Friday, November 05, 2010

Give Mercy (Imamat 25:35-38)


Angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Perkembangan teknologi membuat banyak pabrik dan perindustrian mengurangi tenaga pekerja mereka. Krisis demi krisis yang menyergap negeri kita juga turut andil dalam meningkatkan angka kemiskinan. Krisis yang terjadi menyebabkan minat pembeli menurun. Mau tidak mau banyak perusahaan mengurangi produksi, sehingga beberapa karyawannya harus di PHK dan lowongan kerja banyak yang dikurangi. Semakin banyaklah angka pengangguran dinegeri ini. Belum ditambah para pemimpin negara dan para pengusaha-pengusaha subur yang melakukan tindakan korupsi dan berbuat curang untuk menyedot uang rakyat. Ada juga kejadian di mana hasil panen para petani di beli dengan harga yang sangat murah; tidak sesuai dengan keringat yang mereka peras tiap hari. Maka terjadilah bahwa yang kaya menjadi tambah kaya, dan yang miskin semakin melarat. Ditambah lagi bencana alam yang semakin tidak bersahabat. Bencana itu menghabiskan milyaran harta benda dari orang-orang kecil. Penggangguran semakin banyak, dan angka kemiskinan semakin meningkat. Pengemis dan pengamen semakin marak di sudut lampu merah di kota-kota besar. Anak-anak kecil yang tinggal di jalan dan tidur berselimutkan langit semakin sering terlihat. Orang-orang yang meminta-minta semakin banyak....bukan karena mereka tidak mau memberi, melainkan tidak ada sesuatu yang dapat mereka berikan.

Di tengah kondisi negara seperti ini, apa yang seharusnya orang Kristen perbuat? Apa yang Tuhan inginkan untuk umat-Nya kerjakan? Perikop yang kita baca setidaknya memberitahukan kepada kita. Perikop ini berbicara tentang bagaimana seorang umat pilihan wajib untuk menolong sesamanya yang mengalami kesusahan / miskin. Jika kita memperhatikan keseluruhan kitab ini maka kita bisa menemukan 1 topik utama atau 1 maksud utama yang ingin disampaikan oleh penulis. Dengan jelas tema utama itu berbicara mengenai kekudusan hidup. Kalau boleh diringkaskan maka kitab Imamat ini dapat teringkas dalam sebuah perintah di pasal 11:44-45 “haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus....” Bisa dikatakan Imamat merupakan sebuah buku panduan mengenai kekudusan, sehingga umat Allah boleh merasakan berkat Allah. Dari pasal 1-7 merupakan aturan-aturan tentang bagaimana mereka memberikan korban bakaran, sajian, pendamaian, dsb, dengan korban yang terbaik untuk kekudusan hidup; Pasal 8-10 berbicara tentang para imam yang harus menjaga kekudusan hidup; pasal 11-15 berbicara mengenai sesuatu yang halal dan yang haram (Seperti kusta, makanan, dsb); dan selanjutnya semua tema berbicara tentang ketetapan-ketetapan kekudusan, seperti kudusnya perkawinan, kekudusan hidup, kudusnya umat Tuhan, kekudusan dalam kebaktian, dsb.

Menariknya sampai perikop yang kita baca, penulis memasukan tentang bagaimana kita harus bersikap kepada orang-orang miskin atau orang yang tidak mampu. Dimana umat Allah harus memberikan kemurahan kepada orang-orang demikian. Dengan kata lain hubungan umat Allah dengan orang miskin itu termasuk dalam panduan kekudusan hidup. Jika kita bermurah hati kepada orang-orang miskin maka kita menjaga kekudusan itu. Tapi jika kita tidak bermurah hati, apalagi kita memanfaatkan dan memperbudak orang-orang miskin itu dengan kejam, maka kita sudah melanggar kekudusan itu.

Yang menjadi dasar untuk umat Allah memberi kemurahan terdapat di ayat 38 “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.” Inilah dasar mengapa umat Israel harus bermurah hati kepada orang-orang demikian. Karena mereka sendiri dulu adalah budak. Mereka dahulu adalah orang-orang miskin dan orang-orang kecil. Namun jika mereka bisa keluar dari perbudakan dan mereka akan memperoleh tanah yang dijanjikan itu itu semua tidak lain karena kemurahan Tuhan. Israel ada itu karena kemurahan Tuhan. Israel bisa diberkati juga karena kemurahan Tuhan. Oleh sebab itu, karena mereka sudah mendapat banyak kemurahan maka merekapun harus saling memberi kemurahan kepada orang-orang yang tidak mampu. Inilah dasar alasan mengapa umat Allah harus memberi kemurahan.

Dalam Perjanjian Baru suara untuk memberi kemurahan pada orang yang tidak mampu ini lebih ditegaskan lagi oleh Tuhan Yesus. Dalam perumpamaan tentang penghakiman terakhir Yesus berkata “Mari hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; dan ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan. Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Lantas orang-orang benar itu bertanya “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Jelaslah bahwa Tuhan mengkehendaki umat-Nya untuk memberikan kemurahan kepada orang-orang kecil.

Sikap ini juga yang Tuhan ingin kita lakukan ditengah maraknya orang-orang miskin di negeri Indonesia. Mereka membutuhkan kemurahan Tuhan. Dan kitalah yang harus menjadi alat penyalur kemurahan tersebut. Salah satu yang menjadi dasar kita memberi kemurahan itu adalah karena Tuhan sudah terlebih dahulu memberikan kemurahan bagi kita. Jika umat Israel diingatkan bahwa mereka sudah dibebaskan dari perbudakan Mesir, maka saat ini kitapun diingatkan bahwa kita sudah dibebaskan dari perbudakan dosa. Bahkan kita dibebaskan dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Kemurahan Tuhan terlalu besar bagi kita. Sebab itu kita harus membalas cinta kasih Tuhan tersebut. Bagaimana membalasnya? Salah satunya dengan memberi kemurahan kepada mereka yang membutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat belajar untuk membalas cinta kasih Tuhan.

Tuhan pernah berkata bahwa orang-orang miskin selalu ada pada kita. Karena itu akan selalu ada kesempatan bagi kita untuk membagi kemurahan pada mereka. Barusan ini kita dihebohkan dengan bencana-bencana yang berturut-turut menimpa bangsa kita. Baik tsunami maupun meletusnya gunung merapi, semuanya itu menyebabkan banyak rakyat kecil menjadi semakin miskin. Mungkin ini kesempatan bagi kita untuk dapat membagikan kemurahan. Mari kita berpatisipasi dalam menyumbangkan dana dan doa kita. Dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk memberikan kemurahan kepada orang-orang disekitar kita. Marilah kita membagi kemurahan itu, karena Tuhan terlebih dahulu bermurah hati kepada kita. Amin

No comments: