Sunday, May 08, 2016
HARTA BERTAKHTA (Mark 10:17-27)
Thursday, September 29, 2011
Tanggung Jawab Sosial #3

Satu prinsip yang perlu kita perhatikan untuk pelayanan ini adalah prinsip “menjadi miskin”. Apa itu prinsip menjadi miskin? Saya yakin tidak ada seorangpun ingin jadi miskin. Tapi inilah prinsip pelayanan kasih, yaitu sebuah pelayanan yang memiskinkan diri untuk memperkaya orang lain. Mungkin gambaranya dapat dilihat jelas dari seorang ibu yang mengandung. Ketika seorang ibu mengandung, anaknya masihlah sangat lemah. Untuk itu sang ibu akan memberikan semua gizi, kalsium, zat-zat, yang ada pada dirinya untuk semua kebutuhan si anak. Tak heran para ibu lebih cepat mengalami tulang keropos daripada kaum bapak. Si ibu menjadi miskin, sedang si anak menjadi kaya. Itulah kira-kira prinsip menjadi miskin. Memperkaya orang lain dengan mengorbankan apa yang ada pada diri kita. Hal ini yang disaksikan oleh Paulus. Ketika ia menulis surat kepada jemaat di Korintus, Paulus meminta agar jemaat Korintus belajar dari teladan jemaat Makedonia. Teladan apa? Dalam ayat 2 dituliskan “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan”. Jemaat Makedonia sedang mengalami pergumulan yang berat. Mereka bukan hanya banyak pergumulan, tetapi mereka adalah jemaat-jemaat yang kurang mampu, sehingga Paulus mengatakan bahwa mereka sangat miskin. Namun dalam keadaan itu mereka kaya akan kemurahan. Bahkan Paulus mengatakan bahwa jemaat Makedonia memberikan lebih dari apa yang mereka miliki.
Mengapa mereka dapat melakukan hal yang demikian? Di ayat 9 dijelaskan karena Yesus yang telah menyelamatkan mereka, telah lebih dahulu menjadi miskin untuk setiap kita, padahal Ia kaya, pemilik alam zagat raya dan semua ciptaan. Tapi Yesus rela kedunia, lahir dikandang binatang, hidup dalam penghinaan, bahkan mati secara tidak layak. Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya, kaya akan anugerah keselamatan. Inilah dasar bagi jemaat Makedonia rela menjadi miskin untuk sesamanya. Karena Yesuspun sudah rela menjadi miskin untuk diri mereka.
Saya tertarik dengan sebuah tayangan “Kick Andy” pada tanggal 16 September 2011. Pada hari itu narasumber yang dipanggil adalah orang-orang yang dianggap luar biasa, mengapa? Karena orang-orang itu adalah orang yang sangat-sangat terbatas baik secara dana ataupun kemampuan fisik, namun mereka tertangkap kamera dalam acara “Tolong” juga “Minta Tolong” baik di SCTV maupun di RCTI. Nah Kick Andy mengumpulkan narasumber yang seperti ini.
Rinto Kanafi misalnya. Pria berusia 43 tahun yang kehilangan kaki karena kecelakaan itu tiba-tiba dihadapkan kepada seseorang yang minta tolong kepadanya. Seorang ‘talent’ yang sudah dipersiapkan sebelumnya berpura-pura minta tolong kepadanya untuk mengantarkan kiriman roti kepada salah seorang pemesan yang sedang berulang tahun. Sang talent sudah berupaya mencari “korban”untuk menolong dirinya namun tidak berhasil, sehingga tibalah akhirnya bertemu dengan Rinto Kanafi yang kala itu sedang ada di depan kios rotan dan warung es kelapa muda. Setelah sang talent merengek, diluar dugaan, Rinto Kanafi yang hanya berkaki satu itu mengantarkan roti pesanan orang itu dengan biaya sendiri.
Kisah lainya adalah seorang sopir angkot yang sedang pusing memikirkan biaya pengobatan anaknya. Suprihatin, demikian nama sopir angkot itu didatangi seorang nenek yang mencoba menjual ikan asin sisa untuk membeli beras. Suprihatin ragu-ragu ketika akan menolong nenek itu karena ia sendiri juga dalam keadaan susah. Sang Nenek ternyata pantang menyerah dan terus ‘mencoba mengganggu’ Suprihatin untuk membeli ikan asinya. Ternyata hati Sang Sopir angkot akhirnya luluh dan menolong nenek itu membelikan beras sebanyak 10 kilogram. “Saya tidak tega melihat nenek yang katanya cucunya sudah dua hari tidak makan. Saya jadi teringat nenek saya dulu,” ujar Suprihatin memberi alasan kenapa akhirnya dia mau menolong Sang Nenek.
Sementara apa yang dilakukan Karsimah benar-benar tidak masuk akal. Karsimah yang baru kehilangan suaminya akibat meninggal dunia itu kini berprofesi sebagai penambal ban di daerah Semarang, Jawa Tengah. Ia berprofesi sebagai penambal ban karena terpaksa menggantikan suaminya untuk mencari nafkah. Ketika sedang menunggu pelanggan, tiba-tiba datang seorang nenek yang pura-pura tersesat dan minta tolong dirinya untuk mengantar ke Salatiga. Karsimah tertegun sejenak melihat Sang Nenek yang katanya mengaku sudah dua hari berusaha minta tolong kepada beberapa orang tapi tak satu pun yang bersedia menolong. Walau agak ragu-ragu, Karsimah kemudian menutup kios tambal ban nya dan segera menggandeng nenek dan menumpang bus ke jurusan Salatiga.
Mereka bertiga ini tidak pernah tau sebelumnya bahwa mereka akan di shooting dalam salah satu acara di televisi. Yang pasti mereka adalah orang-orang yang mau bekorban untuk menolong sesamanya. Dan menariknya, di akhir tayangan ini Andy Soraya menyimpulkan: Ternyata berdasarkan pengalaman para kru di lapangan, justru orang dari kalangan bawahlah yang ringan tangan membantu kepada orang yang membutuhkan. Mereka tanpa banyak pertimbangan langsung memberi bantuan.
Saya kira kondisi ini mirip seperti jemaat Makedonia. Dan saya kira bukan hanya jemaat Korintus yang harus belajar dari jemaat di Makedonia, tetapi kita sebagai jemaat GKKA pun harus belajar dari mereka. Mari kita mengambil pelayanan ini, pelayanan menjadi miskin untuk memperkaya orang lain. Tidak ada satu orangpun yang dapat berkata bahwa saya terlalu banyak masalah untuk menolong orang lain. Tidak ada satu orangpun juga yang dapat berkata bahwa ia tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan. Jemaat Makedonia sudah memberikan contoh kepada kita. Ingat, berbagi kasih kepada orang yang membutuhkan adalah perintah Tuhan. Selain itu, hal tersebut juga bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Biarlah perenungan ini boleh memotivasi kita untuk lebih giat mengasihi dan melayani sesama kita. Amin
Tanggung Jawab Sosial #2
Menarik sekali kalau kita perhatikan, Tuhan mengindentifikasi/menyamakan tindakan sosial kita kepada orang-orang terbuang, orang-orang kecil, orang-orang tersisihkan, sebagai tindakan untuk Tuhan. Karena itu setiap tindakan kasih kita terhadap sesama adalah sama dengan tindakan kasih kita kepada Tuhan. Dan jika kita ingin membalas cinta kasih Tuhan yang begitu besar terhadap hidup kita salah satunya adalah dengan berbuat kebajikan, dengan berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan.
Pesan inilah yang ditangkap oleh orang seperti bunda Theresa. Dengan kerelaan ia terpanggil untuk melayani orang-orang miskin di India. Disana ia mendidik anak-anak kecil. Mengobati orang yang terkena lepra. Merangkul anak-anak jalanan. Mengayomi para jompo dsb. Semua ini dilakukannya bukan sekedar karena ia mengasihi orang India. Tapi justru karena ia ingin mengasihi Tuhan, maka ia menaruh kasih kepada orang-orang kecil di India.
Karena itu mari kita peduli dengan permasalahan sosial yang ada disekitar kita. Kehidupan sosial sejati harus sejalan dengan kehidupan sosial kita. Bukankah ada begitu banyak orang yang miskin disekitar kita. Ada begitu banyak orang-orang yang membutuhkan perhatian dari kita. Ada banyak rintihan-rintihan yang membutuhkan telinga kita. Mari kita berbuat sesuatu untuk Tuhan dengan melayani orang-orang yang membutuhkan tersebut.
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan. Dengan uang yang kita punya kita bisa berbagi kepada orang-orang kecil yang berkekurangan. Atau mungkin dana kita bisa kita sumbangkan ke bagian sosial untuk pekerjaan-pekerjaan sosial di gereja kita. Atau mungkin kita bisa menyumbangkan baju-baju yang masih layak pakai kepada panti asuhan atau lembaga semacamnya. Selain dengan uang kita juga bisa menunjukkan tanggung jawab sosial itu dengan perhatian dan pelayanan kita. Menghadiri keluarga yang sedang berduka karena kehilangan orang yang dikasihi atau karena bencana yang menimpa rumahnya juga merupakan aksi sosial. Mendengarkan keluh kesah orang-orang yang sedang mengalami tekanan. Dengan menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang berkeluh kesah saja kita sudah melakukan tindakan sosial. Bahkan mengikuti undangan makanpun juga salah satu tindakan sosial. Ingat, salah satu pelayanan yang Yesus berikanpun yaitu dengan makan bersama dengan orang-orang berdosa. Mari kita lakukan pekerjaan sosial untuk membalas cinta kasih Tuhan yang besar dalam hidup kita.
Tanggung Jawab Sosial #1

Bulan Oktober 2010 yang lalu negeri kita dilanda bencana dimana salah satu gunung api teraktif di dunia, yaitu gunung merapi, mengeluarkan larva panas dan mengirimkan abu kemana-mana. Akibat hal tersebut beberapa desa yang berdekatan dengan kawasan gunung harus mengungsi dari rumah kediamannya pergi ketempat yang di luar daerah bahaya. Akibatnya pemerintah membuka beberapa tempat umum sebagai tempat pengungsian para korban bencana tersebut. Salah satu majalah Kristen inspirasi sempat mewawancarai salah satu sukarelawan Kristen yang menyediakan rumahnya yang tidak terlalu besar sebagai tempat penampungan korban letusan. Orang ini bersaksi demikian “Awalnya saya kira tidak masalah menyediakan rumah sebagai tempat pengungsian. Kami hanya cukup memberikan space yang cukup dan membantu menyediakan minuman dan makanan untuk beberapa orang. Tapi di luar dugaan ternyata tidak semudah itu. Karena kebanyakan mereka berasal dari desa yang sederhana maka ada beberapa barang kami yang rusak. Mereka duduk duduk-duduk di meja sampai rusak. Dispenser saya dipakai sembarangan sampai pegangannya patah; anak-anak main-main di dalam rumah dan beberapa barang saya pecah; dan banyak lagi barang-barang saya yang rusak.” Lalu reporter inspirasi melanjutkan “lantas mengapa anda masih bersedia menerima mereka sampai saat ini?” Dan orang Kristen itu menjawab “Awalnya saya marah, dan hampir menutup rumah saya sebagai tempat penampungan. Tapi suara hati saya berbisik: ‘bahwa mereka membutuhkan saya.... ya...Mereka membutuhkan pertolongan saya. Kesusahan mereka jauh lebih besar dari kesusahan saya. Saya hanya kehilangan beberapa barang saya, tetapi mereka kehilangan rumah mereka.’” Dan majalah inspirasi menganggap kisah orang Kristen ini sebagai contoh teladan yang harus ditiru oleh orang-orang Kristen lainnya.
Memang sebagai manusia kita merupakan makhluk sosial. Kita adalah mahluk yang membutuhkan orang lain, dan orang lainpun membutuhkan kita. Kita adalah ciptaan yang saling membutuhkan. Contoh sederhana kalau kita pergi potong rambut. Mungkin ada pemangkas rambut yang begitu ahli memangkas. Tapi sehebat apapun dia, dia harus meminta tolong orang lain untuk memangkas rambutnya sendiri. Begitu juga dengan dokter bedah. Selihai apapun dia membedah seseorang, ketika ia yang terkena sakit penyakit itu, ia membutuhkan orang lain untuk mengoperasi dirinya. Ponari si dukun cilik yang terkenal mampu menyembuhkan orang banyak lewat batu ajaibnya itu saja pernah kelelahan dan jatuh sakit dan harus di bawa kerumah sakit. Itulah manusia. Sejak kecil kita diciptakan sebagai mahkluk sosial yang saling membutuhkan.
Karena itu betapa egoisnya jika kita hanya berdiam diri melihat kebutuhan-kebutuhan orang yang ada di sekitar kita. Betapa egonya kita, ketika kita menjauhkan diri dari kehidupan sosial. Sebenarnya setiap orang Kristen memiliki kewajiban dan bertanggung jawab untuk segala permasalahan sosial yang ada disekitar kita. Ada 2 alasan:
Pertama, Itu merupakan perintah Tuhan dalam kehidupan umat-Nya. Sejak awal Tuhan sudah meminta umatnya untuk memperhatikan masalah sosial. Dalam Perjanjian Lama, ketika umat Israel baru terbentuk dalam sebuah komunitas, Tuhan memberi hukum-hukumnya lewat Musa. Menariknya kalau kita perhatikan, hukum-hukum yang diberikan Tuhan bukan hanya hukum yang bersifat vertikal (yaitu hubungan manusia dengan Tuhan), tapi juga bersifat horisontal (hubungan sesama manusia, atau hubungan sosial). Tuhan pernah mengatur bagi mereka yang punya ladang, agar ketika menuai buah dari ladang atau kebunnya, setiap buah yang jatuh jangan diambil supaya jika ada orang miskin datang mereka bisa mengambil buah-buah yang jatuh itu. Tuhan juga memperhatikan para budak. Ada hukum yang mengatur jika ada seorang budak bekerja selama 6 tahun, di tahun yang ke-7 tuan dari budak itu wajib melepaskannya. Tuhan juga menyuruh Musa untuk membuat kota perlindungan, guna kalau ada orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya (misal lagi menebang kayu, kapaknya jatuh dan membunuh temannya) mereka bisa berlindung disana. Ada banyak lagi hukum-hukum yang mengatur dan berbicara tentang kepedulian sosial terhadap sesama manusia.
Dalam Perjanjian baru tentu kita mengingat beberapa ajaran Tuhan Yesus juga menekankan kepada kita untuk menyatakan jiwa sosial kita kepada orang banyak. Pernah ketika ada seorang kaya hendak mengikut Yesus, Yesus meminta dia untuk menjual seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Yesus juga pernah memberikan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang berjiwa sosial mau menolong orang yang mengalami kesusahan karena dirampok diperjalanan. Sementara para ahli taurat dan orang lewi lewat begitu saja membiarkannya. Yesus meminta kita untuk meneladani orang Samaria tersebut yang peduli terhadap orang kesusahan walau tidak dikenalnya. Yesus sendiri berkali-kali menunjukkan jiwa sosialnya dengan menyembuhkan orang-orang miskin, merangkul anak-anak yang tersisihkan, makan bersama orang berdosa, dan menolong perempuan sundal yang hendak di lempari batu. Karena itulah Yesus memerintah kita untuk mengasihi sesamamu manusia seperti kamu mengasihi diri sendiri.
Jelas secara keseluruhan Tuhan mengkehendaki setiap umatnya untuk peduli akan sesamanya. Itu adalah perintah Tuhan. Satu minggu yang lalu ketika saya menelepon mama saya di Samarinda, beliau bercerita tentang pelayanan seorang hamba Tuhan yang cukup unik. Awalnya ia melayani dalam sebuah gereja sebagai mana kebanyakan hamba-hamba Tuhan lainnya. Namun suatu saat ia bermimpi bahwa ia harus melayani orang-orang yang susah dan tertekan. Setelah mendapat mimpi itu keesokan harinya ia menemukan ada begitu banyak orang-orang gila yang berkeliaran di kota itu. Ia tau bahwa Tuhan menyuruhnya untuk melayani orang-orang gila tersebut. Mulailah dia membawa beberapa orang-orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut. Beberapa orang gereja yang memiliki keluarga yang demikian, orang-orang yang terganggu karena stress, juga dititipkan untuk dilayani disana. Disana pendeta itu dan istri memandikan orang-orang gila yang lama tidak pernah mandi, merawat mereka, mengkonseling mereka, bahkan setiap hari ia mengadakan persekutuan bersama dan tiap hari juga ia berkhotbah kepada mereka. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya khotbah di depan orang-orang gila. Tapi pendeta ini dan istri mau melakukan itu semua. Itu jelas, karena Tuhan sendiri yang memberikan perintah kepada dia.
Saya kira kitapun wajib peduli terhadap masalah sosial karena ini adalah perintah Tuhan. Walaupun kita tidak pernah mendapatkan mimpi seperti pendeta yang saya ceritakan barusan, tapi kita tahu persis bahwa sikap sosial itu merupakan perintah Tuhan yang jelas tertera dalam Firman Tuhan. Karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melakukan tindakan sosial. Ini bukan sekedar menjadi tanggung jawab para pengurus gereja, para hamba Tuhan, atau tim diakonia saja. Tapi ini perintah Tuhan untuk kita semua. Sebab itu marilah kita berbagi kasih kepada sesama yang membutuhkan.
Saturday, April 09, 2011
Memandang Muka

Pada tahun 2003 saya memutuskan untuk ke Jogja bersama dengan beberapa temen deket. Itu merupakan kepergian saya yang pertama kali ke kota seni tersebut. Karena itu dalam waktu yang singkat itu saya berusaha untuk bisa mencicipi semua kekhasan yang ada disana. Di hari pertama kami langsung memutuskan untuk menaiki dokar khas Jogja yang cukup ramai menghiasi jalan-jalan disana. Bukannya tidak ada kendaraan, namun lebih kepada kerinduan menikmati budaya di kota itu. Dengan dokar yang ditarik seekor kuda yang gagah, kami berkeliling kota membeli oleh-oleh, ke malioboro, dan kebebapa tempat tertentu yang cukup populer dikalangan nasional. Sampai hari menjelang siang akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di ayam goreng Sri yang sudah ternama. Karena tidak ada parkir khusus dokar maka kamipun harus berjalan cukup jauh untuk makan ditempat yang ramai itu.
Ketika kami sudah puas menikmati ayam goreng yang gurih tersebut lantas kamipun bergegas untuk pulang. Tetapi hujan deras mendadak mengguyur kota itu. Kamipun terpaksa menunggu sejenak, karena tidak ada satupun dari kami yang membawa payung. Namun tatkala kami menunggu, muncullah seorang bapak yang cukup ramah dengan senyum khas jogja membawakan payung besar dan menghampiri kami. Melihat ada peluit tergantung di dadanya, tahulah saya bahwa ia adalah seorang tukang parkir. Dengan ramah ia berakat "Mari saya antarkan ke kendaraan bapak." Tanpa sungkan-sungkan kamipun menerima tawarannya sambil berkata trima kasih. Ia kembali bertanya "Naik apa pak?". Saya menjawab "Naik kuda pak." Iapun terus mengantar kami. Namun lama-kelamaan kami terus berjalan jauh dari tempat parkiran itu. Ia pun semakin penasaran dan bertanya lagi "Pak dimana kendaraannya?" Kami menunjuk kearah dokar kami dan berkata "Itu pak, kami naik dokar." Segera saja mukanya berubah jadi tidak ramah dan berkata "owalah, saya kira naik mobil jenis kuda" Sesegera itu juga ia meninggalkan kami ditengah jalan sehingga kami kehujanan. Teman saya menjadi emosi dan berkata "Asem....perlu tak keluarin mobilku a?"
Saya kira inilah gambaran tentang sifat manusia pada umumnya. Sepertinya mata yang kita miliki ini lebih suka memandang seseorang dari penampilan dan apa yang tampak luar. Mungkin kita pernah mengalami atau mendengarkan teman kita berkata "kenapa ya, pertama kali lihat orang itu aku sudah ga suka. Lihat modelnya aja sudah muak?" dsb. Atau ketika kita ingin membeli sebuah buku, kita cenderung akan menilai buku tersebut bagus atau tidak berdasarkan sampul bukunya. Jika saudara pernah mengalami hal-hal itu atau yang serupa dengan ini maka jelaslah bahwa kita manusia lebih suka menilai apa yang tampak luar. Itu perkara yang manusiawi.
Pertanyaannya apakah sikap memandang muka itu cocok diterapkan bagi orang Kristen? Bagaimana sikap kita semestinya terhadap naluri-naluri yang membawa kita menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya? Mari kita lihat kembali kepada kebenaran Firman Tuhan yang baru kita baca dalam surat Yakobus barusan.
Surat Yakobus ini dituliskan kepada orang-orang kristen Yahudi yang sedang merantau di luar palestina. Entah bekas tawanan, entah karena kemauan sendiri, yang pasti mereka sekarang sudah tidak lagi di kampung halaman mereka. Orang-orang Kristen perantauan ini biasa dikenal oleh orang-orang nonkristen sebagai orang-orang yang beriman. Dengan alasan inilah Yakobus menuliskan surat ini. Yakobus ingin mengingatkan setiap umat Kristen bahwa orang beriman itu bukan sekedar status saja, namun harus ditunjukkan dalam perbuatan dan sikap hidup sehari-hari.
Salah satu sikap yang bertentangan dengan iman itu ialah sikap memandang muka. Ayat 1 dengan jelas dikatakan "Saudara....sebagai seorang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka." Sikap memandang muka jelas tidak sesuai dengan iman Kristen. Yakobus memberi contoh, dimana ada seorang yang masuk ke dalam kumpulannya dengan memakai cincin emas dan pakaian indah. Lalu si tuan rumah langsung memberikan tempat yang terhormat dan dengan ramah menghargai orang itu. Namun ketika ada orang yang datang dengan pakaian yang buruk, tuan rumah itu langsung tanpa sungkan-sungkan menegur "Berdiri disana! Atau duduk di lantai ini dekat dengan tumpuan kakiku (posisi seorang budak)" Yakobus menganggap sikap tuan rumah itu tidak pantas, karena dengan demikian ia sudah menghakimi sesamanya sendiri.
Sikap memandang muka adalah sikap yang menghakimi. Karena itu di ayat 9 Yakobus mengatakan "Jikalau kamu memandang muka maka kamu berbuat dosa." Sikap memandang muka dipandang sebagai dosa oleh Yakobus. Karena menghakimi itu merupakan perbuatan dosa, maka sikap memandang muka tentunya jugalah merupakan sebuah dosa.
Namun sebenarnya yang menjadi alasan utama ialah: dengan memandang muka kita tidak lagi meneladani Kristus. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang memandang rupa. Di kitab Samuel, Allah befirman "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." Bahkan di Yakobus 2:6 ini Yakobus menegaskan bahwa Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia untuk menjadi kaya dalam iman, bahkan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Bukankah hal itu yang Tuhan lakukan kepada kita. Ia mati dan menyelamatkan setiap manusia tanpa memadang siapa kita, apa jabatan dan status kita. Jika Tuhan hanya mau menyelamatkan orang yang baik dan kaya serta berstatus, ada berapa banyak orang yang Kristen yang tidak dapat masuk dalam kerajaan Surga. Namun tentunya Tuhan tidak melakukan hal tersebut. Salib yang selalu kita lihat di gereja adalah bukti bahwa Yesus mengasihi kita tanpa batas.
Bukan hanya dalam hal penyelamatan, dalam memanggil umat-Nya dalam pelayanan pun Yesus tidak mencari orang yang high quality (yang punya banyak kemampuan, kaya, berjabatan, dsb) Tidak! Di Alkitab Tuhan memakai para pelayan yang miskin seperti Petrus dkk. Ia juga memanggil seorang pemungut cukai yang hina seperti Matius. Iapun memanggil orang yang licik seperti Yudas. Bahkan Ia masih mau memakai pembunuh orang Kristen seperti Paulus. Jika Tuhan memandang muka, semua orang itu termasuk kita tidak akan pernah layak untuk melayani. Namun sekali lagi bersyukur kepada Tuhan karena Ia tidak pernah memandang muka. Karena itu jika Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak memandang muka, maka kita sebagai anak-anaknya pun sudah semestinya menjauhi sikap memandang muka tersebut.
Berbicara tentang memandang muka ini saya suka dengan sebuah cerita demikian. Suatu ketika seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada disana. "Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard" kata sang pria lembut. "Beliau hari ini sibuk" sahut sang Sekretaris cepat. "Kami akan menunggu", jawab sang Wanita. Selama empat jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya. "Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi", katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya mulai muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata kepadanya, "kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu,dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, disuatu tempat di kampus ini. Bolehkah?" Tanya nya, dengan mata yang menjeritkan harap. Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya", katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan". "Oh, bukan", Sang wanita menjelaskan dengan cepat,"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard". Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard". Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California. Di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di Amerika Serikat.
Marilah kitapun tidak melakukan sikap demikian. Selain penilaian dari luar kebanyakan menipu, Alkitab pun mengatakan bahwa sikap memandang muka tidak sesuai dengan sikap seorang Kristen, bahkan hal tersebut merupakan perbuatan dosa. Tapi bagaimana caranya? Bukankah penilaian itu secara alami timbul dalam pemikiran kita? Saya kira sejauh penilaian itu muncul pertama kali dalam diri kita, itu belum masuk dalam dosa. Namun jika penilaian itu sudah berbuah menjadi perbuatan yang tidak adil dan membeda-bedakan, itulah dosa. Karena itu mari kita belajar untuk mengikuti kata hati kita. Mungkin hati secara otomatis membuat penilaian terhadap sesama kita. Namun mari kita belajar untuk menyangkal diri, dan mencoba tidak mengikuti penilaian hati, sampai kita sungguh-sungguh mengenal orang tersebut.
Monday, August 09, 2010
Save The Earth # 3

Tentu saja dengan suhu bumi yang meningkat akan banyak dampak yang terjadi. Bukan hanya akan banyak dampak, namun dampak itu sudah jelas-jelas nyata terjadi ditengah-tengah kita. Inilah dampak-dampak yang mungkin terjadi:
Akibat pertama yang mungkin terjadi adalah banjir di mana-mana. Logikanya jelas. Kalau suhu bumi meningkat tentu es-es yang ada dikutub-kutub utara dan kutub selatan akan mencair. Akibatnya volume air meningkat. Waktu 100 tahun lalu ketika suhu bumi meningkat 0,5 derajat celcius saja, permukain air laut naik sebanyak 10 cm. Saat ini sudah ada dua pulau yang tenggelam karena naiknya permukaan air laut. Ada satu negara yang bernama Tuvalu mengalami perpindahan penduduk yang sangat besar. Negara mereka terlalu dekat dengan permukaan air. Waktu air meluap banjir terjadi di mana-mana. Khawatir negara kepulauan mereka tenggelam maka mereka memutuskan untuk mengungsi. Naiknya air laut ini paling mengancam negara-negara kepulauan seperti Indonesia. Ditambah lagi, kalau volume air semakin banyak dan suhu semakin meningkat maka jelas curah hujan akan semakin banyak dan menyebabkan banjir dimana-mana bukan? Tak heran banyak daerah yang sering kebanjiran saat ini. Terutama kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Iklim menjadi tidak menentu dan tidak teratur. Diperkirakan tahun 2022 air laut akan naik sebanyak 1 meter dan akan meneggelamkan 2000 pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia.
Akibat kedua, tanah menjadi kering dan tumbuh-tumbuhan menjadi cepet mati. Bakteri yang merusak tanaman sangat bertumbuh subur di cuaca yang panas. Akibatnya banyak tumbuh-tumbuhan yang mati terserang bakteri-bakteri itu. Kekeringan yang melanda ini akhirnya berdampak juga kepada kebakaran hutan. Tak heran di daerah-daerah yang banyak hutan seperti Kalimantan sering sekali terjadi kebakaran di mana-mana. Kekeringan dan matinya beberapa tumbuhan ini akhirnya berdampak kepada gangguan ekosistem. Keseimbangan alam menjadi goyah dan tentu saja hal itu mengancam kelangsungan kehidupan manusia. Mungkin puluhan tahun kedepan kita tidak lagi bisa menyantap ikan-ikan segar yang ada di perairan Indonesia ini, karena banyak makhluk hidup yang akan punah.
Akibat ketiga, penyakit menular semakin berkembang biak. Mungkin saudara sadari akhir-akhir ini banyak sekali teman-teman atau sanak family kita yang terkena penyakit demam berdarah, malaria, disentri, dan sejenisnya. Bahkan demam berdarah semakin hari semakin mengerikan. Jika dulu ciri-cirinya jelas di mana selalu ada bintik-bintik merah ditubuhnya, sekarang ciri-ciri itu sudah tidak jelas. Ada yang Cuma sakit di lambungnya dan Cuma mengalami panas ringan, namun setelah diteliti ternyata itu demam berdarah. Ada juga yang Cuma flu dan sedikit demam, ternyata setelah di cek ke dokter trombositnya sudah turun drastis. Semua ini termasuk efek dari Global warming. Semakin tinggi suhu bumi, kecepatan berkembang biak nyamuk semakin tinggi juga. Nyamuk yang tadinya ngak bisa hidup ditempat yang dingin, sekarang di tempat yang sama masih mampu bertahan hidup. Dan sudah jutaan orang yang menjadi korban akibat keganasan nyamuk-nyamuk ini.
Dan masih banyak lagi akibat-akibat lain dari global warming ini. Akibatnya hidup manusia menjadi lebih menderita. Bukan hanya manusia, tapi semua mahkluk hidup juga turut merasakan penderitaan itu.
Karena itu mari kita bersama-sama mengambil bagian dalam menghentikan global warming ini. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menghentikan global warming tersebut. Penelitian mengatakan bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan sangat bermanfaat, karena memang penyebab global warming terbesar bukan karena pabrik-pabrik yang besar saja melainkan karena masing-masing pribadi dalam sebuah rumah tangga.
Mungkin ada hal-hal yang susah kita lakukan seperti menanam pohon, membersihkan sungai, dan kegiatan-kegiatan besar lainnya. Namun ada begitu banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mencegah global warming.
- Kita bisa menghemat pemakaian listrik dirumah kita. Pilih bohlam yang wattnya gak terlalu besar. Kalo ada lampu yang bisa dimatikan sebaiknya dimatikan. Jangan sering-sering buka kulkas. Sekali kita buka kulkas energi yang dibutuhkan semakin besar. Maknya kalau buka kulkas seperlunya saja. Kalau misal cuaca tidak terlalu panas, usahakan pake kipas angin atau buka jendela saja. Kalau memang kita kepanasan baru pasang ac. Mengapa? Pmbangkit listrik membutuhkan batu bara untuk menjalankan tugasnya. Semakin banyak penggunaan listrik maka makin banyak juga batu bara yang dibakar. Dan batu bara yang dibakar ini menimbulkan zat karbondioksida yang menyebabkan efek rumah kaca tadi. Kalau saja tiap rumah mematikan satu lampu saja itu sudah sangat mengurangi pencemaran udara.
- Selain itu mari kita juga menghemat pemakaian air. Usahakan air dipakai secukupnya. Misal: Waktu sikat gigi, selama kita menggosok jangan biarkan keran menyala. Demikian juga waktu cuci piring, sewaktu menyabun biarkan air mati dulu.
- Dalam perjalanan, kalau jarak yang kita tempuh dekat usahakan tidak menggunakan kendaraan. Jalan kaki atau naik sepeda lebih baik. Hemat-hemat dalam memakai kendaraan bermotor, karena asap motor itu menyebabkan gas rumah kaca. Kalau misal knalpot mobil motor kita mengeluarkan asap yang banyak, cepet-cepet diperbaiki.
- Jangan membuang sampah sembarangan. Sampah yang tercecer dan jika jatuh di tanah akan menghambat pertumbuhan tanaman-tanaman hijau. Dan itu membuat pohon menjadi kering dan mati. Padahal pohon-pohonan itu sangat penting untuk menyerap karbondioksida dan menukarnya dengan oksigen, sehingga dapat mencegah terjadinya pemanasan global tersebut. Kalau bisa yah mari kita tanam pohon-pohonan di lingkungan kita.
Saudara bumi kita juga punya usia, suatu saat saya kira bumi ini akan hancur. Tapi kita mempercepat kehancuran itu dengan sikap kita. Saat ini dunia sudah menyadari akan bahaya lingkungan ini. Noble-noble penghargaan banyak diberikan kepada mereka yang sangat berperan dalam menjaga lingkungan alam kita. Banyak gerakan-gerakan dari para pecinta lingkungan yang berusaha untuk menyelamatkan dunia ini. Sungguh ironi jika kita anak-anak Tuhan atau umat Kristen yang seharusnya memiliki kewajiban dalam mengelola dan memelihara bumi ini malah tidak sadar akan tanggung jawab kita, terlebih parah jika kita malah menjadi orang-orang Kristen yang suka mencemari lingkungan dengan sikap-sikap kita. Biarlah renungan kita hari ini ‘Save The World” bisa menjadi mendorong kita untuk bisa berperan aktif dalam menjaga lingkungan sekitar. Beraksilah untuk menyelamatkan lingkungan, sekecil apapun aksi itu. Karena meskipun kecil, tetapi bila dilakukan bersama dan kontinu maka dampaknya tetap luar biasa. Kiranya nama Tuhan dipermuliakan melalui siakp dan tindakan setiap kita.
