Monday, December 14, 2009

Kidung Sang Dara (Lukas 1:46-55) #1



Alkisah ada seorang pedagang muda yang sering bepergian keluar kota dengan kapal layarnya. Pemuda ini tidak mengenal Tuhan. Hidupnya rusak. Dari mulutnya sering keluar kata-kata cacian kepada Tuhan. Sampai suatu saat, ketika ia sedang berlayar dengan tujuan dagang, tiba-tiba angin ribut terjadi. Laut mengamuk, angin mengganas. Kapal yang besar itu diombang-ambingkan oleh ombak yang dasyat sehingga beberapa bagian kapal mengalami kebocoran. Layar kapal mulai sobek oleh hempasan angin kencang. Beberapa kru kapal mulai membuang barang-barang ke laut. Namun hempasan angin semakin kencang, sehingga semua awak kapal harus berpegangan pada tiang-tiang kapal. Pemuda ini begitu ketakutan. Ia takut akan kematian yang akan menimpanya. Ditengah kepanikannya ia mulai mendengar beberapa orang di kapal itu berseru kepada Tuhan. Hati pemuda ini mulai goyah. Sejak kecil ia tidak pernah berdoa. Tapi ganasnya ombak itu membuatnya kehilangan pegangan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mencoba berdoa., demikian “Ya Allah, jika Engkau benar,Engkau pasti menepati janji-Mu. Ampuni aku. Sucikanlah hatiku yang kotor ini, selamatkan aku.” Setelah ia berdoa, keajaiban terjadi. Badai itu menjadi reda, dan ombakpun mulai tenang. Pemuda ini begitu bersyukur kepada Tuhan akan kebaikan-Nya. Dan dari tanganya terciptalah sebuah kidung yang sangat indah. Pujian yang mengatakan: “Amazing grace, how sweet the sound, that save a wretch like me. I once was lost, but now i’m found. Was blind but now, i see.”


Biss, inilah pujian syukur yang keluar dari hati terdalam oleh seorang pemuda yang bernama John Newton. Memang puji-pujian merupakan respon terbaik yang dapat dilakukan seseorang setelah ia memperoleh kebaikan Tuhan. Pujian seringkali mewakili isi hati yang terdalam. Pujian itu bukan hanya sekedar kata-kata, namun didalamnya terdapat nada keagungan, keindahan, dan penghormatan kepada Tuhan yang berkarya atas hidup kita. Oleh karena itu, setiap anak-anak Tuhan tidak bisa tidak, harus terus menerus memuji Tuhan atas kebaikan-Nya.


Pertanyaannya, apakah kita sering menaikan pujian syukur itu atas kebaikan Tuhan? Jika dalam keadaan senang mungkin kita bisa memuji Tuhan, tapi ketika kesedihan menimpa, adakah kita tetap memuji atas kasih-Nya yang besar? Ketika keuangan kita sedang seret, apakah kita tetap memuji Dia yang masih memberikan kehidupan kepada kita? Bahkan ketika kita putus asa dan kehilangan harapan, adakah kita masih memuji Dia yang telah mati di kayu salib untuk kita?


Biss, di Lukas 1:46-56 dituliskan akan pujian Maria (Magnificat) yang memuji karya Tuhan atas hidup dan bangsanya. Dalam perikop sebelumnya Maria dikabarkan akan melahirkan sang Juruselamat yang kudus, yang merupakan Anak Allah. Maria begitu bersukacita, karena itulah ia memuji Tuhan.


Ss, sebenarnya ada banyak alasan bagi Maria untuk tidak menaikan pujian. Pada waktu ia mengandung, kondisinya sedang bertunangan dengan Yusuf. Ia belum menikah, tapi ia sudah mengandung. Coba bayangkan bagaimana kira-kira respon Yusuf setelah mengetahui bahwa Maria mengandung, sementara mereka belum menikah? Bisa jadi Yusuf menceraikannya. Pikirkan juga bagaimana respon keluarganya? Bayangkan jika suatu saat anak biss menghampiri kalian dan berkata bahwa ia mengandung padahal belum menikah. Saya yakin akan terdengar bunyi PLAK!! (sebuah tamparan keras bisa dilayangkan.) Lalu ketika ditanya, siapa yang menghamili kamu? Lalu putri bapak/ibu menjawab, Roh Kudus. Saya bayangkan bunyi PLAK! yang kedua akan terjadi. Biss, ini bukan lah situasi yang mudah bagi Maria. Bukan hanya mendapatkan resiko penolakan, nyawanya pun terancam. Tentu kita mengingat kisah seorang perempuan berjinah, yang kemudian ketahuan dan hendak dilempari batu oleh orang-orang Farisi. Maria pun beresiko untuk dirajam oleh orang-orang Yahudi. Ia akan dianggap sebagai perempuan penjinah yang layak untuk dihukum mati. Biss, Maria pasti memahami semua kemungkinan ini. Kedatangan bayi dalam kandungannya bisa saja ia responi dengan kekhawatiran. Tetapi Maria tidak merasa sesak walaupun ia terdesak. Ketika hidupnya harus diuji, ia malah memuji dengan berkata “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku.”


Ss, seandainya kita berada dalam situasi yang sukar seperti Maria, dapatkah kita tetap memuji Tuhan? Bahkan ketika nyawa kita terancam, dapatkah mulut kita berkata “jiwaku memuliakan Tuhan”? Biss, Mengapa Maria dapat memuji Tuhan pada saat-saat seperti itu tidak lain ialah karena ia berfokus pada dua hal.

Monday, November 30, 2009

Meminang Kemurahan




Dambaku ya Tuhan . . .
Keadilan meminang kemurahan

Membawa kelembutannya ke peraduan
Bersetubuh menjadi kesatuan


Hentikan masa paceklik

Dimana keadilan dan kemurahan memekik
Keduanya saling mencekik

Menceraikan hubungan yang pelik


Biarlah mereka bercium-ciuman
Senantiasa dihangatkan pelukan

Melahirkan ketenraman nan nyaman

Kepada tujuh puluh tujuh insan


Biarlah kisah cinta mereka. . .

Menghantar rasa suka
Menyapu rasa duka

Kepada jiwa yang baka


Dambaku ya Tuhan. . .

Keadilan meminang kemurahan
Saling bermesra-mesraan

Sampai pada akhir zaman

Monday, November 23, 2009

Learn "Boanthropy" in the Bible



Pada tahun 1946, di sebuah rumah sakit Jiwa di Inggris, ditemukan jenis gangguan jiwa yang unik, bahkan dapat dikatakan “aneh”. Orang yang terkena jenis gangguan itu menghabiskan hari-harinya di tempat terbuka. Ia tidak suka menempati ruang tertutup. Namun demikian, cuaca panas atau dingin sama sekali tidak mengganggu kulit tipisnya. Serbuan hujan, hawa dingin, dan terik mentari juga tidak mampu membuat tubuhnya sakit. Setiap hari ia harus dimandikan dan dicukur oleh orang lain, karena ia tidak akan melakukannya dengan tangannya sendiri. Terlebih aneh, setiap hari ia hanya memakan rumput-rumputan (yang masih fresh on the ground). Nasi, kentang, atau makanan manusia pada umumnya tidak diminatinya. Bahkan ia dapat membedakan rumput mana yang baik untuk dimakan dan mana yang liar, atau yang haucek dengan yang puhaucek. Secara fisik, mungkin ia terlihat baik-baik saja. Hanya rambutnya lebih panjang dan kukunya lebih kasar dan tebal dari biasanya. Inilah penyakit boanthrophy; sebuah gangguan jiwa yang di alami seseorang dengan menganggap dirinya sebagai seekor lembu.


Tentu saja ini perihal yang langka, yang jarang terjadi di muka bumi ini. Tapi menariknya, kurang lebih 2500 tahun yang lalu (sekitar abad 6 SM), Alkitab pernah mengisahkan seorang yang menderita penyakit langka tersebut. Ia bukan orang biasa; ia bukan orang miskin yang menderita; ia juga bukan orang yang berkekurangan, sehingga harus mengalami gangguan jiwa. Tetapi ia adalah seorang raja yang agung dan kaya, bahkan yang teragung pada zamanya. Ia adalah Nebudkanezar.


Sejarah mencatat Nebudkanezar pernah diasingkan, meninggalkan pemerintahannya untuk beberapa jangka waktu. Ia diasingkan karena terserang penyakit boanthropy (seperti di atas), sehingga pembangunan kota Babel berhenti (Padaha raja Nebu, adalah raja yang hobi membangun kota. Salah satu karya yang terkenal adalah hanging garden, yang pernah masuk dalam keajaiban dunia). Apa sebabnya? Apakah dia tertekan? Atau dia mengalami kedukaan? Atau dia depresi berat alias stress? Tapi, bagaimana ia dapat berduka, jika ia menjadi penguasa nomor satu pada waktu itu. Apa yang ia perintahkan pasti terlaksana. Ia dilambangkan sebagai kepala emas (Dan. 2), yang menunjukkan kejayaannya selama memerintah. Ia juga memiliki istri yang cantik, yang konon katanya hanging garden itu diciptakan untuk menyenangkan sang istri. Lantas, apa yang menjadi penyebabnya?


Jika kita membaca kitab Daniel pasal 4, kita akan menemukan jawabnya. Penyebab semuanya itu adalah keangkuhan diri. Kesombongan yang besar menguasai dirinya, ia menganggap diri megaloman, penguasa tertinggi di dunia, bahkan merasa diri lebih tinggi dari para ilah. Mungkin dalam benaknya, tidak ada otoritas apapun yang ada di atasnya. Sungguh merupakan keangkuhan tingkat tinggi.


Padahal sebelumnya Allah sudah mengingatkan lewat mimpi, bahwa kekuasaannya akan di hancur-luluhkan. Bahkan dengan gamblang Allah mengingatkan, bahwa raja akan menjadi serupa dengan seekor lembu dan diberi hati binatang jika ia tidak mau mengakui bahwa Tuhanlah yang empunya otoritas dan kekuasaan tertinggi di dunia. Tapi raja Nebu tidak mengindahkannya. Ia memilih untuk memuaskan kekosongan batinnya dengan keangkuhan.


Akibatnya, ia harus ditundukkan serendah-rendahnya. Hatinya diganti dengan hati binatang. Bahkan tingkah lakunya menjadi seperti binatang. Ironi sekali bukan? Berawal dengan menganggap diri sebagai Allah, tapi berakhir dengan keadaan terendah, bahkan lebih rendah dari para budak sekalipun, yaitu dengan menjadi seekor binatang. Sangat menyedihkan.


Sepertinya di mata Tuhan, kesombongan merupakan dosa yang sangat menjijikkan. Begitu menjijikannya sehingga ia harus disetarakan dengan hewan. Sebenarnya raja Nebu masih bersyukur, karena dengan jalan itu, akhirnya ia dapat mengakui bahwa Allah Israel adalah oknum yang memiliki otoritas tertinggi (Dan. 4:37). Saya katakan bersyukur, sebab jika dibanding dengan Herodes, hukumannya jauh lebih ringan. Herodes pernah mengilahkan dirinya, dan seketika itu juga ia ditampar oleh malaikat Tuhan, karena tidak menghormati Allah. Dan sesegera itu juga meninggallah ia, tanpa ada kesempatan untuk bertobat (Kis. 12:23). Bukankah Adam dan Hawa juga mengalami kematian rohani ketika ia ingin memakan buah yang dilarang, agar menjadi serupa dengan Allah? Keangkuhannya membawa seluruh manusia keturunannya harus binasa dalam dosa. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa keangkuhan adalah dosa yang sangat dibenci Tuhan.


Karena itu saudaraku, berhati-hatilah dengan keangkuhan hidup. Pdt. Paul Gunadi pernah berkata bahwa kesombongan merupakan dosa yang sering terjadi tanpa disadari. Bahkan terlebih mengerikan, kesombongan itu dapat masuk ke dalam segala aspek kehidupan kita. Dalam cinta bisa timbul kesombongan. Dalam pelayanan bisa timbul kesombongan. Dalam persahabatan bisa timbul kesombongan. Bahkan dalam doa pun juga dapat timbul kesombongan. Jadi marilah kita berhati-hati akan dosa yang satu ini. Berhati-hatilah dengan segala kelebihan yang kita miliki (jangan untuk membanggakan diri); Berhati-hatilah dengan anugerah yang sudah kita terima (jangan digunakan untuk memuaskan diri); Berhati-hatilah akan kekuasaan dan kekayaan kita (jangan digunakan untuk menindas orang lain); Jangan sampai keangkuhan hati kita membuat Allah muak dan jijik memandangnya. Marilah kita belajar menundukkan diri, dengan menganggap Ia sebagai otoritas tertinggi dalam kehidupan kita. GWus


Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.

Amsal 16:5


Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.

Mazmur 149:4

Wednesday, November 18, 2009

Mentariku





Tuhan Engkaulah mentariku
Kawanan mendung tak dapat menghalangi
Kepekatannya hanya menutup batas pandang
Tanpa sedikitpun berkuasa atas terang-Mu
Ini bukti kegagahan-Mu. . . .Kemahakuasaan-Mu
Jika kau mau. . . .
Engkau dapat menembus kalbu itu
Dengan sekelumit cahya-Mu
Menusuk lapisan awan gelap nan tebal
Yah . . . .Setidaknya tebal bagiku
Dan jika kau mau . . . .
Engkau dapat menyirami jiwa kalbuku
Dengan cercah cahaya-Mu
Yang tebal nan siksa
Yah. . . . setidaknya tebal bagiku
Namun tipis bagi-Mu
Lebih tipis dari lembaran yang tertipis
Yang terlalu mudah untuk tertembus
Oleh mentari-Mu
Sirami Tuhan....
Sirami hatiku.

Monday, November 09, 2009

Not Me, Nor You, But We (Mrk 6:30-44) #2



Ss, sebenarnya alasan utama mengapa kita harus mempedulikan mereka, ialah karena kita sendiri tidak dapat hidup jika tidak dipedulikan. Jika bukan orang tua kita yang mempedulikan kita, dapatkah kita lahir dan berkembang sampai saat ini? Tentu tidak. Terlebih dari itu, jika bukan Tuhan masih peduli dengan setiap kita saat ini, dapatkah kita masih akan tetap bertahan? Tentu tidak. Karena itu, jika kita tidak dapat lepas untuk tidak dipedulikan, maka kitapun harus mempedulikan orang lain.


Ss, jika kita perhatikan perikop kita baik-baik, sebenarnya siapa sih yang lebih butuh untuk menyendiri? Apakah murid-murid yang kelelahan itu? Tidak! Sebenarnya Yesuslah yang butuh untuk menyendiri. Perikop sebelumnya mengisahkan tentang kematian Yohanes Pembabtis, rekan sepelayananNya. Ada penafsir yang mengatakan bahwa kabar itu cukup memukul perasaan Yesus, sehingga Ia ingin menyendiri untuk mengungkapkan perasaan-Nya kepada Bapa. Tak heran kalau kita melihat ayat 45, setelah ia melayani orang banyak, ia menyuruh murid-murid pergi mendahuluinya, Ia ingin berdoa seorang diri. Yesus sedih, dan ia butuh untuk menyendiri. Namun ketika Ia melihat orang banyak itu datang kepadanya seperti domba yang tanpa gembala, hati-Nya langsung tergerak oleh belas kasihan. Belas kasihan itulah yang membuatNya melupakan diri-Nya sendiri. Belas kasihan itu juga yang membuatnya mau melayani orang banyak itu. Baginya melayani orang banyak itu jauh lebih penting dari pada melayani perasaan yang sedang Ia alami.


Ss, kitab-kitab Injil ini seringkali menyatakan akan hati Yesus yang tergerak oleh belas kasihan. Ia lebih mementingkan hati yang berbelas kasihan daripada sekedar persembahan korban. HatiNya berbelas kasihan dengan orang yang tersesat. Ia menaruh belas kasihan kepada mereka yang sakit. Ia berbelas kasihan kepada mereka yang haus, lapar dan terlantar. Ia juga memberikan belas kasihan kepada orang yang bersalah kepada-Nya. Orang buta, tuli, kusta disembuhkan juga karena belas kasihan. Dan karena belas kasihan itulah, Ia mau membangkitkan anak tunggal milik seorang janda. Ss, hati Yesus seakan-akan dipenuhi dengan belas kasihan yang sangat mendalam. Kehadiran-Nya merupakan kehadiran yang penuh dengan belas kasihan.


Ss bukankah belas kasihan itu juga yang sedang menimpa kita saat ini? Bukankah karena belas kasihan kita masih dapat hidup? Dan bukankah karena belas kasihan itu, kita bisa di selamatkan? Bukankah sudah seharusnya kita mati karena dosa-dosa kita? Bukankah sudah semestinya, kita binasa karena apa yang sudah kita buat? Namun karena belas kasihan Yesus mau datang ke dunia ini. Karena belas kasihanlah, ia mau disiksa dan dihina. Bahkan karena belas kasihan itu juga, Ia mau diSalib bagi kita. Ia mau mati bagi kita. Mengapa? Karena ia berbelas kasihan kepada kita. Ia peduli dan mengasihi kita.



Ss, jika mengingat belas kasihan Tuhan, saya selalu teringat dengan kisah nyata salah seorang Pdt dengan anaknya. Suatu ketika si anak hendak bermain-main di kantor ayahnya. Ayahnya berkata, “nak kamu boleh main apa aja, asal jangan bermain dengan buku-buku papa. Dan kamu tahu, jika buku papa rusak, maka sebagai hukumannya, papa akan memukul tanganmu dengan rotan.” Si anak mengangguk tanda setuju. Kemudian sang ayah meninggalkan anaknya bermain seorang diri. Awalnya anak itu asyik bermain, namun karena bosen tiba-tiba ia mulai melihat buku-buku ayahnya. Ia mulai merasa tertarik, dan melupakan apa yang dikatakan ayahnya. Ia ambil krayonnya lalu dicoret-coretlah buku sang ayah. Tiba-tiba pintu terbuka dan ayahnya masuk. Si anak tiba-tiba tersadar dengan apa yang dilakukannya, ia sudah melanggar dan harus dihukum. Dan benarlah, terdengar suara kemarahan “nak, apa yang kamu lakukan? Kan papa sudah bilang jangan bermain dengan buku papa.” Si anak cuman tertunduk diam. “Sini tanganmu” bentak si ayah. Lalu dengan ketakutan itu si anak mengulurkan matanya, sementara si ayah mengambil rotan. Dan ketika rotan itu mulai diayunkan, anak itu memejamkan matanya erat-erat. CETAR CETAR CETAR.... Beberapa kali suara pukulan mendarat, tapi ia tidak merasakan sakit apa-apa. Kemudian perlahan ia mulai membuka matanya yang sudah penuh dengan air itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat bahwa sang ayah memukuli tangannya sendiri. Anak ini mulai bingung dengan apa yang terjadi. Kemudian ia berkata “ayah, bukankah aku yang seharusnya dihukum, tapi mengapa?” Sang ayah Cuma menjawab: “ya nak, seharusnya kamu yang harus dihukum, tapi karena papa mengasihimu, papa tidak tega, maka papa menghukum tangan papa sendiri.” Lama kelamaan sang anak melihat tangan papapnya smakin memar, dan ia tidak tahan melihat kasih ayahnya, ia segera mememeluk papanya smabil berteriak “cukup pa...cukup... maafkan saya pa... saya berjanji tidak akan melakukannya lagi.”



Ss, belas kasihan seperti itu juga yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Ketika seharusnya kita mendapat hukuman kekal, dan sudah semestinya kita binasa, Ia mau menggantikan itu semua dengan dirinya. Ia mau disalib, dan ia mau mati untuk kita. Ss, Tuhan sudah mengajarkan kepada kita suatu bentuk kepedulian yang sempurna. Kepedulian yang mengorbankan kepentingan diri sendiri. Kepedulian yang dipenuhi dengan belas kasihan. Dan saat ini ia pun ingin mengajak kita untuk belajar sepertinya. Ia ingin setiap kita memiliki hati yang mau peduli. Hati yang tidak lagi berfokus pada diri sendiri. Hati yang tidak ekslusif terhadap golongan ternentu. Tapi hati yang terbuka kepada semua orang dengan penuh belas kasihan. Nor me...nor you.. but we