Wednesday, November 02, 2011

Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #2




Dalam perikop yang kita baca, Marta juga merupakan seorang yang terjebak dalam sebuah budaya yang begitu menyibukkan dirinya. Pada waktu itu merupakan zaman patrialis dimana wanita dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Sudah merupakan tugas dan kewajiban wanita untuk melakukan pekerjaan rumah, bersih-bersih, menghidangkan makanan, melayani tamu yang datang, dsb. Dalam perikop ini diceritakan Yesus sendiri yang datang mengunjungi rumah Marta dan Maria. Ini bukan tamu biasa, melainkan Yesus sendiri. Apalagi dalam perikop ini Yesus namanya sudah tersiar dimana-mana sebagai seorang nabi, seorang imam, seorang raja, dsb. Yesus sudah terkenal karena begitu banyak mujizat dan penyembuhan yang dilakukannya. Dan bagi orang Israel, seorang nabi yang berkuasa itu jauh lebih berharga daripada seorang raja. Nah sekarang bayangkan bahwa Yesus yang begitu popular itu kemudian datang ke sebuah kampung kecil dimana Marta dan Maria tinggal. Saya kira pasti seluruh kampung menjadi heboh, bahkan sampai kampung-kampung tetanggapun ikut menjadi heboh. Dan ketika Yesus mampir kerumah marta, saya kira seluruh kampung juga datang kesekitar rumah itu untuk melihat sosok Yesus. Beberapa petinggi kampung itu mungkin ikut masuk ke dalam rumah Marta.
Hal inilah yang kemudian membuat Marta kalang kibut dan sibuk mempersiapkan pelayanan yang terbaik untuk tamu-tamu agung. Dia harus menyiapkan baki untuk mencuci kaki Yesus dan murid-murid-Nya; Ia harus menghidangkan makanan dan minuman untuk semua tamu yang hadir; ia harus membersihkan segala sesuatu; mencuci piring yang kotor untuk tamu-tamu berikutnya; dsb. Ia terjebak dalam kesibukkan yang memang sudah semestinya pada budaya waktu itu.

Sikap yang dilakukan Marta ini seharusnya mendapatkan respek dari banyak orang. Ia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Dan saya membayangkan orang-orang yang hadir dirumahnya waktu itu juga memberikan respek itu akan kerja kerasnya. Tapi berbeda dengan Yesus. Yesus malah mengritisi kesibukan Marta. Ini terlihat ketika Marta menjadi jengkel melihat adiknya Maria yang enak-enakkan duduk bersama para tamu mendengarkan perkataan Yesus. Karena jengkel ia melaporkan kepada Yesus akan sikap Maria yang tidak mau bersibuk-sibuk membantunya. Tapi bukannya menegur Maria, Yesus malah menegur Marta dengan mengatakan “Marta...marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,....tetapi hanya satu saja yang perlu....” Dengan kata lain Yesus ingin berkata “Marta-marta...engkau terlalu banyak kuatir dan karena itu kamu menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan....tetapi bukan itu yang penting...hanya satu yang diperlukan....”
Seberapa banyak anak-anak Tuhan yang mengalami kekeliruan seperti yang dilakukan oleh Marta? Mereka kuatir akan tuntutan zaman yang semakin hari semakin menggila. Mereka kuatir jika mereka tidak lagi dapat bertahan hidup dalam dunia yang menjalankan hukum rimba dimana-dimana. Dan karena itu banyak orang Kristen yang menyibukkan diri kedalam banyak hal untuk melenyapkan semua kekhawatiran tersebut. Tapi pertanyaanya apakah kesibukkan itu sesuatu yang penting? Atau jangan-jangan kesibukan yang kita anggap penting malah mengorbankan sesuatu yang jauh lebih penting dari itu semua?

Yesus menegur marta, karena kesibukan yang Marta lakukan itu ternyata harus mengorbankan sesuatu yang lebih penting, yaitu hubungan atau relasi dengan Yesus sendiri. Marta sibuk melayani orang banyak, bahkan melalui itu mungkin ia mendapatkan decak kagum dari banyak orang. Tapi ia melupakan sesuatu yang penting dimana Yesus datang ke rumah mereka untuk menjalin relasi dengan mereka. Karena itu Yesus menegur Marta.

Sebaliknya Yesus malah memberikan pujian yang besar kepada Maria. Mengapa? Karena Maria berani mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang berharga. Seperti yang saya katakan tadi, perempuan pada waktu itu adalah orang-orang kelas dua dalam pandangan masyarakat. Ketika ada tamu yang datang mereka harus bekerja dibelakang / didapur, mempersiapkan makanan, membasuh kaki tamu-tamunya, membersihkan rumah, merapikan sandal dsb. Bagi mereka tidak sopan jika ada perempuan yang ikut duduk bersama kumpulan laki-laki di ruang tamu. Karena itu ketika Maria duduk mendengarkan perkataan-perkataan Tuhan, saya kira orang-orang disekelilingnya, bahkan mungkin termasuk murid-murid Yesus mencibir dia, karena dianggap tidak sopan, tidak bertanggung jawab,dsb. Tetapi bagi Yesus berbeda. Bagi Yesus Maria telah memilih bagian yang terbaik dan yang lebih penting dan lebih terutama daripada segala kesibukan Marta. Memang untuk itulah tujuan awal kita diciptakan, yaitu agar kita memiliki relasi yang intim dengan Tuhan.

Kesibukkan memang dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan. Karena acapkali jika kesibukkan kita berlebihan maka kita cenderung akan mengorbankan segala sesuatu termasuk hubungan pribadi dengan Tuhan. Dan karena kesibukan itu juga api rohani kita dapat menjadi padam. Saya ada seorang teman yang dulunya adalah seorang yang aktif dalam pelayanannya, namun kini jarang sekali menunjukkan batang hidungnya di gereja. Paling seminggu sekali itupun kalau ia bisa. Ketika saya ada kesempatan sharing-sharing sama dia, dia berkata demikian “Gak bisa Fong, saya baru berkeluarga, anak saya masih kecil....belum lagi saya baru merintis usaha saya.... dan usaha yang baru saya rintis ini ada banyak sekali masalah...sekarang saya terjerat utang ini dan itu...saya harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan menyelesaikan utang-utang itu. Mana saya sempat ke gereja lagi.” Terus saya berkata kepada dia “Fren, bukannya kalau semakin kamu memiliki masalah dalam kehidupanmu semakin kamu harus mencari dan mengandalkan Tuhan?” Tetapi dia menjawab “Ia sih, tapi saat ini setiap waktu begitu berharga untuk saya lewatkan. Jika saya salah memakai waktu sebentar saja, maka saya akan gagal memenuhi tanggung jawab saya. Karena itu saya ga bisa lagi sering-sering kegereja, apalagi melayani. Fiuhh,....andaikan Tuhan menciptakan waktu lebih dari 24 jam.” Tapi apa yang terjadi setelah itu? Setelah ia mengatakan itu, kurang lebih satu tahun kemudian, usahanya bukan semakin membaik, tetapi semakin berantakan....masalah keluarga juga semakin banyak dan semakin berat. Tapi justru karena itu kini semakin bergantung kepada Tuhan. Ia mulai membaca Alkitab setiap hari, bahkan mulai kembali rajin mengikuti persekutuan dan kebaktian. Iapun mulai menjalin relasi yang erat dengan Tuhan. Ia sadar, bahwa kesibukkan bukannya memberi sukacita dalam kehidupannya, melainkan keberserahan dan kebergantungan kepada Tuhanlah yang membuat hidupnya damai sejahtera.

Sadar atau tidak sadar ada banyak orang Kristen yang terjebak dengan permasalahan yang sama. Mungkin bapak ibu saudara yang ada ditempat ini adalah salah satunya. Kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan kita. Kita terlalu sibuk meniti karir kita. Dan kita terlalu sibuk dengan target-target kita. Namun jika karena kesibukkan itu kita harus mengorbankan banyak hal yang berharga: entah itu relasi kita dengan keluarga, entah itu relasi dengan anak-anak kita, bahkan terlebih relasi kita dengan Tuhan. Tanpa sadar kita mulai meng’allah’kan kesibukan tersebut. Rasanya kalau satu hari tidak sibuk perasaan langsung menjadi resah dan galau. Bahkan dalam dunia pelayananpun demikian. Bisa saja seseorang terjebak dalam kesibukkan melayani, dan dimata orang ia tampak rohani, bahkan ia mendapatkan decak kagum banyak orang. Namun ketika pelayanan itu harus mengorbankan relasi dengan Tuhan, sebenarnya pelayanan itu bukan lagi pelayanan yang berkenan dihadapan Tuhan. Sekali lagi saya katakan bahwa kesibukan itu sendiri tidak salah sama sekali. Namun jika kesibukkan itu harus mengorbankan sesuatu yang berharga, yang penting, dan yang lebih utama, maka kesibukkan itu dapat dianggap sebagai masalah.

Saya pernah mendengar kisah seorang istri yang menuntut cerai sang suami karena kesibukkan suami yang terlalu padat. Sang suaminya marah, karena suami merasa dia melakukan kesibukkan itu semua juga untuk keluarga. Tapi sang istri mengatakan “kalau karena kesibukkan itu kamu harus mengorbankan relasi dengan keluargamu, lebih baik kita cerai saja. Saya tidak menginginkan semua uang dan barang-barang itu, saya cuma ingin hubungan keluarga yang sehat.” Saya kira demikian pula Tuhan. Ia merindukan akan adanya sebuah relasi yang intim. Bukan sekedar kesibukan kita, bukan sekedar pelayanan kita, bukan sekedar uang kita; melainkan sebuah relasi. Itulah yang berharga di mata Tuhan.

Saya suka dengan kisah seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. 'Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?' Tanya si tukang kayu. 'Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi 'to-tak, tok-tak'. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada.'

Saya kira demikian juga ketika kita ingin mendapatkan kehidupan yang berharga, kita harus belajar hening sejenak dari kesibukkan kita, meluangkan waktu bersama dengan Tuhan, menikmati relasi bersama dengan Tuhan, serta berserah kepada Tuhan untuk menolong hidup kita. Sama seperti sebuah kalimat yang indah dalam sebuah sastra tetap membutuhkan beberapa tanda titik untuk mengakhiri setiap kalimat-demi kalimat; demikian juga kehidupan yang indah, yang seimbang, yang berharga, adalah kehidupan yang disertai waktu teduh dan intim bersama dengan Tuhan.
Karena itu mari kita mengalahkan kesibukkan itu dan bukan meng’allah’kannya. Mari kita mengambil waktu hening sejenak bersama Tuhan setiap hari. Karena melalui relasi kita tiap hari bersama Tuhan, maka kesibukkan-kesibukkan itu akan diarahkan kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kesibukkan itu akan menjadi sungguh lebih bermakna. Kalahkan kesibukan dengan mengisi kesibukan itu dengan sesuatu yang berharga.

Mengalahkan Kesibukan (Luk 10:38-42) #1




Kehidupan manusia semakin hari dapat dikatakan semakin sibuk. Apalagi jika kita adalah orang-orang yang tinggal di kota besar yang membutuhkan mobilitas yang tinggi maka kesibukkan itu akan lebih terasa. Ada seorang pengusaha muda yang tinggal di kota metropolitan di Jakarta. Ia masih berusia 30 tahun lebih dan baru saja berkeluarga. Saat ini karir atau usahanya yang dirintis kurang lebih 4 tahun yang lalu mulai menanjak. Istrinyapun baru saja melahirkan seorang buah hati yang sudah mereka nantikan. Tentu saja semua ini membuatnya bahagia. Sekilas berita ini tampak menggembirakan, tapi semua kabar gembira ini tentu saja menuntut waktu lebih untuk disita. Dari pagi ia sudah harus bangun jam 5 pagi untuk sarapan dan bersih-bersih. Pergi kekantor harus berangkat dari jam 6 karena perjalanan kota Jakarta yang begitu macet. Sesampai dikantor ia harus mengerjakan semua dokumen-dokumen, data-data, pesanan pelanggan, serta mempersiapkan strategi-strategi , dsb. Tidak ada waktu bersantai sedikitpun selama ia bekerja. Bahkan waktu makan siang pun dipakai bersamaan dengan meeting untuk memanfaatkan waktu. Ketika karyawannya pulang jam 5 sore, ia masih terus sibuk dengan pekerjaannya, sehingga hampir setiap hari ia dikantor sampai jam 6. Sepulangnya dari kantor terkadang ia harus mengikuti seminar-seminar, dan menghadiri pertemuan-pertemuan dengan kolega bisnisnya. Akhirnya ia pun biasa tiba di rumah pada pukul 10-11 malam. Sampai di rumah bukannya langsung tidur, tetapi ia harus menyelesaikan pr-pr kantor yang harus diselesaikan. Dan iapun mulai tidur pada pukul 12.30. Keesokan harinya begitu lagi, bangun jam 5, dan semua kesibukan yang sama dilakukan sama seperti hari sebelumnya.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak remaja pun juga semakin hari semakin sibuk. Kebetulan saya memegang komisi remaja (anak-anak SMP) jadi saya sedikit banyak tau kondisi mereka. Jika zaman saya remaja dulu kami pulang sekolah biasanya langsung pergi main sama temen-temen sampai sore, paling-paling les/khursus kami hanya 1 kali sampai 2 kali dalam satu minggu. Tapi anak-anak remaja sekarang sangat berbeda. Hampir 50% anak-anak remaja setiap hari mengikuti khursus dari senin sampe sabtu. Bahkan ada yang sampai hari minggu juga masih dipakai untuk khursus. Itupun malamnya masih harus mengerjakan pr sekolah dsb.

Contoh-contoh diatas menunjukkan akan betapa sibuknya jaman yang kita hidupi sekarang ini. Mengapa ini bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena semakin bertambah modernnya zaman yang kita tinggali ini, semakin besar juga tuntutan yang diberikan. Karena itu karyawan-karyawan yang dicari saat ini adalah karyawan yang harus bisa menguasai segala bidang. Bisa menggunakan komputer, bisa membuat laporan keuangan, bisa berbicara dengan fasih, punya penampilan yang menarik, bisa berbahasa inggris, ber-iq cukup baik, dsb. Karena itu banyak orang-orang yang tidak cukup hanya mendapatkan gelar sarjana tetapi mereka juga harus mengikuti berbagai pelatihan untuk pengembangan skill mereka. Anak-anak remajapun demikian. Jika dulu cuma mempelajari 10 mata pelajaran, sekarang anak sd saja bisa mempelajari 14 mata pelajaran. Dari kecil anak-anak sudah dicegokkin bahasa mandarin, bahasa inggris, aritmatika, komputer, teknologi ini, keahlian ini-itu, dsb. Sekali lagi karena zaman semakin moderenlah yang menuntut kita harus serba bisa.

Bukan hanya itu, kitapun saat ini terperangkap dengan situasi yang serba instan. Sekarang orang tidak hanya mencari sesuatu yang berkualitas, tapi juga lebih menekankan sesuatu yang cepat. Karena itu rumah makan yang kita kenal sebagai fast food seperti mcd, kfc, a&w dsb laris manis. Apalagi di kota-kota besar. Orang tidak suka sesuatu yang lama. Kita dituntut untuk melakukan sesuatu dengan cepat. Bahkan di Surabaya ada sebuah gereja yang memberi promosi dispanduknya besar-besar demikian: “Tuhan hadir disini, Gereja 1 jam saja”. Dan gereja-gereja dengan promosi seperti ini laris manis. Semua ini menunjukkan bahwa manusia suka sesuatu yang instan dan cepat. Dan tuntutan-tuntutan untuk bergerak cepat ini jugalah yang membuat kita semakin sibuk.

Akibatnya dari ini semua membuat kita terperangkap dalam sebuah kebudayaan yang membuat diri kita makin sibuk. Dan karena kesibukan ini jugalah kita harus mengorbankan banyak hal, baik waktu, tenaga, relasi, dsb. Sebenarnya menjadi sibuk itu tidak salah dan tidak menjadi masalah, bahkan itu jauh lebih baik daripada orang yang bermalas-malasan. Namun ketika kesibukan itu harus mengorbankan sesuatu yang berharga maka itu menjadi masalah.

Tuesday, October 25, 2011

Bahagia Di Dekat-Nya



Mazmur 84:5 “Berbahagialah orang-orang yang diam dirumah-Mu, yang terus menerus memuji Engkau”

Hal yang paling saya takuti ketika masih kecil adalah saat terjadi mati lampu di malam hari. Acapkali saya meresponinya dengan tangisan ketakutan. Ayah saya yang selalu terbangun karena keras tangisan itu biasanya akan segera menghampiri dan berkata “Tenang, ada papa”, lalu saya akan digiringnya untuk tidur di sampingnya. Anehnya setiap kali saya tidur di dekatnya, perasaan takut itu lenyap. Walau lampu di rumah belum juga menyala, saya tetap dapat tidur dengan nyenyak dalam ketenangan dan kebahagiaan.

Saya kira dalam menjalani kehidupan ini kita juga memerlukan kehadiran Tuhan yang adalah Bapa kita. Itulah yang diungkapkan oleh pemazmur. Mazmur ini merupakan ungkapan yang dinaikkan pemazmur saat melakukan jiarah. Dalam perjalannya ada suatu kerinduan yang sangat besar untuk berada dalam rumah Allah dan menikmati kehadiran-Nya (ay. 2, 3). Dalam Perjanjian Lama, rumah Tuhan (bait Allah) merupakan tempat yang dipilih di mana Tuhan berkenan hadir. Berada dalam hadirat Tuhan itulah yang menguatkannya dalam melakukan perjalanan jiarahnya (ay.6, 8). Dan itulah memberikan kebahagiaan dalam dirinya (ay.5).

Bagaimana dengan kita? Adakah kerinduan akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Dalam ‘jiarah kehidupan’ di dunia ini, kita memerlukan kehadiran Tuhan. Dengan tekun mencari hadirat Tuhan dalam saat teduh, ibadah, persekutuan, dan doa-doa pribadi, kita akan mendapatkan kekuatan dalam menapakkan setiap langkah kaki kita. Kehadiran Tuhan itu jugalah yang akan berbuahkan kebahagiaan sama seperti yang di alami oleh pemazmur.
Kebahagiaan dalam hidup didapatkan pada saat kita berada dalam hadirat Tuhan.

Thursday, October 13, 2011

Doa Yang Berkuasa




Berbicara tentang doa, saya pernah mengalami pengalaman yang unik. Sewaktu saya masih SMP saya bukan orang yang suka berada di gereja, dan tidak suka hal-hal berbau rohani seperti berdoa dan bersaat teduh. Suatu malam pada saat saya sedang asyik telpon dengan teman saya di lantai dua (di ruko), tiba-tiba salah satu pegawai saya berlari ke atas sambil teriak-teriak “nyonya-nyonya, ada kerusuhan.” Waktu itu papa saya sedang keluar, dan itu sekitar pukul 8 malam. Ternyata kerusuhan berasal dari stadion sepakbola yang persis berada di belakang rumah saya. Kerusuhan itu cukup parah sampai polisi harus menembakkan senapannya ke beberapa orang. Saya sama mama saya segera turun kebawah dan bergegas menutup toko kamu. Suara-suara pecahan kaca sudah mulai terdengar. Keadaan semakin parah. Tiba-tiba mama saya berkata “Celaka mobil kita masih di luar”. Waktu itu mobil panther kami baru saja kami beli beberapa minggu. Mama saya tampak panik dan kemudian berkata demikian “de, nanti kamu buka pintu kecil-kecil, mama keluar, trus kamu tutup lagi. Ntar kalo kamu dengar bunyi mobil di stater, cepat buka pintu lebar-lebar kasih mama masuk.” Saya sudah katakan “jangan ma, itu bahaya”. Tapi mama saya bersikeras melakukan rencananya. Akhirnya kami melakukan seperti apa yang mama saya mau. Dia keluar, kami tutup lagi pintunya. Dan ketika mendengar suara mesin mobil dijalankan saya dan pegawai saya langsung bergegas membuka pintu toko kami besar-besar. Taukah apa yang terjadi ketika pintu kami buka lebar-lebar? Para perusuh yang lagi ribut dijalan tiba-tiba semua melihat ke arah toko kami dan berteriak “woooii, ada toko buka woiii..serbuuu...” dan merekapun mulai melemparkan batu-batu kedalam toko kami. Serentak saja saya sama pegawai saya yang ketakutan langsung menutup toko kami. Setelah kami tutup saya tersadar bahwa mama saya masih di luar di dalam mobil. Hari itu kepanikan yang luar biasa melanda saya. Sebagai seorang remaja saya sangat bingung akan apa yang harus saya lakukan. Mau buka tokonya percuma, sama saja kita sekeluarga akan hancur, tapi kalau tidak dibuka bagaimana dengan mama saya. Akhirnya saya benar-benar terpojok. Badan bisa gemetar waktu itu. Gak tau apa yang diperbuat, saya berlari ke atas loteng lantai dua untuk melihat bagaimana keadaan mama saya. Ketika berlari itu tiba-tiba saya berinisiatif berteriak “Tuhan tolong...Tuhan tolong...” berkali-kali. Sampai di atas saya terkejut karena mobil saya di luar sudah tidak ada. Sayapun semakin lemas gak karuan, gak tau apa yang bisa kuperbuat, saya berlari lagi ke bawah sambil berteriak lagi “Tuhan tolong...Tuhan tolongg...”. Sampai bawah saya terkejut ternyata mobil saya sudah masuk dalam rumah. Mama saya keluar mobil marah-marah “anak macam apa kamu? Mau mama mati ya?” Saya yang masih tegang bertanya kepada mama: “ma, bagaimana mama bisa masuk?” Terus mama saya yang masih emosi menjawab “Untung ada tetangga sebelah. Ketika mereka mulai mendatangi mobil mama tiba-tiba orang-orang bugis dari gang sebelah pada keluar dan mereka menghalang-halangi masa dan berkata ‘ini teman saya, jangan kalian ganggu” Setelah itu mobil bisa masuk toko dengan selamat.

Tak pernah terbayangkan bagaimana mungkin Tuhan mau mendengarkan doa seorang anak remaja yang sebenarnya tidak suka berdoa. Bagaimana jika seseorang yang dekat dengan Tuhan, yang menikmati doa, yang suka beribadah, dan ia berdoa? Saya kira doanya akan jauh lebih berkuasa daripada doa saya waktu itu. Itulah pengalaman saya mengenai doa. Seiring berjalannya waktu, banyaknya pengalaman-pengalaman tentang doa dalam hidup ini semakin meyakinkan saya bahwa doa itu memang sangat berkuasa.

Memang benar bahwa doa itu berkuasa. Bukan hanya saya yang pernah mengalaminya, tapi ada jutaan orang Kristen di seluruh dunia ini yang pernah menyaksikan dan mengalami akan kuasa sebuah doa. Bahkan saya yakin setiap kita yang ada di tempat ini pernah mengalami kuasa doa. Karena itu Yakobus mengatakan “Doa orang benar, jika dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Sebenarnya kalau kita lihat dari bahasa aslinya, kalimat ini lebih cocok diterjemahkan demikian: “Doa orang benar itu sangat efektif dan berkuasa.” Jadi perkataan bila dengan yakin didoakkan itu sebenarnya tidak ada. Mari kita pelajari ayat ini baik-baik.

Acapkali banyak orang memenggal ayat ini menjadi demikian “Doa itu besar kuasanya”. Memang benar doa itu besar kuasanya, tapi doa yang bagaimana? Jangan lupa kalimat-kalimat yang ada diantaranya. Diantara kalimat doa itu efektif dan yang berkuasa itu dituliskan “doa orang yang benar”. Doa yang berkuasa itu bukan doa sembarang orang tapi doa orang yang benar. Apa itu orang yang benar? Kalau dilihat dari statusnya maka orang benar itu adalah orang-orang yang sudah dibenarkan Allah. Orang benar adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi umatnya. Dan orang benar itu adalah orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan sebagai juruselamat pribadinya, dan ia terhitung sebagai anak-anak Allah. Jadi secara status kita semua yang ada ditempat ini terhitung sebagai orang-orang benar. Itu kalau dilihat dari status.

Kalau kita melihat dari kehidupannya, orang yang benar itu adalah orang yang hidup berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Logikanya begini: adakah sesuatu yang benar didunia ini? Kita tidak tau. Ada hal dimana bagi si A itu benar, tapi bagi si B itu salah. Misalkan saja kejadian pemboman oleh teroris dari golongan-golongan tertentu. Bagi mereka membunuh orang-orang di luar agama mereka itu sesuatu kebenaran, karena dengan itu mereka akan mendapat pahala. Namun bagi kita jelas saja itu dosa besar. Setiap kita memiliki prinsip-prinsip kebenaran tersendiri. Karena itu jika ingin mengetahui yang benar secara pasti kita harus kembali melihat kepada apa sih yang Tuhan mau? Sebab ia adalah sumber kebenaran itu sendiri. Kitab Ibrani mengatakan, bahwa Tidak ada yang lebih benar dari pada Allah. Dan oleh sebab itu itu orang yang benar adalah orang yang terus menerus mencari kehendak Tuhan dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena dengan mencari kehendak Tuhan, kita akan mengerti kebenaran yang sejati dari Tuhan, dan kita dapat menjadi orang benar. Orang yang benar dalam hidupnya adalah orang yang hidup sejalan dengan kehendak Tuhan.

Doa orang-orang seperti inilah yang memiliki kuasa yang besar, dan doa-doa orang seperti inilah yang akan sangat efektif. Apa itu doa yang efektif? Yaitu doa yang tepat, yang memberikan hasil, yang sukses, yang sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau kita melihat orang-orang Kristen yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang berdoa.

Martin Luther adalah seorang tokoh yang memulai berdirinya agama kristen protestan. Awalnya perjuangannya untuk membela yang benar waktunya sangat banyak terkuras. Ia harus mengajar setiap hari dari pagi sampai siang. Kemudian dia juga yang mengurusi administrasi gereja. Ia juga masih harus menulis buku. Belum lagi segala urusan yang bersangkut paut dengan pemerintah dan pemuka-pemuka gereja waktu itu. Ditengah kesibukannya yang begitu padat, ia masih meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari selama 3 jam. Ia berkata demikian: “Jikalau saya gagal untuk mengasingkan waktu selama dua jam di dalam doa setiap pagi hari, maka iblis mendapat kemenangan sepanjang hari itu. Sekalipun saya mempunyai banyak sekali pekerjaan, namun saya tidak memulainya tanpa mengasingkan waktu tiga jam setiap hari di dalam doa.” Hasilnya dia menjadi orang yang berhasil membawa kebenaran dan mengenyahkan kesesatan dalam gereja.

David Livingstone seorang dr misi yang menginjili pertamakali ke benua Afrika juga meluangkan banyak waktu untuk berdoa, bahkan pada matinya ia ditemukan sedangn berlutut di ranjangnya. Alhasil sampai saat ini banyak orang Afrika yang percaya kepada Tuhan. Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh besar, seperti bapak Agustinus, Billy Graham, presiden Theodore Rosevelt, dsb.... Mereka adalah orang-orang yang suka mencari kehendak Tuhan, dan doa-doa mereka sangat berkuasa, hingga mereka menjadi orang yang berpengaruh.

Karena itu jika saudara ingin memiliki doa yang berkuasa dan yang efektif, mari kita lihat hidup kita....sudahkah hidup kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan? Sudahkah kita mengenal Tuhan dengan baik? Dan sudahkah kita mengerti akan rencana Tuhan dalam hidup kita? Kalau kita sungguh berada dalam kehendaknya, maka segala apa yang kita minta tentu adalah permintaan yang sesuai dengan kehendaknya. Dan betapa berkuasanya permintaan itu jika itu sejalan dengan kehendak Tuhan. Mari terus jadikan ini sebagai pergumulan kita, yaitu pergumulan untuk terus mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita, setiap hari, setiap jam, setiap saat.

Wednesday, October 05, 2011

Aku Kehilangan.... Hidupku berubah...



(renungan untuk kedukaan)
Kepergian seseorang yang dekat dengan diri kita biasanya akan membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan kita. Entah itu perubahan perasaan, perubahan situasi, perubahan pekerjaan, perubahan pikiran, dan sebagainya.

Saya masih ingat sekali ketika saya masih kelas 6 SD, dan koko saya yang ke-4 masih 3 smp (sementara saudara saya yang lain sudah berada di luar kota). Dan ketika saya masuk 1 smp, giliran koko saya yang ke-4 ia akan pergi ke surabaya untuk mendapatkan studi yang lebih baik. Ditinggal pergi koko saya mengalami perubahan drastis. Saya merasa kesepian; dulu saya lebih sering di rumah, tapi sekarang lebih sering bepergian mencari teman; tanggung jawab di rumah juga berbeda; tampaknya segala sesuatu menjadi berbeda. Dan untuk itu diperlukan adaptasi-adaptasi yang baru. Sekali lagi ini menunjukan bahwa setiap kepergian seseorang yang dekat dengan kita membawa banyak perubahan.

Saya kira kepergian orang yang kita kasihi sedikit banyak juga memberikan perubahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Dan setiap perubahan itu membutuhkan adaptasi-adaptasi yang tidak mudah untuk dilakukan. Dan mungkin saja dalam perubahan-perubahan itu terbawa juga kecemasan dan kekhawatiran-kekhawatiran tersendiri tersendiri bagi pihak keluarga.

Karena itu mari kita melihat dari tokoh Yosua. Dalam perikop yang baru kita baca ia juga mengalami hal yang sama dengan apa yang pernah kita alami. Sejak keluar dari Mesir bangsa Israel terus berputar selama kurang lebih 40 tahun dipadang gurun. Dan selama itu juga bangsa Israel dipimpin oleh seorang Musa, yaitu seorang pemimpin yang dipilih oleh Tuhan. Dampak kepemimpinan Musa sangat mempengaruhi kehidupan Israel. Melalui Musalah mereka yang dulunya budak kini terhitung sebagai orang bebas. Dan melalui Musa juga, bangsa Israel melihat banyak mujizat-mujizat Tuhan dan penyertaan Tuhan. Melalui Musa juga bangsa Israel mengenal akan apa yang namanya hukum-hukum Musa.

Namun dalam perikop ini semua sudah berbeda. Musa yang spektakuler itu sudah dipanggil Tuhan. Dan Israel kehilangan pimpinan terbesar mereka. Tetapi walau Musa meninggal, kehidupan Israel harus terus berjalan. Mereka harus ada pemimpin yang menggantikannya. Karena itu Yosua diminta untuk menggantikannya.

Sebagai seorang muda dan sebagai pemimpin yang baru tentu semua orang meragukannya. Mungkin mereka bertanya: “apakah sungguh seorang Yosua dapat memimpin umat Israel yang begitu besar?” Apakah sungguh seorang Yosua bisa menyamai kepemimpinan Musa?” dsb. Oleh sebab itulah Yosua menjadi takut. Bagi Yosua kematian Musa membawa banyak perubahan dalam kehidupannya. Selain kematian itu masih menyisakan duka bagi umat Israel, kematian Musa membawa situasi yang berbeda. Apalagi mereka tidak lagi hidup di padang gurun, sebentar lagi mereka akan memasuki tanah kanaan, yaitu tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan. Tempat yang sama sekali baru. Orang-orang yang dulu diandalkan pun kini sudah tua dan harus diregenerasi. Segala sesuatu berubah. Dan Yosua sebagai pemimpin baru paling merasakan segala perubahan tersebut. Saya kira Yosua khawatir dengan apakah ia bisa melanjutkan kehidupannya? Mungkin ia bertanya-tanya bagaimana dengan masa depannya? Apakah ia bisa menghadapi musuh-musuhnya? Dan mungkin dia takut apakah ia dapat menghadapi semua perubahan yang ada?.

Tapi ditengah kekhawatirannya akan semua perubahan yang terjadi, Tuhan datang berfirman kepada Yosua. Pertama Tuhan memberikan janji bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Yosua. Musuh-musuh yang dihadapi dalam kehidupan dalam kehidupan Yosua tidak perlu ditakutkan karena Tuhan akan memberikan kemenangan. Walaupun musuh dan masalah itu tampak besar dihadapan mereka, tetapi mereka punya Tuhan yang lebih besar. Dan Tuhan yang jauh lebih besar itu sudah berjanji akan memberikan kemenangan kepada Yosua. Tentu janji ini sangat menghibur Yosua

Bukan hanya memberikan kemenangan, di ayat 5 Tuhan juga berjanji bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai. Tuhan tidak akan membiarkan dan meninggalkan Yosua. Tuhan ada bersama dengan Yosua. Bahkan hal ini di ulang berkali-kali sebagai penegasan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Yosua. Tuhan akan senantiasa menyertai Yosua. Jika ada Tuhan yang beserta siapa lagi yang harus kita takutkan? Atas dasar inilah Tuhan berkali-kali berkata kepada Yosua: Yosua, jangan kamu gentar, jangan kamu takut. Kuatkan dan teguhkah hatimu, karena Aku ada bersama-sama dengan engkau.

Saya kira Firman ini bukan hanya ditujukan kepada Yosua pada saat itu. Tapi juga ditunjukan kepada setiap kita yang mengalami kehilangan. Ditengah segala perubahan yang terjadi sejak ditinggalkan kita orang yang kasihi tentunya terjadi beberapa perubahan dalam kehidupan kita. Tapi sebagaimana Tuhan pernah berkata kepada Yosua: Jangan takut, aku akan menyertai engkau, dan aku tidak akan membiarkan engkau. Demikian juga Tuhan yang sama mau berkata kepada setiap kita yang ada disini: Jangan takut, aku akan menyertai engkau, dan aku tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau.

Adakah sesuatu yang lebih berharga dibandingkan dengan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita? Saya suka sekali sebuah pepatah demikian: Lebih baik berjalan di tempat yagn gelap gulita namun bersama-sama dengan Tuhan, daripada berjalan dalam terang gemilang namun tanpa Tuhan. Sungguh benar. Apa gunanya hidup dalam kelimpahan, tapi tidak ada Tuhan disisi kita. Sebaliknya walaupun jalan hidup kita tampak gelap, tetapi jika Tuhan ada bersama dengan kita, makan sesungguhnya kita hidup dalam terang itu sendiri.

Ada sebuah kebiasaan unik yang dilakukan oleh suku di Indian untuk mendewasakan anak laki-laki mereka yang masih remaja. Anak remaja itu, harus di bawa ke dalam sebuah hutan rimba yang liar semalaman. Ia di bawa oleh orang lain yang bukan keluarganya, dan matanya ditutup kain, sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa. Dan ketika hari menjelang malam, barulah kain matanya di lepas, dan orang yang membawanya pergi meninggalkannya. Anak tersebut tidak boleh menangis / berteriak. Jika ia menangis / berteriak maka ia gagal.

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang dalam proses pendewasaan itu. ia dituntun sampai di hutan, dan tutup matanya di buka menjelang malam. Hari semakin gelap, udara semakin dingin, nyamuk semakin ganas menggigit. Bukan hanya itu, auman serigala mulai terdengar, dan banyak hewan-hewan buas mulai mencari mangsanya. Anak inipun begitu ketakutan, tapi ia tahu, jika ia menangis / menjerit maka ia gagal. Akhirnya ia hanya merem menantikan hari esok.

Akhirnya hari esok pun tiba. Matahari mulai terbit, dan ia merasa senang sekali karena ia bisa melewati ujian tersebut. Namun ketika hari semakin terang, ia sangat terkejut karena melihat banyak bercak-bercak darah di sekitarnya. Dan lebih terkejut lagi, banyak hewan-hewan buas disekitarnya yang sudah mati. Ketika ia melihat ke belakang, barulah ia sadari, bahwa sang ayah yang tegap perkasa sedang berdiri di belakangnya dengan membawa panahnya. Ternyata sang ayah hadir bersama-sama dengan anaknya semalaman tanpa terlelap untuk menjaga dan melindungi anaknya.

Saudara demikian juga dengan Tuhan kita. Ia sudah berjanji akan menyertai kehidupan setiap anak-anaknya. Mari kita belajar untuk senantiasa percaya dan taat akan apa yang dijanjikannya. Dan mari kita semakin hari semakin bersandar serta menyertakan dia dalam hidup kita. Jangan pernah takut dan jangan pernah khawatir, sebab Tuhan menyertai kita dan ia tidak akan meninggalkan kita.