Showing posts with label Penderitaan. Show all posts
Showing posts with label Penderitaan. Show all posts

Thursday, October 11, 2018

Inspirasi dari Asian Para Games



Belum lama ini, Indonesia diberikan hak istimewa oleh dunia, secara khusus Asia, untuk mengadakan event olahraga terelit dan terbesar se-Asia, Asian Games 2018. Kontingen dari 45 negara Asia berkumpul di Ibu kota dan Palembang, mengadu kekuatan dan ketangguhan di 40 cabang olahraga.

Tak lama setelah perhelatan Asian Games usai, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event Asian Para Games, pertandingan antarolahragawan penyandang disability, para atlet yang memiliki keterbatasan atau – dalam bahasa awam, kecacatan – di tubuh mereka.
Nah, mumpung saya sedang berada di Jakarta dan kebetulan ada waktu kosong, saya memutuskan untuk hadir dan menyaksikan beberapa pertandingan Asian Para Games 2018.

Cabang olahraga yang dipertandingkan sangat unik. Ada lomba lari dengan kursi roda, lomba lari dengan kaki yang ‘tidak sempurna’, wheelchair basketball, pertandingan badminton sebelah tangan, renang satu kaki, lawn ball, goalball, dan cabang-cabang olahraga lain yang mungkin tidak banyak dikenal orang.

And you know what, saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan menyaksikan event ini. Inspirasi dan energi seolah meledak-ledak tanpa henti dalam pikiran dan hati saya di Gelora Bung Karno saat itu. Inspirasi apa sajakah itu,.....................

Selanjutnya baca link dibawah ini.....

 

http://www.ributrukun.net/2018/10/11/dari-asian-para-games-2018-ini-kekayaan-inspirasi-dan-ledakan-energi-yang-saya-alami/

Wednesday, January 16, 2013

Ayub 7




Kehidupan manusia dibumi ini dipenuhi oleh banyak pergumulan.  Pergumulan itu bagaikan sahabat yang selalu menemani disepanjang hidup kita.     Pergumulan itupun bersifat mistery; kita tidak tau kapan ia akan menghampiri kita, dan menggoncang kehidupan kita.  Ada pergumulan yang berat, ada pergumulan yang ringan, ada juga pergumulan yang sedang-sedang saja.   Gagal atau tidaknya kita menghadapinya seakan-akan tergantung dari seberapa besar kekuatan yang dimiliki masing-masing orang.  Tetapi walau demikian….Yang pasti, tidak ada manusia yang terlalu kuat untuk yang tidak pernah menangis dalam menghadapi pergumulan hidup.   Sebab kekuatan manusia ada batasnya.

Kekuatan Ayubpun ada batasnya.   Pasal 7 menunjukkan akan hal ini.  Pasal ini menyatakan akan betapa rapuhnya dan tidak berdayanya Ayub.  Jika di pasal 1 kita masih terkagum-kagum dimana Ayub begitu tegar menghadapi penderitaannya;  pasal 7 menunjukkan akan kerapuhannya dan keterbatasannya dalam mengatasi masalah hidup.  Dan saya kira apa yang Ayub rasakan mewakili apa yang semua manusia rasakan, termasuk setiap kita disini, pada saat kita mendapatkan pergumulan yang berat.

Di ayat 1-10 ini di pasal ini Ayub menyatakan isi hatinya yang terdalam.  Diawali dengan pernyataan: bukankah manusia harus bergumul di bumi ini, dan hari-harinya seperti orang upahan?  Ayub menggambarkan pergumulan itu bagaikan seorang budak, yang terikat pada tuannya, yang tidak bisa lari kemana-mana, dan tidak berdaya, hanya dengan sabar menerima nasib menjadi orang rendah yang tidak berpengharapan.  Demikian pergumulan itu membuat dia seperti budak.  Ia tidak berdaya, tidak bisa melawan beban berat itu, dan mau tidak mau harus menuruti kemauan dari pergumulannya.  

Berikutnya di ayat yang ke-3 & 4 Ayub mulai merasa hidupnya sia-sia.   Setiap malam ia merasakan gelisah yang berat.  Ia tidak bisa tidur karena dihantui pergumulan itu.  Dan pergumulan yang berat itu membuatnya dadanya sesak.  Setiap malam datang mungkin ia berkata pada dirinya, semoga hari esok sudah tidak ada daripada hidup terus menderita.  Saya yakin saudara juga pernah mengalami hal ini.  Pergumulan yang begitu berat, membuat hati kita sesak tidak bisa tidur, menangis sepanjang malam sampai matahari terbit.  Dan rasanya tidak ada kekuatan kita mulai sirna untuk menghadapi hari esok.

Selanjutnya Ayub juga merasakan tiada lagi harapan.  Di ayat 6 dikatakan hariku berlalu lebih cepat daripada torak dan berakhir tanpa harapan.  Torak itu seperti bekas bahan sewaktu orang menenun, yang dipakai sebentar lalu kemudian dalam sekejap bekas bahan tenunan itu menjadi sampah dan dibuang.  Ayub merasakan hidupnya seperti itu.  Ia kehilangan pengharapannya.   Di ayat 7 dikatakan bahwa matanya tidak sedikitpun melihat yang baik.  Bukankah itu yang dialami ketika kita tidak lagi memiliki pengharapan.  Segala sesuatu yang ada didepan kita tampak tidak jelas.  Semuanya buruk.   Kita seperti tersesat dalam sebuah gua, dan tidak sedikitpun melihat secercah cahaya.  Semuanya gelap…. Tidak ada harapan.

Bukan hanya itu yang dialami oleh Ayub.  Selain merasa hidupnya sia-sia, selain kehilangan pengharapan, iapun merasa bergumul seorang diri.  Di ayat 8 dikatakan: orang yang memandang aku tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.  Ayat 10 melengkapi: Ia tidak lagi kembali kerumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.  Ayub merasa seorang diri.  Pergumulan itu begitu hebat sehingga ia merasa tidak ada satu orangpun yang dapat mengerti dirinya.

Saudara, saya kira setiap kita pernah merasakan apa yang Ayub rasakan ketika menghadapi pergumulan yang hebat.  Perasaan tidak berdaya menghadapi semua masalah yang menekan.  Rasanya kekuatan kita hampir sirna menghadapi pergumulan itu.  Perasaan hidup yang sia-sia.   Mungkin sakit penyakit, masalah ekonomi, atau segala duri dalam daging kita telah menghancurkan semua impian dan cita-cita kita.  Bahkan kita mungkin pernah merasakan apa yang namanya putus asa.  Kehilangan harapan.  Semua tampak gelap, seakan tidak ada jalan keluar.  Kita merasa berjalan seorang diri, tidak ada satu orangpun yang mengerti perasaan kita.  Suami tidak, istri tidak, anak-anak tidak, sahabat-sahabatpun tidak.  Saya yakin saudara ditempat ini pernah merasakan apa yang dirasakan Ayub.  Bahkan mungkin saja saat ini bapak ibu datang dengan membawa segala perasaan itu.

Karena itu mari kita melihat kembali kepada tokoh Ayub.  Ditengah kesesakannya, ditengah keputus asaaanya, ditengah ketidakberdayaan dan keputusasaannya menghadapi pergumulan hidupnya,  Ayub memilih untuk berseru dan memohon kepada Tuhan.   Pasal 7 ini dibagi 2 bagian.  Bagian pertama ayat 1-10 berisikan apa yang dirasakan Ayub terhadap pergumulannya, sementara ayat 11-21 berisikan seruan Ayub kepada Tuhan.  

Diawalin di ayat 11dimana dengan susah hati Ayub berkata: oleh sebab itu, aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.  Hatinya sudah tidak tahan lagi, ia ingin segera menyampaikan keluh kesahnya dihadapan Tuhan.  Ayat-ayat selanjutnya ia menyatakan kepada Tuhan akan keluh kesahnya.  Ya… Ayub menyatakan isi hatinya kepada Tuhan.  Walaupun ia tau bahwa mempertanyakan kedaulatan Tuhan itu tidak baik, namun kesesakan hatinya mendorongnya untuk berseru kepada Tuhan secara apa-adanya.  Ia memilih untuk menjadi seperti seorang anak kecil yang bertanya kepada Bapanya segala sesuatu yang ia tidak mengerti.  Ia menyatakan dihadapan Tuhan bahwa ia lebih baik mati daripada hidup demikian.  Ia bertanya sebenarnya siapakah manusia, sehingga Tuhan mengagungkannya.  Bahkan Ayub bertanya: apa salah dan dosaku ya Tuhan?  (mengingat pada jaman dulu ada konsep bahwa sakit penyakit itu merupakan kutuk atas kesalahan yang diperbuat manusia).  Bahkan dalam pergumulan yang berat itu, Ayub berani bertanya kepada Tuhan:  Mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku dan tidak menghapus kesalahanku?  Mengapa Engkau tidak mencari Aku?   Ayub merasa Tuhanpun tidak peduli terhadap dirinya.

Saudara, memang doa yang disampaikan Ayub ini tidak benar.  Tidak benar kalau Tuhan tidak peduli terhadap Ayub.  Tidak benar kalau Ayub bertanya apa dosa dan salahku.  Tidak benar kalau dikatakan Tuhan tidak mau mengampuni.  Semua itu tidak benar.  Tapi bukan poin ini yang ingin saya ajak jemaat renungkan.  Namun mari kita belajar sperti Ayub, yaitu belajar menyerukan segala isi hati kita dihadapan Tuhan.  Saya yakin Ayub merupakan seorang yang saleh.  Ia tau bahwa Tuhan itu peduli.  Ia tahu bahwa Tuhan itu maha kasih dan maha pengampun.  Dan Ia tahu bahwa bukan Tuhan yang menyebabkan Ia menderita.  Namun semua kesesakan dan pergumulan yang hebat itulah yang mendorongnya mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.  Segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannyapun di ajukan kepada Tuhan.  Seperti seorang anak kecil yang bertanya kepada papanya mengapa ini terjadi, mengapa itu terjadi.

Saudara, mari pada saat ini kitapun berseru kepada Tuhan untuk segala pergumulan yang kita hadapi.  Mungkin diantara kita ada yang sedang merasa tidak berdaya karena permasalahan kehidupan yang berat, mungkin diantara kita mulai berpikir bahwa hidup ini sia-sia, atau bahkan ada yang mulai kehilangan harapan, merasa seorang diri menghadapi.  Mari kita mengambil langkah seperti Ayub.  Mari kita berseru kepada Tuhan.  Berdoa, curahkan seluruh isi hatimu dihadapan-Nya.  Mazmur 62:9 berkata “berharaplah kepada Allah setiap waktu; curahkanlah isi hatimu kepada-Nya, sebab Dialah tempat kita berlindung.”




Tuesday, July 17, 2012

DILEMAHKAN UNTUK MENJADI KUAT



Di dalam kekristenan terdapat banyak sekali pengajaran-pengajaran yang bersifat paradoks.  Paradoks itu artinya kelihatannya seperti saling bertentangan, namun kalau diteliti baik-baik, sebenarnya mereka tidak bertentangan sama sekali.  Misal:  Menjadi pelayan untuk menjadi pemimpin, hal ini tampak bertentangan bukan?  Menjadi pelayan tidak mungkin jadi pemimpin.  Namun sebenarnya hal ini tidak bertentangan.  Kita bisa menjadi pemimpin yang melayani.  Contoh pengajaran Kristen lainnya yang bersifat paradoks antara lain:  Melayani, bukan dilayani; menjadi mulia dengan melepaskan hak; orang yang dikasihi justru dihajar; melihat yang tidak terlihat; dsb. 

Namun dari semua paradoks itu, ada satu paradoks yang menarik perhatian saya.  Paradoks itu mengatakan “Ketika kita menjadi lemah, kita akan menjadi kuat”.  Hal ini sungguh tampak bertentangan.  Bagaimana mungkin seorang yang lemah bisa sekaligus disebut kuat?  Hal ini tampak tidak masuk akal bukan?  Namun realita menunjukkan demikian:  Ketika kita lemah, justru kita akan menjadi kuat.  Tentu saja semua ini ada penjelasannya.  Karena itu saya mengajak setiap kita untuk merenungkan kisah dari seorang yang bernama Gideon.

Kisah Gideon ini di awali dari pasal 6:1 yang menceritakan demikian “Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan; sebab itu Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya.”  Selama tujuh tahun itulah umat Israel itu mengalami penderitaan dan tekanan yang berat.  Setiap kali mereka menanam sesuatu, pas sudah dekat musim menuai, orang-orang Midian datang untuk merampas hasil panen mereka.  Domba, lembu, dan segala ternak yang dimiliki orang Israel selalu di rampas. Sampai-sampai di ayat 6 dikatakan “sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu...” yang menunjukkan penderitaan yang begitu hebat.   Penderitaan itu tidak lain disebabkan oleh karena dosa mereka sendiri.  Karena perbuatan jahat itulah, maka Tuhan membiarkan mereka berjuang sendiri melawan orang-orang Midian.

Singkat cerita umat Israel menyesal atas perbuatan mereka, dan merekapun mencari Tuhan.  Lalu Tuhan yang begitu mengasihi umat Israel bagai seorang ibu mengasihi anak-anaknya, Ia menolong Israel untuk keluar dari penjajahan bangsa Midian.  Tuhan membebaskan Israel dengan mengirimkan seorang hakim yang muda belia yang bernama Gideon.

Namun pada saat itulah kepercayaan umat Israel kepada Tuhan di uji.  Ketika mereka hendak berperang melawan Midian, bergabunglah bersama Gideon 32.000 pasukan siap tempur.  Sebenarnya ini merupakan jumlah yang cukup banyak, namun jika dibanding dengan pasukan Midian, jumlah 32.000 itu tidak ada apa-apanya.  Alkitab mengatakan pasukan orang Midian itu seperti belalang banyaknya, bahkan seperti pasir di laut.  Yang menyatakan terlalu banyak hingga tidak lagi dapat terhitung.  Mungkin diperkirakan ada ratusan ribu bahkan jutaan pasukan Midian.  Dengan modal keberanian, orang Israel berusaha melawan orang Midian dengan segala pasukan yang ada.

Tetapi apa yang terjadi sebelum mereka berperang?  Tiba-tiba Tuhan berfirman kepada Gideon bahwa pasukan yang bersama Gideon itu terlalu banyak, dan Tuhan mau Gideon mengurangi jumlah pasukannya.  Kemudian diadakanlah pengujian pertama.  Pasukan yang semula berjumlah 32.000 orang kini tersisa 12 ribu orang.  Semakin jauhlah perbedaan jumlah pasukan mereka.  Tapi tidak cukup disana.  Tuhan berfirman lagi menyuruh Gideon mengurangi jumlah pasukannya lagi.  Masih terlalu banyak kata-Nya. Diadakanlah pengujian yang kedua, alhasil yang tersisa tinggal 300 orang.  Bayangkan saja, dari 32.000 orang pasukan melawan ratusan ribu, menjadi 300 orang melawan ratusan ribu.  Dan Tuhan menyuruh Gideon berperang dengan 300 orang itu.  Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa iman percaya umat Israel dan Gideon sangat diuji. 

Ketika saya merenungkan hal ini, saya bertanya-tanya “apa maksud Tuhan akal hal ini, mengapa Ia sengaja mengurangi jumlah pasukan Israel sampai sesedikit itu.”  Ketika merenungkanya saya menemukan sebuah jawaban.  Terkadang Tuhan sengaja mengurangi kekuatan kita supaya kita dapat melihat kekuatan-Nya yang jauh lebih perkasa.  Terkadang Tuhan sengaja membuat kita lemah terlebih dahulu, agar kita dapat melihat kekuatan-Nya yang besar menaungi diri kita.  Inilah bagian yang hendak diajarkan oleh Alkitab.  Paulus sendiri pernah berkata “Saya suka bermegah dalam kelemahanku, sebab, dalam kelemahanku lah kuasa Tuhan menjadi sempurna.”  Semakin kita lemah, semakin kita memandang kepada Tuhan, dan semakin kita bergantung kepada kuasa-Nya.  Semakin kita lemah, maka semakin kita menjadi kuat
Pernahkah bapak ibu berada dalam kondisi demikian?  Saya  mengenal seorang perempuan yang baru menikah ketika usianya sudah menginjak kepala 3.  Perempuan ini dapat dikatakan seorang Kristen-Kristenan, yang tidak terlalu peduli tentang Tuhan, tapi ia tetap ke gereja tiap minggu karena rutinitas sejak kecil. Satu kerinduan bagi seorang perempuan yang baru menikah umumnya adalah ingin memiliki momongan.  Tapi perempuan ini belum juga memiliki momongan dalam 2 tahun usia pernikahan mereka.  Dengan segala upaya ia mengusahakan untuk bisa memiliki anak.  Ia pergi ke dokter, konsultasi, minum ramuan yang katanya bisa menolong perempuan untuk mengandung, masih tidak bisa lagi, ia mencoba keluar negeri untuk dibantu pengobatannya.  Ia menjaga kesehatannya dengan baik. Dan banyak lagi upaya yang dilakukannya.  Tapi 1 tahun berlalu, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun... perempuan ini tidak kunjung mengandung.  Akhirnya karena kekuatannya sudah sirna, iapun menangis dihadapan Tuhan.  Dengan tanpa daya ia datang kepada Tuhan dan memohon pertolongan Tuhan.  Ia mulai sungguh-sungguh beribadah. Mulai rajin bersaat teduh.  Mulai suka mendengarkan khotbah-khotbah yang ada di televisi dan sebagainya.  Walaupun belum juga dikaruniakan anak, tapi perlahan-lahan imannya mulai tumbuh.  Emosinya mulai stabil.  Dan dalam dirinya ia yakin bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik.  Dan iapun menjadi orang yang kuat dan tegar.

Terkadang memang Tuhan harus mengambil kekuatan kita agar mata kita dapat tetap memandang kepada-Nya.  Tuhan merindukan agar setiap kita dapat semakin percaya kepada-Nya dan semakin mengandalkan Dia.  Bagaimana dengan saudara di tempat ini? Mungkin saat ini saudara sedang mengalami banyak pergumulan.  Mungkin tekanan-tekanan dalam pekerjaan, masalah ekonomi, sakit penyakit yang menyerang, bencana alam, dan banyak lagi permasalahan yang datang menyerbu hidup kita.  Mungkin saat ini kita merasa kekuatan kita sudah hampir habis.  Kita mengharapkan sesuatu, namun bukannya semakin dekat dengan apa yang kita harapkan, realita menyatakan bahwa hampir mustahil kita bisa menggapai apa yang kita harapkan.  Jika itu yang saudara alami saat ini, janganlah putus asa, mungkin Tuhan sedang mengambil kekuatanmu agar engkau bisa semakin mengandalkan Tuhan.  Jangan pernah sekalipun menyerah, sebaliknya arahkan pandanganmu kepada-Nya.  Dan mari kita belajar untuk tetap percaya kepada kedaulatan Tuhan atas hidup kita.  Rencana Tuhan tidak pernah meleset atau keliru.  Ia tau jalan yang paling tepat buat kita.  Ia tau apa yang harus diperbuat bagi masa depan kita.  Ia mau kita menjadi anak-anak Tuhan yang kuat.

Wednesday, January 04, 2012

Ujian Di ‘Padang Gurun’



Ulangan 8:2a “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kau lakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama 40 tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu”

Dalam menjalani kehidupan ini tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan melewati banyak “padang gurun” yang begitu menyesakkan kita. ‘Padang gurun’ kehidupan ini bisa menjelma dalam masalah keluarga, krisis ekonomi, pekerjaan, dsb. Yang pasti ‘padang gurun’ ini dapat membuat kita putus asa dan kehilangan pengharapan. Namun harus kita sadari bahwa seringkali Tuhan menggunakan situasi ‘padang gurun’ itu justru untuk mendidik dan mendisiplin anak-anak-Nya. Umat Israel sengaja ditempatkan di padang gurun selama kurang lebih 40 tahun karena Tuhan sendirilah yang ingin membentuk dan merendahkan hati mereka. Kesenangan acapkali mengajarkan seseorang untuk menjadi angkuh dan egois. Sedangkan pergumulan acapkali membentuk hati seseorang untuk lebih rendah hati. Karena itu jika engkau berada dalam ‘padang gurun’ saat ini, ingatlah, mungkin ada didikan Tuhan yang ingin disampaikan kepadamu.

Sunday, December 11, 2011

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #3



Alhasil setelah ia meratap dan menangisi setiap beban pergumulannya di hadapan Tuhan, Daudpun dapat bangkit dari keterpurukannya. Di tiga ayat terakhir (9-11) ia berkata “Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.” Dengan yakin ia memerintahkan musuh-musuhnya untuk mundur. Musuh-musuhnya akan mundur dan mendapat malu. Saya kira setelah ia berdoa dan menangis di hadapan Tuhan, semua pergumulannya tidak serta merta lenyap. Pergumulan itu masih ada. Hanya saja keyakinannya berbisik, bahwa semua musuh-musuhnya akan mundur dari hadapannya.

Mengapa ia begitu yakin? Karena ia tahu bahwa Tuhan telah mendengar setiap tangisnya. Tuhan memperhitungkan setiap air mata yang tertumpah. Tuhan sudah menerima doanya. Itulah hal yang sangat menguatkan batinnya. Tangisan Daud telah di ubah menjadi kekuatan. Air mata yang dikatakan orang sebagai tanda kelemahan, ternyata ditangan Tuhan dapat diolah menjadi kekuatan yang besar. Air mata dukacita itu di hadapan Tuhan berubah menjadi mata air sukacita yang tidak pernah habis.

****

Ada seorang pemuda yang pernah mengalami hal yang serupa dengan Daud, walau tidak sama persis. Pemuda ini mengalami pergumulan yang berat dalam waktu yang berdekatan. Dari persoalan keluarganya yang mendadak harus menghadapi berbagai penyakit yang tidak jelas, yang mengeluarkan banyak biaya. Ditambah masalah pekerjaan yang mendadak membebani keluarganya. Ditipu, utang tidak dibayar, kesalahan perhitungan, dsb. Semakin diberati juga dengan relasinya yang retak dengan orang terdekat. Orang yang selama ini menjadi partner hidupnya dan yang menjadi sumber inspirasinya, ternyata harus pergi meninggalkan dirinya. Hal itu sangat memukul dan melukai batinnya. Seakan belum cukup, iapun harus menghadapi pergumulan-pergumulan dalam dirinya sendiri yang dianggapnya sebagai duri dalam daging yang begitu menusuk dan melukai dirinya. Sudah bertahun-tahun ia bergumul mengenai duri dalam dagingnya, namun duri itu terus menancap dan berakar dalam dirinya. Dan tidak tahu kenapa, duri itu begitu kuat menusuknya waktu itu. Semua ini sangat mengganggu jiwanya. Karena tubi-tubi pergumulan itu, pemuda ini sering diteror oleh ketakutan yang tidak jelas, yang menyebabkan setiap malamnya terjaga. Sebuah ketakutan yang irasional yang tidak dapat dipahami. Dan ketika ia mau menghampiri Tuhan, ia merasa malu. Ia merasa dirinya tidak layak untuk memohon pertolongan kepada Tuhan.

Namun suatu malam, karena beban yang dipikulnya terlalu berat, akhirnya ia menangis kencang. Dalam tangisnya ia memberanikan diri berseru dan berteriak memanggil nama Tuhan. Tidak banyak kata-kata yang diungkapkannya. Dengan nada sayup dan bibir yang gemetar ia berseru “Tuhan.....Tuhan....Tuhan....tolong saya...tolong saya.....tolong saya” . Sepanjang malam yang hening itu, berulangkali ia mengucapkan hal yang sama.

Tahukah saudara, Tuhan tidak tinggal diam. Pada malam yang sepi dimana hanya ada Tuhan dan dirinya, Tuhan mendengar tangisan dan seruannya. Tuhan memperhatikan air matanya. Dan Tuhan mengubah malam yang penuh kekhawatiran itu menjadi malam yang penuh keyakinan. Sehingga pada malam itu terciptalah syair lagu dari pemuda tersebut. Lagu itu yang senantiasa memberikan kekuatan setiap kali ia menghadapi pergumulan. Lagu itu berkata demikian:

HIDUPKU PADAMU

Adakah ku layak hampiri dirimu

Hina dan dosa melingkupiku

Namun anugerah-Mu layakan diriku

Menghampiri takhta-Mu yang kudus

Kini kusrahkan semua

Hidupku Pada-Mu

Segala rencanaku, masa depanku

Dalam daulat-Mu

Dan Kuharapkan semua

Kekuatan dari-Mu

Tuk jalani liku kehidupanku

Ya Yesusku

Jika saudara menghadapi berbagai pergumulan saat ini yang begitu mencekam, menakutkan dan menghempas relung hati saudara, jangan pernah ragu untuk menghampiri Tuhan. Hampiri Dia. Berserulah memanggil namanya. Menangislah jika engkau merasa bebanmu sudah terlalu berat. Jangan pernah menjadi malu untuk menangis. Kita tidak menangis dihadapan manusia, melainkan di hadapan Tuhan. Tidak perlu banyak berkata-kata. Biarkan air matamu yang berbicara banyak. Tuhan mendengar seru doamu. Tuhan yang mengasihimu, Tuhan juga yang akan mengubah air mata kesedihan itu menjadi mata air sukacita. Mata air itulah yang akan memberikan kelegaan dan kekuatan kepada saudara. Menangislah.....Ya.....Menangislah di hadapan Tuhan.

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #2



Mari kita melihat kembali kepada tokoh kita Daud. Ditengah pergumulan yang begitu mencekam bertubi-tubi menyergap hidupnya, ternyata Daud menangis. Ya... Daud yang spektakuler dan Daud yang perkasa itu menangis. Di ayat 7 ia mengatakan “Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.” Perhatikan ungkapan ‘menggenangi tempat tidur’... ‘air mata membanjiri ranjang’, bagaimana mungkin itu terjadi? Jelas saja air mata manusia tidak cukup untuk menggenangi dan membanjiri tempat tidurnya. Di sini Daud memakai majas hiperbola, yaitu sebuah gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Daud ingin menggambarkan akan betapa galau dan tertekan jiwanya saat itu. Begitu mencekam hingga tangisan biasa sekalipun tidak dapat mewakili perasaan hatinya. Oleh sebab itu ia memakai majas hiperbola untuk mengungkapkan betapa berat beban yang dipikulnya. Ya... Daud sang pahlawan itu menangis. Setiap hari ia menggenangi tempat tidurnya. Ia membiarkan air matanya mengalir deras untuk mengeluarkan penderitaan dalam sukmanya.

Namun Daud tidak menangis sendirian tanpa arah. Ia memilih untuk menangis dihadapan Tuhan sang pejunan hidupnya. Ia mengandalkan Tuhan untuk meluputkan sesak jiwanya. Sejak awal ratapan ini ditujukan kepada Tuhan. Ia memanggil nama ‘Tuhan’ (Yahwe) yang memegang perjanjian terhadap setiap umat Israel dan yang berkuasa. Dalam 4 ayat pertama berturut-turut Daud berseru memanggil nama Tuhan: ‘ya Tuhan’, ‘Kasihanilah aku Tuhan’, ‘Tuhan, berapa lama lagi’, ‘Tuhan luputkanlah jiwaku’.

Daud sadar bahwa ia punya Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya keluar dari segala permasalah itu. Tuhan yang adalah pencipta dunia ini beserta seluruh isi alam semesta; Tuhan juga yang ia yakini sebagai pencipta hidupnya, yang membentuk buah pinggangnya sejak ia berada dalam kandungan; Tuhan juga yang sudah melakukan banyak perkara-perkara besar bagi para pendahulunya; Tuhan itu juga yang ia yakini berkuasa untuk menolongnya dari setiap kesusahan.

Bukan hanya menyadari bahwa Tuhan itu berkuasa, iapun sadar bahwa ia memiliki Tuhan yang senantiasa menyatakan kasih setia-Nya terhadap setiap anak-anak yang bergantung kepada-nya. Dalam pemahamannya Tuhan itu dekat dengan orang yang remuk hati. Ia tahu setiap isi hati umat-Nya. Bukan hanya tahu, tapi Tuhan itu peduli terhadap kesesakan ‘kawanan-kawanan domba-Nya’. Tuhan itu seperti Bapa yang penuh kasih terhadap anak-anak-Nya, yang disatu sisi membiarkan anak-anak-Nya menghadapi pergumulan-pergumulan hidup untuk mendewasakannya; tapi disisi lain Ia tidak akan membiarkan pergumulan itu membuat anak-anak-Nya terjatuh sampai tergeletak. Karena itu dalam seruannya di ayat 5, ia berkata “Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.” Daud menyatakan kebergantungannya kepada Tuhan.

Atas dasar pemahaman akan Allah yang berkuasa dan penuh kasih inilah Daud memberanikan diri menangis di hadapan Tuhan. Daud rela menelanjangi dirinya di hadapan Bapanya. Ia menyatakan betapa lemah dan tidak berdayanya ia. Dia membiarkan dirinya menangis seperti seorang anak kecil untuk memperoleh belas kasihan sang Kahlik. Ia tidak mau berpura-pura tegar menghadapi setiap pergumulannya. Ia juga tidak mau melarikan diri dari realita permasalahan yang ada. Sebaliknya ia lebih memilih untuk mengekspresikan jerit hatinya dengan menunjukkan tetesan air mata dihadapan Tuhan.

Manusia memang perlu menangis. Menangis dapat melepaskan segala kepenatan dan beban yang kita pikul. Namun tangisan yang tidak terarah akan berbahaya. Ada orang yang setelah menangis malah melakukan tindakan-tindakan yang irasional. Ada orang yang setelah lama menangis akhirnya menjadi depresi dan mengalami gangguan mental. Bahkan ada orang yang setelah menangis akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di dunia. Tangisan-tangisan demikian bukannya meringankan beban, namun setiap tetesan air mata itu kembali ‘terminum’ atau ‘terhisap’ dalam mulutnya dan kembali membebani jiwanya.

Namun air mata yang ditujukan kepada Tuhan akan berbeda. Menangis di hadapan Tuhan melambangkan bahwa kita adalah manusia lemah, dan kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan yang kuat. Menangis di hadapan Tuhan merupakan sebuah sikap kerendahan hati yang menyatakan kebergantungan total akan pemeliharaan dan pimpinan Tuhan. Dan Tuhan kita adalah Tuhan yang berkenan terhadap kerendahan hati. Ia menyukai hati yang bersandar dan mengandalkan Dia. Karena itu setiap tetes air mata yang tumpah di tangan sang Pejunan itu akan diubahkan–Nya menjadi kekuatan yang limpah. Itulah sebabnya Daud suka meratap dan menangis di hadapan Tuhan. Karena itulah sumber kekuatannya.

Tangisan Yang Diubahkan (Mazmur 6) #1




Air Mata
Air mata telah jatuh membasahi bumi
Takka sanggup menghapus gelisah
Penyesalan yang kini ada
Jadi tak berarti
Karena waktu yang bengis terus pergi

Menangislah jika harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah


Inilah sepenggal lyric yang tercipta dari tangan seorang pujangga di Indonesia. ‘Menangislah jika harus menangis’ demikianlah katanya. Mengapa harus berpura-pura tegar dan kuat, sementara jiwamu rapuh dan retak? Mengapa kita harus terus tersenyum sementara sukmamu merana? Mengapa kita harus tertawa jika sebenarnya kita harus menangis?

Awal Januari 2011 yang lalu, saya kehilangan seorang teman sekaligus rekan pelayanan. Dia yang usianya masih tergolong muda, 24 tahun, harus menderita kanker ganas dalam tubuhnya. Kanker itu menyerang buas sejak diketahui keberadaannya pertama kali di bulan Oktober 2010. Dalam kurun waktu kurang lebih tiga bulan, akhirnya iapun berpangku di sisi Bapa. Semua orang menangis. Sahabat-sahabat, rekan-rekan pelayanan, kerabat-kerabat, dan terutama keluarganya. Orangtuanya tampak begitu terpukul, karena anak yang meninggal ini merupakan anak laki-laki satu-satunya yang mereka miliki. Karena itu derai tangis, dan raung riakpun bergema ketika melepaskan kepergiannya. Namun di tengah kepedihan dan suasana duka itu, datanglah salah satu kakak dari orang tuanya dan memarahi mereka. “Sudah gak usah menangis, ngapain kamu menangis; Kamu cuma bikin anakmu tambah susah hati saja di Surga!” Berkali-kali ia mengucapkan hal itu dan membentak keluarga yang sedang menangis. Tapi percuma saja. Kesedihan itu terlalu berat untuk dipikul. Sehingga tangisan tetap bergaung sepanjang malam itu.

Mengapa tidak menangis jika harus menangis? Bukankah ada banyak orang yang berpikir seperti kakak dari orang tua teman saya tersebut? Memang apa yang dilakukannya cukup ekstrim karena melarang orang menangisi kepergian anak sendiri. Namun jujur saja, dalam kehidupan ini ada begitu banyak orang yang tidak menghargai arti sebuah air mata. Air mata melambangkan kelemahan, katanya. Air mata hanya untuk pecundang, ungkapnya. Laki-laki tidak boleh menangis, titahnya. Air mata sama dengan kekalahnya, pendapatnya. Namun benarkah demikian?

Jika Daud, yang dikatakan sebagai ‘seorang yang berkenan’ di hadapan Tuhan, mendengar pengertian itu, ia tidak akan setuju. Sebab Daud pernah merasakan hal yang sebaliknya: Bahwa di dalam setiap tangisan yang dilontarkannya, ia justru menemukan kekuatan dari Tuhan. Tak heran dalam seluruh Kitab Mazmur kita akan menemukan ada begitu banyak mazmur yang berisikan ratapan, di mana pemazmur berseru dan menangis di hadapan Tuhan.

Salah satu Mazmur ratapan yang dilontarkan oleh Daud terdapat di pasal 6 ini. Dalam Mazmur ini sepertinya Daud sedang mengalami banyak pergumulan. Tidak jelas apa yang menjadi permasalahan Daud pada waktu itu. Para penafsir tidak ada yang sepakat mengenai latar belakang permasalahannya. Namun yang jelas ia sedang mengalami pergumulan yang berat.

Di ayat pertama Daud merasa seperti seorang hukuman. Ia takut dihukum dan merasakan panas amarah Tuhan. Tampaknya Daud sedang bergumul tentang dosa-dosanya. Kalau kita melihat kehidupan Daud, memang di tengah keperkasaannya acapkali ia terjatuh. Di satu sisi ia pernah mengalahkan Goliat dengan mata yang memandang kepada Tuhan. Namun di sisi lain dengan mata yang sama ia memandang Batsyeba dengan penuh nafsu. Di satu sisi ia begitu mencintai keadilan, tapi disisi lain ia pernah berlaku tidak adil terhadap Uria suami Batsyeba. Di satu sisi ia dapat menjadi sosok yang rendah hati, namun di sisi lain ia dapat terjebak dengan keangkuhan diri. Itulah Daud. Manusia yang kuat, sekaligus lemah. Dan dalam Mazmur ini ia sedang bergumul tentang dosa yang diperbuatnya. Entah dosa apa yang diperbuatnya, yang pasti ia takut menerima murka dari Tuhan.

Di ayat kedua Daud mengungkapkan pergumulan berikutnya. Ia mengatakan “Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,...” Di sini Daud melanjutkan pergumulannya seakan ia sedang bergumul dengan sakit penyakit. Begitu beratnya rasa sakit itu sehingga ia memohon belas kasihan Tuhan dengan sangat untuk menyembuhkannya. Secara fisik ia berkata bahwa ‘tulang-tulangnya gemetar’. Tulang yang menjadi penopang seluruh tubuhnya sudah berada diambang batas kekuatannya. Daud merasa tubuhnya lemah tak berdaya. Orang Timur Tengah waktu itu sering menghubungkan sakit penyakit sebagai hukuman Tuhan akibat dari dosa. Karena itu Daud sangat terpukul. Barangkali ia menganggap sakit penyakitnya ini berkaitan erat dengan dosa yang dilakukannya.

Bukan hanya bergumul dengan dosa dan sakit penyakit, dari ayat 8 dan10 kita dapat melihat pergumulannya yang lain, di mana ia tertekan oleh musuh-musuhnya. Tiga kali Daud mengatakan hal yang serupa: lawanku, pembuat kejahatan, musuhku, yang menunjukkan ia sedang menghadapi musuh di luar dirinya. Dalam perjalanan kehidupan Daud waktu itu memang ada banyak musuh yang ingin membunuh dirinya. Dari pemimpinnya sendiri, rekan kerja, sahabat, bahkan Absalom anak kandungnya sendiri turut andil dalam bilangan orang yang ingin membunuhnya. Berkali-kali Daud hidup sebagai pelarian menghindari teror yang dilemparkan musuh-musuhnya. Rasa teror yang terus menerus terjadi sangat memungkinkan menekan jiwa seseorang.

Karena itulah Daud meratap dengan sangat. Ia mengalami pergumulan yang begitu kompleks. Pergumulan-pergumulan itu begitu buas merongrong dirinya baik secara fisikal maupun spiritual, baik internal maupun eksternal, baik kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Jiwanya tercabik-cabik oleh tubi-tubi persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu ia berseru kepada Tuhan: “Berapa lama lagi Tuhan?” Sebuah seruan yang menyaratkan akan kekuatan yang sudah hampir habis, tumpuan kaki yang hampir terjatuh, dan asa yang hampir sirna.

****

Pernahkah saudara mengalami pergumulan yang demikian? Sebuah pergumulan,. . . . tidak! Bukan sebuah, melainkan bertubi-tubi pergumulan yang melanda hidup saudara tanpa ampun? Mungkin sakit penyakit sedang menyerang kehidupan kita dan orang yang kita kasihi tanpa permisi; dan penyakit itu menguras banyak biaya dan tenaga padahal kemungkinan untuk bertahan hidup hanya setipis kertas; Atau terlebih lagi mungkin kita baru kehilangan orang yang kita kasihi; Sementara itu entah tanpa sebab, pesaing bisnis atau rekan kerja kita sendiri ternyata berusaha menjerat dan menjatuhkan usaha yang kita rintis dengan cara-cara yang licik dan picik. Bahkan orang yang paling kita percaya sekalipun turut berupaya menjatuhkan kita; Di lain pihak kita harus bergumul dengan masalah relasi dengan orang-orang di sekitar kita. Suami yang tidak pernah mau mengerti perasaan kita. Istri yang selalu membebani. Anak-anak yang tidak pernah mendengar dan suka melawan. Orang tua yang selalu menuntut. Sahabat-sahabat yang tidak memahami kita,dsb; Ditambah lagi ada pergumulan-pergumulan pribadi yang begitu membebani bagai duri dalam daging yang terus menggocoh hidup kita. Bertahun-tahun lamanya kita bergumul dan berjuang untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Namun bukannya semakin membaik, semakin kita berjuang duri itu nyata-nyata malah menancap lebih dalam lagi merobek dan melukai kehidupan kita; Dan ketika kita mau menghampiri Tuhan, kita merasa malu karena dosa-dosa yang sudah menjadi kebiasaan hidup kita sejak kita kecil, yang sudah menjerat dan begitu sukar untuk dilepaskan.

Pernahkah saudara mengalami hal yang demikian? Kumpulan pergumulan yang kompleks dan begitu menyesakkan kita. Hati kita tersayat-sayat sepanjang hari. Ia meneror malam kita dengan perasaan cemas. Dan ia menyambut pagi kita dengan perasaan khawatir. Perlahan tapi pasti ketakutan melingkupi seluruh jiwa dan perasaan kita. Dan semua itu membuat kita lemah tak berdaya. Jalan di hadapan kita tampak buntu, dan kegelapan begitu dekat dengan kita.

Ditengah pergumulan yang bertubi-tubi seperti ini apa yang akan saudara lakukan? Berusaha menghadapinya dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis itu? Menyalahkan situasi dan orang-orang yang menyebabkan semua pergumulan itu? Atau menarik diri dari kenyataan dan berusaha lari sejauh-jauhnya menghindari realita yang ada?

Monday, August 23, 2010

Bentuk Aku (Yeremia 18:1-6)


Masa kanak-kanak merupakan masa dimana seseorang berada dalam fase pembentukan yang intensif. Bagaikan sebuah bahan mentah yang masih harus terus dibentuk dan diolah sedemikian rupa, begitulah masa kanak-kanak. Saya ingat sewaktu kecil banyak sekali pelajaran-pelajaran dan pembentukan yang diberikan orangtua saya. Saya diajar menyapa orang yang lebih tua, sehingga setiap kali lupa pasti saya diingatkan dan ditegur. Bagaimana mengambil makanan harus memakai tangan kanan, kalau memakai tangan kiri akan dicubit. Saya diikutkan kursus ini itu dan diwajibkan belajar setiap malam. Dan banyak lagi pembentukan-pembentukan yang diberikan oleh mereka ketika saya masih kanak-kanak.

Dalam proses pembentukan tersebut terkadang ada pembentukan-pembentukan yang tidak dimengerti dan dipahami oleh seorang anak. Saya ingat pada suatu hari karena merasa bosan dan jenuh, saya merencanakan bolos sekolah. Saya tidur-tiduran dirumah dan bermalas-malasan. Ketika papa pulang dari toko dan melihat saya tidak sekolah beliau langsung bertanya dengan nada tegas "mengapa kamu tidak sekolah?" Sayapun menjawab "malas pa. Bosen sekolah terus." Seketika itu juga papa langsung mengambil rotan memukul saya dan dengan kemarahannya berkata "Mau jadi apa kamu kelak?" Sudah tentu saya menangis kencang waktu itu. Tetapi walaupun saya menangis papa saya tetap tidak berhenti memukul saya dengan rotannya. Sepertinya tangisan saya tidak cukup meluluhkan hatinya. Bukan hanya sakit di fisik, tapi hatiku juga sakit. Tahukah saudara bahwa dalam benak saya waktu itu berkata bahwa papa jahat. Papa tega mukulin saya. Papa gak sayang sama saya.

Namun seiring berjalannya waktu yang menghantar diri menuju kedewasaan, kusadari bahwa pukulan-pukulan itu sangatlah berharga. Saya mulai paham bahwa pukulan-pukulan yang diberikan itu bertujuan kebaikan diri saya sendiri. Pukulan itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan belajar untuk tidak selalu mengikuti kata hati. Pukulan itu juga membuat saya menjadi orang yang lebih dewasa. Lalu tersimpulah pemikiran bahwa terkadang cara yang tegas dan keras itulah yang dapat membentuk hidup saya.

Ini hanyalah sebuah kisah kecil yang mewakili realita kehidupan yang lebih luas lagi. Dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan tentunya ada banyak pembentukan-pembentukan yang diberikan Tuhan kepada kita. Dan terkadang pembentukan itu tidak kita mengerti. Bisa jadi melalui penyakit. Bisa jadi melalui kesusahan ekonomi dan kejatuhan karier. Bisa jadi melalui masalah-masalah yang hadir dalam keluarga. Dapat juga melalui meninggalnya orang yang sangat kita kasihi.

Beberapa cara-cara pembentukan Tuhan ini mungkin tidak kita pahami, sehingga bisa saja terlontar perkataan dari benak dan mulut kita "Tuhan jahat; Tuhan tidak peduli; Tuhan tidak sayang kita; Tuhan tidak mengerti perasaan kita."

Umat Israel pernah mengalami pembentukan yang keras ini dari Tuhan. Sebagai anak dan umat Tuhan mereka pernah dibuang ke negeri Babel selama 70 tahun. Tentunya pembuangan ini sangat menyiksa batin umat Israel. Beberapa dari mereka kehilangan keluarga yang mereka kasihi. Mereka kehilangan rumah dan harta benda. Mereka diangkut dari Tanah Kanaan yang merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan, di mana mereka mempunyai keyakinan bahwa di tanah itulah Tuhan akan menyertai mereka. Israel kehilangan tanah yang subur. Status sebagai orang merdeka berubah menjadi orang-orang yang diperbudak. Dan bait Allah yang merupakan pusat kehidupan spiritual dan politik dihancur luluhkan oleh tentara-tentara Babel. Jika berada dalam pembuangan hanya dalam 1 sampe 2 tahun tentu saja itu hukuman ringan. Namun Tuhan menghukum mereka selama 70 tahun lamanya. Tentu saja ini hukuman yang sangat keras bagi umat Israel.

Mengapa Tuhan harus menghukum Israel? Jawabannya tidak lain ialah karena banyak noda yang terdapat dalam diri Israel sendiri. Mereka hidup tidak sesuai dengan hukum dan perintah Tuhan. Secara spiritual mereka menyembah dan 'berselingkuh' dengan ilah-ilah lain. Secara moral mereka sudah menyimpang. Para imam dan para nabi banyak yang melakukan manipulasi. Mereka melakukan persundalan bakti dan berjinah dengan gampangnya. Tidak ada keadilan, kejujuran, serta tidak ada rasa hormat dan takut pada Tuhan lagi dalam umat Israel. Mungkin mereka merasa bahwa mereka tidak memerlukan Tuhan. Berkali-kali Tuhan mengirim nabi-nabi-Nya untuk mengingatkan dengan lembut kepada Israel, namun Israel tidak mau mendengar. Lantas Tuhan mengingatkan dengan lebih keras; alhasil Israel tetap mengabaikan peringatan itu. Karena itulah Tuhan mendidik mereka dengan lebih keras dengan membuang mereka ke negeri Babel.

Bagi beberapa umat Israel pembuangan ini merupakan hukuman yang kejam dari Tuhan. Mereka bertanya "mengapa Tuhan meninggalkan mereka. Mengapa Tuhan tega melakukan hal ini kepada Israel." Namun bagi Tuhan tentunya ini bukan sekedar hukuman. Ini juga merupakan suatu pembentukan kepada umat yang dikasihi-Nya. Tuhan menggambarkannya seperti sebuah bejana ditangan tukang periuk. Tuhan yang adalah tukang periuk itu dengan telaten dan sabar membentuk tanah liat itu untuk menjadi sebuah alat yang berguna dan berharga. Terkadang bejana tanah liat itu harus dihancurkan kembali karena dalam diri periuk masih ada kotoran-kotoran yang harus dibersihkan. Memang sang tukang periuk bisa saja tetap melanjutkan pekerjaan itu. Namun bejana dengan kualitas bahan yang seperti itu akan mudah rusak dan hancur dengan sendirinya. Karena itu tukang periuk akan dengan sabar dan telaten akan terus membentuk bejana itu sampai mencapai kesempurnaan. Inilah pembentukan Tuhan.

Memang pembentukan Tuhan seringkali tidak kita mengerti. Tuhan bisa membentuk dengan cara lembut, tapi terkadang bisa dengan cara yang agak keras. Namun semua pembentukan itu sudah pasti memiliki tujuan kebaikan bagi setiap anak-anak-Nya. Penulis kitab Ibrani mengatakan jika kita tidak dididik dan bebas dari ganjaran maka kita akan menjadi anak-anak gampang. Justru karena kita ini anak yang dikasihinya makanya Ia mau terus membentuk kita menjadi orang-orang yang semakin serupa dengan diri-Nya.


Terkadang Tuhan ingin membentuk kita dengan cara-Nya yang tidak terpikirkan oleh kita. Terkadang Tuhan memakai masalah-masalah atau mungkin penderitaan-penderitaan untuk memoles dan mengasah kita menjadi bejananya yang lebih sempurna. Mungkin cara itu tampak begitu keras bagi kita. Di mata kita mungkin Tuhan seakan-akan begitu kejam karena tega melakukan ini semua kepada kita. Namun di mata Tuhan berbeda. Bagi Tuhan terkadang cara keraslah yang merupakan cara terbaik untuk mengeluarkan kotoran dari bejana hidup ini. Memang Tuhan menerima kita apa adanya tapi Ia tidak mau kita menjadi apa adanya. Karena itu Ia akan terus membentuk dan membentuk kita untuk semakin hari semakin sempurna. Sama seperti sebuah mutiara yang terbentuk dari sebutir pasir yang melukai dirinya. Dalam kesusahan justru ada keindahan yang begitu berharga.

Karena itu mari kita menjalani hidup kita dengan tegar. Segala permasalahan dan pergumulan yang kita alami saat ini memang tidak enak untuk kita jalani. Tapi saya yakin dalam setiap masalah dan pergumulan yang dihadapi anak-anak Tuhan, ada suatu maksud Tuhan yang tersembunyi; yang begitu indah bagi setiap kita. Yaitu Ia ingin membentuk kita menjadi semakin serupa dengan gambaran-Nya yang sempurna. Karena itu ketika permasalah dan ujian datang menimpa kita, mari kita jangan bersungut-sungut dan mengasihani diri. Justru inilah saatnya kita belajar merendahkan hati dan berkata kepada Tuhan "Tuhan, bentuk aku. Bentuk aku menjadi bejana seperti yang Kau inginkan."

Monday, June 21, 2010

Damai Di dalam DIA



Galatia 5:22-23 menuliskan bahwa buah-buah Roh itu ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Setiap kali merenungi ayat ini, satu pertanyaan selalu timbul di benakku “Di antara buah-buah ini, buah mana yang sukar untuk saya miliki?” Dan setelah mengintropeksi diri baik-baik saya menemukan bahwa ternyata saya sukar untuk memiliki damai sejahtera. Ya, harus diakui bahwa damai sejahtera menjadi perihal yang cukup langka dalam sepanjang perjalanan kehidupanku bersama dengan Tuhan. Sehingga kadang-kadang saya berpikir bahwa saya kurang beriman karena saya seakan meragukan Tuhan. Namun bagaimana caranya mau damai jika hidup ini dipenuhi dengan pergumulan; bagaimana mau damai jika tiap hari harus melihat keluarga yang saling bertengkar; bagaimana mau damai jika kita pernah mengalami abuse; bagaimana mau damai jika ada duri dalam daging yang terus menerus merongrong kehidupan ini; dan bagaimana mau damai jika tiap-tiap hari selalu diperhadapkan dengan masalah-masalah yang datang silih berganti.


Mungkin saudara juga pernah mengalami pergumulan yang sama dengan saya. Saudara berkata “bagaimana saya mau damai jika suami saya selingkuh? Bagaimana saya mau damai jika anak-anak saya hidupnya tidak benar? Bagaimana saya mau damai jika hutang demi hutang menjerat bak lingkaran setan? Bagaimana saya mau damai jika saya dirudung sakit penyakit yang tak kunjung sembuh? Bagiamana saya mau damai jika besok saya tidak tau makan dan minum apa?” Bagaimana….bagaimana….dan bagaimana. Bukankah hal itu yang kita rasakan. Bukannya kita anti dengan kata damai. Hati kecil kita menginginkan apa itu kedamaian. Namun kita tidak tau bagaimana caranya untuk memperoleh kedamaian tersebut. Gejolak hidup ini seringkali merampas damai sejahtera dan sukacita yang diberikan oleh Tuhan.


Daud juga pernah merasakan apa yang kita rasakan. Bagaimana tidak, Alkitab mencatat bahwa Daud pernah dikejar-kejar dan hendak dibunuh oleh anaknya sendiri, Absalom. Anak yang dia kasihi malah hendak menghunuskan pedang kejantungnya. Coba bayangkan apa yang dirasakan Daud. Bayangin jika anak yang saudara cinta dan sayang dengan sepenuh hati tiba-tiba mengatakan bahwa ia membenci kita. Tentu saja perasaan sedih akan menyerang kita bukan? Apalagi jika anak itu bukan hanya membenci, namun kita tau bahwa ia juga berusaha membunuh kita. Kira-kira apakah kita tetap dapat memiliki damai? Saya kira kita tidak mungkin mengalami damai sejahtera sebelum anak tersebut kembali mengasihi kita dan menyadari bahwa kita begitu mengasihinya. Inilah yang kira-kira Daud alami. Dilematis yang rumit merasuk ranah pikiran dan perasaannya. Di satu sisi ia mempunyai kekuatan untuk melawan dan membunuh anaknya, tapi di satu sisi ia tidak tega untuk membunuh anaknya sendiri. Kondisi seperti inilah yang merengut kedamaian dalam hatinya. Mungkin saat itu ia menangis, dan ia juga bertanya “bagaimana saya bisa damai jika anak saya sendiri hendak membunuh saya?”


Namun ditengah kegalauanya, Daud menemukan bahwa ada satu hal yang dapat membuatnya merasa damai. Dalam Mazmur 62 sebanyak dua kali Ia mengatakan “Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Perasaan tenang ditemukan ketika ia berada dekat dengan Tuhan. Hanya saat berintimasi dengan Tuhanlah segala kegalauan dihatinya lenyap. Daud seakan-akan mempunyai keyakinan bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalah-masalahnya. Ia menggambarkan Tuhan seperti sebuah gunung batu yang merupakan tempat pertahanan yang paling aman pada waktu itu. Ia juga mengumpamakan Tuhan seperti kota benteng yang menjaga sebuah kota dari musuh-musuh yang hendak menyerangnya. Sebenarnya Daud hendak menggambarkan perlindungan Tuhan yang lebih dari dua analogi tersebut. Tapi dalam pengetahuannya, ia hanya menemukan bahwa gunung batu dan kota bentenglah yang merupakan dua tempat perlindungan yang sangat aman. Karena itu ia mengatakan bahwa Tuhan adalah gunung batu dan kota bentengku. Dan oleh karena Tuhan adalah tempat perlindungan yang kokoh maka Daud mau bersandar pada-Nya. Ia mau terus mendekat kepada Allah karena hanya dekat Allah saja ia merasa tenang; sama seperti seorang anak kecil yang merasakan ketenangan ketika berada dekat orang tuanya. Inilah kunci yang diberikan untuk memperoleh kedamaian tersebut.


Tuhan Yesus sendiri dalam kemanusiaan-Nya selalu berdoa dan berintimasi dengan Allah; karena Ia sadar bahwa Allahlah sumber kekuatan-Nya. Dan dalam keilahian-Nya Ia pernah berkata “marilah datang kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Hanya ketika kita mendekat kepada Allahlah kita akan mendapatkan kedamaian yang sejati. Ya…Kedamaian akan kita dapatkan walaupun ombak yang bergelora sedang menghantam perahu kehidupan kita.


Saudara mungkin pernah mengalami seperti yang saya alami. Ketika saya pernah mendapatkan pergumulan yang sangat berat, sayapun kehilangan rasa damai itu. Ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, bahkan sekali-kali keputusasaan mengacaukan seluruh aspek kehidupanku. Kepada siapa saya harus meminta tolong? Orang lain tidak ada yang mengerti dan memahami. Musik dan film serta hiburan-hiburan sejenisnya hanya menenangkan sesaat. Mengandalkan diri sendiri juga tidak mungkin, karena seluruh aspek dalam hidup ini sudah dikuasai kekhawatiran yang luar biasa hebat. Akhirnya sayapun menemukan satu cara yang mampu membuatku merasa damai. YA….Ketika saya berdoa dan berseru kepada Tuhanlah kedamaian itu ada. Saya tidak tau darimana datangnya rasa damai itu. Yang pasti ada kekuatan yang timbul dari keyakinan di mana ada Allah yang Mahakuasa yang mengasihiku, yang menyediakan yang terbaik bagi anak-anakNya yang berseru, dan yang menyertai sampai akhir hidupku. Hal itulah yang membuat hati ini menjadi damai. Sehingga kini saya tau, setiap kali ada persoalan yang datang maka saya harus berdoa. Walaupun dalam doa-doa itu harus mencucurkan air mata, namun setiap cucuran itu akan digantikan dengan rasa damai yang luar biasa.


Saudara mungkin pernah merasakan seperti apa yang saya rasakan dan mengalami seperti apa yang saya alami. Namun mungkin berkali-kali kita lupa dan terjebak dengan cara yang salah untuk memperoleh kedamaian itu. Bukankah seringkali ketika kegalauan itu datang, kita lebih suka “mendamaikannya” dengan rasio dan logika kita? Atau kita lebih mengandalkan orang lain untuk menjadi obat penenang bagi kita? Bukannya kita tidak tau, tapi mungkin kita lupa bahwa hanya dekat Allah saja kita dapat memperoleh kedamaian itu. Perenungan seperti ini pun mungkin sudah sering kita dengar, dan kita mungkin sudah memahami Firman ini dengan baik. Melalui perenungan ini saya hanya ingin mengingatkan agar kita kembali mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memperoleh kedamaian sejati. Hanya dekat Allah saja kita dapat merasa tenang. Dan biarlah terjadi seperti yang Paulus katakan dalam Filipi 4:7 “kiranya damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus Kristus.” Amin