermin para martir. Saya percaya ketika majelis memberikan tema ini, sebenarnya ada harapan di mana iman, kegigihan dan jiwa para martir itu dapat diproyeksikan kedalam hidup orang Kristen saat ini. Dengan tujuan apa? Sama seperti cermin yang berguna untuk mengoreksi diri, demikian juga kita harus memperbaiki apa yang masih kurang dalam hidup kekristenan kita.


Ss, sebenarnya karakteristik para martir yang paling menonjol adalah kekuatan iman mereka yang luar biasa. Bagi saya tidak ada orang yang lebih beriman dari pada para martir. Mereka adalah orang-orang yang rela menderita. Mereka rela menyangkal diri, meninggalkan zona aman yang mereka miliki dan masuk ke dalam situasi yang memberatkan mereka. Mereka mau memikul Salib, bahkan rela kehilangan nyawanya untuk Tuhan. Tapi herannya, walau menjadi martir itu berat, kenyataannya sudah ada ribuan bahkan mungkin puluhan ribu orang yang rela menjadi martir untuk Tuhan. Mengapa? Karena bagi mereka menyaksikan Kristus dalam hidup mereka jauh lebih berarti daripada menyangkal Kristus. Bagi mereka, membela dan memperjuangkan kebenaran itu jauh lebih terhormat daripada melanggarnya.


Ss, Itulah iman yang berkemenangan. Memang nasib hidup kita tidak harus mati menggenaskan. Tapi setidaknya iman yang diam dalam kehidupan para martir tersebut juga harus hinggap dalam diri kita. Karena Tuhan berkata “barangsiapa yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut aku”. Ss, iman seperti itulah yang ingin kita pelajari pada hari ini. Perikop yang sudah kita baca barusan memberi dua alasan tentang mengapa kita harus memiliki iman yang seperti itu.


1. Allah berpihak orang benar


Ss, Allah kita itu suci dan kudus. Tidak pernah ia berpihak pada ketidak benaran. Kekudusannya membuat Ia akan selalu berpihak pada orang benar.


Firman yang baru kita baca tadi mengisahkan tentang kehidupan Stefanus, seorang martir pertama dalam sejarah kekristenan. Nama Stefanus pertama kali disebutkan di ayat 6, dan di katakan bahwa ia adalah orang yang penuh dengan karunia dan kuasa. Bukan hanya itu, ia juga dipenuhi oleh Roh Kudus. Namun dalam perikop yang sudah kita baca tadi, nyawa Stefanus berada di ujung tanduk. Ia baru saja dihasut oleh golongan Sanredin tentang dua hal (Kis. 6:13). Ia dianggap menghina bait Allah, yang dipercayai sebagai tempat Allah berdiam di dalamnya. Selain itu ia juga dianggap menghina hukum Taurat yang diberikan Musa. Inti keseluruhannya ialah Stefanus dianggap menghujat Allah. Ss, ini merupakan hasutan yang sama ditujukan kepada Yesus beberapa tahun sebelumnya.


Tapi dengan penuh hikmat, Stefanus mencoba untuk memberikan pembelaannya. Di pasal 7 ia berpidato panjang lebar. Dimulai dengan menceritakan tentang sejarah Israel, dan sampai pada kesimpulannya, ia menyerang balik apa yang menjadi hasutan dari orang Sanredin. Ketika ia dianggap menghina tempat kudus, Stefanus mengatakan bahwa “kalianlah yang membatasi Tuhan. Bukankah Tuhan yang memiliki bumi, dimanakah ia mau berdiam itu sesuka hatiNya.(7:46-50)” Ketika ia dianggap menghina hukum Taurat, Stefanus membalas “hai kalian yang tidak bersunat hati, kamu telah menerima hukum Taurat, namun kamu tidak mau menurutinya (7:53).” Intinya Stefanus ingin mengatakan bahwa “kamulah yang sebenarnya sedang menghujat Allah.”


Ss, ini merupakan tindakan yang sangat berani. Mengingat kekristenan begitu minoritas pada waktu itu, sedangkan kaum orang farisi dan ahli Taurat mendapat dukungan dari pemerintah Roma yang ingin menyukakan hati orang Yahudi.


Tak heran mereka begitu murka. Hati mereka tertusuk. Mereka mengkertakkan gigi. Mungkin mereka semua sudah bangkit berdiri dan siap menyeret Stefanus ketika mendengar ucapannya.


Namun di situlah, Stefanus yang dipenuhi Roh Kudus itu, dengan tenang menatap ke langit, dan Ia melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Ss, ini merupakan sebuah penglihatan yang agung. Disebelah kanan Allah ingin menyatakan akan kekuasaan Tuhan yang tidak ada bandingnya. Biasanya Alkitab menyebutkan “Tuhan duduk disebelah kanan Allah”. Namun kali ini dikatakan bahwa Tuhan berdiri di sebelah kanan Allah. Ss, Tuhan berdiri sebagai saksi bagi Stefanus. Ia juga berdiri sebagai pembela Stefanus. Ia berdiri, seperti seorang Bapak yang tidak terima ketika melihat anaknya diperlakukan tidak benar. Ia berdiri sebagai hakim, yang seakan ingin mengatakan “kalian boleh menghakimi anakku sedemikian, tapi kelak kalian yang akan masuk dalam penghakiman kekal-Ku”. Ss, Tuhan yang berdiri sebagai pembela itu jugalah, yang berdiri untuk menyambut Stefanus masuk dalam kerajaannya. Sungguh indah bukan. Tuhan senantiasa berpihak pada orang-orang benar. Ia membela setiap anakNya yang berpegang pada imannya.


Ss, iman itulah yang juga ada pada diri Paulo. Pada tahun 1600 penganiayaan terjadi begitu keras terhadap orang-orang Kristen yang ada di Jepang. Tanggal 20 Feb 1627 Paulo ditahan karena menampung orang-orang Kristen dirumahnya. Dalam penahanan itu ia disiksa. Ia dipukul, ditelanjangi, dan diseret. Namun Paulo tetap tegar. Pemerintah Jepang menggunakan cara yang lebih keji untuk menyiksanya. Mereka berkata bahwa mungkin orang ini dapat kuat dalam menghadapi siksaan, namun ia tidak akan kuat jika melihat anak-anaknya disiksa. Lalu mereka menghampiri Paulo dengan membawa anak-anaknya, sambil berkata “berapa banyak jari anakmu yang harus saya ambil atau kamu mau menyangkal Tuhanmu” Paulo sempat bingung, bayangkan saja jika anak kita menderita, bukankah itu jauh lebih menderita dibandingkan jika kita yang menderita? Namun dengan tegar Paulo berkata “semua terserah padamu, anakku sudah kuserahkan dalam tangan Tuhan, Tuhan yang hidup yang akan membelaku”. Akhirnya semua anaknya jari-jarinya dipotong semua, yang disisain hanya jempol dan kelingking, dengan anggapan bahwa mereka harus lebih buruk daripada hewan. Dan akhirnya ia harus mati karena penganiayaan itu. Namun sebelum ia mati, ia mengangkat tangannya ke atas sambil menyerahkan nyawanya. Sama seperti Stefanus, Iman Paulo percaya bahwa Allah yang akan melindungi dirinya walaupun ia harus mati.


Ss, bagaimana dengan kita? Jika kita meneropong lagi seluruh kehidupan kita, apakah kita sudah memiliki iman seperti itu? Tidak perlu berbicara untuk mati bagi Kristus, tapi sudah kah kita membela iman kita dalam kehidupan sehari-hari? Iman yang memegang kebenaran walaupun harus menanggung resiko yang tidak enak. Di tempat kerja kita, sudahkah kita berjuang untuk bertindak jujur? Di keluarga kita? Dengan kekasih kita? Di lingkungan kita? Apakah kita sudah berjalan sesuai dengan kebenaran? Atau kita lebih memilih untuk mengkompromikan kebenaran itu. Mungkin kita takut jika kita tidak mengikuti orang lain yang lebih berotoritas dari kita, kita akan kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, atau mungkin kehilangan masa depan.


Ss, jangan pernah takut. Jika ss sedang berjuang saat ini untuk tetap membela kebenaran, Firman Tuhan ini menjadi penghiburan bagi kita, dimana Allah berpihak pada orang-orang benar. Allah yang akan membela semua perkara kita. Dan Allahlah yang akan menjadi hakim atas hidup kita. Dan kelak ia akan menyambut kita dengan penuh sukacita, karena kita berada dalam jalur iman yang benar.