Showing posts with label Gereja. Show all posts
Showing posts with label Gereja. Show all posts

Thursday, March 25, 2010

To Be One



Dalam kehidupan ini seringkali pesan terakhir merupakan suatu pesan yang sangat penting. Seperti pengalaman seorang kawan saya dari daerah Alor, yang merupakan anak laki-laki sulung dikeluarganya. Suatu ketika ayahnya mengalami sakit keras dan hampir meninggal. Sembari terbaring di pangkuan teman saya, ia menitip pesan agar ia menjaga baik-baik ibu dan adik-adiknya. Setelah si ayah menyampaikan pesan itu, berhentilah detum jantungnya. Pesan itu begitu tertanam di hati teman saya sehingga ia terus bekerja mati-matian untuk memelihara ibu dan adiknya yang masih kecil. Ia bekerja keras karena ia menganggap pesan sang ayah itu merupakan pesan yang sangat penting. Contoh lain, sebelum Pendeta Siauw yang saya hormati (almarhum gembala di GKKA Tenggilis Mejoyo Surabaya) mengakhiri kehidupannya, pesan yang terus didengungkan kepada istri, anak-anak dan para majelis yang hadir pada waktu itu ialah “gembalakanlah domba di gereja kita….jaga dan pelihara mereka.” Sepertinya menggembalakan gereja itulah kerinduannya yang terdalam. Sudah pasti itu merupakan pesan terakhir yang sangat penting untuk disimak.

Menjelang masa-masa paskah ini mari kita juga menyimak bersama, apa pesan-pesan terakhir Yesus sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Sebuah pesan yang pastinya sangat penting karena mewakili lubuk hatinya. Yohanes 17 merupakan tulisan yang berisikan doa-doa Yesus yang terakhir sebelum ia ditangkap. Memang kita tidak tau secara tepat dimana dan kapan doa ini dipanjatkan. Dan kitab Yohanes memang belum tentu ditulis secara kronologis. Namun ketika Yohanes menempatkan doa Yesus dalam perikop sebelum Ia ditangkap (pasal 18), saya pikir pokok doa yang ada dalam pasal 17 itu merupakan pesan yang sangat penting untuk diperhatikan.

Dari sekian banyak pesan yang saling berkaitan dalam pasal 17 ini, saya menemukan ada penekanan yang terus di ulang dalam ucapan Tuhan Yesus. Jika kita membaca ayat 11, 20-23, maka kita menemukan ungkapan yang berbunyi “supaya mereka menjadi satu” di ulang sebanyak 4 kali. Penekanan yang berulang ini menunjukkan signifikansi dari perkataan itu, bahkan saya berani katakan, itulah kerinduan Yesus. Ya, Yesus ingin agar semua orang yang percaya dapat bersatu. Tuhan tidak berdoa agar orang percaya penuh dengan kekayaan, jauh dari kesusahan, dan dihindari sakit penyakit setiap hari. Ia lebih menginginkan agar umatnya dapat bersatu. Mungkin sama seperti seorang ayah yang ingin melihat anak-anaknya akur-akur, demikian juga Tuhan meninginkan untuk anak-anak-Nya menjadi satu.

Kesatuan seperti apa? Apakah harus memiliki kesamaan yang identik dalam berbagai aspek atau bagaimana? Dalam ayat-ayat yang sudah kita baca, kesatuan itu di analogikan seperti kesatuan Yesus dengan Bapa. Ungkapan “Sama seperti kita (ay. 11),” “Sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau (ay. 21),” dan “sama seperti Kita adalah satu (ay. 22)” menunjukkan hal itu. Bagaimana bentuk kesatuan Yesus dengan Bapa, ini bukan hal yang mudah untuk dipahami. Untuk memahami hal ini kita harus terlebih dahulu dapat menangkap jelas model Allah Tritunggal. Dan sampai saat ini tidak ada yang bisa menggambarkan dengan sempurna kesatuan Allah tritunggal (setahu saya). Dalam pengertian Tritunggal Kesatuan Bapa dengan Yesus bukanlah kesatuan yang identik dalam semua aspek. Tetapi yang pasti mereka memiliki 1 kehendak, memiliki 1 tujuan, 1 visi, dan karakter yang sama (mis: Kasih, keadilan, kemurahan, dsb). Saya kira ketika Tuhan mengkehendaki kita untuk bersatu, maka kesatuan itu bukanlah berarti bahwa kita harus identik antara satu dengan yang lain. Setiap kita tentunya diciptakan unik dan memiliki peran masing-masing. Namun yang pasti harus ada kesatuan kehendak, satu tujuan yaitu memuliakan Allah, dan setiap kita seharunya sama-sama harus berusaha memiliki karakter Kristus. Yaitu karakter yang penuh kasih, keadilan, kemurahan, kelemahlembutan, kerendahan hati dan karakter-karakter lainnya. Saudara, inilah kesatuan yang dikehendaki Tuhan. Ia sama sekali tidak menginginkan perpecahan dan pertikaian.

Mengapa Tuhan mengkehendaki persatuan? Ayat 21 mengatakan “supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Dan ayat 23 melengkapi “agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Tuhan menginginkan kesatuan umat karena dengan bersatunya umat maka umat akan merepresentasikan Kristus. Dengan demikian dunia dapat menjadi percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan. Bukan hanya mengenal siapa Tuhan, namun dunia juga akan mengenal betapa besarnya kasih dan kemurahan Tuhan bagi dunia ini. Sebab itu betapa pentinganya persatuan umat Kristen. Kristus ada dalam persatuan umat-Nya.

Namun sungguh ironi jika kita melihat realita gereja saat ini, begitu banyak gereja-gereja yang terpecah dan bertikai. Jika gereja berbeda tipe saya pikir tidak masalah, karena masing-masing punya keunikannya sendiri. Tapi ketika gereja-gereja yang ada saling bertikai, bertengkar, dan suka dengan perselisihan, maka nama Kristuspun akan semakin buruk di mata dunia. Saudara mungkin sering mendengar perkataan kerabat atau sanak famili kita yang belum percaya demikian “Ngapain percaya Tuhan, sesama orang Kristen aja saling bertengkar kok!” Saudara, saya sering mendengar perkataan ini. Saya pikir mungkin ada benernya ungkapan seorang Pendeta yang mengatakan demikian “Perihal yang paling disukai oleh Iblis adalah perpecahan gereja. Jika gereja sudah terpecah maka nama Kristus tidak akan dimuliakan.”

Saudaraku, yang menentukan persatuan atau perpecahan gereja tidak lain tergantung oleh setiap kita yang hidup di dalamnya. Setiap kita memiliki andil untuk menjaga atau memecahbelah persatuan umat Kristen. Setiap ucapan kita dapat menyebabkan pertengkaran. Perkataan yang tidak berhati-hati dapat menyebabkan perselisihan. Keangkuhan dan hati yang meninggi juga seringkali memicu perpecahan gereja. Hati yang keras, egois, tidak pernah berpikir dari sudut pandang orang lain juga bisa menjadi salah sati penyebabnya. Sebaliknya hati yang penuh kasih, kerendahan hati, sikap yang tidak egois dan pikiran yang terbuka dapat menjaga persatuan umat. Dengan bersatunya umat, maka kerinduan Yesus akan terjadi. Saudara, mari kita hidup seiring dengan kerinduan Yesus, yaitu dengan menjaga persatuan dan kesatuan tubuh Kristus. Biarlah mulai hari ini setiap kita boleh memikirkan sikap-sikap yang membangun persatuan dan menjauhkan sikap-sikap yang dapat menyebabkan perpecahan. Kiranya hidup kita berkenan dihadapan-Nya.

Monday, February 01, 2010

Menghidupi Relasi Yang Proporsial



Firman Tuhan di persekutuan lantai pria.


Saudara, saya pernah membaca sebuah status di FB yang mengatakan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan manusia itu harus proporsional (seimbang). Hidup manusia itu tidak selalu harus berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan belum tentu baik. Misal, banyak kerja baik, tapi jika berlebihan dan mengurangi jam istirahat dan berolahraga akan mengacaukan kesehatan kita. Kekurangan gizi jelas tidak baik. Tetapi menurut penelitian jika kebanyakan gizi juga akan menimbulkan banyak penyakit seperti diabetes, jantung, stroke, dsb. Karena itu gizi kita pun harus proporsional. Memiliki kepercayaan diri baik. Jika kepercayaan diri kurang maka seseorang akan menjadi minder. Tetapi jika percaya diri berlebihan akan dicap sombong dan sok tau oleh rekan-rekan kita. Contoh lain, orang yang terlalu diam membingungkan, tetapi orang yang terlalu ribut memusingkan. Seimbang merupakan pilihan terbaik. Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukkan kepada kita akan pentingnya hidup yang proporsional (baik dalam relasi, percintaan, studi, dsb).

Hukum Taurat pun menawarkan sesuatu yang proporsional. Sebelumnya, kita harus memahami bahwa hukum Taurat memiliki signifikansi yang tinggi bagi orang Yahudi, karena hukum itu mewakili isi hati Allah. Dari hukum-hukum inilah kita dapat mengenal Allah Pencipta sebagai oknum pemberi hukum tersebut. Analoginya seperti ini, kita dapat mengenal seorang ayah dari hukum-hukum yang diberikan kepada anaknya. Ipar saya pernah mengajar ke anaknya “Kalo ada teman gangguin kamu, kamu langsung pukul saja”, yang menunjukkan jiwa pembalas dari ipar saya. Papa saya pernah mengajarkan kepada saya “dek, kalau ketemu orang yang lebih tua kamu harus sapa, jangan diam saja”. Saya diajarkan mengenai cara untuk menghormati orang yang lebih tua, dan memang papa saya juga selalu menghormati orang yang lebih tua dari dia. Demikian juga hukum taurat mencerminkan Allah yang memberi hukum itu. Karena itulah kita sebagai warga kerajaan Allah harus berusaha mengenal Allah dengan mempelajari hukum-hukum yang diberikan-Nya.


Dalam kitab Keluaran, pusat hukum-hukum itu dipaparkan secara gamblang pada Keluaran 20:1-23:19, dalam konteks di gunung Sinai. Menariknya, hukum Taurat yang diberikan oleh Tuhan ternyata juga menekankan sesuatu yang proporsional, yaitu dengan menekankan keseimbangan antara relasi manusia dengan Allah, dan relasi manusia dengan sesamanya. Hal ini tampak jelas lewat struktur teks yang ada di dalam pasal-pasal ini.

Rangkaian hukum di gunung Sinai itu dimulai dengan inti hukum dalam pasal 20 tentang 10 perintah Allah, kemudian dilanjutkan dengan hukum-hukum berikutnya dari pasal 20:22-23:19. Dari 10 hukum tersebut kita dapat membagi menjadi dua bagian. Hukum 1-4 menekankan relasi dengan Allah. Sedangkan hukum 5-10 menekankan relasi dengan sesamanya. Demikian juga dengan hukum selanjutnya, kita juga akan menemukan pola yang sama secara bergantian. Saya menemukan pola seperti ini:


20:22-26 Menekankan relasi dengan Allah. Tentang peraturan kebaktian, dan bagaimana sikap yang meninggikan Tuhan di atas segalanya.

21:1-22:17 Peraturan mengenai hubungan antara manusia dengan sesamanya. Dibagian ini dibahas mengenai hak seorang budak, jaminan nyawa dan larangan terhadap tindakan kekerasan. Bukan hanya jaminan nyawa, tetapi juga jaminan harta. Semua ini berintikan sebuah belas kasihan keadilan yang harus diterapkan bagi sesama.

22:18-20 Relasi manusia dengan Allah. 3 ayat ini disimpulkan berbicara mengenai peninggian Allah, dan tidak boleh menduakan Dia.

22:21-28 Mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Yaitu tentang kepedulian dan kasih terhadap orang-orang yang tidak mampu.

22:29-31 Persembahan kepada Allah.

23:1-13 Mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Berisi perbuatan yang dilarang seperti dilarang berbohong, berbuat jahat. Selain itu diminta untuk saling menolong sesama yang dalam kesusahan. Serta larangan untuk menindas orang yang lebih lemah.

23:14-19 Diakhiri dengan relasi antara manusia dengan Allah. Di mana umat Israel diminta mengadakan perayaan untuk mengingat akan kebaikan Tuhan, dan diminta untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.


Struktur yang digunakan secara bergantian ini menunjukkan bahwa relasi manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesamanya merupakan hal yang penting. Tuhan mengkehendaki kita untuk menjaga keseimbangan ini. Mengabaikan salah satu relasi akan membuat keseimbangan Taurat terganggu. Mengabaikan salah satu juga berarti kegagalan dalam mengerti dan mengikuti kehendak Tuhan.


Relasi vertikal dengan Allah itu penting. Kepentingan relasi dengan Allah terlihat dari struktur dimana hukum-hukum paling awal dan paling akhir berisikan mengenai relasi manusia dengan Allah. Jika diatur dalam kiasme, maka relasi dengan Allah merupakan bentuk A dan A’ yang merupakan kerangka dasar sebelum melanjutkan sebuah kiasme. 10 hukum Tauratpun memulai dengan memaparkan 4 hukum yang berelasi langsung dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa relasi dengan Allah merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Yaitu sikap kita yang mencari Allah, memberikan yang terbaik, menghormati Dia, mengingat segala kebaikan Tuhan, dan dengan mengasihi Allah. Inilah hal mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap anak-anak Tuhan.


Sedangkan kepentingan relasi horizontal terlihat dari porsi yang diberikan dalam hukum-hukum ini. Di 10 perintah, hubungan dengan sesama diberi porsi 6 dari 10 hukum. Jika kita melihat hukum-hukum yang terdapat dari pasal-pasal selanjutnya maka kitapun menemukan porsi hukum yang berkaitan dengan relasi antar sesama manusia jauh lebih banyak. Ini menunjukkan akan pentingnya relasi antar sesama manusia sehingga Tuhan memberi porsi yang banyak dalam perihal relasi dengan sesamanya. Relasi yang seperti apa? Yaitu relasi yang saling mengasihi, tidak egois, saling menghargai hak dan kepentingan orang lain, saling menolong, yang kuat menolong yang lemah dan bukannya menindas, dan relasi kekeluargaan yang intim.


Berarti dapat disimpulkan bahwa relasi vertikal dengan Allah adalah hal yang paling mendasar bagi kehidupan Kristen, namun dengan menjalin relasi dengan Allah, itu berarti kita harus memberikan porsi yang besar bagi relasi horizontal dengan sesama kita. Harus ada keseimbangan di dalamnya. Karena itu Yesus pernah berkata kepada seorang ahli Taurat mengenai hukum yang terutama “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Tuhan Yesus sendiri mengajarkan pentinganya relasi dengan Allah dan relasi dengan manusia. Kehidupan-Nya juga mencerminkan pengajaran-Nya. Ia sering berlutut dan berdoa. Tetapi ia meluangkan lebih banyak waktu untuk melayani manusia. Mengabaikan salah satu, berarti kita gagal mengikuti kehendak Tuhan.


Jonathan Edwardspun meneladani Kristus. Ia merupakan salah satu pemimpin pembaharuan yang terjadi di Amerika pada pertengahan abad 18. Ia memberikan kepada kita suatu contoh dan teladan bagaimana caranya hidup seimbang. Edwards bangun pagi-pagi mempelajari Firman Tuhan selama beberapa jam setiap hari. Disamping itu dia menyediakan waktu untuk keluarganya, untuk membaca (baik buku teologia maupun buku lain), menulis, melayani orang lain, bahkan ia terjun dalam dunia politik. Edward telah memberi contoh tentang kehidupan yang seimbang antara relasi dengan Allah dan relasi dengan sesamanya.


Saudara-saudara bagaimana dengan kita. Jika kita meneropong kembali kehidupan kita, sudahkah kita memiliki keseimbangan antara relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama kita? Dalam relasi dengan Allah, apakah kita sudah menghormati Tuhan dalam kehidupan kita? Apakah kita sudah menjaga hidup kita tetap kudus? Sudahkan kita menjadikan-Nya sebagai yang terutama? Apakah kita sering menjadikan Dia sebagai sumber kekuatan kita, atau kita lebih memilih mengandalkan kemampuan kita? Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Dia? Apakah kehidupan kita memuliakan Tuhan? Atau malah mempermalukannya? Apakah hidup kita takut akan Tuhan? Apakah kita menikmati waktu-2 kita bersama Tuhan?


Dalam relasi kita dengan sesama, sudahkah kita meluangkan waktu kita untuk memperhatikan sesama kita? Ketika ada rekan kita yang kesusahan, apakah kita menyediakan tangan yang terulur bagi mereka? Atau jangan-jangan kita hanya berfokus dengan agenda-agenda kita. Ketika kita berada dalam posisi yang berotoritas, apakah kita menggunakan itu untuk melayani sesama kita, atau kita pakai untuk menekan mereka yang ada dibawah kita? Apakah kita sering menggunakan status “mahasiswa tingkat atas” untuk menakut-nakuti adik tingkat kita? Sudahkah kita memiliki hati yang penuh kasih dan berkorban untuk sesama kita?


Saudara, mari kita refleksikan bersama. Sejauh ini bagian mana yang lebih sering kita tekankan, dan bagian mana yang sering kita abaikan. Mari menjaga keseimbangan ini. Milikilah relasi yang intim dengan Allah, karena itulah sumber kehidupan dan kekuatan dan sumber hikmat bagi kita. Mari juga memberi porsi yang besar untuk melayani serta mengasihi sesama kita. Dengan menjaga keseimbangan demikian, kita telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki, yaitu menjadi serupa dengan diri-Nya. Biarlah Roh Kudus menolong kita untuk melakukan Firman ini. Amin.

Wednesday, December 23, 2009

Tempat Berteduh



Dalam perjalanan dalam kota di kehangatan kota Semarang, terjadilah percakapan antara saya dengan salah seorang driver gereja keturunan China:

BK (nama samaran): Halo pak, bapak asalnya dari mana?
Me : Saya asli Samarinda pak, tapi sudah 10 tahun terakhir ini tinggal di Jawa.
BK: Ooh gitu, ini pertama ke Semarang ya?
Me : Iya pak. Kalo bapak sudah lama kerja sebagai driver di gereja?
BK: Barusan aja kok pak. Kurang lebih 1 tahunan.
Me: Oh ya, sebelumnya kerja di mana pak? (Maklum, karena dari raut wajahnya menunjukkan usia yang tidak terlalu muda)
BK: Yah, kerja macem-macem pak. Sebelum ke Semarang ini, saya sudah pernah bekerja di Malaysia, Singapura, Jakarta, Surabaya, dll (ia menyebutkan beberapa nama kota-kota besar lagi).
Me: Wah, hebat bapak sudah melanglang buana ya pak. Itu kerja apa aja ya?
BK: Yah, macam-macam juga. Saya pernah jadi kontraktor, bagian kepala pengawas, kerja bangunan, kerja kantor, wiraswasta, dan sebagainya.
Me: Wow, banyak pengalaman ya pak. (Walau demikian pikiranku berkata “aneh, sudah kerja sini situ, tapi kok milihnya sekarang jadi supir gereja”). Lantas pak, kenapa bapak memilih kerja di gereja? Sambilan pelayanan ya? (dalam benakku, dia ada kerjaan tetap, dan menjadi supir gereja hanya bagian pelayanannya).
BK: Yah pak, saya kerja sana-sini tapi di semua kerjaan itu saya ditipu terus. Kerja dah bertahun-tahun, hasilnya habis hanya dalam dua minggu karena ditipu. Hampir di setiap usaha yang saya lakukan saya pasti di tipu pak. Jadi pikirku kerja digereja aja, lebih tenang.

Kami pun terdiam. Saya tidak dapat melanjutkan percakapan ini, karena mobil sudah menepi ke tempat tujuan. Yah, saya harap apa yang diharapkan bapak ini benar-benar terjadi. Gereja memang seharusnya membawa shalom di tengah liarnya dunia kita. Gereja seharusnya menjadi pohon yang teduh untuk menaungi jemaat-jemaatnya dari sambaran petir di tengah ladang yang begitu mencekam. Gerejapun harus mampu menjadi batu karang bagi orang yang mau berlindung dan bersandar dari serangan musuh-musuhnya.

Namun jujur saya sedih ketika melihat realita bahwa gereja tidak dapat melakukan peran ini dengan baik. Saya sedih jika mendengar bahwa di dalam gereja terjadi permainan politik yang busuk. Saya sedih jika mendengar “pertandingan tinju” antara majelis dengan hamba Tuhan, atau antar sesama majelis, bahkan antar sesama hamba Tuhan. Saya sedih dengan tipu muslihat yang begitu putih terlihat dalam gereja.

Yah, pak BK, kiranya hal ini tidak terjadi dengan bapak. Saya berdoa bapak bisa mendapatkan kedamaian dalam pekerjaan baru bapak. Jikapun gereja bapak suatu saat mengecewakan, datanglah kepada Tuhan, ia tidak pernah mengecewakan bapak.


“Tuhan, jangan sampai gereja itu mengecewakan pak BK. Sebaliknya berikanlah setiap oknum di dalamnya belas kasihan, sehingga pak BK bisa menyadari perbedaan antara anak-anak-Mu dengan anak-anak si jahat. Pulihkan ia dari luka-luka yang sudah menggores sejarah hidupnya. Dan terlebih. . . .bawa Ia menjadi kesayangan-Mu. Amin