Wednesday, November 12, 2008

DOA MANASYE: DOA YANG BERKENAN



Kisah raja Manasye ini dapat dilihat dalam 2 Raj. 21:1-18 & 2 Taw. 33:1-20. Raja Manasye ini adalah anak kandung dari raja Hizkia. Hizkia merupakan seorang raja yang berkenan di hadapan Tuhan. Dikatakan bahwa ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Dia menjauhkan berhala-berhala yang dibuat oleh pendahulunya. Dikatakan bahwa Ia percaya kepada Tuhan, Allah Israel. Ini terbukti ketika Hizkia mengalami sakit keras, ia langsung menangis dihadapan Tuhan. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa Hizkia berpaut kepada Tuhan, tidak menyimpang kekanan dan kekiri. Sampai-sampai dikatakan bahwa tidak ada seorang raja sebelum dan sesudahnya yang seperti dia. Wajar saja jika Tuhan menyertai kehidupannya dan segala pekerjaannya (2 Raj. 18:3-8). Tokoh Hizkia ini tentunya merupakan tokoh yang penting sehingga ditulis dalam 3 pasal.


Berbeda dengan Ayahnya, Manasye (sang anak terkasihnya) memiliki kehidupan 180o berbeda dari ayahnya. Tidak jelas mengapa, mungkin karena Hizkia meninggal ketika ia masih berumur 12 tahun (masih hijau), sehingga tidak ada pendidikan moral yang cukup. Akhirnya timbulah kekacauan dan kerusakan yang sangat parah pada jaman pemerintahan raja Manasye. Dikatakan bahwa ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Ia mendirikan kembali mezbah-mezbah untuk berhala-berhala yang telah dibuang oleh ayahnya. Ia mengubah ibadah yang benar dengan perselingkuhan rohani dengan banyak ilah lain. Bahkan ia mempersembahkan anak-anaknya sendiri sebagai korban kedalam api. Ia memanggil para peramal dan petenung sebagai aksi ketidak percayaannya kepada Tuhan. Celakanya, apa yang dilakukan Manasye ini menyeret umat Israel juga berbuat serong. Oleh karena itu, Alkitab menuliskan bahwa ia menimbulkan rasa sakit hati Tuhan. Bahkan sialnya, raja ini memimpin dalam periode yang sangat lama (55 tahun).


Namun sebenarnya bukan itu yang hendak difokuskan dalam tulisan ini. Sebenarnya penulis ingin memfokuskan tulisan ini pada kisah pertobatan Manasye, yang hanya dituliskan dalam kitab 2 Tawarikh. Pertobatan itu terjadi ketika Tuhan menghukum Manasye dengan mengirimkan raja Asyur untuk menangkapnya dengan kaitan (sebagai info: kaitan ini biasanya dikaitkan di hidung, seperti sapi, sehingga tawanan itu akan merasa sangat hina dan memalukan), bahkan membelenggunya serta menawannya ke negri Babel. Disaat itulah penulis Tawarikh menuliskan (2 Tawarikh 33:12-13):

“Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya. Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa TUHAN itu Allah.”


Sungguh suatu pertobatan yang indah. Sekejam-kejamnya seseorang telah menyakiti hati Tuhan, tetap akan ada pengampunan untuknya. Itu dikarenakan bukan karena faktor manusia, melainkan faktor kasih Allah yang tak pernah habis menimpa umat yang berserah dan bergantung pada-Nya.


Namun doa seperti apakah, yang dapat membuat seorang manusia kejam dapat menerima kasih dan perkenanan Allah? Dalam Alkitab sama sekali tidak menuliskan isi doa Manasye. Namun kitab Apokrifa mencantumkan dengan jelas isi dari doa raja Manasye yang bertobat ini. Oleh karena itulah penulis ingin mengajak melihat keindahan doa pertobatan Manasye ini, tanpa mempersoalkan kanonisitas kitab Apokrifa tersebut, melainkan mendekatinya dengan permenungan pribadi yang mendalam, yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.


THE PRAYER MANASSEH

Repentance

1. LORD ALMIGHTY

God of our Father, of Abraham, Isaac and Jacob,

and of their righteous offspring;

2. who hast made heaven and earth in their manifold array;

3. who hast confined the ocean by the word of command,

who hast shut up the abyss and sealed it with thy fearful and glorious name;

4. all things tremble and quake in the face of thy power.

5. For the majesty of thy glory is more than man can bear,

and none can endure thy menacing wrath against sinners;

6. the mercy in thy promise is beyond measure: none can fathorm it.

7. For thou art Lord Most High, compassionate, patient, and of great mercy, relenting when men suffer for their sins.

For out of thy great goodness thou, O God,

hast promised repentance and remission to those who sin against thee,

and in thy boundless mercy thou hast appointed repentance for sinners as the way to salvation.


8. So thou, Lord God of the righteous,

didst not appoint repentance for Abraham, Isaac, and Jacob,

who were righteous and did not sin against thee,

but for me, a sinner

9. whose sins are more in number than the sands of the sea.

My transgressions abound, O Lord, my transgressions abound,

and I am not worthy to look up and gaze at the height of heaven

because of the number of my wrong doings.
10.
Bowed down with heavy chain of iron,
I grieve over my sins and find no relief,
because I have provoked thy anger

and done what is evil in thine eyes,

setting up idols and so pilling sin on sin.



11. Now I humble my heart, imploring thy great goodness.

12. I have sinned, O Lord, I have sinned,

and I acknowledge my transgression

13. I pray and beseech thee,

Spare me, O Lord, spare me,

destroy me not with my transgressions on my head,

do not be angry with me forever, nor store up evil for me.

Do not condemn me to the grave,

for thou, Lord, art the God of penitent.

14. Thou wilt show thy goodness towards me,

for unworthy as I am thou wilt save me in thy great mercy;

15. and so I shall praise thee continually all the days of my life.

For all the host of heaven sings thy praise,

and thy glory is forever and ever. Amen

1 comment:

Student of the Church Fathers said...

Thanks for the posting.

I think, modern people should recover the right teaching of prayer. They prefer prayers that give benefits for their lives, Prayer of Jabes for instance.

Yet the concept of prayer stand in direct opposition to above, if those prayers have become a dogma.