Tuesday, August 06, 2013

BERMEGAH DALAM KELEMAHAN




Alkisah diceritakan tentang seorang raja yang sangat kaya.  Ia memiliki segala sesuatu.  Ia memiliki kekayaan yang tidak terhitung.  Tidak ada yang dapat menandingi kekayaan pria ini di negaranya.  Ia adalah pengusaha sukses.   Segala perusahaan besar tunduk dan hormat kepadanya.  Bukan cuma itu, ia juga memiliki istri yang cantik, dan anak yang pandai-pandai.   Ia memiliki kekuasaan, kekayaan, dan semua kenikmatan dunia ini ia miliki.   Namun waktu demi waktu berlalu, lantas tanpa sadar ia menjadi tua dan renta.  Iapun mulai menyadari bahwa apa yang ia miliki akan ia tinggalkan.  Dan iapun mulai merasa cemas.  Namun tiba-tiba ketika ia sedang berjalan disebuah taman, ia menemukan botol ajaib, dimana dari botol itu keluarlah makhluk yang memberi kesempatan kepadanya untuk minta dikabulkan satu permintaannya (ini Cuma cerita fiksi).  Setelah berpikir-dan berpikir, pria ini segera meminta untuk hidup abadi, tidak akan mengalami kematian.  Dia berharap dia bisa menikmati semua yang dia miliki  Akhirnya permintaannya dikabulkan.   Ia menjadi abadi tidak bisa mati.  Tapi Apa yang terjadi setelah itu?  Tahun terus berlalu.  Pria ini menjadi semakin tua, 60 tahun, 70, 80, 90 sampai 120 tahun.  Tapi ia masih hidup, padahal badannya sudah sangat lemah.  Ia terus menerus bolak balik rumah sakit.  Ia sudah tidak bisa berjalan.  Penglihatannya sudah tidak jelas.   Ga bisa mengunyah makanan enak.    Tapi gak mati-mati.   Memang ia hidup abadi seperti permintaannya.  Tapi ia hidup abadi dalam tubuh yang terus menua dan sakit-sakitan.  Akhirnya ia menyesal, dan ingin untuk mati saja.
Cerita di atas hanyalah cerita fiksi.  Namun cerita ini mememberikan pesan kepada kita bahwa manusia tidak akan pernah lepas daripada kelemahan-kelemahan hidup.   Setiap kita manusia diciptakan Tuhan dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing.  Selemah-lemahnya seseorang pasti ada kelebihannya. Sebaliknya, sekuat-kuatnya seseorang, Tuhan tetap menitipkan beberapa kelemahan. 
Terhadap kekuatan dan kelemahan kita, umumnya respon kita adalah berusaha untuk mengembangkan apa yang menjadi kekuatan kita, dan kita berusaha untuk menekan apa yang menjadi kelemahan kita.   Tapi bagaimanapun kita berusaha menekan kelemahan kita, tetap saja kita tidak akan dapat lepas dari kelemahan-kelemahan hidup.   Sebenarnya yang terpenting adalah bukannya bagaimana kita menghapus kelemahan-kelemahan dalam diri kita.  Namun yang terpenting bagi kita orang percaya adalah:  Bagaimana respon kita terhadap kelemahan-kelemahan yang sudah pasti ada dalam diri kita tersebut.   Atau bagaimana sudut pandang kita dalam memandang kelemahan-kelemahan yang melekat dalam diri kita.
Umumnya respon orang dalam menghadapi kelemahan dirinya adalah ia menganggap kelemahan itu sebagai beban berat, yang membuat dirinya khawatir, cemas, takut, dan kemudian berujung pada sikap kecewa pada diri, kecewa kepada lingkungan yang tidak mendukung,  kecewa pada orang tua yang melahirkannya, bahkan mungkin kecewa kepada Tuhan yang dianggap sebagai pemberi kelemahan.  Mungkin itu juga yang menjadi respon bapak ibu ketika menghadapi kelemahan hidup.
****
Tapi mari kita belajar dari rasul Paulus.   Seorang yang kita kenal begitu luar biasa dalam pengabaran injil, yang dikenal begitu berani, yang melakukan banyak sekali mujizat-mujizat, yang tidak pernah takut mati, yang berkali-kali dilempari batu, dirajam, dipukul dsb, tapi ia tetap berani melangkah.   Ya…. Rasul yang terkenal berani ini ternyata juga memiliki kelemahan-kelemahan.   Kelemahan itu ia sebut sebagai duri dalam daging karena kelemahan itu begitu menyakiti dan melukai dirinya.  Tidak tau apa yang dimaksudkan dalam duri dalam daging disini.  Ada penafsir mengatakan duri itu adalah masalah mata yang sukar melihat karena pernah dibutakan Tuhan sewaktu terkena cahaya.   Itu terbukti ketika ia menulis surat, Paulus selalu menyuruh orang lain untuk menuliskannya, karena matanya susah.   Ada juga yang menafsirkan duri dalam dagingnya itu sebagai kelainan seksual.  Ada juga yang mengatakan duri dalam daging itu merupakan seseorang yang terus mengincar nyawanya.  Ada juga yang menafsirkan duri dalam daging sebagai penyakit keras yang dialami Paulus. 
Ada banyak sekali penafsiran tentang apa yang menjadi duri dalam daging Paulus.  Tapi saya bersyukur karena tidak ada satu orangpun yang memastikan apa itu duri dalam daging Paulus.  Kita bersyukur karena Paulus tidak memberitau kepada kita apa yang menjadi kelemahan dia.   Sebab jika Paulus memberitahu apa yang menjadi duri dalam dagingnya, maka ayat-ayat ini hanya akan menjadi berkat bagi orang yang memiliki pergumulan yang sama dengan Paulus.  Tapi duri dalam daging itu tetap menjadi misteri agar firman ini dapat menjadi berkat bagi setiap kita yang memiliki kelemahan-kelemahan dalam diri.
Yang pasti duri dalam daging itu begitu menyiksa sehingga Paulus sampai 3 kali memohon kepada Tuhan untuk mencabut duri dalam daging itu.  Memohon sampai 3 kali menunjukkan akan betapa serius pergumulan itu.  Tapi apa yang terjadi?   Paulus yang selama ini dapat menyembuhkan orang sakit.  Paulus yang pernah membangkitkan orang mati.  Paulus yang doanya selalu didengar Tuhan.  Tapi kali ini, Tuhan tidak menjawab doa sesuai yang diinginkan Paulus.   Tuhan membiarkan duri dalam daging itu tetap ada dalam dirinya.  Tuhan tidak mencabut duri itu walau duri itu sudah begitu membuat Paulus menderita.
Tetapi menariknya, bagaimana respon Paulus?   Paulus menyikapi duri dalam daging ini bukan dengan kecewa, bukan dengan kemarahan, bukan juga dengan kepahitan.  Tetapi dengan jelas di ayat 10 ia mengatakan:  Tetapi aku senang dan rela di dalam kelemahan…..  Terlebih herannya, di ayat 9 Paulus bahkan berkata “Terlebih suka aku bermegah dalam kelemahanku”.   Ini bukanlah respon yang umum dilakukan orang-orang.  Tetapi ini respon yang luar biasa.   Jika kita yang sedang menghadapi masalah berat yang melemahkan kita, umumnya kita akan berkata:  saya sedih dengan keadaan ini, saya kecewa dengan diri saya, saya marah dengan apa yang terjadi dengan diri saya, dsb bukan?  
Selama ini kalau kita mendengar kesaksian, kita akan mendengar bagaimana orang-orang bersaksi bagaimana Tuhan memimpin hidupnya keluar dari pergumulan bukan?   Misal:  saya bersyukur, saya sempat sakit yang tidak disembuhkan, tapi dokter mengatakan mujizat terjadi, penyakit itu hilang, padahal dokter sudah angkat tangan.   Saya bersyukur sama Tuhan.  Atau:  saya bersyukur, tadi sebenarnya hampir saja saya kecelakaan, tapi syukur Tuhan mengirim orang yang tidak dikira untuk menolong sehingga kecelakaan itu tidak terjadi.  Begitu bukan yang kita dengar?   Pernah tidak kita mendengar orang bersaksi demikian:   Saya bersyukur, saya sakit tidak sembuh-sembuh…. Saya bersyukur, saya dapat masalah berat, dan saya belum menemukan jalan keluar…dsb…. Tidak pernah bukan?   Seumur hidup saya, hampir tidak pernah saya mendengar orang bersaksi demikian.  Tetapi Paulus mengatakan:  Saya senang berada dalam kelemahan.  Bahkan saya bermegah dalam kelemahan saya.   Ini luar biasa.  Tentu ada hal yang membuat Paulus dengan yakin mengatakan hal itu.  Setidaknya ada 2 alasan  yang ia utarakan mengapa ia suka dalam kelemahan. 
Alasan pertama ialah:  Kelemahan dapat menolong kita terhindar dari kesombongan.  Di ayat 7 Paulus berkata:  Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.”  Sebanyak dua kali Paulus mengatakan supaya ia jangan meninggikan diri.  Paulus sadar sekali bahwa kesombongan itu adalah hal yang paling dibenci Tuhan.   Kejatuhan Adam dan Hawa pertama kali disebabkan karena mereka ingin menyombongkan diri dengan ingin menjadi sama seperti Tuhan.   Berkali-kali Tuhan menegur dan membenci sikap-sikap umat-Nya yang angkuh dan sombong.  Paulus sadar bahwa ia punya potensi untuk menjadi angkuh.  Mengingat ia sudah berkali-kali melakukan mujizat, bahkan di pasal 12 ini ia menyatakan bahwa ia pernah diangkat ke tingkat ketiga dari Surga.  Yang menyatakan betapa luar biasanya Paulus.    Ia sangat berpotensi untuk menyombongkan diri.  Ia punya kepandaian, kuasa dalam pelayanan, pendidikan dan latar belakang yang baik.    Namun supaya ia tidak menjadi sombong, ia diberi kelemahan itu.   Memang kelemahan memang acapkali menyadarkan kita bahwa kita ini manusia terbatas dan lemah.  Kita bukan orang hebat.  Kita hanya manusia kecil dan hina.  Itu sebabnya Paulus senang dan rela berada di dalam kelemahan.
Alasan kedua mengapa Paulus suka dalam kelemahan ialah,  Karena kelemahan itu dapat berubah menjadi kekuatan.  Bagaimana kelemahan dapat mejadi kekuatan Paulus?  Diayat 9 dan 10 menjelaskannya.   Di dalam kelemahan Tuhan menjawab Paulus: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Selanjutnya Paulus mengatakan:  Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.  Mengapa bisa?   Karena Paulus menyadari bahwa ketika ia lemah, dan ketika ia bersandar kepada Tuhan, maka kuasa Tuhan itulah yang akan menaungi Paulus.  Memang Kuasa Tuhan paling sempurna ternyata ketika kita merasa tidak berdaya dan menyadari bahwa kita butuh Tuhan.   Saat kita kuat, kita merasa smua itu karena kemampuan kita.  Kita lupa ada Tuhan yang bekerja dibelakang kita.   Tapi saat kita lemah dan tidak berdaya, saat itulah kita akan menemukan kuasa Tuhan yang ajaib yang mampu menolong kita.  Itu sebabnya Paulus bermegah.  Sebab ketika ia lemah, pada saat itu juga ia akan mengalami dan menikmati kuasa Tuhan yang dasyat bekerja atas dirinya.  Paulus menemukan banyak sekali manfaat dalam kelemahan hidup kita.   Itu sebabnya ia senang, rela, bahkan bermegah atas kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya.

