Thursday, March 18, 2010

Eben-Haezer (1 Samuel 7:12)



(Renungan di retret Pengurus)

Fisik manusia diciptakan secara luar biasa oleh Allah. Begitu banyak ketelitian dan kinerja-kinerja dalam fisik ini yang sangat mengagumkan. Salah satu karya apik yang dimiliki oleh semua manusia adalah memori (ingatan). Memori manusia merupakan sebuah ciptaan yang sangat mengagumkan. Menurut penelitian, diperkirakan memori kita memiliki kapasitas beribu-ribu terabytes untuk menyimpan ingatan-ingatan yang pernah kita jumpai. Jika 1 terabyte itu 1000 gigabyte, maka satu bongkah otak kita mampu menyimpan begitu banyak hal yang terjadi.

Tentu setiap kita memiliki memori-memori sendiri. Pastinya ada banyak ingatan yang sedang tersimpan dalam benak kita saat ini. Mungkin kita masih mengingat masa-masa menyenangkan di mana kita merayakan ulang tahun pertama kita sewaktu kecil; Mungkin kita juga masi mengenang masa-masa di mana papa mama merangkul kita dan mencium kita; Mungkin kita juga masi mengenang pada saat kita pertama kali masuk sekolah, dan kita memiliki banyak teman. Dan banyak lagi memori-memori indah lain yang ada dalam benak kita.

Tapi tentu saja tidak hanya memori yang menyenangkan, memori yang burukpun tidak terhindarkan ada dalam benak kita. Mungkin masih teringat dalam benak kita ketika kita mendapat pelecehan dari seseorang; atau ketika orang tua kita bertikai dan saling memukul; Mungkin masih teringat juga masa-masa di mana kita merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang sangat; atau mungkin kita juga masih terbayang saat-saat kekasih kita memutus hubungan kasih dengan kita. Kita tak kuasa menghapus semua memory buruk itu. Intinya, pikiran kita saat ini dipenuhi oleh begitu banyak memori. Semua memori indah dan memori buruk itu jalin menjalin tertanam dalam otak kita tergantung dari setiap pengalaman yang telah kita lewati.

Dalam perikop yang kita baca, bangsa Israel pun sedang memiliki memori-memori yang beragam. Dikatakan beragam karena ada memori yang indah, tetapi ada juga memori yang buruk. Tentu saja masih teringat dalam pikiran mereka ketika mereka dipukul kalah oleh bangsa Filistin. Bahkan dua kali mereka dipukul kalah oleh bangsa Filistin, karena Allah tidak berkenan kepada mereka. Mungkin mereka merasa ditinggalkan oleh Allah pada waktu itu. Tentu juga masih teringat jelas dimana tabut perjanjian, lambang kehadiran Allah itu direbut ke tangan musuh. Dan tentu mereka masih mengingat ketika pimpinan mereka imam Eli, yang telah memimpin mereka selama 40 tahun mati karena terjatuh dari tempat duduknya. Mereka kehilangan pemimpin bak anak ayam kehilangan induknya. Begitu banyak kenangan buruk yang di alami bangsa Israel pada waktu itu.

Tetapi tentu saja kenangan buruk itu tidak dapat menghapus memori-memori indah mereka bersama Tuhan. Tentu mereka masih mengingat bagaimana Tuhan telah membebaskan leluhur mereka dari perbudakkan Mesir. Dan tentu mereka masih mengingat bagaimana Tuhan memimpin nenek moyang mereka selama di padang gurun. Tentu mereka masih mengingat bagaimana Tuhan memimpin mereka memasuki tanah perjanjian, dan menolong mereka untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Termasuk kejadian yang terbaru dalam perikop ini, di mana Allah dengan kuasa-Nya yang ajaib menolong bangsa Israel yang sedang ketakutan memukul bangsa Filistin.

Semua memori indah dan memori buruk ini terjalin menjadi satu dalam benak umat Israel. Semua itu disimpulkan oleh Israel dalam ayat 12. Ia memahat sebuah batu yang cukup besar, dan ia memberi nama batu itu Eben Haezer yang berarti “batu pertolongan.” Setelah mendirikan batu itu, lantas ia berkata “sampai di sini Tuhan menolong kita.” Ya! Samuel ingin mengajak seluruh umat Israel melihat bahwa segala sesuatu yang telah mereka alami, entah itu pengalaman baik ataupun buruk, jika mereka masih bisa eksis sampai saat itu maka itu tidak lain karena Tuhan masih menolong mereka. Tuhan selalu hadir dalam setiap kehidupan mereka dan menolong mereka. Karena itu Samuel mendirikan tugu peringatan, dengan tujuan agar umat Israel boleh mengingat kembali akan semua kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Harapan lain, setiap kali semangat mereka mulai kendur, atau mereka berubah setia; batu itu menjadi peringatan bagi mereka untuk mengingat selalu bagaimana Tuhan sudah menolong mereka sejauh itu, dan ingatan-ingatan itu akan menjaga mereka untuk tetap setia. Mengingat kebaikan Tuhan seharusnya membawa kita lebih berkomitmen untuk lebih setia kepada Tuhan.

Saudara, kita tentu mengenal tokoh legendaris Mother Theresa. Ia adalah orang yang mendedikasikan diri untuk melayani negri India. Hatinya berkobar-kobar untuk mengangkat martabat orang miskin yang ada di India. Betapa besar komitmennya untuk pelayanan di sana walau tidak gampang. Dia mau mengajar anak-anak kecil yang masih buta huruf dengan sabar. Dia mau menolong orang-orang sakit yang tak terawat di jalan-jalan. Orang-orang yang terkena borok digendongnya, dirangkul dan dirawat. Ia tidak jijik dengan luka-luka yang sudah bau dihinggap lalat. Ia juga tidak terganggu tinggal ditengah-tengah rakyat kecil yang tidak pernah membersihkan diri selama beberapa minggu. Bahkan ia rela tidur di jalan bersama dengan orang-orang tersebut. Ia terus melayani walau ia pernah dianiaya. Mengapa ia rela? Mengapa ia begitu berkomitmen? Tidak ada alasan lain, karena Mother Theresa telah mengalami kasih Allah yang begitu besar. Setiap kali ia mengingat akan kasih Allah itu, di mana Allah telah menolong hidupnya dan menyelamatkannya, maka hatinya akan kembali berkomitmen dan berjuang untuk setia melayani orang-orang di India.

Saudara, mari kita kembali melihat akan kehidupan kita. Dalam memori kita mungkin tersimpan banyak kenangan indah dan kenangan buruk. Bahkan mungkin kenangan buruk itu lebih mendominasi kapasitas memori kita. Namun dapatkah kita menyimpulkan Eben-Haezer dan berkata “Sampai di sini Tuhan menolong kita”? Saudara, mari kita kembali mengingat akan segala kebaikan Tuhan. Bukankah Tuhan sudah datang ke dunia karena kasih-Nya kepada kita? Bukankah Ia mau menderita dan mati, agar kita terbebas dari penderitaan dan kematian kekal? Bahkan bukan hanya menyelamatkan kita, bukankah Ia berjanji untuk beserta dengan kita selama-lamanya? Saudara, terlalu banyak hal yang bisa kita syukuri saat ini. Bersyukurlah setiap kali kita membukakan mata untuk pertama kali disebuah hari, kita bisa hidup itu karena anugerah Tuhan. Ketika kita menjalani hari ini, dan kita menemukan ada orang-orang yang mengasihi kita dan orang-orang yang kita kasihi, itu pun adalah anugerah Tuhan. Ketika kita bisa kuliah dan diberi makan cukup itupun adalah kebaikkan Tuhan. Saudara, terlalu banyak kebaikkan Tuhan yang dapat kita renungkan. Mari kita ingat kembali satu-persatu. Biarlah ketika kita mengingat akan kebaikkan Tuhan, hati kita boleh kembali berkobar-kobar untuk melayani Tuhan. Biarlah juga dengan mengingat kebaikkan Tuhan, kita dapat kembali berkomitmen untuk hidup setia bagi Tuhan.
Amin

No comments: