Showing posts with label Salib. Show all posts
Showing posts with label Salib. Show all posts

Wednesday, April 07, 2010

Dia Bangkit Ku Ada Hari Esok (1 Tes. 4:13-14)



(Khotbah Penghiburan)

1 Tesalonika 4:13
Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal (sleep), supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
1 Tesalonika 4:14
Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.



Saudaraku, barusan ini kita baru saja merayakan Jumat Agung dan Paskah di mana kita kembali mengingat akan Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kemarin sewaktu kita mengadakan ibadah paskah, saya sangat terharu dengan sebuah lagu yang begitu indah. Ref lagu itu mengatakan demikian:

“Yesus hidup kini tetap hidup; Ia sertaku Ia dekatku jalan yang kutempuh; Yesus hidup ku memasyurkan-Nya….; Kau bertanya Ia hidupkah?.....Benar….Yesus hidup.”

Penulis lagu ini hendak menyadarkan setiap kita yang menyanyikannya bahwa Tuhan kita sungguh-sungguh hidup. Ia bukan Tuhan yang mati. Ia juga bukan Tuhan yang ada pada 2000 tahun silam saja. Tetapi Ia adalah Tuhan dari hari kemarin, saat ini, juga yang akan datang. Dia adalah Tuhan atas seluruh sejarah kehidupan manusia. Memang Alkitab menuliskan bahwa Yesus pernah mati terpalang di atas kayu salib. Namun tidak berhenti disana, Alkitab pun mencatat pada hari yang ketiga Ia bangkit kembali dari antara orang mati karena Ia adalah Allah. Ia adalah Allah yang hidup!

Saudara, sebenarnya kebangkitan Tuhan ini memiliki signifikansi bagi kehidupan orang Kristen saat ini, terutama bagi keluarga yang sedang baru saja berduka pada hari ini.

Kebangkitan Tuhan menyatakan kepada kita bahwa ada kebangkitan orang mati.

Seringkali kita sebagai umat Kristen sudah mengetahui akan adanya kebangkitan orang mati. Namun sayangnya seringkali pengetahuan itu hanya dikemas dalam bentuk teori tapi tidak disertai dengan keyakinan yang teguh dalam hati kita.

1 Tesalonika 4:13-14 berbicara akan hal ini. Surat Tesalonika ini ditulis kepada jemaat Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dari orang-orang kafir. Banyak orang Kristen yang akhirnya harus mati sebagai martir karena imannya. Banyaknya peristiwa kematian dihadapan mereka menyebabkan mereka menjadi bertanya-tanya akan kehidupan setelah kematian. Bukan hanya bertanya-tanya, banyak dari mereka yang akhirnya kehilangan pengharapan akan hal itu. Oleh sebab itu Paulus menegur mereka. Di ayat 13 Ia mengatakan “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.”

Mengapa Paulus mengatakan demikian? Selanjutnya di ayat 14 ia mengatakan “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” Inilah alasannya. Kebangkitan Tuhan menyatakan kepada kita bahwa ada kebangkitan orang mati. Saudara, Allah kita adalah Allah yang maha kuasa. Dari zaman PL Allah sudah menunjukkan kepada kita bahwa Ia berkuasa membangkitkan orang mati (contoh anak seorang janda yang dibangkitkan oleh Elisha). Dalam PB kita bisa melihat Lazarus yang dibangkitkan oleh kuasa Tuhan. Dan kebangkitan Tuhan sendiri telah menunjukkan kepada kita akan kemahakuasaan-Nya. Ia bangkit dan Hidup! Ini menunjukkan bahwa semua kita yang percaya kepada Tuhan pun akan dibangkitkan. Bukan kebangkitan fisik yang fana, namun kita akan diberi tubuh yang baru dalam sebuah kehidupan yang baru juga.

Jika demikian, janganlah kita berduka seperti orang yang tidak memiliki pengharapan. Kalau kita perhatikan, Paulus bukannya menegur untuk tidak boleh berduka sama sekali. Berduka karena kehilangan tentu tidak dapat kita elakkan. Tapi ia menegur setiap kita yang berduka seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Seakan-akan tidak ada lagi kehidupan setelah kematian.

Saudara, jika Yesus telah mati dan bangkit, maka kita orang percayapun kelak akan dibangkitkan dan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia yang telah lebih dahulu dibangkitkan. Jika Yesus tidak dibangkitkan, mungkin kita bisa sangat berduka. Karena jika Yesus mati, maka kitapun tidak ada kehidupan lagi. Tetapi sekali lagi, karena Ia sudah bangkit dan hidup, maka kitapun percaya bahwa orang yang sudah percaya kepada Tuhan akan dibangkitkan juga.

Saudara, ini merupakan penghiburan yang luar biasa bagi kita. Orang yang telah meninggalkan kita kini bersama-sama dengan Tuhan, menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan. Mungkin saat ini kita masih dalam keadaan duka. Tidak apa-apa, itu proses yang sangat wajar dan normal yang harus kita lalui. Manusia pasti berduka karena kehilangan orang yang kita kasihi. Tuhan Yesus pun pernah menangis sewaktu kematian Lazarus. Tapi tentunya kita tidak boleh berhenti dalam kedukaan saja, tentunya kita juga harus bersukacita, karena orang yang kita kasihi kini ada bersama-sama dengan Tuhan yang Hidup. Itulah pengharapan kita orang Kristen.
Kebangkitan Tuhan bukan hanya menunjukkan bahwa kebangkitan orang mati itu ada.

Namun kebangkitan Tuhan juga menyatakan bahwa Tuhan hadir beserta dengan kita.

Hanya orang yang hidup yang dapat menyertai kita. Sewaktu kekasih kita masih ada, ia akan menyertai kita. Tetapi jika kekasih atau orang yang kita kasihi sudah meninggal maka mereka tidak lagi dapat beserta dengan kita. Ss, ketika Tuhan bangkit dari kematian, dan hidup untuk selama-lamanya, maka selama hidup kita Ia akan menyertai kita. Kita adalah orang yang sangat dikasihi dan disayangi-Nya. Orang yang percaya kepada-Nya merupakan biji mata-Nya yang sangat berharga. Karena itu Tuhan kita yang sudah bangkit dan hidup selamanya itu akan senantiasa beserta kita.

Saudara, ini merupakan penghiburan bagi kita. Ia ada bersama-sama dengan kita. Karena itu di masa-masa duka ini, mari kita menyerahkan semua kesedihan dan pergumulan kita kepada-Nya. Karena Ia hidup Ia bisa diandalkan. Karena Ia bangkit, maka kita bisa bersandar kepada Dia. Mari datang kepada-Nya. Bawa segala kesedihan kita kepada-Nya. Kira-Nya Tuhan menghibur kita semua dengan kasih-Nya yang limpah.
GBu

Friday, April 02, 2010

Masukkan Pedangmu (Mat. 26:51-56)



Dalam sepanjang sejarah gereja, kekristenan pernah memasuki masa-masa kelam bahkan dapat dikatakan masa yang terkelam. Sekitar abad 13 M (ketika gereja masih satu) kebenaran Firman Tuhan dibuang oleh gereja dan diganti dengan ajaran-ajaran yang diciptakan sendiri oleh petinggi-petinggi gereja yang sangat mendominasi gereja pada waktu itu. Para imam menyuarakan untuk mengangkat pedang melawan semua orang yang menentang doktrin-doktrin yang mereka buat. Bersamaan dengan itu terjadi jugalah perang salib, di mana dengan berbaju jirahkan salib mereka membunuh orang non Kristen dengan pedang mereka.

Masa-masa itu merupakan masa yang penuh kalbu. Banyak orang Kristen yang menjadi martir karena dibunuh oleh pemimpin gereja sendiri karena dianggap melawan doktrin yang ditetapkan. Orang-orang Kristen sejati malah dibinasakan. Kekudusan, kesalehan, kerendahhatian, dan kemurahan mulai disingkirkan. Para imam menciptakan doktrin yang hanya memuaskan fisik serta status mereka. Setiap orang yang tidak setuju dengan doktrin mereka akan di cap bidat dan kemudian ditangkap. Orang-orang tersebut diberi kesempatan untuk ‘bertobat’ serta bersumpah untuk mengikuti doktrin mereka; jika tidak mau maka pihak gereja akan mengangkat pedang untuk membunuh orang-orang tersebut.

Inilah masa-masa terkelam dalam sejarah gereja. Ketika kekerasan dikumandangkan dan kasih dikandangkan maka gereja tidak lagi dapat disebut sebagai gereja. Gereja dapat dikatakan gagal jika unsur kasih lenyap dari teori yang diajarkan dan praktisi yang dilakukan. Mereka gagal karena mereka lupa bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang penuh dengan welas asih. Jika Tuhan yang adalah kepala merupakan Tuhan yang maha kasih maka gereja yang merupakan anggota tubuh itu juga harus memiliki belas kasihan. Karena itulah kasih menjadi hukum yang terutama dari seluruh hukum yang ada. Seluruh oknum yang ada di dalam sebuah gereja wajib / kudu memiliki dan menerapkan kasih.

Bacaan kita hari ini mengajarkan akan hal ini. Semalaman Yesus berdoa dan bergumul berat akan dosa yang harus dipikul-Nya. Sesudah Yesus berdoa, kira-kira ketika hari subuh menjelang pagi, Yesus dan murid-murid-Nya didatangi oleh serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung. Awalnya murid-murid tidak tau apa maksud kedatangan orang-orang tersebut. Namun dengan pentung dan pedang yang terdapat di tangan mereka, kira-kira murid-murid sadar bahwa akan terjadi tindakan kekerasan waktu itu. Memang itulah yang terjadi. Setelah Yudas mencium Yesus, beberapa pengawal yang membawa pedang segera menangkap Yesus. Para murid menjadi panik. Sehingga ada salah satu dari mereka (dalam kitab Yohanes disebutkan namanya, yaitu Petrus) langsung berusaha membela guru sekaligus raja mereka dengan melibaskan pedangnya dan mengenai telinga hamba imam besar sampai putus. Tetapi tindakan itu tidak berkenan di mata Yesus sehingga Ia menegur Petrus dengan keras.

Jika kita perhatikan, ada perbedaan antara sikap yang ditunjukkan oleh Petrus sebagai murid Yesus dengan harapan Yesus tentang bagaimana seorang murid Yesus seharusnya bersikap.

Petrus memberikan contoh seorang murid yang fanatik. Ia membalas kekerasan dengan kekerasan. Ketika musuh membawa pedang, ia pun menggunakan pedangnya untuk melawan. Ia menjadikan dirinya seperti seorang pengawal kerajaan dunia yang sedang membela rajanya. Sehingga cara yang dilakukanpun adalah cara dunia, yaitu kekerasan dibalas dengan kekerasan. Tindakan Petrus seakan-akan merupakan bukti kesetiaannya kepada Tuhan.

Namun sayang Yesus tidak mengkehendaki pembelaan seperti itu. Yesus memberikan contoh bagaimana sikap mengasihi. Ketika pengawal yang bertentengkan pedang menangkap Tuhan Yesus dengan kekerasan, Yesus malah menyembuhkan telinga orang tersebut. Padahal siapakah pengawal imam itu? Mungkin ia adalah orang yang sangat membenci Yesus. Tetapi Yesus tetap konsisten dengan pengajaran yang pernah diberikan-Nya “kasihilah musuh-musuhmu.” Yesus membalas kekerasan dengan kasih. Itu perbedaan yang pertama. Petrus dengan fanatik menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan, namun tidak mengenakan kasih yang merupakan inti ajaran Tuhan Yesus.

Saudara, saya pernah membesuk seorang anak remaja yang terbaring di rumah sakit. Dia terkena penyakit yang cukup aneh sehingga kakinya menjadi lumpuh. Kita mengunjungi dia untuk menguatkan dan memberikan penghiburan kepadanya. Namun tiba-tiba kita kedatangan seorang ibu yang tidak dikenal. Ia langsung masuk dan berkata “bolehkah saya mendoakan anda? Apakah saudara agama Kristen?” Anak remaja itu mengatakan iya. Kemudian karena sesama Kristen maka kami membiarkan ibu itu masuk untuk mendoakan anak pemuda tersebut. Kami pikir tidak ada masalah, toh sama-sama percaya sama Tuhan. Tapi sebelum berdoa ibu ini bertanya “kamu sakit apa? Oo, lumpuh ya. Itu pasti karena kamu sudah berbuat dosa. Kalau lumpuh ini biasa hubungannya karena kamu suka tidak hormat sama orang tua. Terus kamu pasti juga berkumpul sama teman-temanmu yang nakal. Kamu harus bertobat!.” Mendengar ucapan ibu ini saya sangat terkejut. Dan sejujurnya saya marah, apalagi setelah melihat anak remaja itu tampak semakin tertekan. Seakan-akan sudah jantu tertimpa tangga. Ibu ini semangat dalam melayani Tuhan dengan memasuki setiap kamar di RS satu persatu. Namun jika semangat itu tidak diimbangi kasih buat apa.

Sebuah pelayanan, kesetiaan, atau pengorbanan kita untuk Tuhan, jika tidak diikuti dengan kasih Kristus maka kita menjadi sama seperti Petrus yang begitu fanatik namun tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Yesus, yaitu kasih. Karena itu jika kita melayani mari kita melayani dengan kasih. Jika kita memimpin mari kita memimpin dengan kasih. Jika kita berkorban, mari kita berkorban karena kasih. Jika kita setia, mari kita dasarkan kesetiaan itu dari kasih kita. Kita sebagai murid-murid Kristus jangan pernah kehilangan apa yang namanya kasih. Jika kita sudah tidak memiliki kasih, mungkin kita harus bertanya “apakah sungguh saya adalah murid Kristus?”

Perbedaan yang kedua adalah perbedaan dalam ketaatan. Petrus dan Tuhan Yesus sama-sama menjalankan sebuah ketaatan. Namun perbedaannya ketaatan Petrus didasari atas kepentingannya dagingnya sendiri sedangkan ketaatan Yesus dilakukan atas kehendak Bapa.

Dalam bayangan Petrus, seorang Mesias seperti Yesus harus bertahta menjadi raja sama seperti Daud. Yesus tidak boleh mati. Yesus harus bertahta. Karena itu Petrus membela Petrus mati-matian. Petrus lupa bahwa sudah 4 kali Yesus memberitahukan bahwa seorang Anak Manusia akan diserahkan dan mati dikayu salib. Ss, tentu juga masih mengingat ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan menderita dan diserahkan kepada imam-imam; Petrus segera menarik tangan Yesus dan berkata “Tuhan kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu tidak akan menimpa Engkau.” Tapi Tuhan menengking Petrus secara keras dengan perkataan “enyahlah Setan.” Petrus tidak dapat menangkap apa yang menjadi kehendak Allah. Dia hanya taat terhadap konsep yang diciptakannya sendiri.

Tapi bukan ketaatan seperti itu yang dikehendaki Tuhan. Ketaatan kepada kehendak Allahlah yang dikehendaki-Nya. Saudara, bukannya Yesus tidak dapat melawan kekerasan dengan kekerasan. Betapa mudahnya bagi Dia untuk membinasakan semua orang tersebut. Dikatakan bahwa Ia bisa memanggil lebih dari 12 pasukan malaikat. Pasukan ini dalam bahasa Yunani di sebut juga Legion. Dalam budaya Romawi, 1 legion memiliki 6000 prajurit. Jadi jika Yesus mengumpakan ada lebih dari 12 legion malaikat maka diperkirakan ada lebih dari 72.000 pasukan malaikat. Dalam Yesaya 37:36 seorang malaikat Tuhan dapat membunuh 185.000 tentara Asyur. Ini menunjukkan bahwa 1 malaikat memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan 72.000 malaikat maka seluruh dunia pun tidak ada yang bisa melawan Tuhan. Pembelaan Petrus menjadi tidak ada artinya bukan?

Tapi sekali lagi, bukan hal itu yang menjadi tujuan Yesus datang ke bumi. Yesus datang ke dunia untuk memenuhi kehendak Bapa sekaligus menggenapkan nubuatan kitab suci, yaitu kehendak Bapa agar Ia menyelamatkan manusia melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Itulah sebabnya Ia tidak melawan sama sekali ketika Ia ditangkap. Karena memang sejak semula itulah yang menjadi tujuan-Nya ke dunia ini. Yaitu untuk tujuan keselamatan. Inilah ketaatan kepada kehendak Bapa. Dan ketika Ia disalib, itulah puncak dari ketaatan Yesus.

Saudaraku, Yesus sudah mati bagi kita. Ia telah menunjukkan sejak semula akan kasih-Nya yang besar kepada manusia. Sehingga ia menjalankan ketaatan-Nya kepada Bapa. Dia taat walau ia harus menderita. Ia taat walau Ia harus terpisah dari sang Bapa. Ia taat kepada kehendak Bapa-Nya. Sekali lagi itu karena kasih-Nya yang sangat besar bagi kita.

Peristiwa pemotongan telinga di taman Getsemani ini memberikan pelajaran penting bagi setiap kita. Yang pertama mari kita syukuri akan karya kasih dan ketaatan-Nya. Kasih dan ketaatan-Nya membawa kita terlepas dari segala dosa. Mari kita berysukur atas semua karya-Nya bagi kita. Syukurilah dengan menjadi murid-murid yang serupa dengan Dia. Milikilah hati yang penuh kasih. Mari kita jalani kehidupan kita dengan penuh kasih. Melayanilah dengan penuh kasih. Lakukanlah segala sesuatunya dengan dasar kasih. Bukan hanya dengan kasih, mari kita lakukan panggilan kita dengan ketaatan. Bukan ketaatan kepada visi golongan atau visi pribadi kita, tapi mari kita taat sesuai dengan kehendak Bapa. Apa yang menjadi kehendak Bapa, yang telah difirmankan-Nya dalam Alkitab, itulah yang kita taati. Biarlah kita boleh menjadi murid-murid Tuhan yang berkenan dihadapan-Nya. GBu

Monday, March 29, 2010

The Agony Of Christ (Yes. 52:13-53:6)



Setiap kehidupan manusia tidak pernah lepas dari penderitaan. Jika berbicara mengenal penderitaan maka saya menemukan ada 3 jenis atau tipe penderitaan.

Pertama, penderitaan karena alam. Penderitaan ini merupakan penderitaan kosmis yang ada sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Firman Tuhan mengatakan semenjak manusia jatuh dalam dosa maka tanahpun menjadi terkutuk. (Kejadian 3:18). Sejak terkutuknya tanah, maka alam sering menjadi sumber penderitaan manusia. Misalkan kejadian tsunami di Aceh tahun 2004. Beberapa banyak orang yang menjadi gila karenanya. Kehilangan orang yang terkasih, kehilangan harta benda, dan kehilangan masa depan sangat memukul orang-orang yang ada di Aceh. Penderitaan ini dapat diklasifikasikan sebagai penderitaan karena alam.

Kedua, penderitaan karena kesalahan diri sendiri. Kita adalah manusia yang tidak dapat lepas dari kesalahan. Kesalahan-kesalahan inilah yang terkadang menjadi sumber penderitaan kita. Misalkan saja ketika kita berbuat dosa. Seringkali dosa tersebut membuat kita merasa bersalah bukan? Dan akhirnya jiwa kita tertekan karena kesalahan kita sendiri. Saya mengenal seorang rekan yang kehidupan masa lalunya sangat rusak. Karena pengaruh lingkungan sejak masih duduk di bangku SMP yang buruk, ia akhirnya menjadi kecanduan narkoba. Awalnya hanya ingin coba-coba, lama-lama ketagihan, dan menjadi kecanduan. Beberapa tahun kemudia ia menjadi orang yang sangat menderita. Uangnya habis untuk membeli obat. Dia jadi suka mencuri. Dan hidupnya berakhir dalam penjara. Memang akhirnya teman saya menyesal. Namun penyesalan itu terlambat, karena ia harus menderita karena kesalahanya sendiri. Misal juga ketika kita mengeluarkan emosi-emosi yang tidak perlu, akhirnya sikap emosi itu membuat orang-orang dekat kita menjauh dari kita. Akhirnya kita menyesal dan sedih. Kesedihan ini disebabkan karena kesalahan kita sendiri

Ketiga, penderitaan karena orang lain. Banyak di antara kita yang menderita akibat orang lain. Orang lain ini bisa jadi suami kita, tetangga, teman, atau orang lain yang tidak kita kenal. Mungkin kita sudah menjalankan hidup ini dengan baik, namun karena ada orang lain yang berbuat jahat, maka kita pun turut menderita. Misalkan ada suami atau istri kita selingkuh, maka pasangannya akan merasakan derita yang sangat karena ulah orang lain. Misal juga kejadian bom mariot beberapa tahun silam. Banyak orang yang tidak bersalah akhirnya harus terluka parah akibat sikap patriot yang keliru dari orang-orang yang tidak memiliki belas kasihan. Banyak orang yang menjadi menderita kehilangan orang yang dikasihi, dan kehilangan masa depan karena orang lain.

Saudara, inilah tiga tipe penderitaan yang ada di dunia ini. Setiap kita mungkin pernah mengalami salah satu dari tiga tipe penderitaan seperti ini. Bahkan mungkin kita pernah mengalami ketiga-tiganya. Tidak ada manusia yang menginginkan penderitaan-penderitaan seperti ini. Sebisa mungkin kita ingin menghindari semua penderitaan itu. Tapi sayangnya, semenjak kita jatuh dalam dosa, kita tidak dapat lagi terluput dari apa yang namanya penderitaan itu. Semua manusia pasti merasakan penderitaan.


Tahukah saudara, ketika Yesus turun kedunia menjadi manusia pun ia mengalami penderitaan. Bahkan penderitaan itu merupakan penderitaan yang sangat berat. Yesaya 53 melukiskan akan hal ini. Kitab Yesaya ditulis sekitar abad ke-4 / 5 SM. Yesaya yang merupakan nabi Allah sudah bernubuat akan Yesus yang akan datang dan yang akan menderita. Dan 500 tahun setelah itu, Yesus menggenapinya di atas kayu salib. Nubuatan yang disampaikan oleh Yesaya benar-benar terjadi. Penderitaannya seperti apa?

Diayat 14 dikatakan betapa buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi. Inilah yang memang terjadi. Ketika ia dicambuk dipukul dan disiksa. Mukanya babak belur dan tidak lagi tampak seperti muka manusia. Kaki tangannya terpaku di kayu salib, kepalanya di mahkotai duri. Itulah penderitaan yang paling kejam yang bisa dilakukan oleh pasukan Romawi pada waktu itu. Secara fisik Yesus begitu menderita.

Di pasal 53:3 dikatakan “ia dihina bahkan sangat dihina.” Ss, tahukah bahwa ketika Yesus tergantung dikayu salib berapa banyak orang yang menghina dia? Alkitab dengan jelas melukiskan bahwa ia diludahi. Ia diolok-olok oleh banyak orang. Ia pernah dikatakan “jika engkau raja turun dari salibmu.” Kemudian kepalanya yang penuh dengan luka itu dipasangkan mahkota. Bukan mahkota emas yang biasa dipakai raja-raja. Tetapi mahkota duri. Sungguh merupakan penghinaan yang besar. Salib sendiri merupakan lambang hina. Hanya orang-orang bejat saja seperti pembunuh, perampok, pemberontak yang bisa digantung ditempat itu. Jadi ketika Yesus disalibkan ia disejajarkan dengan para penjahat itu. Jadi jelas bahwa itu merupakan suatu kehinaan yang sangat besar.

Bukan hanya itu, di ayat yang sama dikatakan bahwa “ia dihindari orang.” Ss, dimana murid-muridnya saat itu? Semuanya melarikan diri. Padahal ketika murid-murid ketakutan sewaktu kapal mereka diserang badai Yesus hadir bersama dengan mereka. Tetapi dimana mereka ketika Yesus disalibkan? Semuanya lari menghindari Yesus. Bahkan Petrus murid yang sangat dikasihi Tuhan, harus menyangkal Yesus sampai tiga kali. Ia pura-pura tidak mengenal Yesus. Petrus menghindari Yesus. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa yang menjual dia adalah Yudas muridnya sendiri yang selama ini bersama-sama dengan Dia.

Pernakah saudara merasa dikhianati? Ketika suami atau istri kita kita tiba-tiba mengkhianati kita bagaimana perasaan kita? Ada begitu banyak orang yang akhirnya bunuh diri akibat dikhianati kekasihnya. Kemarin siang ketika saya melihat berita televisi, ada berita bahwa ada seorang pemuda yang sedang dibawa ke icu karna menengak racun serangga? Ketika ia sadar dan ditanya mengapa ia meminum racun serangga, ternyata diketahui bahwa ia sakit hati dan putus asa karena kekasihnya selingkuh dengan temannya. Ss, betapa sakitnya rasa dikhianati, apalagi jika pengkhianatan itu dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan kita.

Sekarang mungkin kita bisa membayangkan betapa menderitanya Yesus ketika disalib. Penderitaannya lengkap. Secara fisik ia sangat menderita, perasaannya juga mengalami kesedihan yang luar biasa, emosinya juga sedang dipermainkan oleh orang-orang yang mengolok dia, bahkan jiwanya sangat menderita karena merasa ditinggalkan oleh sang Bapa. Saudara, tidak ada penderitaan yang sekomplit penderitaan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sangat menderita ketika Ia datang ke dunia ini.


Sekarang pertanyaannya bagi kita adalah: Penderitaan Tuhan Yesus tersebut termasuk kedalam tipe penderitaan yang mana? Apakah Yesus menderita karena alam? tidak. Apakah Ia menderita karena dirinya sendiri? Saya pikir tidak. Apakah ia menderita karena orang lain? Bisa saja kita mengatakan demikian. Tapi saya melihat ada alasan lain mengapa Yesus menderita. Saya pikir penderitaan Yesus bukan penderitaan karena alam, bukan juga penderitaan karena diri sendiri. Dan bukan juga karena orang lain. Namun ada tipe keempat: YESUS MENDERITA UNTUK ORANG LAIN. Dia menderita untuk manusia. Ya, Dia menderita untuk kita.

Yesaya 53:4-6 jelas mengatakan kepada kita. Mari kita membaca ayat-ayat ini kembali dengan penuh penghayatan “4. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. Padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah 5. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-blurnya kita menjadi sembuh. 6. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” Ss, untuk kitalah ia menderita. Ia menderita untuk setiap kita manusia yang berdosa. Seharusnya kita yang harus dihukum. Seharusnya kita yang harus binasa. Namun Yesus menimpakan semuanya itu kepada diri-Nya.

Jika manusia berusaha sekuat-kuatnya untuk menjauhi penderitaan, Yesus malah mendekatkan diri pada penderitaan itu. Karena dengan penderitaan yang berakhir pada kematian itulah Ia dapat menyelamatkan manusia. Betapa besar kasih Yesus kepada kita.

Alkisah ada sepasang suami istri yang saling mencitai. Mereka hidup bahagia karena setiap waktu mereka saling berbagi kasih satu dengan yang lainnya. Hubungan mereka begitu indah walaupun mereka tidak memiliki anak, sehingga mereka menjalani hari-hari mereka dengan ringan. Namun sampai suatu ketika, hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena ketidak hati-hatian sang istri, ketika ia ingin mengambil barang di atas sebuah lemari, ada air keras yang terjatuh dan menyirami kedua matanya. Singkat cerita ang istri itu menjadi buta.

Namun demikian, sang suami tetap menunjukkan kasihnya kepada sang istri walaupun ia buta. Perhatiannya tidak berkurang, bahkan semakin bertambah semenjak istrinya menjadi buta. Ia selalu menuntun istrinya kemana saja ia pergi dengan kursi roda. Ia selalu menyuapi istrinya setiap kali makan. Bahkan ia juga yang menyisiri rambut istrinya agar tetap terlihat cantik. Kasih sang suami tidak berubah sama sekali.
Namun ada satu hal yang berubah. Si istri menjadi sangat tertekan. Ia merasa sangat menderita dengan kebutaannya. Setiap hari ia merasa sedih karena tidak bisa melihat lagi. Kesedihannya ini terlalu besar sehingga kasih dan perhatian sang suami tidak lagi mampu menghibur hatinya. Hari-hari yang bahagia itu berubah menjadi hari-hari yang suram. Penderitaan itulah yang mencuri kebahagiaan mereka.
Waktu terus berjalan dengan kondisi seperti itu, sampai suatu ketika istrinya mendapatkan berita bahagia. Katanya ada seorang yang mau mendonorkan matanya kepada dia. Segera mereka menyetujui hal itu dan melakukan proses operasi. Dengan teknologi yang canggih, akhirnya pihak rumah sakit berhasil mengembalikan penglihatan sang istri. Istrinya bahagia sekali karena ia akhirnya bisa melihat kembali. Tentunya ia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang mendonorkan matanya kepada dia. Iapun meminta pihak rumah sakit untuk dapat bertemu dengan pendonor. Tetapi ketika ia bertemu dengan si pendonor itu, tiba-tiba si istri menangis tersedu-sedu. Ternyata orang yang mendonor itu adalah suaminya sendiri. Sang suami tidak tega melihat istrinya menderita. Karena itu dia mendonorkan kedua matanya untuk sang istri, agar istrinya tidak lagi menderita. Sang suami sangat mengasihi istrinya. Ia rela menderita agar istrinya tidak menderita.

Saudara, seperti itu juga yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Mengapa Ia mau menderita bahkan mati di kayu salib? Mengapa Ia berkorban bagi kita? Hal itu tidak lain karena Tuhan sangat mengasihi kita. Agar kita yang seharusnya menderita karena dosa ini mendapatkan kelegaan. Ia mendekati derita agar kita dapat menjauhi penderitaan itu. Ia mati agar kita hidup.

Saudara, mungkin kita masih merasakan penderitaan saat ini. Masih banyak pergumulan yang sedang kita hadapi. Masalah keluarga yang penuh tantangan; keuangan yang mencekik; belum lagi masalah perasaan-perasaan yang tidak menentu; atau sakit-penyakit yang terus menghantui kita. Tapi mari kita mengingat kembali akan penderitaan Yesus. Penderitaannya mengajarkan kita bahwa Ia peduli akan kehidupan kita. Ia peduli atas segala pergumulan manusia. Ia sudah lebih dahulu menderita agar Ia dapat merasakan apa yang kita rasakan.
Karena itu mari kita menghampiri kasih Tuhan yang besar itu. Kita gantungkan segala pergumulan kita kepada Tuhan. Mari kita bersandar pada kasih-Nya. Biarlah ketika kita sudah merasakan kasih-Nya, kitapun dapat belajar untuk semakin mengasihi Dia. Bukan hanya mengasihi, biarlah kasih-Nya yang besar itu juga memampukan kita untuk lebi sungguh lagi melayani Dia yang sudah terlebih dahulu mati bagi kita. GBu

Wednesday, February 10, 2010

PERSIDANGAN TANPA KATA


Kasus persidangan Antasari merupakan masalah yang sangat pelik. Terlihat dengan terpamernya kasus ini dalam headline beberapa surat kabar dalam jangka waktu yang cukup lama (hitungan bulan). Mantan ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) itu dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin untuk mendapat kan istrinya Rani. Selama ini ada dua kubu yang saling bersitegang memang, di mana masing-masing memaparkan alasan yang kuat dengan argumen yang pro dan kontra kasus tersebut. Masing-masing pihak menganggap diri benar dan menuduh pihak lain bersalah (dengan demikian salah satu dari mereka tentu ada yang berbohong). Ada yang mengatakan bahwa Antasari begitu bejatnya sehingga harus dihukum seberat-beratnya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa itu hanya permainan politik dan konpirasi dari beberapa konglomerat yang terancam atas jayanya kinerja mantan ketua KPK tersebut. Sampai beberapa minggu yang lalu kasus ini masih terombang-ambing, sampai pembaca surat kabar ikut-ikutan bingung. “Walah, jelimet tenan toh, siopo sing bener sing salah gak roh wis, wes males ngikutin aku,” teman saya berkata.

Namun berita terakhir memaparkan wacana hukuman mati untuk Antasari. Tentu saja berita ini mengejutkan pihak-pihak yang pro tedakwa, sehingga pembelaanpun semakin gencar diungkapkan. Antasari dengan pembawaan yang tenang dan berwibawa terus menyatakan bahwa pihaknya tidak bersalah, semua tuduhan itu hanyalah kamuflase. Bahkan terakhir di layar televisi, Antasari membacakan sebuah pembelaan dalam bentuk pantun yang menggambarkan dirinya sebagai seorang gembala, yang terancam oleh terkaman harimau dan sengatan ular. Namun pada akhirnya gembala tersebut dapat meloloskan diri sedangkan harimau dan ular itu mati bersamaan. Berbagai bentuk pembelaan ini sebenarnya semakin menunjukkan kegalauan hatinya. Pembawaan yang bersahaja itu tidak dapat menutupi kebimbangan yang terkatakan lewat setiap pembelaannya. Tak heran ketika seorang rekannya melakukan dukungan terhadap dirinya di persidangan, ia menangis tersedu-sedu, dan berkali-kali melintangkan tangan di depan matanya yang mempertegas kegalauannya.

Rasa galau seperti ini memang selalu ada dalam persidangan (cont: Kasus Prita Vs Rs. Omni). Apa lagi jika tuntutan itu berujung pada hukuman mati. Masing-masing takut mengalami kekalahan dan menuai hukuman. Hampir tidak ada terdakwa yang tidak melakukan pembelaannya. Bahkan ketika seseorang jelas-jelas bersalah, orang itu tetap melakukan pembelaan.

Akan tetapi ada satu persidangan yang unik sepengetahuan saya. Kasus ini sama menghebohkannya dengan kasus Antasari (mungkin lebih heboh lagi). Berita persidangan sudah tersebar keseluruh negeri, sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Beberapa lembaran dilekatkan di tempat-tempat umum untuk menginformasikan masyarakat. Hanya dalam sekejap, berita persidangan ini menjadi headline dalam setiap surat kabar. Tentu saja banyak orang berkumpul ke tempat peristiwa setelah mendengar hal itu. Ya, itulah persidangan Yesus dari Nazaret. Yesus juga pernah diadili. Itulah pengadilan paling kontroversial yang terjadi kurang lebih 2000 tahun silam.

Kasusnya tidak kalah pelik! Yesus dituduh telah menghujat Allah dan memberitakan ajaran sesat, karena itu beberapa pihak Yahudi meminta hukuman mati dijalankan (sesuai dengan aturan hukum Yahudi). Pengajuan hukuman ini diserahkan kepada Pilatus yang menjadi hakim sekaligus wali negeri di Yudea. Tapi sayang sekali, di mata Pilatus Yesus tidak melakukan kesalahan apapun. Tuduhan tidak mampu menuduh, bukti tidak sanggup membuktikan. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi tentu tidak diam begitu saja. Mereka tetap memaksa Pilatus menghukum mati orang yang bernama Yesus tersebut. Segala alasan dikemukakan, dari masalah agama sampai ke masalah politik. POKOKNYA mati, tidak peduli salah atau tidak. Bahkan mereka memilih untuk membebaskan Barabas, seorang pemberontak besar pada saat itu (mungkin seperti membebaskan Amrozi cs). Padahal mungkin mereka sendiri yang menggeret Barabas untuk ditahan. Membingungkan! Pelik! Bukti masih abstrak tapi menginginkan hukuman yang konkrit. Keinginan akan hukuman mati seakan didorong oleh motif religi yang ada dibaliknya. Jangan-jangan mereka khawatir kalau anak tukang kayu tersebut akan menggeser posisi mereka.

Menariknya, tidak seperti terdakwa-terdakwa pada umumnya (spt. Antasari, Sokrates, dll), Yesus memilih untuk diam saja. Dia tidak membela diri, bahkan tidak ada argument yang menguatkan dirinya. Pilatus yang dikirimi surat oleh istrinya untuk tidak mengganggu Yesus terus berpikir untuk membebaskannya. Ia berkata kepada Yesus “Tidakkah kamu memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!” (Mark. 15:4). Pilatus sadar, jika Yesus menyatakan pembelaan diri yang kuat dan masuk akal (tidak seperti tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal itu), mungkin Yesus dapat dibebaskan karena pembelaan dari terdakwa sangat diperhitungkan pada waktu itu. Tetapi “Yesus sama sekali tidak menjawab sehingga Pilatus merasa heran” (Mark. 15:5).

Mengapa Yesus diam? Bukankah ada kesempatan untuk membela diri? Setidaknya memberikan penafsiran mengenai runtuhnya bait Allah kepada orang Yahudi sehinggap tidak dianggap sebagai penghujat Allah? Jujur saya terheran-heran melihat apa yang Yesus lakukan. Pendukungnya banyak, saksi mata juga banyak, saya yakin banyak orang juga akan membela dia. Bahkan Pilatus sendiri pun sebenarnya tidak menemukan kesalahan dalam diri Yesus. Mengapa ia dia tak berkata-kata? Satu-satunya jawaban yang terpikirkan olehku ialah karena “YESUS TAU BENAR AKAN TUJUAN KEMATIAN-NYA.” Yah, mungkin itu jawaban terbaik. Ia tahu waktu dan saat-Nya sudah tiba. Sudah waktunya untuk menjadi korban penebusan bagi banyak orang dan sudah waktunya untuk menggenapkan nubuatan para nabi. Kematiannya memiliki orientasi. Mungkin para terdakwa lainnya selalu membela diri karena tidak memiliki orientasi setelah kematian. Tetapi tujuan Yesus jelas. Mulutnya yang membisu tidak turut membutakan mata-Nya yang melihat jauh kedepan. Bibirnya tak bergerak, namun matanya fasih berbicara. Karena itu ia diam. Ya, itulah alasannya.

Jujur saya kagum dengan Yesus. Hati saya terpukau takjub melihat hikmat-Nya. Dan seluruh diri ini mengucap syukur karena saya boleh memiliki-Nya dalam hati, pikiran dan perasaan. Biarlah permenungan ini juga boleh menambah kekaguman dan kecintaan kita akan Tuhan Yesus. Amin.

Friday, April 10, 2009

Getsemani



Saudara, suatu hari ketika Martin Luther pernah membuka jendela di kamarnya, ia melihat beberapa ekor burung sedang bertengger di atas pohon. Kemudian ia memanggil burung itu demikian: “Wahai sang doktor, tolong ajarin aku tentang kekhawatiran. (saya membayangkan ia melanjutkan) Saya sudah belajar mengenai kekhawatiran begitu lama, tapi sampai sekarang saya masih dihantui kekhawatiran. Engkau pantas menjadi doktor, karena engkau sudah meneliti hal itu, dan engkau tidak khawatir sedikitpun. Wahai doktor, ajari aku tentang kekhawatiran.” Saudara, menarik sekali kalau kita perhatikan, bahwa Martin Luther, seorang tokoh reformasi yang berani mati itu, juga tidak dapat melepas hidupnya dari kekawatiran. Manusia memang tidak bisa lepas dari kekhawatiran. Manusia dari zaman kapanpun, golongan apapun, status apapun, dan dari daerah manapun tidak akan pernah dapat lepas dari rasa khawatir. Saudara, mungkin kita pun saat ini sedang mengalaminya. Kita sudah berkali-2 mendengar FT, tapi perasaan itu tetap ada. Kekhawatiran seakan menjadi bayangan yang terus menerus menghantui kita, dan lama kelamaan rasa khawatir itu menjadi rasa takut yang terus-menerus menekan kita.

Saudara, menariknya di Getsemani, Tuhan Yesus juga pernah mengalami pergumulan yang begitu dalam, sehingga dikatakan bahwa Ia begitu takut dan gentar.
Ya, Tuhan takut dan gentar. Tuhan Yesus yang pernah mengatakan kepada murid-muridnya sewaktu angin ribut melanda “mengapa engkau takut hai orang yang kurang percaya?”; Tuhan yang pernah mengajarkan jangan takut kepada muridnya dengan alasan burung pipit saja akan dipelihara; Tuhan yang pernah berkata: “Ini Aku, Jangan Takut”; Ia yang pernah menyentuh hati seorang kepala pegawai Yairus dengan berkata “Jangan Takut, percaya saja”; Ia yang pernah mengajarkan kepada kita untuk tidak khawatir; Tuhan Yesus itu juga dikatakan disini bahwa Ia sangat takut dan gentar.

Ia bergumul berat. Begitu takutnya sampai Ia mengatakan bahwa ia sangat sedih seperti mau mati rasanya. Mungkin pada saat itu Tuhan menangis. Bahkan di Lukas dikatakan bahwa peluhnya menjadi seperti titik-titik darah. Sampai-sampai seorang malaikat, yang biasanya bertugas sebagai pelayan Allah (yang pernah melayani Yesus di padang gurun), harus menguatkan Yesus yang mengalami kegentaran itu.

Apa yang terjadi? Mengapa ia takut? Apakah ia merasa bergumul seorang diri? Apkah ia merasa kesepian? Murid-murid meninggalkan dia dengan tertidur, dan mungkin Ia merasa Allah hendak meninggalkan Dia. Karena itu di kayu salib, Ia pernah berkata: Eli-Eli Lama Sabaktani (Allahku-Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku). Mengapa?
Saudara, dengan kemanusiaan kita yang berdosa, kita tidak akan pernah mengerti pergumulan dari Yesus yang 100% ilahi dan 100% manusia itu. Otak kita tidak akan dapat menggali pemikirannya. Hati kita tidak mungkin dapat menyelami relung hatinya yang terdalam.

Namun sebenarnya ada 1 pesan yang dapat kita ketahui. Pesan yang saya dapatkan ialah bahwa “Yesus sungguh-sungguh bergumul ketika IA hendak membebaskan manusia dari dosa. Keselamatan kita tidak terjadi semudah membalik telapak tangan. Diperlukan pergumulan yang sangat berat untuk membebaskan engkau dan saya dari kuasa dosa”. Sungguh ini bukan hal yang main-main.

Semua itu dilakukannya, agar Ia bisa menjadi seorang Imanuel (Allah beserta kita). Ia bergumul berat, agar ia dapat menyertai setiap kita senantiasa. Sehingga kelak, rasa takut-Nya, memberikan aman dalam ketakutan kita. Kegentarannya, membuat kita kuat. Perasaan ingin mati, membuat kita menjadi hidup. Dan peluh darah-Nya, membebaskan kita dari dosa.

Sekarang Ia telah bangkit. Dan Ia sudah menjadi Imanuel bagi kita. Ia menjadi Imanuel melalui proses pergumulan yang berat bagi kita. Sekarang apa yang kita takutkan? Apa yang kita khawatirkan?

Saudara, mungkin saat ini kekhawatiran menghinggapi dirimu. Mungkin engkau khawatir dengan pekerjaan-2mu yang tidak ada kemajuan, bahkan kemunduran. Mungkin engkau khawatir dengan ujian-ujian atau nilai-nilaimu. Mungkin engkau khawatir dengan masa depan keluargamu. Mungkin engkau khawatir dengan masa depanmu.

Saudara, Tuhan Yesus sudah pernah melewati pergumulan yang sangat dalam. Sehingga ia bisa beserta dengan kita Agar setiap kita bebas dari pergumulan itu. Apa lagi yang kita khawatirkan? Bersandarlah padanya. Percayalah akan maksud dan rencananya. Bergumulan bersama Tuhan. Ketaatannya di kayu Salib sudah cukup membuktikan akan penyertaannya yang sempurna dalam hidup kita.

Saturday, April 14, 2007

BERGEMBIRA DI ATAS PENDERITAAN ORANG LAIN

Bergembira diatas penderitaan orang lain adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Jangankan bergembira, seandainya kita melihat seseorang terjatuh dari kendaraan bermotor hingga ia tidak dapat berjalan karena terluka, dan sikap kita cuek-cuek saja, maka kita adalah manusia yang tidak berperikemanusiaan. Apalagi sampai mentertawakan dan bergembira diatas kejatuhannya, wah! sungguh merupakan sikap yang sangat-sangat tidak terpuji.

Rasa-rasanya tidak ada satu agamapun yang mengajarkan umatnya untuk bergembira di atas nelangsa orang lain. Tidak pernah ada kitab suci yang mengatakan ”tertawalah terbahak-bahak jika kamu melihat ada orang yang berduka” atau ”berbahagialah jika sahabatmu sedang menangisi kematian kekasihnya” ataupun kalimat-kalimat senada lainnya. Setiap agama pastilah mengajarkan agar para penganutnya memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan, empati, kemurahan, rela berkorban bahkan siap menolong setiap orang-orang yang membutuhkan.

Alkitabpun mengajarkan kita untuk berempati dan berbelaskasihan terhadap orang-orang yang sedang menderita. Dalam Roma 12:15 rasul Paulus mengatakan ”bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, berdukacitalah dengan orang yang berdukacita” sebagai salah satu nasehat Paulus tentang mengasihi sesama. Tuhan Yesus sendiri menunjukan sikap empatinya terhadap kesusahan-kesusahan orang lain. Ia seringkali menolong orang-orang kecil yang tidak berdaya. Ia memberi makan 5000 orang yang sedang kelaparan, menyembuhkan orang sakit kusta yang begitu hina dimata manusia, mengampuni seorang perempuan yang hampir mati di lempari batu karena kedapatan berjinah, mengusir setan pada orang Gerasa yang dihindari oleh penduduk sekitar dan banyak lagi cerita-cerita lainnya yang mengajarkan untuk berbelaskasihan terhadap penderitaan orang lain. Tuhan menginginkan setiap anak-Nya dapat mewujudkan kasih dengan menolong sesamanya melalui tindakan yang nyata. Tuhan Yesus berduka jika kita bergembira diatas penderitaan orang lain.

Namun sebenarnya Alkitab juga mengajarkan kita untuk bergembira diatas penderitaan orang lain. Sungguhkah ? Bahkan lebih tepatnya dikatakan bahwa kita harus besukacita diatas penderitaan orang lain.

Ya, Tidak diragukan lagi. Kita harus bersukacita di atas penderitaan orang lain, yang tidak lain adalah Tuhan Yesus sendiri. Kita harus bersukacita dengan penuh ucapan syukur yang meluap dari hati kita karena penderitaan-Nya di atas kayu salib. Ia membiarkan diri-Nya dipaku, dipukul, diejek, diludahi, dimahkotadurikan dan dikhianati dengan satu tujuan, yaitu untuk memberikan pengharapan bagi setiap anak-anak yang dikasihi-Nya. Pengharapan yang membebaskan kita dari belenggu dosa. Sudah semestinya kita ini dibinasakan di penghukuman neraka yang kekal. Mulanya memang kita adalah manusia-manusia yang tidak berpengharapan. Namun karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Wow, sungguh luar biasa ! Ia rela turun kedunia dan menderita bahkan mati di kayu salib sekali lagi agar kita memiliki pengharapan yang sejati dan tidak tergoyahkan. Betapa bahagianya setiap orang yang percaya dan terus berharap kepada-Nya.

Di momen paskah ini mari kita merefleksikan diri bersama. Apakah kita masih berduka atas kehidupan kita yang seolah tidak memiliki harapan ? sudahkah kita memiliki sukacita yang melimpah karena pengharapan yang telah diberikan Tuhan Yesus di atas penderitaan-Nya ? Mengapa terus berduka jika pengharapan kekal itu telah diberikan dihadapan kita ? Sudahkah kita menghargai penderitaan-Nya dengan bersukacita di dalam Dia ? Bersukacitalah di atas penderitaan-Nya. Jesus Love You


Hendra Fongaja, 14-April-2007

Friday, April 06, 2007

KAWAT BERDURI

Sembari menunggu ibadah doa di sebuah seminari, saya duduk diam meneduhkan diri di dekat jendela dalam ruangan itu. Suasana hening dalam ruangan itu mengajakku untuk mengamati kondisi lingkungan di sekitar ruangan itu. Sorotan mataku mulai menyapu seluruh isi di dalam ruangan tersebut. Segala sesuatu kuamati, mulai dari meja, susunan kursi, papan tulis, plafon, lantai dan sebagainya . Setelah semua yang ada di dalam ruangan tersebut tersapu bersih oleh amatanku, akupun mulai melemparkan pandanganku keluar dari jendela tersebut dan melihat pohon-pohon rindang yang seakan berbisik kepada pohon-pohon yang ada di sampingnya. Namun ada yang kurang dari pohon itu. Batang pohon itu tertutupi tembok pembatas yang tinggi, setinggi batang pohon itu. Di atas tembok itu ditancapkan tiang-tiang penyangga untuk melilitkan kawat-kawat berduri yang saling berkaitan. Kawat-kawat itu berjejer meninggi sehingga tembok itu serasa menjadi lebih kokoh.

Tiba-tiba tercenung dalam benakku, kenapa harus di pasang kawat berduri sebanyak itu ? Bukan hanya di seminari, namun di setiap rumah, gedung-gedung megah, sekolah-sekolah, bahkan di gereja-gereja, hampir di setiap tempat kita dapat melihat kawat-kawat berduri itu.

Kawat-kawat berduri itu di pasang agar si pemilik rumah, gedung, gereja dsb mendapatkan rasa aman terhadap pejahat-penjahat dan perampok-perampok yang berkeriapan di negara kita ini. Itulah jawabannya. Semakin banyak kawat duri yang kita gunakan, semakin tinggi kita memasangnya, semakin banyak lilitannya, maka rumah dan gereja kita akan lebih terlindungi dari orang-orang jahat sehingga kita akan merasa lebih terjaga dalam rasa aman kita.

Saya teringat sekitar 2000 tahun yang lalu, anyaman mahkota duri yang menyerupai kawat berduri itu melingkar dikepala Tuhan Yesus. Sebuah film yang begitu populer yang di sutradarai oleh Mel Gibson dengan judul ”The Passion Of The Christ” memvisualisasikan dengan sangat baik adegan-adegan tentang penyiksaan Tuhan Yesus. Salah satu adegan yang merenyuhkan hati dan membuat banyak penonton berteriak histeris adalah ketika prajurit-prajurit yang bertugas untuk menyiksa Tuhan Yesus menancapkan anyaman mahkota berduri itu dengan paksa di atas kepala-Nya. Bahkan setelah ditancapkan, kepala-Nya di pukul dengan kayu pemukul sehingga mahkota duri yang sudah melingkar dikepala-Nya itu semakin menancap menembus daging-daging yang ada di kepala-Nya. Kulitnya terkoyak, darahpun menetes deras dari kepala-Nya. Anyaman berduri itu bukannya memberi rasa aman, namun memberi rasa sakit yang luar biasa. Semakin banyak duri dan lilitannya maka semakin perih rasanya dan semakin banyak cucuran darah yang mengalir. Mahkota berduri hanyalah merupakan salah satu adegan penyiksaan dari sekian banyak penyiksaan seperti dipukul, diludahi, ditolak dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya, dicambuk dengan cambuk berduri, dihina, diejek, ditendang dan banyak lagi sampai pada puncak penderitaan-Nya yaitu diatas kayu salib dengan tangan dan kaki yang terpaku.

Mengapa Tuhan Yesus membiarkan semua ini menimpa Dia ? Bukankah sebenarnya Ia dapat melawan semua musuh-musuh yang menyiksa diri-Nya ?

Alasan mengapa Ia melakukan semua ini tak lain adalah agar setiap kita manusia yang berdosa ini, mendapatkan rasa aman akan jaminan keselamatan. Ketika kita percaya kepada-Nya dan berserah di dalam dekapan-Nya maka jaminan akan kehidupan yang kekal sudah diberikan-Nya pada kita. Itulah kasih yang begitu sempurna. Kuasa kegelapan atau kuasa apapun juga, tidak akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Dan ketika kita sudah berada di dalam genggaman-Nya, kita tak akan pernah dilepaskan-Nya untuk selama-lamanya. Hingga suatu saat kelak, kita akan bersukacita bersama-Nya di dalam kerajaan Surga.
Milikilah damai dalam hatimu karena Dia sudah menjamin keselamatan kita melalui penderitaan-Nya. Ketidaknyamanan dalam penderitaan-Nya telah membawa rasa aman bagi setiap anak-anak-Nya.



Hendra Fongaja, 10 januari 2007