Saya suka sebuah puisi yang mengatakan demikian:
Aku minta kekuatan, agar aku mendapat
Ia memberi kelemahan, agar aku taat
Aku minta kesehatan, agar aku mengerjakan yang lebih besar
Ia memberi anugerabaikh, agar aku mengerjakan yang lebih .
Aku meminta kekayaan, supaya aku bahagia
Ia memberi kekurangan, supaya aku bijaksana.
Aku minta kuasa, agar aku dipuja sesama.
Ia membuat aku lemah, agar aku bergantung kepada-Nya.
Aku minta segala sesuatu, agar aku menikmati kehidupan
Ia memberi kehidupan, agar aku menikmati segala sesuati
Aku tidak selalu memperoleh apa yang aku minta
Tapi doaku selalu terjawab.

Saudaraku, apa yang menjadi duri dalam daging dalam hidup saudara saat ini?   Apakah itu sakit penyakit yang sedang menimpa saudara atau orang-orang yang kalian kasihi?  Apakah itu masalah keluarga yang tidak terselesaikan?  Ataukah itu masalah-masalah pribadi yang kita gumulkan dimana tidak ada seorangpun yang tau.  Mungkin bertahun-tahun kita bergumul dengan masalah itu.  Kita menangis, kita terluka, kita kecewa, dan kita khawatir dengan kelemahan kita.      Mari kita belajar seperti Paulus dalam memandang kelemahan kita.  Mari kita melihat kelemahan sebagai didikan Tuhan yang menjaga kita untuk tetap rendah hati.  Dan mari dalam kelemahan kita memandang kepada Tuhan.  Kekuatan kita memang bukan dari diri kita sendiri.  Tuhanlah yang menjadi sumber kekuatan kita.   Mari kita bersandar kepadanya.  Sebab ketika kita lemah dan bersandar pada Tuhan, pada saat itu kita kuat.  Tuhan tidak pernah terkesan dengan orang-orang yang merasa dirinya pintar, kuat dan mampu dengan kekuatan sendiri, tetapi sangat tertarik kepada orang-orang yang menyadari dan mengakui keterbatasan, ketidakberdayaan atau kelemahannya.   Kiranya semua ini menolong kita untuk dimampukan dalam menghadapi kelemahan-kelemahan hidup.



No comments: