Wednesday, January 16, 2013

Ayub 7




Kehidupan manusia dibumi ini dipenuhi oleh banyak pergumulan.  Pergumulan itu bagaikan sahabat yang selalu menemani disepanjang hidup kita.     Pergumulan itupun bersifat mistery; kita tidak tau kapan ia akan menghampiri kita, dan menggoncang kehidupan kita.  Ada pergumulan yang berat, ada pergumulan yang ringan, ada juga pergumulan yang sedang-sedang saja.   Gagal atau tidaknya kita menghadapinya seakan-akan tergantung dari seberapa besar kekuatan yang dimiliki masing-masing orang.  Tetapi walau demikian….Yang pasti, tidak ada manusia yang terlalu kuat untuk yang tidak pernah menangis dalam menghadapi pergumulan hidup.   Sebab kekuatan manusia ada batasnya.

Kekuatan Ayubpun ada batasnya.   Pasal 7 menunjukkan akan hal ini.  Pasal ini menyatakan akan betapa rapuhnya dan tidak berdayanya Ayub.  Jika di pasal 1 kita masih terkagum-kagum dimana Ayub begitu tegar menghadapi penderitaannya;  pasal 7 menunjukkan akan kerapuhannya dan keterbatasannya dalam mengatasi masalah hidup.  Dan saya kira apa yang Ayub rasakan mewakili apa yang semua manusia rasakan, termasuk setiap kita disini, pada saat kita mendapatkan pergumulan yang berat.

Di ayat 1-10 ini di pasal ini Ayub menyatakan isi hatinya yang terdalam.  Diawali dengan pernyataan: bukankah manusia harus bergumul di bumi ini, dan hari-harinya seperti orang upahan?  Ayub menggambarkan pergumulan itu bagaikan seorang budak, yang terikat pada tuannya, yang tidak bisa lari kemana-mana, dan tidak berdaya, hanya dengan sabar menerima nasib menjadi orang rendah yang tidak berpengharapan.  Demikian pergumulan itu membuat dia seperti budak.  Ia tidak berdaya, tidak bisa melawan beban berat itu, dan mau tidak mau harus menuruti kemauan dari pergumulannya.  

Berikutnya di ayat yang ke-3 & 4 Ayub mulai merasa hidupnya sia-sia.   Setiap malam ia merasakan gelisah yang berat.  Ia tidak bisa tidur karena dihantui pergumulan itu.  Dan pergumulan yang berat itu membuatnya dadanya sesak.  Setiap malam datang mungkin ia berkata pada dirinya, semoga hari esok sudah tidak ada daripada hidup terus menderita.  Saya yakin saudara juga pernah mengalami hal ini.  Pergumulan yang begitu berat, membuat hati kita sesak tidak bisa tidur, menangis sepanjang malam sampai matahari terbit.  Dan rasanya tidak ada kekuatan kita mulai sirna untuk menghadapi hari esok.

Selanjutnya Ayub juga merasakan tiada lagi harapan.  Di ayat 6 dikatakan hariku berlalu lebih cepat daripada torak dan berakhir tanpa harapan.  Torak itu seperti bekas bahan sewaktu orang menenun, yang dipakai sebentar lalu kemudian dalam sekejap bekas bahan tenunan itu menjadi sampah dan dibuang.  Ayub merasakan hidupnya seperti itu.  Ia kehilangan pengharapannya.   Di ayat 7 dikatakan bahwa matanya tidak sedikitpun melihat yang baik.  Bukankah itu yang dialami ketika kita tidak lagi memiliki pengharapan.  Segala sesuatu yang ada didepan kita tampak tidak jelas.  Semuanya buruk.   Kita seperti tersesat dalam sebuah gua, dan tidak sedikitpun melihat secercah cahaya.  Semuanya gelap…. Tidak ada harapan.

Bukan hanya itu yang dialami oleh Ayub.  Selain merasa hidupnya sia-sia, selain kehilangan pengharapan, iapun merasa bergumul seorang diri.  Di ayat 8 dikatakan: orang yang memandang aku tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.  Ayat 10 melengkapi: Ia tidak lagi kembali kerumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.  Ayub merasa seorang diri.  Pergumulan itu begitu hebat sehingga ia merasa tidak ada satu orangpun yang dapat mengerti dirinya.

Saudara, saya kira setiap kita pernah merasakan apa yang Ayub rasakan ketika menghadapi pergumulan yang hebat.  Perasaan tidak berdaya menghadapi semua masalah yang menekan.  Rasanya kekuatan kita hampir sirna menghadapi pergumulan itu.  Perasaan hidup yang sia-sia.   Mungkin sakit penyakit, masalah ekonomi, atau segala duri dalam daging kita telah menghancurkan semua impian dan cita-cita kita.  Bahkan kita mungkin pernah merasakan apa yang namanya putus asa.  Kehilangan harapan.  Semua tampak gelap, seakan tidak ada jalan keluar.  Kita merasa berjalan seorang diri, tidak ada satu orangpun yang mengerti perasaan kita.  Suami tidak, istri tidak, anak-anak tidak, sahabat-sahabatpun tidak.  Saya yakin saudara ditempat ini pernah merasakan apa yang dirasakan Ayub.  Bahkan mungkin saja saat ini bapak ibu datang dengan membawa segala perasaan itu.

Karena itu mari kita melihat kembali kepada tokoh Ayub.  Ditengah kesesakannya, ditengah keputus asaaanya, ditengah ketidakberdayaan dan keputusasaannya menghadapi pergumulan hidupnya,  Ayub memilih untuk berseru dan memohon kepada Tuhan.   Pasal 7 ini dibagi 2 bagian.  Bagian pertama ayat 1-10 berisikan apa yang dirasakan Ayub terhadap pergumulannya, sementara ayat 11-21 berisikan seruan Ayub kepada Tuhan.  

Diawalin di ayat 11dimana dengan susah hati Ayub berkata: oleh sebab itu, aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.  Hatinya sudah tidak tahan lagi, ia ingin segera menyampaikan keluh kesahnya dihadapan Tuhan.  Ayat-ayat selanjutnya ia menyatakan kepada Tuhan akan keluh kesahnya.  Ya… Ayub menyatakan isi hatinya kepada Tuhan.  Walaupun ia tau bahwa mempertanyakan kedaulatan Tuhan itu tidak baik, namun kesesakan hatinya mendorongnya untuk berseru kepada Tuhan secara apa-adanya.  Ia memilih untuk menjadi seperti seorang anak kecil yang bertanya kepada Bapanya segala sesuatu yang ia tidak mengerti.  Ia menyatakan dihadapan Tuhan bahwa ia lebih baik mati daripada hidup demikian.  Ia bertanya sebenarnya siapakah manusia, sehingga Tuhan mengagungkannya.  Bahkan Ayub bertanya: apa salah dan dosaku ya Tuhan?  (mengingat pada jaman dulu ada konsep bahwa sakit penyakit itu merupakan kutuk atas kesalahan yang diperbuat manusia).  Bahkan dalam pergumulan yang berat itu, Ayub berani bertanya kepada Tuhan:  Mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku dan tidak menghapus kesalahanku?  Mengapa Engkau tidak mencari Aku?   Ayub merasa Tuhanpun tidak peduli terhadap dirinya.

Saudara, memang doa yang disampaikan Ayub ini tidak benar.  Tidak benar kalau Tuhan tidak peduli terhadap Ayub.  Tidak benar kalau Ayub bertanya apa dosa dan salahku.  Tidak benar kalau dikatakan Tuhan tidak mau mengampuni.  Semua itu tidak benar.  Tapi bukan poin ini yang ingin saya ajak jemaat renungkan.  Namun mari kita belajar sperti Ayub, yaitu belajar menyerukan segala isi hati kita dihadapan Tuhan.  Saya yakin Ayub merupakan seorang yang saleh.  Ia tau bahwa Tuhan itu peduli.  Ia tahu bahwa Tuhan itu maha kasih dan maha pengampun.  Dan Ia tahu bahwa bukan Tuhan yang menyebabkan Ia menderita.  Namun semua kesesakan dan pergumulan yang hebat itulah yang mendorongnya mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.  Segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannyapun di ajukan kepada Tuhan.  Seperti seorang anak kecil yang bertanya kepada papanya mengapa ini terjadi, mengapa itu terjadi.

Saudara, mari pada saat ini kitapun berseru kepada Tuhan untuk segala pergumulan yang kita hadapi.  Mungkin diantara kita ada yang sedang merasa tidak berdaya karena permasalahan kehidupan yang berat, mungkin diantara kita mulai berpikir bahwa hidup ini sia-sia, atau bahkan ada yang mulai kehilangan harapan, merasa seorang diri menghadapi.  Mari kita mengambil langkah seperti Ayub.  Mari kita berseru kepada Tuhan.  Berdoa, curahkan seluruh isi hatimu dihadapan-Nya.  Mazmur 62:9 berkata “berharaplah kepada Allah setiap waktu; curahkanlah isi hatimu kepada-Nya, sebab Dialah tempat kita berlindung.”




Thursday, January 10, 2013

Berhenti Menghakimi




Yohanes 8:7b“Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Kita harus jujur mengakui bahwa seringkali kita entah dengan sadar atau tidak, sering menghakimi keberadaan sesama kita.  Walaupun seringkali hal itu kita ungkapkan berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang akurat, harus kita pikirkan dan renungkan kembali, apakah semua itu sesuai dengan kehendak Tuhan?
Ketika Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi datang kepada Yesus membawa seorang perempuan yang berjinah, dan hendak melempari mereka dengan batu, mereka bertanya kepada pendapat Yesus.  Jelas-jelas dalam hukum Musa dikatakan jika seorang yang kedapatan berjinah maka ia harus dilempari dengan baktu.  Dan secara fakta memang perempuan itu berjinah.  Namun bagaimana respon Yesus?  Ia malah berkata “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”  Akhirnya tidak ada seorangpun yang berani melempari perempuan itu dengan batu, karena mereka menyadari bahwa dirinyapun banyak dosa. (HF)   

Mari berhenti menghakimi, sebab kita sendiripun layak untuk dihakimi.

Monday, December 17, 2012

Betapa Besar Kasih-Nya



Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kasih yang besar terhadap seseorang dapat mendorong kita melakukan perihal-perihal yang tampak ‘bodoh’.  Ada orang rela manjat tebing yang tinggi hanya untuk mengukir nama kekasihnya.  Ada orang yang rela berteriak-teriak di keramaian jalan raya untuk menunjukkan cintanya, dsb.  Kasih mendorong kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akan.
Cobalah renungkan... ketika Allah mengaruniakan kepada kita Anak-Nya yang tunggal, apakah itu bukan tindakan yang ‘tidak masuk akal’?  Dalam pemikiran kita, bagaimana mungkin seorang ayah mau menyerahkan anaknya untuk kepentingan orang lain.  Sangat tidak masuk akal.  Tapi Allah rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus, kepada setiap kita.  Mengapa?  Diawal ayat jelas dikatakan: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.  Ya....Betapa Allah mengasihi kita.  Mari jangan sia-siakan kasih Allah dalam hidup kita.  Hiduplah hari demi hari untuk menyenangkan hati-Nya. 
Kasih Allah terlalu besar bagi kita.

Tuesday, November 27, 2012

WASPADA TERHADAP DOSA KETAMAKAN (YOSUA 7) #2




Dampak Dosa Ketamakan

Setiap dosa pasti memiliki akibatnya.  Demikian juga dengan dosa ketamakan.  Pertama, ketamakan itu berakibat fatal terhadap diri sendiri.  Misalkan saja Yudas Iskariot.  Karena ketamakannya dia menjual dan menyalibkan Yesus dengan harga 300 keping perak.  Tapi apa akibatnya?  Ia mendapatkan perasaan bersalah yang begitu besar.  Akibatnya ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.  Di kisah lain juga kita tahu tentang Ananias dan Safira.  Suami Istri yang hidup di jemaat mula-mula.  Karena ketamakannya, mereka rela menipu jemaat seakan-akan mereka menjual semua hasil tanahnya dan dipersembahkan, padahal hanya setengah saja.  Apa akibatnya?  Seketika itu juga Ananias dan Safira diambil nyawanya oleh sebab mereka telah mendustai Roh Kudus.  Demikian juga dengan Akhan.  Karena ketamakannya akibatnya ia harus dilempari batu oleh segenap bangsa Israel sampai mati.   Dari sini kita dapat melihat jelas bahwa ketamakan itu berakibat fatal terhadap diri kita sendiri.

Bahkan lebih lagi, bukan hanya berdampak bagi diri sendiri, yang kedua: ketamakan itu dapat berakibat fatal bagi orang lain, termasuk orang yang didekat kita.  Saya sangat tertarik dengan pendahuluan di pasal ini.  Di ayat 1 dikatakan “Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.”   Coba perhatikan kalimatnya: “Tetapi orang Israel berubah setia......”   Saya berpikir: mengapa yang dikatakan berubah setia adalah orang-orang Israel?  Bukankah kesalahan hanya dilakukan oleh satu orang yang bernama Akhan?  Mengapa yang disebut berubah setia semua orang Israel?  Bahkan seluruh bangsa Israel dihukum dengan kekalahan melawan bangsa Ai, dengan matinya puluhan orang Israel.  Dari sini saya memahami bahwa acapkali kejatuhan kita tidak hanya berdampak bagi diri sendiri, tapi berdampak juga bagi orang lain.  Coba perhatikan, selain merugikan seluruh bangsa Israel, kejatuhan Akhan membuat seluruh keluarganya turut mendapat hukuman, termasuk anak-anaknya, semua dilempari batu sampai mati.

Bukankah ini juga yang terjadi dengan kasus Gehazi.  Ketika ia menginginkan harta milik Naaman yang seharusnya diberikan kepada nabi Elisa, ia menipu supaya ia mendapatkan harta itu.  Akibatnya ia dihukum menjadi kusta.  Bahkan ia dikutuk dan dikatakan bahwa semua keturunannya akan menjadi kusta.    Itu juga yang dilakukan oleh Adam dan Hawa bukan?  Karena keinginannya untuk menjadi seperti Allah, akibatnya semua manusia harus menerima kutukan dosa.  Dari sini kita dapat melihat bahwa dosa ketamakan bukan hanya berakibat untuk diri sendiri, tapi juga untuk keturunan kita, juga orang-orang disekitar kita.  Sebab itu berhati-hatilah.  Waspadalah terhadap dosa ketamakan.  Di balik setiap ketamakan ada akibat yang berbahaya bagi kita juga bagi orang lain. 

