Friday, March 04, 2011

Knowing God # 1



Gambar di atas merupakan buku karya J. I. Packer, salah seorang guru besar dan teolog dari Kanada yang sangat terkenal pada abad 20. Buku ini dituliskan sekitar tahun 1970an, dan sampai sekarang sudah hampir 20 tahun, buku ini tetap masih laris terjual. Sebelum menuliskan buku ini Packer sudah menulis banyak sekali buku-buku rohani. Namun sangat sedikit peminatnya. Lantas ada seorang kawannya yang ingin memintanya untuk menuliskan sebuah buku yang berbicara tentang Allah. Maka iapun menulis buku yang berjudul ‘Knowing God’ ini dan diserahkan kepada penerbit. Awalnya ia menyangka buku ini juga hanya akan diminati oleh sedikit orang-orang Kristen. Namun ternyata ia salah besar. Buku yang ia tulis itu berhasil terjual lebih dari 1 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam 12 bahasa. Dan saat ini buku ini banyak dipakai untuk penunjang pertumbuhan rohani diberbagai kalangan dan berbagai negara.

Kalau dipikir-pikir, mengapa buku ini begitu banyak diminati? Saya kira ini berkaitan juga dengan prediksi dari seseorang teolog yang pernah mengatakan bahwa “Memasuki akhir abad 20 manusia akan mencari sesuatu yang bersifat spiritual.” Sebelumnya manusia tidak terlalu berminat akan hal-hal yang bersifat spiritual. Bagi manusia abad yang lalu, hal yang paling dipentingkan adalah rasio dan logika. Karena itulah abad yang lalu merupakan abad dimana perkembangan teknologi dan penemuan ilmiah sangat berkembang progresif. Namun setelah waktu demi waktu berlalu, manusia mulai sadar bahwa rasio tidak dapat menjawab dan menolong persoalan mereka. Bahkan semakin rasional manusia, tindak-tanduknya semakin irasional dan ugal-ugalan. Kemajuan ilmiah malah semakin membuat manusia lebih garang dan menyakiti sesama mereka. Karena itulah manusia mulai beralih mencari hal-hal spiritual.

Beberapa bukti yang menunjukkan perubahan ini adalah: jika dahulu dalam perekrutan karyawan baru yang ditekankan adalah IQ (inteligent question), sekarang karyawan dituntut untuk memiliki SQ (spiritual question) yang baik. Terus kalau kita melihat fenomena-fenomena yang terjadi, jika ada sesuatu hal yang bersifat mistik, yang mengandung roh-roh tertentu, pasti banyak orang yang datang menyaksikan. Misal kejadian Ponari dan batu ajaibnya setahun yang lalu. Dikabarkan bocah ini memiliki batu ajaib, sehingga membuat setiap air yang disentuh olehnya akan menjadi obat. Mendengar kabar itu ribuan orang datang kepadanya, bahkan ada yang rela menunggu ditempat pembuangan airnya untuk mendapatkan air yang disentuh oleh ponari. Keadaan ini memastikan kita bahwa dunia sekarang sangat berhasrat terhadap hal-hal yang bersifat spiritual. Saya kira fenomena-fenomena itu sebenarnya ingin menjelaskan bahwa manusia mulai sadar ada kuasa yang jauh lebih besar dari kemampuan manusia. Mereka mulai mencari hal-hal mistik dan gaib yang melampaui kekuatan mereka.

Dalam keadaan manusia abad 20 seperti inilah maka keberadaan buku seperti ‘Knowing god’ laris terjual. Manusia mulai menyadari bahwa mereka butuh Allah yang mengasihi mereka, dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Allah yang berdaulat atas hidup mereka. Karena itu, sebagai orang yang membutuhkan Allah kita harus berusaha untuk mengenal Allah. Itulah inti yang mau disampaikan oleh buku ini. Saya tidak akan membahas seluruh isi buku ini. Saya hanya mengupas dasar yang ditawarkan oleh buku ini. Untuk mengerti lebih lanjut silahkan saudara bisa membelinya sendiri di toko-toko buku sekitar.

Mengapa kita harus mengenal Allah? Mengapa ‘Knowing God’ itu penting?

1. Dengan mengenal Allah, maka potensi kita akan lebih maksimal

Dalam bukunya Packer mengutip perkataan dari Spurgeon yang mengatakan “Orang yang sering memikirkan tentang Allah akan memiliki pikiran yang lebih luas daripada orang yang sekadar menyelidiki dunia yang sempit ini. Tidak ada hal yang akan begitu memperluas intelek daripada upaya untuk mengenal Allah.” Ada pepatah mengatakan: Dengan siapa kita bergaul maka kita akan menjadi sama seperti orang itu. Saya kira pepatah ini ada benarnya. Ketika kita bergaul dengan orang yang tidak punya visi, yang malas berpikir, dan tidak punya masa depan, maka kitapun akan terbawa dengan pola pikirnya. Namun ketika kita bergaul dengan seorang pemimpin yang berwawasan luas, bervisi, dan penuh analisa yang dalam, mau tidak mau kita akan belajar dari cara dia berpikir dan menganalisa. Dan dari sana kita bisa memiliki pemikiran yang baik. Sekarang bayangkan jika kita bergaul dengan Allah yang mahatau; yang hikmatnya terlalu luas untuk diselami; dan yang paling bijaksana dalam merencanakan segala sesuatu; apa jadinya kita? Semakin kita mengenal Allah, maka pengetahuan kita akan lebih baik.

Bukan hanya itu, J. I. Packer mengatakan bahwa bersamaan dengan pengenalan akan Allah, maka perasaan damai sejahtera, kekuatan, dan sukacita kita juga akan bertambah. Sepertinya ini bukan hanya sekedar teori. Banyak anak-anak Tuhan yang hidup dekat dengan Tuhan memiliki tiga aspek itu lebih daripada orang yang tidak dekat dengan Tuhan. di Alkitab sendiri menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh Alkitab yang mengenal Allah bisa mengalami aspek-aspek tersebut. Ayub tetap kuat walau dihantam oleh badai kehidupan yang mengamuk kepadanya. Daud bisa tetap merakan damai walau sedang dikejar-kejar oleh musuhnya. Paulus dapat tetap bersukacita walau ia berada di dalam penjara. Semua itu mereka alami karena mereka dekat dengan Allah. Karena itu benarlah bahwa dengan mengenal Allah potensi kita akan lebih maksimal.


2. Mengenal Allah memampukan kita untuk mengenal siapa diri kita

Dalam hal ini J. I. Packer mengatakan “Pada saat kita merenungkan akan keagungan dan kemuliaan Allah, maka dampaknya akan menjadikan kita sebagai pribadi yang rendah hati dan menyadari akan ketidakberartian dan keberdosaan kita.” Hanya ketika kita semakin mengenal Allahlah maka kita semakin objektif dalam menilai diri kita. Dalam kitab Kejadian dituliskan bahwa manusia merupakan gambar dan rupa Allah. Tapi sayang sekali gambar dan rupa kita itu sudah rusak karena dosa. Kerusakan gambar kita membuat kita tidak lagi mengenal bagaimana semestinya gambar kita. Sama seperti ketika kita becermin pada diri, tapi cermin yang kita gunakan itu cermin pecah atau cermin cekung dan cembung. Semua itu membuat kita tidak lagi dapat mengenal siapa diri kita. Karena itu kalau kita mau mengenal diri dengan baik, tentunya kita harus melihat kembali kepada gambar yang utuh yang tidak rusak dan yang sempurna, yaitu kepada Allah.

Orang yang mengenal Allah seharusnya ia akan sadar siapa dirinya, yaitu manusia yang begitu kecil dan hina namun mendapatkan belas kasihan Tuhan. Ketika Ayub berjumpa dengan Allah Ayub menjadi sadar bahwa ia tidak layak untuk protes kepada Allah. Ketika Musa berjumpa dengan Allah ia sadar bahwa ia hanyalah alat Tuhan. Ketika Paulus berjumpa dengan Allah, Paulus sadar bahwa dirinya adalah seorang berdosa. Sebelumnya ia berpikir ia benar ketika menganiaya orang-orang Kristen. Perjumpaan dan pengenalan akan Allahlah yang membuatnya sadar akan siapa dirinya. Karena itu jika kita ingin memahami siapa diri kita sebenarnya kita harus mengenal Allah.

No comments: