Monday, September 14, 2009

FACING NEW SITUATION (YOSUA 23:1-11)


Memasuki sebuah situasi yang anyar itu tidaklah semudah mengedipkan mata. Banyak proses adaptasi yang harus dilakukan untuk mengenal situasi baru. Saya teringat ketika pertama kali transmigrasi ke Surabaya (1998), meninggalkan orang tua dan tempat kelahiran untuk masuk dalam jenjang pendidikan SMU yang lebih baik; saya menemukan ada begitu banyak hal yang harus diadaptasikan. Ada jurang budaya yang begitu berbeda dengan tempat asal saya. Bahasa Jawa yang sama sekali saya tidak mengerti. Kebiasaan-kebiasaan yang berlainan, apa yang dianggap sopan di sana, tidak dianggap sopan disini. Terlebih ada jurang penafsiran akan apa yang akan di alami dengan kenyataan yang ada. Semua itu cukup menekan saya. Saya khawatir dengan masa depan saya di Surabaya. Selama 1 tahun, dengan bersusah payah untuk menyesuaikan diri dengan sosial budaya yang ada, barulah saya bisa ‘sedikit’ merasa lebih baik. Tidak enak! Sangat tidak enak! (terutama bagi saya, mungkin orang lain berbeda). Namun bagaimana lagi, demi sebuah kebaikan, saya harus menuntut diri untuk belajar lebih lagi agar dapat menjadi orang yang berhasil.


Itu juga yang mungkin dirasakan oleh Yosua ketika memasuki tanah Kanaan. Segala situasi yang akan ia masuki baru. Kebudayaan orang setempat yang berbeda. Cuaca atsmosfer dan iklim yang berbeda. Orang-orang yang dia tuntunpun berbeda. Dan tentunya dengan perasaan yang berbeda juga. Apalagi Ia belum pernah menjejakkan sedikitpun langkahnya di tanah perjanjian itu. Selama ini dia hanya mendengar dari Musa yang sebenarnya juga belum pernah menginjakan kakinya di negeri Kanaan. Sepertinya hal itu sedikit banyak membuat Yosua begitu khawatir. Yosua begitu cemas. Ia mungkin tertekan dengan situasi baru yang ia hadapi dan akan hadapi, sehingga Tuhan berkali-kali mengingatkan kepadanya untuk “Jangan takut”.


Namun dalam perikop ini (Yos 23), Yosua berdiri di depan umat Israel, bukan lagi sebagai orang yang penakut, melainkan sebagai orang yang sudah tua, yang dipenuhi dengan kerutan-kerutan pengalaman yang sedang menyampaikan pidato terakhirnya kepada seluruh umat Israel. Sudah merupakan hal yang umum pada waktu itu, jika seorang pemimpin yang sudah menginjak di akhir usia, akan menyampaikan pidato-pidato terakhirnya, sebagai pelajaran dan peringatan penting yang harus diingat oleh generasi berikutnya. Yakub, Yusuf, Musa, Daud, sebelum meninggal juga menyampaikan pidato terakhir mereka.


Yosua berdiri sebagai seorang yang berhasil. Ia berhasil melewati keadaan-keadaan baru yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia tau merasakan keajaiban Tuhan ketika melewati tembok Yerikho. Ia pernah merasakan nuansa spiritual yang dalam ketika ia berhadapan langsung dengan bala tentara Tuhan. Ia pernah merasakan Allah tidak menolongnya, ketika Akhan mencuri barang-barang yang dikhususkan. Bahkan Ia pernah keliru dalam menyikapi orang-orang Gibeon dengan tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan. Dan banyak lagi pengalaman-pengalaman dan suka duka yang ia alami. Namun sekali lagi, ia berhasil melewati itu semua. Dan kini pengalaman-pengalaman itu hendak ia bagikan kepada seluruh kaula muda yang akan meneruskan perjuangannya.


Saudara, jika kita perhatikan dalam pidatonya, begitu terasa bahwa Yosua sangat menekankan sosok Allah yang bertindak. Di ayat 3 keluar pernyataan: sebab Tuhan Allahmu, dialah yang berperang bagi kamu. Lalu di ayat 5 ia mengatakan “Dan TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan mengusir dan menghalau mereka dari depanmu”. Kemudian di ayat 9, Yosua kembali mengatakan “Bukankah TUHAN telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu, dan akan kamu ini, seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang.” Dan di ayat 11, Yosua membuat sebuah inklusio dengan mengatakan “sebab TUHAN Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu.” Yosua sangat menyadari, bahwa jika ia bisa melewati semuanya itu sampai saat ini, itu karena ada Tuhan Allah yang bertindak dan berperang bagi Israel. Dan Allah yang bertindak pada masa lalu itu, pasti juga akan bertindak di hari yang kedepan.


Ss, karena Allah itu kekuatan Israel, karena itu Israel harus terus bergantung dan memberi respon yang tepat kepada Tuhan. Jika kita perhatikan teks dari ayat 1-11 ini, kita dapat menemukan ada 4 kalimat perintah yang di ucapkan Yosua. Di ayat4 ia menyuruh untuk “mengingat” masa lalu, bagaimana Tuhan sudah memimpin dan bekerja. Bukan kekuatan kita , tapi kekuatan Tuhan. Di Ayat 6 ia mengatakan “Kuatkanlah, hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa”, sehinga kita tidak menyimpang ke arah yang salah. Lalu di ayat 8 dikatakan “Tetapi kamu harus berpaut pada Tuhan Allah” karena jika Allah yang melakukan segala perkara, maka kita harus berpaut kepadaNya, sumber kemenangan kita. Dan terakhir, yang merupakan klimaks dari perintah itu ada di ayat 11 “Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi Tuhan, Allahmu”. Inilah 4 hal yang diperintahkan Yosua bagi umat Israel dalam menjalani masa depan mereka kelak.


Saudara, saya rasa kalimat perintah ini juga baik untuk kita lakukan. Dalam kehidupan ini, kitapun akan terus menerus menghadapi situasi-situasi yang baru. Memasuki ladang yang baru. Pindah rumah. Mungkin tempat kerja yang baru. Status yang baru (jika kita menikah). Bahkan kehadiran anak juga mengharuskan kita untuk beradaptasi kembali. Banyak hal-hal baru yang akan menghadang di depan kita. Satu pesan yang ingin saya sampaikan ialah, jika Tuhan sudah menuntun hidup saudara sampai pada hari ini, maka Tuhan juga yang akan menuntun kita ke depannya. Tuhanlah yang berdaulat atas hidup kita. Karena itu mari kita meresponi penyertaan Tuhan dengan 4 kata perintah tadi. Mari kita belajar untuk mengingat akan apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Mari kita setia untuk berpegang pada Firman Tuhan, yang merupakan pelita bagi jalan hidup kita. Mari kita terus menerus berpaut pada-Nya. Dan marilah kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, kekuatan, dan dengan segenap jiwa kita. Kelak ketika kita tua, giliran kita yang menyampaikan pesan-pesan penting ini bagi generasi selanjutnya dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan lika liku ini. GBU

No comments: