Saturday, July 09, 2011

Eyes Upon God




Fokus terhadap sesuatu hal adalah salah satu syarat dalam sebuah keberhasilan. Seorang Einstein dapat berhasil menemukan teori Relativitas bukan karena ia murid terpandai waktu itu. Bahkan dikatakan bahwa Ia murid terbodoh. Sampai-sampai dikatakan anjing bodoh oleh gurunya. Namun kini ia mampu menjadi seorang ilmuwan yang terkemuka, dimana banyak ilmunya yang dipakai oleh dunia pendidikan saat ini. Ia dapat berhasil karena ia memfokuskan dirinya hanya kepada riset-riset penelitian. Seorang Bill Gates dapat sukses dalam Microsoft-nya karena ia memfokuskan dirinya pada DOS pada awal karirnya tahun 75-an sampai sekarang. Kini tidak ada yang dapat menyaingi microsoft dalam dunia komputer. Kenapa BMW sukses dalam otomotif? Karena sejak awal ia memfokuskan dirinya pada kendaraan otomotif yang nyaman untuk dikendarai. Karena itu ia dapat sukses sampai saat ini. Sebuah sinar laser yang terfokus, dapat memotong sebuah baja setebal apapun. Namun sinar laser yang tersebar, tidak akan berguna sama sekali. Dalam pertandingan-pertandingan olahragapun demikian. Ketika kita fokus melakukan perlombaan-perlombaan itu maka kemungkinan untuk menang akan lebih besar daripada mereka yang tidak fokus. Itulah mengapa pernah ada pelatih sepak bola tidak memperbolehkan para pemainnya bertemu dengan kekasih mereka beberapa hari sebelum pertandingan. Karena takut pemainnya tidak lagi dapat fokus dalam pertandingan itu.

Dari semua contoh yang sudah disebutkan tadi maka jelaslah bahwa pikiran dan hati yang terfokus memiliki kekuatan yang luar biasa. Sebenarnya hal ini juga berlaku kepada setiap anak-anak Tuhan. Seorang anak Tuhan dapat menjadi kuat dan menjadi pemenang jika ia memusatkan pikiran, hati, dan pandangannya kepada sang kepala, yaitu Kristus. Tanpa Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, sama seperti tubuh yang tanpa kepala tidak bisa berbuat apa-apa.

Kira-kira inilah yang disuarakan oleh Salomo dalam perikop ini. Salomo sebagai raja dari Israel mengajak orang-orang Israel untuk terus memfokuskan pandangannya kepada Tuhan. Menariknya ajakan ini diungkapkan Salomo pada saat umat Israel mengalami masa-masa jaya. Selama kerajaan Israel berdiri sejak kurang lebih tahun 1300SM sampai saat ini belum pernah Israel mengalami kejayaan seperti zaman salomo, sampai-sampai bangsa-bangsa lain mengakuinya dan belajar kepada raja Salomo yang terkenal begitu termasyur dan penuh hikmat. Salomo menyadari bahwa manusia sering melupakan Tuhan ketika menjalani masa-masa jaya. Pernah ada seorang raja Israel yang cukup berjaya juga yang bernama Yerobeam. Dia adalah raja yang hampir menyamai masa-masa keemasan dari raja Salomo (dalam hal pembangunan dan politik). Apa yang terjadi pada waktu itu? Yang terjadi adalah mereka melupakan Tuhan. Mereka lupa bahwa berkat-berkat itu datangnya dari Tuhan. Bahkan parahnya mereka menyembah dewa-dewa lain yang lebih memuaskan hati mereka. Keluarga saya juga pernah mengalami demikian. Ketika karir pekerjaan mulai menanjak, usaha berjalan dengan baik, dan semua tampak lancar-lancar, beberapa saudara saya mulai melupakan Tuhan. Mereka tidak lagi ke gereja, ada juga yang kegereja karena rutinitas, dan ada juga yang berkata “Buat apa bersaat teduh, saya merasa ga dapat sesuatu yang berarti di dalamnya.” Namun perlahan demi perlahan masalah-masalah mulai berdatangan. Usaha ditipu orang, bisnis mengalami kegagalan, pertengkaran rumah tangga, perceraian, kena sakit penyakit dsb. Semua itu terjadi dalam waktu yang berdekatan. Namun menariknya justru pada saat-saat seperti itulah mereka merasakan bahwa mereka memerlukan Tuhan. Itulah kecenderungan manusia, pada saat jaya akan mudah untuk melupakan Tuhan yang memberikan kejayaan itu. Salomo menyadari hal ini karena itu dia menuliskan sebuah mazmur yang mengajak umat untuk mengarahkan dan memfokuskan mata dan hatinya kepada Tuhan.

Alasan mengapa kita harus memfokuskan mata dan hati kita kepada Tuhan cuma satu, yaitu: “Tanpa Tuhan segala sesuatu akan sia-sia.” Dalam perikop yang sudah kita baca ada 3 kali Salomo mengatakan mengenai kesia-siaan.

Pertama, berbicara mengenai masalah pembangunan. Dikatakan “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Waktu itu umat Israel sedang giat-giatnya melakukan pembangunan. Mereka bekerja keras untuk membangun-dan membangun. Tapi bagi Salomo sia-sialah orang membangun jika bukan Tuhan yang membangun. Mungkin Salomo teringat kejadian yang dialami ayahnya Daud. Ketika Daud hendak membangun rumah Tuhan untuk Tuhan, namun Tuhan berkata bahwa bukan dia yang akan membangunnya, melainkan anaknya. Sebenarnya kalau Daud mau bisa saja dia tetap membangun rumah Tuhan, tapi Daud sadar jika tanpa perkenanan Tuhan buat apa dia membangun, semua akan sia-sia.

Kedua, Salomo melanjutkan “jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Bukan hanya masalah pembangunan, namun keamanan pun sia-sia jika bukan Tuhan yang menjaga. Tidak ada pertahanan yang dapat terlalu ketat di dunia ini yang tidak bisa dibobol. Kejatuhan gedung WTC kurang lebih 10 tahun yang lalu menyatakan hal ini. Dalam sejarah yunani kuno terdapat cerita tentang kuda troya. Dikisahkan waktu itu negeri Yunani berperang dengan orang-orang dari Troya. Sudah hampir 10 tahun mereka berperang tetapi bangsa Yunani tidak bisa menembus benteng Troya karena pertahanannya terlalu ketat. Orang-orang Yunani menjadi putus asa. Sampai suatu saat, orang-orang Yunani membuat sedikit tipu muslihat. Mereka menyatakan untuk mundur berperang. Pasukan-pasukannya ditarik dan kapal-kapal mereka disembunyikan dibalik teluk. Kemudian mereka memberikan sebuah patung kuda dari kayu yang mahal yang besar sekali. Kuda itu gagah dan megah. Akhirnya setelah dicek oleh petinggi-petinggi dari Troya, kuda itu dianggap aman. Dan akhirnya masuklah kuda raksasa itu ke kota Troya. Namun betapa terkejutnya dia karena ternyata itu hanyalah taktik. Para prajurit Yunani pada besembunyi di balik kuda raksasa itu. Dan pada malam hari mereka keluar dan akhirnya mereka merebut kota Troya yang terkenal kuat itu. Tidak ada satu pertahanan yang dibuat manusia yang terlalu kuat untuk dipertahankan. Karena itu benarlah yang dikatakan Salomo “Jika bukan Tuhan yang mengawal kota, maka sia-sialah semuanya”

Ketiga, Salomo mengatakan “sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah.” Kehidupan kita semakin hari tambah sibuk. Tuntutan semakin bertambah. Kebutuhanpun semakin lama semakin meningkat. Sementara harga-harga barang semakin melangit, dan pendapatan kita tetap-tetap saja. Hal itu membuat kita mau tidak mau harus bekerja keras. Kita sibuk meluangkan waktu kita seharian dikantor atau dikuliah kita. Kita berusaha belajar sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Kita berusaha untuk bekerja segiat-giatnya, kalau perlu sampai lembur untuk menghasilkan uang untuk masa depan kita. Akhirnya separuh lebih waktu kita kita pusatkan untuk mencari nafkah dan untuk menata masa depan. Akan tetapi Salomo mengatakan bahwa sia-sialah semua itu....sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-2 sampai jauh malam, hanya untuk sesuap nasi yang diperoleh dengan susah payah.

Salomo sama sekali tidak mengajarkan kita untuk tidak usah bekerja keras / kerja keras itu tidak penting. Tidak! Tapi ia mengajarkan bahwa kerja keras tanpa menyertakan Tuhan dalam setiap pekerjaannya maka itulah yang sia-sia. Tuhan menginginkan kita untuk bekerja dan berupaya. Ia tidak mau kita asal bergantung kepada Tuhan tanpa ada upaya sama sekali. Sama seperti seorang yang saya kenal; setelah lulus dari kuliahnya ia tidak pusing mencari pekerja. Kerjanya cuma bersantai di rumah. Dan ketika ditegur orang tuanya ia berkata demikian “ma, FT berkata bahwa burung-burung saja dipelihara, apalagi kita.” Terus mamanya berkata “Burung-burung saja berusaha membentuk sarangnya, mengapa kamu bermalas-malasan.” Bukan sikap seperti itu yang diinginkan Tuhan. Bukan sikap ini yang disampaikan Salomo. Tapi yang ingin disampaikan ialah mari bekerja keras dan sertakan Tuhan dalam setiap tindakanmu. Tanpa Tuhan, segala jerih payahmu akan menjadi sia-sia.
Kalau kita baca ayat 3-5 sebenarnya Salomo juga ingin berkata bahwa memiliki keturunan pun sebenarnya adalah anugerah dan pemberian dari Tuhan. Manusia mungkin dapat berusaha semaksimalnya untuk menghasilkan keturunan. Ada orang kaya yang ingin memiliki anak sampai pergi kedokter dari berbagai negara untuk minum berbagai macam obat hanya supaya mendapatkan seorang anak. Tapi jika bukan Tuhan yang memberi maka sia-sialah usaha kita.

Segala sesuatu merupakan pemberian dari Tuhan. Karena itu Salomo mengajak seluruh umat Israel untuk mengarahkan mata dan hatinya kepada Kristus. Fokuslah kepada Tuhan yang adalah sang pemberi berkat itu. Karena tanpa Tuhan segala sesuatu hanya akan menjadi sia-sia dan tak berarti.

Sebenarnya inti dari mazmur 127 ini terdapat pada ayat 2b yang mengatakan “Sebab ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Apa maksudnya? Ungkapan ini seakan-akan ingin mengatakan bahwa kita tidak usah berbuat apa-apa. Tidur saja. Nanti Tuhan yang akan mengerjakan semua untuk kita. Akan tetapi tentunya bukan hal itu yang dimaksudkan. Setelah saya mempelajarinya saya menemukan bahwa Tidur itu merupakan tanda bahwa kita tidak khawatir melainkan percaya akan rencana Tuhan sehingga kita bisa dengan tenang beristirahat. Orang yang penuh dengan kekhwatiran adalah orang yang kurang percaya dan berserah kepada Tuhan. Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang susah tidur. Sebaliknya orang yang mudah tidur adalah orang yang dapat mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak khawatir dan tenang, karena ia tau hidupnya aman dalam tangan Tuhan. Karena itu ketika salomo mengatakan “Tuhan memberikan kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”, dengan kata lain Salomo hendak berkata “segala berkat Tuhan justru kita dapatkan ketika kita berserah dan mempercayakan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan.” Karena itu mari fokuskan hati dan pikiran kita kepada Tuhan, dan belajarlah untuk berserah kepada-Nya.

Kemarin waktu mempersiapkan retret remaja saya sekali diingatkan akan sebuah pelajaran yang berharga. Pertama saya kira mengurusi retret ini tidak terlalu sukar. Ternyata saya keliru. Karena ternyata mengurus retret remaja yunior (anak-anak SMP) seperti ini pembinanya harus terjun disetiap bidang. Dari buat poster, urus hadiah, urus pembayaran, publikasi, atur jadwal, atur kamar, atur transport, semuanya saya harus turun tangan. Kalau dipemuda ada rekan-rekan panitia yang bisa menjalankan tugasnya masing-masing, dan kalau sekolah minggu ada banyak guru-guru yang bisa jadi panitia, tapi di remaja saya harus banyak terjun sendiri. Untungnya ada beberapa pendamping dan beberapa rekan-rekan kelas 3 smu yang naik ke pemuda mau meluangkan waktunya untuk membantu. Kesibukan itu tambah hebat ketika satu minggu sebelum retret remaja dimulai setiap majelis dan Ht harus mengikuti sidang raya dan retret HT yang juga sangat sibuk, karena sebagai tuan rumah kita harus melayani mereka. Sampai-sampai 2 minggu sebelum retret remaja dilangsungkan tidur saya jadi tidak tenang. Setiap kali bangun tidur yang pertama dipikirkan “apa yang kurang...apa yang belum saya siapkan...apa yang belum saya kerjakan...” Hampir selama 2 minggu demikian. Namun bukan kesibukan saya yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan justru pada saat-saat sibuk seperti itulah saya lupa menenangkan diri dan dengan hati yang berserah berdoa kepada Tuhan untuk menyerahkan retret tersebut. Setiap hari bekerja dan bekerja tapi lupa berserah. Senin pagi waktu kami mau berangkat, kami sibuk mengatur transportasi mereka. Setelah atur anak-anak ke dalam mobil tiba-tiba salah satu rekan mengingatkan saya “ko Fong, kita belum berdoa lo...” Saya cukup terhentak, dan saya mengatakan dalam hati, nanti malam saya dan rekan-rekan pendamping harus berdoa bersama menyerahkan retret ini. Tapi apa yang terjadi, malam harinya kita briefing trus karena satu dan lain sebab, akhirnya sekali lagi kita lupa berdoa karena mengurusi urusan yang belum selesai. Besok siangnya ketika seharusnya acara game yang saya harapkan bisa membuat anak-anak semakin akrab dan kompak, serta semakin bersukacita, ternyata gagal karena hari itu turun hujan. Beberapa anak-anak menjadi kecewa, dan kami tidak bisa melanjutkan permainan itu karena takut mereka akan menjadi sakit. Pada saat itulah ada suara dalam batin saya “Fong....kamu kurang berserah....kamu terlalu mengandalkan kekuatan sendiri..kamu kurang berserah..” Memang saya berdoa, tapi tidak dengan hati yang sungguh berserah kepada Tuhan. Sore itu saya masuk kamar saya berdoa dan berserah kepada Tuhan, dan malamnya saya mengajak rekan-rekan pendamping untuk berdoa bersama-sama menyerahkan sisa retret kami. Malam itu saya yakin sekali bahwa besok Tuhan akan menyiapkan yang terbaik. Tidak ada keraguan sama sekali dalam hati saya, bahkan sekalipun hujan akan turun, saya percaya Tuhan punya rencana yang lebih indah dari apa yang saya pikirkan. Keesokan harinya dari pagi sampai siang cerah sekali. Tapi jam 2 pada saat kita sedang bermain tiba-tiba awan mendung. Beberapa tetes air mulai turun. Ada beberapa panitia yang bertanya kepada saya: Bagaimana, kita mau lanjut ga, kayaknya hujan bakal deras. Saya cuma menjawab: tenang aja, gak akan hujan. Dengan tenang saya menjawab itu karena hati ini sudah berserah dan yakin bahwa Tuhan akan memberi yang paling tepat untuk kita. Akhirnya puji Tuhan, dari jam 12 sampai jam 5 selama anak-anak bermain games outbond diluar hujan tidak turun. Pas jam 5 ketika acara sudah selesai dan sayapun sudah masuk kamar dan bersih-2, saya mendengar beberapa anak-anak remaja di luar berteriak “oiii hujan...hujan....” Hari itu saya bersyukur sekali. Saya diingatkan sekali lagi bahwa tanpa mata dan hati yang tertuju sepenuhnya kepada Tuhan, segala sesuatu yang kita buat akan sia-sia.

Bagaimana dengan saudara sekalian. Adakah dalam hidupmu engkau sudah mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan? Sudahkah engkau melibatkan Tuhan dalam pekerjaanmu? Pernahkah engkau bertanya apakah yang engkau lakukan saat ini sudah benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan? Dan sudahkah kita belajar menyerahkan seluruh aspek hidup kita baik study, keluarga, pekerjaan, masa depan kita ke dalam tangan Tuhan? Atau jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan rencana dan cara-cara kita sehingga kita akhirnya melupakan Tuhan? Ingatlah bahwa di luar Tuhan semuanya akan sia-sia. Jika memakai bahasa Salomo “Jikalau bukan Tuhan yang mengerjakannya, sia-sialah studimu, usahamu, pekerjaanmu, jerih lelahmu, dan apapun juga yang kau lakukan.” Karena itu mari arahkan hati dan pandangan kita kepada Tuhan. Carilah kehendak-Nya setiap hari. Dan jangan pernah hidup jauh dari kebenaran Firman Tuhan. Kiranya hidup kita semua tidak akan menjadi sia-sia, karena kita sudah mengandalkan Tuhan dalam setiap upaya kita. Amin

Friday, July 01, 2011

Be Influential




Beberapa bulan yang lalu setelah pulang dari gereja saya hendak menonton televisi yang telah disarangi laba-laba (lebay dikit ) karena jarang di buka. Ada info apa? Perkembangan apa? Berita skandal apa lagi? Bencana apa lagi? Dan kabar kriminal apa lagi yang sedang terjadi di permukaan bumi akhir-akhir ini? Hal-hal itulah yang ingin saya ketahui.

Karena tidak ada remote controlnya, lantas saya duduk didepan televisi, mengacungkan jari telunjuk dan menekan tombol on. Perlahan-lahan kotak informasi tersebut mulai memancarkan cahayanya, dan..... “waaaaawwwwww” tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris yang sangat mengejutkan dendang telingaku. Rasa penasaran membuat saya menunggu gambar semakin jelas untuk mengetahui apa yang terjadi. “Ohh.. Ternyata acara Operah Winfrey, tapi apa yang mereka teriakan ya?” pikirku. Setelah ditampilkan tokoh yang sedang diwawancarai barulah saya sadar mengapa mereka semua berteriak. Bagaimana tidak, yang menjadi bintang dalam acara talk show itu adalah 3 aktor yang sedang naik daun. Beberapa tahun belakangan ini mereka banyak membintangi film layar lebar mengenai kisah cinta antara vampire dan manusia, yang ternyatajab ketenarannya lewat film yang berjudulkan Twilight. Tiga aktor itu tak lain bernama Edward Cullen, Jack, dan Bella; begitulah sang sutradara menamainya. Ternyata ratusan penonton yang hadir pada hari itu adalah para penggemar film dan tokoh-tokoh tersebut.

Merasa tertarik saya terus menyaksikan wawancara yang dilontarkan kepada mereka. Ditanya dari a-z oleh pembawa acara agar penggemarnya dapat terpuaskan. Penggemarnya pun tak henti berteriak histeris. Sampai suatu saat, sebelum acara itu berakhir, terlontarlah sebuah statement yang mengejutkan saya. Ibu Winfrey mengambil kertas yang berisi data-data dan lantas mengungkapkan bahwa Edward Cullent yang merupakan aktor utama dalam film drama romantik tersebut ternyata masuk dalam 100 orang berpengaruh di dunia menurut versi sebuah majalah terkenal di sana. Lebih mengejutkan lagi, pengaruhnya dikatakan lebih besar daripada orang nomor 1 di Amerika Barack Obama. “Hah....Bagaimana mungkin?” pikir saya.
“Pengaruh macam apa yang diberikan olehnya? Keputusan apa yang pernah di buatnya? Sebuah keputusan Obama bisa mengatur perputaran roda dunia. Tapi kalau dia? Ckckckckc.....Saya kira majalah itu berlebihan. Jangan-jangan penerbit majalah tersebut merupakan salah satu fans berat vampire ganteng itu” pikirku sinis.
Karena tertarik maka saya memutuskan untuk mengikuti sampai acara itu berakhir. Berharap akan ada penjelasan dari mereka tentang hal ini. Menunggu dan menunggu, akhirnya saya menemukan sebuah jawaban. Jawaban itu tertangkap ketika beberapa penggemar yang hadir di sana diijinkan untuk menyampaikan kesaksian tentang film itu. Kalau bahasa Kristennya ‘berkat apa yang didapat setelah menonton film tersebut.’ Ternyata pengaruhnya tersimpul dalam kesaksian seperti demikian “Setelah menonton film tersebut, hidup saya berubah. Saya belajar bagaimana untuk menjadi seorang pria yang berkarakter kuat, tenang, dan cool. Dan sayapun belajar untuk dapat setia mengasihi kekasih saya walau apa yang terjadi. dsb” Kira-kira begitulah kesaksian mereka. Hidup mereka berubah setelah melihat sosok yang diperankan oleh aktor dan artis dalam film tersebut. Padahal sesungguhnya mereka tau bahwa sifat asli para pemain tersebut tidaklah demikian. Merekapun tau itu hanya film. Tapi ide yang disampaikan melalui film tersebut dapat menginspirasi mereka untuk mengambil sikap dalam bertindak.

Itulah kekuatan dari sebuah keteladanan. Keteladanan hidup adalah perihal paling efektif untuk mengubah orang disekitar kita. Walau tanpa kata-kata yang indah dan persuasif, namun jika keteladanan hidup kita baik bagi sekitar kita, makan sangat mungkin orang lain bisa meniru teladan dari kita.
Saya kira penginjilan yang paling efektif adalah melalui keteladanan hidup. Khotbah yang paling kuatpun adalah khotbah yang diikuti teladan hidup sang pengkhotbah. Karena itu kepada Timotius, Timotius berkata “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1Tim 4:12).

Saat ini saya sedang memikirkan bagaimana keteladanan hidup itu dapat memberkati orang lain secara khusus anak-anak remaja (smp) yang sedang saya bina. Dalam blueprint saya, saya ingin membuat berbagai komunitas seperti kelompok futsal, pembaca novel, games, penulis, bbm, multi media, dsb. Komunitas ini dibuat dengan tujuan agar saya dapat masuk dalam dunia mereka dan dapat menjadi sahabat bagi mereka. Tentu saja kita harus melatih skill dalam tiap-tiap komunitas itu agar anak-anak mau belajar dari kita; sembari kita menunjukkan bagaimana semestinya seorang Kristen dalam bermain sepakbola, bagaimana orang Kristen menanggapi sebuah novel, dan bagaimana seorang Kristen semestinya berkata-kata dan bersikap dalam bermain games dsb. Selain skill dan perilaku Kristen, tentu saja kita harus menunjukkan teladan kasih kepada orang-orang yang ada dalam komunitas tersebut. Buat apa ada komunitas namun tidak ada pernyataan kasih Kristus didalamnya. Ketika hal itu terjadi saya kira akan mudah jika kita memberitakan Kristus kepada orang-orang yang belum percaya. Kita akan mendapatkan respek, mereka akan menjadi lebih terbuka, dan telinga mereka akan mendengarkan setiap apa yang kita sampaikan.

Saya baru mencoba langkah ini dalam 6 bulan dan hasilnya mulai tampak. Karena itu saya ingin membagikan metode sederhana ini kepada teman-teman seiman. Mari kita ikut serta dalam berbagai komunitas. Dan jadilah teladan ditengah-tengah komunitas itu, sehingga kasih Kristus dapat dengan efektif diberitakan kepada banyak orang.

Saturday, June 18, 2011

TUHAN ITU BAIK




Di SAAT tempat saya belajar teologi, saya memiliki beberapa kawan yang cukup dekat. Salah satunya bernama Paul. Sejak awal bertemu dia kesan pertama yang didapatkan ialah HUMBLE. Ia seorang yang begitu rendah hati. Orangnya sabar, jarang marah, ringan tangan, dan suka mendengarkan keluhan teman-temannya yang penuh dengan masalah. Biasanya saya sering menggoda apa yang menjadi kekurangannya. Paul memiliki rambut yang beti (bener-bener tipis). Acapkali setiap kali lewat didepannya saya sering berteriak “argghh,, help silau-silau”. Atau kadang saya bercanda demikian ketika malam hari “Paul, gelap neh, temenin dong, gua butuh cahaya kepalamu”. Kadang juga saya katakan “Paul, pinjem bentar dong, gua mau becermin neh”. Setiapkali saya menggodanya, ia hanya tersenyum dan tertawa menikmati candaan itu. Ia tidak berdaya untuk membalasnya. Entah terlalu baik atau terlalu polos, sehingga ia tidak bisa memikirkan kata-kata balasan untuk menggoda saya. Sampai saya kasian sama dia dan memberitahukan kekurangan saya yang terletak pada gigi yang artistik (berantakan) dan kadang mulut saya agak monyong. Dia senang sekali dan besoknya ia pun mulai menggoda saya, dan kami akhirnya selalu balas-balasan menggoda acapkali bertemu.

Dari goda menggoda itu ternyata membawa kami kepada tingkat pershabatan yang lebih dalam. Saya sempat ke Jakarta dan menginap dirumahnya. Ia menjemput saya dari rumahnya dengan sepeda motor pinjaman, dan saya duduk dibelakang membawa koper selama kurang lebih 1,5 jam. Semenjak itu kami mulai membicarakan rencana pelayanan kami di kemudian hari. Membagikan outline kehidupan. Saya merencanakan kapan sekolah lagi, 10 tahun depan rencana mau bagaimana, ia juga merencanakan kapan akan menikah, dsb. Kami berbagi visi misi pelayanan kami.

Namun sayang, visi yang direncanakannya ternyata tidak terealisasi. November lalu dia sering mengalami demam yang tinggi. Dan setelah di cek ternyata Paul divonis terkena kanker darah yang mematikan. Saya cukup terkejut ketika mendengar berita itu di Makassar. Tapi apa daya, yang bisa saya lakukan hanya berdoa untuk dirinya. Saya bertanya “Tuhan, kenapa ya, Paul orang yang baik, dia punya hati untuk melayani Tuhan. Khotbahnya pun pernah memberkati banyak orang. Mengapa ia harus tidak berdaya karena kanker ini?” Sesekali mengirimkan pesan untuk menguatkan, sekali-kali menelepon untuk memberi penghiburan. Keadaannya pun makin hari makin memburuk. Ketika balas-membalas mengirim pesan saya pernah bertanya kepada dia “Paul, bagaimana perasaanmu saat ini, tidakkah kamu bertanya kepada Tuhan mengapa ini terjadi terhadap dirimu?” “Apakah kamu kecewa sama Tuhan?” Dan tidak kusangka-sangka jawabannya dia sederhana “Fong, Tuhan itu baik.... Dia terlalu baik buat saya.” Dan saya pun tidak dapat berkata-kata lagi. Beberapa minggu setelah kami bercakap-cakap, akhirnya pada akhir bulan Mei, sahabat saya dipanggil oleh Tuhan.

Terus terenung dalam benak saya perkataan Paul “Tuhan itu baik Fong”. Dia mengatakan bukan dikala ia mau menikah. Ia mengatakan itu bukan saat pelayanannya dipakai secara luar biasa. Ia mengatakan itu juga bukan ketika berkat-berkat materi menghampiri dia. Tapi ia mengatakan hal itu justru ketika ia hampir selesai mengerjakan skripsi, dan dengan semangat membara hendak melayani Tuhan, namun harus berdiam karena terserang kanker. Apa yang dipikirkannya tentang Tuhan? Setelah saya berpikir-dan berpikir, saya baru sadar bahwa Paul telah mengenal Tuhannya dengan baik. Dia kenal jelas siapa Tuhan, dan ia tahu Bapa yang ia miliki tidak pernah salah bekarya dalam kehidupannya. Karena itu ia katakan “Tuhan itu baik Fong.”

Saya kira iman ini juga yang dimiliki oleh Ayub. Kita tahu bahwa Ayub adalah salah seorang manusia berdosa yang mengalami penderitaan paling parah, baik dalam Alkitab, bahkan mungkin di sepanjang zaman. Dalam waktu sekejap ia kehilangan kekayaan, kesehatan, bahkan semua keluarganya. Kesepuluh anaknya mati, dan istrinyapun meninggalkannya. Adakah penderitaan yang begitu hebat yang dialami oleh manusia berdosa? Hampir-hampir tidak ada. Saya kira Ayubpun bertanya-tanya kepada Tuhan. Mengingat bagi orang timur tengah pada waktu itu, bahwa kehilangan harta, tertimpa bencana, dan mati muda itu merupakan kutukan Tuhan atas dosa seseorang. Ironinya Ayub tertimpa ketiga-tiganya. Ia kehilangan harta, ia tertimpa bencana, bahkan anak-anaknya mati muda. Saya kira Ayub segera mengintropeksi dirinya waktu itu apakah ada dosa yang ia sedang lakukan? Atau jangan-jangan ada dosa yang tidak ia sadari ia sudah lakukan? Tapi jika ada, ia sudah sering memberikan korban bagi Tuhan untuk dosa-dosa yang mungkin tidak ia ketahui. Dan setelah merenung lebih lanjut, akhirnya Ayub menemukan bahwa dirinya tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakitkan hati Tuhan.

Di saat seperti itu bukankah semestinya Ayub dapat bertanya kepada Tuhan? Ya jelas. Sama seperti seorang anak yang bingung dapat bertanya kepada ayahnya apa yang terjadi. Bahkan semestinya wajar jika Ayubpun menjadi kecewa sama Tuhan. Tapi sangat menarik, bahwa ucapan yang diberikannya di ayat 21 “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Ayub seakan berkata “apapun yang terjadi Tuhan tetap baik, karena itu aku memuji-Nya.” Sementara itu respon istrinya berbeda. Ia marah sama Tuhan dan kecewa lantas menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan. Istri Ayub hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tapi tidak mau menerima jika ia harus menghadapi kesusahan dan penderitaan. Karena itu ia mengutuki Tuhan.

Kemampuan Ayub untuk tetap memuji Tuhan dalam penderitaan yang dialaminya tidak lain karena ia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Ia dengan jelas mengenal siapa Tuhan yang ia sembah. Di ayat pertama narator menjelaskan “Bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur, ia hidup takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Pengenalan akan Tuhanlah yang memampukannya untuk memuji Tuhan bahkan di saat keadaan tersulit sekalipun.

Acapkali beberapa orang Kristen memilih untuk merespon kesusahan, pengujian dan penderitaan yang ia alami seperti istri Ayub. Mereka kecewa sama Tuhan, marah, bahkan mundur untuk menjadi orang kristen. Mungkin ada juga yang tidak seekstrim itu. Mereka tidak sampai mengutuki Tuhan, mereka masih pergi ke gereja, tapi sudah tidak ada lagi hati untuk Tuhan, tidak mau pelayanan, juga tidak mau bersaat teduh dan melakukan doa pribadi sebagai bukti kekecewaan mereka. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang belum mengenal siapa Tuhan seutuhnya. Karena itu mereka kecewa, mereka mundur dari pelayanan, dan perlahan mulai meninggalkan Tuhan.

Namun orang yang sungguh mengenal Tuhan, ia akan tetap melihat kebaikan Tuhan walaupun ia harus melewati lembah yang kelam, dan walau ada perkara berat (entah kesusahan, penderitaan,dsb) yang menimpa dirinya. Ia tetap dapat berkata seperti Ayub “Terpujilah nama Tuhan.” Dan ia akan tetap dapat berkata seperti kawan saya Paul “Tuhan itu baik”.

Tipe yang manakah diri anda ketika meresponi penderitaan? Tipe istri Ayub...atau tipe Ayub? Yang mudah kecewa dan ngambek sama Tuhan, atau yang tetap dapat melihat kebaikan Tuhan di dalam semua kesusahan yang engkau hadapi. Milikilah pengenalan akan Tuhan yang lebih intim lagi, supaya kita tetap dapat tersenyum menghadapi masa yang paling susah sekalipun, karena kita tau bahwa ada Tuhan yang begitu baik ada bersama dengan kita.

Saturday, June 11, 2011

Turunnya Roh Kudus




KIS 2:1-2
1 ¶ Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;



Hari ini kita bersama memperingati akan hari turunnya Roh Kudus. Sebuah 'era' baru setelah zaman Allah Bapa, Allah Anak, namun semua terangkum dalam satu era, era milik Tuhan, yang tidak pernah berhenti memperhatikan manusia sejak mulanya.

Apa yang terjadi pada waktu itu? Di ayat 2 di katakan tiba-tiba "turunlah dari langit...." Roh Kudus datang dari atas. Yaitu dari Bapa yang di Surga yang mencurahkan Rohnya kepada kita. Roh Kudus tidak didapat dari dunia, bukan karena manusia melakukan kebaikan ini itu, apalagi 'training' ini dan itu untuk mendapatkannya. Jelas itu konsep yang keliru. RK turun dari langit sebagai anugerah yang hanya Tuhan yang dapat memberikan dan membagikannya.

Kepada siapa? Yaitu kepada "orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat." Mengapa RK tidak turun di atas bait Allah yang begitu kultus, dimana Tuhan mengatakan di sanalah Ia hadir? Atau mengapa RK tidak turun di sinagog-2 tertentu? Tapi Alkitab hanya mengatakan di suatu tempat. Dengan kata lain RK tidak selalu hadir di tempat-tempat religi. Karena itu jelas keliru jika kita mengatakan bahwa RK ada di gereja ini, gerja itu, dsb. RK tidak terikat oleh lembaga dan tidak dapat diteritorikan.
Namun RK turun ke atas setiap orang yang percaya yang senantiasa bersekutu dalam iman dan doa, serta perenungan akan Firmann Tuhan. Itulah awal mula Roh Kudus turun. Yaitu ketika mereka berkumpul dan bersekutu bersama. Mereka bukanlah orang-orang yang hadir hanya sekedar rutinitas. Tapi mereka adalah orang-orang yang sungguh percaya akan janji Tuhan, percaya akan keselamatan dan karya Tuhan yang ajaib atas dunia ini. Kepada orang-orang percaya seperti inilah RK hadir menghampiri kita.
Krena itu orang yang memiliki RK bukan ditentukan oleh seberapa jauh ia bisa berbahasa roh, seberapa jauh ia bisa merasa merinding, namun seberapa jauh ia percaya dan menghasilkan buah-buah dari iman kepercayaannya itu.
TUHAN MEMBERKATI..... SELAMAT HARI PENTAKOSTA

Wednesday, June 01, 2011

KENAIKAN KRISTUS (Kisah rasul 1:9-14)




Kis 1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Hari kenaikan Kristus merupakan salah satu hari raya orang Kristen yang paling sering ‘terabaikan’. Ketika merayakan paskah biasanya gereja-gereja mengadakan KKR, kantata paskah, kebaktian subuh, yang didahului oleh doa puasa; bahkan di beberapa negara perayaan paskah dihiasi oleh banyak telur-telur paskah, coklat, dsb. Sedangkan perayaan natal dirayakan lebih meriah dan lebih marak lagi dari perayaan paskah. Pohon natal ditegakkan, lampu-lampu menyala berwarna-warni, lilin-lilin dinyalakan, aneka drama, kantata, paduan suara, dsb, menghiasi suasana natal. Tak heran banyak orang menanti-nantikan momen natal. Namun apa yang terjadi pada saat hari kenaikan? Tidak ada apa-apa. Hanya ibadah sesekali yang dihadiri oleh lebih sedikit jemaat dari kebaktian pada umumnya. Paling hanya diselingin paduan suara-paduan suara. Seakan-akan tidak ada yang penting di hari tersebut. Karena itu banyak orang yang tidak memaknai hari kenaikan Kristus, dan tidak mengambil sikap apa-apa ketika merayakannya.

Padahal kenaikan Kristus adalah sesuatu yang sangat penting. Kenaikan Kristus menandakan kemahakuasaan Kristus. Kenaikan Kristus menunjukkan akan keilahian-Nya. Serta kenaikan Kristus itu memberikan pengharapan kepada umat-Nya, dimana Ia akan datang kembali dengan kuasa-Nya dan menyelamatkan umat pilihan-Nya. Hal inilah yang membuat murid-murid terkagum-kagum dan tidak dapat melepaskan pandangannya kelangit.

Sudah semestinya kita mengambil sikap tertentu ketika mengingat akan kenaikan Tuhan. Karena itu mari kita melihat teladan murid-murid Yesus waktu itu. Setelah Yesus terangkat ke Surga, mereka segera kembali ke Yerusalem dari bukit zaitun dan masuk ke rumah yang mereka tumpangi. Apa yang mereka lakukan? Di rumah itu dikatakan mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Mereka bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan. Dalam masa penantian itu mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tidak berguna. Tapi mereka mengisi waktu dengan hidup dalam Firman Tuhan, merenungkannya, serta membagikannya kepada orang lain. Dikatakan juga dengan sehati, yang menggambarkan bahwa ada kerendahan hati antara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikiran dan kehendak. Yang satu tidak merasa lebih baik dari yang lain....dan tidak ada kesombongan di dalam komunitas itu. Saya membayangkan mereka saling mendengarkan, saling berhati-hati agar tidak berbicara secara semborono, dan saling menjaga perasaan guna mencapai satu tujuan yaitu menjalankan kehendak Tuhan. Dan terakhir mereka juga dikatakan berdoa bersama-sama. Mereka berdoa bersama untuk mencari kehendak Tuhan, sekaligus menyatakan bahwa mereka sangat bergantung kepada Tuhan untuk menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Saya kira berdoa bersama merupakan ciri khas jemaat mula-mula pada waktu itu. Dalam kesemuanya ini murid-murid mempersembahkan diri mereka untuk menyembah Tuhan.

Sikap-sikap inilah yang mereka (para murid) lakukan ketika mengenang akan kenaikan Kristus. Saya kira kitapun mestinya menghargai hari kenaikan Kristus dengan cara demikian. Hari kenaikan Kristus mengingatkan kita akan kuasa Allah yang berdaulat, sekaligus memberikan pengharapan dimana Ia akan datang kembali dengan cara yang demikian. Karena itu selama masa penantian dalam dunia ini, mari kitapun bertekun dalam mempelajari, merenungkan serta membagi-bagikan firman itu kepada orang sekitar kita. Usahakanlah kesehatian diantara anak-anak Tuhan. Jauhkanlah prasangka-prasangka negatif, sikap angkuh, menganggap remeh orang lain, dan karakter-karakter negatif lainnya. Milikilah hati yang mau diintropeksi dan rendah hati untuk berubah guna mencapai kesehatian dengan sesama kita. Dan berdoalah untuk mencari kehendak-Nya. Dan biarkan Tuhan yang berdaulat itu yang akan memimpin kehidupanmu. Biarlah dengan sikap-sikap yang demikian kita dapat semakin memuliakan Tuhan kita yang naik ke Surga itu di dunia ini. Selamat merayakan hari kenaikan Kristus.