Sunday, May 06, 2012

Let's Do It (Yakobu 1:22-25) #1


Beberapa saat lalu ketika gereja kita kedatangan pembicara tamu, seperti biasa kami para hamba Tuhan diberikan tugas untuk menjamu mereka makan.  Saya dan penginjil Hengky serta keluarganya mendapatkan kesempatan untuk menjamu pembicara tersebut di minggu siang setelah pulang gereja.  Setelah berunding akhirnya kita memutuskan untuk makan di Konro Karebosi yang merupakan makanan khas Makassar.   

Selama di tempat itu, kami para orang dewasa banyak sekali berbicara tentang gereja dan berdiskusi banyak hal.  Sementara itu anaknya penginjil Hengky, si Aylin, sibuk menelusuri tempat makan.  Salah satu tempat yang paling disukai Ayleen waktu itu adalah di pinggir jendela, karena kaca jendela itu begitu besar, di mana dari lantai dua kita bisa melihat jalanan kebawah.  Sebelum jendela kaca itu ada sedikit semen dengan tinggi 60 cm yang menjadi fondasi untuk kaca itu.  Ayleen sangat suka menaiki semen itu dan kemudian menempelkan tubuhnya di kaca sambil melihat kebawah.  Karena takut jatuh, papanya seringkali meninggalkan percakapan dan kemudian menjemput Ayleen yang sedang menempel di kaca itu dan membawanya duduk kembali ke meja makan.  Namun tidak lama ia duduk, segera saja Aylin pergi ke tempat favoritnya.  Berkali-kali terjadi demikian. 

Sampai kemudian dengan nada sedikit serius papanya memanggil dari jauh dengan muka yang cukup serius ‘Lin, kesini, jangan disana lah, nanti kamu jatuh.’  Si Aylin yang melihat papanya berbicara dengan nada lebih serius berbalik dan terdiam.  Kebetulan di dekat sana ada seorang anak kecil dari pelanggan lain yang lagi jalan-jalan dekat Ayleen tapi dia tidak sedang menaiki semen 60 cm itu.  Segera saja si Ayleen dengan lugunya memarahi anak itu ‘Kamu jangan naik sini, nanti jatuh, bahaya tau’  Anak itu yang tidak tau apa-apa dan tiba-tiba dimarahi lantas segera kembali ke meja dimana orang tuanya berada.  Sementara si Ayleen.... dia tetap berdiri di tempat favoritnya.  Ia tau bahwa perkataan itu untuk dirinya, tapi dia mengarahkan perkataan itu kepada orang lain, dan tidak sedikitpun mengindahkan perintah papanya.  Kami yang melihat hal itu tertawa melihat tingkahnya.

Ketika saya pulang saya merenungkan bahwa bukankah ada banyak orang Kristen yang bertingkah demikian.  Kita sering mendengarkan perkataan Firman dari Tuhan yang adalah Bapa kita, entah itu Firman yang mengingatkan, memerintahkan, menegur, mengoreksi, dsb, namun kita tidak melakukan apa yang kita dengarkan.  Kita tidak mengindahkan setiap perkataan Firman itu.  Entah kita mengabaikannya begitu saja, atau bahkan kita berpikir bahwa Firman ini bukanlah untuk kita.  ‘Firman ini jelas untuk si A atau si B.... sementara saya... saya rasa saya cukup baik dengan keadaan saya’.  Kita menjadi sama seperti suporter sepak bola yang begitu mudahnya mencaci pemain dilapangan “bodoh mestinya opor kesamping; bodoh kenapa bisa gak gol; bodoh mengapa tidak langsung di shoot; dsb”, tapi kita sendiri hanyalah menonton.  Cobalah hitung, seberapa banyak Firman Tuhan yang sudah kita dengarkan sejak kita duduk di bangku sekolah minggu sampai sekarang.  Saya kira akan sangat banyak tak terhitung.  Namun cobalah hitung seberapa banyak Firman yang sudah kita lakukan dalam hidup kita?  Seberapa banyak kita sudah melakukan Firman itu? 

Di hari ulang tahun komisi pemuda yang ke 57 ini mari kita merenungkan akan hal ini.  Mengapa di hari ulang tahun kita berbicara tentang tema ‘Let’s do it’?  Jawabnya jelas:  Karena ulang tahun itu tidak bisa lepas dari ucapan syukur akan anugerah kebaikan dan pimpinan Tuhan atas komisi dan hidup kita.   Salah satu cara menyatakan syukur kita akan kebaikan Tuhan adalah dengan melakukan kebenaran Firman Tuhan itu.  Karena jika kita melakukan kebenaran firman Tuhan, pada saat itu juga kita sedang membalas cinta kasih-Nya.  Karena itu betapa penting bagi kita untuk merenungkan tema ini.

Yakobus dalam kitabnya banyak berbicara akan hal ini.  Kitab ini sangat menekankan akan pentingnya perbuatan dalam kehidupan orang-orang Kristen.  Kalau di tanya apa ayat kunci dari kitab Yakobus yang terdiri dari 5 pasal ini?  Banyak penafsir yang akan mengatakan Yakobus 2:17 yang berbunyi “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”  Di sini Yakobus tidak mengatakan bahwa perbuatan kitalah yang menyelamatkan hidup kita.  Namun Yakobus ingin menegaskan bahwa jika kita berkata kita beriman, tapi tidak ada perbuatan yang baik dalam hidup kita, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.  Itu sebabnya dalam surat yang ditulis Yakobus, banyak sekali menekankan perbuatan yang semestinya tidak boleh dan harus dilakukan orang-orang Kristen: larangan untuk marah, mengunjungi yatim piatu dan janda-janda;  larangan perbuatan yang memandang muka; tentang dosa lidah; larangan tentang memfitnah, perintah untuk tidak melupakan Tuhan; dan banyak lagi perbuatan-perbuatan atau sikap yang harus dilakukan oleh orang Kristen.  Intinya iman yang kita nyatakan kepada Tuhan juga harus kita nyatakan kepada sesama lewat perbuatan kita.

Dalam perikop yang kita baca, salah satu perbuatan yang menunjukkan iman Kristiani adalah dengan menjadi pelaku Firman Tuhan.  Seorang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan ia bukan sekedar menjadi pendengar Firman Tuhan, melainkan ia harus menunjukkan iman itu dengan menjadi pelaku Firman itu sendiri.  Sebab itu Yakobus mendorong setiap anak-anak Tuhan untuk menjadi pelaku Firman dan bukan pendengar saja.  Ada dua penjelasan yang diberikan mengapai kita sebagai anak Tuhan harus menjadi pelaku Firman.  

No comments: