
Saudara, Ada statement yang mengatakan bahwa “Sejarah manusia dibentuk oleh orang-orang yang mengambil keputusan”. Apa artinya?? Ini berarti sumber sejarah adalah keputusan. Setiap keputusan dapat mempengaruhi sejarah kehidupan dunia ini. Misalnya: ibu Teresa. Keputusannya untuk pergi ke India berhasil mengubah sejarah India, bahkan dunia. Paling tidak setiap keputusan yang kita ambil dapat berdampak besar bagi sejarah kehidupan kita sendiri. Bahkan keputusan-keputusan terkecil sekalipun dapat berdampak besar dan turut menciptakan sejarah. Saudara, jika keputusan-keputusan yang kita buat sedemikian berpengaruh dan sedemikian pentingnya, tidakkah kita harus berhati-hati dalam mengambil keputusan? Walaupun kita sudah berhati-hati pun kita tetap dapat salah dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu sebagai umat Kristiani, langkah yang paling tepat dalam mengambil keputusan ialah kita harus melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan kita.
Saudara, tentu masih teringat jelas dibenak kita, jeritan dan rintihan yang terjadi pada tanggal 26 des 04 di Aceh. Malam itu teman saya menelepon saya. Sembari menangis dia meminta tolong agar saya mendoakan keluarganya. Orang tuanya hilang, keluarganya banyak yang meninggal. Harta bendanya ludes. Orang yang hidup disana seakan sedang menghadapi hari kiamat. Tidak ada pengharapan lagi. Masa depan hancur berantakan. Untuk memulai kembali terasa begitu berat.
Saudara, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Lot dalam kisah ini. Kota tempatnya tinggal dihancurluluhkan. Relasinya dan sahabat-2nya dibinasakan. Harta bendanya ludes. Bahkan istrinya menjadi tiang garam. Lot seakan tidak ada pengharapan lagi. Masa depannya hancur berantakan. Wajar saja jika Lot begitu tertekan, sehingga ia memilih untuk tinggal di gua yang biasanya digunakan sebagai kuburan pada waktu itu. Ini menunjukkan bahwa Lot mengalami depresi berat, sehingga ia membiarkan dirinya dalam keadaan mabuk ketika anak-anaknya menawarkan anggur kepadanya. Saya pikir ia pasti meneguk banyak anggur. Sebab menurut Arkeologi, daerah Moab merupakan daerah yang sangat kaya akan anggur.
Lalu jika kita membandingkan peristiwa Lot dan Tsunami Aceh, kita mungkin dapat memaklumi akan insident mabuknya Lot dan hubungan insestnya dengan kedua anaknya. Yah wajar ia begitu, dia kan lagi stres! Apalagi dalam tradisi Kristen, Lot dipuja-puja sebagai orang suci. Bahkan dalam 2 Pet 2:7 Petrus menuliskan bahwa Lot itu sebagai orang yang benar di zamannya. Lot seakan mendapat pemakluman dari peristiwa memalukan antara hubungannya dengan anak-anaknya. Namun sebenarnya Lot telah melakukan satu kesalahan. Kesalahan utama yang Lot lakukan ialah: Tidak pernah melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan-keputusannya.
Saudara, Alkitab seringkali membandingkan 2 tokoh, dimana tokoh yang satu biasanya lebih berkenan daripada satunya lagi, mis: Esau-Yakub, Kain-Habel, Daud-Saul, Ishak – Ismael, dsb. Tokoh Lot pun seringkali dikomparasikan dengan Abraham.
Ada beberapa perbedaan yang mencolok dalam diri mereka. Abraham merupakan orang asing di kanaan, dan ia menjadi orang yang berpengaruh. Lot juga orang asing di sodom, namun ia tidak memberikan pengaruh apa-apa (bahkan kepada istri dan anaknya). Mengapa ini terjadi? Kerena Lot suka mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Tuhan. Tentu kita masih ingat ketika Lot mengadakan kesepakatan dengan Abraham sewaktu pekerja mereka bertengkar, Tanpa pikir panjang Lot langsung memilih tempat yang rupanya seperti taman Tuhan, yaitu sodom. Lot lebih memilih kenikmatan dunia yang tampak mata. Lot bergerak tanpa Tuhan. Sedangkan Abraham bergerak dengan Tuhan, Abraham selalu pergi berdasarkan kehendak dan perintah Tuhan. Jika kita perhatikan lagi di pasal 19:17, waktu malaikat menyuruh Lot dan keluarganya lari ke pegunungan. Namun Lot mengajukan keputusannya sendiri dengan memilih untuk tinggal di Zoar (19:20). Malaikat itu pun mengijinkan akan keputusan Lot bahkan memberi janji keamanan. Namun seakan tidak percaya dengan perkataan malaikat itu, Lot kembali pergi kegunungan karena takut (ay.30). Disini kita menemukan bahwa Lot selalu menjadi pengambil keputusan. Ia tak pernah melibatkan Tuhan.
Akibatnya keputusan Lot mulanya untuk memilih Sodom sebagai tempat tinggal itu berakibat besar untuk keluarganya. Saudara, dalam bukunya Politea & Nomoi, Plato pernah mengatakan bahwa etika dan negara itu berkaitan erat. Ia mengatakan bahwa kehidupan yang baik didapatkan dalam sebuah negara yang baik. Dalam negara yang buruk, warganya tidak dapat memiliki kehidupan yang baik. Saudara, hal ini dapat diterapkan dalam keluarga Lot. Sodom merupakan sebuah kota yang mewah yang merupakan representasi suatu kehidupan yang tanpa Tuhan. Yehezkiel menuliskan bahwa kota Sodom dipenuhi dengan kecongkakkan, hidup berlimpah dan kesenangan dunia ada padanya. Homoseks, seks bebas, hedonis dsb. Hidup seperti ini sangatlah mempengaruhi masyarakat. Tentu saja jiwa kota Sodom (yang sudah dihancurkan itu), juga tertanam di keluarga Lot. Lot pernah menawarkan anak-2nya untuk diperkosa oleh orang-2 Sodom. Istri Lot menjadi tiang garam karena ketidak relaannya meninggalkan kenikmatan-2nya. Anak-anak Lot, melakukan tindakan incest. Moral keluarga Lot rusak. Berbeda dengan keturunan Abraham yang diberkati. Penyebabnya utamanya sekali lagi ialah: Lot tidak melibatkan Tuhan dalam keputusan-2 hidupnya. Saudara, seorang yang hidup dekat dengan Tuhan, seharusnya ia senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap keputusannya.
Martin Luther merupakan seorang tokoh reformasi yang berjuang mati-matian dalam menegakkan kebenaran. Ditengah kesibukannya ia pernah berkata “karena semakin hari saya bertambah sibuk, maka saya membutuhkan waktu doa selama 3 jam”. Saudara, biasanya orang-orang jika semakin sibuk semakin lupa untuk berdoa. Namun Luther menyadari, bahwa semakin banyak kesibukan dan keputusan yang harus di ambil, semakin banyak ia harus bergantung dan berserah kepada Tuhan. Luther menyadari ia tidak dapat berjalan tanpa Tuhan. Ia harus melibatkan Tuhan.
Saudara bagaimana dengan kita, banyak keputusan yang harus kita buat dalam kehidupan ini. Keputusan masa depan, bekerja dimana, mau jadi apa, menikah atau tidak, kapan menikah, dengan siapa, dll. Saudara, sudahkah kita melibatkan Tuhan dalam keputusan kita? Sudahkah kita mengijinkan Tuhan untuk mengarahkan setiap keputusan yang kita pilih? Sudahkah kita merendakan hati untuk mendengar bisikan Tuhan? Atau kita malah menutup telinga kita kepada kehendak Tuhan, dan mulai memutuskan segala sesuatu berdasarkan pikiran kita? Atau mungkin kita lebih senang memilih “Sodom-sodom” dalam keputusan kita? Lebih mencintai kenikmatan dan kesenangan dunia, daripada memikirkan kehendak Tuhan.
Saudara, Sebenarnya orang yang tidak melibatkan Tuhan itu seperti seorang anak dan ayah yang sedang berjalan bersama, yang kemudian memutuskan untuk melepaskan pegangan tangan ayahnya. Akhirnya ia tersesat dan kehilangan arah. Saudara, tidak melibatkan Tuhan berarti kita memilih jalan yang berpotensi menghancurkan kehidupan kita. Hidup kita akan hancur tanpa Tuhan. Namun puji syukur kepada Allah, karena kemurahan Tuhan yang besar bagi kita, maka ia tidak akan membiarkan hidup kita hancur begitu saja. Itulah yang Lot alami.... (to be continiu