Monday, July 26, 2010

Gelembung Sabun



Gelembung Sabun. . . .

Keluar dari kediamannya

Serentak berpawai Ria

Berenang-renang di udara


Kilau cahaya lampu kota. . . .

Mewarnikan pelangi didalamnya

Meriasi malam gulita

Menambah riang hati duka


Namun. . . .

Satu persatu gelembung itu sirna

Hilang tak berjejak tanpa pesan

Sekejap lenyap semaraknya


Rentan....Sungguh rentan

Beberapa pecah tertekan

Tergesek dengan kasar jalan

Menuju kebinasaan


Syukurlah....

Beberapa masih bertahan

Tertolong Angin lembut nan teduh

Yang berasal dari Tuhan


Gelembung Sabun. . . .

Itu Aku. . . .

Manusia Rentan. . . .

Butuh Tuhan . . . .

Sunday, July 18, 2010

Manusiawi



Pernah tersaksikan oleh kedua mata saya dua ekor semut yang sedang bermain riang tepat di hadapanku yang mematung. Lalu tangan isengku segera menggencet pelan salah satu dari mereka, dan alhasil korban gencetan itu sekarat tak berdaya. Kawannya yang masih segar bugar terkejut lalu melarikan diri secepat-cepatnya, merayap ketembok seperti cecak dan terus bergegas ke atas. Namun sampai setengah perjalanan, tiba-tiba ia berhenti sejenak dan kemudian berlari kencang kembali ke arah temannya yang sekarat. “Berani sekali” pikirku. Bukankah teman yang sekarat itu tepat berada di depan tanganku yang baru saja merengut masa depan temannya? Apakah ia juga mau menyerahkan nyawanya, ataukah dia mau menantang saya? Pikirku geli. Tapi saya diam saja, mencoba mengamati perilaku dari hewan kecil itu. Terkejutnya saya, ternyata semut kecil yang masih bugar itu segera menggendong kawannya yang sekarat, lalu dengan tertatih-tatih mengangkatnya memanjati tembok dengan perlahan. Ia tidak takut kalau tangan gatal dari raksasa yang didepannya itu menggencetnya juga. Ia hanya memikirkan kawannya yang sekarat dan berusaha untuk menolongnya tanpa menghiraukan nyawanya.

Pernah tercantum juga di harian kompas beberapa kawanan gajah yang berupaya menyeberangi sungai selebar 60 meter untuk mendapatkan habitat yang baru setelah habitat lamanya dirusak oleh manusia. Bagi beberapa gajah yang cukup besar mungkin mudah menyeberangi sungai tersebut. Tapi gajah-gajah yang masih kecil dan remaja tidak mampu menyeberangi sungai yang terlampau dalam bagi mereka. Lantas bagaimana mereka akhirnya bisa menyeberangi sungai itu? Ternyata gajah-gajah dewasa berbaris di sepanjang sungai membentang dari ujung ke ujung. Secara perlahan gajah-gajah yang kecil menginjaki pundak mereka satu persatu sampai mereka bisa menyeberang tiba dengan selamat. Selama 44 hari barulah semua kawanan gajah itu bisa menyeberangi sungai tersebut. Penduduk sekitar yang menyaksikan itu tidak dapat menahan air matanya. Mereka terharu akan tindakan para gajah itu. Menteri lingkungan hidup Emil Salim pun pernah mengatakan “Gajah-gajah itu telah memanusiakan manusia.” Tak heran surat harian kompas memberi judul berita ini demikian: “Belajar manusiawi bersama gajah.”

Rasanya masih banyak lagi kisah-kisah “manusiawi” yang ditunjukkan oleh dunia fauna di sekitar kita. Entah darimana mereka mendapatkan instink manusia tersebut, yang pasti beberapa binatang telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan kepada manusia yang semestinya harus memiliki basic kemanusiaan itu.

Ironinya justru sifat-sifat manusiawi itu tidak terdapat dalam diri beberapa orang yang mengaku dirinya adalah manusia. Ada seorang anak yang tega membunuh ibunya hanya sebab ditegur ketika ia pulang malam. Ada ayah yang tega memperkosa anaknya sendiri berkali-kali sampai-sampai anak yang terlahir kebingungan apakah harus memanggilnya bapak atau engkong. Ada juga ibu yang membunuh bayi hasil darahnya hanya karena tidak punya uang. Pembunuhan antar sesama manusiapun terjadi di mana-mana, entah secara langsung ataupun tidak. Saya katakan ada yang tidak secara langsung setelah mengamati berita akhir-akhir ini yang marak mengenai ledakan elpiji 3 kg di Indonesia. Beberapa produsen mengetahui adanya kecacatan-kecacatan dalam tabung-tabung kuning itu. Namun mereka tetap menjualnya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal para produsen kejam itu belum tentu menggunakan produk cacat mereka sendiri. Uang untuk perutnya sendiri seakan lebih penting daripada nyawa sesamanya. Dimanakah jiwa kemanusiaan itu?

Lebih spesifik lagi, dalam kisah orang Samaria yang baik hati Tuhan Yesus memperdetil hakekat manusiawi yang seharusnya melekat pada semua manusia. Ketika sitanyakan siapakah sesamaku manusia? Yesus menggambarkan dalam sebuah kisah yang menjelaskan bahwa sesama manusia adalah orang yang peduli ketika melihat ada sesamanya mengalami kesusahan dan membutuhkan uluran tangan. Sederhananya, mereka yang tidak memiliki kepedulian seperti imam dan orang lewi tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sesama manusia. Itulah yang namanya manusiawi.

Ahh....Kalau begitu banyak sekali manusia yang sudah tidak memiliki sifat manusiawi. Keegoisan yang melahirkan penderitaan sesama semakin tren di tengah zaman ini. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah ada transaksi hakekat antara beberapa manusia dengan beberapa hewan-hewan yang ada di muka bumi ini. Mengapa manusia harus belajar “manusiawi” dari hewan-hewan itu? Mungkin beberapa hewan itu juga harus belajar untuk memiliki jiwa “hewani” dari beberapa manusia. Ironi bukan. So, mari kita sama-sama mengintropeksi diri kita. Khususnya bagi anak-anak Tuhan, mari terus becermin dari Firman Tuhan. Penuhi pribadi kita dengan sifat manusiawi yang semestinya Tuhan kehendaki ada dalam diri kita. Gbu

Monday, July 12, 2010

MY IDENTITY (Lukas 18:9-14)



Pada tahun 1989 seorang bapak di dataran Kamboja kehilangan putri tercintanya yang masih 8 tahun umur daging. Saat itu putrinya sedang menggembalakan kerbaunya di sebuah desa dekat hutan di sebelah timur laut Phnom Penh, ibukota Kamboja. Mendadak saja ia hilang tanpa sebab dan tiada jejak. Memang hutan di daerah itu terkenal sebagai wilayah yang paling liar dan terisolasi di Kamboja. Banyak korban yang sudah terhisap di dalamya. Tentu saja keluarganya begitu sedih dan terpukul atas peristiwa itu, terutama kedua orang tuanya. Mereka berusaha mencari-cari namun tidak mendapat. Akhirnya mereka putus asa dan merelakan kehilangan anaknya.
Sampai kemudian pada tahun 2007 (18 tahun kemudian), ada seorang gadis muda yang lusuh tak berpakaian keluar dari hutan dengan tingkah yang aneh. Ia tertangkap ketika hendak mencuri sesuatu. Ketika diinterogasi ia tidak bisa berbicara dan hanya dapat mengeluarkan ocehan-ocehan yang tidak jelas, layaknya seekor binatang. Karena ia tinggal di desa kecil maka berita itu segera tersebar dan sampai di telinga bapak yang pernah kehilangan putrinya 18 tahun silam. Pertama melihat gadis itu sang bapak langsung mengenali bahwa itu adalah putrinya dari bekas luka diwajahnya. Ia beserta keluarganya begitu bersuka cita dan segera membawa putri tercintanya pulang ke rumah. Perempuan itu segera dibersihkan, dikasih pakaian, dan di beri makan yang enak-enak. Bahagia serta rasa haru tercipta di tengah-tengah keluarga.

Namun sayangnya kebahagiaan kedua orangtua bukanlah kebahagiaan sang anak. Ia merasa tidak nyaman dengan keadaannya yang baru. Ia menolak makan nasi selama sebulan dan terus-menerus meminta untuk kembali ke hutan. Kondisinya bahkan jauh lebih buruk dibanding dengan pada awal kali ia ditemukan. Ia jadi lebih sering berteriak-teriak dan memberontak. Perilakunya jadi semakin mirip dengan seekor kera. Ia sering melompat-lompat dan menghancurkan barang-barang di rumah. Jika ada kesempatan ia pasti melarikan diri kembali ke hutan. Sungguh realita yang menyedihkan. Putri ini sudah kehilangan identitas diri. Ia tidak lagi dapat menepatkan posisinya sebagaimana mestinya seorang manusia. Ia lupa bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang manusia.

Mungkin kita tergelitik mendengar kisah yang tidak umum seperti ini. Tapi tahukah bahwa ternyata ada begitu banyak manusia yang juga tidak lagi dapat menempatkan posisinya sebagai mana mestinya. Bahkan banyak di antara anak-anak Tuhan yang tidak lagi mengenali akan identitas dirinya sebagai manusia berdosa. Semuanya ini dapat terlihat dari sikap hidup dan pola pikir mereka. Namun bagaimana kita bisa mengenali identitas kita? Tentu saja untuk mengetahui semua ini kita harus kembali becermin kepada Firman Tuhan yang merupakan jalan kebenaran dan kehidupan.

Dalam perikop bacaan kita terdapat pesan mengenai bagaimana seharusnya manusia berpikir dan bersikap. Pesan ini disampaikan dalam kisah perumpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang berdosa di bait Allah. Ada dua pesan yang begitu jelas yang hendak disampaikan:


1. Tuhan membenci keangkuhan

Keangkuhan atau kesombongan merupakan dosa yang paling berbahaya di muka bumi ini. Harus kita ingat bahwa kejatuhan manusia dimulai karena ada keinginan manusia yang ingin menjadi serupa dengan Allah. Inilah asal mula keberdosaan manusia: hati yang angkuh.

Keangkuhan ini tergambar pada orang Farisi yang diceritakan dalam perumpamaan ini. Dikatakan bahwa ia pergi ke bait Allah dan berdoa bersama seorang pemungut cukai. Orang Farisi ini berdiri di barisan paling depan (yang mungkin adalah tempat terhormat) dan kemudian berdoa, mungkin dengan kepala yang menengadah ke atas dan penuh keyakinan kemudian berkata “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama sekali seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”

Dimana letak keangkuhannya? Pertama, orang Farisi ini memandang orang lain lebih rendah dari pada dirinya. Dalam doanya jelas ia katakan bahwa ia tidak sama seperti orang lainnya, bukan perampok, bukan orang lalim, dsb. Atau dengan kata lain ia memandang dirinya jauh lebih terpandang dan lebih baik dari pada orang lain. Memang orang-orang Farisi merupakan tokoh agama yang cukup disegani dan dihormati. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di bait Allah dan banyak orang bergantung kepada mereka. Orang Farisi yang berdoa ini tentu merupakan salah satu orang yang terpandang dan terhormat. Namun status yang terpandang inilah yang menjeratnya untuk menjadi angkuh. Ia menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih baik dari orang lain. Ia meletakkan posisinya di atas sesamanya manusia.

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk sombong dengan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Begitu mudahnya kita menilai seseorang dari status, harta, kegagahan, kemampuan, bahkan mungkin talenta-talenta kita. Jika kita merasa lebih memiliki daripada orang lain maka kita mulai merasa diri lebih baik. Parahnya seringkali kitapun terjebak dalam merendahkan orang lain. Padahal mungkin dalam satu hal memang ia memiliki kekurangan, namun di lain hal bisa saja ia memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan diri kita.

Saya teringat kisah mengenai Susan Boyle (47) dalam Britain Got Talent. Ketika pertama naik panggung semua orang memandang rendah dia. Modelnya yang awut-awutan, gemuk, bicaranya agak terbata-bata, dan terkesan seperti nenek-nenek membuat orang mencibir dia. Sewaktu di tanya apa yang menjadi mimpinya ia menjawab “Aku ingin menjadi penyanyi terkenal” lalu ia menyebut seorang nama artis favoritnya. Lantas semua penonton mentertawakan dia dengan maksud memandang rendah. Juri-juripun tersenyum simpul menahan tertawanya. Beberapa penonton terlihat menggelengkan kepala seakan menganggap Susan adalah orang yang tidak tahu diri. Namun betapa terkejutnya mereka semua ketika Susan menyanyikan sebuah lagu. Suaranya begitu indah, tekniknya sempurna, power kuat, dan begitu merdu hingga mampu menyentuh setiap peserta yang mendengarkan. Semua penonton terkejut, dan juri-juripun menganga melihat keajaiban di depan matanya. Selesai menyanyikan lagu tersebut, semua penonton dan juri yang mentertawakannya semula berdiri dan memberikan standing aplause kepadanya. Penilaian mereka pun berubah. Setelah itu tidak ada lagi yang berani merendahkan dia.

Saudara, seringkali kita seperti para penonton tersebut. Betapa mudahnya kita menjudge seseorang berdasarkan apa yang tampak luar. Begitu mudahnya kita memandang rendah seseorang, dan entah dengan sadar atau tidak, kita mengangkat diri kita tinggi-tinggi. Ketika ini terjadi, disitulah keangkuhan tercipta.

Kedua, orang Farisi itu terlihat keangkuhannya ketika ia berfokus hanya kepada diri sendiri. Kalau kita perhatikan dari doanya ada 5 kali ia menyebut kata ‘aku.’ ‘Aku’ tersebut selalu menjadi subjek dari doanya. Aku bersyukur….. Aku bukan…. Aku tidak….Aku memberikan…. Aku berpuasa….Aku….Aku….dan Aku. Fokus doanya hanya terarah kepada dirinya sendiri. Ia pun membangga-banggakan dirinya. Ia menyebutkan bahwa Ia berpuasa dua kali seminggu (Ini merupakan prestasi yang mengagumkan, di mana tuntutan yang diberikan hukum Taurat kepada mereka semestinya cukup satu kali dalam setahun pada hari raya pendamaian besar). Bukan hanya itu, iapun mengatakan bahwa ia memberikan perpuluhan dari seluruh penghasilannya. Doanya jelas menunjukkan betapa bangga dan puasnya ia pada dirinya. Yang menjadi subjek dari doanya ialah dirinya dan bukan lagi Tuhan. Ia lupa bahwa hidup yang ia miliki dan kesempatan demi kesempatan yang terjadi dalam hidup ini hanyalah anugerah Tuhan semata. Yang menjadi fokus dari pujian dan kebanggaan itu seharusnya tidak lain seharusnya adalah Tuhan, dan bukan diri sendiri.

Inilah keangkuhan. Ketika hubungan sesama manusia yang seharusnya sejajar berubah menjadi atasan bawahan, dan ketika hubungan dengan Tuhan seharusnya atasan bawahan menjadi sejajar maka keangkuhan tercipta. Orang yang angkuh tidak lagi mengenal identitas dirinya dan tidak dapat memposisikan dirinya dengan tepat.

Tentu saja keangkuhan tidak berkenan dihadapan Tuhan. Diakhir cerita ini tampak jelas bahwa doa orang Farisi itu ditolak oleh Tuhan. Di bagian lain pernah terjadi ketika Raja Herodes menyombongkan diri dan menyamakan diri dengan Allah, ia langsung ditampar malaikat Tuhan seketika itu juga, dan tewaslah ia. Di PL, seorang raja Babel yang termasyur pernah mengalami penyakit aneh yang membuatnya menganggap diri sebagai seekor lembu. Penyakit ini juga merupakan hukuman Tuhan atas keangkuhannya. Hal ini menunjukkan betapa Tuhan membenci orang-orang yang angkuh.

Karena itu janganlah kita menjadi angkuh dan sombong. Dalam hubungan dengan sesama kita, jangan pernah kita memandang orang lain lebih rendah daripada diri kita. Jangan kita merendahkan, menghina, dan menilai orang hanya dari apa yang tampak luar. Ingat kita sama-sama berdosa di hadapan Tuhan. Dalam hubungan dengan Tuhan, jangan pernah kita mensejajarkan diri dengan Tuhan. Jangan menganggap diri hebat, seakan-akan segala keberhasilan (baik dalam pekerjaan, relasi, dan pelayanan) semuanya karena diri kita. Jangan sombong dan terus membanggakan diri. Ingat, semua yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan. Jangan sekali-kali kita menjadi angkuh.


2. Tuhan mengkehendaki kerendahan hati

Berbeda dengan orang Farisi itu, jauh berdiri dibelakangnya terdapat seorang pemungut cukai yang juga berdoa. Pemungut cukai merupakan orang-orang yang rendah di mata orang-orang Yahudi. Mereka dianggap pengkhianat karena mendukung program pemerintah yang tidak sesuai dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh orang Yahudi. Karena itu mereka dianggap sebagai orang-orang yang berdosa. Para pemungut cukai merupakan orang-orang yang tertolak. Ia dibenci rekan sebangsanya, dan hanya dianggap sebagai budak oleh orang-orang Romawi yang memerintahnya. Mungkin pemungut cukai dalam cerita ini juga merupakan salah satu orang yang merasakan sakit penolakan itu.

Namun hari itu ia datang kepada Tuhan di bait Allah. Ia berdiri jauh di belakang dengan kepala yang tertunduk. Ia malu untuk mengangkat kepalanya karena ia merasa tidak layak. Bahkan terus menerus ia memukuli dirinya sendiri sambil berkata “Tuhan, kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Ada satu kesadaran dari dalam diri pemungut cukai ini bahwa dirinya tidak layak. Ia sadar bahwa ia adalah manusia berdosa yang tidak pantas berdiri di hadapan Tuhan yang suci. Karena itu ia merendahkan dirinya sambil terus memukuli diri. Mungkin ia menangis saat itu. Ketidaklayakan itu juga yang membuatnya tidak berani membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Sama sekali ia tidak berani membanggakan dirinya. Hanya satu yang ia perlukan, yaitu belaskasihan dan kemurahan Tuhan. Karena itulah dalam doanya ia berseru “Kasihanilah aku ya Tuhan.”

Pemungut cukai ini tau akan posisinya dihadapan Tuhan dan sesama. Ia tau jelas akan identitasnya sebagai orang yang berdosa. Inilah yang namanya kerendahan hati. Orang yang rendah hati menyadari bahwa dirinya tidak layak, dan ia sadar se sadar-sadarnya bahwa ia adalah orang berdosa yang memerlukan belas kasihan dan kemurahan Tuhan. Ia tau bahwa dosa sudah menghancurkan dirinya, karena itu ia akan memilih untuk terus bersandar dan bergantung kepada Tuhan.

Memang ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia mengalami kelumpuhan atau kecacatan total. Kita tidak dapat melakukan banyak hal dengan kekuatan kita sendiri. Hanya orang yang tidak cacatlah yang mampu menolong kita. Pasalnya siapakah orang yang tidak bercacat di dunia ini? Tidak ada. Hanya Yesus manusia sempurna yang sanggup menolong dan menyelamatkan kita.

Kehidupan ini sama seperti kisah Dick Hoyt dan anaknya Rick Hoyt. Sejak kecil Rick mengalami kecelakaan yang membuatnya cacat seumur hidup. Ia tidak bisa berjalan, tidak bisa berdiri (hanya bisa di kursi roda), dan tidak dapat berbicara. Orang tuanya menginginkan Rick memiliki kehidupan yang normal sama seperti anak-anak lainnya. Karena itu Rick dimasukkan ke sekolah orang cacat oleh Dick, dan ia belajar untuk menulis lewat alat khusus yang bisa membaca pikirannya. Pada usia 15 tahun ia mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin mengikuti perlombaan five mile benefit run. Rick tentu saja tidak bisa berlari seorang diri. Dickpun bukan seorang pelari namun ia setuju untuk mendorong anaknya di kursi roda. Akhirnya mereka berlari bersama; Dick mendorong kursi itu, sedang Rick hanya duduk diam di atas kursi roda. Jarak sejauh 3770 mil mereka tempuh bersama, sampai akhirnya mereka bisa mencapai garis finish. Rick tidak mungkin bisa melewati semua rintangan itu tanpa ayahnya Dick. Bersama mereka berlari, dan dengan pertolongan ayahnya ada kekuatan yang luar biasa.

Demikian juga dengan kita. Jangan pernah berlari seorang diri. Kita adalah manusia berdosa yang membutuhkan pertolongan dan kemurahan Tuhan. itulah identitas kita. Garis akhir hidup ini hanya dapat kita capai ketika kita berjalan bersama Tuhan. Karena itu mari kita mencari dan bergantung kepada Tuhan.

Wednesday, June 30, 2010

Sungguh Besar Imanmu (Matius 15:21-28) #2



Iman Yang Disertai Pengharapan

Iman dan pengharapan merupakan sohib karib yang tidak dapat terpisahkan. Jika salah satu tidak lagi berfungsi maka dapat dipastikan satunya juga tidak akan berfungsi dengan baik. Perempuan Kanaan dalam cerita ini menyertai pengharapan dalam imannya. Pengharapan akan kesembuhan anaknya sangatlah besar. Pengharapan inilah yang membuatnya terus berjuang mati-matian memohon kepada Yesus untuk memberikan kemurahan kepadanya. Padahal dalam maksud menguji perempuan itu, Yesus memberikan respon yang kurang bersahabat. Ketika perempuan itu berseru, Yesus hanya diam seakan tidak peduli. Ketika ia terus berseru, Yesus memberikan jawaban yang lebih tegas “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Yesus seakan ingin berkata kepada perempuan itu kalau Ia hanya mau melayani orang Israel dan tidak peduli dengan orang asing.

Sejauh ini apakah perempuan ini berhenti memohon? Tidak! Ayat 35 menuliskan bahwa perempuan ini lebih mendekat lagi dan memohon. Namun Yesus memberikan ungkapan yang lebih tajam lagi “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Pada waktu itu sudah merupakan pengertian umum bagi orang Yahudi bahwa mereka yang berkebangsaan Yahudi disebut anak-anak, sedangkan orang-orang non Yahudi disebut anjing. Jadi Yesus hanya mengungkapkan apa yang menjadi pandangan orang pada waktu itu. Walau demikian, pandangan tersebut memang merupakan pandangan yang merendahkan orang-orang kafir. Kira-kira kalau berada di posisi perempuan itu apakah kita akan berhenti memohon setelah diperlakukan demikian? Kalau saya jadi perempuan itu, saya kira saya akan menghentikan seruan saya. Namun perempuan ini tidak berhenti. Ia terus memohon dan berseru kepada Yesus. Mengapa? Pengharapan yang besarlah yang membuatnya teguh untuk memohon. Seorang yang memiliki pengharapan sudah pasti ia akan terus berjuang dalam menggampai pengharapannya.

Demikian juga ketika kita berdoa dan berseru kepada Tuhan. Ketika kita berdoa, hanya ada tiga kemungkinan jawaban yang dapat terjadi. Ya, tidak, atau belum. Terkadang ada kalanya Tuhan belum menjawab permohonan kita. Bahkan terkadang jalan-jalan yang kita harapkan tampak tertutup. Tuhan seakan-akan tidak peduli. Namun sebenarnya bukannya Ia tidak ingin menjawab, Ia hanya ingin menguji iman kita. Ia ingin melihat seberapa besar pengharapan yang kita miliki di dalam Dia. Ia ingin melihat seberapa sungguh kita berharap kepada Dia. Karena itu jangan pernah berhenti untuk berseru. Naikan permohonanmu dengan tak henti-hentinya. Teruslah berharap kepada-Nya.


Iman Harus Dijalani Dengan Sikap Rendah Hati.

Namun tentunya pernyataan iman harus diiringi sikap yang benar. Kesempurnaan iman terjadi pada saat diiringi sebuah sikap kerendahan hati. Orang yang rendah hati dihadapan Tuhan itu ialah orang yang menyadari bahwa dirinya orang yang terbatas. Dan bukan hanya menyadari keterbatasannya, ia juga mengakui akan kedaulatan Tuhan. Karena itu ia akan bergantung hanya kepada kemurahan Tuhan.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh perempuan kanaan itu. Sikap yang ditunjukkan semakin hari semakin memperlihatkan kebergantungannya kepada kemurahan Tuhan. Sejak mula perempuan ini udah menyerukan “Tuhan kasihanilah kami…. (ay. 22)”; ia sangat bergantung kepada belas kasihan Tuhan. Ketika Yesus menolak dia Alkitab menuliskan bahwa perempuan itu mendekat dan menyembah dia (ay. 25) sembari berseru “Tuhan tolonglah aku.” Kata menyembah (Proskunew) ini menggambarkan tentang seorang hamba yang bersujud kepada tuannya dengan kepala sampai ke tanah. Dalam keadaan itu kepala yang menyembah sejajar dengan kaki orang yang disembah. Ini menunjukkan akan pengakuan akan keterbatasannya. Ini juga berarti orang yang disembah itu bisa melakukan apa saja kepada orang yang menyembah. Posisi ini sudah menunjukkan akan betapa diri yang menyembah adalah sosok yang tidak layak. Bahkan ketika Yesus meresponi dengan keras “Tidak baik roti anak-anak diberikan kepada seekor anjing”, perempuan ini bukannya menentang pendapat itu, namun ia mengatakan “benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Perempuan ini seakan ingin berkata “Tuhan, benar, saya memang tidak layak, saya memang ‘seekor anjing’, tapi Tuhan, setidak anjing itu bisa mendapatkan sedikit kemurahan.” Awalnya perempuan ini meminta roti, namun ketika Tuhan menolak permohonannya, ia hanya mengharapkan remah-remahnya saja. Intinya perempuan ini hanya membutuh sedikit saja kemurahan Tuhan bagi dia. Remah-remah kemurahan itu cukup bagi dia. Perempuan ini tidak memaksakan kehendaknya. Ia sadar akan siapa dirinya. Karena itu ia bergantung mutlak kepada Tuhan yang berdaulat memberikan kemurahan kepada siapa Ia mau berikan. Inilah sikap kerendahan hati.

Keluarga saya sejak dahulu selalu menggunakan pembantu untuk mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah. Sudah banyak pembantu yang keluar masuk di rumah kami. Ketika saya mengamati saya menemukan ada dua jenis macam pembantu berkenaan dengan statusnya. Ada pembantu yang tidak sadar bahwa ia adalah pelayan dan salah dalam menggunakan kebaikan majikannya. Pembantu tersebut sering meminta sesuatu dan majikannya mengijinkan. Sampai suatu waktu ia ingin jalan-jalan bersama dengan temannya, dan ia meminta kepada kita untuk diijinkan keluar sejenak bersama temannya. Kebetulan waktu itu tidak ada orang di rumah maka untuk kali ini kami tidak mengijinkannya. Awalnya pembantu tersebut memohon baik-baik, tapi lama kelamaan ia menjadi marah karena permohonannya tidak di injinkan. Lantas ia membanting pintu kamar dan mendumel. Ia tidak sadar siapa dirinya, bahwa ia hanyalah seorang pelayan yang harus tunduk terhadap majikannya. Tapi saya pernah juga melihat pembantu jenis kedua. Ia juga pernah memohon kepada kami untuk bisa pergi karena ada urusan penting. Tapi dalam permohonannya ia mengatakan “Tapi terserah tuan, kalau tuan ijinkan saya pergi, kalau tuan tidak ijinkan mungkin lain waktu saja.” Pembantu seperti ini menyadari penuh akan statusnya sebagai pembantu. Ia tidak akan pernah marah walaupun permohonannya tidak diterima. Inilah yang dinamakan sikap rendah hati.

Demikian juga ketika kita berdoa. Milikilah kesadaran bahwa sebenarnya kita tidak layak di hadapan Tuhan. Kita ini hanyalah hamba yang bergantung kepada kemurahan Tuhan. Dan tentu seorang hamba tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia bisa berjuang untuk memohon, tapi ia tidak akan pernah memaksakan kehendaknya. Ia akan selalu bersyukur untuk apapun yang Tuhan beri. Walaupun doanya mungkin tidak terjawab, ia juga tetap akan mempercayakan hidupnya kedalam kedaulatan Tuhan. Ia tidak akan pernah menjadi kecewa. Sikap rendah hati seperti inilah yang harus dimiliki orang-orang yang beriman ketika ia berdoa dan berharap pada Tuhan.

****

Saudaraku, jika saat ini saudara sedang berada dalam sikon yang rumit; mungkin ada pergumulan-pergumulan yang sangat menguras tenaga dan pikiranmu; dan mungkin sebuah badai besar sedang menyerbu rumah tangga saudara saat ini; entah itu sakit penyakit, masalah ekonomi, masalah hubungan, dsb. Kesedihan, ketakutan , dan tekanan demi tekanan menyergap kita. Mari kita belajar untuk memiliki iman sama seperti perempuan Kanaan tersebut. Percayakanlah permasalahanmu kepada orang yang tepat. Serahkan semuanya ke tangan Tuhan yang berdaulat atas kehidupan manusia. Teruslah berharap dan menantikan pertolongan daripada-Nya. Jangan pernah menjadi putus asa dan kecewa kepada Tuhan. Dan ingat, sertailah dengan sikap rendah hati yang menyadari akan ketidaklayakan kita. Orang yang rendah hati akan mensyukuri setiap kemurahan Tuhan atas jawaban doa kita. Bahkan ketika doa itu tidak terjawab sekalipun, kita akan senantiasa bersyukur dan tetap percaya akan kedaulatan Tuhan. Kiranya ungkapan Tuhan “Hai saudara, sungguh besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti apa yang kau kehendaki” boleh kita alami juga.

Sungguh Besar Imanmu (Matius 15:21-28) #1



Dunia kita semakin hari bergerak menjadi dunia yang penuh kekhawatiran. Perekonomian semakin terpuruk. Harga barang semakin hari semakin mahal. Mau buka usaha apapun susah, modal besar, pendapatan sedikit. Persainganpun semakin hari semakin marak. Tak heran banyak orang tua sekarang mengeluh “Dulu kalau usaha tidak susah seperti sekarang.” Karena usaha semakin susah maka para suami harus bekerja lebih keras. Kalau dulu dari pagi sampai sore, maka sekarang dari pagi sampai malam. Bahkan kalau di rumah pun harus lembur menyelesaikan tugas-tugasnya. Selalu khawatir kalau-kalau keuangannya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Para suami dituntut untuk berkerja lebih keras dari sebelumnya.

Akibatnya relasi dengan keluarga merenggang. Komunikasi dengan istri dan anak semakin jarang. Karena itu kesalahpahaman semakin sering terjadi. Suami istri semakin sering bertengkar, bahkan hal-hal kecil semakin sering dipertengkarkan. Lalu anak-anak ikut-ikutan stress. Mereka merasa tidak dipedulikan. Akhirnya mereka mencari penghiburan di luar rumah. Beberapa memilih untuk bermain game seharian di tempat rental. Beberapa memilih ke warnet dan melihat gambar dan film-film porno yang sangat mudah untuk di akses saat ini. Beberapa lagi memilih berkumpul bersama teman-teman yang stress lainnya, merokok bersama, melakukan kenakalan bersama, bahkan ada yang terjun dalam dunia obat-obatan. Tapi ternyata semua itu bukan menyelesaikan masalah. Anak-anak pun menjadi stress. Di rumah stress, di luar rumah juga stress. Seorang ibu yang melihat anaknya berubah dan menjadi dingin di dalam keluarga menjadi sedih. Kemudian ibu-ibu mulai mempersalahkan diri dan menyesal. Mereka pun menjadi begitu khawatir untuk masa depan anaknya. Akhirnya seisi keluarga, dari suami, istri dan anak-anak semuanya stress.

Belum lagi terkadang ada penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan yang tidak diundang datang begitu saja. Bencana alam melanda tanpa memandang bulu. Masyarakat sekitar juga semakin hari semakin tidak bersahabat dan brutal. Yah, kira-kira itulah yang terjadi di dunia kita sekarang. Karena itu saya katakan dunia kita semakin hari bergerak menjadi dunia yang penuh kekhawatiran. Mungkin saudara sedang berada dalam posisi harap-harap cemas seperti ini.

Lantas bagaimanakah kita menghadapi dunia yang seperti ini? Bagaimana kita bisa mengatasi kekhawatiran-kekhawatiran tersebut? Saya setuju dengan seorang psikolog Kristen yang mengatakan bahwa “satu-satunya kunci agar kita menang atas kekhawatiran ini adalah dengan mengenakan langkah iman.” Namun hanya mencerna kalimat ini masih tampak begitu absrak. “Iman yang seperti apa?” hal inilah yang mau kita pelajari dari perempuan Kanaan dalam perikop ini.


Latar belakang
Perempuan Kanaan ini mengalami pergumulan yang sangat berat. Dikatakan bahwa anaknya kerasukan setan dan sangat menderita. Seorang yang kerasukan setan biasanya membuat orang tersebut kehilangan kesadaran. Perilaku, karakter, bahkan suara, semuanya berubah. Orang tersebut seakan-akan menjadi pribadi yang lain yang bukan dirinya. Orang yang kerasukan sudah pasti tidak pernah bisa tidur nyenyak dan mungkin dia tidak mau makan sesuatu apapun. Bahkan dalam kisah lain di Alkitab, seorang yang kerasukan akan diikat dengan rantai agar tidak melakukan tindakan-tindakan sembrono. Oleh karena itu ibu itu mendeskripsikan anaknya sebagai seseorang yang sangat menderita.

Sebagai seorang ibu tentunya penderitaan anak ialah penderitaan sang ibu. Bahkan acapkali sang ibulah yang jauh lebih merasakan penderitaan itu daripada anaknya sendiri. Saya teringat sewaktu kakak perempuan saya putus sama pacarnya dan mengalami stres berat, mama saya tampak lebih tertekan daripada kakak saya. Setiap hari mama saya menangis dan berdoa, bahkan bela-belain terbang ke kota pahlawan meninggalkan pekerjaannya untuk menemani kakak perempuan saya yang stress. Saya melihat acapkali diantara keluarga saya 5 bersaudara mengalami permasalahan, entah besar atau kecil, mama saya yang tampak paling bergumul. Ia berdoa lebih khusyuk dari pada anggota keluarga yang lainnya. Jika anda adalah seorang ibu, saya yakin anda akan setuju dengan saya.

Inilah yang di alami oleh perempuan Kanaan tersebut. Betapa menderitanya ia melihat penderitaan anaknya. Namun dalam penderitaan berat yang di alaminya, perempuan ini malah menunjukkan kualitas iman yang sempurna, sehingga Yesus mengatakan “sungguh besar imanmu.” Iman seperti inilah yang harus kita pelajari. Iman seperti apa?


Iman Yang Didasari Kepercayaan Pada Tuhan Lebih Dari Segalanya

Kisah ini berawal dari kepergian Yesus ke daerah Tirus dan Sidon. Ini merupakan daerah orang kafir yang jarang dikunjungi oleh seorang Yahudi. Pada umumnya orang Yahudi waktu itu tidak mau bergaul dengan orang-orang asing. Namun Yesus menghampiri daerah asing tersebut. Mungkin Ia memang sudah punya rencana terhadap perempuan Kanaan itu.

Didaerah itu terdapat kuil asing untuk menyembah dewa Esmun yang dianggap sebagai dewa penyembuh. Kebanyakan orang daerah itu menyembah dewa Esmun tersebut untuk mendapatkan kesembuhan. Saya kira perempuan Kanaan itu tau persis mengenai hal ini. Bahkan mungkin kerabat dan keluarganya ada yang turut menyembah dewa ini. Namun menariknya ibu ini lebih memilih untuk mempercayakan masalahnya kepada Tuhan Yesus. Padahal mungkin ia belum bertemu Yesus sebelumnya. Tapi kabar tentang Yesus telah tersebar kemana-mana. Dari kabar inilah ia lebih memilih untuk mempercayakan masalahnya pada Tuhan. Sebanyak tiga kali ia berseru memanggil ‘Tuhan’ yang merupakan bentuk kepercayaannya. Ketika ia mengatakan Yesus sebagai anak Daud, secara tidak langsung ia mengakui Yesus sebagai mesias / juruselamat pribadinya. Inilah iman yang benar, yaitu iman yang didasari keyakinan bahwa hanya Tuhan yang mampu menyelesaikan masalahnya.

Iman seperti ini pernah saya jumpai di anak sekolah minggu didikan saya. Namanya Ezra dan masih berusia 8 tahun. Suatu ketika ia pergi rekreasi bersama keluarganya. Ezra dan adiknya asyik bermain di taman. Sementara ibu dan ayahnya sibuk mempersiapkan makan sisang. Tiba-tiba sang ibu yang sedang mempersiapkan makanan terkejut mendengar teriakan keras anaknya. Segera ibunya pergi melihat apa yang terjadi, dan lebih mengagetkan lagi karena ia melihat Ezra tergeletak dengan keadaan tangan yang sudah tidak wajar. Ternyata ketika bermain panjat-panjatan di tempat bermain yang tersedia, si Ezra terjatuh dengan posisi yang tidak tepat. Herannya ketika ia terjatuh, teriakan pertama yang diucapkan ialah “mama….mama….doakan ma….doakan….” Dalam kesakitan yang dialaminya ia tau siapa orang yanng tepat, yang dapat menolongnya pertama kali. Itulah iman.

Saya kira setiap kita pernah mengalami pergumulan, entahkah itu berat ataupun ringan. Bahkan mungkin saat ini kita sedang menggumulkan sesuatu dan kita simpan dalam hati kita. Batin kita tidak tenang selama pergumulan itu terus ada. Fokus kita selalu tercurah kepada pergumulan tersebut. Namun jujur ketika penderitaan atau pergumulan itu menimpa, siapakah orang pertama yang kita cari? Kepada siapakah kita mempercayakan masalah-masalah itu? Keluargakah? Diri sendiri? Sahabat? Bos kita? Atau nasib dan keberuntungan? Siapakah yang kita andalkan untuk menyelesaikan masalah kita? Saudara, seorang yang beriman akan mendasarkan pertolongannya hanya kepada Allah dengan keyakinan bahwa Tuhan yang telah menyelamatkan kita dari dosa itulah juga yang akan menolong setiap pergumulan kita. Mari kita belajar seperti perempuan Kanaan tersebut; yang lebih memilih untuk berseru kepada Tuhan untuk setiap permasalahannya.