Monday, November 02, 2009

Cermin Para Martir (Kis 7:54-60) #2




2. Iman yang berkemenangan tidak pernah sia-sia.


Ss, setelah Stefanus melihat penglihatan itu, orang-orang Sanredin langsung menyeret Paulus keluar kota. Dan sebagaimana para penghujat Allah harus di lempari batu di pintu gerbang, demikianlah Stefanus di anggap sebagai penghujat Allah yang harus dibunuh. Sebelum ia meninggal ia berkata “Tuhan terimalah rohku”, dan kemudian sambil berlutut ia berseru sama seperti Yesus sewaktu tergantung di kayu salib “Tuhan, jangan tanggungkan dosa itu kepada mereka”. Setelah mengucapkan kata-kata itu maka Stefanuspun meninggal.


The end! . . . .Mungkin itulah yang mereka pikirkan. Orang-orang Sanredin mengira dengan kematian Stefanus, maka kekristenan akan semakin hancur dan kelak akan berhenti. Namun pemikiran itu salah besar. Kematian Stefanus malah berdampak besar bagi perkembangan keKristenan.


Ss, jika kita perhatikan ayat sesudahnya (8:1-4), terjadi penganiayaan yang hebat pada waktu itu. Semua orang kecuali rasul tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Menariknya jika kita membaca di pasal 1:8, dituliskan “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Ss, selama ini mereka hanya melayani dan bersaksi di sekitar Yerusalem. Namun melalui kematian Stefanus, maka mereka tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria, menggenapi nubuat Kristus itu. Terus yang keujung bumi bagaimana? Kalau kita melihat kisah selanjutnya, kita menemukan bagaimana Filipus mempertobatkan sida-sida dari Etiopia, yang letaknnya diluar daerah-daerah yang sudah disebutkan itu. Disanalah Etiopia mewakili ujung bumi. Ss, darah Stefanus memberitakan injil Kristus. Mereka boleh membunuh raga Stefanus. Namun jiwa dan spirit yang dipunyainya tidak dapat dibunuh.


Bukan hanya itu, jika kita memperhatikan teks ini. Kita menemukan bahwa nama Saulus disebutkan di sana. Tentu saja ini bukanlah suatu hal yang kebetulan. Lukas sengaja menyebut nama Saulus untuk pertama kalinya di perikop ini. Karena kematian Stefanus inilah yang menjadi titik balik perubahannya. Sehingga tak heran, Saulus yang kelak diubah namanya menjadi Paulus itu seringkali mengungkapkan akan kematian Stefanus dalam ceramah-ceramahnya. Ss, inilah hasil doa dari Stefanus. Ketika Stefanus mengungkapkan doa pengampunan bagi mereka yang menganiayanya (termasuk Paulus), Tuhan mengampuni Paulus, dan mau memakai nya untuk memberitakan injil lebih luas lagi.


Ss, intinya kematian Stefanus tidak pernah sia-sia. Seperti ada pepatah bahwa darah kaum martir merupakan benih gereja, demikian juga kematian Stefanus malah mengharumkan kekristenan. Iman yang berkemenangan tidak akan pernah sia-sia, walaupun sekilas semuanya tampak sia-sia.


Suatu ketika ada seorang gadis jalanan yang masih kecil dengan berpenampilan kumuh dan berpakaian kotor, sedang memandangi sebuah gereja di hadapannya. Ia ingin sekali masuk, tapi ia tidak diijinkan karena gereja itu sudah penuh. Lalu menangis sedihlah ia di depan gereja itu. Tiba-tiba seorang pastur lewat di depan gerbang itu dan melihat anak kecil itu, lalu bertanya “nak, mengapa kamu menangis?” Gadis itu menjawab “Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu”. Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti bahwa bukan karena gereja penu, namun orang-orang gereja itu menolak anak itu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja. Gadis itu sangat tergugah, dan semenjak itu ia mulai berkawan dengan pastur yang baik hati itu. Namun sangat disayangkan, perkawanan itu tidak lama. 2 tahun setelah kejadian itu, gadis kecil ini meninggal di rumahnya yang sangat kumuh. Orangtua gadis itu meminta pastur tersebut untuk melakukan prosesi pemakaman yang sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis dirapihkan, Pastur itu menemukan sebuah dompet usang dan kumal. Didalamnya ditemukan uang sejumlah 57 cents dan secarik kertas yang isinya: "Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak-anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu" Rupanya selama 2 tahun, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uang nya untuk maksud yang sangat mulia. Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, ia menangis. IA berpikir bahwa tindakan ini tidak boleh berhenti sampai disini. Kemudian ia memotivasi setiap jemaatnya untuk melanjutkan pekerjaan anak ini untuk membangun gereja. Kisah gadis ini pun sangat cepat tersebar. Maka dalam waktu singkat terkumpulah uang sebesar 250.000 dollar. Jumlah fantastis pada saat itu. Saat ini, di Philadelphia, ada Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang. Dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus pengajarnya, dan tidak ada lagi perkataan bahwa gereja penuh. Inilah benih pelayanan dari gadis kecil. Didalam salah satu ruangan bangunan ini,tampak terlihat foto si gadis kecil. Ss, iman yang ditabur gadis itu tidak pernah sia-sia. 57 cent yang dittabur dapat menghasilkan.


Ss, iman yang sejati tidak pernah sia-sia. Tidak ada iman yang tidak membuahkan hasil. Semua perbuatan iman pasti berdampak dan berpengaruh. Kesetiaan, ketekunan, dan kejujuran kita dalam mempertahankan kebenaran, akan menuai buah-buah yang manis bagi orang lain. Karena itu biss, jangan pernah berhenti dan menyesal karena iman kebenaran yang kita pegang. Jangan juga kita menyerah dan kecewa, sebab iman yang sedang kita jalani, tidak akan pernah sia-sia.

Ss, mari kita bercermin dari para martir. Bercermin akan iman mereka yang berkemenangan. Iman yang menyadari akan pembelaan Allah dan kehadiran Allah bersama dengan kita. Dan iman yang tidak pernah sia-sia. Mari kita terus berjuang untuk menyatakan kebenaran-kebenaran. Janganlah kita menjual kebenaran itu hanya karena kekhawatiran kita akan masa depan hidup kita. Khawatirlah akan penghakiman Tuhan dan bukan pengakiman manusia. Biarlah Allah sang hakim itu akan menyertaimu, dan membuat segala yang engkau kerjakan berbuah. Amin

Cermin Para Martir (Kis 7:54-60) #1



Ss, ijinkan saya menceritakan kembali secuplik kisah martir di China, yang mungkin sudah sering kita dengarkan. Suatu ketika ada beberapa tentara China yang memasuki rumah keluarga-keluarga orang Kristen. Dengan senapan mereka memukuli orang Kristen, lalu mencabuti gambar Tuhan Yesus yang terpampang di tembok, dan menyuruh orang-orang tak berdaya itu satu persatu untuk menginjak dan meludahi foto itu sambil menyangkal Yesus. Beberapa orang yang ketakutan segera melakukan aksi penyangkalan iman tersebut. Namun ada seorang gadis, yang tetap mempertahankan imannya. Ia tidak mau meludah dan menginjak gambar itu, apalagi menyangkalinya. Kemudian anak itu menundukkan diri, menyeka ludah-ludah itu dengan rambutnya yang terurai panjang dan mengatakan “Tuhan mengasihiku”. Dan segera itu juga, sebuah timah panas menembus kepalanya yang mungil itu. Ss, inilah secuplik kisah yang sudah usang, namun selalu mampu membakar iman kita untuk dapat mencontohi iman gadis itu.


Ss, tema kita hari ini ialah cermin para martir. Saya percaya ketika majelis memberikan tema ini, sebenarnya ada harapan di mana iman, kegigihan dan jiwa para martir itu dapat diproyeksikan kedalam hidup orang Kristen saat ini. Dengan tujuan apa? Sama seperti cermin yang berguna untuk mengoreksi diri, demikian juga kita harus memperbaiki apa yang masih kurang dalam hidup kekristenan kita.


Ss, sebenarnya karakteristik para martir yang paling menonjol adalah kekuatan iman mereka yang luar biasa. Bagi saya tidak ada orang yang lebih beriman dari pada para martir. Mereka adalah orang-orang yang rela menderita. Mereka rela menyangkal diri, meninggalkan zona aman yang mereka miliki dan masuk ke dalam situasi yang memberatkan mereka. Mereka mau memikul Salib, bahkan rela kehilangan nyawanya untuk Tuhan. Tapi herannya, walau menjadi martir itu berat, kenyataannya sudah ada ribuan bahkan mungkin puluhan ribu orang yang rela menjadi martir untuk Tuhan. Mengapa? Karena bagi mereka menyaksikan Kristus dalam hidup mereka jauh lebih berarti daripada menyangkal Kristus. Bagi mereka, membela dan memperjuangkan kebenaran itu jauh lebih terhormat daripada melanggarnya.


Ss, Itulah iman yang berkemenangan. Memang nasib hidup kita tidak harus mati menggenaskan. Tapi setidaknya iman yang diam dalam kehidupan para martir tersebut juga harus hinggap dalam diri kita. Karena Tuhan berkata “barangsiapa yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut aku”. Ss, iman seperti itulah yang ingin kita pelajari pada hari ini. Perikop yang sudah kita baca barusan memberi dua alasan tentang mengapa kita harus memiliki iman yang seperti itu.


1. Allah berpihak orang benar


Ss, Allah kita itu suci dan kudus. Tidak pernah ia berpihak pada ketidak benaran. Kekudusannya membuat Ia akan selalu berpihak pada orang benar.


Firman yang baru kita baca tadi mengisahkan tentang kehidupan Stefanus, seorang martir pertama dalam sejarah kekristenan. Nama Stefanus pertama kali disebutkan di ayat 6, dan di katakan bahwa ia adalah orang yang penuh dengan karunia dan kuasa. Bukan hanya itu, ia juga dipenuhi oleh Roh Kudus. Namun dalam perikop yang sudah kita baca tadi, nyawa Stefanus berada di ujung tanduk. Ia baru saja dihasut oleh golongan Sanredin tentang dua hal (Kis. 6:13). Ia dianggap menghina bait Allah, yang dipercayai sebagai tempat Allah berdiam di dalamnya. Selain itu ia juga dianggap menghina hukum Taurat yang diberikan Musa. Inti keseluruhannya ialah Stefanus dianggap menghujat Allah. Ss, ini merupakan hasutan yang sama ditujukan kepada Yesus beberapa tahun sebelumnya.


Tapi dengan penuh hikmat, Stefanus mencoba untuk memberikan pembelaannya. Di pasal 7 ia berpidato panjang lebar. Dimulai dengan menceritakan tentang sejarah Israel, dan sampai pada kesimpulannya, ia menyerang balik apa yang menjadi hasutan dari orang Sanredin. Ketika ia dianggap menghina tempat kudus, Stefanus mengatakan bahwa “kalianlah yang membatasi Tuhan. Bukankah Tuhan yang memiliki bumi, dimanakah ia mau berdiam itu sesuka hatiNya.(7:46-50)” Ketika ia dianggap menghina hukum Taurat, Stefanus membalas “hai kalian yang tidak bersunat hati, kamu telah menerima hukum Taurat, namun kamu tidak mau menurutinya (7:53).” Intinya Stefanus ingin mengatakan bahwa “kamulah yang sebenarnya sedang menghujat Allah.”


Ss, ini merupakan tindakan yang sangat berani. Mengingat kekristenan begitu minoritas pada waktu itu, sedangkan kaum orang farisi dan ahli Taurat mendapat dukungan dari pemerintah Roma yang ingin menyukakan hati orang Yahudi.


Tak heran mereka begitu murka. Hati mereka tertusuk. Mereka mengkertakkan gigi. Mungkin mereka semua sudah bangkit berdiri dan siap menyeret Stefanus ketika mendengar ucapannya.


Namun di situlah, Stefanus yang dipenuhi Roh Kudus itu, dengan tenang menatap ke langit, dan Ia melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Ss, ini merupakan sebuah penglihatan yang agung. Disebelah kanan Allah ingin menyatakan akan kekuasaan Tuhan yang tidak ada bandingnya. Biasanya Alkitab menyebutkan “Tuhan duduk disebelah kanan Allah”. Namun kali ini dikatakan bahwa Tuhan berdiri di sebelah kanan Allah. Ss, Tuhan berdiri sebagai saksi bagi Stefanus. Ia juga berdiri sebagai pembela Stefanus. Ia berdiri, seperti seorang Bapak yang tidak terima ketika melihat anaknya diperlakukan tidak benar. Ia berdiri sebagai hakim, yang seakan ingin mengatakan “kalian boleh menghakimi anakku sedemikian, tapi kelak kalian yang akan masuk dalam penghakiman kekal-Ku”. Ss, Tuhan yang berdiri sebagai pembela itu jugalah, yang berdiri untuk menyambut Stefanus masuk dalam kerajaannya. Sungguh indah bukan. Tuhan senantiasa berpihak pada orang-orang benar. Ia membela setiap anakNya yang berpegang pada imannya.


Ss, iman itulah yang juga ada pada diri Paulo. Pada tahun 1600 penganiayaan terjadi begitu keras terhadap orang-orang Kristen yang ada di Jepang. Tanggal 20 Feb 1627 Paulo ditahan karena menampung orang-orang Kristen dirumahnya. Dalam penahanan itu ia disiksa. Ia dipukul, ditelanjangi, dan diseret. Namun Paulo tetap tegar. Pemerintah Jepang menggunakan cara yang lebih keji untuk menyiksanya. Mereka berkata bahwa mungkin orang ini dapat kuat dalam menghadapi siksaan, namun ia tidak akan kuat jika melihat anak-anaknya disiksa. Lalu mereka menghampiri Paulo dengan membawa anak-anaknya, sambil berkata “berapa banyak jari anakmu yang harus saya ambil atau kamu mau menyangkal Tuhanmu” Paulo sempat bingung, bayangkan saja jika anak kita menderita, bukankah itu jauh lebih menderita dibandingkan jika kita yang menderita? Namun dengan tegar Paulo berkata “semua terserah padamu, anakku sudah kuserahkan dalam tangan Tuhan, Tuhan yang hidup yang akan membelaku”. Akhirnya semua anaknya jari-jarinya dipotong semua, yang disisain hanya jempol dan kelingking, dengan anggapan bahwa mereka harus lebih buruk daripada hewan. Dan akhirnya ia harus mati karena penganiayaan itu. Namun sebelum ia mati, ia mengangkat tangannya ke atas sambil menyerahkan nyawanya. Sama seperti Stefanus, Iman Paulo percaya bahwa Allah yang akan melindungi dirinya walaupun ia harus mati.


Ss, bagaimana dengan kita? Jika kita meneropong lagi seluruh kehidupan kita, apakah kita sudah memiliki iman seperti itu? Tidak perlu berbicara untuk mati bagi Kristus, tapi sudah kah kita membela iman kita dalam kehidupan sehari-hari? Iman yang memegang kebenaran walaupun harus menanggung resiko yang tidak enak. Di tempat kerja kita, sudahkah kita berjuang untuk bertindak jujur? Di keluarga kita? Dengan kekasih kita? Di lingkungan kita? Apakah kita sudah berjalan sesuai dengan kebenaran? Atau kita lebih memilih untuk mengkompromikan kebenaran itu. Mungkin kita takut jika kita tidak mengikuti orang lain yang lebih berotoritas dari kita, kita akan kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, atau mungkin kehilangan masa depan.


Ss, jangan pernah takut. Jika ss sedang berjuang saat ini untuk tetap membela kebenaran, Firman Tuhan ini menjadi penghiburan bagi kita, dimana Allah berpihak pada orang-orang benar. Allah yang akan membela semua perkara kita. Dan Allahlah yang akan menjadi hakim atas hidup kita. Dan kelak ia akan menyambut kita dengan penuh sukacita, karena kita berada dalam jalur iman yang benar.

Saturday, October 24, 2009

Keep Believe and Faithful.



Suatu ketika disebuah negeri adikuasa, terjadi sebuah keributan yang besar.  Tiga orang pemuda yang merupakan warga asing, dengan gagah berdiri dalam sebuah sidang penghakiman.   Orang-orang berkerumun menyaksikan jalannya pengadilan.  Banyak orang berbisik-bisik, sedang membicarakan perkara yang terjadi.  Beberapa orang mengatupkan mulutnya, dengan mata dingin dan senyum yang menyeringai sinis, menunjukkan rasa puas.  Ada juga yang menatap dengan mata cemas menyaksikan, rekan-rekannya sedang diadili.  "Celaka....celaka" mungkin itu yang ada di dalam benak mereka.   Persidangan yang menegangkan itu juga dihadiri para petinggi-petinggi negara.  Semua orang bijak dan pandai berkumpul disana.  Dan di hadapan ketiga orang tersebut, ada sebuah podium yang meninggi lebih dari pijakan lain.  Di sanalah duduk pemimpin negeri adikuasa tersebut.  Seorang pemimpin yang bervisi, tegas, berambisi, gagah, dan terhormat.  Tidak ada orang yang berani untuk menentangnya.  Sungguh sebuah suasana yang ricuh, jauh dari ketenangan.  Hanya ketiga orang itu yang menunjukkan sikap tenang dan berkeyakinan.

"Ada apa dengan mereka?" beberapa orang mulai penasaran.  "Mengapa tiga orang ini harus diperhadapan di depan seorang pemimpin negara?  Tentulah ini bukan kasus yang mudah".  Tiba-tiba salah seorang dari mereka mendapatkan bocoran, dan mulai membisikkannya kepada teman-temannya.  "Apa di hasut!" Teriak mereka.  "Ssstt, jangan berisik!" lalu ia mulai menceritakan semuanya.  Ternyata ketiga orang tersebut sedang diadili karena mendapat hasutan orang lain.  Sebenarnya bukan orang lain, tetapi rekan kerja mereka sendiri.  Tiga orang ini merupakan golongan orang-orang pandai di negeri itu.  Walaupun mereka adalah orang asing, pemimpin tertinggi telah mengangkat mereka dengan pangkat yang tinggi, bahkan sangat tinggi.  Rekan-rekannya sesama golongan orang pandai mulai iri hati.  Wajar saja.... Mereka penduduk asli namun tidak mendapatkan pangkat setinggi itu.  Karena itulah mereka selalu berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menghasut ketiga orang asing itu.

Namun hasutannya bukanlah hasutan yang dikarang-karang.  Pemimpin negara pernah membuat suatu ikon tentang dirinya, dan mewajibkan semua orang untuk menyembah ikon itu.  Sebenarnya penyembahan ikon itu bukan semata-mata dimotivasi oleh ambisi pribadi belaka. Ada maksud politik dibaliknya. Pemimpin adikuasa itu mengharapkan agar negerinya, yang dihinggapi banyak orang asing itu dapat bersatu.  Jika masing-masing menyembah allah-allahnya sendiri mana mungkin dapat bersatu.  Karena itu ia membuat sebuah ikon tentang dirinya, agar penyembahan seluruh negeri berpusat kepada dirinya, dengan harapan bahwa hal itulah yang akan mempersatukan negeri yang luas itu.  Sebuah maksud yang baik.  Namun ketiga orang itu tidaklah mengindahkan maksud baik yang diharapkan sang pemimpin.  Karena itu mereka berdiri di ruang sidang saat ini.  Sang pemimpin dengan wajah memerah, dan dengan rasa geram memimpin persidangan itu.  Di matanya, tiga mahluk di hadapannya adlaah orang-prang pembangkang yang menyebalkan.  Bengal, tidak tau diri, bahkan tidak tau etika.

"Apa benar kamu tidak mau mentaati peraturan yang aku buat?  kamu tau hukumannya?  Hukumanya ialah mati!!..  Tidak mungkin ada yang dapat menolong kalian. Bahkan para allahmu pun tidak!!"  dengan marah pemimpin itu membentak.  "Sekarang, tunjukkan bahwa kalian tidak akan mengalami hal seperti itu, sembah ikon itu dihadapan ku?".

Namun ketiga orang itu tetap berdiri dengan gagah.  Kakinya terpaku ke dalam bumi.  Dan lututnya membeku tak bergeming.  Dan terdengarlah sebuah ucapan agung:

"Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.  Jka Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja.  Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikian" (Daniel 3:16-18)

Demikianlah, akhirnya Sadrach, Mesach, dan Abednego mendapat penghukuman berupa nyala api yang mematikan dari raja Nebudkanezar yang sangat geram.  Dan kita sudah mengetahui akhir kisahnya, bahwa mereka semua selamat karena Allah menyertai mereka.

Saya rasa perkataan tiga orang tadi merupakan sebuah perkataan yang harus dipelajari setiap anak Tuhan saat ini.    Kalimat-kalimat ini mengandung ajaran teologi yang mendalam.  Dalam keadaan sukar dan terancamlah kalimat ini diungkapkan.  Tapi justru pada saat-saat itu, suatu kalimat yang penuh iman kepercayaan yang terlontar.  Sadrach, Mesach, dan Abednego, tidak mengalami khawatir, karena mereka menyadari bahwa Allah jauh lebih berkuasa dari Nebudkanezar yang jelas-jelas pemimpin nomor satu di dunia saat itu.  Jika kita perhatikan, dalam kalimat itu mereka mengungkapkan bahwa Allah mampu menolong mereka dari segala kesusahan.  Itulah teologi yang pertama.  Kemahakuasaan Allah mampu melepaskan seseorang dari kesukaran yang paling sukar.  Namun menariknya, di kalimat selanjutnya mereka menyatakan: jika pun Allah tidak membebaskan mereka, mereka akan tetap setia pada Allah.  Dalam hal ini mereka meyakini bahwa Allah berdaulat.  Walaupun mereka pada akhirnya harus mati, mereka tetap meyakini bahwa itu adalah kedaulatan Allah, sehingga mereka memilih untuk tetap setia.

Saudaraku, mari kita belajar seperti ketiga tokoh Alkitab di atas.  Dalam segala perkara yang sulit, kita yakin seyakin-yakinya bahwa Allah mampu membebaskan kita dari segala kesukaran kita.  Jangan pernah meragukannya.  Terlalu banyak perkara besar  yang sudah Ia kerjakan dalam dunia ini, termasuk hidup kita.  Ia yang berkuasa mengelola dunia ini, Ia juga yang berkuasa dalam segala perkara kehidupan ktia.  Namun demikian, jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan kita, tetap lah meyakini bahwa Allah berdaulat.  Janggan pernah menghujani gerutu kita ke atas, yang toh akhir-akhirnya akan jatuh ke diri kita sendiri.  Jangan juga memarahi Tuhan, sebab siapakah kita sehingga kita berani memarahinya?  Tetapi tetaplah setia kepada Allah yang berdaulat dan mengasihi kehidupanmu.
Bagi para korban kekejaman dunia, bagi para korban bencana alam yang mengerikan, dan bagi semua anak-anak Tuhan yang menghadapi ujian, mari kita tetap PERCAYA DAN SETIA.

Sunday, October 18, 2009

Celakalah



Mendengar kata “celakalah” tentu saja terkesan kasar. Dan sudah pasti tidak menyenangkan jika 9 huruf itu ditujukan kepada kita. Sebab kata ini bukan sekedar makian, melainkan lebih seperti sebuah kutukan. Kutukan yang mengharapkan orang lain mengalami celaka. Tentu saja hal celaka tidak diingini semua orang di mana saja dan kapan saja. Ketika saya berkata kepada seorang kawan "wah moga besok kamu sakit perut (dalam konteks bercanda)", kebanyakan mereka akan berkata "kok gitu sih doanya!". Padahal itu cuma bercanda. Bagaimana jika saya berkata "semoga besok kamu celaka". Wah kasar banget. Bisa-bisa identitas ku sebagai orang Kristen diragukan.

Tapi menarikanya, dalam kitab Injil Yesus pernah mengatakan "celakalah" berkali-kali. Tentu saja kelemahlembutan Yesus tidak perlu diragukan lagi. Tapi jika Yesus guru yang lembut itu sampai berkata "celakalah" tentu saja ini bukan hal sepele. Sudah pasti orang yang menjadi objek sasaran ucapannya adalah orang-orang yang lebih baik mengalami semua itu daripada ia hidup dalam kebebalan.

Dalam seluruh catatan Injil, Tuhan Yesus menegur 4 jenis orang dengan perkataan kutuk ini. Pertama adalah orang yang sudah mendapat pengajaran namun tidak beriman. Kedua, adalah orang-orang yang mengandalkan kekayaannya untuk masuk Surga. Ketiga, adalah orang-orang yang mengkhianati Yesus, secara spesifik Ia tunjukkan kepada Yudas. Dan yang terakhir ialah kepada orang-orang munafik. Dan ungkapan celaka ini paling sering ditujukan kepada orang jenis terakhir ini.

Berkaca dari 4 tipe di atas, bagaimana dengan kita. Apakah kita berada dalam orang-orang yang cocok dikategorikan sebagai orang celaka? Apakah kita adalah orang yang tidak beriman walaupun sudah menerima berbagai pengajaran FT? Apakah kita mengandalkan kekayaan kita untuk masuk Surga? Apakah kita sedang mengkhianati Tuhan? Atau apakah kita sedang berada dalam kemunafikan ntah sadar atau tidak? mungkin kita giat melayani keagaamaan kita. Tapi sungguhkah itu dengan motivasi yang tepat. Di mana tanpa sedikitpun ingin menonjolkan narsisme dan ego kita?
Think about it.....