Saturday, December 24, 2011

Allah Mencari Manusia (Lukas 15:1-7) #2




Mengapa Ia melakukan itu semua? Mengapa ia rela turun kedunia mencari kita? Bahkan demi menemukan kita, Ia rela mati tergantung di kayu Salib. Mengapa? Pernahkah saudara berpikir: mengapa sih gembala itu rela mencari satu dombanya yang hilang itu? Bukankah masih ada 99 ekor domba lain yang ia miliki. Apa sih berharganya seekor domba? Bukankah domba-domba yang lain bisa memberikan keturunan yang lain. Apalagi domba bukan hewan yang terlalu mahal. Ngapain sih repot-repot mencari domba yang hilang. Syukur-syukur kalau ketemu? Kalau tidak kan sia-sia? Atau kalau karena mencari kita diserang binatang buas, kan repot. Terlebih lagi, jangan-jangan kalau kita pergi mencari domba yang hilang, terus ada perampok datang mencuri 99 domba yang kita tinggalkan, kan malah bahaya. Sekali lagi mungkin kita perlu bertanya: Mengapa ia rela mencari 1 domba yang sesat itu? Bukankah domba itu sesat karena kenakalannya sendiri?

Jawabannya jelas: karena setiap kita, saudara dan saya, begitu berharga di mata Tuhan. Karena 1 domba itu begitu berharga di mata gembalanya. Kalau tidak berharga tidak mungkin gembala itu mau mencari. Analoginya seperti ini. Seandainya suatu saat di malam hari ada seorang ibu dengan seorang anaknya perempuan yang sedang mengamat-ngamati sebuah kalung berlian yang baru dibeli oleh ibunya untuk pernikahan putrinya. Ketika mereka melihat-lihat, tiba-tiba salah satu berlian itu terlepas dari kalungnya yang belum tersimpul dan jatuh kedalam kolong ranjang. Ranjangnya bukan ranjang kayak sekarang yang besar-besar, kolongnya kecil. Tapi ranjang jaman dulu dimana orang dewasapun dapat sembunyi di bahwa kolong itu. Di dalam kolong ranjang itu kotor karena jarang dibersihkan. Bukan hanya kotor tapi banyak koper, kardus, kertas-kertas, tai cicak, sarang laba-laba, dan barang-barang yang tidak dipakai seperti gudang mini di dalam kamar. Kira-kira apakah mereka akan mencari berlian itu? Atau mereka akan berkata “Yah, tidak apalah...Cuma 1 kan...” Saya kira mereka akan mencari sampai ketemu. Walaupun mereka harus merayap dikolong yang berdebu itu, melewati sarang laba-laba, berkotor-kotor ria, saya yakin mereka akan tetap mencari berlian itu sampai ketemu. Mengapa? Karena mereka sedang mencari sesuatu yang berharga.

Saya kira demikian juga yang dilakukan oleh gembala itu. Bagi sang gembala 1 domba itu sangat berharga, sehingga ia harus menemukannya sampai dapat. 1 domba itu begitu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja. Dan saya kira demikian inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan kepada kita manusia. Bagi Tuhan, satu jiwa, termasuk setiap kita, begitu berharga. Karena itu Ia mau datang kedunia, Ia rela mencari kita. Bahkan demi mencari kita, Ia rela mati di atas kayu Salib. Karena itulah Yesaya 43:4 mengatakan kepada kita “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” Yah, karena engkau dan saya berharga dimata-Nya, untuk itulah Ia datang mencari kita.

Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang bapak... seorang papi," ujar guru tersebut. Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada.
- "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!"
- "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar."
- "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."
- "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah.
- "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!!! Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.
Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, "Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai tertawa mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy," ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."

Memang... bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. Ia rela masuk dunia yang kotor dan hina ini untuk mencari dan menemukan kita yang kotor untuk diangkatnya menjadi manusia baru. Sekali lagi itu semua karena Ia mau menganggap kita sebagai seorang yang berharga.

Karena itu betapa kita bersyukur karena hari ini engkau dan saya sebagai orang yang berharga dimata-Nya dapat berkumpul bersama-sama merayakan natal, merayakan hari dimana Tuhan datang ke dunia mencari kita. Engkau dan saya begitu berharga. Karena itu jangan ada seorangpun di tempat ini yang berkata bahwa dirinya tidak berharga. Jangan pernah seorangpun yang menganggap bahwa hidupnya tidak berarti. Tuhan sudah datang mencari kita, itu sudah menandakan bahwa kita adalah seorang yang berharga kepada-Nya. Mari kita pun meresponi kasih Tuhan juga dengan senantiasa mencari Dia. Cari Dia lewat firman-Nya. Cari Dia dengan menaikan doa-doa kita. Andalkan dan bergantung penuh kepada-Nya. Percayalah, Tuhan yang sudah mencari kita dan menganggap kita begitu berharga. Tuhan itu juga yang akan menolong kita. Amin.

2 comments:

Avent Saur said...

Terima kasih banyak. Tafsiran ini sangat menarik. Ini menginspirasi saya untuk menulis khotbah Minggu, 15 September 2013 di Paroki Pamekasan dan Stasi Sampang, Madura. Saya imam tamu di Surabaya, check up kesehatan di RKZ Surabaya, datang dari Ende-Flores. Tadi siang diminta oleh Pastor Paroki Pamekasan untuk merayakan Ekaristi di sana, karena beliau sedang sakit.

Sekali lagi, terima kasih.
Salam doa dan berkatku
Pastor Avent Saur, SVD

Jamaludin Ahmad said...

Jauhnya tafsiran kamu...tak bertepatan dgn kontek dlm bible langsung