Dikisahkan, seorang pertapa tua, dalam perjalanan meditasinya di dalam hutan belantara, ia menemukan sebuah gua batu yang di dalamnya penuh dengan harta karun.  Sang pertapa yang bijaksana ini, ketika melihat hal ini langsung saja berlari sekuat tenaga meninggalkan gua yang penuh harta karun tersebut.  Di tengah jalan ia berpapasan dengan tiga serdadu yang nampak keheranan menyaksikan sang pertapa tua yang sedang ketakutan tersebut.  Ketiga serdadu tersebut bertanya mengapa pertama itu berlari ketakutan, pertapa itu menjawab “Saya melarikan diri dari kejaran segerombolan setan.”  Didorong oleh rasa ingin tahu yang amat mendalam, ketiga serdadu itu mendesak, "Tunjukan hal itu kepada kami."   Karena dipaksa, sang pertapapun membawa ketiga serdadu itu menuju gua harta karun yang baru saja ditemukannya.   "Lihatlah!" kata sang pertapa, "Inilah setan, sang kematian yang sedang mengejar diriku."   Ketiga serdadu itu saling memandang dan merasa bahwa sang pertapa tua itu adalah seorang yang amat bodoh dan sedang dirasuki setan. Karena itu mereka melepaskannya untuk meneruskan perjalanannya. Kini mereka bersorak atas apa yang baru saja mereka temukan, dan memutuskan bahwa salah satu di antara mereka harus kembali ke kota untuk membeli bahan makanan yang cukup serta membawa alat-alat untuk menggali dan menumpulkan harta karun tersebut, sedangkan dua yang lain akan menunggu dan menjaga dalam gua sehingga harta karun tersebut tidak jatuh ke tangan orang lain.  Salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk menuju kota. Dalam perjalanannya ke kota ia mulai merancang suatu rencana jahat. Apa yang akan dibuatnya? Ia berpikir untuk meracuni makanan yang akan diberikan kepada kedua temannya. Bila keduanya mati keracunan maka harta karun itu akan menjadi miliknya tanpa harus dibagi-bagi.   Pada saat yang sama kedua serdadu yang menanti dalam gua juga sedang berembuk mencari jalan agar harta karun yang ada hanya dibagikan di antara mereka berdua. Keputusan mereka telah bulat, teman yang kini menuju kota itu harus dibunuh saat ia tiba kembali ke dalam hutan ini.   Maka terjadilah!!! Ketika sang teman datang membawa makanan serta beberapa alat yang dibelinya dari kota, ia dengan segera dibunuh oleh dua teman lain yang menunggu di dalam gua.   Setelah itu keduanya duduk berpesta pora menikmati makanan yang baru dibawa itu. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Pesta pora kini berubah kelabu. Keduanyapun mati keracunan, dan harta karun yang ada dalam gua tersebut ditinggalkan sebagaimana adanya sejak sedia kala.   Sang pertapa ternyata benar. Harta karun dalam gua tersebut ternyata telah berubah menjadi seumpama singa lapar yang siap menerkam dan membunuh. Ketamakan ternyata adalah suatu kekuatan yang bisa menghancurkan dan mematikan. 

Itu sebabnya dalam Lukas 12:15 Yesus memperingatkan kita untuk “"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."  Ya.. kita harus berwaspada terhadap ketamakan.  Ketamakan dapat mencelakakan diri kita.  Ketamakan dapat merusak relasi dengan orang-orang terdekat kita. Hubungan suami isri / orang tua anak bisa hancur karena ketamakan yang sibuk mencari harta dan kepuasan sendiri tanpa memikirkan relasi orang yang ada didekatnya. Ketamakan dapat menghilangkan damai sejahtera dalam diri. Ketamakan dapat membunuh kita.  Jika kita terus hidup dalam ketamakan yang hanya memuaskan nafsu pribadi, hati-hati, kita akan mengalami penyesalan dalam hidup kita, entah apa yang akan terjadi, yang pasti ada akibat yang buruk yang akan menimpa orang-orang yang tamak.

Langkah-langkah Menghadapi Ketamakan
Lantas bagaimanakah solusi untuk menghadapi ketamakan?  Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.  Memang solusi ini tidak mudah, itu semua tergantung kita mau atau tidak melakukannya. 
Pertama, cobalah untuk mensyukuri dengan apa yang kita miliki.  Ada seorang yang sangat kaya di Amerika pada awal tahun 1900an.  Ketika di tanya: menurut anda apakah itu kecukupan?  Ia menjawab, jika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya miliki dari saat ini, itu baru cukup.  Dengan kata lain seumur hidup ia tidak akan merasa cukup.  Pdt Paul Gunadi pernah mengatakan bahwa “ketamakan itu adalah kegagalan untuk menghargai apa yang kita miliki.”   Dalam ketamakan tidak terdapat kedamaian, karena ia selalu merasa kurang.  Sebab itu mengatasi ketamakan dibutuhkan rasa syukur.    Jika ketamakan adalah sifat yang tidak pernah puas untuk memperkaya diri, selalu ingin beroleh banyak dan serakah, maka kita harus melawan ketamakan itu dengan sikap ucapan syukur, yaitu sikap puas dengan segala rasa terima kasih  kepada Tuhan terhadap apa yang telah ia terima dari Tuhan, dan apa yang ia miliki saat ini.  Dalam hati yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan akan mengikis ketamakan.  Ucapan syukur ini bukannya berarti setelah itu kita tidak usah berusaha atau bekerja sama sekali karena merasa cukup.  Tidak!  Ucapan syukur itu tetap membutuhkan usaha dan kerja keras, namun apapun hasil yang diperolehnya (entah sedikit, entah banyak) ia akan menyampaikan terimakasihnya kepada Tuhan, seakan-akan merasa puas dengan apa yang diraih.   Nah...Semakin sering kita mengucap syukur atas apa yang ada dalam hidup kita, semakin kita akan terjaga untuk tidak menjadi tamak dan tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain.  Sebab itu mari kita isi hati kita dengan ucapan syukur, puas dengan apa yang kita miliki, hargai apa yang kita miliki, dan jangan suka membanding-bandingkan apa yang kita punya dengan orang lain.  Orang yang tau bersyukur, adalah orang yang tau menghargai berkat Tuhan dalam hidupnya.

Kedua, cobalah untuk lebih mementingkan dan mendahulukan kehendak Tuhan.  Terkadang ketamakan timbul oleh karena kekhawatiran akan masa depan kita.  Kita takut kalau masa depan nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan; kita khawatir anak kita tidak terpenuhi kebutuhannya; kita khawatir kalau suatu saat kita akan hidup kekurangan; dan dari kekhawatiran ini mendorong kita untuk menginginkan banyak hal dan kalau perlu melakukan segala cara untuk dapat memperolehnya.  Saudara, jika itu yang saudara alami: mari kita pegang prinsip yang terdapat dalam Matius 6:33 yang mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”  Ayat ini berbicara terhadap orang yang khawatir akan kehidupannya, yaitu akan apa yang akan mereka pakai dan apa yang mereka makan.  Tetapi Tuhan berkata: carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya.   Dengan kata lain, mari dahulukan kehendak Tuhan di atas kehendak kita.  Apa saja kehendak Tuhan yang berkaitan dengan ketamakan?  Tuhan mau kita untuk tidak terikat akan harta, apalagi menyembahnya, Tuhan mau kita bersyukur senantiasa, Tuhan mau kita mengasihi sesama, bukannya merugikan sesama kita, Tuhan mau kita melayani dia,  Tuhan mau kita hidup jujur tanpa kecurangan, Tuhan mau kita lebih banyak memberi daripada menerima, dan sebagainya.  Itulah kehendak Tuhan dalam setiap kehidupan anak-anaknya.  Dan Tuhan meminta kita untuk lebih dahulu mencari akan kehendak Tuhan.

Setelah kita mendahulukan kehendak Tuhan dan kebenaran-Nya, selanjutnya Tuhan mengatakan “...maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-Mu”.   Apa yang ditambahkan kepada kita?  Semuanya.  Yaitu segala sesuatu yang kita khawatirkan tadi, termasuk mengenai masa depan kita, kecukupan materi dan sebagainya.  Ya... Semua itu akan ditambahkan kepada kita.  Disini kita diingatkan bahwa berkat itu datangnya dari Tuhan.  Berkat itu bukan milik kita.  Tapi milik Tuhan.  Dia yang berhak memberikan berkatnya kepada barangsiapa Ia berkenan.  Sesusah payah apapun jerihpayah kita, jika Tuhan tidak mau memberi berkatnya maka kita tidak akan mendapat.  Sebab itu mari kita belajar untuk mendahulukan kehendak Tuhan daripada kehendak kita.  Kehendak Tuhan jauh lebih baik dari pada kehendak kita.  Kehendak kita mungkin hanya memuaskan diri sementara saya, tetapi kehendak Tuhan bersifat kekal, di mana kita akan mendapatkan kepuasan yang kekal.

Diakhir khotbah ini saya ingin menceritakan sebuah kisah tentang seorang raja terkenal dari Makedonia yaitu Alexander the great atau Iskandar agung.  Ia adalah seorang raja yang berkuasa pada zamannya, dan tidak ada yang mengalahkan kebesarannya.  Suatu saat ia mengalami sakit keras.  Dan ia berkata kepada dokter yang merawatnya seperti ini:  “Ambilah setengah dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja.” Dokter menjawab: “Jangankah separuh, bahkan seluruh kekayaan baginda diberikan kepada hamba semuanya, hambapun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas.”  Mendengar jawaban itu , air matanya pun berlinang dipipi sang raja.  Dia berkata:   “Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan dan kekayaan.”  Kemudian sang rajapun berpesan, supaya nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dengan tangan kosong. Tidak memiliki apa-apa dan tidak membawa apa-apa. 

Kelahiran dan kematian adalah awal dan akhir, yang terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yang ada diantara keduanya.  Untuk itu jangan lupa untuk selalu mengutamakan Tuhan dalam hidup kita.  Jangan isi dengan ketamakan, namun isilah dengan ucapan syukur, dan hal-hal yang memperkenankan hati Tuhan.


WASPADA TERHADAP DOSA KETAMAKAN (YOSUA 7) #1




Ketamakan merupakan sifat dasar dari setiap manusia.   Apa sih itu ketamakan?  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tamak itu diartikan:  selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba; serakah.  Sementara ketamakan dimengerti sebagai: keinginan untuk selalu memperoleh (entah itu harta, kekuasaan, materi, dsb) sebanyak-banyaknya.  Sejak awal manusia diciptakan, setiap kita memiliki kecenderungan untuk tamak, menginginkan materi sebanyak-banyaknya untuk kepuasan sendiri.  Lihat klip ini (baby berebutan dot: 1.25 mnt)Coba perhatikan klip ini, kedua anak ini sama-sama diberi compeng masing-masing satu.  Tapi mereka tidak merasa puas dengan apa yang mereka miliki, ada keinginan untuk memperoleh compeng sebanyak-banyaknya, kemudian mereka baku berebut.  Bukankah hampir semua anak-anak begitu?  Selalu ingin mengumpul lebih-dan lebih untuk kesenangan sendiri.  Dari sini kita disadarkan bahwa dalam setiap pribadi kitapun ada kecenderungan untuk jatuh kedalam dosa ketamakan.  Kita tidak bisa memungkirinya.  Setiap kita disini, tidak peduli orang kaya atau tidak, tidak peduli berapapun usia kita, tidak peduli apapun pekerjaanmu, bahkan termasuk saya sendiri yang notabene adalah seorang hamba Tuhan,... ya setiap kita sangat memungkinkan untuk jatuh dalam dosa ketamakan.  Mengapa?  Sebab sejak awal kita lahir, natur dosa yang satu ini sudah diturunkan dalam kedagingan kita.

Tetapi harus kita tahu bahwa Tuhan sangat membenci dosa ketamakan ini.  Dalam Alkitab berkali-kali Tuhan menegur, memarahi, bahkan mengutuk sikap-sikap anak Tuhan yang begitu tamak.  Itu sebabnya penting bagi kita untuk merenungkan tema ini, sebagai awasan dan pengingat bagi kita, untuk tidak terjatuh dalam dosa ketamakan.  Mari kita belajar dari kisah Akhan dari perikop yang sudah kita baca.  Saya yakin bahwa kisah ini ditulis dalam kitab ini untuk menjadi peringatan kepada setiap orang yang membacanya untuk menghindari sikap ketamakan dalam diri. 

Saya akan memberikan sedikit garis besar agar kita lebih memahami perikop ini.  Kitab Yosua ini menceritakan tentang bagaimana umat Israel akhirnya masuk ke dalam tanah pernjanjian yang dijanjikan Tuhan.   Sejak zaman Musa, umat Israel selalu dijanjikan bahwa mereka akan melewati padang gurun dan akan memasuki tanah perjanjian yang kaya akan susu dan madu.  Sesampainya di tanah itu, Musa meninggal dan digantikan oleh Yosua.  Tuhan memakai Yosua untuk memimpin umat Israel menguasai tanah perjanjian.  Sebab itu dalam kitab Yosua hampir sebagian besar isinya peperangan Yosua melawan bangsa-bangsa sekitar yang sudah berdiam disana.  Karena Tuhan telah menjanjikan tanah itu kepada Israel maka Tuhan juga memberikan kemenangan demi kemenangan menghadapi semua musuhnya.

Namun apa yang terjadi di pasal 7.  Ketika mereka akan berhadapan dengan suku Ai, yaitu suku yang sebenarnya sangat kecil dan sangat sedikit jumlah penduduknya, yang dikatakan bahwa hanya dengan 3000 pasukan saja cukup untuk mengalahkannya, namun Israel lari terbirit-birit kalah terhadap suku yang kecil itu.  Apa penyebabnya?  Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya satu, karena umat Israel tidak taat kepada perintah Tuhan.  Seorang yang bernama Akhan telah mengambil barang-barang jarahan yang seharusnya dikhususkan untuk pekerjaan Tuhan.  Ketamakan Akhan membuat Tuhan tidak berkenan terhadap umat Israel sehingga mereka kalah menghadapi suku Ai.  Mari kita lihat, bagaimana sih awal mula ketamakan itu.

Datangnya Ketamakan
Setelah didapati bahwa Akhanlah yang bersalah terhadap kekalahan Ai, lantas Yosua bertanya kepada dia: mengakulah, apa yang telah kau perbuat?  Coba perhatikan jawaban Akhan di ayat 21 “aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

Perhatikan setiap kata kerjanya.  Ketamakan itu pertama di mulai dari melihat. Ada sesuatu yang menggiurkan dimata kita, entah itu harta, wanita, jabatan, atau apa saja yang menarik penglihatan kita, dan kita belum memilikinya.  Dalam konteks Akhan, ia melihat barang-barang jarahan yang begitu indah dan mahal.  Dan apa yang kita lihat itu tidak bisa kita hindari.  Setiap hari kita akan melihat banyak hal menarik disekitar kita.  Namun tidak masalah jika kita hanya melihat.  Yang dapat menjadi masalah itu adalah ketika kita mulai menginginkannya.  Menginginkan itu sendiri sebenarnya tidak menjadi masalah.  Namun jika keinginan itu hanya untuk memuaskan nafsu pribadi, dan mengorbankan kepentingan orang lain, apa lagi bertentangan dengan Firman Tuhan, disitulah akan menjadi bahaya besar.   Setelah Akhan melihat harta yang menarik itu, ia menginginkannya meskipun ia tahu persis bahwa harta itu   sebenarnya dikhususkan untuk Tuhan.  Keinginan inilah pemicu jatuhnya dosa ketamakan.  Dan dosa itu benar-benar terjadi ketika ada tindakan yang mendukung keinginan itu.  Setelah mengingini Akhan langsung mengambil semua barang itu sesuai dengan keinginannya.  Dan dosanya semakin diperparah, karena setelah mengambil ia menyembunyikannya dalam-dalam.  Mengapa ia menyembunyikan?  Karena ia tau persis bahwa tindakannya itu salah besar.  Ia tau ia salah, tapi ia tetap melakukannya demi kepuasan nafsu pribadi. 

Inilah proses terjadinya dosa ketamakan.  Itu juga kan yang dilakukan para koruptor?  Mereka melihat ada kekuasaan atau harta yang menarik perhatiannya.  Lantas mereka menginginkan kekuasaan dan lapar akan kekayaan demi kesenangan mereka sendiri.  Lalu mereka menghalalkan segala cara untuk meraup semua itu. Setelah melakukan kecurangan itu, kemudian segala tindakannya disembunyikan erat-erat dengan tipuan-tipuan yang sangat licik.  Mana ada koruptor yang terang-terangan melakukan korupsi.

Sebab itu saudara, mari kita hati-hati dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita inginkan.  Ada lagu yang mengatakan dari mana datangnya cinta?  Dari mata turun ke hati.  Namun bukan hanya cinta yang datang dari mata turun kehati, dosa ketamakan pun demikian.  Datang dari mata, dan turun kehati.   Jika kita tidak berhati-hati maka kitapun akan menjadi orang yang tamak, yang terlalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan orang lain.  Atau mungkin saat ini malah ada di antara kita yang sudah terjatuh dalam dosa ketamakan itu (entah tamak harta, tamak kuasa, atau tamak jabatan, dsb), dan saat ini sedang menyembunyikan dosa itu erat-erat.  Jika ada, mari perhatikan  poin berikut tentang dampak dari dosa ketamakan.