Saturday, December 24, 2011

Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #2




Mengapa Ia melakukan itu semua? Mengapa ia rela turun kedunia mencari kita? Bahkan demi menemukan kita, Ia rela mati tergantung di kayu Salib. Mengapa? Pernahkah saudara berpikir: mengapa sih gembala itu rela mencari satu dombanya yang hilang itu? Bukankah masih ada 99 ekor domba lain yang ia miliki. Apa sih berharganya seekor domba? Bukankah domba-domba yang lain bisa memberikan keturunan yang lain. Apalagi domba bukan hewan yang terlalu mahal. Ngapain sih repot-repot mencari domba yang hilang. Syukur-syukur kalau ketemu? Kalau tidak kan sia-sia? Atau kalau karena mencari kita diserang binatang buas, kan repot. Terlebih lagi, jangan-jangan kalau kita pergi mencari domba yang hilang, terus ada perampok datang mencuri 99 domba yang kita tinggalkan, kan malah bahaya. Sekali lagi mungkin kita perlu bertanya: Mengapa ia rela mencari 1 domba yang sesat itu? Bukankah domba itu sesat karena kenakalannya sendiri?

Jawabannya jelas: karena setiap kita, saudara dan saya, begitu berharga di mata Tuhan. Karena 1 domba itu begitu berharga di mata gembalanya. Kalau tidak berharga tidak mungkin gembala itu mau mencari. Analoginya seperti ini. Seandainya suatu saat di malam hari ada seorang ibu dengan seorang anaknya perempuan yang sedang mengamat-ngamati sebuah kalung berlian yang baru dibeli oleh ibunya untuk pernikahan putrinya. Ketika mereka melihat-lihat, tiba-tiba salah satu berlian itu terlepas dari kalungnya yang belum tersimpul dan jatuh kedalam kolong ranjang. Ranjangnya bukan ranjang kayak sekarang yang besar-besar, kolongnya kecil. Tapi ranjang jaman dulu dimana orang dewasapun dapat sembunyi di bahwa kolong itu. Di dalam kolong ranjang itu kotor karena jarang dibersihkan. Bukan hanya kotor tapi banyak koper, kardus, kertas-kertas, tai cicak, sarang laba-laba, dan barang-barang yang tidak dipakai seperti gudang mini di dalam kamar. Kira-kira apakah mereka akan mencari berlian itu? Atau mereka akan berkata “Yah, tidak apalah...Cuma 1 kan...” Saya kira mereka akan mencari sampai ketemu. Walaupun mereka harus merayap dikolong yang berdebu itu, melewati sarang laba-laba, berkotor-kotor ria, saya yakin mereka akan tetap mencari berlian itu sampai ketemu. Mengapa? Karena mereka sedang mencari sesuatu yang berharga.

Saya kira demikian juga yang dilakukan oleh gembala itu. Bagi sang gembala 1 domba itu sangat berharga, sehingga ia harus menemukannya sampai dapat. 1 domba itu begitu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja. Dan saya kira demikian inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan kepada kita manusia. Bagi Tuhan, satu jiwa, termasuk setiap kita, begitu berharga. Karena itu Ia mau datang kedunia, Ia rela mencari kita. Bahkan demi mencari kita, Ia rela mati di atas kayu Salib. Karena itulah Yesaya 43:4 mengatakan kepada kita “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” Yah, karena engkau dan saya berharga dimata-Nya, untuk itulah Ia datang mencari kita.

Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang bapak... seorang papi," ujar guru tersebut. Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada.
- "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!"
- "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar."
- "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."
- "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah.
- "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!!! Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.
Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, "Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai tertawa mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy," ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."

Memang... bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. Ia rela masuk dunia yang kotor dan hina ini untuk mencari dan menemukan kita yang kotor untuk diangkatnya menjadi manusia baru. Sekali lagi itu semua karena Ia mau menganggap kita sebagai seorang yang berharga.

Karena itu betapa kita bersyukur karena hari ini engkau dan saya sebagai orang yang berharga dimata-Nya dapat berkumpul bersama-sama merayakan natal, merayakan hari dimana Tuhan datang ke dunia mencari kita. Engkau dan saya begitu berharga. Karena itu jangan ada seorangpun di tempat ini yang berkata bahwa dirinya tidak berharga. Jangan pernah seorangpun yang menganggap bahwa hidupnya tidak berarti. Tuhan sudah datang mencari kita, itu sudah menandakan bahwa kita adalah seorang yang berharga kepada-Nya. Mari kita pun meresponi kasih Tuhan juga dengan senantiasa mencari Dia. Cari Dia lewat firman-Nya. Cari Dia dengan menaikan doa-doa kita. Andalkan dan bergantung penuh kepada-Nya. Percayalah, Tuhan yang sudah mencari kita dan menganggap kita begitu berharga. Tuhan itu juga yang akan menolong kita. Amin.

Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #1




Hidup manusia adalah sebuah pencarian. Mengapa saya katakan demikian? Oleh karena hidup ini tidak pernah lepas dari proses mencari dan mencari. Dari sejak kita lahir kita sudah mencari makanan, susu, dan kasih sayang dari orang tua kita. Beranjak menjadi anak-anak kitapun mencari teman-teman, hal-hal yang seru, hal-hal baru, permainan-permainan yang menarik dan sebagainya. Memasukin fase-fase remaja kita mulai mencari seseorang sahabat yang bisa menjadi tempat curhat kita. Kita juga mencari sekolah dan tempat kuliah yang cocok dengan bakat kita. Dan kitapun mulai mencari prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Memasuki fase pemuda, jiwa petualangan kita lebih terasah lagi. Kita mulai mencari pekerjaan yang cocok untuk mencukupi masa depan. Mencari rekan kerja yang bisa bekerja sama. Mencari hikmat dan pelajaran-pelajaran kehidupan yang berharga. Mencari popularitas. Dan kita mulai mencari pasangan hidup yang sepadan, yang bisa menjadi pendamping sampai masa tua kita. Banyak tenaga yang kita buang difase-fase ini untuk mencari yang kita inginkan. Memasuki fase menjadi orang tua pencarian itu semakin meningkat. Kita mulai mencari kedudukan di masyarakat. Kita mulai memikirkan masa depan anak-anak kita. Kita mencari pekerjaan yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita mencari susu dan makanan yang bergizi untuk anak-anak. Mencari sekolah yang terbaik. Mencari pakaian dan mencari kebahagiaan untuk anak kita. Dan banyak lagi pencarian-pencarian di fase ini. Dan memasuki fase lansia, ketika anak-anak kita sudah menghasilkan anak (cucu kita). Ketika tubuh sudah mulai lemah. Apakah kita berhenti mencari? Tidak! Masih ada pencarian-pencarian berikutnya. Kita mencari tempat untuk pensiun. Kita mencari dokter yang tepat untuk sakit penyakit kita. Mencari vitamin dan obat-obatan yang paling efektif. Dsb. Karena itu sekali lagi saya katakan bahwa hidup ini adalah sebuah pencarian.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pencarian tersebut, manusia sadar dimana suatu saat kita akan berhenti mencari. Kapankah itu? Yaitu pada saat kita tidak lagi hidup di dunia ini. Pada saat ajal menjemput kita, pada saat tubuh kita terbujur kaku, pada saat itulah kita akan berhenti mencari. Hal ini membuat orang merenung dan bertanya-tanya: apakah kita sungguh akan berhenti mencari? Apakah yang akan terjadi setelah kehidupan ini? Akankah ada kehidupan yang kekal dan tidak sementara seperti didunia ini? Dan pertanyaan yang paling penting: Bagaimanakah saya bisa memperoleh kehidupan yang kekal itu? Pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa hidup tidak hanya masalah fisik, melainkan juga masalah roh.

Oleh karena kesadaran seperti inilah maka manusia mulai mencari dan mencari hal-hal yang berbau spiritual dan gaib. Manusia sadar bahwa keberadaan manusia sangat terbatas. Kita disadarkan bahwa ada dunia lain, yaitu dunia roh, yang jauh lebih berkuasa dari dunia yang bersifat materi ini. Sebab itu manusia mulai tidakh hanya mencari segala sesuatu yang ada didunia, tetapi juga mencari hal-hal yang spiritual, yang mistik dan gaib, yang berbicara kehidupan di masa yang akan datang. Ada orang yang rela bertapa berbulan-bulan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup, dan mendapatkan hidup kekal. Pernah ketika ada seorang bocah asal Jombang yang kita kenal bernama Ponari dikabarkan memiliki batu gaib yang bisa menyembuhkan apapun juga, berbondong-bondong ribuan orang datang mengantri di rumah Ponari. Bahkan mereka rela antri didepan rumah itu sampai berhari-hari tidur di pinggir jalan. Dan parahnya ada yang menanti di tempat pembuangan air di rumah Ponari, dengan harapan siapa tau air hasil pembuangan itu kalau di minum sakitnya bisa sembuh. Ada juga orang yang mengikuti ilmu-ilmu gaib, yang meminta dia memakan hati manusia untuk mendapatkan hidup kekal. Sehingga diam-diam, tiap malam ia mencari mangsa, membunuh sesama manusia dan memakan hati manusia itu mentah-mentah. Agama-agama baru bermunculan. Menawarkan program untuk mencapai kekekalan. Ada yang menawarkan perbuatan baik, harus mengikuti ritual-ritual tertentu, ada yang menawarkan kebebasan melalui penyangkalan diri dsb. Celakanya lagi ada orang yang menyembah semua dewa dan agama, supaya semua berkat-berkat dari dewa-dewa itu melimpah kepadanya. Banyak orang mulai mencari jalan untuk menemukan kehidupan yang kekal.

Namun apakah mereka menemukannya? Dapatkah mereka berjumpa dengan Tuhan? Dapatkah mereka memperoleh hidup kekal itu? Tidak! Firman Tuhan mengatakan “.... Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6b).” Paulus juga pernah berkata bahwa dengan usaha sendiri manusia tidak dapat memperoleh keselamatan. Ini berarti tidak ada seorangpun yang dapat sampai kepada Allah dan mendapatkan hidup yang kekal bersama-sama dengan Allah. Manusia terlalu terbatas dan terlalu hina untuk bisa mencapai tempat bersama-sama dengan Tuhan. Usaha apakah yang dapat diperbuat manusia untuk dapat menemukan Tuhan? Tidak ada! Kisah tentang Babel dalam Kejadian 11 sudah menyatakannya kepada kita. Ketika manusia berusaha mendirikan menara pencakar langit dengan tujuan mungkin agar bisa menggapai Tuhan yang ada di langit. Tapi apa yang terjadi? Alkitab mengatakan Tuhan sampai harus turun untuk melihat apa yang dibuat oleh manusia, karena terlalu kecil tak terlihat olah mata Tuhan. Manusia berusaha mencapai langit, tapi bagi Tuhan usaha manusia terlalu kecil. Manusia tidak bisa mencapai kekekalan dengan sendirinya. Pencarian manusia akan kekekalan sia-sia jika ia mengandalkan kekuatan sendiri.

Jadi bagaimana caranya kita dapat menemukan jalan keselamatan itu? Perikop kita hari ini memberitahukan sebuah kabar baik bagi kita semua. Mengapa kabar baik? Karena ketika kita tidak dapat mencari Tuhan dan kehidupan kekal itu, Tuhanlah yang mencari kita manusia berdosa. Mencari untuk apa? Untuk menghukumkah? Tidak! Ia mencari kita untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa.

Perumpamaan domba yang hilang ini memberitahukannya kepada kita. Orang berdosa diumpamakan seperti domba yang hilang tersebut. Domba adalah seekor hewan yang penakut dan bodoh. Ia tidak dapat hidup sendiri. Harus bersama kumpulan domba lainnya. Dikatakan hewan yang bodoh karena ketika ia tersesat ia tidak dapat pulang dengan sendirinya. Biasanya domba kalau sudah tersesat dia akan duduk diam dengan kaki yang gemetar mengharapkan gembalanya bisa segera datang menemukan dia. Tidak ada seekor dombapun yang dapat pulang kekandangnya dengan sendirinya. Kalau begitu bagaimana caranya seekor domba dapat pulang kembali kekandangnya? Satu-satunya cara agar domba itu dapat pulang ialah: sang gembala itu yang harus mencari si domba sesat. Dan setelah menemukan biasanya sang gembala akan menggendongnya, sebab umumnya domba yang sesat masih ketakutan dan tidak dapat berjalan sendiri.

Manusiapun demikian. Ketika kita terjatuh dalam dosa, kita menjadi orang yang terhilang. Kita tidak dapat kembali menikmati persekutuan dengan Allah di Surga dengan sendirinya. Dengan segala upaya dan usaha kita, kita tetap tidak dapat menemukan Surga. Mengapa? Karena manusia berdosa itu sama seperti domba yang bodoh tersebut.

Karena itulah Tuhan datang mencari kita. Ia meninggalkan semua takhtanya di Surga, rela menjadi manusia dan turun ke dunia untuk mencari kita, manusia-manusia yang tersesat. Bahkan demi mencari manusia, Ia rela lahir di palungan yang hina, dan Ia rela untuk mati di Salib yang hina, mengorbankan nyawa-Nya sendiri untuk kita. Itulah Tuhan kita. Ia yang mengakhiri pencarian manusia tentang hidup kekal dengan mencari manusia itu sendiri.

Ada sebuah video yang menarik. (man in hole: 3 menit) Suatu saat ada seorang yang terjatuh dalam lubang yang dalam. Ia bingung bagaimana caranya untuk keluar dari lubang yang dalam itu. Lantas ada beberapa orang menawarkan jalan untuk keluar dari lubang itu. Orang pertama mengatakan: bahwa ia harus menyucikan pikirannya dengan jalan bermeditasi. Jika mencapai kesempurnaannya maka ia akan terbebas dari penderitaan. Pemuda ini melakukannya, tapi kenyataanya, ia masih berada dalam lubang itu. Kemudian datanglah orang yang kedua. Orang kedua ini mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia harus dapat mengosongkan pikirannya. Ketika pikiran kosong makan akan terlihat bahwa semua kesusahan itu hanya ilusi. Namun itu bukan jalan keluar. Pemuda itu masih berada dalam lubang yang gelap. Kemudian datanglah orang ke-3 yang menjelaskan segala sesuatu tentang karma. Dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan berinkarnasi setelah kematiannya. Tentu saja itu tidak membebaskan pemuda itu dari lubang yang sama. Lalu datanglah orang yang ke-4 yang menyuruhnya untuk berbuat baik dan berdoa 5 kali sehari. Iapun menuruti semua perkataan itu, namun semuanya tidak membuat ia keluar dari lubang tersebut. Sampai datanglah orang yang ke-5. Orang ini berbeda dari yang lain. Ia bertanya kepada pemuda itu: maukah engkau bebas? Pemuda itu mengatakan ia mau. Lalu apa yang dilakukan, ia turun kedalam lubang itu, ia menggendong dan memikul pemuda itu, dan kemudian pemuda itu selamat. Itulah yang Yesus lakukan kepada kita.

Banyak agama mengajarkan keselamatan dengan usaha manusia. Dengan kekuatan sendiri. Tapi mereka lupa bahwa manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya. Kita sudah terpelosok dalam lubang dosa yang begitu dalam. Manusia tidak bisa selamat dengan sendirinya. Beberapa dewa lainnya lagi menuntut untuk senantiasa disembah dan dicari terus menerus. Tetapi Tuhan kita berbeda! Dan hanya satu Tuhan, yaitu Tuhan yang benar, yang begitu mengasihi kita, Dialah satu-satunya yang mau turun ke dunia untuk menyelamatkan kita. Karena itu kita patut bersyukur. Kita memiliki Tuhan yang aktif dan berinisiatif mencari kita, sama seperti gembala yang mencari domba sesat itu.

Thursday, December 15, 2011

TUHAN ITU SETIA (Ulangan 4:30-31)


Tahun lalu negara kita, secara khusus di daerah Jawa mengalami bencana alam yang cukup mengerikan, yaitu bencana meletusnya gunung merapi. Debu-debu beterbangan kemana-mana. Banyak orang-orang mengungsi keluar desa. Serta banyak kampung-kampung rusak hingga tidak lagi dapat ditinggali. Banyak juga makhluk hidup yang mati karena debu vulkanik yang mematikan. Surat kabar mengatakan “Indonesia Menangis”. Namun di tengah duka itu ada sebuah kisah yang indah. Ada seorang yang terkenal sebagai penjaga atau pemegang kunci gunung merapi yang bernama “Mbah Marijan”. Seorang penjaga gunung merapi ini merupakan jabatan yang tinggi, dimana hanya satu orang saja yang dipercayakan untuk menjabatnya oleh Sultan (semacam raja) dari kerajaan di Jogja. Mereka percaya bahwa dalam gunung itu ada roh penjaga yang harus diberi sesajen atau disembahyangi. Karena itu penjaga merapi yaitu mbah marijan inilah yang kemudian diutus dan dipercayakan untuk menyembah arwah digunung tersebut.

Suatu saat ketika gunung merapi sudah mulai berhenti mengeluarkan abu vulkaniknya, tim evakuasi mencari beberapa daerah gunung merapi untuk mencari korban yang masih bisa ditemukan. Pada saat mereka mencari ditemukanlah sesosok mayat dalam posisi menyembah. Dan ternyata mayat itu tidak lain adalah mayat dari mbah Marijan sendiri. Semua orang terkejut dan bertanya-tanya “Mengapa mbah Marijan tidak mengungsi bersama penduduk lainnya?” Ternyata selidik punya selidik, sudah banyak orang yang mengajaknya mengungsi; tapi ia sendiri yang tidak mau pergi oleh karena ia punya prinsip begini “Menjaga Merapi Sampai Ajal Menjemput”. Ia sudah berjanji bahwa ia akan setia menjaga gunung merapi, karena itu ia tidak pergi kemana-mana.

Zaman sekarang jarang ditemukan seorang yang setia seperti mbah Marijan. Kesetiaan itu mulai langka. Terbukti kalau kita melihat statistik perceraian di negeri kita, kita akan menemukan semakin lama angka perceraian semakin meningkat. November barusan saya diceritain tentang kisah nyata mengenai pasangan suami istri yang bahagia. Suaminya merasa hidupnya paling bahagia didunia ini karena punya istri yang baik dan cantik. Istrinyapun selalu tersenyum dan tampak bahagia. Beberapa tahun mereka menikah mereka tidak pernah bertengkar sedikitpun. Namun suatu ketika, saat suaminya pulang bekerja tiba-tiba ia tidak menemukan istrinya ada di rumah. Awalnya ia mengira istrinya sedang keluar sebentar. Tapi ternyata beberapa hari istrinya tidak kembali-kembali. Sampai suatu saat setelah beberapa tahun sang istri menghilang, ternyata ketika ia menemukannya, istrinya sudah menikah dengan orang lain. Sekali lagi dimanakah kesetiaan? Kesetiaan sudah semakin langka. Karena itu banyak orang memplesetkan kata SETIA sebagai singkatan dari SELINGKUH TIADA AKHIR.

Sekali lagi itulah keadaan saat ini. Mencari pekerja yang setia....susah, mencari teman yang setia....jarang, mencari atasan yang setia....langka; Kesetiaan tidak mudah untuk ditemui. Manusia bisa sewaktu-waktu lupa diri dan menjadi tidak setia. Namun kita patut bersyukur karena hari ini ada sebuah kebenaran yang ingin saya sampaikan, bahwa Kita Memiliki Tuhan Yang Setia.

Itu terlihat dari bacaan kita. Di sini diceritakan bahwa Musa yang adalah pemimpin umat Israel waktu itu sedang memberikan ceramah dan khotbah kepada umat Israel. Disini Musa sedang menegur keras umat Israel. Mengapa? Karena umat Israel seringkali tidak setia kepada Tuhan. Hal ini terlihat ketika mereka berkali-kali menyembah dewa-dewa asing seperti patung lembu emas, dewa baal, dewi kesuburan, dsb. Bagi Tuhan, menyembah berhala itu sama dengan berselingkuh dan tidak setia. Karena itu Musa menegur keras umat Israel. Musa meminta umat Israel untuk tetap setia dan tidak lagi menyakiti hati Tuhan.

Dengan menyakiti hati Tuhan sama saja umat Israel ingin berjalan tanpa bimbingan Tuhan. Dan Musa tau bahwa umat Israel tidak bisa berjalan sendiri tanpa Tuhan. Pernah ketika mereka menyembah berhala, berakibat kepada kekalahan dalam berperang. Pernah juga ketika mereka melupakan Tuhan dan bersungut-sungut, akibatnya mereka mendapatkan bencana dan celaka. Tapi sebaliknya, ketika mereka hidup bergantung dan dekat dengan Tuhan dan setia kepada Tuhan, mereka mendapatkan berkat yang luar biasa. Pernah ketika mereka lapar Tuhan mengirimkan banyak burung puyuh untuk dimakan dengan percuma. Berkali-kali Tuhan memberkati mereka ketika berperang dengan memberikan kemenangan. Ini hanya beberapa contoh. Ada banyak kisah lain yang menunjukkan bahwa berbeda sekali kehidupan Israel kalau mereka setia kepada Tuhan.

Karena itu Musa mengingatkan kepada umat Israel “Jangan pernah kalian tidak setia kepada Tuhan....Jangan kalian menyembah dewa-dewa yang lain.” Tapi menariknya, tidak berhenti sampai disana, Musapun memberitahu sebuah kabar baik kepada umat Israel. Ia mengatakan, “Apabila kamu ditimpa semua bencana itu dan kamu ada dalam kesukaran, maka kamu akan kembali kepada TUHAN Allahmu dan taat kepada-Nya. TUHAN Allahmu adalah Allah yang sangat berbelaskasihan. Ia tak akan meninggalkan atau membinasakan kamu, atau melupakan perjanjian yang dibuat-Nya sendiri dengan leluhurmu.” Musa seakan ingin berkata “tapi jika sampai kalian terjatuh dan menyesal karena dosa-dosa kalian, dan kalian mengalami masalah karena ketidak setiaan kalian, datanglah kepada Tuhan. Tuhan tetap mengasihimu, dia tidak pernah meninggalkanmu, dan Tuhan tidak pernah melupakanmu. Tuhan itu setia.”

Memang Tuhan yang kita miliki adalah Tuhan yang setia. Berkali-kali anak-anak Tuhan menyakiti hatinya, tapi ia tidak pernah meninggalkan. Ia tetap mengasihi anak-anaknya. Dalam perjanjian baru pernah terjadi ketika Yesus di salibkan, salah satu murid yang dikasihi-Nya yang bernama Petrus pernah menyangkal Yesus sampai tiga kali. Sebagai seorang dekat tentu saja Yesus sedih dan sakit hati ketika disangkal murid-Nya sekaligus sahabat-Nya sendiri. Siapa yang mau punya kawan seperti itu: saat senang dia nempel, saat susah dia menyangkal. Saya kira Yesus sedih waktu itu. Tapi apakah habis itu Yesus tidak lagi mau pedulikan Petrus? Apakah Yesus membenci petrus? Tidak!! Sebaliknya setelah Ia di salib, dan ia bangkit dari kematian, Yesus menghampiri Petrus yang sedang menangkap ikan, kemudian Yesus memberikan pengampunan kepada Petrus, dan menerima kembali Petrus untuk menjadi sahabatnya. Manusia boleh tidak setia, tapi Tuhan tidak akan pernah tidak setia. Sekalipun kita anak-anaknya berkali-kali menyakiti hati Tuhan dengan berbuat dosa, tapi Tuhan tetap menerima kita. Sekalipun anak-anak Tuhan berkali-kali melupakan Tuhan, Tuhan tidak pernah melupakan kita. Tuhan kita setia terhadap kita.

Kalian tentu mengenal pak Habibie, mantan presiden Indonesia tahun 90-an. Tahun lalu dia baru mengalami kedukaan karena istri yang dicintainya harus dipanggil Tuhan. Tapi sbelum istrinya meninggal, ada banyak kisah manis dan indah yang ditorehkan oleh pak Habibie. Ditengah dunia yang sudah kehilangan kesetiaan, beliau malah menunjukkan kesetiaannya. Diceritakan waktu itu istrinya mengalami sakit yang cukup parah sampai-sampai dia harus terbaring dirumah sakit selama kurang lebih dua bulan. Pak Habibie setiap hari selama dua bulan itu terus menemani istrinya. Padahal rumah sakitnya dekat sekali dengan rumah kediaman pak habibie. Namun tidak pernah sekalipun selama kurang lebih dua bulan itu pak habibie pulang kerumah meninggalkan istrinya seorang diri. Dia setia sekali menjaga istrinya. Terlebih lagi parahnya istrinya ini mengalami sakit yang parah yang membuatnya lupa ingatan. Sama sekali ia tidak lagi mengenal siapapun juga. Bahkan setiap kali pah Habibie suaminya menghampirinya, ibu ainun seringkali bingung siapa dia. Namun demikian pak habibie tetap setiap menjaganya setiap hari tanpa henti. Sampai suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada dia “ Pak.... bapak setiap hari mengunjungi istri bapak ya...padahal istri bapak sudah tidak lagi mengenal siapa bapak...Bagaimana perasaan bapak ketika ibu ainun tidak lagi mengingat siapa bapak?” Dengan tenang dan lembut pak habibie menjawab “Ya....memang istri saya tidak lagi mengenali saya....tapii..... saya masih mengenalinya kan? Karena itu saya akan terus menjaganya sampai akhir hidupnya.” Perkataan dan kisah dari pak habibie ini akhirnya menjadi berkat bagi banyak orang. Semua surat kabar menuliskan hal ini di suratnya, dan semuanya mengangkat akan kesetiaan dari pak habibie.

Saat ini saya ingin menyampaikan kepada bapak ibu sekalian bahwa Tuhan yang kita miliki jauh lebih setia daripada pak habibie terhadap istrinya. Walaupun mungkin kita seringkali melupakan Tuhan, menyakiti hati Tuhan, menyimpang dari jalan-jalan kebenaran-Nya; Walaupun kita seringkali menyakiti hati Tuhan dengan sering berbuat dosa, entah dalam pekerjaan, kebiasaan sehari-hari, dsb....Ingatlah....Tuhan masih ada bersama dengan kita... Dia tidak akan meninggalkan kita. Dia setia menantikan kita terus kembali kepada-Nya. Tangan-Nya selalu terbuka untuk kita. Ia seperti seorang ayah dalam kisah yang hilang. Walaupun berkali-kali anaknya menyakiti dan meninggalkan sang ayah, tapi sang ayah dengan hati yang penuh kasih terus menerima keadaan anaknya, bahkan dalam keadaan paling buruk sekalipun.

Kesetiaan itu jugalah yang kita rayakan saat ini. Natal bukan hanya mengingatkan kita akan kelahiran Yesus. Namun Natal mengingatkan kita bahwa kita punya Tuhan yang setia. Tuhan yang dari sejak semula berjanji akan mengirimkan seorang pembebas bagi manusia dari perbudakan dosa. Tuhan itu juga yang menepati janjinya dengan mengirimkan Yesus ke dalam dunia. Karena itu ketika merayakan natal, mau tidak mau kita kembali diingatkan akan kesetiaan Tuhan terhadap kita manusia.

Karena itu mari kita mensyukuri bahwa kita memiliki Tuhan yang setia. Mensyukuri bukan hanya dengan ucapan, melainkan dengan menyatakan kesetiaan kita di hadapan Tuhan. Kesetiaan dalam melayani, kesetiaan dalam kehidupan yang kudus dan menyenangkan Tuhan, serta kesetiaan dalam mengasihi Tuhan.

Sunday, December 11, 2011

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #3



Alhasil setelah ia meratap dan menangisi setiap beban pergumulannya di hadapan Tuhan, Daudpun dapat bangkit dari keterpurukannya. Di tiga ayat terakhir (9-11) ia berkata “Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.” Dengan yakin ia memerintahkan musuh-musuhnya untuk mundur. Musuh-musuhnya akan mundur dan mendapat malu. Saya kira setelah ia berdoa dan menangis di hadapan Tuhan, semua pergumulannya tidak serta merta lenyap. Pergumulan itu masih ada. Hanya saja keyakinannya berbisik, bahwa semua musuh-musuhnya akan mundur dari hadapannya.

Mengapa ia begitu yakin? Karena ia tahu bahwa Tuhan telah mendengar setiap tangisnya. Tuhan memperhitungkan setiap air mata yang tertumpah. Tuhan sudah menerima doanya. Itulah hal yang sangat menguatkan batinnya. Tangisan Daud telah di ubah menjadi kekuatan. Air mata yang dikatakan orang sebagai tanda kelemahan, ternyata ditangan Tuhan dapat diolah menjadi kekuatan yang besar. Air mata dukacita itu di hadapan Tuhan berubah menjadi mata air sukacita yang tidak pernah habis.

****

Ada seorang pemuda yang pernah mengalami hal yang serupa dengan Daud, walau tidak sama persis. Pemuda ini mengalami pergumulan yang berat dalam waktu yang berdekatan. Dari persoalan keluarganya yang mendadak harus menghadapi berbagai penyakit yang tidak jelas, yang mengeluarkan banyak biaya. Ditambah masalah pekerjaan yang mendadak membebani keluarganya. Ditipu, utang tidak dibayar, kesalahan perhitungan, dsb. Semakin diberati juga dengan relasinya yang retak dengan orang terdekat. Orang yang selama ini menjadi partner hidupnya dan yang menjadi sumber inspirasinya, ternyata harus pergi meninggalkan dirinya. Hal itu sangat memukul dan melukai batinnya. Seakan belum cukup, iapun harus menghadapi pergumulan-pergumulan dalam dirinya sendiri yang dianggapnya sebagai duri dalam daging yang begitu menusuk dan melukai dirinya. Sudah bertahun-tahun ia bergumul mengenai duri dalam dagingnya, namun duri itu terus menancap dan berakar dalam dirinya. Dan tidak tahu kenapa, duri itu begitu kuat menusuknya waktu itu. Semua ini sangat mengganggu jiwanya. Karena tubi-tubi pergumulan itu, pemuda ini sering diteror oleh ketakutan yang tidak jelas, yang menyebabkan setiap malamnya terjaga. Sebuah ketakutan yang irasional yang tidak dapat dipahami. Dan ketika ia mau menghampiri Tuhan, ia merasa malu. Ia merasa dirinya tidak layak untuk memohon pertolongan kepada Tuhan.

Namun suatu malam, karena beban yang dipikulnya terlalu berat, akhirnya ia menangis kencang. Dalam tangisnya ia memberanikan diri berseru dan berteriak memanggil nama Tuhan. Tidak banyak kata-kata yang diungkapkannya. Dengan nada sayup dan bibir yang gemetar ia berseru “Tuhan.....Tuhan....Tuhan....tolong saya...tolong saya.....tolong saya” . Sepanjang malam yang hening itu, berulangkali ia mengucapkan hal yang sama.

Tahukah saudara, Tuhan tidak tinggal diam. Pada malam yang sepi dimana hanya ada Tuhan dan dirinya, Tuhan mendengar tangisan dan seruannya. Tuhan memperhatikan air matanya. Dan Tuhan mengubah malam yang penuh kekhawatiran itu menjadi malam yang penuh keyakinan. Sehingga pada malam itu terciptalah syair lagu dari pemuda tersebut. Lagu itu yang senantiasa memberikan kekuatan setiap kali ia menghadapi pergumulan. Lagu itu berkata demikian:

HIDUPKU PADAMU

Adakah ku layak hampiri dirimu

Hina dan dosa melingkupiku

Namun anugerah-Mu layakan diriku

Menghampiri takhta-Mu yang kudus

Kini kusrahkan semua

Hidupku Pada-Mu

Segala rencanaku, masa depanku

Dalam daulat-Mu

Dan Kuharapkan semua

Kekuatan dari-Mu

Tuk jalani liku kehidupanku

Ya Yesusku

Jika saudara menghadapi berbagai pergumulan saat ini yang begitu mencekam, menakutkan dan menghempas relung hati saudara, jangan pernah ragu untuk menghampiri Tuhan. Hampiri Dia. Berserulah memanggil namanya. Menangislah jika engkau merasa bebanmu sudah terlalu berat. Jangan pernah menjadi malu untuk menangis. Kita tidak menangis dihadapan manusia, melainkan di hadapan Tuhan. Tidak perlu banyak berkata-kata. Biarkan air matamu yang berbicara banyak. Tuhan mendengar seru doamu. Tuhan yang mengasihimu, Tuhan juga yang akan mengubah air mata kesedihan itu menjadi mata air sukacita. Mata air itulah yang akan memberikan kelegaan dan kekuatan kepada saudara. Menangislah.....Ya.....Menangislah di hadapan Tuhan.

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #2



Mari kita melihat kembali kepada tokoh kita Daud. Ditengah pergumulan yang begitu mencekam bertubi-tubi menyergap hidupnya, ternyata Daud menangis. Ya... Daud yang spektakuler dan Daud yang perkasa itu menangis. Di ayat 7 ia mengatakan “Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.” Perhatikan ungkapan ‘menggenangi tempat tidur’... ‘air mata membanjiri ranjang’, bagaimana mungkin itu terjadi? Jelas saja air mata manusia tidak cukup untuk menggenangi dan membanjiri tempat tidurnya. Di sini Daud memakai majas hiperbola, yaitu sebuah gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Daud ingin menggambarkan akan betapa galau dan tertekan jiwanya saat itu. Begitu mencekam hingga tangisan biasa sekalipun tidak dapat mewakili perasaan hatinya. Oleh sebab itu ia memakai majas hiperbola untuk mengungkapkan betapa berat beban yang dipikulnya. Ya... Daud sang pahlawan itu menangis. Setiap hari ia menggenangi tempat tidurnya. Ia membiarkan air matanya mengalir deras untuk mengeluarkan penderitaan dalam sukmanya.

Namun Daud tidak menangis sendirian tanpa arah. Ia memilih untuk menangis dihadapan Tuhan sang pejunan hidupnya. Ia mengandalkan Tuhan untuk meluputkan sesak jiwanya. Sejak awal ratapan ini ditujukan kepada Tuhan. Ia memanggil nama ‘Tuhan’ (Yahwe) yang memegang perjanjian terhadap setiap umat Israel dan yang berkuasa. Dalam 4 ayat pertama berturut-turut Daud berseru memanggil nama Tuhan: ‘ya Tuhan’, ‘Kasihanilah aku Tuhan’, ‘Tuhan, berapa lama lagi’, ‘Tuhan luputkanlah jiwaku’.

Daud sadar bahwa ia punya Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya keluar dari segala permasalah itu. Tuhan yang adalah pencipta dunia ini beserta seluruh isi alam semesta; Tuhan juga yang ia yakini sebagai pencipta hidupnya, yang membentuk buah pinggangnya sejak ia berada dalam kandungan; Tuhan juga yang sudah melakukan banyak perkara-perkara besar bagi para pendahulunya; Tuhan itu juga yang ia yakini berkuasa untuk menolongnya dari setiap kesusahan.

Bukan hanya menyadari bahwa Tuhan itu berkuasa, iapun sadar bahwa ia memiliki Tuhan yang senantiasa menyatakan kasih setia-Nya terhadap setiap anak-anak yang bergantung kepada-nya. Dalam pemahamannya Tuhan itu dekat dengan orang yang remuk hati. Ia tahu setiap isi hati umat-Nya. Bukan hanya tahu, tapi Tuhan itu peduli terhadap kesesakan ‘kawanan-kawanan domba-Nya’. Tuhan itu seperti Bapa yang penuh kasih terhadap anak-anak-Nya, yang disatu sisi membiarkan anak-anak-Nya menghadapi pergumulan-pergumulan hidup untuk mendewasakannya; tapi disisi lain Ia tidak akan membiarkan pergumulan itu membuat anak-anak-Nya terjatuh sampai tergeletak. Karena itu dalam seruannya di ayat 5, ia berkata “Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.” Daud menyatakan kebergantungannya kepada Tuhan.

Atas dasar pemahaman akan Allah yang berkuasa dan penuh kasih inilah Daud memberanikan diri menangis di hadapan Tuhan. Daud rela menelanjangi dirinya di hadapan Bapanya. Ia menyatakan betapa lemah dan tidak berdayanya ia. Dia membiarkan dirinya menangis seperti seorang anak kecil untuk memperoleh belas kasihan sang Kahlik. Ia tidak mau berpura-pura tegar menghadapi setiap pergumulannya. Ia juga tidak mau melarikan diri dari realita permasalahan yang ada. Sebaliknya ia lebih memilih untuk mengekspresikan jerit hatinya dengan menunjukkan tetesan air mata dihadapan Tuhan.

Manusia memang perlu menangis. Menangis dapat melepaskan segala kepenatan dan beban yang kita pikul. Namun tangisan yang tidak terarah akan berbahaya. Ada orang yang setelah menangis malah melakukan tindakan-tindakan yang irasional. Ada orang yang setelah lama menangis akhirnya menjadi depresi dan mengalami gangguan mental. Bahkan ada orang yang setelah menangis akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di dunia. Tangisan-tangisan demikian bukannya meringankan beban, namun setiap tetesan air mata itu kembali ‘terminum’ atau ‘terhisap’ dalam mulutnya dan kembali membebani jiwanya.

Namun air mata yang ditujukan kepada Tuhan akan berbeda. Menangis di hadapan Tuhan melambangkan bahwa kita adalah manusia lemah, dan kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan yang kuat. Menangis di hadapan Tuhan merupakan sebuah sikap kerendahan hati yang menyatakan kebergantungan total akan pemeliharaan dan pimpinan Tuhan. Dan Tuhan kita adalah Tuhan yang berkenan terhadap kerendahan hati. Ia menyukai hati yang bersandar dan mengandalkan Dia. Karena itu setiap tetes air mata yang tumpah di tangan sang Pejunan itu akan diubahkan–Nya menjadi kekuatan yang limpah. Itulah sebabnya Daud suka meratap dan menangis di hadapan Tuhan. Karena itulah sumber kekuatannya.

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #1




Air Mata
Air mata telah jatuh membasahi bumi
Takka sanggup menghapus gelisah
Penyesalan yang kini ada
Jadi tak berarti
Karena waktu yang bengis terus pergi

Menangislah jika harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah


Inilah sepenggal lyric yang tercipta dari tangan seorang pujangga di Indonesia. ‘Menangislah jika harus menangis’ demikianlah katanya. Mengapa harus berpura-pura tegar dan kuat, sementara jiwamu rapuh dan retak? Mengapa kita harus terus tersenyum sementara sukmamu merana? Mengapa kita harus tertawa jika sebenarnya kita harus menangis?

Awal Januari 2011 yang lalu, saya kehilangan seorang teman sekaligus rekan pelayanan. Dia yang usianya masih tergolong muda, 24 tahun, harus menderita kanker ganas dalam tubuhnya. Kanker itu menyerang buas sejak diketahui keberadaannya pertama kali di bulan Oktober 2010. Dalam kurun waktu kurang lebih tiga bulan, akhirnya iapun berpangku di sisi Bapa. Semua orang menangis. Sahabat-sahabat, rekan-rekan pelayanan, kerabat-kerabat, dan terutama keluarganya. Orangtuanya tampak begitu terpukul, karena anak yang meninggal ini merupakan anak laki-laki satu-satunya yang mereka miliki. Karena itu derai tangis, dan raung riakpun bergema ketika melepaskan kepergiannya. Namun di tengah kepedihan dan suasana duka itu, datanglah salah satu kakak dari orang tuanya dan memarahi mereka. “Sudah gak usah menangis, ngapain kamu menangis; Kamu cuma bikin anakmu tambah susah hati saja di Surga!” Berkali-kali ia mengucapkan hal itu dan membentak keluarga yang sedang menangis. Tapi percuma saja. Kesedihan itu terlalu berat untuk dipikul. Sehingga tangisan tetap bergaung sepanjang malam itu.

Mengapa tidak menangis jika harus menangis? Bukankah ada banyak orang yang berpikir seperti kakak dari orang tua teman saya tersebut? Memang apa yang dilakukannya cukup ekstrim karena melarang orang menangisi kepergian anak sendiri. Namun jujur saja, dalam kehidupan ini ada begitu banyak orang yang tidak menghargai arti sebuah air mata. Air mata melambangkan kelemahan, katanya. Air mata hanya untuk pecundang, ungkapnya. Laki-laki tidak boleh menangis, titahnya. Air mata sama dengan kekalahnya, pendapatnya. Namun benarkah demikian?

Jika Daud, yang dikatakan sebagai ‘seorang yang berkenan’ di hadapan Tuhan, mendengar pengertian itu, ia tidak akan setuju. Sebab Daud pernah merasakan hal yang sebaliknya: Bahwa di dalam setiap tangisan yang dilontarkannya, ia justru menemukan kekuatan dari Tuhan. Tak heran dalam seluruh Kitab Mazmur kita akan menemukan ada begitu banyak mazmur yang berisikan ratapan, di mana pemazmur berseru dan menangis di hadapan Tuhan.

Salah satu Mazmur ratapan yang dilontarkan oleh Daud terdapat di pasal 6 ini. Dalam Mazmur ini sepertinya Daud sedang mengalami banyak pergumulan. Tidak jelas apa yang menjadi permasalahan Daud pada waktu itu. Para penafsir tidak ada yang sepakat mengenai latar belakang permasalahannya. Namun yang jelas ia sedang mengalami pergumulan yang berat.

Di ayat pertama Daud merasa seperti seorang hukuman. Ia takut dihukum dan merasakan panas amarah Tuhan. Tampaknya Daud sedang bergumul tentang dosa-dosanya. Kalau kita melihat kehidupan Daud, memang di tengah keperkasaannya acapkali ia terjatuh. Di satu sisi ia pernah mengalahkan Goliat dengan mata yang memandang kepada Tuhan. Namun di sisi lain dengan mata yang sama ia memandang Batsyeba dengan penuh nafsu. Di satu sisi ia begitu mencintai keadilan, tapi disisi lain ia pernah berlaku tidak adil terhadap Uria suami Batsyeba. Di satu sisi ia dapat menjadi sosok yang rendah hati, namun di sisi lain ia dapat terjebak dengan keangkuhan diri. Itulah Daud. Manusia yang kuat, sekaligus lemah. Dan dalam Mazmur ini ia sedang bergumul tentang dosa yang diperbuatnya. Entah dosa apa yang diperbuatnya, yang pasti ia takut menerima murka dari Tuhan.

Di ayat kedua Daud mengungkapkan pergumulan berikutnya. Ia mengatakan “Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,...” Di sini Daud melanjutkan pergumulannya seakan ia sedang bergumul dengan sakit penyakit. Begitu beratnya rasa sakit itu sehingga ia memohon belas kasihan Tuhan dengan sangat untuk menyembuhkannya. Secara fisik ia berkata bahwa ‘tulang-tulangnya gemetar’. Tulang yang menjadi penopang seluruh tubuhnya sudah berada diambang batas kekuatannya. Daud merasa tubuhnya lemah tak berdaya. Orang Timur Tengah waktu itu sering menghubungkan sakit penyakit sebagai hukuman Tuhan akibat dari dosa. Karena itu Daud sangat terpukul. Barangkali ia menganggap sakit penyakitnya ini berkaitan erat dengan dosa yang dilakukannya.

Bukan hanya bergumul dengan dosa dan sakit penyakit, dari ayat 8 dan10 kita dapat melihat pergumulannya yang lain, di mana ia tertekan oleh musuh-musuhnya. Tiga kali Daud mengatakan hal yang serupa: lawanku, pembuat kejahatan, musuhku, yang menunjukkan ia sedang menghadapi musuh di luar dirinya. Dalam perjalanan kehidupan Daud waktu itu memang ada banyak musuh yang ingin membunuh dirinya. Dari pemimpinnya sendiri, rekan kerja, sahabat, bahkan Absalom anak kandungnya sendiri turut andil dalam bilangan orang yang ingin membunuhnya. Berkali-kali Daud hidup sebagai pelarian menghindari teror yang dilemparkan musuh-musuhnya. Rasa teror yang terus menerus terjadi sangat memungkinkan menekan jiwa seseorang.

Karena itulah Daud meratap dengan sangat. Ia mengalami pergumulan yang begitu kompleks. Pergumulan-pergumulan itu begitu buas merongrong dirinya baik secara fisikal maupun spiritual, baik internal maupun eksternal, baik kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Jiwanya tercabik-cabik oleh tubi-tubi persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu ia berseru kepada Tuhan: “Berapa lama lagi Tuhan?” Sebuah seruan yang menyaratkan akan kekuatan yang sudah hampir habis, tumpuan kaki yang hampir terjatuh, dan asa yang hampir sirna.

****

Pernahkah saudara mengalami pergumulan yang demikian? Sebuah pergumulan,. . . . tidak! Bukan sebuah, melainkan bertubi-tubi pergumulan yang melanda hidup saudara tanpa ampun? Mungkin sakit penyakit sedang menyerang kehidupan kita dan orang yang kita kasihi tanpa permisi; dan penyakit itu menguras banyak biaya dan tenaga padahal kemungkinan untuk bertahan hidup hanya setipis kertas; Atau terlebih lagi mungkin kita baru kehilangan orang yang kita kasihi; Sementara itu entah tanpa sebab, pesaing bisnis atau rekan kerja kita sendiri ternyata berusaha menjerat dan menjatuhkan usaha yang kita rintis dengan cara-cara yang licik dan picik. Bahkan orang yang paling kita percaya sekalipun turut berupaya menjatuhkan kita; Di lain pihak kita harus bergumul dengan masalah relasi dengan orang-orang di sekitar kita. Suami yang tidak pernah mau mengerti perasaan kita. Istri yang selalu membebani. Anak-anak yang tidak pernah mendengar dan suka melawan. Orang tua yang selalu menuntut. Sahabat-sahabat yang tidak memahami kita,dsb; Ditambah lagi ada pergumulan-pergumulan pribadi yang begitu membebani bagai duri dalam daging yang terus menggocoh hidup kita. Bertahun-tahun lamanya kita bergumul dan berjuang untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Namun bukannya semakin membaik, semakin kita berjuang duri itu nyata-nyata malah menancap lebih dalam lagi merobek dan melukai kehidupan kita; Dan ketika kita mau menghampiri Tuhan, kita merasa malu karena dosa-dosa yang sudah menjadi kebiasaan hidup kita sejak kita kecil, yang sudah menjerat dan begitu sukar untuk dilepaskan.

Pernahkah saudara mengalami hal yang demikian? Kumpulan pergumulan yang kompleks dan begitu menyesakkan kita. Hati kita tersayat-sayat sepanjang hari. Ia meneror malam kita dengan perasaan cemas. Dan ia menyambut pagi kita dengan perasaan khawatir. Perlahan tapi pasti ketakutan melingkupi seluruh jiwa dan perasaan kita. Dan semua itu membuat kita lemah tak berdaya. Jalan di hadapan kita tampak buntu, dan kegelapan begitu dekat dengan kita.

Ditengah pergumulan yang bertubi-tubi seperti ini apa yang akan saudara lakukan? Berusaha menghadapinya dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis itu? Menyalahkan situasi dan orang-orang yang menyebabkan semua pergumulan itu? Atau menarik diri dari kenyataan dan berusaha lari sejauh-jauhnya menghindari realita yang ada?

Monday, December 05, 2011

The Best Gift (Matius 2) #2




Kedua, Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang berasal dari hati.
Saya pernah membaca sebuah buku yang membandingkan antara raja Herodes dan orang-orang majus. Buku itu menanyakan: Apakah persamaan dan perbedaan antara Herodes dan orang-orang Majus? Persamaannya ialah mereka sama-sama hendak mencari Tuhan. Ketika orang-orang Majus melihat bintang timur itu, ia pergi mencari raja yang baru lahir itu. Tapi ternyata bukan cuma orang majus yang mencari Tuhan, Herodespun juga mencari Tuhan. Ia menyuruh ahli-ahli Taurat itu untuk menyelidiki kitab suci, dan ia bekerja sama dengan orang majus untuk bersama-sama mencari Tuhan. Sekali lagi, mereka sama-sama mencari Tuhan.

Tapi bedanya ialah: Herodes mencari Tuhan karena dia ingin membunuhnya. Ketika ia mendengar dari orang-orang Majus ini bahwa akan ada seorang raja yang akan lahir yang berkuasa, hatinya terganggu. Ia sadar bahwa ia tidak memiliki anak saat itu yang baru lahir, dan pikirannya langsung mengatakan bahwa ada orang lain yang akan merebut kekuasaannya. Karena itu ia mencari Yesus. Namun ia mencari dengan motivasi yang salah, yaitu untuk membunuhnya. Sementara itu orang majus itu juga mencari Tuhan. Tapi untuk apa ia mencari Tuhan? Di ayat 2 dituliskan orang-orang majus itu bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ya, orang Majus itu datang dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk menyembah Tuhan yang akan datang itu.

Banyak orang menceritakan cerita orang Majus ini sedang memberi sesuatu yang terbaik karena ia telah membawakan barang-barang yang terbaik yaitu emas, kemenyan, dan mur. Memang harus diakui barang-barang ini bukan barang-barang murah, dan merupakan barang-barang pemberian terbaik pada waktu itu, yang biasa diberikan untuk seorang raja. Tapi saya kira bukan hal itu yang dipandang Tuhan sebagai pemberian terbaik. Pemberian terbaik dari orang majus itu ialah ketika ia mencari tuhan untuk menyembah Dia. Itulah pemberian yang terbaik di mata Tuhan, yaitu pemberian dengan hati yang menyembah.

Hati yang menyembah itu bukan sekedar seperti seorang bawahan yang wajib menyembah karena takut dihukum oleh atasannya. Tapi hati yang menyembah disini lebih kepada sikap kagum, hormat, segan, takut, sekaligus sikap tunduk. Bukan hanya itu, sikap menyembah di sini juga melambangkan betapa seseorang itu percaya, berserah dan taat kepada orang yang di sembah. Kata menyembah (proskuneo) waktu itu adalah sikap menyembah di mana badan membungkuk, dahi sampai menyentuh tanah tepat di depan kaki orang yang disembahnya. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat lemah di mana orang yang menyembah tidak bisa melihat apa-apa, dan seakan ia berkata “silahkan kamu perlakukan saya seperti yang kamu mau.” Jadi ketika ia menyembah seseorang, itu berarti ia berserah, ia pasrah, dan ia mempercayakan hidupnya untuk diatur oleh orang yang disembahnya. Inilah yang dilakukan oleh orang majus itu, yaitu ketika ia mempersembahkan hatinya kepada Tuhan. Dan inilah pemberian yang terbaik, yaitu pemberian dengan hati. Tidak ada pemberian yang lebih baik daripada pemberian dari hati yang terdalam.

Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugerahi seorang anak, mereka begitu bahagia sekali. Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dengan berat hati si dokter mengatakan bahwa ternyata anaknya mengalami kecacatan seumur hidup, yaitu cacat mental.

Walaupun pasangan ini sangat sedih mendengar hal itu, tapi hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi rasa cintanya terhadap anaknya, walaupun anak itu cacat. Terlihat dari sikap ayahnya tiap pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan dan memuji anaknya, karena baginya anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya. Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi sekali lagi, meskipun demikian, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.

Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30 am. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang spesial buat papa.' Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'. Setelah itu, ia teringat bahwa biasanya mamanya membuat roti dengan telur. Lalu ia berlari ke kulkas mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menaruhnya di atas roti bakar yang gosong itu. Lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, 'Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati ia membawa semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, 'Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.' Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. 'Wah pasti enak nih.'
Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, 'Enak kan pa?' 'Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….' Si ayah berkata, 'Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.' Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.' Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata 'Ray, kamu tau nggak…' 'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, 'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' Lalu si ayah berkata lagi, 'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' Si anak sambil menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' 'Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.' Mengapa masakan itu bisa spesial bagi papanya? Itu jelas karena anaknya memberikan dengan hati.

Saya kira bagi Tuhan juga demikian. Ia menginginkan pemberian yang terbaik dari setiap kita anaknya, yaitu pemberian dari hati terdalam. Kita bisa memberikan waktu kita untuk Tuhan, kita bisa memberikan tenaga kita dengan melayani berbagai banyak bidang, kita bisa memberikan harta kita melalui persembahan-persembahan syukur kita, tapi jika dalam setiap pemberian itu tidak diselipkan hati yang sungguh menyembah dan mengasihi Tuhan, maka semua pemberian itu sia-sia. Tuhan menginginkan pemberian dari hati yang menyembah, yang didasari oleh rasa cinta yang tulus; yang diikuti dengan sikap berserah dan pasrah kepada kehendaknya. Orang yang memberi segalanya belum tentu memberikannya dengan hati, tapi orang yang memberi dengan hati, ia akan melakukan segalanya. Karena itu mari kita memberikan hati kita kepada Tuhan.

The Best Gift (Matius 2) #1




Suatu pagi ada seorang gadis kecil yang menghampiri ayahnya yang sudah siap-siap pergi kekantor. Gadis ini membawa sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada ayahnya. Lalu gadis ini berkata “Pa, hadiah ini untuk papa. Nanti bukanya dikantor saja ya.” Papanya segera mencium anaknya dan pergi kekantor dengan bahagia. Sesampai di kantor papanya langsung saja membuka kemasan kecil pemberian anaknya. Tapi apa yang ia lihat, ternyata kado itu kosong tidak berisi. Keesokan harinya gadis kecil ini kembali memberikan kado kecil dan memerintahkan hal yang sama dengan apa yang dibilang kemarin. Tetapi sekali lagi ketika papanya membuka kado itu, ternyata kado itu kosong. Demikian juga selanjutnya demikian berhari-hari sampai suatu saat, ketika gadis ini memberikan kado kecil itu kepada papanya, papanya berkata “Nak, sudah, tidak usah kasih kado lagi. Buat apa kamu memberikan kado yang kosong kepada papa. Papa tidak mau lagi menerima kado yang kosong.” Tapi kemudian gadis ini menjawab “Kado itu tidak kosong pa, tapi tiap pagi saya mengisi kado itu dengan banyak ciuman. Sehingga kalau papa merindukan saya, papa bisa membuka kado itu dan mengambil ciuman itu satu persatu.” Papanya yang mendengar hal itu terharu, dan langsung memeluk anaknya dan berkata “Terimakasih ya nak”. Dan setiap hari papanya membawa kotak kosong itu dengan sukacita. Karena baginya itu adalah hadiah terbaik dari anaknya.

Seorang ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan pemberian yang baik dari anaknya. Ayah mana yang tidak tersenyum mendapatkan pemberian yang tulus dari anaknya. Memang seorang ayah yang normal akan selalu memberikan yang terbaik tanpa harap imbalan apa-apa dari anaknya. Tetapi walau ia tidak mengharapkan imbalan, saya kira ia akan sangat bahagia jika ia menerima pemberian dari anak-anaknya.
Saya kira demikian juga dengan Tuhan yang adalah Bapa kita. Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu dirinya sendiri. Ia rela mengorbankan nyawanya untuk kita, supaya kita mendapatkan yang terbaik. Apakah Tuhan pernah menuntut imbalan dari itu semua? Tidak! Tetapi Tuhan akan sangat bahagia jika kita anak-anaknyapun mau memberi sesuatu yang terbaik untuk Tuhan. Karena itu marilah kita sebagai anak-anak Tuhan belajar untuk memberikan sebuah persembahan yang terbaik untuk Tuhan.

Bagaimana caranya? Hari ini bersama kita akan belajar dari kisah orang-orang majus yang begitu sering dikhotbahkan karena mereka telah memberikan sesuatu yang baik bagi Tuhan. Ada dua hal yang dapat kita pelajari tentang pemberian yang terbaik ini.

Pertama, pemberian yang terbaik adalah pemberian yang menuntut kerelaan untuk mengorbankan diri.
Saya kira setiap kita setuju bahwa sebuah pemberian dari seseorang akan semakin manis dan indah jika kita mengetahui beberapa jauh pengorbanan yang diberikan untuk sebuah pemberian itu. Semakin banyak seorang berkorban untuk memberikan sesuatu, semakin kita tau pemberian itu sangat berharga.

Orang-orang Majus dalam perikop ini pun juga sudah memberikan sesuatu yang berharga karena pengorbanannya. Kita tidak perlu menduga-duga ada berapa orang majus disana. Ada yang mengatakan bahwa ada 3 orang majus berdasarkan persembahannya mas, kemenyan, dan mur. Tapi saya kira tidak demikian. Orang majus ini merupakan sebuah kelompok orang-orang bijak, yang bisa membaca tanda-tanda lewat bintang dan sebagainya. Mereka adalah kumpulan orang-orang berhikmat yang saya kira pasti lebih dari tiga orang. Kemungkinan mereka tinggal di sebuah istana di sebuah kerajaan di Persia, sebuah kerajaan di daerah timur tengah yang mungkin sekarang diduduki oleh iran.

Suatu ketika mereka mendapatkan penglihatan dalam sebuah bintang suatu tanda yang unik, yaitu sebuah bintang timur. Jangan kira bintang timur ini hanya sekedar dongeng anak-anak yang membuat sebuah cerita menjadi lebih manis. Tapi secara ilmiah terbukti bahwa bintang timur ini ternyata benar-benar pernah ada. Peneliti menemukan bahwa bintang itu memang pernah ada pada bada ke4-5 M. Bintang ini sebenarnya merupakan sebuah planet yang besar, dan bintang ini bergerak perlahan menuju tepat di atas yudea. Bintang ini agak menyerupai komet yang muncul ribuan tahun sekali. Dikatakan bahwa bintang timur ini merupakan sebuah kojungsi perjumpaan antara planet jupiter dan saturnus serta lambang pisces. Bagi peramal zaman Yesus dulu semua ini memiliki arti. Jupiter merupakan lambang kekuasaan terbesar dan penguasa dunia, mengingat planet jupiter merupakan planet terbesar. Kemudian pisces yang dilambangkan dengan tanda ikan ini bagi mereka melambangkan akan sebuah kedudukan. Dan Saturnus itu merupakan planet yang melambangkan palestina. Karena itu ketika kojungsi jupiter bertemu dengan pisces dan saturnus itu berarti akan ada seorang penguasa yang besar dari palestina yang akan mengukir sebuah sejarah dan melakukan perubahan besar. Inilah logika berpikir ahli perbintangan waktu itu.

Kira-kira hal inilah yang mendorong para orang majus itu untuk mencari Yesus. Mereka adalah orang persia. Mereka tidak pernah mendengar sebelumnya bahwa ada seorang Mesias yang akan lahir di palestina. Mereka tidak pernah mendapatkan nubuat-nubuat dari para nabi. Orang-orang Majus ini hanya tau bahwa ada seorang raja yang akan lahir kedunia, yang akan berkuasa dan membawa perubahan melalui tanda sebuah bintang.

Tapi walaupun orang Majus ini tidak pernah mendengar nubuatan, mereka rela untuk pergi meninggalkan istana mereka untuk mencari Yesus yang mereka anggap sebagai raja. Untuk mencari seorang yang mereka anggap raja ini tentu memerlukan pengorbanan. Mereka harus meninggalkan daerah mereka Persia dan pergi ke Palestina. Jarak dari negri persia ke Yerusalem kira-kira ratusan bahkan mungkin ribuan km. Dan medan yang ditempuh cukup berat dengan melewati padang gurun dsb. Saya kira membutuhkan perjalanan yang jauh, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan. Saya kira selama berbulan-bulan itu juga mereka meninggalkan keluarga mereka. Bukan hanya mengorbankan waktu, saya kira mereka harus mengorbankan banyak uang dan dana untuk perjalanan yang jauh itu. Tapi mereka rela pergi mencari sang raja damai itu. Mereka rela meninggalkan dan mengorbankan segala sesuatu agar mereka dapat berjumpa raja atas segala raja tersebut. Karena mereka tau persis kepada siapa mereka harus bekorban, yaitu kepada raja segala raja.

Seharusnya kalau kita tahu betapa berharganya Tuhan yang kita sembah, kita akan rela bekorban banyak hal untuk mencarinya. Memang kalau sesuatu itu berharga kita akan dengan mudah berkorban untuk mencari sesuatu itu bukan. Saya teringat suatu malam mama saya masuk ke kamar saya membawa sebuah perhiasan yang begitu indah dari mutiara yang akan diberikan kepada calon istri koko saya waktu itu. Mama saya menunjukkan kepada saya sambil menanyakan apakah perhiasan itu bagus untuk dikenakan. Tapi ketika ia sedang menunjukkannya, tiba-tiba ada satu mutiara yang kecil itu terjatuh dan masuk ke dalam kolong ranjang yang tersimpan banyak koper dan dus-dus. Namun karena mengetahui bahwa mutiara itu berharga, saya dan mama saya rela mencari mutiara itu sampai masuk kekolong ranjang yang cukup kotor dan berantakan, merayap di tengah sesaknya kolong itu, membongkar barang-barang yang sudah berdebu, dan itu kami lakukan di malam hari. Setelah bermenit-menit kami mencari, akhirnya kami menemukan mutiara itu, dan kami senang sekali walaupun kami harus menjadi kotor. Karena untuk menemukan sesuatu yang berharga, memang dibutuhkan pengorbanan.

Itu yang dilakukan oleh orang-orang Majus itu. Ketika mereka melihat ada seorang raja yang akan lahir, mereka rela meninggalkan segala sesuatu untuk mencari dan menemukan Yesus. Karena mereka tau siapa yang mereka cari, Tuhan raja segala raja, yang begitu berharga.

Sayangnya, saat ini banyak orang Kristen yang tidak memiliki kerelaan bekorban untuk mencari Tuhan. Padahal Tuhan sudah menyatakan dirinya kepada kita melalui Kristus dan melalui Firman Tuhan. Betapa mudahnya bagi kita untuk dapat mengenal dan mencari Tuhan. Tetapi sekali lagi, banyak orang tidak mau bekorban untuk mencari Tuhan. Ada orang yang kegereja tiap minggu saja tidak mau. Kalau capek sedikit sudah malas pergi persekutuan. Kalau hujan sedikit sudah memutuskan untuk tidak ke gereja. Ironinya, banyak orang rela lembur dikantor untuk mendapatkan penghasilan lebih, tapi ketika meluangkan waktu bersekutu untuk mendapatkan berkat rohani malah tidak mau. Mengantuk sedikit sudah tidak mau bersaat teduh. Sedikitpun tidak ada kerelaan dan pengorbanan untuk mencari Tuhan. Orang Kristen seperti ini sebenarnya adalah orang Kristen yang tidak mengenal siapa Tuhan yang mereka sembah. Mereka tidak tau betapa berharganya Tuhan yang kita layani dan percaya.

Kita harus mengingat kembali bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu datang ke dunia untuk mencari kita. Ia rela meninggalkan takhta kemuliaannya untuk mencari orang-orang berdosa yang begitu hina. Bahkan untuk menemukan kita ia rela mengorbankan nyawanya sendiri di kayu salib. Untuk mencari Tuhan, orang majus itu rela mengorbankan banyak hal, baik waktu, tenaga, dan harta. Tapi untuk mencari manusia termasuk orang majus itu, Tuhan Yesus rela mengorbankan harga diri dan nyawanya sendiri di kayu salib. Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan harga dirinya? Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan nyawanya sendiri? Karena itu mari kita renungkan. Seberapa gigih kita mencari dia? Seberapa besar kerinduan kita untuk mengenal Dia? Seberapa jauh hasrat kita untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya? Inilah hal pertama, sebuah pemberian yang terbaik yang dapat kita berikan kepada Tuhan, yaitu dengan mencari Dia walaupun itu menuntut kerelaan akan banyak hal.

Tuesday, November 29, 2011

Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #3




Namun walau ‘raksasa’ itu tidak bisa kita hindari, respon untuk menghadapinya ada di tangan kita. Kalau kita melihat dari kisah ini kembali kita melihat bahwa walaupun raksasa yang dihadapi oleh umat Israel sama dengan raksasa yang dihadapi oleh Daud, tapi respon mereka berbeda. Pasukan Israel termasuk raja Saul memilih untuk menghadapi raksasa itu dengan berdiam diri. Mereka membiarkan ketakutan menguasai hati dan pikiran mereka. Bayangkan saja, kurang lebih selama 40 hari Goliat menentang umat Israel dan mengintimidasi mereka dengan perkataan-perkataan yang merendahkan. Tetapi selama 40 hari itu juga umat Israel tidak bergeming, dan selama 40 hari itu juga umat Israel mengalami ketakutan. Dimana pasukan Israel yang terkenal gagah perkasa, yang pernah mengalahkan bangsa-bangsa, dan yang ditakuti oleh bangsa-bangsa lain? Dimana Saul yang merupakan raja Israel, yang ketika dipilih menjadi raja dikatakan bahwa dari bahu sampai kepala ia lebih tinggi daripada semua orang Israel; yang katanya sudah membunuh beribu-ribu orang? Dimana kakak-kakak Daud yang terkenal gagah dan bertalenta itu? Tidak ada! Semuanya tidak bergerak. Nyali mereka seakan lenyap. Dan mereka membiarkan Goliat mengintimidasi mereka setiap hari, setiap malam, dan ketakutan itu mungkin sudah merasuki mimpi mereka setiap hari. Mereka lupa bahwa mereka memiliki Tuhan yang jauh lebih perkasa dari pada Goliat. Mata mereka hanya tertuju kepada masalah tersebut. Mereka melihat masalah itu lalu mereka memandang pada diri sendiri. Karena itu mereka tidak berani. Karena mereka merasa bahwa diri mereka terlalu kecil untuk Goliat.

Tapi respon dari Daud berbeda. Melihat ada tantangan dan raksasa yang mengintimidasi umat Israel, Daud tidak mau tinggal diam dan terus dibayang-bayangi oleh Goliat yang menakutkan itu. Saya kira mata Daud memandang juga kepada raksasa itu, dan ia melihat juga ada masalah yang besar. Dan saya kira iapun memandang pada dirinya, dan menemukan bahwa dirinya bukan siapa-siapa bagi Goliat. Dari postur tubuh jelas-jelas bagai bumi dan langit. Daud masih terlalu muda, sampai-sampai ketika dimasukin baju perang, baju perang itu menutupi seluruh tubuhnya.; dari perlengkapan perang jelas-jelas ia mendapati bahwa perlengkapannya kalah sakti dibanding senjata dan baju perang goliat, dan dari pengalaman saya kira Daud masih terlalu hijau, sementara Goliat sudah sangat matang. Ditambah lagi orang-orang sekitar yang meremehkan dia. Kakaknya seakan berkata kepada dia “Buat apa kamu kemari, Aku tau kamu pasti punya niat busuk, gak usah sok jago deh”. Bukan hanya kakaknya Eliab, tetapi Saul rajanyapun meremehkan dia dengan berkata “Kamu masih hijau dan muda, sedangkan dia waktu masih muda sudah berlatih keras.” Daud pun diremehkan oleh rajanya sendiri. Dan ketika ia berhapapan dengan Goliat, goliat pun mentertawakannya karena tubuhnya yang masih kecil dan usiannya yang masih muda. Saya kira semua ini dapat menciutkan nyali Daud. Mungkin ketika ia memandang Goliat, dan kemudian ia memandang dirinya sendiri, ia merasa seperti anjing chiwawa yang berhadapan dengan anjing rodweller. Tidak ada apa-apa, dan dia bukan siapa-siapa.

Namun Daud tidak mau berhenti sampai disana. Setelah ia memandang kepada raksasa itu dan memandang kepada dirinya sendiri, selanjutnya ia mengarahkan pandangannya kepada Tuhan yang perkasa. Dan ketika ia memandang Tuhan yang perkasa, ia tahu bahwa jika ia BERSAMA DENGAN TUHAN IA PASTI BISA MENGHADAPI GOLIAT. Karena itu dengan berani Daud berkata kepada Goliat “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu” (1 Sam 17:45). Di akhir cerita kita tahu, sesuatu keajaiban terjadi. Dengan sebuah batu yang diumban ia dapat merubuhkan Goliat yang perkasa itu. Batu itu melesak kencang pas membenam di dahinya dan menewaskannya. Bagi beberapa orang mungkin kemenangan itu cuma kebetulan, tapi tidak bagi Daud...bagi Daud itu karena jelas ada Tuhan yang ada bersama dengan dia.

Memang jika Tuhan ada bersama kita, adakah masalah yang terlalu besar untuk dihadapi? Karena itu dalam perjanjian baru PauluS pernah mengatakan “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)”. Bersama Tuhan kita bisa.

Sayangnya saat ini banyak orang Kristen yang menghadapi permasalahan kehidupannya seperti Saul dan pasukan Israel. Mereka melihat masalah yang besar itu, dan mereka memandang pada diri sendiri yang terbatas, tetapi mereka lupa memandang kepada Tuhan. Akibatnya banyak orang yang ketakutan, khawatir, dan terlalu cemas menghadapi masalahnya. Ada juga orang yang akhirnya terlalu berjerih lelah seorang diri mengandalkan kekuatan sendiri untuk mengalahkan masalah mereka.

Ada seorang teman saya yang dulunya adalah seorang yang aktif dalam pelayanannya, namun kini jarang sekali datang beribadah. Ketika saya ada kesempatan sharing-sharing sama dia, dia berkata demikian “Gak bisa Fong, saya baru berkeluarga, anak saya masih kecil; belum lagi saya baru merintis usaha saya; dan usaha yang baru saya rintis ini ada banyak sekali masalah; sekarang saya terjerat utang ini dan itu; saya harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan menyelesaikan utang-utang itu. Mana mungkin saya sempat ke gereja lagi.” Terus saya berkata kepada dia “Fren, bukannya kalau semakin kamu memiliki masalah dalam kehidupanmu semakin kamu harus mencari dan mengandalkan Tuhan?” Tetapi dia menjawab “Ia sih, tapi saat ini setiap waktu begitu berharga untuk saya lewatkan. Jika saya salah memakai waktu sebentar saja ke gereja, maka kehilangan 2 jam untuk pekerjaan saya. Karena itu saya ga bisa lagi sering-sering kegereja, apalagi melayani. Fiuhh,....andaikan Tuhan menciptakan waktu lebih dari 24 jam.” Sebagai teman yang baik saya berusaha untuk mengerti isi hatinya. Tapi apa yang terjadi setelah percakapan itu? Kurang lebih satu tahun kemudian, usahanya bukan semakin membaik, tetapi semakin berantakan, utang-utang semakin melilit, masalah keluarga juga semakin rumit. Sampai benar-benar ia kehilangan daya untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi justru karena itu ia jadi mengingat akan Tuhan. Ia mulai membaca Alkitab setiap hari, mulai rutin beribadah, bahkan ia sering bertanya kepada saya makna dari sebuah ayat. Ia mulai menjalin relasi yang erat dengan Tuhan. Kini ia sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak bisa menghadapinya. Mengatasi masalah tanpa Tuhan hanya mendatangkan kekhawatiran, ketakutan, dan masalah yang lebih besar. Tetapi bersama Tuhan ia merasakan bahwa perlahan demi perlahan, masalah-masalahnya mulai teratasi.

Saudara, kita memang membutuhkan Tuhan. Kita membutuhkan Tuhan untuk menhadapi semua masalah kehidupan ini. Mengandalkan kekuatan sendiri akan sangat terbatas. Kaki kita terlalu lemah untuk menghadinya. Dan tangan kita terlalu kecil untuk mengatasinya. Kita membutuhkan kehadiran Bapa kita yang di Surga. Karena itu mari, jangan pernah berjalan seorang diri. Kita boleh punya masalah yang besar, tapi ingat kita punya Allah yang jauh lebih besar dari masalah kita, dan yang begitu mengasihi kita. Berjalan sendiri kita tidak akan pernah mencapai garis finish. Namun berjalanlah bersama dengan Tuhan, karena bersama Tuhan kita bisa.

Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #2




Hal pertama yang harus kita sadari ialah: Menjadi anak-anak Tuhan bukan berarti kita terlepas dari segala persoalan kehidupan. Banyak orang yang mau menjadi Kristen dan pergi ke gereja oleh karena mereka berpikir, jika ia menjadi anak Tuhan, maka hidupnya akan aman, sukses, kaya raya, dan tidak akan mendapatkan permasalahan dalam hidupnya. Saya kira itu salah besar. Kenyataannya, menjadi anak Tuhan juga tetap akan diperhadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan.

Hal ini terefleksi dari kehidupan umat Israel. Dari awal umat Israel yang adalah umat pilihan Allah harus menghadapi banyak persoalan-persoalan. Berawal dari perbudakan di Mesir yang begitu menyiksa. Kemudian setelah mereka berhasil keluar dari perbudakan, mereka masih harus menghadapi tantangan berikutnya, yaitu menjalani kehidupan di padang gurun. Menjalani hidup di padang gurun itu sangat sukar. Bayangkan saja kebosanan, kekeringan, kekurangan pangan, cuaca terik, tidak ada kehidupan dsb. Kalau bisa memilih dapat dipastikan bahwa tidak ada orang yang mau hidup di padang gurun. Namun Tuhan menjanjikan bahwa suatu saat mereka akan memasuki tanah perjanjian, yaitu sebuah tempat yang istimewa, kaya akan susu dan madu. Di tempat itu mereka tidak akan mengalami kegersangan, dan mereka tidak akan kehausan seperti waktu mereka di padang gurun. Tetapi setelah 40 tahun mereka mengitari padang gurun, dan kemudian memasuki tanah perjanjian yang penuh dengan susu dan madu tersebut, apa yang terjadi? Apakah ketika mereka sudah ditanah perjanjian hidup mereka lepas dari masalah? Tidak! Di tanah perjanjian pun mereka harus menghadapi banyak tantangan dan persoalan.

Salah satu musuh itu ada dalam perikop ini, yang begitu sering kita dengarkan sejak kecil. Pada waktu itu, pada zaman raja Saul memimpin, salah satu musuh besar bangsa Israel adalah orang-orang Filistin. Bertahun-tahun lamanya bangsa Filistin melakukan teror terhadap umat Israel. Tapi dari sekian banyak pertempuran yang mereka lakukan, tidak pernah mereka menghadapi ketakutan yang besar seperti dalam perikop ini.

Alkitab mengatakan bahwa ada seorang raksasa, seorang pendekar, yang kita kenal bernama Goliat maju menantang duel pasukan Israel. Sudah kebiasaan dalam peperangan di Timur Tengah waktu itu dimana peperangan bisa diwakilkan oleh jagoan terhebat masing-masing bangsa. Jagoan yang menang maka akan menjadi kemenangan bangsa. Dari pihak Filistin majulah seorang pendekar menakutkan dan jago berperang yang bernama Goliat. Alkitab menjelaskan bahwa ia seorang yang sangat besar. Tingginya 6 hasta sejengkal. Itu kurang lebih 3 meter (2 kali tinggi saya). Bukan hanya besar, dikatakan sejak muda ia sudah berlatih militer. Dapat dibayangkan betapa kuatnya dia dan betapa besarnya otot-otonya. Terlebih lagi, ia memiliki perlengkapan senjata yang kuat dan tebal. Baju jirahnya saja hampir mencapai 5000 syikal atau 90kg. Senjatanya kurang lebih 50 kg. Semua badannya tertutup dengan baju perang yang kokoh. Coba bayangkan jika kita berhadapan dengan orang seperti ini. Siapa berani menghadapi raksasa seperti demikian? Menghadapinya sama saja cari mati. Israel sedang menghadapi seorang perkasa yang besar. Lebih tepatnya Israel sedang menghadapi masalah besar. Alkitab mengatakan selama 40 hari Goliat maju untuk menantang mereka dengan perkataan-perkaataan yang menghina dan merendahkan. Ia menghina barisan Israel, ia menghina bangsa Israel, terlebih ia menghina Allahnya Israel. Selama 40 hari itu jugalah umat Israel sangat terintimidasi dan hidup dalam ketakutan.

Kenyataan ini sekali lagi mengingatkan kita, bahwa hidup sebagai anak-anak Tuhan tidak berarti kita dapat lepas dari segala persoalan-persoalan kehidupan. Bukankah ada banyak “raksasa-raksasa” yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini? Raksasa ini tidak tampak kasat mata dan tidak menggunakan pedang. Raksasa itu bisa jadi orang-orang yang ada disekitar kita. Orang ini begitu mengitimidasi kita dan membuat hidup kita menjadi tertekan. Atau mungkin orang-orang itu adalah orang dekat kita, yang begitu kita khawatirkan. Mungkin keadaan anak atau anggota keluarga yang membuat kita cemas. Raksasa itu bisa jadi berbicara tentang kegagalan-kegagalan dalam karir kita. Atau dapat juga hadir dalam bentuk kesusahan-kesusahan ekonomi. Iapun dapat menjelma lewat sakit-penyakit yang harus kita hadapi. Dan raksasa itu bisa hadir lewat masalah-masalah pribadi dimana hanya kita yang tau. Ada banyak raksasa-raksasa dalam hidup kita. Dan yang pasti semua raksasa tersebut begitu mengintimidasi kita. Ia terus berteriak di tengah lembah kehidupan dan mencibir kita. Ia memberi rasa takut ketika kita bangun dipagi hari. Ia memberikan rasa cemas sebelum kita mengakhiri hari kita. Dan sepanjang hari kita hidup dalam kekhawatiran. Sekali lagi, raksasa itu akan ada terus berdampingan dalam hidup kita. Dan kita tidak dapat menghindarinya.

Bersama Tuhan Pasti Bisa (1 Samuel 17) #1




Waktu saya masih kecil saya paling takut jika terjadi mati lampu di malam hari. Karena mendadak suasana jadi panas dan saya tidak dapat melihat apa-apa karena itu saya menjadi ketakutan. Saya kira rata-rata anak-anak takut akan hal yang sama. Acapkali setiap mati lampu saya meresponinya dengan berteriak dan menangis ketakutan. Papa saya yang kamarnya persis di sebelah kamar biasanya selalu terbangun karena tangisan saya. Dan saya ingat betul, biasanya dia dari sebelah sudah teriak “Dek....sudah jangan nangis...” dan segera ia akan menghampiri kamar saya dan berkata “Sudah tenang ada papa”. Kemudian biasanya papa saya akan membawa saya kekamarnya dan saya ditidurkan disampingnya, di antara papa dan mama saya. Anehnya setiap kali saya tidur di dekatnya, perasaan takut itu lenyap. Walau lampu di rumah belum juga menyala, saya tetap dapat tidur dengan nyenyak dalam ketenangan dan kedamaian. Dari hal itu saya melihat ketenangan itu didapat bukan ketika semua berjalan dengan baik. Namun ketenangan dan keamanan itu didapat ketika ada seorang yang sungguh-sungguh dapat dipercaya, yang jauh lebih kuat dari kita, dan yang mengasihi kita, ada bersama dengan kita.

Sadar atau tidak, kitapun membutuhkan Tuhan yang adalah Bapa di Surga untuk menolong hidup kita. Dunia ini adalah dunia yang dikuasai oleh kegelapan oleh karena dosa. Sejak manusia jatuh dalam dosa, Firman Tuhan mengatakan bahwa Tanah menjadi terkutuk. Dan manusia dikatakan akan mengalami kesakitan dan akan berjerih lelah. Ditambah iblis yang adalah bapa dari segala kegelapan itu akan terus mencobai kita. Oleh sebab itu hidup kita jadi penuh dengan persoalan dan permasalahan yang tidak pernah habis-habis. Bencana-bencana yang menimpa; krisis moneter yang mencekik dan merampas waktu kita; masalah keluarga yang semakin hari semakin kompleks; masalah ekonomi; masalah pendidikan dan karakter anak-anak atau cucu kita; belum lagi sakit penyakit yang tidak pernah berhenti berkembang dan menyerang seluruh manusia tanpa ampun; bahkan mungkin banyak juga masalah-masalah dalam diri kita yang begitu menusuk seperti duri dalam daging. Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang menggerogoti dunia kita saat ini. Tak heran kita sering menjadi takut, khawatir, cemas, tak berdaya menghadapi persoalan-persoalan.
Oleh sebab itu, dalam kehidupan di dunia ini kitapun memerlukan seorang Bapa yang sungguh dapat dipercaya, yang jauh lebih kuat dan berkuasa dari kita, yang mengasihi kita, dan yang ada bersama dengan kita. Keberadaan ayah didunia ini terbatas. Mereka bisa menjadi lemah dan tua. Dan mereka tidak selalu bisa ada bersama dengan kita. Namun ada kabar baik untuk kita. Bagi kita umat yang percaya, kita memiliki Tuhan yang kepadanya kita dapat memanggil Abba Bapa. Kita punya Tuhan yang mengasihi kita. Dan ketika kita berjalan bersama Tuhan, kita akan bisa menghadapi setiap permasalahan dan persoalan tersebut. Itulah tema yang ingin kita renungkan hari ini: “Bersama Tuhan Pasti Bisa”.

Sunday, November 13, 2011

PENDENGAR FIRMAN SEMESTINYA (1 Raja 22)



Seorang kawan pernah mendatangi saya setelah selesai kebaktian minggu dan berkata demikian kepada saya: “Wah, khotbah hari ini bagus ya, lucu....kita jadi tidak mengantuk. Semestinya hamba Tuhan kita harus berkhotbah seperti itu, sehingga kita semangat datang ke kebaktian. Kalau khotbah itu jangan yang berisi teguran dan perintah-perintah saja. Kita sudah banyak pergumulan, jangan lagi dituntut ini itu, ditegur ini itu, dsb. Kita ingin disegarkan.” Awalnya sebagai seorang yang berusaha menyelami pemikiran kawan saya ini, saya merasa perkataan ini ada benarnya. Janganlah Firman Tuhan yang disampaikan malah menekan jemaat yang butuh penghiburan. Tetapi setelah lama-lama direnungkan, saya kira tidak juga sepenuhnya tepat. Mengapa demikian? Karena Firman Tuhan yang kita meliki bukan hanya bersifat dan berisi sesuatu yang menghibur dan menguatkan saja, tetapi di dalam Firman Tuhan ini juga terdapat teguran-teguran, peringatan-peringatan, untuk mengoreksi dan mengintropeksi diri kita akan kesalahan yang kita perbuat. Karena itulah Yakobus mengatakan bahwa Firman itu seperti cermin yang akan memberitahukan kepada kita akan kesalahan kita. Itu juga sebabnya Paulus berkata kepada Timotius bahwa “Firman yang diilhamkan Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik seseorang dalam kebenaran”. Dan untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, serta mendidik seseorang itu tentu saja tidak hanya dengan Firman yang lembut, tetapi diperlukan Firman yang keras untuk mendisiplin seseorang.

Saya sendiri tertarik serta tertegur ketika merenungkan kejadian dalam 1Raja-raja 22 mengenai nabi Tuhan yang melawan nabi-nabi palsu. Dikisahkan raja Yehuda Yosafat mendatangi Raja Israel yaitu Ahab untuk berdiplomasi urusan negara mereka. Dan timbullah sebuah perencanaan untuk memerangi Ramot-Gilead, daerah yang berada didekat mereka. Tetapi Yosafat (raja Yehuda) adalah seorang yang takut akan Tuhan (ay.43). Berbeda dengan raja Ahab yang begitu jahat sampai-sampai Alkitab mengatakan tidak ada raja yang lebih jahat daripada Ahab. Karena itu Yosafat meminta Ahab untuk menanyakan Firman Tuhan lewat nabi-nabi sebelum mereka bertindak. Sudah kebiasaan dan cara Tuhan pada jaman itu bahwa Tuhan seringkali berfirman lewat para nabi, dan memang ada kelompok dan kumpulan para nabi pada waktu itu.

Lantas Ahab mengumpulkan 400 nabi-nabinya untuk menanyakan apakah mereka boleh pergi berperang melawan Ramot Gilead apa tidak. 400 nabi ini serempak dan sepakat berkata bahwa Tuhan berfirman kepada mereka bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Israel. Sungguh sebuah firman yang enak didengarkan. Kemenangan....Kesuksesan...Kejayaan... bukankah itu berita yang menyenangkan?
Tapi 400 nabi-nabi itu sepertinya merupakan nabi-nabi yang dipilih oleh raja Ahab sendiri, yaitu nabi-nabi yang disukai karena suka menubuatkan yang baik-baik, yang sedap didengar, yang manis di hati. Dan para nabi-nabi ini juga adalah nabi-nabi yang ingin mendapat jabatan yang baik di mata raja, karena itu mereka selalu mengatakan hal yang baik di hadapan raja, yang manis di dengar, dan yang menyukakan telinga raja....mungkin agar mereka mendapat posisi yang cukup baik di dalam istana.

Hal ini terlihat ketika raja Yosafat menanyakan kepada raja Ahab “Adakah nabi yang lain dari 400 orang ini” Ahab dengan jujur mengatakan “Masih ada 1 lagi.... tapi saya membenci dia karena dia tidak pernah menubuatkan yang baik....Nama orang itu adalah Mikha.” Jadi nabi Mikha tidak terhitung sebagai nabi pilihan raja, karena nubuatannya dianggap selalu tidak enak didengar. Setelah Ahab mengatakan demikian, raja Yosafat tetap meminta untuk memanggil nabi Mikha. Ketika utusan Ahab menjemput nabi Mikha, utusan itu mengatakan kepada Mikha demikian di ayat 13 “Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.”

Dan apa yang terjadi setelah nabi Mikha datang ke dalam istana, ia menyampaikan suara Tuhan yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh 400 nabi tersebut. Ia memberitakan berita hukuman atas semua kejahatan yang dilakukan oleh Ahab. Dan oleh karena berita itu ia ditampar oleh nabi yang lain, dan iapun dikucilkan oleh raja Ahab. Dari sini kita melihat jelas bahwa raja Ahab tidak suka mendengar Firman Tuhan yang tidak menyenangkan hatinya. Dari sini kita juga dapat melihat bahwa mayoritas para nabi juga terjebak untuk menyampaikan berita Firman yang menyenangkan saja. Mereka lupa bahwa firman Tuhan juga bersifat mengkoreksi hidup kita.

Ironinya bukan hanya pada zaman itu, kalau kita perhatikan jaman sekarangpun masih banyak jemaat yang seperti Ahab seperti kawan saya tadi. Mereka tidak menyukai Firman yang keras yang menegur mereka. Mereka tidak suka Firman yang mengkoreksi mereka. Tetapi mereka lebih suka Firman Tuhan yang menyukakan telinga, yang memberikan kabar suka selalu seperti berkat-berkat Tuhan, kesuksesan, kekayaan dsb. Ironinya banyak juga pembawa Firman yang ingin menyenangkan telinga pendengarnya sehingga yang disampaikan selalu berupa firman-firman yang enak didengar, yang lembut, yang menghibur, tanpa teguran dan menuntut sama sekali.

Mari kita kembali melihat apa yang terjadi dengan Ahab. Karena ia tidak mau mendengar suara firman Tuhan yang sudah memperingatkan dia berkali-kali. Akibatnya ketika ia maju berperang, ia harus tewas terbunuh dalam peperangan itu. Tuhan sudah mengingatkannya melalui nabi Mikha. Sebenarnya Ahab punya kesempatan untuk bertobat akan kesalahan-kesalahannya ketika di tegur oleh nabi Mikha. Tapi karena keengganannya mendengarkan Firman yang menegur itulah yang akhirnya membinasakan dirinya sendiri.

Memang sesuatu yang nyaman itu menyenangkan. Namun pada umumnya yang nyaman itu tidak baik untuk diri. Makanan yang paling enak acapkali menjadi makanan yang paling berbahaya untuk tubuh kita bukan. Demikian juga kisah raja Ahab ini harusnya menjadi peringatan bagi kita; agar tidak menuntut firman yang nyaman didengar, yang menyukakan telinga kita, yang membuat kita ketawa saja. Namun kejarlah Firman yang sejati, yang dapat membentuk hidup kita, mengoreksi kekeliruan yang kita perbuat, yang mengarahkan kita untuk serupa dengan Kristus. Jadilah orang Kristen yang memiliki mental tidak hanya menuntut dan mau menerima Firman Tuhan yang mudah dimengerti, tapi menuntut diri untuk mengerti firman yang susah dimengerti. Karena mental seperti inilah yang akan membawa kita memiliki kehidupan yang lebih baik di mata Tuhan. Memang dibutuhkan kerendahan hati untuk memiliki sikap ini. Berdoalah setiap kali kita hendak mendengarkan Firman dan katakan kepada-Nya, sumber inspirasi, untuk menolong kita mengerti setiap Firman yang dibaca atau diberitakan. Itulah bagaimana seorang Kristen sebagai pendengar Firman semestinya.