Tuesday, February 23, 2010

KEMAH SUCI (2): MIKROKOSMOS PENCIPTAAN



Memahami doktrin penciptaan merupakan suatu pembelajaran yang penting dalam berteologi. Pemahaman mengenai penciptaan merupakan sebuah landasan dasar sebelum memahami teologi-teologi lainnya. Melalui penciptaan, kita baru dapat memaknai konsep kejatuhan manusia, konsep keselamatan, serta konsep eskatologi. Melalui penciptaan, kita juga dapat mengenal akan pribadi Allah, Kristus, dan Roh Kudus beserta dengan karya-karya-Nya. Penciptaan ini juga menjadi bagian penting dari iman gereja (bisa kita lihat dari Pengakuan Iman Rasuli). Bisa dikatakan kehidupan manusia sepanjang sejarah berkaitan dengan penciptaan. Mungkin jika disusun ordonya demikian: Penciptaan yang baik oleh Allah – Kejatuhan ciptaan – Kerusakan ciptaan – Penebusan ciptaan – Pemulihan dan pengudusan ciptaan – Kesempurnaan ciptaan kembali. Oleh sebab itu, dalam pergelutan kehidupan ini, kita harus berefleksi dari visi penciptaan semula yang telah disiapkan oleh Allah.


Keberadaan kemah suci selain merupakan lambang kehadiran Allah, sebenarnya juga merupakan miniatur dari penciptaan atau mikrokosmos penciptaan. Beberapa poin yang mendukung pernyataan di atas antara lain:


- Terdapat pola yang sama. Dalam Kejadian 1 setiap penciptaan di mulai dengan kalimat “berfirmanlah Allah:.” Dalam perintah pendirian kemah suci dan setiap perabotnya terdengung kalimat “Berfirmanlah Tuhan kepada musa:” sebanyak 7 kali dalam Keluaran 25-31.

- Di hari ke-7 dalam penciptaan Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan. Firman Tuhan yang terakhir / yang ke-7 (7 melambangkan hari penciptaan) kepada Musa juga mengenai peringatan untuk menguduskan hari sabat (hari perhentian) dalam Keluaran 31:12.

- Semua ciptaan dalam Kejadian di pandang sebagai sesuatu yang baik (mis: Kej. 1:10b,12b). Penggunaan bahan-bahan untuk kemah suci juga merupakan bahan yang terbaik, yang mencerminkan kemuliaan dan keagungan serta kesempurnaan dari penciptaan dunia.

- Ada beberapa penggunaan kata-kata yang sama dalam kedua peristiwa ini (sperti klh dalam Kej. 2:2 dengan Kel. 29:32)

- Memiliki tujuan yang serupa, agar Allah dapat berintimasi dengan manusia.

- Musa memeriksa pekerjaan kemah suci dan melihat (r’h) bahwa Israel telah mengerjakan semuanya dengan baik. Ini merupakan alusi dari peristiwa penciptaan ketika Allah memeriksa dan melihat (r’h) citaan-Nya baik (Kej. 1:31).

- Musa memberkati (brk) umat setelah menyelesaikan pekerjaan kemah suci seperti Allah memberkati (brk) ciptaan-Nya.


Dalam dua perbandingan ini terdapat beberapa point. Pertama, Penciptaan harus berjalan sesuai dengan Firman Allah. Tujuan penciptaan itu tidak lain agar manusia dapat berintimasi dengan Allah. Kedua, manusia harus menghormati Allah (sejalan dengan perintah untuk menjalankan Sabat). Salah satunya dengan cara menjaga kekudusan hidup (seperti kesempurnaan ciptaan dan kekudusan perabotan bait suci), karena Allah mengkehendaki kesempurnaan dalam penciptaannya.


Dalam 2 Korintus 5:17 Paulus mengatakan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Semua orang yang percaya kepada Kristus merupakan ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru tentu Allah menginginkan visi ciptaan semula dapat terjadi. Pertanyaannya bagi kita ialah: Apakah kita sudah menyadari bahwa kita adalah ciptaan baru yang harus berintimasi dengan-Nya? Sudahkah kita sebagai ciptaan baru menghormati Allah yang sudah menciptakan dan menyelamatkan kita? Sudahkah kita menjaga kekudusan hidup ini? Jika tidak ada perkembangan dalam proses pengudusan kita, layakkah kita disebut sebagai ciptaan baru? Mari sebagai ciptaan baru kita memuliakan Allah kita dan terus berelasi dengan Dia.

No comments: