Saturday, March 19, 2011

KOPASUS (Komando Pasukan Kristus) #1



Dua tahun lalu ketika saya berada di Bandung, seorang rekan mengajak saya untuk mengikuti sebuah retret atau camp. Teman saya tidak mau memberitahukan tema, bentuk acara, dan jadwal acaranya. Saya mulai merasa aneh, karena camp-camp yang biasa saya ikuti selalu memiliki tema bahkan susunan acara yang jelas. Terus ketika saya bertanya kepada teman yang lain yang sudah pernah mengikuti camp ini, mereka hanya tersenyum dan tertawa sambil berkata “Sudah ga usah tanya-tanya.... ikut saja....” Hati jadi tambah penasaran dengan sikap-sikap orang disekitar. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti camp yang diadakan di Lembang kurang lebih selama 3 hari tersebut. Dalam benak saya paling-paling camp ini sama aja dengan camp-camp yang pernah saya ikutin sebelumnya.

Namun betapa terkejutnya, karena di hari pertama saya baru menyadari kalau ada yang berbeda dari camp tersebut. Dalam ibadah pembuka tiba-tiba dua orang yang berbadan tinggi besar dengan pakaian seperti tentara masuk dengan muka yang garang tanap senyum. Mereka berteriak-berteriak dan membentak-bentak, bagai seorang jendral mendidik anak buahnya. Tahulah saya bahwa camp ini memakai konsep militer (walau tentu tidak sekeras camp militer yang sesungguhnya). Di camp ini kami dimarah-marahin, dibentak-bentak, dan sering mendapatkan hukuman jika melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Tidak sedikit kaum perempuan menangis karena mendapat bentakkan dan hukuman. Bagaimana tidak menangis jika dua orang garang itu dengan suara keras membentak sekitar 10 cm persis didepan muka mereka. Jika duduk tidak tegap dihukum. Jika datang terlambat, tidak memakai keplek, topinya miring, terlihat ribut, dan tidak konsen, maka kita akan dimarahin dan dihukum. Juga kalau ada temen kelompok yang melakukan kesalahan maka temen-temen yang lain (yang tidak melakukan kesalahan) juga akan dihukum karena dianggap tidak peduli sama rekannya. Alhasil semua peserta camp terkena hukuman.

Awalnya saya tidak suka mengikuti camp seperti ini. Namun sebenarnya ada pesan kuat yang ingin disampaikan melalui camp tersebut. Pesan itulah yang terus saya ingat sampai sekarang (karena dikatakan berulang kali). Camp itu mengajarkan bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan kita harus memaknai anugerah yang Tuhan berikan sebagai anugerah yang mahal, bukan anugerah murahan (Yang biasa dikenal dengan istilah cheap grace). Seringkali kita sering memurahkan anugerah itu dengan hidup yang seenaknya. Memang kita hidup di zaman anugerah. Tuhan sudah memberikan pengampunan yang sempurna untuk kita.

Namun sayangnya anugerah itu acapkali kita sia-siakan begitu saja. Seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, kita hidup seenak hati, ‘semau gue’, tetep menikmati dosa-dosa, melihat gambar-gambar porno, memfitnah, bergosip, mendendam, berbohong, dsb. Kita tidak lagi peduli dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita menganggap murah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. D. Bonhoeffer, pencetus dari konsep cheap grace mengatakan “Anugerah murahan adalah sebuah pengampunan tanpa mengharuskan pertobatan, baptisan tanpa disiplin, perjamuan kudus tanpa pengakuan dosa, absolusi tanpa pengakuan pribadi. Anugerah murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kritus, hidup dan berinkarnasi…”

Konsep memurahkan anugerah itu tentunya adalah konsep yang keliru. Anugerah itu memang gratis namun tidak murah. Semestinya jika kita mendapat anugerah yang besar harus mengucap syukur dan menunjukkan ungkapan syukur itu dalam kehidupan kita. Seorang yang bener-bener menghayati akan betapa amazingnya anugerah itu, maka ia akan hidup dengan lebih serius, sebagai bentuk betapa ia menghargai kehidupan itu. Paulus adalah salah seorang yang sangat menghargai anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Awalnya ia merupakan seorang pembunuh dan penganiaya orang Kristen. Namun setelah ia berjumpa dengan Tuhan dan matanya dibutakan, pada saat itu jugalah mata rohaninya dicelikkan. Ia bertemu dengan Tuhan yang memberikan anugerah yang begitu besar baginya. Ketika ia sudah mengalami anugerah yang dasyat itu dalam hidupnya, lantas apakah ia hidup dengan seenaknya dan hidup semau gua? Jawabnya tentu tidak. Sebaliknya ia menganggap kaya anugerah yang diberikan Tuhan itu.

Hal ini terlihat dari bagaimana ia sering menggambarkan dirinya sebagai seorang prajurit. Salah satunya terlihat dalam perikop ini, yaitu ketika ia meminta Timotius berjuang sebagai seorang prajurit. Dalam hidupnya Paulus sangat mengenal bagaimana kehidupan para prajurit. Ketika ia menganiaya orang-orang Kristen tentunya ada beberapa prajurit Romawi yang menyertai dia. Kemudian setelah ia percaya kepada Tuhan, ia sering ditangkap dan dipenjara, dan bertemu dengan banyak prajurit. Berefleksi dari itulah Paulus berkata kepada Timotius bahwa sebagai orang Kristenpun kita harus menjadi seperti prajurit. Prajurit yang seperti apa?

1. Seorang prajurit yang menguasai dirinya

Seorang prajurit yang baik adalah seorang yang harus mampu menguasai dirinya. Menjadi seorang prajurit tidak bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Ia harus terus melatih dirinya untuk disiplin, menguasai diri, agar dapat berperang dengan kekuatan yang maksimal. Dalam beberapa komando yang saya tahu, aturan-aturan itu begitu ketat.

Ga bisa tidur sesuka hati. Kemudian ga bisa seenaknya bersenang-senang. Mereka harus terus berlatih untuk meningkatkan skill mereka. Mereka tidak bisa sembarangan makan makanan yang enak; karena makanan yang enak biasanya penuh dengan lemak. Ipar saya yang dulunya adalah seorang tentara diwajibkan untuk makan telur mentah setiap hari, untuk meningkatkan energinya. Dan ada banyak lagi hal dimana mereka harus belajar untuk menguasai dirinya.

Mengapa demikian? Karena penguasaan diri bagi seorang prajurit itu sangat-sangat penting. Tanpa penguasaan diri seorang prajurit tidak layak disebut sebagai prajurit. Contoh seorang prajurit sejati dalam perjanjian lama adalah Uria, suami Batsyeba. Ketika Daud terjatuh dalam dosa untuk tidur bersama dengan Bastyeba; dan hal itu menyebabkan Batsyeba mengandung. Daud takut bahwa dosanya itu akan ketahuan. Karena itu ketika Uria pulang, Daud sengaja mengajaknya minum-minum dengan harapan ia akan pulang dan tidur bersama istrinya. Namun apa yang terjadi? Ternyata Uria lebih memilih tetap tinggal di istana. Ketika ditanya mengapa ia tidak pulang, iapun menjawab “Tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sedang berkemah di padang (untuk berperang), masakan aku pulang kerumahku untuk makan minum dan tidur dengan istriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku tidak akan melakukan hal itu!” Sebagai prajurit yang baik Uria memilih untuk menguasai dirinya.

Dalam surat yang ditulis kepada Timotius inipun Paulus pernah berkata “Kuasailah dirimu dalam segala hal.... (2 Tim 4:5).” Kepada Tituspun ia berkata kepada untuk orang-orang muda “Demikian juga orang-orang muda, nasihatilah mereka agar mereka menguasai diri mereka dalam segala hal.” Di Galatia Paulus mengatakan bahwa penguasaan diri merupakan salah satu daripada buah-buah roh yang harus dimiliki oleh orang Kristen. Karena itu ketika Paulus berkata kepada Timotius untuk ikut menderita sebagai seorang prajurit, saya kira Paulus juga ingin menekankan kepada Timotius untuk senantiasa menguasai dirinya dari segala hal. Betapa penting sikap penguasaan diri dalam hidup ini.

Saya suka dengan sebuah gambar yang menunjukkan ada sepasukan anjing polisi yang garang-garang sedang berbaris rapi. Yang bikin menarik adalah ditengah barisan itu, lewatlah seekor kucing yang dengan santai berjalan dihadapan mereka. Anjing-anjing itu diam saja dan menahan dirinya. Padahal kita tau kucing merupakan musuh para anjing. Namun anjing-anjing itu sudah terlatih untuk menguasai diri tidak menerkam kucing itu.

Seorang prajurit Kristus pun harus dapat menguasai dirinya. Salah satu bentuk penguasaan diri itu adalah dengan menjaga kekudusan hidup ini. Iblis musuh kita menawarkan begitu banyak macam godaan dalam hidup ini. Ia berusaha untuk menghancurkan kehidupan kita dengan menyesatkan atau membelokkan kita dari jalan yang benar. Karena itu iblis paling pintar untuk membuat kita jatuh dalam dosa. Dan karena itu jugalah dosa itu menjadi tampak menyenangkan. Sebagai prajurit Krisuts, kita harus dapat menguasai diri kita dengan baik. Pertanyaan untuk kita renungkan saat ini adalah: seberapa jauh kita sudah dapat menguasai diri? Ketika kita sedang mensearching gambar di google, tapi tiba-tiba yang keluar gambar-gambar yang tidak benar, apakah kita melanjutkan pikiran kotor itu atau kita berhenti berpikir yang tidak-tidak? Ketika anda seorang diri di kamar anda, apakah anda dapat menguasai diri anda? Ketika harta dunia begitu menggoda anda, terlebih harta itu akan banyak diraih jika kita menggunakan cara-cara curang, apa yang akan anda lakukan? Dan ketika kita merasa tidak senang dengan seseorang, apakah kita mencari teman untuk mengosipkan orang itu atau kita menguasai perkataan kita? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dapat diberikan, dan inti pertanyaan itu: Sebagai prajurit Kristus sudahkah kita menguasai diri kita untuk tidak menikmati kenikmatan dunia?

No comments: