Thursday, April 05, 2007

Mama ! Doakan ma !

Pada tanggal 2 januari 2007 pukul 18.00, ketika saya sedang asyik membaca buku sembari menunggu makan malam, tiba-tiba seorang teman memanggil saya “Hendra ada telepon”. Segera saya meninggalkan bacaan yang ada di tangan saya dan segera pula saya meraih gagang telepon yang ada di ruang counter. Ternyata kepala sekolah dari murid sekolah minggu saya yang menelepon. Betapa kagetnya saya ketika kepala sekolah itu mengabarkan bahwa salah satu murid sekolah minggu saya yang bernama Ezra mengalami kecelakaan. Tulang lengannya terlepas karena terjatuh sewaktu sedang bermain. Katanya anak itu sekarang dalam keadaan ketakutan dan orang tuanya meminta tolong saya selaku guru sekolah minggunya untuk menjenguk dan mendoakannya.

Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung meminta izin kepada penguasa asrama untuk pergi mengunjungi Ezra. Kemudian saya segera melaju menuju ke rumah sakit Lavante tempat anak itu terbaring. Dengan mengendarai sepeda motor dengan seorang teman saya, kami berjalan menerjang gerimis hujan yang membasahi tubuh dan pakaian kami setetes demi setetes.

Sesampainya dirumah sakit, fokus kami langsung kearah kamar VIP no 2 tempat Ezra dirawat. “Tok..tok..tok” kami mengetok pintu. “ Ya silahkan masuk” ayah Ezra membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamar itu. Di dalam ruangan itu ada beberapa keluarga yang sedang menjaga. Ayah, ibu, adik, paman dan sepupu Ezra sedang berkumpul disana. Sedang Ezra sendiri masih tertidur dengan tangan kiri yang terbalut. Dan kamipun berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya. Sang ayah mulai menceritakan kronologis terjadinya kecelakaan itu. Dengan semangat ia terus bercerita sedang kami menyimak ceritanya dengan serius.
“ Iya, si Ezra terjatuh di selekta waktu dia sedang bermain tadi”. Ujar ayahnya.
“Kami terkejut kerena mendengar teriakannya dan ketika kami menghampirinya, tangannya sudah bengkok” ayahnya meneruskan.
“Terus Ezranya bagaimana pak ?” saya bertanya.
“ Waktu terjatuh ia hanya berteriak – Mama ! mama ! Doakan ma ! doakan ma ! – terus-menerus ia berteriak seperti itu” ujarnya lagi.
Setelah sekitar 20 menit kami menyimak cerita dari ayahnya, akhirnya Ezra terbangun dari tidurnya. Kami segera menghiburnya dan mendoakannya agar dia mendapatkan kekuatan dan ketenangan dari Tuhan.

Dalam perjalanan pulang, dengan sepeda motor yang sama saya berjalan santai sambil menikmati gerimis yang tak kunjung sirna. Sementara angin yang cukup kencang berhembus merasuki tulang-tulangku, saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba rasa malu datang menghinggapi. Terbesit dalam ingatanku kejadian 1 bulan yang lalu. Pada saat itu saya sedang jatuh sakit dan hal pertama yang kulakukan adalah mencari obat-obatan, menghangatkan badan dengan pakaian yang tebal-tebal dan mengistirahatkan tubuhku di atas kasur kapuk. Segala upaya kulakukan untuk dapat menyembuhkan raga lunglaiku ini. Satu-satunya hal yang kulupakan adalah berdoa. Doa hanyalah menjadi usahaku yang terakhir kali setelah aku melakukan berbagai upaya yang kusebutkan tadi. Doa yang kunaikkanpun hanyalah sekedar ritual yang biasa kulakukan sebelum tidur. Sangat berbeda dengan apa yang di lakukan Ezra. Di tengah kesakitan yang luar biasa dan ditengah ketakutan-ketakutannya, yang dia teriakkan bukanlah keluhan kesakitan minta tolong. Yang dia teriakkan adalah permohonan untuk didoakan. Berdoa merupakan langkah awal yang dipilihnya.

Betapa malunya saya. Ternyata seorang guru sekolah minggu harus diajari berdoa oleh murid sekolah minggunya. Konsep mengenai “doa sebagai nafas hidup” diterapkan dengan baik oleh Ezra. Padahal, seringkali saya mengajarkan kepada murid-murid sekolah minggu untuk berdoa ketika mereka sakit, merasa takut dan sebagainya.

Betapa seringnya kita “para dewasa” merasa lebih pandai dari pada anak-anak yang usianya jauh dibawah kita. Kita merasa jauh lebih berhikmat dari pada mereka. Begitu berhikmatnya, sehingga ketika ada masalah dan kesukaran yang menimpa, yang lebih diandalkan adalah cara-cara, rasio dan pengalaman-pengalaman kita daripada bergantung pada kemurahan Tuhan dalam doa-doa kita. Tentu saja Tuhan lebih mengkehendaki setiap anak-Nya untuk datang dan bersandar kepada-Nya. Begitu juga Dia selalu mendambakan setiap kita menjadikan-Nya yang utama dalam setiap perkara dalam kehidupan ini. Sama seperti Ezra, Dia menginginkan setiap anak Tuhan untuk mencari-Nya terlebih dahulu ditengah kesakitan-kesakitan yang kita alami. Mungkin pada saat erangan “Mama ! Mama ! Doakan ma ! Doakan ma !” diteriakkan, Tuhan Yesus sedang tersenyum simpul melihat anak-Nya mencari Dia. Tetaplah berdoa, dan selalu berjaga-jagalah untuk terus berdoa dalam segala keadaan. GBu

Nb : Saya berharap dan percaya kondisi Ezra akan dipulihkan. Doakan yah !

2 comments:

Handy said...

aku udah baca beberapa renunganmu... blom semua seh...
tapi menurutku ini yang paling berkesan buat aku. bukan gara-gara aku pengurus doa lhooo... (sebentar lagi mantan)
aku sendiri soalnya sering juga mengalami hal-hal kayak gini..
sering malah. dalam menghadapi pergumulan atau pun suatu permasalahan, aku lupa kalo hal yang pertama yang harus dilakukan adalah berdoa...
dalam evaluasiku sendiri seh. aku merasa mampu menyelesaikan masalah itu sendiri(jadi terkesan sombong). aku sudah lupa bahwa pengalaman masa lalu yang buat aku bisa melalui semuanya itu juga berkat bantuan dari doa. meskipun bukan aku sendiri yang berdoa atau malah hanya orang lain yang mendoakan untuk aku.
THX buat renungannya yah...
buat aku bisa refleksi akan kekurangan diri sendiri..

trus..
gaya penulisanmu bagus loh..
kamu ga sekedar memberikan cerita tapi juga dapat memberikan gambaran detail tentang situasi yang terjadi saat itu. atau perasaan yang sedang kamu alami...
Aku dukung terus untuk selalu bikin renungan..
Dan kalo bisa terbitin buku yah..
Aku selalu bangga punya temen sepertimu..

GBU,
Han^

Dea said...

Thanks for writing this.