Sunday, January 04, 2015
kASIH YANG MENYELAMATKAN
Saturday, December 24, 2011
Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #2

Mengapa Ia melakukan itu semua? Mengapa ia rela turun kedunia mencari kita? Bahkan demi menemukan kita, Ia rela mati tergantung di kayu Salib. Mengapa? Pernahkah saudara berpikir: mengapa sih gembala itu rela mencari satu dombanya yang hilang itu? Bukankah masih ada 99 ekor domba lain yang ia miliki. Apa sih berharganya seekor domba? Bukankah domba-domba yang lain bisa memberikan keturunan yang lain. Apalagi domba bukan hewan yang terlalu mahal. Ngapain sih repot-repot mencari domba yang hilang. Syukur-syukur kalau ketemu? Kalau tidak kan sia-sia? Atau kalau karena mencari kita diserang binatang buas, kan repot. Terlebih lagi, jangan-jangan kalau kita pergi mencari domba yang hilang, terus ada perampok datang mencuri 99 domba yang kita tinggalkan, kan malah bahaya. Sekali lagi mungkin kita perlu bertanya: Mengapa ia rela mencari 1 domba yang sesat itu? Bukankah domba itu sesat karena kenakalannya sendiri?
Jawabannya jelas: karena setiap kita, saudara dan saya, begitu berharga di mata Tuhan. Karena 1 domba itu begitu berharga di mata gembalanya. Kalau tidak berharga tidak mungkin gembala itu mau mencari. Analoginya seperti ini. Seandainya suatu saat di malam hari ada seorang ibu dengan seorang anaknya perempuan yang sedang mengamat-ngamati sebuah kalung berlian yang baru dibeli oleh ibunya untuk pernikahan putrinya. Ketika mereka melihat-lihat, tiba-tiba salah satu berlian itu terlepas dari kalungnya yang belum tersimpul dan jatuh kedalam kolong ranjang. Ranjangnya bukan ranjang kayak sekarang yang besar-besar, kolongnya kecil. Tapi ranjang jaman dulu dimana orang dewasapun dapat sembunyi di bahwa kolong itu. Di dalam kolong ranjang itu kotor karena jarang dibersihkan. Bukan hanya kotor tapi banyak koper, kardus, kertas-kertas, tai cicak, sarang laba-laba, dan barang-barang yang tidak dipakai seperti gudang mini di dalam kamar. Kira-kira apakah mereka akan mencari berlian itu? Atau mereka akan berkata “Yah, tidak apalah...Cuma 1 kan...” Saya kira mereka akan mencari sampai ketemu. Walaupun mereka harus merayap dikolong yang berdebu itu, melewati sarang laba-laba, berkotor-kotor ria, saya yakin mereka akan tetap mencari berlian itu sampai ketemu. Mengapa? Karena mereka sedang mencari sesuatu yang berharga.
Saya kira demikian juga yang dilakukan oleh gembala itu. Bagi sang gembala 1 domba itu sangat berharga, sehingga ia harus menemukannya sampai dapat. 1 domba itu begitu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja. Dan saya kira demikian inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan kepada kita manusia. Bagi Tuhan, satu jiwa, termasuk setiap kita, begitu berharga. Karena itu Ia mau datang kedunia, Ia rela mencari kita. Bahkan demi mencari kita, Ia rela mati di atas kayu Salib. Karena itulah Yesaya 43:4 mengatakan kepada kita “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” Yah, karena engkau dan saya berharga dimata-Nya, untuk itulah Ia datang mencari kita.
Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang bapak... seorang papi," ujar guru tersebut. Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada.
- "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!"
- "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar."
- "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."
- "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah.
- "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!!! Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.
Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, "Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai tertawa mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy," ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."
Memang... bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. Ia rela masuk dunia yang kotor dan hina ini untuk mencari dan menemukan kita yang kotor untuk diangkatnya menjadi manusia baru. Sekali lagi itu semua karena Ia mau menganggap kita sebagai seorang yang berharga.
Karena itu betapa kita bersyukur karena hari ini engkau dan saya sebagai orang yang berharga dimata-Nya dapat berkumpul bersama-sama merayakan natal, merayakan hari dimana Tuhan datang ke dunia mencari kita. Engkau dan saya begitu berharga. Karena itu jangan ada seorangpun di tempat ini yang berkata bahwa dirinya tidak berharga. Jangan pernah seorangpun yang menganggap bahwa hidupnya tidak berarti. Tuhan sudah datang mencari kita, itu sudah menandakan bahwa kita adalah seorang yang berharga kepada-Nya. Mari kita pun meresponi kasih Tuhan juga dengan senantiasa mencari Dia. Cari Dia lewat firman-Nya. Cari Dia dengan menaikan doa-doa kita. Andalkan dan bergantung penuh kepada-Nya. Percayalah, Tuhan yang sudah mencari kita dan menganggap kita begitu berharga. Tuhan itu juga yang akan menolong kita. Amin.
Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #1

Hidup manusia adalah sebuah pencarian. Mengapa saya katakan demikian? Oleh karena hidup ini tidak pernah lepas dari proses mencari dan mencari. Dari sejak kita lahir kita sudah mencari makanan, susu, dan kasih sayang dari orang tua kita. Beranjak menjadi anak-anak kitapun mencari teman-teman, hal-hal yang seru, hal-hal baru, permainan-permainan yang menarik dan sebagainya. Memasukin fase-fase remaja kita mulai mencari seseorang sahabat yang bisa menjadi tempat curhat kita. Kita juga mencari sekolah dan tempat kuliah yang cocok dengan bakat kita. Dan kitapun mulai mencari prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Memasuki fase pemuda, jiwa petualangan kita lebih terasah lagi. Kita mulai mencari pekerjaan yang cocok untuk mencukupi masa depan. Mencari rekan kerja yang bisa bekerja sama. Mencari hikmat dan pelajaran-pelajaran kehidupan yang berharga. Mencari popularitas. Dan kita mulai mencari pasangan hidup yang sepadan, yang bisa menjadi pendamping sampai masa tua kita. Banyak tenaga yang kita buang difase-fase ini untuk mencari yang kita inginkan. Memasuki fase menjadi orang tua pencarian itu semakin meningkat. Kita mulai mencari kedudukan di masyarakat. Kita mulai memikirkan masa depan anak-anak kita. Kita mencari pekerjaan yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita mencari susu dan makanan yang bergizi untuk anak-anak. Mencari sekolah yang terbaik. Mencari pakaian dan mencari kebahagiaan untuk anak kita. Dan banyak lagi pencarian-pencarian di fase ini. Dan memasuki fase lansia, ketika anak-anak kita sudah menghasilkan anak (cucu kita). Ketika tubuh sudah mulai lemah. Apakah kita berhenti mencari? Tidak! Masih ada pencarian-pencarian berikutnya. Kita mencari tempat untuk pensiun. Kita mencari dokter yang tepat untuk sakit penyakit kita. Mencari vitamin dan obat-obatan yang paling efektif. Dsb. Karena itu sekali lagi saya katakan bahwa hidup ini adalah sebuah pencarian.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pencarian tersebut, manusia sadar dimana suatu saat kita akan berhenti mencari. Kapankah itu? Yaitu pada saat kita tidak lagi hidup di dunia ini. Pada saat ajal menjemput kita, pada saat tubuh kita terbujur kaku, pada saat itulah kita akan berhenti mencari. Hal ini membuat orang merenung dan bertanya-tanya: apakah kita sungguh akan berhenti mencari? Apakah yang akan terjadi setelah kehidupan ini? Akankah ada kehidupan yang kekal dan tidak sementara seperti didunia ini? Dan pertanyaan yang paling penting: Bagaimanakah saya bisa memperoleh kehidupan yang kekal itu? Pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa hidup tidak hanya masalah fisik, melainkan juga masalah roh.
Oleh karena kesadaran seperti inilah maka manusia mulai mencari dan mencari hal-hal yang berbau spiritual dan gaib. Manusia sadar bahwa keberadaan manusia sangat terbatas. Kita disadarkan bahwa ada dunia lain, yaitu dunia roh, yang jauh lebih berkuasa dari dunia yang bersifat materi ini. Sebab itu manusia mulai tidakh hanya mencari segala sesuatu yang ada didunia, tetapi juga mencari hal-hal yang spiritual, yang mistik dan gaib, yang berbicara kehidupan di masa yang akan datang. Ada orang yang rela bertapa berbulan-bulan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup, dan mendapatkan hidup kekal. Pernah ketika ada seorang bocah asal Jombang yang kita kenal bernama Ponari dikabarkan memiliki batu gaib yang bisa menyembuhkan apapun juga, berbondong-bondong ribuan orang datang mengantri di rumah Ponari. Bahkan mereka rela antri didepan rumah itu sampai berhari-hari tidur di pinggir jalan. Dan parahnya ada yang menanti di tempat pembuangan air di rumah Ponari, dengan harapan siapa tau air hasil pembuangan itu kalau di minum sakitnya bisa sembuh. Ada juga orang yang mengikuti ilmu-ilmu gaib, yang meminta dia memakan hati manusia untuk mendapatkan hidup kekal. Sehingga diam-diam, tiap malam ia mencari mangsa, membunuh sesama manusia dan memakan hati manusia itu mentah-mentah. Agama-agama baru bermunculan. Menawarkan program untuk mencapai kekekalan. Ada yang menawarkan perbuatan baik, harus mengikuti ritual-ritual tertentu, ada yang menawarkan kebebasan melalui penyangkalan diri dsb. Celakanya lagi ada orang yang menyembah semua dewa dan agama, supaya semua berkat-berkat dari dewa-dewa itu melimpah kepadanya. Banyak orang mulai mencari jalan untuk menemukan kehidupan yang kekal.
Namun apakah mereka menemukannya? Dapatkah mereka berjumpa dengan Tuhan? Dapatkah mereka memperoleh hidup kekal itu? Tidak! Firman Tuhan mengatakan “.... Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6b).” Paulus juga pernah berkata bahwa dengan usaha sendiri manusia tidak dapat memperoleh keselamatan. Ini berarti tidak ada seorangpun yang dapat sampai kepada Allah dan mendapatkan hidup yang kekal bersama-sama dengan Allah. Manusia terlalu terbatas dan terlalu hina untuk bisa mencapai tempat bersama-sama dengan Tuhan. Usaha apakah yang dapat diperbuat manusia untuk dapat menemukan Tuhan? Tidak ada! Kisah tentang Babel dalam Kejadian 11 sudah menyatakannya kepada kita. Ketika manusia berusaha mendirikan menara pencakar langit dengan tujuan mungkin agar bisa menggapai Tuhan yang ada di langit. Tapi apa yang terjadi? Alkitab mengatakan Tuhan sampai harus turun untuk melihat apa yang dibuat oleh manusia, karena terlalu kecil tak terlihat olah mata Tuhan. Manusia berusaha mencapai langit, tapi bagi Tuhan usaha manusia terlalu kecil. Manusia tidak bisa mencapai kekekalan dengan sendirinya. Pencarian manusia akan kekekalan sia-sia jika ia mengandalkan kekuatan sendiri.
Jadi bagaimana caranya kita dapat menemukan jalan keselamatan itu? Perikop kita hari ini memberitahukan sebuah kabar baik bagi kita semua. Mengapa kabar baik? Karena ketika kita tidak dapat mencari Tuhan dan kehidupan kekal itu, Tuhanlah yang mencari kita manusia berdosa. Mencari untuk apa? Untuk menghukumkah? Tidak! Ia mencari kita untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa.
Perumpamaan domba yang hilang ini memberitahukannya kepada kita. Orang berdosa diumpamakan seperti domba yang hilang tersebut. Domba adalah seekor hewan yang penakut dan bodoh. Ia tidak dapat hidup sendiri. Harus bersama kumpulan domba lainnya. Dikatakan hewan yang bodoh karena ketika ia tersesat ia tidak dapat pulang dengan sendirinya. Biasanya domba kalau sudah tersesat dia akan duduk diam dengan kaki yang gemetar mengharapkan gembalanya bisa segera datang menemukan dia. Tidak ada seekor dombapun yang dapat pulang kekandangnya dengan sendirinya. Kalau begitu bagaimana caranya seekor domba dapat pulang kembali kekandangnya? Satu-satunya cara agar domba itu dapat pulang ialah: sang gembala itu yang harus mencari si domba sesat. Dan setelah menemukan biasanya sang gembala akan menggendongnya, sebab umumnya domba yang sesat masih ketakutan dan tidak dapat berjalan sendiri.
Manusiapun demikian. Ketika kita terjatuh dalam dosa, kita menjadi orang yang terhilang. Kita tidak dapat kembali menikmati persekutuan dengan Allah di Surga dengan sendirinya. Dengan segala upaya dan usaha kita, kita tetap tidak dapat menemukan Surga. Mengapa? Karena manusia berdosa itu sama seperti domba yang bodoh tersebut.
Karena itulah Tuhan datang mencari kita. Ia meninggalkan semua takhtanya di Surga, rela menjadi manusia dan turun ke dunia untuk mencari kita, manusia-manusia yang tersesat. Bahkan demi mencari manusia, Ia rela lahir di palungan yang hina, dan Ia rela untuk mati di Salib yang hina, mengorbankan nyawa-Nya sendiri untuk kita. Itulah Tuhan kita. Ia yang mengakhiri pencarian manusia tentang hidup kekal dengan mencari manusia itu sendiri.
Ada sebuah video yang menarik. (man in hole: 3 menit) Suatu saat ada seorang yang terjatuh dalam lubang yang dalam. Ia bingung bagaimana caranya untuk keluar dari lubang yang dalam itu. Lantas ada beberapa orang menawarkan jalan untuk keluar dari lubang itu. Orang pertama mengatakan: bahwa ia harus menyucikan pikirannya dengan jalan bermeditasi. Jika mencapai kesempurnaannya maka ia akan terbebas dari penderitaan. Pemuda ini melakukannya, tapi kenyataanya, ia masih berada dalam lubang itu. Kemudian datanglah orang yang kedua. Orang kedua ini mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia harus dapat mengosongkan pikirannya. Ketika pikiran kosong makan akan terlihat bahwa semua kesusahan itu hanya ilusi. Namun itu bukan jalan keluar. Pemuda itu masih berada dalam lubang yang gelap. Kemudian datanglah orang ke-3 yang menjelaskan segala sesuatu tentang karma. Dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan berinkarnasi setelah kematiannya. Tentu saja itu tidak membebaskan pemuda itu dari lubang yang sama. Lalu datanglah orang yang ke-4 yang menyuruhnya untuk berbuat baik dan berdoa 5 kali sehari. Iapun menuruti semua perkataan itu, namun semuanya tidak membuat ia keluar dari lubang tersebut. Sampai datanglah orang yang ke-5. Orang ini berbeda dari yang lain. Ia bertanya kepada pemuda itu: maukah engkau bebas? Pemuda itu mengatakan ia mau. Lalu apa yang dilakukan, ia turun kedalam lubang itu, ia menggendong dan memikul pemuda itu, dan kemudian pemuda itu selamat. Itulah yang Yesus lakukan kepada kita.
Banyak agama mengajarkan keselamatan dengan usaha manusia. Dengan kekuatan sendiri. Tapi mereka lupa bahwa manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya. Kita sudah terpelosok dalam lubang dosa yang begitu dalam. Manusia tidak bisa selamat dengan sendirinya. Beberapa dewa lainnya lagi menuntut untuk senantiasa disembah dan dicari terus menerus. Tetapi Tuhan kita berbeda! Dan hanya satu Tuhan, yaitu Tuhan yang benar, yang begitu mengasihi kita, Dialah satu-satunya yang mau turun ke dunia untuk menyelamatkan kita. Karena itu kita patut bersyukur. Kita memiliki Tuhan yang aktif dan berinisiatif mencari kita, sama seperti gembala yang mencari domba sesat itu.
Monday, December 05, 2011
The Best Gift (Matius 2) #2

Kedua, Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang berasal dari hati.
Saya pernah membaca sebuah buku yang membandingkan antara raja Herodes dan orang-orang majus. Buku itu menanyakan: Apakah persamaan dan perbedaan antara Herodes dan orang-orang Majus? Persamaannya ialah mereka sama-sama hendak mencari Tuhan. Ketika orang-orang Majus melihat bintang timur itu, ia pergi mencari raja yang baru lahir itu. Tapi ternyata bukan cuma orang majus yang mencari Tuhan, Herodespun juga mencari Tuhan. Ia menyuruh ahli-ahli Taurat itu untuk menyelidiki kitab suci, dan ia bekerja sama dengan orang majus untuk bersama-sama mencari Tuhan. Sekali lagi, mereka sama-sama mencari Tuhan.
Tapi bedanya ialah: Herodes mencari Tuhan karena dia ingin membunuhnya. Ketika ia mendengar dari orang-orang Majus ini bahwa akan ada seorang raja yang akan lahir yang berkuasa, hatinya terganggu. Ia sadar bahwa ia tidak memiliki anak saat itu yang baru lahir, dan pikirannya langsung mengatakan bahwa ada orang lain yang akan merebut kekuasaannya. Karena itu ia mencari Yesus. Namun ia mencari dengan motivasi yang salah, yaitu untuk membunuhnya. Sementara itu orang majus itu juga mencari Tuhan. Tapi untuk apa ia mencari Tuhan? Di ayat 2 dituliskan orang-orang majus itu bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ya, orang Majus itu datang dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk menyembah Tuhan yang akan datang itu.
Banyak orang menceritakan cerita orang Majus ini sedang memberi sesuatu yang terbaik karena ia telah membawakan barang-barang yang terbaik yaitu emas, kemenyan, dan mur. Memang harus diakui barang-barang ini bukan barang-barang murah, dan merupakan barang-barang pemberian terbaik pada waktu itu, yang biasa diberikan untuk seorang raja. Tapi saya kira bukan hal itu yang dipandang Tuhan sebagai pemberian terbaik. Pemberian terbaik dari orang majus itu ialah ketika ia mencari tuhan untuk menyembah Dia. Itulah pemberian yang terbaik di mata Tuhan, yaitu pemberian dengan hati yang menyembah.
Hati yang menyembah itu bukan sekedar seperti seorang bawahan yang wajib menyembah karena takut dihukum oleh atasannya. Tapi hati yang menyembah disini lebih kepada sikap kagum, hormat, segan, takut, sekaligus sikap tunduk. Bukan hanya itu, sikap menyembah di sini juga melambangkan betapa seseorang itu percaya, berserah dan taat kepada orang yang di sembah. Kata menyembah (proskuneo) waktu itu adalah sikap menyembah di mana badan membungkuk, dahi sampai menyentuh tanah tepat di depan kaki orang yang disembahnya. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat lemah di mana orang yang menyembah tidak bisa melihat apa-apa, dan seakan ia berkata “silahkan kamu perlakukan saya seperti yang kamu mau.” Jadi ketika ia menyembah seseorang, itu berarti ia berserah, ia pasrah, dan ia mempercayakan hidupnya untuk diatur oleh orang yang disembahnya. Inilah yang dilakukan oleh orang majus itu, yaitu ketika ia mempersembahkan hatinya kepada Tuhan. Dan inilah pemberian yang terbaik, yaitu pemberian dengan hati. Tidak ada pemberian yang lebih baik daripada pemberian dari hati yang terdalam.
Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugerahi seorang anak, mereka begitu bahagia sekali. Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dengan berat hati si dokter mengatakan bahwa ternyata anaknya mengalami kecacatan seumur hidup, yaitu cacat mental.
Walaupun pasangan ini sangat sedih mendengar hal itu, tapi hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi rasa cintanya terhadap anaknya, walaupun anak itu cacat. Terlihat dari sikap ayahnya tiap pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan dan memuji anaknya, karena baginya anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya. Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi sekali lagi, meskipun demikian, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.
Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30 am. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang spesial buat papa.' Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'. Setelah itu, ia teringat bahwa biasanya mamanya membuat roti dengan telur. Lalu ia berlari ke kulkas mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menaruhnya di atas roti bakar yang gosong itu. Lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, 'Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati ia membawa semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, 'Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.' Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. 'Wah pasti enak nih.'
Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, 'Enak kan pa?' 'Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….' Si ayah berkata, 'Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.' Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.' Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata 'Ray, kamu tau nggak…' 'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, 'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' Lalu si ayah berkata lagi, 'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' Si anak sambil menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' 'Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.' Mengapa masakan itu bisa spesial bagi papanya? Itu jelas karena anaknya memberikan dengan hati.
Saya kira bagi Tuhan juga demikian. Ia menginginkan pemberian yang terbaik dari setiap kita anaknya, yaitu pemberian dari hati terdalam. Kita bisa memberikan waktu kita untuk Tuhan, kita bisa memberikan tenaga kita dengan melayani berbagai banyak bidang, kita bisa memberikan harta kita melalui persembahan-persembahan syukur kita, tapi jika dalam setiap pemberian itu tidak diselipkan hati yang sungguh menyembah dan mengasihi Tuhan, maka semua pemberian itu sia-sia. Tuhan menginginkan pemberian dari hati yang menyembah, yang didasari oleh rasa cinta yang tulus; yang diikuti dengan sikap berserah dan pasrah kepada kehendaknya. Orang yang memberi segalanya belum tentu memberikannya dengan hati, tapi orang yang memberi dengan hati, ia akan melakukan segalanya. Karena itu mari kita memberikan hati kita kepada Tuhan.
The Best Gift (Matius 2) #1

Suatu pagi ada seorang gadis kecil yang menghampiri ayahnya yang sudah siap-siap pergi kekantor. Gadis ini membawa sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada ayahnya. Lalu gadis ini berkata “Pa, hadiah ini untuk papa. Nanti bukanya dikantor saja ya.” Papanya segera mencium anaknya dan pergi kekantor dengan bahagia. Sesampai di kantor papanya langsung saja membuka kemasan kecil pemberian anaknya. Tapi apa yang ia lihat, ternyata kado itu kosong tidak berisi. Keesokan harinya gadis kecil ini kembali memberikan kado kecil dan memerintahkan hal yang sama dengan apa yang dibilang kemarin. Tetapi sekali lagi ketika papanya membuka kado itu, ternyata kado itu kosong. Demikian juga selanjutnya demikian berhari-hari sampai suatu saat, ketika gadis ini memberikan kado kecil itu kepada papanya, papanya berkata “Nak, sudah, tidak usah kasih kado lagi. Buat apa kamu memberikan kado yang kosong kepada papa. Papa tidak mau lagi menerima kado yang kosong.” Tapi kemudian gadis ini menjawab “Kado itu tidak kosong pa, tapi tiap pagi saya mengisi kado itu dengan banyak ciuman. Sehingga kalau papa merindukan saya, papa bisa membuka kado itu dan mengambil ciuman itu satu persatu.” Papanya yang mendengar hal itu terharu, dan langsung memeluk anaknya dan berkata “Terimakasih ya nak”. Dan setiap hari papanya membawa kotak kosong itu dengan sukacita. Karena baginya itu adalah hadiah terbaik dari anaknya.
Seorang ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan pemberian yang baik dari anaknya. Ayah mana yang tidak tersenyum mendapatkan pemberian yang tulus dari anaknya. Memang seorang ayah yang normal akan selalu memberikan yang terbaik tanpa harap imbalan apa-apa dari anaknya. Tetapi walau ia tidak mengharapkan imbalan, saya kira ia akan sangat bahagia jika ia menerima pemberian dari anak-anaknya.
Saya kira demikian juga dengan Tuhan yang adalah Bapa kita. Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu dirinya sendiri. Ia rela mengorbankan nyawanya untuk kita, supaya kita mendapatkan yang terbaik. Apakah Tuhan pernah menuntut imbalan dari itu semua? Tidak! Tetapi Tuhan akan sangat bahagia jika kita anak-anaknyapun mau memberi sesuatu yang terbaik untuk Tuhan. Karena itu marilah kita sebagai anak-anak Tuhan belajar untuk memberikan sebuah persembahan yang terbaik untuk Tuhan.
Bagaimana caranya? Hari ini bersama kita akan belajar dari kisah orang-orang majus yang begitu sering dikhotbahkan karena mereka telah memberikan sesuatu yang baik bagi Tuhan. Ada dua hal yang dapat kita pelajari tentang pemberian yang terbaik ini.
Pertama, pemberian yang terbaik adalah pemberian yang menuntut kerelaan untuk mengorbankan diri.
Saya kira setiap kita setuju bahwa sebuah pemberian dari seseorang akan semakin manis dan indah jika kita mengetahui beberapa jauh pengorbanan yang diberikan untuk sebuah pemberian itu. Semakin banyak seorang berkorban untuk memberikan sesuatu, semakin kita tau pemberian itu sangat berharga.
Orang-orang Majus dalam perikop ini pun juga sudah memberikan sesuatu yang berharga karena pengorbanannya. Kita tidak perlu menduga-duga ada berapa orang majus disana. Ada yang mengatakan bahwa ada 3 orang majus berdasarkan persembahannya mas, kemenyan, dan mur. Tapi saya kira tidak demikian. Orang majus ini merupakan sebuah kelompok orang-orang bijak, yang bisa membaca tanda-tanda lewat bintang dan sebagainya. Mereka adalah kumpulan orang-orang berhikmat yang saya kira pasti lebih dari tiga orang. Kemungkinan mereka tinggal di sebuah istana di sebuah kerajaan di Persia, sebuah kerajaan di daerah timur tengah yang mungkin sekarang diduduki oleh iran.
Suatu ketika mereka mendapatkan penglihatan dalam sebuah bintang suatu tanda yang unik, yaitu sebuah bintang timur. Jangan kira bintang timur ini hanya sekedar dongeng anak-anak yang membuat sebuah cerita menjadi lebih manis. Tapi secara ilmiah terbukti bahwa bintang timur ini ternyata benar-benar pernah ada. Peneliti menemukan bahwa bintang itu memang pernah ada pada bada ke4-5 M. Bintang ini sebenarnya merupakan sebuah planet yang besar, dan bintang ini bergerak perlahan menuju tepat di atas yudea. Bintang ini agak menyerupai komet yang muncul ribuan tahun sekali. Dikatakan bahwa bintang timur ini merupakan sebuah kojungsi perjumpaan antara planet jupiter dan saturnus serta lambang pisces. Bagi peramal zaman Yesus dulu semua ini memiliki arti. Jupiter merupakan lambang kekuasaan terbesar dan penguasa dunia, mengingat planet jupiter merupakan planet terbesar. Kemudian pisces yang dilambangkan dengan tanda ikan ini bagi mereka melambangkan akan sebuah kedudukan. Dan Saturnus itu merupakan planet yang melambangkan palestina. Karena itu ketika kojungsi jupiter bertemu dengan pisces dan saturnus itu berarti akan ada seorang penguasa yang besar dari palestina yang akan mengukir sebuah sejarah dan melakukan perubahan besar. Inilah logika berpikir ahli perbintangan waktu itu.
Kira-kira hal inilah yang mendorong para orang majus itu untuk mencari Yesus. Mereka adalah orang persia. Mereka tidak pernah mendengar sebelumnya bahwa ada seorang Mesias yang akan lahir di palestina. Mereka tidak pernah mendapatkan nubuat-nubuat dari para nabi. Orang-orang Majus ini hanya tau bahwa ada seorang raja yang akan lahir kedunia, yang akan berkuasa dan membawa perubahan melalui tanda sebuah bintang.
Tapi walaupun orang Majus ini tidak pernah mendengar nubuatan, mereka rela untuk pergi meninggalkan istana mereka untuk mencari Yesus yang mereka anggap sebagai raja. Untuk mencari seorang yang mereka anggap raja ini tentu memerlukan pengorbanan. Mereka harus meninggalkan daerah mereka Persia dan pergi ke Palestina. Jarak dari negri persia ke Yerusalem kira-kira ratusan bahkan mungkin ribuan km. Dan medan yang ditempuh cukup berat dengan melewati padang gurun dsb. Saya kira membutuhkan perjalanan yang jauh, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan. Saya kira selama berbulan-bulan itu juga mereka meninggalkan keluarga mereka. Bukan hanya mengorbankan waktu, saya kira mereka harus mengorbankan banyak uang dan dana untuk perjalanan yang jauh itu. Tapi mereka rela pergi mencari sang raja damai itu. Mereka rela meninggalkan dan mengorbankan segala sesuatu agar mereka dapat berjumpa raja atas segala raja tersebut. Karena mereka tau persis kepada siapa mereka harus bekorban, yaitu kepada raja segala raja.
Seharusnya kalau kita tahu betapa berharganya Tuhan yang kita sembah, kita akan rela bekorban banyak hal untuk mencarinya. Memang kalau sesuatu itu berharga kita akan dengan mudah berkorban untuk mencari sesuatu itu bukan. Saya teringat suatu malam mama saya masuk ke kamar saya membawa sebuah perhiasan yang begitu indah dari mutiara yang akan diberikan kepada calon istri koko saya waktu itu. Mama saya menunjukkan kepada saya sambil menanyakan apakah perhiasan itu bagus untuk dikenakan. Tapi ketika ia sedang menunjukkannya, tiba-tiba ada satu mutiara yang kecil itu terjatuh dan masuk ke dalam kolong ranjang yang tersimpan banyak koper dan dus-dus. Namun karena mengetahui bahwa mutiara itu berharga, saya dan mama saya rela mencari mutiara itu sampai masuk kekolong ranjang yang cukup kotor dan berantakan, merayap di tengah sesaknya kolong itu, membongkar barang-barang yang sudah berdebu, dan itu kami lakukan di malam hari. Setelah bermenit-menit kami mencari, akhirnya kami menemukan mutiara itu, dan kami senang sekali walaupun kami harus menjadi kotor. Karena untuk menemukan sesuatu yang berharga, memang dibutuhkan pengorbanan.
Itu yang dilakukan oleh orang-orang Majus itu. Ketika mereka melihat ada seorang raja yang akan lahir, mereka rela meninggalkan segala sesuatu untuk mencari dan menemukan Yesus. Karena mereka tau siapa yang mereka cari, Tuhan raja segala raja, yang begitu berharga.
Sayangnya, saat ini banyak orang Kristen yang tidak memiliki kerelaan bekorban untuk mencari Tuhan. Padahal Tuhan sudah menyatakan dirinya kepada kita melalui Kristus dan melalui Firman Tuhan. Betapa mudahnya bagi kita untuk dapat mengenal dan mencari Tuhan. Tetapi sekali lagi, banyak orang tidak mau bekorban untuk mencari Tuhan. Ada orang yang kegereja tiap minggu saja tidak mau. Kalau capek sedikit sudah malas pergi persekutuan. Kalau hujan sedikit sudah memutuskan untuk tidak ke gereja. Ironinya, banyak orang rela lembur dikantor untuk mendapatkan penghasilan lebih, tapi ketika meluangkan waktu bersekutu untuk mendapatkan berkat rohani malah tidak mau. Mengantuk sedikit sudah tidak mau bersaat teduh. Sedikitpun tidak ada kerelaan dan pengorbanan untuk mencari Tuhan. Orang Kristen seperti ini sebenarnya adalah orang Kristen yang tidak mengenal siapa Tuhan yang mereka sembah. Mereka tidak tau betapa berharganya Tuhan yang kita layani dan percaya.
Kita harus mengingat kembali bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu datang ke dunia untuk mencari kita. Ia rela meninggalkan takhta kemuliaannya untuk mencari orang-orang berdosa yang begitu hina. Bahkan untuk menemukan kita ia rela mengorbankan nyawanya sendiri di kayu salib. Untuk mencari Tuhan, orang majus itu rela mengorbankan banyak hal, baik waktu, tenaga, dan harta. Tapi untuk mencari manusia termasuk orang majus itu, Tuhan Yesus rela mengorbankan harga diri dan nyawanya sendiri di kayu salib. Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan harga dirinya? Adakah pengorbanan yang lebih besar dari pada seorang yang mengorbankan nyawanya sendiri? Karena itu mari kita renungkan. Seberapa gigih kita mencari dia? Seberapa besar kerinduan kita untuk mengenal Dia? Seberapa jauh hasrat kita untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya? Inilah hal pertama, sebuah pemberian yang terbaik yang dapat kita berikan kepada Tuhan, yaitu dengan mencari Dia walaupun itu menuntut kerelaan akan banyak hal.
Monday, December 27, 2010
Menjadi Miskin (2 Kor 8:1-15)

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang jatuh kedalam kemiskinan. Pertama, kemiskinan bisa disebabkan karena kondisi negara yang masuk dalam krisis ekonomi. Ketika Krisis ekonomi melanda, barang-barang menjadi mahal, lapangan pekerjaan berkurang, pendapatan pun makin dikit. Akibatnya beberapa toko dan usaha tutup karenanya.
Ada juga kemiskinan yang disebabkan oleh kecelakaan atau bencana alam. Misalkan tiba-tiba kebakaran yang tak disangka memberangus usaha dan rumah kita. Harta benda yang kita simpan di rumah habis semua. Bahkan surat-surat penting semua lenyap terbakar. Akibatnya kitapun jatuh miskin. Atau mungkin karena bencana alam yang tidak kita sangka akan menimpa kita. Semisal orang Sidoarjo yang kehilangan penghasilan karena lumpur Lapindo. Beberapa orang menjadi stress, kehilangan harta benda, dan kehilangan usahanya. Dan merekapun kini terkatung-katung meminta kemurahan dari orang lain.
Kemiskinan juga dapat disebabkan oleh human eror. Dimana kita salah melakukan perhitungan atau salah menganalisa. Akibat kesalahan kita akhirnya kita menimbun utang dimana-mana, dan usaha kita pun akhirnya harus tutup karenanya. Selain itu bisa juga disebabkan karena kemalasan pribadi tersebut. Ia menjadi miskin bukan karena siapa-siapa. Tapi ia miskin karena ia sendiri tidak punya semangat untuk mengerjakan pekerjaanya. Akibatnya usaha dan karirnya mati termakan arus jaman yang penuh persaingan.
Selain itu kemiskinan juga dapat disebabkan karena orang lain. Misalkan ada orang yang berbuat licik sama kita. Kita ditipu dan diperalat habis-habisan, dan alhasil uang kita habis, malah mungkin kita jadi banyak utang. Atau mungkin kita dirampok dan menjadi korban kriminal. Misalkan peristiwa kerusuhan 98 di Jakarta barusan. Karena orang-orang yang tidak mengenal etika dan belaskasihan, akibatnya banyak orang yang stres karena tokonya dibakar dan semua penghasilannya diambil bgitu saja. Inilah kemiskinan yang disebabkan karena orang lain.
Kira-kira inilah beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi miskin. Tapi menariknya bukan cuman manusia saja yang bisa menjadi miskin. Alkitab mencatat bahwa Yesuspun pernah menjadi miskin. Namun apa penyebab Ia menjadi miskin? Apakah karena keadaan lingkungan? Apakah karena bencana? Karena human eror? Atau karena orang lain? Saya kira bukan itu alasan Tuhan menjadi miskin. Yesus tidak menjadi miskin karena itu semua. Yang paling tepat ialah Yesus menjadi miskin karena Ia begitu mengasihi manusia. Ayat 9 dengan jelas mengatakan “....bahwa Ia, yang oleh karena kamu telah menjadi miskin....”
Apa maksudnya Ia menjadi miskin? Kitab Filipi pasal 2 menggambarkan kemiskinannya ketika ia mengosongkan diri untuk menjadi manusia. Dimana Yesus yang seharusnya adalah Tuhan yang penuh dengan kemuliaan dan kekayaan serta keagungan itu mau menjadi manusia yang terbatas dan begitu lemah. Bahkan ketika sebagai manusia Ia rela terlahir di sebuah kandang binatang, dan mati di atas kayu Salib yang hina. Dari yang begitu agung mulia, menjadi begitu hina bahkan lebih hina daripada manusia pada umumnya. Inilah yang dimaksudkan bahwa Yesus menjadi miskin.
Mengapa Ia rela menjadi miskin padahal Ia kaya? Kembali dengan jelas ayat 9 mengatakan “....supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Yah....Ia rela menjadi miskin agar kita menjadi kaya. Mungkin gambarannya sama seperti seorang ibu yang mengandung. Nutrisi, protein, zodium, dan banyak nutrisi-nutrisi dalam tubuh ini yang dicurahkan untuk perkembangan anaknya dalam kandungan. Si ibu semakin miskin dan anak semakin kaya. Mungkin itu gambaran kasarnya. Yesus rela menjadi miskin agar kita menjadi kaya. Bukan kaya dalam harta benda, tapi jauh lebih itu, kita menjadi kaya dalam iman dan dalam status kita. Kita yang dahulu adalah orang-orang buangan, kini menjadi anak-anak Raja. Kita yang dahulu adalah para hukuman, sekarang menjadi orang yang bebas. Karena itulah sekarang ini kita sudah menjadi kaya. Kita menjadi kaya bukan karena usaha kemampuan kita. Namun semua itu karena tindakan Yesus yang menjadi miskin untuk kita.
Atas dasar inilah Paulus meminta agar setiap jemaat Tuhan meniru teladan Yesus, yaitu untuk berani bertindak untuk “menjadi miskin.” Tentunya kita tidak bisa melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Kita hanya dapat menangkap unsur-unsur atau prinsip-prinsip di dalamnya. “Menjadi miskin” itu membutuhkan penyangkalan diri dan pengorbanan untuk orang lain. Itu prinsipnya. “Menjadi miskin” itu merupakan sebuah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Sebaliknya ia mengutamakan orang lain. “Menjadi miskin”.
Dalam aplikasinya Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk belajar memberi kemurahan kepada orang lain yang membutuhkan kemurahan. Jemaat di Korintus diminta untuk meneladani Jemaat di Makedonia, yang merupakan jemaat yang miskin, tapi mereka kaya dalam kemurahan. Dalam kekurangan itu mereka malah memberi lebih banyak dari pada kemampuan mereka. Dalam hal itulah jemaat Makedonia sudah “menjadi miskin” untuk memperkaya orang lain. Paulus menyebutnya sebagai pelayanan kasih. Hal itulah yang harus dipelajari oleh Jemaat Kristus. Sebuah pelayanan yang membagi kemurahan, untuk kepentingan orang lain. Menyangkal dan mengorbankan diri, serta memperhatikan orang lain.
Bukan hanya kepada jemaat di Efesus, saya kira undangan ini juga diberikan kepada setiap anak-anak Tuhan saat ini. Yaitu undangan untuk “menjadi miskin” untuk orang lain. Sebentuk pelayanan yang membutuhkan pengorbanan, penyangkalan diri, dan rasa kepedulian yang besar. Pelayanan seperti ini sudah ditunjukkan oleh seorang ibu yang kita kenal sebagai Ibu Theresa. Hatinya yang bekobar-kobar untuk rakyat miskin di India menghantarnya untuk melepaskan semua kekayaannya dan pergi ke tempat yang tidak pernah ia ketahui. Di india dia mengajar anak-anak kecil untuk membaca. Dia merawat orang-orang yang sakit namun tergeletak tanpa ada yang peduli. Dia menemani dan menghibur orang-orang yang lemah. Baginya kemiskinan terburuk adalah ketika seseorang tidak lagi merasa dicintai dan dikasihi. Karena itulah ia membagikan seluruh kasihnya kepada rakyat India. Beliau rela menjadi miskin, agar orang lain menjadi kaya. Namun sebenarnya justru orang-orang yang rela menjadi miskin seperti beliaulah yang kaya di hadapan Tuhan.
Karena itu mari kita mengambil bagian dalam undangan ini. Mari kita mengambil bagian dalam pelayan kasih, dimana kita menyangkal diri untuk menjadi miskin demi kepentingan orang lain. Terlalu banyak hal yang dapat kita lakukan untuk pelayanan ini. Kita bisa membagi sedikit uang kita kepada orang yang kesusahan ekonomi. Kita bisa membagikan perhatian kita kepada mereka yang merasa kesepian. Kita juga bisa berbagi telinga kepada mereka yang ingin didengarkan. Kitapun bisa membagikan pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan pelayanan. Memang semua ini membutuhkan pengorbanan. Karena itulah pelayanan ini disebutkan pelayanan “menjadi miskin”. Namun biarlah dengan melakukan ini semua, justru kita menjadi kaya di dalam Tuhan.
Monday, December 20, 2010
Sukacita Natal (Lukas 2: 8-20) #2

Kata juruselamat ini berasal dari kata soter /savior. Kata ini dapat diartikan sebagai seseorang pembebas yang mampu membebaskan orang lain dari bahaya, kesesakan dan penderitaan. Di PL Yoahaz pernah disebut sebagai juruselamat karena ia membebaskan Israel dari penjajahan bangsa Aram. Seorang dokter juga dapat disebut sebagai juruselamat waktu itu. Seorang penolong dalam kesesakan itulah juruselamat. Tuhan Yesus menjadi juruselamat bukan hanya masalah sakit penyakit, politik dsb. Lebih dari itu semua, Ia menjadi juruselamat dari dosa-dosa kita. Gambarannya seperti orang yang mau tenggelam.
Sewaktu SD saya suka berenang bersama koko saya di kolam renang. Sampai suatu ketika; lagi asyik-asyiknya renang tiba-tiba kaki saya keram, dan kebetulan saya berada di kolam yang dalam yang tidak terjangkau oleh kaki saya. Lantas saya pun mulai tenggelam, dan mulai kelelep. Saya berteriak keras-keras tolong-tolong. Koko saya berusaha untuk menolong. Namun karena dia juga masih kecil, akhirnya dia malah ikut tenggelam dan teriak minta tolong. Waktu itu masi siang, kolam masi sepi pengunjung. Dalam benakku “matilah aku kali ini....matilah...” Ketakutan yang luar biasa menerpa diriku waktu itu. Namun tiba-tiba ada tenaga yang besar yang mendorong badan ini. Ada seorang guru renang berbadan besar yang melihat kami tenggelam langsung nyebur dan menolong kami. Akhirnya kami selamat. Guru renang itu sudah menjadi juruselamat bagi saya. Itulah yang Yesus lakukan. Menyelamatkan setiap kita yang sudah seharusnya binasa karena tenggelam dalam lautan dosa. Kita yang menderita karena dosa, dan seharusnya menanggung bahaya maut, dosa itulah yang dibebaskan-Nya.
Kabar baiknya lagi bagi kita ialah: Yesus lahir agar semua orang dapat menghampiri dia. Siapapun juga kita, dengan status apapun, kita dapat menghampiri Dia. Pernahkah saudara berpikir, bagaimana respon gembala ketika mendengar malaikat itu berkata “inilah tandanya bagimu, bahwa kamu akan menjumpai seorang bayi yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Kalau saya mungkin akan berespon “Yang benar malaikat, masak raja lahir hanya dibungkus lampin. Masak seorang juruselamat lahir di kandang hewan. Ga salah.” Bukankah demikian? Ga wajar jika seorang juruselamat yang melebih kaisar itu lahir di sebuah kandang. Yang wajar adalah jika Juruselamat itu lahir di istana. Makanya tidak heran para orang majus itu ketika hendak menemukan raja yang baru lahir tersebut, ia pertama mencarinya di istana Herodes. Karena itulah tempat lahir raja. Tapi ini di palungan dengan hanya terbungkus lampin. Ini pasti keliru.
Namun coba bayangkan. Seandainya Yesus lahir di istana, kira-kira apakah gembala itu dapat menghampiri dia? Tidak. Orang miskin, orang kelas dua, tidak boleh menghampiri raja yang baru lahir itu. Saya kira inilah alasannya mengapa Tuhan memilih palungan sebagai tempat lahirnya. Yaitu agar semua orang, baik orang berada maupun orang yang tidak terpadang, orang besar / kecil, siapapun juga, mereka dapat masuk menghampiri Tuhan, bersekutu denganNya, dan bersukacita bersama menyambut kelahiran-Nya. Ini merupakan contoh pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik harus dapat menerima orang besar ataupun orang kecil.
Inilah semua kabar baik itu: Dimana seorang Raja akan lahir menjadi juruselamat untuk semua orang, agar semua orang dapat menghampiri Dia....Karena itu malaikat berkata ‘jangan takut....’ ‘inilah Kesukaan Besar’; Karena itu jugalah para gembala itu bersukacita. Padahal status mereka masih masyarakat kelas dua. Padahal mereka tetaplah seorang gembala yang miskin, yang dipandang sebelah mata. Namun perbedaannya ialah: kini mereka bersukacita karena sudah mendengar kabar baik itu. Bahkan mereka sudah berjumpa sendiri dengan Yesus. Karena itulah mereka bersukacita. Sudah semestinya respon yang kita berikan sebagai anak-anak Tuhan juga demikian. Bersukacita bukan setelah kita menjadi kaya, setelah status kita diperbaiki, dsb. Bukan! Namun kita bersukacita karena kabar baik itu, yaitu Yesus, sang juruselamat itu, mau lahir untuk kita, agar kita dapat menghampiri Yesus raja segala raja itu. Inilah makna Natal bagi kita.
Biss, seandainya kita tahu betapa pentingnya kedatangan Yesus juruselamat itu, maka kita akan tahu seberapa jauh kita harus bersukacita. Keadaan kita sebenarnya seperti para penambang di Chile. Bulan Agustus yang lalu, ketika mereka sedang menambang di sebuah gua, tiba-tiba gua itu runtuh dan menimbun mereka di kedalaman hampir 1 km di bawah tanah. Awalnya orang-orang mengira para penambang itu sudah mati. Namun ternyata mereka berhasil menemukan suara sayup-sayup dari sebuah lobang kecil yang menunjukkan bahwa mereka masih hidup. Dari lobang itulah orang-orang memberi mereka makan dan memberi obat serta mengambil gambar ini. Penambang itu hidup dalam kekhawatiran. Bisa saja suatu saat gua itu menekan mereka. Bisa saja lubang sumber pengharapan mereka tertutup dan makanan dan obat ga bisa dikirim lagi. Dan banyak hal yang bisa terjadi. Hampir selama 2 bulan mereka di terkubur hidup-hidup. Istri-istri yang di atas berdoa dan menangis agar suami mereka dibebaskan. Harapan mereka Cuma satu “Pemerintah segera turun tangan menolong dan membebaskan mereka.” Bulan 11 yang lalu mereka berhasil di keluarkan. Semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan. Semua orang bersukacita, karena para penambang yang dulunya hidup dalam kegelapan kini bisa dilepaskan. Namun tentunya yang paling bersukacita adlaah para penambang itu. Ketika satu persatu dikeluarkan dari lubang mereka menangis memeluk istri dan anak mereka. Perasaan sukacita yang begitu besar ada pada mereka.
Seharusnya sukacita itulah yang harus kita miliki ketika Yesus datang ke dunia. Karena Dia datang untuk menolong setiap kita yang terjebak dalam kegelapan dosa. Sudah semestinya setiap kita yang telah dibebaskan merasakan sukacita itu.
Pertanyaannya saat ini adalah: adakah kita bersukacita setiap kali mengenang kelahiran-Nya? Adakah kita bersukacita karena kabar baik tersebut? Atau jangan-jangan di momen natal ini kita malah kehilangan sukacita itu. Kesibukan natal; tugas-tugas yang harus diselesaikan di akhir tahun; keterlibatan dalam berbagai pelayanan di acara natal, baik di komisi maupun natal umum; semua ini ternyata malah menekan kita. Kita jadi semakin stress. Tensi semakin tinggi. Dan yang terjadi malah gontok-gontokan; bombe-bombean; dan saling menghakimi. Natal menjadi acara yang diwarnai emosi. Makna natal itu hilang. Jika demikian, sia-sialah kita merayakan natal itu. Bila biss ada dalam keadaan itu hari ini, mari kita diam sejenak. Jangan lewatkan makna natal di tahun ini begitu saja. Jangan sampai kabar baik itu terlewat tanpa arti di tahun ini. Mari kita bersukacita merayakan natal....ya....sesibuk apapun kita.
Atau...seringkali sukacita kita keliru. Pada waktu natal kita bersukacita karena waktu itu saatnya berlibur. Kita bersukacita karena kita mendapatkan hadiah. Kita bisa berkumpul bersama sanak Family. Atau karena toko-toko memberikan big sale khusus di bulan natal. Toko kitapun jadi rame. Itu semua bukanlah makna natal yang sesungguhnya. Itu hanya kesukaan kecil yang sementara. Bukan kesukaan besar. Para penambang Chile tadi tidak bersukacita karena makanan dan obat-obatan yang mereka terima. Itu hanya sukacita kecil. Yang mereka mau adalah kebebasan. Hayatilah makna natal yang sesungguhnya. Di mana Yesus datang sebagai juruselamat untuk menebus dosa kita. Ketika kita bisa sungguh menghayati semua itu, saat itulah kita akan menikmati kesukaan yang besar.
Atau mungkin kita berkata ‘bagaimana saya dapat bersukacita? Hidup saya penuh dengan masalah. Keadaan ekonomi menjerat, utang-piutang memusingkan, sakit penyakit menghantui, keluarga tidak ada yang peduli dan saya merasa kesepian. Hidup ini banyak masalah dan banyak persoalan. Bagaimana saya dapat bersukacita di waktu Natal ini?’ Kepada saudara yang mengalami itu semua Tuhan ingin berkata ‘Jangan Takut....Aku ada beserta dengan saudara....Aku sudah datang...untuk menolong dan menghibur kalian semua....untuk membebaskan kalian dari kekhawatiran hidup....dan memberikan damai sejahtera.” Biarlah berita natal pada hari ini boleh mengantar kita pada sukacita yang sejati. Sukacita yang besar karena juruselamat itu telah lahir untuk kita. Masih ada waktu sebelum kita mengikuti rangkaian acara Natal sepanjang bulan ini. Mari kita intropeksi diri kita. Sudah siapkah kita kembali menghayati Natal itu? Adakah sukacita karena kelahiran-Nya?
Sukacita Natal (Lukas 2: 8-20) #1

Dunia kita semakin hari bergerak menjadi dunia yang penuh kekhawatiran. Perekonomian semakin terpuruk. Harga barang semakin hari semakin mahal. Mau buka usaha apapun susah, modal besar, pendapatan sedikit. Krisis ekonomi semakin merajalela. Persainganpun semakin hari semakin ketat dan bejat. Segala cara dilakukan untuk menjatuhkan saingannya. Semua ini membuat kita khawatir. Kita jadi bekerja lebih keras untuk mendapatkan penghasilan yang lebih. Fokus pikiran kita acapkali tertuju pada usaha dan bisnis yang kita jalankan. Bahkan mungkin ada di antara kita yang tidak bisa tidur karena cemas dengan kondisi keuangan kita. Tidak jarang suami istri menjadi bertengkar hebat karena masalah ekonomi / keuangan. Ya...perekonomian membuat kita khawatir.
Bagaimana dengan perkembangan teknologi? Seharusnya teknologi diciptakan untuk membantu meringankan pekerjaan manusia. Seharusnya teknologi diciptakan untuk menghibur dan menjamu manusia yang membutuhkan hiburan. Namun apa yang terjadi? Dengan teknologi manusia semakin egois. Kasih semakin dingin. Dan manusia jadi semakin individualis. Akhirnya banyak orang yang semakin stress. Mereka kehilangan kasih sayang dan merasakan kesepian yang sangat. Justru negara seperti Amerika dan Jepang yang kaya akan hiburan teknologi, malah disana memiliki angka bunuh diri yang sangat besar. Sebaliknya penelitian menemukan di negara yang jauh dari industri hiburan lebih jarang mendapatkan tekanan hidup. Disamping itu teknologi yang disalahgunakan malah menyebabkan kerusakan moral manusia. 50% lebih anak-anak muda dan remaja pernah mengakses gambar-gambar porno di internet. Dulu sebelum ada internet, anak remaja susah mencari gambar-gambar demikian. Dengan internet, gambar-gambar dan video itu bisa diakses sewaktu-waktu dan tanpa ketahuan siapapun juga. Akibatnya moral manusia semakin bobrok. Mungkin anak kita salah satu korban tekonologi tersebut. Ya...teknologipun juga membawa kepada kekhawatiran.
Belum lagi bencana, kecelakaan, dan sakit penyakit yang bisa datang sewaktu-waktu. Rakyat Mentawai tidak pernah tahu bahwa tsunami akan menimpa mereka. Masyarakat di Wasior juga tidak menyangka akan terjadi banjir bandang di daerahnya. Kecelakaanpun bisa datang tanpa pemberitahuan. Seorang ibu bisa kehilangan 5 anggota keluarganya sekaligus karena kecelakaan pesawat terbang. Siapa yang menyangka? Tidak...Ia tidak pernah menyangka. Ditambah sakit penyakit yang tidak mengenal belas kasihan. Kanker bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Seorang anak yang berusia 12 tahun bisa mengalami stroke. Ketika pengobatan semakin berkembang, penyakitpun ikut berkembang. Lantas bagaimana kita tau bahwa kita akan lepas dari ini semua? Tidak...Kita tidak tau. Semua ini dapat begitu mengkhawatirkan kita.
Inilah keadaan dunia kita. Tidak salah saya mengatakan bahwa dunia yang kita tinggali ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dunia yang kita tinggali bukanlah dunia yang ramah, yang selalu tersenyum manis kepada kita. Dunia kita juga bukanlah dunia yang menawarkan kedamaian. Sebaliknya dunia yang kita tinggali adalah dunia yang ingin merampas air mata dan sukacita dalam diri kita. Dunia akan selalu menawarkan kekhawatiran demi kekhawatiran. Mungkin kita adalah salah satu orang yang bergaul erat dengan apa yang namanya kekhawatiran tersebut. Masalah ekonomi menjerat. Keluarga berantakan. Sakit penyakit menimpa. Atau Kita merasa sendirian. Semua ini mau tidak mau membuat kita begitu takut dan khawatir. Memang semenjak manusia jatuh dalam dosa, kita akan berhadapan dengan apa yang namanya kekhawatiran.
****
Gembala-gembala dalam perikop yang kita bacapun tidak lepas dari kekhawatiran dan ketakutan. Jangan bayangkan gembala waktu itu seperti gembala-gembala dalam iklan rokok yang memakai topi koboi, jeans, pakaian klimis, dan menunggang kuda gagah dengan tali lasonya sambil berteriak ‘Yihaa!’. Gembala palestina waktu itu tidak segagah itu. Mereka adalah masyarakat kelas dua yang dipandang sebelah mata. Seorang gembala itu biasanya tinggal di luar benteng kota berdekatan dengan penyandang kusta dan orang-orang buangan lainnya. Mereka tidak diijinkan kebait Allah dan mereka tidak punya hak untuk memberi kesaksian di pengadilan. Mereka adalah sekelompok orang yang menderita. Setiap siang harus bekerja dibawah terik matahari, dan tiap malam acapkali mereka harus berbaring dengan beratapkan langit malam. Bahaya serigala, ular, sakit-penyakit dapat datang sewaktu-waktu. Mereka adalah sekelompok orang yang hampir-hampir tidak memiliki hak. Pemerintah bisa sewaktu-waktu mengambil ternak mereka dengan harga murah. Seseorang kaya bisa menjerat mereka untuk mendapatkan ternak miliknya. Karena itu wajar saja jika para gembala ini hidup dalam kekhawatiran dan ketakutan.
Sampai suatu malam yang bersejarah, ketika mereka sedang menggembalakan ternak di malam hari; datanglah malaikat menghampiri. Mereka menjadi ketakutan setengah mati. Tapi tentu saja kehadiran Malaikat itu bukan untuk menakuti. Malaikat itu hadir justru ingin memberi pesan kepada mereka “Jangan Takut!” “Jangan Takut” ini merupakan sebuah perintah. Bukan hanya untuk tidak takut kepada malaikat yang mereka lihat didepan mata, namun juga merupakan sebuah perintah kepada para gembala tersebut untuk tidak takut dan khawatir kepada apapun juga. Baik kepada pemerintah Roma, ataupun jangan takut terhadap masa depan hidup mereka.
Saya kira perintah ini juga ditujukan kepada semua umat Tuhan di jaman apapun dan di manapun ia berada, termasuk kepada kita. Karena itulah pesan ini dituliskan dalam Alkitab. Berkali-kali Tuhan ingin memberikan pesan kepada kita untuk ‘Jangan Takut’. Walau kesusahan ekonomi melanda saudara; perkembangan zaman mengkhawatirkan; sakit-penyakit dan bencana meneror kita; janganlah kita takut. Itulah perintah tuhan. Tapi mengapa? Mengapa gembala itu tidak boleh takut? Mengapa kita tidak boleh takut?
Jawabannya ada di ayat 10, 11 (baca bersama): yaitu karena ada kabar baik untuk kita semua. Dalam Alkitab terjemahan Indonesia hanya dituliskan bahwa malaikat hendak memberitakan kesukaan besar. Namun sesungguhnya dalam bahasa aslinya ada kalimat yang tidak tertulis disini yaitu bahwa malaikat itu memberitakan kabar baik. Kabar baik (euangelion) atau biasa kita mengerti sebagai kata injil. Apa itu Euangelion? Apa itu kabar baik? Kata ini (euangelion) biasa dipakai ketika ada seorang Kaisar yang lahir. Kelahiran seorang Kaisar dipadang sebagai kabar baik – injil. Ketika Kaisar Aleksander yang terkenal itu lahir kedunia, semua orang bersorak sorai euangelion, ini kabar baik. Akan tetapi kabar baik yang hendak diberitakan oleh Malaikat itu jauh lebih daripada kelahiran seorang kaisar. Karena yang lahir ini jauh lebih dari seorang Kaisar. Ia adalah raja di atas segala raja. Ia adalah Yesus penguasa dunia. Dan raja segala raja itu mau turun ke dunia yang hina untuk menghampiri kita. Sungguh inilah yang dinamakan kabar baik.
Disebuah desa di daerah China awal bulan 2 yang lalu mendapatkan kabar bahwa presiden Hu Jintau, orang nomor satu di China itu akan mengunjungi desa mereka. Presiden Hu selalu mengunjungi kerumah-rumah rakyat kecil pada waktu imlek tiap tahunnya. Ia pergi tanpa pengawalan yang ketat agar dapat semakin erat dengan rakyatnya. Ia suka membumi bersama masyarakat yang dicintainya untuk menghayati kehidupan rakyatnya. Tanggal 14 Februari kemarin terjadilah di mana ia menghampiri sebuah rumah sederhana di sebuah desa, lalu ia membuat adonan kue bersama, bahkan mengikuti acara tarian adat yang ada di desa tersebut. Tentu saja perasaan bahagia tak dapat disembunyikan oleh masyarakat di desa itu. Senyum yang mengembang terus tampak dilayar televisi seakan tidak ada hari sebahagia hari itu. Inilah kabar baik bagi mereka.
Demikian pula kelahiran Kristus itupun merupakan kabar baik bagi kita. Raja segala raja / pemimpin nomor 1 itu mau menghampiri ‘desa’ kita yang hina ini. Bahkan lebih lagi, ia datang bukan cuma untuk bersenang-senang dan jumpa fans. Ia datang dengan tujuan yang jelas: yaitu untuk menjadi juruselamat bagi kita semua.