Wednesday, September 30, 2009

Kerajaan Allah dalam Injil #1



Kerajaan Allah merupakan pokok utama dalam pekabaran serta karya Yesus. Hal ini sangat ditekankan dalam setiap kitab Injil yang ada di perjanjian baru. Frasa “Kerajaan Allah” ditemukan 122 kali dalam seluruh Perjanjian Baru; 99 darinya ditemukan dalam ketiga Injil sinoptik, dan 90 dari 99 teks tadi adalah kata-kata yang berasal dari mulut Yesus sendiri. Dalam Injil Yohanes selebihnya, kata ini Cuma memainkan peran kecil.[1] Oleh karena itu pakar-pakar modern cukup sepakat bahwa Kerajaan Allah ini merupakan pusat pemberitaan Yesus.[2]

Rauschenbusch, seorang penganut social Gospel juga berpendapat bahwa Kerajaan Allah adalah doktrin yang menjadi fokus dari sebuah sistem teologi.[3] Hans Kung, seorang teolog Katolik dan Jon Sobrino, seorang teolog pembebasan dan imam Yesuit, juga merumuskan pentingnya Kerajaan Allah sebagai pusat proklamasi Yesus.[4]

Jika memang tema ini merupakan pusat pemberitaan Yesus, maka sudah tentu tema tersebut memiliki signifikansi yang tinggi, dimana Yesus menginginkan agar semua pembaca Alkitab yang telah diinspirasikan-Nya dapat memahami konsep ini dengan baik dan benar. Hal ini juga menunjukkan bahwa tema Kerajaan Allah adalah tema yang harus digumuli sungguh-sungguh oleh semua orang percaya. Oleh alasan itulah, penulis akan memaparkan konsep-konsep mengenai Kerajaan Allah tersebut.

Sistematik penulisan yang hendak digunakan oleh penulis adalah dengan membagi penjelasan tema tersebut dalam beberapa poin penting, dengan membandingkan perdebatan dan pendapat beberapa pakar teologi. Adapun poin-poin yang ingin dibahas yaitu mengenai definisi dari Kerajaan Allah itu sendiri, aspek kekinian dan keakanan, serta implikasinya terhadapa teologi-teologi Kristen. Alhasil yang diharapkan penulis adalah agar setiap umat Kristen dapat memiliki pemahaman yang benar dan komprehensif mengenai Kerajaan Allah. Sehingga ia dapat memenuhi salah satu amanat Yesus dalam Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”


DEFINISI KERAJAAN ALLAH


Sebenarnya tafsiran-tafsiran tentang pengertian Kerajaan Allah itu memiliki banyak variasi. Dari Agustinus sampai para reformator, pandangan yang lazim adalah bahwa Kerajaan Allah dalam atau yang lain hal disamakan dengan gereja. Pada saat gereja memberitakan Injil ke seluruh dunia, pada saat itu pula Gereja memperluas Kerajaan Allah. Namun sekarang pandangan ini jarang dipertahankan bahkan diantara pakar Katolik sekalipun. Gereja itu merupakan umat dari Kerajaan itu, namun tidak dapat disamakan dengan kerajaan itu.[5]

Pandangan liberal kuno yang diwakili oleh tulisan Harnack[6] memandang bahwa Kerajaan Allah hanyalah sebagai agama nubuat murni yang diajarkan oleh Yesus: Allah sebagai Bapa, persaudaraan manusia, nilai yang tak terhingga dari jiwa seseorang, dan etika kasih. Dengan demikian pengalaman beragama secara pribadi adalah merupakan unsur yang paling primer dalam Kerajaan. Pandangan liberal ini sangat menekankan unsur sosial dan etika moral.[7]

Sementara itu, kelompok lain memahami Kerajaan Allah sebagai pola ideal dalam masyarakat. Kerajaan Allah tidak hanya memberikan perhatian utama pada keselamatan individu, tetapi juga pada masalah-masalah sosial. Pada saat manusia menyelesaikan masalah-masalah sosial, pada saat itulah mereka sedang membangun Kerajaan Allah.[8] Rauschenbusch mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah suatu konsepsi sosial untuk kehidupan sekarang ini. Karena Yesus berkata “kerajaan-Mu datang, kehendak-Mu jadi di bumi.” Baginya Kerajaan Allah adalah suatu realita di dunia, yang dengan tenang mewarnai seluruh kemanusiaan, yang terus bergerak ke arah kesempurnaan hidup ilahi. Di dalam Kerajaan Allah, kasih yang merupakan hukum terutama dari Yesus itu akan lebih berkembang.[9]

Sedangkan C. H. Dodd dalam penafsirannya yang paling baru memahami Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang absolut, yang sama sekali lain, yang telah memasuki dimensi waktu dan tempat dalam pribadi Yesus orang Nazaret.[10] Hal ini mendukung pernyataan Origenes yang mengatakan bahwa Yesus sendiri merupakan Kerajaan yang dimaksud; Kerajaan itu bukan sebuah benda, bukan wilayah kedaulatan geografis seperti kerajaan-kerajaan dunia. Kerajaan itu adalah seorang pribadi, yaitu Yesus.[11] Bagi Origenes, Kerajaan itu terletak dalam batin manusia. Ia tumbuh dan memancar keluar dari dalam ruangan batin itu.[12]

Berdekatan dengan itu, Howard Marshall sangat menekankan arti “keselamatan / penyelamatan”. W. C. Van Unnik juga mengkaitkan konsep Kerajaan Allah ini dengan tindakan penyelamatan.[13] B. F. Drewes pun menyetujui akan makna keselamatan ini. Baginya Kerajaan Allah ini berkaitan dengan kemenangan atas iblis. Orang yang dimenangkan itu bisa terjadi karena adanya keselamatan.[14] Geerhardus Vos juga mengatakan “the kingdom as the Supremacy of God in the sphere of saving power”.[15] Dalam Markus 1:14-15 Yohanes pembabtis menyerukan “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”. Ayat ini menunjukkan bahwa kerajaan Allah itu berkaitan dengan kabar baik dan kedatangan Yesus; pada saat Yesus datang itulah Kerajaan Allah sudah dekat. Dan kedatangan Yesus ini mengharuskan orang menanggapi dengan pertobatan.[16]

Jadi sebenarnya apakah Kerajaan Allah itu? Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Namun penulis mencoba menganalisanya berdasarkan pendekatan biblika dan dengan menggabungkan beberapa pendapat pakar teologi di atas, yang dianggap lebih mendekati.

Dari epistemologi, Kerajaan ini berasal dari kata basilei,a (Perjanjian Baru) dan hk'WlM. Atau Wkl.m; (Perjanjian Lama), yang memiliki beberapa unsur antara lain: unsur penguasa kerajaan Allah; unsur cara bekerjanya kerajaan Allah; unsur kuasa kerajaan Allah; unsur waktu dan unsur warga Kerajaan Allah.[17] Kaum Hellenis dan dalam kekaisaran Romawi menggunakan kata basilei,a ini untuk seorang raja yang memiliki sifat ilahi. Mis: Alexander Agung (356-323 BC) dan Kaisar Agustus.[18] Sedangkan kaum Yudaisme menganggap istilah Kerajaan Surga itu adalah istilah yang menyatakan Allah hadir, tinggal, dan Allah adalah Raja (Lih. Kel.15:18; Yes. 24:23; 31:4).[19]

Secara umum disepakati bahwa kata ini bukan berarti suatu wilayah pemerintahan, ini lebih berarti suatu pemerintahan daripada suatu wilayah kekuasaan; kata itu lebih banyak menunjuk kepada Allah yang bertindak dan bukan suatu daerah atau kelompok.[20] Wilard juga berpendapat bahwa Kerajaan Allah bukanlah berbicara suatu tempat, melainkan mengenai kuasa dan pemerintahan. Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah itu adalah lingkup tempat kehendak Allah terlaksana dan terjadi.[21] Hal ini paling jelas terdapat pada doa Bapa kami, yang secara tidak langsung menghubungkan Kerajaan dengan hal melaksanakan kehendak Allah.[22]

Dalam Roma 14:17 Paulus mengatakan: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” menunjukkan bahwa Kerajaan Allah ini bukan bersifat fisikal, melainkan spiritual. Ini diperkuat oleh Yohanes 18:36, dimana Yesus mengatakan “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Intinya kerajaan itu adalah kekuasaan untuk memerintah, dan kedaulatan raja. Jika kata kerajaan itu berarti Kerajaan Allah maka artinya selalu adalah pemerintahan Allah, kekuasaan Allah, kedaulatan Allah dan bukan wilayah berlakunya kerajaan itu.

Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah itu merupakan kedaulatan pemerintahan Allah yang penuh kuasa, di mana Allah adalah Sang Pemimpin itu, memulai Kerajaan-Nya dengan menyelamatkan manusia yang berdosa dari kuasa iblis melalui Anak-Nya Yesus Kristus, serta membawa manusia tersebut kedalam kehidupan yang kekal. Keselamatan itu diperoleh melalui pemberitaan Injil yang ditugaskan kepada gereja-gereja, yang harus dinyatakan dalam kasih. Kerajaan ini lebih bersifat rohani daripada materi.

Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah Kerajaan Allah itu berbicara mengenai masa yang akan datang atau masa kini? Hal ini menjadi banyak perdebatan di antara pakar teolog.



[1]Joseph Ratzinger, Yesus Dari Nazaret (Jakarta: Gramedia, 2008) 47.

[2]G. E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002) 72.

[3]Rauschenbusch, Walter, A Theology for the Social Gospel (Nashville: Abingdon Press, 1945, 142. Dikutip dari Sianne Winadisurya, Tanggapan Kritis terhadap pandangan Walter Rauschenbusch mengenai doktrin Kerajaan Allah dalam Injil Sosial (Social Gospel), (Skripsi S.Th; Malang: SAAT, 2001).

[4]Hans Kung menyatakan “This seems [Kingdom od God] is at center of His Proclamation. . . .”. Sedangkan Jon Sobrino menyatakan “The most certain historical datum about Jesus life is that the concept which dominated his preaching, the reality which gave meaningfulness to all his activity, was the ‘Kingdom of God’” (Perdian K. M. Tumanan, “Kerajaan Imam: Teologi Kerajaan Allah dan Implikasinya Bagi Permuridan Masa Kini” dalam Jurnal Disciples 3 [2006]).

[5]G. E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru 73.

[6]Harnack melihat amanat Yesus tentang Kerajaan Allah sebagai sebuah revolusi ganda melawan Yudaisme melawan Yesus. Bila Yudaisme terpusat seluruhnya pada yang kolektif, yakni bangsa terpilih, menurut Harnack amanat Yesus bercorak sangat individualistik; Yesus menyapa orang perorangan di mana nilai tak terbatas dari setiap orang Ia akui dan menjadi fondasi pengajaran-Nya. (Joseph Ratzinger, Yesus dari Nazaret 50.)

[7]G. E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru 73

[8]G. E. Ladd, Injil Kerajaan (Malang: Gandum Mas, 1994) 17.

[9]Wahyu Pramudya, “Doktrin Kerajaan Allah” dalam Jurnal Veritas 1 No.2 (2000):170-171.

[10]G. E. Ladd, Injil Kerajaan 16.

[11]Joseph Ratzinger, Yesus dari Nazaret 48.

[12]Ibid. 49.

[13]Bandingkan dengan Matius 19:16-29

[14]B. F. Drewes, Kerajaan Allah dan Harta Milik Kita (Jakarta: BPK Mulia,1976) 9.

[15]Geerhardus Vos, The Kingdom and The Church (Grand Rapids: Eerdmans, 1951) 48.

[16]Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2006) 144.

[17]Pondsius Takaliuang & Sussana Takaliuang, Kerajaan Allah (Malang: YPPII, 1993) 3.

[18]Daniel Fu, Kerajaan Allah Menurut Injil Sinopsis (Skripsi S.Th; Malang: SAAT, 1989) 7.

[19]Ibid.

[20]Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992) 22.

[21]Daud Kurniawan, Kerajaan Allah Diantara Kita (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2006) 19.

[22]Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2 22.

0 komentar: